Significance Essence
Cardfight! Vanguard fiction from © Hyucchi
Cover madeby © Hyucchi.
SO DON'T TRY TO STOLE AND MAKE IT YOURS!
Disclaimer:
Cardfight! Vanguard belong to Bushiroad, it's not our own
Genre(s):
Superanatural, Fantasy, Romance, Angst, Mistery, Adventure, Crime, Suspense.
Main Pairing:
Kai x Aichi
Rating:
T+ (for violence, horror, and angsty)
WARNING(!):
AU (alternative universe) story, karakter OOC, Half OC, cerita sesuka fantasi author, misstypo beredar seperti tawon tanpa sarang, penulisan tidak sesuai dengan EYD, shounen-ai, romansa bukan rating utama, ReverseKai mode later, beberapa karakter menggunakan kartu Vanguard (ex: Ezel, Beaumains, etcs), characters death, bloody scene, action-scene masih amatir, and all.
DON'T LIKE DON'T READ!
We're already told you before!
Enjoy the fiction~
.
.
ᴲᶳᶳᶟᶯᶜᶟ₁₁ The Deep Mistery
Cklek.
Pemuda berambut brunet itu memandang ke arah pemuda lainnya yang baru masuk ke dalam ruangan. Mereka saling bertatapan, sebelum si brunet mengalihkan pandangannya tatkala pemuda lainnya tersenyum ke arahnya.
"Malam, Kai-kun. Kau belum tidur?" lalu pemuda yang tadi memasuki ruangan pun menutup pintu. Membuat ruangan tadi kembali remang-remang, hanya sorot cahaya rembulan dari kaca jendela yang meneranginya. Pemuda berwajah lembut itu menghampiri pemuda lainnya lalu duduk di sampingnya, di ranjang ukuran satu orang.
"Aku belum mengantuk," pemuda yang dipanggil Kai menjawab singkat. Pemuda lainnya terkekeh, entah kenapa. Lalu ia beranjak berdiri dan melepas jubah putih yang sejak tadi dipakainya. Menggantungnya di belakang pintu kamar.
Set.
"Istirahatlah, kau pasti lelah karena tadi sudah berkerja keras," pemuda berparas manis itu menasehati. Kemudian ia melonggarkan dasi yang merupakan salah satu properti seragam. Walau ia tidak akan pergi ke sekolah itu untuk menimbah ilmu lagi, tapi ia tetap memakainya lengkap.
Syut.
Dasi merah itu ikut menemani jubah seputih awan tadi. Aichi―figur yang menggantung jubah dan dasi―kemudian berbalik, menatap ke arah ranjang tingkat yang selama dua hari ini menjadi tempat istirahatnya. Tentu saja di dalam Togami, ia mendapat fasilitas cuma-cuma dari sang ketua divisi yang begitu bijak.
Dan sekarang Aichi memutuskan untuk mengakhiri harinya. Xaiphos putih miliknya yang tidur di kasur bawah―tentu saja karena bobotan tubuhnya lebih berat dari pemuda lainnya―, dan Aichi di kasur atas. Kedua kaki Aichi mulai memanjat tiga anak tangga menuju kasur di atas, merebahkan tubuhnya disana.
Bruk.
Empuk, bahkan lebih nyaman dibanding kasurnya sendiri di rumah. Ah, mengingat rumah rasanya membuat hati Aichi kembali pedih, tapi ia berusaha untuk melupakannya. Ia menyamankan posisinya pada bantal, lalu mulai menjepit guling dengan kedua kakinya.
"Aku tidur dulu, ya, Kai-kun," katanya pelan pada teman sekamarnya, yang tak lain adalah Xaiphos miliknya sendiri. Kemudian ia memejamkan kedua butir shappire-nya, hampir terlelap karena begitu lelah sebelum―
"Aichi,"
―suara Kai menginterupsinya. Langsung saja ia membuka kedua matanya kembali. Tumben-tumben pemuda dingin satu itu memanggilnya, "Ya?"
Kai menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal, memandang ke arah luar jendela, tampak salah tingkah. Tapi Aichi yang berada di kasur atas tentu tidak melihatnya, "Kau bilang pada anak itu, kalau waktu itu ... kau bertengkar dengan orang yang berarti bagimu, 'kan?"
Aichi terdiam sebentar, disisi lain ia terkejut, jarang Kai berbicara panjang lebar begini. Dan bukan hanya itu saja, ingatan Aichi langsung berputar ke detik-detik dimana ia berusaha membujuk Lee. Tak lama kemudian, ia kembali teringat.
"Benar, kenapa?"
"Siapa yang kau maksud?" Kai membalas cepat, tapi ia langsung menyembunyikan kepalanya dari sisi ranjang, agar Aichi tidak bisa melihat sosoknya saat menengok ke bawah. Ia tambah salah tingkah rupanya.
Aichi tersenyum lembut, ingin rasanya ia turun dan memandang Kai secara langsung. Tapi perlahan ia mulai mengerti pribadi Xaiphos-nya, "Tentu saja kamu, Kai-kun. Waktu itu aku salah karena terlalu santai, 'kan?" ia membalas dengan jujur.
Sementara Kai yang tadi menyembunyikan wajahnya pun mendelik. Ternyata ia tidak kege-eran atau apa, orang yang Aichi katakan 'berarti' itu adalah dirinya, Xaiphos milik Aichi. Padahal Kai merasa dirinya gagal sebagai kesatrianya. Ia telah melukai perasaan sang Jewelic karena keegoisan hatinya.
Apa orang seperti itu masih pantas―
"Maafkan aku waktu itu," Kai berucap agak keras, agar Aichi bisa mendengarnya dengan jelas. Kali ini ia tulus meminta maaf. Melihat Aichi yang begitu mengerti kondisinya saat pertarungan tadi, kenapa Kai tidak mencoba untuk mengerti Aichi?
Sementara pemuda lainnya berusaha me-loading-kan otaknya dengan apa yang terjadi. Sesungguhnya ia mengira telinganya tuli, sampai-sampai salah mendengar. Ia mengenal karakteristik Kai sebagai sosok yang egonya tinggi dan dingin. Tidak pernah terpikirkan olehnya kalau Kai dengan berani meminta maaf padanya.
Memang ucapannya waktu itu cukup menyakitkan hati Aichi, sampai-sampai pemuda itu terbawa stress. Tapi begitu Aichi berusaha memakluminya―
"Tidak apa-apa, Kai-kun. Aku bisa mengerti, kok. Aku akan mencoba mengerti dirimu, karena kita ini partner untuk seterusnya!" ujar Aichi dengan riang. Meyakinkan Kai kalau ia sudah tidak membawa masalah itu ke dalam hatinya. Pemuda lainnya menghela nafas lega, tanpa sepengetahuan Aichi tentunya.
"Iya," Kai membalas singkat, khasnya. Aichi kembali terkekeh.
'―aku pasti akan melindungimu, Aichi.' lanjutnya dalam hati.
Aichi kembali membenahi selimut berwarna merah muda yang tadi tersingkap sampai sebatas paha, "Kalau begitu, tidurlah, Kai-kun. Besok kita akan sibuk."
Kai tidak membalas, walau begitu bisa didengar Aichi suara selimut dan gesekan bantal. Mungkin Kai sedang bersiap-siap untuk tidur juga. Kedua manik birunya memandang ke arah rembulan yang menerangi sebagian kamarnya, sebelum ia terlelap ke alam mimpi.
Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ
Sang mentari kembali muncul dari peraduannya, masyarakat kembali berkutat pada kesibukan masing-masing. Dan pagi di Organisasi Togami kali ini diselimuti keseriusan, antara ketua dan wakil divisi tentunya. Sudah menjadi ciri khas Togami untuk tidak bisa diam saat menemukan berbagai jejak kaki menuju titik penyelesaian.
Alias kasus.
Ctik.
Ctik.
Ctik.
Sang wakil divisi berambut pirang, Miwa, sedang sibuk berkutat dengan komputer di ruangan atasannya. Sementara Jun, sang ketua divisi, dengan tenang memandangi bola hitam yang ukurannya tak lebih besar dari gundu biasa.
Kejadian kemarin malam sungguh mengejutkannya. Pemuda bermata obsidian itu mulai mendapat beberapa petunjuk. Dan sepertinya kasus ini semakin menarik untuk digandrungi.
Petunjuk pertama: Pelaku yang mengakibatkan bencana kemarin adalah seorang murid dari sekolah St. Poline.
Nama sekolah yang tidak asing di pendengarannya, atau bahkan di seluruh negeri, St. Poline adalah nama sekolah militer yang terkenal dan bermutu tinggi di Negeri Savhalon, berletak di Negara Kless―notabene salah satu negara yang sedang dalam proses penyerangan dan belum sepenuhnya tunduk pada Silence Silk―. Murid-murid lulusan sekolah itu biasanya langsung dikirim menjadi pasukan khusus dalam keamanan dan perang.
Selama puluhan tahun, Sekolah St. Poline selalu unggul dalam memenangkan perlombahan maupun kejuaraan bela diri dan kemiliteran. Mungkin hal itu juga yang membuat Negara Kless bisa bertahan dari amukan Silence Silk selama ini.
Yang menjadi pertanyaan adalah,
Negara Kless dan Inerbolg terpaut cukup jauh, bagaimana bisa murid dari sekolah itu pergi ke Inerbolg? Kedua, darimana figur itu mendapatkan benda misterius dan mengerikan seperti ini?
Bisa mengendalikan Xaiphos hitam dan membobol dinding barrier, sungguh menyeramkan. Kalau sampai jatuh ke tangan yang salah, habislah sudah. Mungkin figur itu ingin menjadikan Lee yang hatinya sedang kacau menjadi umpan.
Jun memejamkan mata lentiknya sebentar, lalu bersandar di kepala sofa, 'Ditambah lagi, aku, Miwa, Aichi, dan Kai tidak bisa memegang bola itu secara langsung. Alasannya sama, entah terasa seperti tersengat listrik, digigit hewan bergigi taring, atau tertusuk duri. Tapi Lee tidak berefek apapun saat menyentuhnya, kenapa bisa begitu?'
Jun memijat keningnya frustasi. Sedang memikirkan alasan mengapa jarinya tak bisa menyentuh bola itu secara langsung. Ia harus melapisi tangannya dengan sapu tangan, baru aman menyentuhnya. Kalau tidak, mungkin terlalu menantang jiwa adrenalin saat mencoba sentuh dengan tangan kosong.
Kesetrum, terus mati di tempat.
Kemudian Jun kembali teringat dengan kode dari pesan kematian Rei dan Shin. Keduanya kemungkinan mati di tangan orang yang sama, dan keduanya sama-sama meninggalkan pesan kematian. Pemuda bertubuh atletis itu mulai mengambil selembar kertas yang diletakannya di bawah meja.
Pesan kematian kedua orang itu, yang sudah dicatatnya disana.
Mengenai pesan kematian Rei, mungkin ia masih butuh waktu untuk menyelesaikannya. Tapi, itu bukan berarti penyelidikannya berhenti. Ia pun beralih pada pesan kematian dari Shin, yang sebetulnya lebih mudah untuk di tebak. Hanya saja makna dari pesan kematian itu sedikit ambigu bagi Jun.
iJO7!9J7iiii
Itulah bunyi pesan kematian Shin, yang mati setelah menghilang dari sel tahanan Silence Silk. Ditulis di dinding dengan darahnya sendiri, beruntung karena Tim Zero yang merupakan bagian pengintaian dari Togami berhasil mendapatkan foto asli dari pesan kematian tersebut.
Rei maupun Shin meninggal di negara yang sama, yaitu Banshield. Dengan Rei yang mati di dalam sel, dan Shin yang mati di dalam sebuah laboratorium ilegal. Satu hal yang ingin Jun dalami disini, yaitu letaknya Banshield dan Kless, bersebelahan. Bisa dibilang negara tetangga. Walau Banshield sudah sepenuhnya berada di tengah kekuasaan Silence Silk, sementara Kless masih berjuang mempertahankan negara mereka.
Tapi apa ini tidak sebuah kebetulan?
Lee yang notabene adalah anak yatim piatu, tidak mungkin bisa menyebrang menuju Kless. Sementara negara-negara yang berada diantara Inerbolg dan Kless dipenuhi Xaiphos hitam. Satu-satunya hal yang masuk akal dalam kasus ini adalah―
Klik.
"Jun, astaga ... Coba lihat ini!" suara cempreng Miwa menginterupsi analisis sang ketua divisi. Dan walau dia ketua, tapi biasanya Jun selalu menurut apa mau Miwa layaknya bawahan. Pemuda bermata lentik itu pun berjalan menghampiri Miwa.
"Ada sesuatu yang bagus?" Jun bertanya dengan nada ringan, seolah mencairkan suasana. Pemuda lainnya memutar bola matanya jengah, kemudian memundurkan posisi duduknya.
"Yeah, apapun itu ..." Miwa memasang tampang jengkelnya karena sikap Jun yang seolah-olah menyepelekan masalah. Ya, dia memang mengakui kalau Jun itu sangat jenius untuk ukuran detektif, kalau tidak mungkin Miwa yang sudah menduduki posisi ketua divisi, "aku mengecek jadwal semua keberangkatan pesawat di seluruh Savhalon. Dan ternyata dugaanku benar,"
Jun mengernyitkan dahinya. Kalau memang yang dimaksud 'dugaan Miwa' adalah benar, berarti perkiraan Jun juga benar, "Ada penumpang dari St. Poline, begitu?" dan Miwa langsung mengangguk. Ia kembali memandang ke arah layar, meng-scroll layar sampai ke bagian bawah.
"Ya, bahkan ditulis terang-terangan jika sebuah pesawat SL-7H30 disewa khusus untuk murid St. Poline, yang berangkat dari Kless ke Inerbolg, lalu mereka akan melanjutkan penerbangan dari Inerbolg ke Gumirose kemarin. Mungkin ada acara atau sejenisnya," Miwa menjelaskan seraya bertopang dagu. Sampai ekor matanya melirik ke arah jus yang menganggur di tepi meja, matanya langsung mengerling semangat.
Jun mengusap dagunya, berpikir mengenai sesuatu. Ada yang mengganjal pikirannya, "Miwa, bisa kau perlihatkan nama-nama murid St. Poline yang menaiki pesawat dari Kless ke Inerbolg waktu itu?" tanyanya pelan tatkala melihat ujung bibir Miwa hampir menyentuh segelas jus.
Sang wakil divisi pecinta kebesihan itu langsung cemberut. Acara minumnya nggak jadi, deh. Dengan ogah-ogahan ia mulai membuka salah satu tab yang berada di halaman browsing-nya, "Soal itu, silahkan," dan untungnya ia sudah mempersiapkan data itu, kalau-kalau Jun memintanya.
'Total murid tiga puluh anak, tidak termasuk guru dan kepala militer yang ikut. Dan nama-namanya―'
Klik.
Klik.
"Miwa," panggilnya, dan pemuda lain di ruangan itu pun hanya mengangkat dagunya isyarat untuk melanjutkan, "aku mencurigai lima orang dari tiga puluh murid yang ada." Jun kembali membuka suara. Menginterupsi pemuda lainnya yang sekarang beralih pada berkas-berkas berserakan di atas meja. Bermaksud untuk membereskannya.
"Oh, ya?" Miwa membalas tanpa mengalihkan perhatian sedikit pun dari berkas-berkas yang berserakan tadi, "Katakan kenapa kau bisa mencurigainya dengan alasan spesifik," lanjut pemuda bermanik perak itu seraya merapikan kertas-kertas yang terselip di dalam dokumen. Dalam hatinya ia menggerutu sifat 'berantakan' ketuanya.
Bagaimana kalau Jun hidup tanpa Miwa di sampingnya? Mungkin markas Togami sudah penuh dengan sampah.
"Hal ini berkaitan dengan pesan kematian Rei dan Shin. Walau aku tidak yakin, tapi 60% kasus Lee dan kasus mereka memiliki suatu hubungan," Miwa langsung menghentikan acara beres-beresnya. Ucapan sang ketua yang terdengar tidak masuk akal yang membuatnya memasang tampang konyol. Tapi biasanya, hal 'tidak masuk akal' dari Jun itu selalu membuahkan hasil tidak terduga.
"Kenapa bisa begitu? Tapi kalau memang benar, pelaku sama sekali bukan orang Silence Silk, dong?"
"Memang bukan." Miwa hampir jatuh terjungkal di tempatnya duduk. Hah, tegas sekali ketua divisinya ini. Jun hampir tertawa melihat kelakuan Miwa, tapi ia terlalu lihai untuk menyembunyikan ekspresinya itu.
"Aku mencurigai lima orang, karena mereka memiliki nama dengan awalan 'T'. Salah satu dari mereka, merupakan kunci kuat untuk pemecahan kode dari Rei," Jun kembali menunjukan kertas putih yang dituliskan dua pesan kematian. Miwa melihatnya dengan seksama.
Dan tidak butuh waktu lama untuk membuatnya mengerti apa yang dimaksud Jun. Ia tersenyum lebar, rupanya kejeniusan sang ketua divisi sungguh menarik. Bahkan ia sudah menyambungkan benang-benang kasus menjadi terhubung satu sama lain. Hal yang tadi dipandang tidak masuk akal kini menjadi lebih sempurna.
"Hihihihihi, aku mengerti, aku mengerti ... Asal kita bisa tahu siapa yang disebut T dari kode Rei, maka kita akan tahu yang dimaksudkan dari kode Shin, bukan? Oh, kau betul-betul jenius," Miwa bertepuk tangan. Walau sesaat kemudian, air mukanya kembali serius. Ia memandang ke arah layar laptop milik Jun yang masih menyala. Ia pandangi kata tiap kata yang tertera disana dengan teliti.
'Tapi kalau begitu, berarti ada musuh selain Silence Silk,' dirinya membatin dalam hati seraya menghela nafas. Kini Miwa menghadapi suatu dinding pembatas yang menutupi suatu misteri. Dan ia tahu, misteri ini memiliki suatu pengaruh yang kuat terhadap dunia kedua.
Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ
Di sebuah kota, tampak segerombolan warga yang berdesas-desus. Mereka berdiri di pinggir jalan seraya menengok ke arah jauh, menunggu-nunggu ada yang melewati jalan besar kota mereka. Sudah menjadi hal yang biasa jika masyarakat ingin sekali menyambut tamu yang datang ke kota mereka.
Bagi masyarakat, tamu kali ini sangat spesial. Segerombolan murid-murid terpilih dalam sebuah sekolah militer, datang mengunjungi negara mereka―di kota ini, tentu saja penduduk lokal akan menyambutnya dengan semangat. Dan pagi ini, orang-orang yang dinantikan akan melalui jalan besar, karena itu kendaraan dilarang berlalu lalang pagi itu.
Jalan besar di kota itu terhubung jauh sampai ke sebuah bangunan yang menyerupai istana. Tapi pada kenyataannya, bangunan raksasa itu adalah gereja, yang merupakan lambang dan keistimewaan Negara Gumirose. Gereja Quillray, tempat ibadah terbesar di Savhalon yang dapat menampung ribuan manusia disana.
Berdoa, mendengarkan firman, merayakan hari raya, membagikan sedekah, pengusiran iblis, semuanya dilakukan di sana. Gereja Quillray memiliki pendeta maupun uskup berpotensi tinggi dan sangat profesional, juga dikabarkan sangat baik dan rendah hati. Seluruh penduduk Savhalon yang datang berkunjung ke negara ini, pasti tidak akan lupa untuk mencoba datang ke sana.
Dan sekarang, sekumpulan murid-murid dari sekolah militer ternama datang berkunjung kesana secara terhormat. Mungkin pemandangan itu tidak ingin dilewatkan masyarakat setempat. Karena itu mereka rela menunggu pagi-pagi di pinggir jalan, untuk menantikan momen-momen―
"Lihat! Ada yang datang!" salah satu dari mereka berseru. Membuat semua orang yang menunggu di pinggir jalan pun langsung menoleh semangat.
"Ya, itu pasti mereka! St. Poline!"
"Kyaaa! Akhirnya mereka tiba juga! Aku tidak sabar melihat murid-murid militer hebat itu!"
Langsung saja, manusia-manusia di sepanjang pinggir jalan bersorak semangat tatkala gerombolan yang dinantikan tiba. St. Poline disambut dengan baik disini. Mereka tidak lewat seperti aktris-aktris yang menebar pesona kepada orang awam. Semuanya tetap berbaris dengan rapi, mengikuti sang kepala yang berdiri di depan memimpin mereka.
.
.
.
.
"Yuri-Shana, mereka sudah datang, tuh!" seorang anak berambut merah dengan sedikit gradiasi kuning menunjuk ke luar jendela. Arah pandangannya tertuju pada sekelompok manusia yang berjalan jauh dari tempatnya berdiri. Sementara gadis lain yang tadi asyik menyisir rambut pun menghentikan aktifitasnya.
"Benarkah, Ali?" dan anak yang dipanggil Ali pun mengangguk semangat.
"Apa ada perempuan manis dari murid-murid militer itu, yah!? Wah, aku sudah tidak sabar menyambut mereka~," bocah yang tergolong tinggi itu berguman sendiri. Dan karena tak sengaja terdengar, anak lainnya menghela nafas.
"Buang kebiasaan jelekmu, Ali. Kau itu uskup," anak bersurai merah muda di sampingnya menasehati. Ia menguncir rambutnya menjadi ekor kuda, lalu memakai topi uskupnya.
"Kebiasaan buruk apa, sih? Ini sudah hal yang normal untuk laki-laki tahu, kau saja yang belum mengerti~," Ali membela diri. Tidak mau kebebasannya direngut karena status perkerjaannya sebagai uskup. Walau memang perawakannya membuat semua orang bertanda tanya mengenai perkerjaannya.
Bocah bersurai merah muda tadi, atau sebut saja Chris, langsung speechless di tempat, 'Kamu yang kecepatan puber tahu!' batinnya dalam hati.
Yuri terkekeh melihat tingkah laku kedua anak yang selama ini menemani perkerjaannya, membuat wajahnya tampak manis. Kecantikan yang selalu dijuluki dewi bagi siapapun yang memandangi wajahnya. Ia memang tergolong cantik―
"Sudahlah, Ali jangan genit-genitan di depan perempuan. Itu tidak baik," gadis itu pun mengelus pelan daun telinganya yang lancip.
―untuk seekor elf.
Kalau saja yang berbicara seperti itu adalah Chris, mungkin Ali akan kembali melakukan pembelaan. Kedua maniknya yang tadi sibuk melihat keluar jendela pun berganti memandang gadis berjubah merah muda yang duduk manis di depan cermin, "Yuri-Shana juga manis, kok." katanya, blak-blakan.
"Ih, hentikan itu, Ali! Semua perempuan kau bilang manis, membuatku mual saja. Aku sampai tidak mau puber karena dirimu!" Chris memeluk tubuhnya sendiri dan merinding geli. Ekspresi lucu itu langsung saja membuat gadis elf tadi tertawa, sementara Ali langsung jawdrop di tempat.
"A-Apanya yang―"
"Cukup! Jangan bicara padaku lagi!"
Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ
HAP.
HAP.
HAP.
HAP.
"Oh, my ... Jun, kalau anggaran kita benar-benar menipis karena mereka, kau akan kugantung di tiang bendera organisasi kita!"
"Miwa, memberi itu perbuatan mulia. Kau harus mengerti itu."
"INI BUKAN MEMBERI! TAPI KITA DIPERAS! KAU DENGAR!? DIPERAS!"
Aichi hanya memiringkan wajahnya, tidak mengerti kenapa Miwa berteriak-teriak seperti manusia kesurupan. Lee tidak mempedulikan apa pun yang terjadi di sekitarnya dan terus melanjutkan makannya. Kai tidak berminat untuk mencicipi sesendok pun dari sarapan yang terhidang di depan meja.
De Javu.
Ini merupakan sarapan kedua Aichi di dunia kedua. Atau akrab dipanggil Negeri Savhalon. Ia sangat menikmati hidangan di negeri ini, walau awalnya terlihat asing dan ia tidak pernah mencobanya sama sekali. Aichi mengakui bagaimana royalnya Jun sebagai ketua, yang selalu memberikan makanan terbaik pada mereka.
Dan sekarang, mereka sarapan bersama―berlima, karena anak buah memiliki tempat makan mereka sendiri.
"Huah, aku kenyang ..." Aichi mengelus perutnya yang menggembung. Lain dari orang kebanyakan yang asing dengan makanan baru, justru nafsu makan Aichi membaik selama berada di Savhalon. Dirinya melirik ke arah Kai, yang duduk tepat di samping kanannya.
"Lho?" ia kebingungan tatkala tidak menemukan satu piring makan pun di hadapannya, "Kai-kun tidak makan?"
Pemuda bertubuh atletis yang sedari tadi terdiam pun hanya melirik Aichi dengan ekor matanya, lalu mengalihkan pandangannya, "Xaiphos tidak makan pun bisa hidup."
"Oh, benarkah? Aku baru tahu," Aichi manggut-manggut dengan polos. Ia baru menyadari kalau tidak pernah melihat Kai makan sedikit pun. Mungkin ini salah satu kelebihan dari Xaiphos? Entahlah, ia masih belum memahami soal itu seutuhnya.
'Walau porsi makannya empat, tetap saja anak itu makannya rakus seperti piranha!' Miwa membatin jengkel seraya memandang Lee, bocah yatim piatu yang masih misterius di matanya. Di sisi lain, ia ingin percaya jika anak itu sudah tidak ada sangkut paut dengan apapun lagi. Tapi setelah melakukan debat analisa dengan sang ketua divisi tadi pagi, sepertinya masih butuh banyak bukti untuk itu.
"Ngomong-ngomong, Aichi, maaf berbicara seperti ini di tengah sarapan. Tapi, bolehkah aku memintamu melakukan sesuatu?" Jun berucap setelah membersihkan mulutnya dengan kain lap berwarna kelabu, sama dengan rambutnya. Aichi langsung memandang lurus ke arah obsidian milik Jun. Kai juga melakukan hal yang sama.
'Meminta melakukan sesuatu pada Aichi?' pemuda bermata tajam itu berpikir, walau wajahnya sama sekali tidak menyirat ekspresi apapun.
"Apa itu?" Aichi bertanya balik. Mungkin ini ada hubungannya dengan kasus kemarin.
"Bisakah kau pergi dengan Kai, mengantar Lee ke Gumirose?" dan pemuda bersurai biru itu langsung terlonjak kaget. Begitu juga dengan pemuda lainnya.
"Gu-Gumirose? A-Apa itu? Nama tempat?" Aichi tampak salah tingkah. Ia memang tahu jika hari ini akan sibuk, tapi Aichi sungguh tidak menyangka jika diberi misi seperti ini. Mengantar seseorang? Ke tempat yang tidak dikenalnya? Mungkin kalau dekat, tidak―
"Lebih tepatnya, nama negara." Miwa menyelah.
―masalah.
Kedua mata biru Aichi langsung membulat seperti yang ada di komik-komik jadul. Kai sampai speechless melihatnya. Tapi ia juga sama terkejutnya dengan Aichi. Misi yang ada di bayangannya tidak sesulit itu, memangnya apa yang dipikirkan oleh sang Ketua Togami?
"Hem, pasti kalian berdua terkejut, betul? Tenang saja, misi ini beralasan sangat kuat. Dan aku hanya bisa mengandalkan kalian berdua," Jun berujar yakin. Ia langsung memanggil bawahannya untuk membereskan semua piring makan yang ada di hadapannya, lalu menggelar sebuah peta yang ukurannya tidak besar.
Aichi dan Kai memandang ke arah peta dengan seksama, 'Peta Negara Savhalon,' Kai berguman di dalam hatinya.
"Aku dan Miwa sudah menganalisanya. Orang St. Poline yang dimaksud Lee Shenlon, kemungkinan kuat berada di Gumirose. Mereka sedang melakukan suatu pertemuan disana, yang mungkin dilaksanakan sampai dua hari ke depan. Tugas kalian mengantar Lee ke Negara Gumirose, Kota Harthowl, dan mencari siapa orang yang memberi bola hitam pada Lee."
Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ
Krek.
Krek.
Krek.
―Tuk.
Beberapa remahan biskuit mengotori lantai, disebabkan oleh seorang pemuda berjubah hitam yang sibuk menggesek-gesekan dua biskuit coklat dengan kasar. Entah apa maksudnya berbuat demikian. Tapi baginya, bermain dengan semua makanan yang terbuat dari coklat merupakan kesenangan tersendiri.
Anak buahnya saja, sudah angkat tangan dengan hobi anehnya satu itu. Dan kalau sampai membuat mood pemuda bersurai coklat ini menjadi jelek, maka habislah mereka.
"Ketua," salah seorang dari anak buahnya menyelah tiba-tiba, "saya mendapatkan signal keberadaan Jewelic dan Xaiphos miliknya." lanjutnya lagi, tidak ingin banyak berkata-kata. Gadis berkacamata oval itu hanya takut menganggu mood sang atasan yang sedang asyik pada mainannya.
"Oh, benarkah?" tapi untungnya, pemuda itu menanggapinya dengan baik. Ia yang semula duduk memunggungi semua anak buahnya, kini memutar badannya seraya mengunyah biskuit yang tadi dimain-mainkannya.
Gadis berambut sepanjang pinggang itu mengangguk patuh, lalu tersenyum kecil. Ia membuka layar tipis yang selalu berada di genggamannya, menerima setiap kabar ataupun signal masuk melalui benda segi panjang itu.
"Benar, mereka bergerak menuju bagian barat Inerbolg. Sepertinya mereka juga yang menghentikan serangan Xaiphos hitam yang tempo hari menyerang Kota Ghina. Dan sekarang desas-desus terus tersebar mengenai Jewelic dan Xaiphos putihnya," sang gadis kembali berbicara. Membuat pemuda lainnya mengambil sebatang coklat yang tadi terhidang di meja, kemudian menempelkannya di pipi. Ia memasang tampang serius.
'Barat? Kenapa tidak timur? Kenapa mereka tidak terpancing dengan bagian Timur? Arah barat menuju ke dua negara lain yang masih hijau, Orphyserus dan Gumirose, tapi untuk apa mereka ke sana? Pasti mereka memiliki tujuan kuat, dibandingkan meruntuhkan negara yang sudah dibawa kekuasaan Silence Silk,' pemuda bersurai coklat itu menggigit-gigit ujung batang coklat di genggamannya, tanpa bermaksud memakannya.
Sementara gadis lainnya, yang bernama Luquier, menjadi kebingungan karena sang atasan tak memberi respon lagi. Melainkan sibuk pada pikirannya sendiri.
"Ketua?"
Detik setelah suara Luquier kembali mengalun, senyum pemuda pecinta coklat itu mengembang. Ia terkikik, mengangkat batang coklat tadi tinggi-tinggi, "... Hah ... ini semakin menarik saja,"
Luquier mengernyitkan dahinya tidak mengerti. Dan sebelum ia mengerti, pemuda yang masih duduk di sofa mewahnya pun menjentik jari, "Utus Grim ke sana, temui mereka, lalu bunuh Jewelic itu dan tangkap Xaiphos-nya hidup-hidup."
Perintah sang atasan berbunyi mutlak. Dan tidak seorang pun yang berani melawannya. Luquier langsung mengangguk patuh seraya membenarkan letak kacamatanya, "Saya mengerti."
Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ
Miwa memandang ke arah daerah perkotaan, yang jauh dari gedung organisasinya, "Jun, apa tidak apa-apa seperti ini?" ia bertanya kepada orang lainnya yang seruang dengannya, membuat pemuda bersurai kelabu itu menghentikan aktifitasnya.
Tebak apa?
Coret-coret kertas?
"Seperti apa maksudmu, Miwa?" sang ketua divisi bertanya balik, sebelum detik kemudian kembali mencoret-coret kertas putih dengan berbagai kata. Miwa melirik aktifitas Jun dengan ekor matanya, lalu menghela nafas jengkel.
"Menugaskan Jewelic amatir itu untuk terjun ke dunia penyelidikan." Miwa menatap kembali ke luar jendela dengan pandangan gusar. Ia sungguh ragu, walau Miwa tahu betapa hebatnya kalau Aichi dan Kai menggabungkan kekuatan mereka. Bahkan keajaiban pun bisa ditebus dalam hitungan detik.
Namun kali ini mereka menjalankan misi yang sesungguhnya, menyelami dunia Savhalon yang tengah berperang merebut kedamaian. Memang, ia tahu betapa kuatnya tekat Kai yang mencari sang Jewelic dari dunia pertama, lalu membawanya kemari.
Ini semua sudah takdir.
Hanya sang Jewelic yang bisa mengubah dunia kedua, dan dunia pertama. Aichi ditakdirkan untuk itu. Ia tidak bisa berpura-pura tidak tahu maupun meninggalkan tanggung jawabnya. Dan Aichi sangat antusias dengan tugasnya.
"Tenang saja, Miwa. Kai bersamanya, bukan? Kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Karena kita tidak mungkin menyeberangi laut untuk bisa pergi ke negara seberang, hanya mereka yang bisa kita harapkan," Jun menjawab dengan tulus, seakan-akan ia percaya sepenuhnya pada orang yang belum dikenalnya selama seminggu.
Miwa hanya mendengus.
"Daripada itu, sebaiknya kita membantu mereka dari sini, 'kan?" Jun melanjutkan katanya tanpa berhenti mencoret kertas. Kata demi kata yang terlintas di otaknya terus dicoret asal di sana, membentuk lukisan abstrak mungkin.
"Maksudmu mencari pelakunya?" dan pertanyaan itu langsung dijawab dengan sebuah anggukan singkat dari Jun.
"Ya, kasus ini cukup rumit, Miwa. Kalau saja pelakunya orang Silence Silk, mungkin aku tidak akan menguras otak untuk memikirkan alasan spesifik mengapa sang pelaku berbuat demikian." Jun memijat pelipisnya, sedikit frustasi. Dan Miwa melihat itu. Pemuda bersurai pirang pun berhenti menatap ke luar jendela, mengalihkan pandangannya pada kertas yang sudah penuh dicoret Ketua Divisi Togami.
"Hah," Miwa menghela nafas, "iya, kau benar. Aku pun tidak mengerti. Jika pelakunya memang satu orang, berarti ia yang membunuh dua tahanan Silence Silk sekaligus berupaya untuk menyeret Inerbolg kepada Silence Silk. Dua tindakan yang kontras, satunya memihak, satunya melawan." tanpa sengaja Miwa mengeluarkan spekulasinya sendiri. Dan Jun tidak pernah merasa keberatan dengan itu.
"Kau yakin pelakunya satu orang?" Miwa bersuara lagi.
"Ya, walau hanya 60%," Jun menjawab cepat seraya menghentikan aktifitasnya, "Pelaku yang dikatakan Lee hanya memiliki satu jejak, yaitu seragam St. Poline. Kesaksiannya, sang pelaku memberikan bola itu pada Lee di hari yang sama pada jadwal sampainya pesawat yang ditumpangi murid-murid St. Poline ke Inerbolg." Pemuda itu berucap seraya mengetuk-ngetuk ujung pennya ke pinggir kertas. Tidak secuil tinta pun keluar, sepertinya pennya habis.
Tuk.
Lalu Jun membuang pen itu ke arah tong sampah―tumben-tumbenan, "St. Poline berada di Negara Kless, dan di sekeliling Kless, semua negara sudah dipenuhi Xaiphos hitam. Salah satu negara yang dimaksud adalah Banshield, negara tempat dimana Shin dan Rei ditahan. Ada kemungkinan bukan, jika pelaku itu pergi ke sana dan membunuh?"
Miwa menggaruk-garuk ujung dagunya, tidak menduga jika kasus akan serumit ini. Pelaku begitu pintar menyembunyikan identitasnya. Sehingga pada kasus meninggalnya kedua tahanan itu pun, tidak tersisa satu jejak pun―
TRILING.
TRILING.
"Hng?" Miwa menatap ke arah tablet miliknya yang berbunyi, tanda ada pesan masuk. Dengan malas, pemuda bermanik perak itu berjalan ke arah sofa, dimana tablet putih miliknya tergeletak begitu saja di sana. Lalu dengan cepat menyambarnya.
Ctik.
Ctik.
"Jun, ada pesan dari Tim Zero―ah, ada satu pesan lagi dari Wally," Jun yang merasa tertarik pun menghentikan aktifitas corat-coretnya, "kau mau pesan yang mana dulu kubuka?"
Jun menatap langit ruangan lalu mengendikan bahunya, "Wally dulu."
"Baiklah," jari Miwa langsung bergerak aktif di layar sentuh tablet-nya. Lalu membaca isi pesannnya. Sementara Jun menunggu dengan antusias. Ia bahkan sampai menjalankan kursi beroda miliknya sampai menabrak Miwa dengan pelan.
"Jun," pemuda bermanik perak itu menegur karena ujung kursi membentur pinggulnya.
"Maaf ..."
"Kata Wally, baru saja menerima pesan di ruang resepsionis dari―tunggu ... APA!? Ini dari Kerajaan Savhalon, Jun! Dari Raja Suzugamori itu!" Padahal dia yang membaca, tapi dia juga yang menganga mulutnya syok. Sementara Jun tidak menampakan ekspresi terkejut sama sekali, ia hanya tersenyum kecil.
"Kalau begitu, bagaimana dari Tim Zero?" Miwa mengerucutkan bibirnya kesal. Kenapa Jun sama sekali tidak tertarik dengan berita yang pertama? Padahal mendapat surat secara terhormat dari kerajaan itu sungguh luar biasa di mata Miwa.
"Sebentar."
Tek.
Tek.
Miwa terdiam sejenak, tapi kemudian ia mengernyitkan dahinya. Jun yang menyadari ada perubahan ekspresi di mata sang wakil divisi pun semakin penasaran. Pemuda bermata obsidian itu bangkit berdiri dari kursinya lalu menengok ke arah layar tablet Miwa.
"A ... pa, ini ..."
Kepada yang Terhormat,
Wakil Divisi, Taishi, di tempat.
Kami kembali menyelidiki laboratorium ilegal, tempat dimana mayat Shin ditemukan waktu itu. Mayatnya sudah tidak ada, mungkin sudah dibawa oleh Silence Silk. Kami kembali ke sana untuk mencari petunjuk atau pun bekas-bekas yang bisa membantu. Dan kami berhasil menemukannya.
Yang pertama, kami menemukan sehelai benang polyester, bahan yang digunakan untuk membuat wig, di salah satu kolom meja. Kami sudah membawanya. Dan satu lagi, kami mendapatkan selembar foto yang terbakar sebagian―
Miwa sedikit menggertakan giginya. Entah kenapa, jiwa detektifnya kembali terpanggil. Jantungnya berpacuh semangat. Dirinya menyunggingkan sebuah senyum tatkala melihat sepotong kalimat di bagian akhir―
―di foto itu, ada dua orang yang dicari Silence Silk. Shin Nitta dan Suzugamori Rei.
"Jun, sepertinya kasus ini ... semakin menarik."
.
.
.
Significance Essense
"If you touch the second world, don't try to escape from them..."
To Be Continued...
.
.
Information Fiction:
Saat Negara Savhalon diserang oleh Silence Silk dan Xaiphos hitam, pihak kerajaan dan pemerintah mulai memasang dinding barrier di negara mereka, berjaga-jaga agar pihak musuh tidak masuk ke negara begitu saja dan melindungi masyarakat dari Xaiphos hitam. Di negara yang memiliki perbatasan laut, barrier berada sekitar 1 km dari pinggir pantai, agar nelayan masih dapat beraktivitas. Daerah lainnya di luar barrier, termasuk lautan, sudah dipenuhi kanibal hitam tersebut sehingga tidak aman dilewati jika kapal yang digunakan berlayar tidak dilapisi pelindung.
A/N: Hai, haiii! Tails [ganti penname lagi, lol] is here! Yang edit dan isi author note Saki, tapi yang update Gane [selesai ujian gitu, ohohoho]. Maaf jika membuat kalian semua lama menunggu, ya. Sebenarnya ini tuntutan deadline persediaan chapter juga, makanya kalau stok tinggal sedikit, kami nggak update dulu, ohohoho.
Dan berhubung ujian Gane sudah selesai, kemungkinan kami update cepat tidaklah mustahil, ehehehe. Masih proses perbaikan diksi, nih. Semoga tidak mengecewakan, ya! *bungkuk*
Reply Review:
Draco: Iya, lagipula penname itu cuma iseng, buktinya kamu ganti penname lagi. Aduh, jangan depresi, nggak baik untuk kesehatan, hohohoho. Cara buat fanfict? Tinggal ketik di Ms. Word, kok. Kalau mau publish harus punya akun FFN dulu. Kami pasti update terus.
Izumo Mikoto: Iya, silahkan. Tapi biaya rumah sakit mahal, lho, jangan sering jantungan makanya. Bacanya dibawa santai saja, hehehe.
Cece Mayuyu: Wah, nggak galau lagi ceritanya. Lee di sini ibarat anak bebek. Untuk sementara anggaran organisasi dibabat sama Lee dulu, hoho. SIT lainnya sudah muncul di chapter ini, semoga kamu suka, yaa. Pasti lanjut terus.
Snowy Coyote: Takuto memangnya senekad apa, tuh? Aichi punya kemampuan lain kok selain jadi Jewelic, kalau tidak cerita tidak akan seru. Mau jadi detektif, belajar sama Jun dan Miwa saja, hahahaha.
Kujo Kasuza: Hehehe, terima kasih. Tapi masa-masa ujian sudah berakhir, jadi mulai sekarang sudah bisa update secara leluasa. Iya, nih, tanpa sengaja Aichi jadi emak(?) baru untuk Lee, ohohoho. Soal murid akademinya gimana yaa? Ada di chapter ini, kok, hohoho.
Crystalia: Terima kasih, Cryssy! [panggilan baru?] Nggak login nggak apa, santai saja, semoga akunnya cepat pulih. Ternyata ada orang lain yang setuju Aichi jadi emak-emak―eh, maksudnya jadi emak-nya Lee. Misterinya pasti jalan teruus.
Yuichiiiii: Iya, Aichi pintar. Saat masih di sekolah saja dia menjadi anggota OSIS, 'kan? ;)
Yuu The Layangan: Nggak apa-apa, kami updatenya lama juga, kok [digeplak]. Di chapter kemarin banyak fanservice, hahaha, tapi nggak tahu di chapter berikutnya ada atau tidak. Soal bola misterius itu masih rahasia, lihat saja di chapter seterusnya.
Thanks for reading!
Review, onegai?
Sorry for misstypo(s)
Sincerely,
16 April 2014
Twinted Twining Tails
