Significance Essence
Cardfight! Vanguard fiction from © Hyucchi
Cover madeby © Hyucchi.
SO DON'T TRY TO STOLE AND MAKE IT YOURS!
Disclaimer:
Cardfight! Vanguard belong to Bushiroad, it's not our own
Genre(s):
Superanatural, Fantasy, Romance, Angst, Mistery, Adventure, Crime, Suspense.
Main Pairing:
Kai x Aichi
Rating:
T+ (for violence, horror, and angsty)
WARNING(!):
AU (alternative universe) story, karakter OOC, Half OC, cerita sesuka fantasi author, misstypo beredar seperti tawon tanpa sarang, penulisan tidak sesuai dengan EYD, shounen-ai, romansa bukan rating utama, ReverseKai mode later, beberapa karakter menggunakan kartu Vanguard (ex: Ezel, Beaumains, etcs), characters death, bloody scene, action-scene masih amatir, and all.
DON'T LIKE DON'T READ!
We're already told you before!
Enjoy the fiction~
.
.
ᴲᶳᶳᶟᶯᶜᶟ₁₂ Welcome to The Mild Party, Jewelic
Tep.
Kai berpijak di tanah, lalu menurunkan dua anak yang selama dua puluh menit lalu dibawanya terbang. Karena mereka mendarat di belakang gudang, jadi keberadaan mereka tidak terlalu mencolok, sebab di sana tidak ada seorang pun yang berlalu lalang. Baru berpijak saja Aichi sudah langsung sempoyongan, lalu terduduk.
"Huh, akhirnya turun juga ..." keluhan itu terucap dari bibir tipisnya. Tangan Aichi terulur untuk memijat keningnya, sepertinya ia mual karena kelamaan berada di udara. Tapi apa boleh buat, terbang merupakan cara paling cepat untuk bisa pergi ke negara lain dalam waktu singkat. Oh, perlu diulang?
Pergi ke negara lain.
Dalam waktu singkat.
Lalu terbang dengan apa? Tentu saja, memanfaatkan sepasang sayap sang Xaiphos. Kai yang sudah terbiasa terbang kesana-kemari tidak merasa kelelahan dan mabuk. Berbanding terbalik dengan Aichi. Dulu saat pergi dari Markas Togami menuju Kota Ghina tidak selama ini, paling-paling lima sampai sepuluh menit.
Tapi sekarang, Aichi sudah tidak kuat lagi. Untung ia merengek pada Kai meminta beristirahat sebentar, atau tidak Kai akan melanjutkan perjalanannya tadi.
"Nih," Aichi mendongkakan kepalanya tatkala sebotol air mineral disodorkan Kai untuknya. Ia tersenyum kecil sebelum menerimanya.
"Terima kasih, Kai-kun!" pemuda bersurai biru itu tersenyum ceria. Membuat wajahnya bertambah manis.
Oh, jangan lupakan seorang bocah yang tadi ikut bersama Kai dan Aichi. Yaitu Lee Shenlon, orang yang menjadi saksi kunci untuk kasus di perbatasan antara Negara Inerbolg dengan negara Lamborgia. Bocah yatim piatu ini begitu menurut pada Aichi, layaknya pemuda itu adalah kakak kandungnya sendiri.
Dan kalau berani taruhan, sepertinya Lee akan melakukan apapun yang diperintahkan Aichi.
Gluk.
Gluk.
"Puah ..." Aichi menghela nafas lega. Meminum air mineral membuat kesehatannya kembali pulih. Ia membersihkan mulut botol bekas minumnya, lalu memberikannya pada Lee, "mau minum?" dan bocah berkacamata minus itu menurut. Lee mengambil botol dari tangan Aichi dan meminumnya, sungguh manis.
Aichi mengedarkan pandangannya, guna memastikan dimana mereka mendarat sekarang. Banyak sekali bangunan tinggi di sekitarnya, yang terlihat seperti gudang daripada tempat tinggal. Ada puluhan kardus juga di pinggir bangunan, "Kai-kun, apa kau tahu dimana ini?"
"..." pemuda lainnya yang bertubuh tinggi tidak menjawab. Justru ia melangkahkan kakinya ke arah gang kecil. Aichi memiringkan kepalanya bingung, apa yang ingin Kai lakukan?
"Kak, bisa berdiri?" Lee mengulurkan tangannya. Dan Aichi menerimanya dengan senang hati. Memang kepalanya masih pening, tapi sudah lebih baikan daripada sebelumnya. Setidaknya sekarang kedua kakinya kembali berfungsi dengan baik.
"Terima kasih, Lee." setelah berucap demikian, Aichi pun berinisiatif untuk mengejar Kai. Mungkin pemuda bersurai brunet itu ingin menunjukan sesuatu kepadanya. Lee tentu mengekori sang Jewelic dari belakang.
Tap.
Tap.
Tap.
Tidak perlu menunggu lama sampai Aichi kembali menemukan punggung Kai, juga sinar di depannya. Samar-samar, tapi Aichi mendengar suara angin dan deru ombak. Dan begitu kakinya berhenti tepat di samping Kai, ia bisa melihatnya dengan jelas. Kedua mata birunya berbinar kagum memandang indahnya suasana yang tertangkap oleh indera penglihatannya.
"Wah, laut! Indah sekali!" Aichi menjerit kegirangan. Ekspresi senangnya tidak bisa disembunyikan lagi. Sudah lama ia tidak menikmati panorama seperti ini. Jadi rasanya begitu mubazir tatkala disuguhkan pemandangan birunya air laut di sepanjang mata memandang.
"Keren, jadi ini yang namanya laut ..." sementara bocah bersurai hitam yang berdiri di belakang Aichi ikut menampilkan ekspresi yang sama. Aichi melentangkan kedua tangannya tinggi-tinggi, lalu menghirup udara segar sebanyak-banyaknya.
Dingin dan sejuk, itulah yang ia rasakan.
Suara deru ombak terus mengiringi bagaikan melodi indah yang menenangkan hati. Burung-burung camar berwarna putih terbang kesana-kemari, menambah kesan cantik pada pemandangan yang ada. Juga langit biru yang tidak mau kalah dari air. Aichi betul-betul bersemangat karenanya.
"Kai-kun! Ayo, kita lihat lebih dekat lagi!" tanpa basa-basi, pemuda bersurai biru itu langsung menarik lengan Kai dan Lee untuk maju mendekat ke arah tepi air. Kai langsung gelagapan, sulit untuk menyamai langkah kaki Aichi yang cepat. Juga sentuhan Aichi pada lengannya, membuat Kai merasakan perasaan lain.
Drap.
Drap.
"Ck, pelan-pelan―"
"Hehehe, cantik, ya! Yang di bumi masih kalah―" dan perlahan tarikan Aichi pada lengan Kai mengendur. Tanpa sengaja dari mulutnya, terucap kata yang tidak ingin Aichi dengar. Ia jadi teringat lagi dengan tempat tinggalnya, kotanya, sekolah, orang tua, semuanya―
"Kak?" Lee kebingungan dengan ekspresi Aichi yang tiba-tiba berubah. Dari yang tadi bersemangat menggebu-gebu, sekarang sudah seperti orang yang gagal mendapatkan undian berhadiah.
"Ti-Tidak apa-apa, aku hanya ..." Aichi melepaskan tarikannya pada Kai maupun Lee. Tangan kirinya meremat erat lengan kanannya, berusaha mengusir denyut sakit yang kembali menyerang perasaannya.
'Kenapa di saat seperti ini aku kembali teringat dengan rumah?' Aichi menunduk, tersenyum hambar. Rasanya matanya memanas, ingin mengeluarkan air mata. Tapi Aichi mati-matian menahannya. Ia tidak mungkin menangis di depan Lee dan juga―
Grep.
Dan tiba-tiba saja, Aichi merasakan hangat menjalar dari telapak tangan kanannya, "Katanya mau melihat laut. Jangan buang waktu," ditambah dengan suara dingin yang berusaha menghiburnya.
Aichi mengangkat kepalanya, menatap kedua mata emerald Kai yang menghunus tajam kedua manik birunya. Tatapan itu seakan menghipnotisnya, membuat Aichi merasa lebih tenang. Apa mungkin Kai sedang berusaha menghiburnya?
Aichi tidak yakin, karena ia tahu bagaimana karakteristik Kai. Tapi sedikitnya ia berterima kasih pada Xaiphos miliknya itu, karena sekarang emosi di hatinya menjadi tenang. Semuanya seakan terlupakan begitu saja.
Grep.
Dapat Aichi rasakan genggaman tangan besar pemuda itu pada tangannya. Aichi tersenyum lembut, "Iya, benar juga,"
Sementara Lee terdiam menatap kedua insan di hadapannya. Ia merasakan ada suatu perasaan yang kuat terjalin diantara keduanya. Perasaan yang membuatnya sulit untuk mencoba masuk diantara mereka.
Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ
Seorang pemuda bertubuh pendek mengayungkan pedangnya ke arah lawan. Dengan gesit dan cepat. Sang lawan yang mengenakan topeng perak keburu menangkisnya lalu membalas. Namun, pemuda tadi tidak mungkin mendapat gelar Ketua Divisi Tentara jika kemampuannya hanya sekecil itu.
Dengan kecepatan tinggi, ia memutar pedangnya di belakang punggung lalu kembali melayangkannya ke arah musuh menggunakan tangan kiri. Serangan itu sontak membuat lawannya terkejut dan―
Trang.
Pedang tipis milik pemuda bertopeng itu melayang entah sejauh mana, sementara pemiliknya langsung dipojokan dengan kepala pedang lancip, "Bagaimana?" pemuda berambut jabrik donker itu bersuara angkuh. Sementara pemuda bertopeng perak tadi tersenyum di balik topengnya.
"Seperti biasa, kau sangat hebat, Katsuragi. Aku menyerah," pemuda yang dipanggil Katsuragi langsung menarik kembali pedangnya, lalu memasukannya ke dalam sarung yang menggantung di pinggang.
"Membosankan sekali, apa tidak ada lawan yang lebih kuat darimu?" Kamui, pemuda berpostur tubuh pendek, mengeluh seraya melepas sarung tangan hitamnya. Wajahnya menampakan ekspresi bosan, yang hampir setahun ini ia bermuka seperti itu tiap menang bertanding.
"Hahaha! Santai, Katsuragi. Aku tidak yakin kalau harus sampai membawa pulang dua tiga ekor Xaiphos hitam untuk menjadi lawanmu," pemuda bertopeng perak tadi meledek. Sedikitnya ia kesal karena belum pernah mencetak satu skor pun dari Kamui, yang notabene lebih muda―bahkan lebih pendek―darinya.
"Persetan dengan iblis itu. Aku hanya ingin melawan makhluk hidup normal untuk latihanku," Kamui berucap dengan nada arogan. Tanda bahwa ia benar-benar bosan jika tidak menemui lawan yang seimbang dan pantas menemani hari latihannya.
Pemuda bermata merah itu mendongkakan kepalanya ke atas, menatap langit yang luas. Latihan di ruangan terbuka sepertinya tidak buruk, Kamui baru mencobanya dua kali. Mungkin lain hari ia akan melakukannya lagi.
"Hahaha, aku jadi iri. Kau terlalu kuat, andai saja semua tentara Savhalon itu kembaran dirimu, mungkin kita bisa menundukan Silence Silk dengan mudah," Kamui hanya memutar bola matanya jengah. Komentar seperti itu bukan yang pertama kalinya ia dengar. Bahkan Ren, sang kepala negeri, juga berpendapat demikian.
Katsuragi Kamui terlalu kuat, dari segi fisik dan kemampuan bertarungnya. Tidak seorang pun yang bisa menundukannya, sampai senior-senior berpedang di kerajaan pun kalah untuk merebut posisi Ketua Divisi Tentara. Satu Kamui saja bisa membunuh puluhan ekor Xaiphos hitam yang mengepungnya. Keberadaannya sangat berpengaruh terhadap perlawanan manusia selama ini.
Tapi sayangnya, tidak semua orang bisa seperti dirinya. Kamui sudah tidak ingat berapa julukan aneh yang semua orang berikan untuknya, entah itu tangan dewa, anak Tuhan, dan lain-lainnya―
"Tuan Katsuragi, baru saja ada pesan singkat melalui media elektronik. Nama pengirimnya berinisial Togami," suara salah seorang dayang mengejutkan Kamui dari lamunannya. Pemuda itu langsung berbalik dan menatap dayang yang berdiri di pinggir pintu masuk, dengan membawa sebuah layar tipis seperti kaca.
'Togami membalasnya? Secepat ini?!' Kamui tampak penasaran. Dengan langkah cepat ia menghampiri dayang yang lebih tinggi darinya, lalu menyambar benda berbentuk kaca itu.
"Tu-Tuan―"
Kamui tidak peduli suara panik si wanita, bahkan tidak peduli jika pesan itu harus dibaca oleh―si telmi―Ren, sang kepala kerajaan. Ia merasa berhak untuk tahu, karena Kamui juga yang mengusulkan mengenai Togami pada Ren, bukan?
Tuk.
Tuk.
Layar berbentuk seperti kaca itu menampilkan bagian pesan yang ingin Kamui baca.
Kepada yang Terhormat,
Kepala Kerajaan,
Saya merasa sangat terhormat dengan surat kiriman Anda. Saya mengerti mengenai kasus yang Anda minta dari surat yang sebelumnya dikirimkan kepada Saya. Jadi Saya menerima tawaran untuk melakukan penyelidikan. Bersediakah Anda mengunjungi organisasi Saya yang berada di Inerbolg, agar kita bisa berbicara secara empat mata? Dan tolong jangan bawa banyak orang beserta Anda, karena itu hanya akan menyulitkan penyelidikan kami. Terima kasih.
Togami.
"Apa yang kau baca itu, Kamui?"
Deg.
"HUWA!" Kamui terlonjak kaget tatkala merasakan hembusan nafas di belakangnya. Bulu kuduk Kamui merinding seketika, seperti dilewati setan saja. Ia menengok ke belakang dan mendapati Ren yang ternyata diam-diam berada di belakangnya, entah apa maksud Ren untuk berbuat demikian.
"Sialan, jangan mengagetkanku!" hardik pemuda yang lebih pendek dengan tampang jengkelnya. Ren langsung nyengir, tidak merasa berdosa sama sekali. Membuat pemuda bertopeng yang sebenarnya adalah guru pembimbing tentara langsung speechless melihat tingkah atasannya.
"Maaf, habis dayang disana menunjuk-nunjuk Kamui dengan wajah panik, jadi kudekati saja." Ren menunjuk dayang yang tadi mengabarkan surat itu pada Kamui. Sang dayang memucat tatkala mendapat tatapan menyeramkan dari sang ketua divisi tentara yang berartikan 'jangan harap setelah ini kau selamat, Brengsek!'.
Ren menggeleng-gelengkan kepalanya tatkala melihat emosi Kamui yang cepat naik, "Kukira kau tidak mengerti bagaimana cara memakai tablet."
Gedubrak.
Kalau Ren bukan atasannya, mungkin Kamui sudah mencekik dan menjungkir-balikan tubuhnya, "Mana mungkin!" Kamui memasang wajah kesal. Kemudian ia menunjukan alat di tangannya, yang masih menampilkan pesan yang sama.
"Apa itu?" Ren bertanya dengan tampang bodohnya, membuat Kamui tambah gregetan. Bahkan urat-urat sudah tercetak jelas di kening pemuda bersurai donker itu.
"Baca sendiri!"
Pemuda yang masih mengenakan topeng perak tadi langsung melakukan gerakan isyarat di belakang Ren, yang tentu saja bisa dilihat dengan jelas oleh kedua manik Kamui. Sang guru mengisyaratkannya untuk lebih sopan kepada atasan.
Yah, kalau Ren itu raja yang tegas, kejam, dan keji, mungkin Kamui sudah dilempar ke dalam mulut singa sejak dulu. Tapi yang ada justru sebaliknya. Ia terlalu santai dan baik hati, tapi semua rakyat tetap menilai Ren sebagai pemimpin yang bijak dan selalu mengusahakan yang terbaik untuk negerinya.
Kamui memejamkan matanya, berusaha menetralisir emosi yang bergemuru di dadanya. Kemudian ia membuang nafas, "Ehem, begini. Togami membalas surat yang Anda kirim dua hari lalu," ia pun―dengan tidak ikhlas―mempersopan bicaranya.
Ren melebarkan kedua matanya. Kamui yakin jika sang raja akan menampilkan wajah dramatisnya lagi, tapi ternyata dugaannya meleset. Ren hanya terkejut di awal, tapi kemudian, ia memasang ekspresi serius. Pemuda bermata crimson itu meraih tablet dari tangan Kamui tanpa sepatah kata pun.
Kamui menautkan alisnya heran, ekspresi yang tidak wajar dari Ren. Pemuda tinggi berjubah raja membaca tulisan di depan matanya dengan cepat, lalu menghela nafas. Ren mematikan benda itu dan menyerahkannya pada sang dayang yang tadi menunggu di depan pintu masuk, "... Ren?"
Namun sang kepala negeri tidak menjawab panggilan Kamui. Ia langsung masuk ke dalam istana begitu saja tanpa sepatah kata pun. Sementara Kamui, jangankan berteriak emosi, berkomentar saja rasanya sulit.
"Tuan seperti itu lagi," sang dayang berbisik kepada rekan seprofesi.
"Kasihan sekali." balas gadis berpakaian pelayan lainnya.
Sang ketua divisi tentara menghela nafas. Ia mengerti jika Ren masih belum bisa melupakan kakaknya. Tragedi datangnya Silence Silk dan Xaiphos hitam memang membawa perubahan hampir di seluruh negeri Savhalon. Mimpi buruk yang tiada akhir.
Kamui menundukan kepalanya, memasang tampang datar. Ia tahu jika yang bisa dilakukannya sekarang adalah bertarung. Melawan dan terus maju, membela keadilan dan merebut kembali kedamaian yang ada, '... tapi apakah aku bisa?'
Tanpa berbicara lagi, Kamui kembali pada sikap dingin nan angkuhnya. Ia masuk ke dalam istana entah ingin kemana. Mimik seriusnya membuat suasana semakin tidak enak saja.
'Emi, kau yang mengajarkan hal itu padaku, bukan?'
Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ
Aichi terduduk di hamparan pasir dengan wajah senang. Hampir sebagian dari celana dan jubah putihnya basah. Ia terlalu bersemangat bermain tadi. Kalau saja Kai tidak mengingatkan, mungkin ia sudah keburu menyebur ke dalam air. Kedua manik birunya melihat Kai dan Lee yang masih berdiri di tepi air.
"Ayolah, Kak Dingin. Coba sekali!" Lee merengek, ia menarik-narik tangan Kai menuju air. Sementara pemuda jangkung bersurai brunet itu menolak.
Kai menahan kakinya, wajahnya tampak kesusahan untuk melawan bocah di depannya, "... Ajak Aichi saja."
"Kak Aichi sudah! Tapi Kak Dingin belum!"
"Tidak akan."
Aichi terkekeh geli, tidak menyangka jika si dingin Kai bisa kewalahan juga menghadapi anak kecil. Ia beristirahat sendiri karena ingin menikmati udara segar di sini, sebelum nanti melanjutkan perjalanan mereka lagi yang katanya akan menyebrangi laut di depannya. Ah, lebih tepatnya sungai di depannya.
Ia terkecoh, tempatnya berada ini bukan pantai―perbatasan antara daratan dengan laut. Melainkan sungai, sungai air asin, karena langsung terhubung dengan laut. Pasir yang menghiasi pinggir sungai tambah membuatnya tertipu jika air di depannya adalah lautan. Jika Aichi memicingkan matanya, samar-samar ia bisa melihat ada daratan di kejauhan sana. Itu pasti daratan Gumirose, negara yang ingin mereka datangi. Dan tepi sungai tempat mereka beristirahat juga ramai dipenuhi banyak nelayan yang ingin mencari ikan. Gudang-gudang tadi mungkin tempat penyimpanan barang nelayan itu.
HYUUU.
Aichi menahan helaian rambutnya yang tertiup angin kencang, tapi ia tetap menikmati angin ini. Disertai suara desiran air, langit biru yang mempesona, semua masalah mengenai dunia kedua serasa seperti mimpi saja. Sudah beberapa hari ia menetap di Savhalon, dan mungkin saja untuk selamanya juga.
Aichi jadi merindukan bumi.
Ia rindu pada rumahnya. Juga pada kedua orangtuanya yang menghilang tanpa jejak sedikit pun sejak tragedi itu. Ingin ia mengucapkan kata 'Aku pulang!' sekali lagi saat menginjakan kaki kembali pada rumahnya, lalu sahutannya disambut hangat oleh Ibu maupun ayahnya.
'Ibu ... Ayah ... sekarang kalian berada di mana? Aku sangat merindukan kalian ...' Aichi memeluk kedua lututnya seraya memejamkan mata, merasakan kehangatan seakan-akan sosok orangtua yang ia peluk. Aichi sangat tahu jika tidak mungkin Ayah dan ibunya tiba-tiba datang, mengatakan padanya kalau semuanya akan baik-baik saja.
'Kakek juga ... pasti sedang melihatku dari surga, ya? Lalu Kenji-kun ... aku benar-benar merindukan kalian semua ...' hatinya berseru sedih. Sebisa mungkin ia menyembunyikan perasaan sedih ini dari semuanya, ia tidak ingin membuat siapa pun cemas. Apalagi Kai, juga Lee, orang-orang yang sudah menyertai hidupnya sekarang.
'Kalau aku mengantar Lee ke Gumirose, mencari pelaku yang memberikannya bola hitam, apa berarti aku sudah melakukan langkah berikutnya untuk menyelami dunia kedua?' Aichi berdebat dengan pikirannya sendiri. Ia sangat ingin, sangat ingin menyelami misteri dunia kedua yang selama ini membuatnya penasaran.
Rasa penasaran dan ketertarikannya pada dunia sihir terasa tertantang. Jika kakeknya memberikan buku Xaiphos dan menurunkannya menjadi Jewelic baru, apa lagi yang harus ia takutkan? Kai beserta dirinya, ia tidak perlu bingung siapa yang akan menolongnya jika diserang.
Tap.
"Nak, apa yang sedang kau lakukan disini? Menunggu kapal?"
"Geh!?" Aichi terlonjak kaget, seseorang menginterupsinya tiba-tiba. Hampir Aichi jatuh terjungkal ke belakang, tapi untung saja tas selempang yang dibawa menahannya. Ia mendongkakan kepala, rupanya salah seorang nelayan datang menghampirinya.
"A-Aku ... aku ..." Aichi sendiri jadi kebingungan menjawab apa. Tidak mungkin ia berterus terang 'aku ingin menyebrangi sungai raksasa ini dengan terbang bersama Xaiphos-ku', ia bisa membuat heboh nelayan lainnya yang juga sedang berlalu lalang di sana.
"... ingin menyeberang ke sana," Aichi menunjuk ke arah daratan yang terlihat sangat jauh darinya. Hanya terlihat seperti lempengan kecil, membuktikan fakta bahwa sungai ini sungguh besar.
Nelayan berkumis hitam itu mengangguk mantap kemudian tersenyum, "Hahahaha! Tekadmu hebat juga, Anak Muda! Jarang ada anak seumuranmu yang ingin menyeberang sampai Gumirose, kau tahu!?"
Aichi mengada kedua tangannya, "A-Aku tidak sendiri, kok. Ada mereka berdua yang menemaniku," lalu pemuda bersurai biru menunjuk ke arah Kai dan Lee yang sedang sibuk mengumpulkan ikan-ikan kecil di pinggir sungai.
"Hoh, benarkah!? Lalu kapal apa yang akan kalian naiki? Disini banyak sekali kapal yang digunakan untuk berlayar, kalian bisa menyewa satu sekarang, hm?" oh, rupanya nelayan itu ingin menawarkan jasa tumpangan pada Aichi. Pemuda berwajah manis lainnya ingin berterima kasih, tapi sayangnya mereka tidak membutuhkan satu kapal pun untuk menyebrang.
"Ti-Tidak, Paman. A-Aku ... tidak memiliki uang," hanya itu alasan yang terpikirkan Aichi. Ia merasa tidak enak hati jika menolak permintaan sang nelayan dengan alasan 'kami bisa terbang, kok'.
"Oh, begitu? Jangan-jangan kedua temanmu itu mengumpulkan ikan kecil untuk mencari uang, ya?" Aichi langsung sweatdrop mengingat Kai dan Lee sedang sibuk mengumpulkan ikan kecil yang biasanya berenang di pinggir sungai. Kalau Lee, mungkin melakukannya karena keasyikan sendiri. Tapi Kai, mungkin karena paksaan―atau jangan-jangan kebawa suasana?―.
"E-Err ... iya,"
"Kasihan sekali kamu, Nak. Baiklah, karena aku sedang senggang, bagaimana jika aku yang mengantar kalian bertiga? Kalian tidak perlu membayar, aku baru saja membeli kapal baru yang sangat canggih, bagaimana!?" sekarang Aichi membulatkan matanya kaget. Nelayan itu menunjuk ke arah kapal berwarna putih yang paling mengkilat dari kapal lainnya.
"Ba-Bagusnya!" Aichi berjinggit kagum. Membuat pemuda bermata emerald yang tadi sibuk sendiri pun memperhatikan dirinya.
'Siapa itu? Kenapa orang itu bersama Aichi?' Kai memicing matanya tidak suka, entah mengapa. Meninggalkan perkerjaan konyolnya―mengumpulkan ikan kecil ke dalam botol plastik bekas―, Kai bergegas berdiri dan menghampiri Aichi.
"Lho, Kak Dingin?" Lee memasang wajah bingung tatkala ditinggalkan Kai begitu saja. Kemudian arah pandang kedua mata amber-nya tertuju pada Aichi yang sedang berbicara, entah kepada siapa. Tapi dari penampilannya, Lee menduga jika orang itu nelayan.
Tanpa mereka ketahui, seseorang menatap mereka dengan intens dari jarak jauh. Figur yang tidak diketahui siapa itu menyeringai iblis tatkala melihat mangsanya sudah ada di depan mata.
Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ
HYUUU.
"Udaranya segar sekaliii!" Aichi melentangkan kedua tangannya tinggi-tinggi, menikmati udara yang menerpa tiap inci tubuhnya. Di sampingnya, Lee berpegangan pada tiang kapal sembari memandang air laut.
'Kenapa tingkahnya kekanak-kanakan sekali?' Kai menggerutu dalam hatinya. Ia duduk di salah satu kursi yang tersedia di kapal tersebut. Mata emerald-nya tak henti memandangi sosok 'pasangan'nya yang berdiri di pinggir kapal bersama dengan Lee. Berbeda dengan kedua insan yang tidak ingin melewati pemandangan yang ada, Kai justru duduk diam di sana.
Seharusnya mereka pergi dengan terbang―lagi―tadi, tapi seorang nelayan yang Aichi temui di pelabuhan kecil menawarkan tumpangan pada mereka. Kai memang ragu, bisa saja nelayan itu menipu mereka. Lalu nanti akhirnya mereka diperas habis-habisan. Tapi, yah, Kai tidak terlalu mempermasalahkan. Ia bisa menghabisi nelayan tadi kapan saja jika mereka benar-benar ditipu.
Tapi Aichi orang naif yang terlalu cepat percaya. Dengan senang hati ia menerima tawaran cuma-cuma ini. Tapi tunggu―sepertinya Aichi juga pernah mendapatkan balon besar gratis dari penjual. Atau apa itu memang keahliannya untuk mendapatkan barang dan jasa tanpa bayaran?
Hah, entahlah ...
Membiarkan Aichi asyik sendiri, ekor mata Kai melirik ke arah tas selempang sang Jewelic, yang dititipkan di samping kursi duduknya. Entah karena pengaruh apa, Kai meraih tas selempang itu. Tidak berat, karena isinya memang tidak banyak.
Begitu dibuka, yang ia dapat hanyalah buku Xaiphos yang ditinggalkan mendiang Ogata kepada Aichi. Lalu ada beberapa barang―tidak penting di mata Kai―lain yang sama sekali tidak menarik perhatian sang Xaiphos. Pemuda bersurai brunet itu meraih bukunya, lalu meletakan tas tadi sembarang.
Tidak ada yang berubah pada buku tua nan usang berjudul Xaiphos. Dan sepertinya Aichi tidak memiliki niat untuk membuka buku itu lagi, sejak ia bercerita pada Kai jika ada wajah menyeramkan di dalam sana, '... Ia hanya pernah menunjukan halaman kedua dari belakang kepadaku. Aku jadi penasaran.'
Kai mencuri pandang ke arah Aichi. Aman, pemuda bersurai biru itu masih asyik melihat pemandangan dengan Lee. Dengan gerakan perlahan, Kai mulai membuka halaman pertama. Tapi ternyata tidak ada sepatah kata pun disana. Ia membuka halaman berikutnya, dan ada tulisan Xaiphos dalam bahasa Yunani Kuno, 'Ini hanya judul.'
Srek―
"Kak Aichi," Lee menarik-narik jubah putih yang Aichi kenakan, membuat pemiliknya yang sedari tadi asyik menikmati angin pun menghentikan aktifitasnya. Ia melirik ke arah Lee, bocah bersurai hitam itu menunjuk ke arah air.
Aichi mengikuti arah pandang Lee, dan seketika raut tenang di wajahnya memudar. Ia mengernyit dahinya tatkala gumpalan-gumpalan besar terlihat dari permukaan air, 'apa itu? Ikan? Tapi ikan tidak mungkin membuat gumpalan seperti itu―'
NGING.
Aichi terkejut tatkala tangan Kai dengan cepat menggeret dirinya berserta Lee menjauh dari pinggir kapal, sebelum sebuah tangan hitam besar mencengkram kepalanya.
Bruk.
"Uwa―!" Aichi terjatuh ke belakang, menimpa Kai yang memeluk posesif dirinya. Kedua manik birunya membulat syok. Ia kembali pandangi pinggir kapal dengan tatapan ngeri. Jantungnya yang tadi berdetak tenang kini menjadi berpacuh cepat.
'Ta-Tadi itu ... tidak mungkin ...'
DRAK.
DRAK.
"Waah! Kapalku!"
DRAK.
"Lee! Pegangan!"
―dan sekarang kapal yang mereka tumpangi bergoyang kencang. Lee hampir saja terseret jatuh jika tidak ditarik Kai. Anak itu meringsut ketakutan ke belakang punggung Aichi, "Kai-kun ... jangan-jangan yang tadi itu―"
"Ya, Xaiphos hitam. Dan jumlah mereka sangat banyak. Berhati-hatilah," Kai memperingatkan. Ia membiarkan Aichi dan Lee berada di posisi dalam kapal, sementara dirinya mulai melangkah ke tepi. Matanya memicing tajam ke segala arah. Ia tahu jika ada banyak Xaiphos hitam yang bersembunyi di dalam sungai yang mereka lewati sekarang.
"Hooh, jadi ini Xaiphos putih yang dibicarakan itu, ya? Boleh juga ..." dan suara asing tiba-tiba menginterupsi. Aichi mengernyitkan dahinya, lalu menengok ke kanan dan ke kiri. Ia tidak mengenal suaranya, bahkan ini bukan suara sang nelayan yang sedang panik di bagian stir sana.
'Siapa?' ia bertanya dalam hati.
Dan dirinya tambah terkejut tatkala melihat sesosok figur di langit sana. Walau tidak begitu jelas―karena jauh―Aichi yakin betul jika yang melayang disana adalah manusia. Ia melirik ke arah punggung figur asing itu, tidak ada sayap atau apapun disana. Pemuda bermanik biru sempat mengiranya Xaiphos karena bisa terbang. Tapi ternyata―
"Silence Silk, kau datang lagi ..." Aichi langsung tercenggang di tempat ketika suara Kai mengalun berat. Bukan karena nada bicaranya yang terdengar penuh emosi, tapi nama itu ... nama yang diserukan Kai tadi.
'Silence Silk?'
Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ
"Silence Silk, kau datang lagi ..." nada Kai terdengar emosi. Tentu saja. Musuh bebuyutan yang ia benci kini kembali muncul di depan mata. Entah ada berapa orang dari mereka yang pernah dihadapi Kai. Tapi tetap saja, sekali Silence Silk, mereka tetaplah Silence Silk. Di pandangan Kai, mereka semua adalah manusia-manusia hina dan kotor yang pantas untuk dimusnakan.
Melihat salah satunya kini muncul di depan mata, emosi Kai kembali terpancing. Ia bisa melihat jelas lambang Organisasi Silence Silk yang tercetak jelas di celana hitam yang dikenakannya. Figur itu memiliki rambut merah yang menjulang ke atas, kulit pucat, dan tubuh sedikit berotot.
Figur berkulit pucat itu tersenyum lebar, terlihat menyeramkan, tapi hal itu tidak membuat Kai gentar sama sekali, "Salam kenal, namaku Grim Reaper ... Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Jewelic yang baru," ia berujar meledek seraya menatap Aichi yang berlindung di belakang Kai. Sementara yang ditatap hanya memasang wajah penuh tanda tanya.
"Untuk apa kau ke sini? Memburuku lagi?" Kai berujar sinis. Jari-jari tangannya sudah bergerak gatal, tidak sabar untuk meremukan tulang anggota Silence Silk yang entah keberapa itu. Sementara pemuda lainnya, Grim, tersenyum ceria.
"Sayang sekali, aku diperintah lebih dari itu," lalu ia menjentikan tangannya. Dapat Kai rasakan jika puluhan makhluk yang berenang di sekitar kapal tumpangannya melakukan gerakan cepat lalu―
DRAK.
DRAK.
"Lee, pegangan padaku!" Aichi refleks melindungi bocah berkacamata minus itu ke dalam pelukannya. Goyangan pada kapal semakin hebat. Dan yang memperburuk keadaan jika kapal itu sampai bocor.
"Emneda Bioc!" Kai mengarahkan gumpalan angin di tangannya ke arah permukaan air. Membuat ledakan di sekitarnya, ia bisa merasakan beberapa ekor Xaiphos hitam di sana lenyap. Tapi ternyata jumlah mereka lebih banyak dari perkiraan. Dan Kai akan kesulitan melawan mereka, jika Xaiphos-Xaiphos hitam itu tidak menunjukan sosok mereka dari dalam air.
"Hahahahaha! Anggap saja ini pesta penyambutan Jewelic baru dari Silence Silk!" Grim tertawa renyah. Kai hanya menggeram kesal. Beruntung serangan tadi tidak membuat kapal yang ditumpangi mereka bocor, tapi setidaknya mereka tidak bisa bernafas lega sekarang. Kai tidak bisa leluasa menyerang Xaiphos-Xaiphos hitam yang masih bergelut di dalam air, sedangkan jumlah mereka begitu banyak.
"Emneda Bioc!"
BYASH.
BYASH.
Cipratan-cipratan besar air itu membasahi sisi kapal, jumlah Xaiphos hitam yang berada di sekitar mereka berkurang. Tapi hanya yang di permukaan saja, karena jumlah mereka lebih banyak dari itu. Aichi ketakutan, ia tahu Kai sedang kesulitan. Dan ia ingin sekali membantunya, andai Aichi bisa menguasahakan sesuatu.
Tapi jika ia merasuki sayap Kai, siapa yang akan melindungi Lee? Yang ia bisa lakukan sekarang hanya berlindung di belakang Kai, berharap jika Xaiphos miliknya bisa mengatasi semua masalah ini. Grim tertawa keras.
"Betapa memalukannya Jewelic baru itu. Tidak bisa mengusahakan apa-apa, eh?" Lee merengut kesal, tidak terima jika Aichi yang ia sayangi dihina. Lee sendiri tidak suka menyusahkan. Ia tengah berpikir, memikirkan suatu cara agar ia tidak tinggal diam menonton, sementara pemuda bersurai brunet di depannya kesulitan.
"Kau kesepian, ya?"
"Iya ... aku kesepian. Aku ... tidak mengerti kenapa harus bersyukur tinggal di sini."
"Ukh ..." Lee memijat kepalanya, merasa sakit tiba-tiba. Memori-memori yang kemarin memudar dalam sekejap melayang di kepalanya. Aichi mengernyit dahinya melihat tingkah Lee yang mendadak aneh.
"A-Ada apa, Lee?" Bocah bersurai hitam itu menggeleng lemah. Kepalanya terus berdenyut sakit, seperti ingin pecah. Berbagai memori berkelebat di dalam pikirannya.
"... oh, begitu. Aku juga ... sama ..."
"Kau ... mau coba ... mengendalikan dunia ..."
"Asal kau menggunakan segenap hatimu, keajaiban itu akan terjadi."
"Keajaiban itu akan terjadi."
Keringat dingin membasahi pelipisnya. Lee merasa sakit di kepalanya mereda, sampai sepotong kalimat membayang-bayang di hatinya. Ia pandangi wajah Aichi yang memandang khawatir ke arahnya. Ia sangat menyayangi Aichi layaknya pemuda itu kakaknya sendiri. Ia sudah bersumpah pada dirinya, akan menyerahkan seluruh kekuatannya untuk Jewelic di hadapannya.
Lee juga memandang ke arah Kai yang masih berusaha melenyapkan semua Xaiphos hitam yang mengepung mereka. Ia tidak terlalu menyukai pemuda dingin itu. Tapi Lee sangat tertegun dengan ikatan perasaan yang terjalin di antara Kai dan Aichi. Mereka memiliki ikatan yang kuat. Lee juga ingin ikatan sekuat mereka.
'Asal kau menggunakan segenap hatimu, keajaiban itu akan terjadi.'
"Kak Aichi, aku akan ... membantunya," Lee berucap tegas, membuat Aichi menautkan alisnya tidak mengerti. Tapi kedua manik birunya langsung membulat tatkala Lee meraba sakunya dan mengambil sebuah benda dari sana.
"Le-Lee, jangan―" bola hitam, yang sebelumnya pernah Lee gunakan untuk membobol dinding barrier perbatasan antara Inerbolg dan Lamborgia. Bola berbahaya di mata Aichi, karena tidak seorang pun bisa menyentuhnya kecuali Lee sendiri.
"Tenang saja, Kak. Aku pasti bisa," Lee pun mengarahkan bola hitam itu ke arah Xaiphos-Xaiphos hitam yang berusaha untuk menyerang kapal mereka. Kedua manik amber-nya berkonsentrasi, sampai aura-aura menyelimuti bola hitam tadi.
Deg.
'Se-Sebenarnya bola apa itu? Apa yang akan Lee lakukan!?' Aichi berkeringat dingin, berharap semuanya akan baik-baik saja jika ia membiarkan anak itu menggunakan bola misteriusnya lagi.
.
.
.
Significance Essence
"If you touch the second world, don't try to escape from them ..."
.
.
To Be Continued
A/N: Hallooooo! Update-nya termasuk lama, nggak? Maaf, ya, author keasyikan nonton anime-anime yang mengantri, jadi malah melupakan soal update-an fict #dihajarpembaca. Bagi yang bingung siapa Grim Reaper, dia dari kartu critical-trigger Shadow Paladin, keren banget, lho! #plak. Kami sangat minta maaf dengan alurnya yang super lambat ini. Bagaimana dengan penulisan kami? Apa ada perkembangan? #tatapanberharap. Semoga kalian suka dengan chapter ini, sampai jumpa di chapter berikutnya.
Reply Review:
Cece Mayuyu: Ufufufu, Aichi itu polos tapi maut. Tapi untuk sementara proses pemerasannya libur dulu. Ali yang playboy itu lucu, Saya malah berharap dia lama tobat. Terima kasih sudah bantu cek typo sambil baca, hehehe. Sleeping Beauty ch2 sudah update, kok.
Dracokid: Iya, buat akun FFn saja, nggak susah, kok. Usahain update cepet, itu pun tergantung situasi dan kondisi. Ya, Kai-nya good mood tapi malu-malu kucing. Nggak perlu kasih ide, kami berdua sudah punya jalan cerita sendiri, kok.
Kujo Kasuza: Wah, sambil ngerjain pr kimia? Susah nggak tuh? #kepo. Kai mesti lengket dong sama Aichi, masa 'pasangan' tapi jauh-jauhan #plak. Justru kami sengaja menyembunyikan jejak antagonis sesulit mungkin, selamat menebak, hahaha.
Snowy Coyote: Terima kasih doa kelulusannya. Iya, Lee yang paling kecil dari mereka berlima, mungkin karena faktor tertentu makanya jadi lahap #ngek. Semoga perjalanan luar kotamu lancar, ya.
Yu Si Anak Layangan: Iya, amin. Kai jadi baik tumben-tumbenan saja, paling bentaran balik jadi hati batu(?). Anak SIT memang semuanya unyu, kok, kami juga suka mereka, hehehe. Soal St. Poline lihat saja seiring jalan cerita berjalan.
Yuiiiichiiii: Iyap, Jun dan Miwa pasti akan berusaha keras mencari pelakunya.
Thanks for reading!
Review, onegai?
Sorry for misstypo(s)
Sincerely,
1 Mei 2014
Twinted Twining Tails
