Significance Essence

Cardfight! Vanguard fiction from © Hyucchi

Cover madeby © Hyucchi.
SO DON'T TRY TO STOLE AND MAKE IT YOURS!

Disclaimer:
Cardfight! Vanguard belong to Bushiroad, it's not our own

Genre(s):
Superanatural, Fantasy, Romance, Angst, Mistery, Adventure, Crime, Suspense.

Main Pairing:
Kai x Aichi

Rating:
T+ (for violence, horror, and angsty)

WARNING(!):
AU (alternative universe) story, karakter OOC, Half OC, cerita sesuka fantasi author, misstypo beredar seperti tawon tanpa sarang, penulisan tidak sesuai dengan EYD, shounen-ai, romansa bukan rating utama, ReverseKai mode later, beberapa karakter menggunakan kartu Vanguard (ex: Ezel, Beaumains, etcs), characters death, bloody scene, action-scene masih amatir, and all.

DON'T LIKE DON'T READ!
We're already told you before!

Enjoy the fiction~

.

.

ᴲᶳᶳᶟᶯᶜᶟ₁₃ Silence Silk

Aichi berkeringat dingin, berharap cemas jika Lee bisa menggunakan kekuatan misterius itu dengan baik. Ia takut, kalau sampai hal yang tidak diinginkan terjadi. Bola itu bisa mengendalikan Xaiphos hitam, bukan? Atau jangan-jangan hanya sekedar mengirim telepati pada Xaiphos hitam saja? Entahlah, Aichi tidak terlalu mengerti. Bahkan Togami tidak bisa menyelidikinya karena tidak leluasa menggenggam atau menyentuh.

Lee memejamkan matanya, menyalurkan semua energi yang dimilikinya ke bola itu, lalu― "Terbang!"

BYASH.

"GYAAAH!"

"GROOAH!"

Kai terkejut dengan sekumpulan Xaiphos-Xaiphos hitam yang tiba-tiba keluar dari permukaan air. Banyak bentuk dan beragam. Padahal tadi mereka bersembunyi di dalam air dan melancarkan serangan dari bawah, tapi kenapa sekarang―

"Apa-apaan ini!?" Grim menautkan alisnya terkejut. Ia tidak memerintahkan kanibal-kanibal mengerikan itu untuk muncul. Tapi mereka semua bergerak tiba-tiba. Kai tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, Xaiphos-Xaiphos hitam itu berusaha keluar dari dalam air dan itu mempermudah serangannya sekarang.

"Emneda Bioc!"

BLHAAAR.

"Ck!" pemuda bersurai merah yang masih melayang di udara mendecih. Banyak sekali Xaiphos hitam yang hancur karena terpampang jelas di hadapan Xaiphos putih. Padahal ia sudah senang dengan rencananya yang mempersulit Kai tadi, "Bagaimana bisa hal ini terjadi!? Dasar Makhluk Bodoh! Cepat serang mereka!"

"GYAOOH!"

Tanpa hitungan detik, segerombolan Xaiphos hitam lain melakukan serangan susulan. Lee menajamkan pendengarannya, sekali lagi ia mencoba mengontrol makhluk-makhluk hitam itu dengan kekuatan bolanya, "Terbang! Jangan mendekat kapal ini!"

Dan lagi-lagi perintah itu mengganti pergerakan Xaiphos-Xaiphos hitam di dalam air. Mereka yang semula akan menabrak kapal tumpangan Lee pun berbalik menjauh dari kapal, kemudian keluar dari air. Kai menghancurkan mereka lagi dengan mudah. Grim hanya mampu menganga syok, ia mengacak-ngacak rambutnya kesal.

"Dasar Brengsek! Harusnya kalian menyerangnya dari bawah, Sialan! Kalian menghancurkan rencanaku saja!" Grim berteriak kesal. Ia tidak pernah merasakan kekalahan konyol seperti ini sebelumnya. Xaiphos-Xaiphos hitam itu tidak menurut padanya, bagi Grim ini tidak masuk akal.

"He-Hebat, kau yang melakukannya!?" Aichi terpesona dengan kemampuan Lee. Anak itu berhasil mengendalikan pergerakan Xaiphos hitam dengan baik, sehingga mereka keluar dari air dan Kai bisa menghabisi mereka dengan mudah. Bocah itu tersenyum, sebelum kesadarannya menghilang, lalu―

Bruk.

―ambruk di dada Aichi. Pemuda bersurai biru terkejut, "Le-Lee!? Kuatkan dirimu, Lee!" ia jadi panik, apa kekuatan bola itu menyedot energi dari tubuh Lee? Tubuh bocah itu tampak pucat.

Glutuk.

Glutuk.

Aichi memandang nanar ke arah bola hitam yang terjatuh dari tangan Lee. Tadinya Aichi takut mengambilnya, tapi dengan kondisi kapal yang bergoyang-goyang, bola itu bisa jatuh jika ia tak segera mengambil. Buru-buru pemuda itu mengulurkan tangan dan menggenggamnya.

Grep.

'Eh?' Aichi mengernyitkan dahinya. Rasa takutnya akan sengatan-sengatan aneh dari bola itu lenyap sudah. Ia tidak merasakan apapun saat memegangnya, layaknya menyentuh benda mati biasa, 'apa yang terjadi? Sengatan-sengatan aneh waktu itu ... kenapa tidak ada?'

Trililit.

Trililit.

Grim berdecak sebal, ia meraih ponselnya di saku lalu menjawab panggilan masuk, "APA?"

―"Kau gagal, ya, Grim?"

Deg.

"Hh, aku tidak gagal! Rencanaku terganggu karena makhluk-makhluk bodoh itu tidak menurut padaku! Ada apa ini!? Kenapa hal seperti ini bisa terjadi!?"

Kai memandang pemuda bersurai merah itu dari kapal. Kedua emerald-nya memandang seksama ke arah kaki tangan Silence Silk tersebut, yang tampak kesal karena rencananya gagal. Sebetulnya Kai juga terkejut dengan Xaiphos-Xaiphos hitam yang tadi melaut, tiba-tiba menunjukan dirinya dari air. Memang, hal itu mempermudahnya untuk menyerang. Tapi sedikit tidak masuk akal jika Grim Reaper itu yang memerintahkan mereka.

'Dia mendapat telepon dari atasannya. Berarti dia kaki tangan yang cukup penting, kalau begitu' Kai segera mengeluarkan sayap kristalnya. Melesat tinggi meninggalkan Aichi dan Lee yang diyakininya bisa memegang kendali di sana. Ia terbang dengan cepat ke arah Grim.

―"Kau bisa dimarahi oleh Tuan kalau pulang tanpa hasil, setidaknya lawan Xaiphos putih itu, atau bunuh Jewelic-nya."

"Aku juga tahu breng―" belum sempat Grim menyelesaikan jawabannya pada panggilan telepon, ia keburu dikejutkan dengan sebuah kaki, yang siap menendang kepalanya, "―sek ..."

BUK.

"Uurgh!" pemuda bawahan Silence Silk memuntahkan darah segar dari mulutnya tatkala kepalanya sukses ditendang ke arah kiri. Bahkan suara tulang-tulang dan uratnya yang tertarik ikut berbunyi. Grim menggeram kesakitan. Ia melotot ke arah Kai yang juga memandang dingin ke arahnya.

"Sialan―"

Kai sama sekali tidak memberi kesempatan padanya untuk melakukan apa pun, ia kembali melayangkan tonjokan dengan kecepatan tinggi ke arah Grim. Dan serangan itu sanggup membuat tubuh pemuda itu terlempar keras ke air.

BUK.

BYUUR.

"Mea no Floc!" Kai mengucapkan mantra itu dari mulutnya, seiring dengan angin kencang yang tercipta membentuk badai. Angin kencang itu mengendalikan air sampai mengurung tubuh Grim yang tadi terjatuh ke dalam sungai.

Pemuda berkulit pucat itu panik, ia tidak bisa bernafas. Bola air yang mengurung tubuhnya serasa menahan semua tubuhnya untuk tidak bergerak. Samar-samar, ia masih bisa melihat figur bersurai coklat yang tengah mengarahkan permukaan tangan kanan ke arahnya. Sial, legenda Savhalon ada benarnya, jika Xaiphos terkuat bernama Kai tidak pernah terkalahkan.

"Blup ... breng ... sek ..."

CRASH.

Bola yang tadi mengunci pergerakan tubuh Grim langsung menghancurkannya. Darah segar bermuncratan, dengan jumlah yang sangat banyak. Sampai-sampai sekilas terlihat seperti hujan darah.

Aichi memandang diam ke arah tetesan-tetesan darah yang membanjiri lautan, untungnya tidak mengenai kapal tumpangannya. Ia hanya bisa diam, tanpa berkomentar apa pun. Aichi sama sekali tidak merasakan apa pun ketika makhluk pucat bernama Grim tadi mati dengan mengenaskan. Yang terngiang di kepala Aichi justru nama organisasi itu.

Silence Silk.

.

.

.

"E-Etto ... Miwa-san ..."

Miwa berhenti membaca buku ketika sebuah suara menginterupsinya. Ia tidak cukup terkejut, karena suara itu terdengar khas di telinganya.

"Yo, Aichi! Ada apa? Mau membaca buku juga?" Miwa menyapa Aichi dengan senyum ceria khasnya. Walau sebenarnya Miwa sedang mencari buku untuk sumber memecahkan kode. Pemuda lainnya tersenyum manis.

"Tidak, aku mencari Miwa-san, tadi Jun-san bilang Miwa-san ada di perpustakaan organisasi," Aichi melihat-lihat ke sekitarnya. Ciri khas perpustakaan, dipenuhi buku-buku tebal dan bervariasi jenis. Kutu buku mana pun pasti puas, tentu saja.

Miwa manggut-manggut mengerti, ia turun dari tangga yang digunakannya untuk mengambil buku, "Oh, ya? Ada perlu apa denganku? Kai bertengkar dengan Wally lagi?"

Aichi menggeleng, "Bu-Bukan begitu, um ... bagaimana menjelaskannya, ya ..." Aichi tertunduk, lalu menyatuhkan kedua jari telunjuknya. Miwa memiringkan kepala, sepertinya Jewelic di depannya tampak kesulitan. Pemuda bersurai pirang itu menghela nafas dan tersenyum, ia menghampiri meja baca dan duduk di kursi yang kosong.

"Ayo, kemari. Ceritakan masalahmu," ajaknya. Aichi mengangkat kepalanya, sedikit terkejut kalau Miwa tahu-tahu sudah duduk manis di kursi baca.

"Ehm, ini mengenai masalah dunia kedua yang tidak kuketahui, Miwa-san. Aku ... ingin tahu," Aichi mengikuti Miwa untuk duduk di kursi baca, dengan posisi berhadapan dengan Miwa. Sekarang giliran Miwa yang membulatkan mulutnya. Kemudian ia tersenyum kecil, rupanya ada perkembangan kecil pada Aichi.

"Hehehe, kau memang Jewelic yang unik, Aichi."

"E-Eh?"

"Lupakan. Jadi, bagian mana yang ingin kau ketahui? Aku tahu banyak, mungkin aku bisa membantumu," Miwa bertopang dagu, menunggu lawan bicaranya kembali bersuara.

"Eng, misalnya ... mengenai masalah yang berkaitan dengan Jewelic dan buku Xaiphos? Aku harus mengetahuinya, karena kalau tidak ... aku tidak akan mengerti pokok permasalahan yang ada," Miwa manggut-manggut mengerti.

"Kalau itu, baiklah. Dengarkan baik-baik, ya," Aichi langsung memandang Miwa dengan tatapan serius dan mencekam.

"Ti-Tidak seperti itu juga, santai saja," Aichi mengangguk mengerti.

"Ini, cerita puluhan tahun yang lalu. Dunia kedua tercipta sejak salah satu penyihir dari dunia pertama menciptakannya. Ia memberi nama dunia kedua sebagai Savhalon, dengan sembilan belas negara dan empat pulau yang melingkupi. Penyihir itu menciptakan kehidupan baru di dunia kedua, layaknya dunia pertama. Dengan perbedaan banyak makhluk-makhluk magis seperti naga, kuda unicorn, dan banyak macam lainnya di dunia kedua," Miwa mulai bercerita, tangan kirinya yang bebas bergerak-gerak di meja.

"Sama seperti dunia pertama, dunia kedua memiliki kehidupan yang biasa. Misalnya saja, ada teknologi canggih, dunia underground, narkotika, bangunan gedung, apa pun. Sepuluh tahun sejak sang penyihir menciptakan dunia kedua, ia meninggal. Sehingga ia tidak sempat memperkenalkan dunia kedua pada penghuni dunia pertama. Sebelum meninggal, penyihir itu meninggalkan sebuah buku," Aichi membulatkan matanya.

"Ja-Jangan-jangan―"

"Ya, Buku Xaiphos, yang sekarang ada di tanganmu," Miwa tersenyum kecil.

"Buku itu adalah buku sihir, yang ia ciptakan untuk terhubung dengan dunia kedua. Ia menulis buku itu seperti diari, tentang bagaimana Savhalon tercipta, berita-berita di Savhalon, kesehariannya di sana. Sehingga buku itu sangat penting bagi hidupnya. Setelah ia meninggal, salah seorang pelayannya menemukan Buku Xaiphos. Dan betapa terkejutnya ketika ia bisa pergi ke dunia kedua melalui buku. Sang pelayan tidak tahu cara pulang, ia terpaksa tinggal di sana." Miwa mengendikan bahunya, alih-alih melanjutkan cerita.

"Suatu ketika, Savhalon diserang oleh naga raksasa yang menyeramkan dan mengancam kehidupan Savhalon. Tanpa disengaja, sang pelayan bisa mengalahkan naga itu dengan sekali serangan. Kekuatan itu yang disebut sebagai 'Jewelic', bisa dikatakan sebagai penerus sang penyihir. Julukan 'Jewelic' sendiri tidak bisa ditujukan kepada sembarang orang. Hanya ada satu Jewelic di setiap generasi, jika Jewelic pertama meninggal, orang lain yang menyentuh buku itu akan menjadi Jewelic baru, begitu seterusnya," Aichi terkesima. Ia memandang kedua tangannya.

'Jadi aku ... juga punya kekuatan itu?'

Miwa terkekeh melihat wajah yang terpancar dari Aichi, sepertinya pemuda berjubah putih itu tampak bersemangat.

"O-Oh, iya, lalu, soal Xaiphos?" Aichi bertanya dengan cepat. Miwa memandang langit-langit ruangan sekilas.

"Xaiphos itu makhluk hidup yang menyerupai manusia, bisa dibilang, mereka adalah pahlawan yang melindungi makhluk hidup Savhalon dari kejahatan. Makhluk itu baru muncul sekitar dua tahun tiga bulan yang lalu," Aichi melongo terkejut.

"Ha-hah!? Du-Dua tahun―"

"Hahaha, kau pasti terkejut, 'kan!? Yah, tidak ada yang tahu dari mana mereka muncul. Pihak negara juga tidak bisa bertindak banyak, adanya Xaiphos justru memudahkan umat manusia. Aku dan Jun pernah tertarik untuk menyelidikinya, tapi sedikit sulit karena mereka jarang berada di negara ini, Inerbolg. Susunan struktur sayap dan bentuk mereka juga menarik, tadinya kami kira ... Xaiphos adalah harapan baru untuk menciptakan dunia yang bebas dari kejahatan, tapi ..."

Tiba-tiba Miwa mengeratkan kepalan tangannya di meja, Aichi bisa melihatnya dengan jelas. Aura serasa mencekam, sepertinya Miwa akan mengatakan sesuatu yang tidak mengenakan berikutnya.

"Semua itu tidak ada artinya, setelah sebuah organisasi kriminal menciptakan ramuan bernama Chyfosintech. Ramuan itu yang merubah segalanya. Dunia yang dipenuhi kedamaian dan ketentraman, kehidupan sejahtera yang semua makhluk impikan, semuanya langsung berubah menjadi ancaman hidup terbesar ..."

Pemuda lainnya menelan air liur susah payah. Sepertinya ia tahu apa yang akan Miwa katakan berikutnya, karena ia pernah mendengar sedikit dari Kai.

"Ramuan itu yang menjadikan Xaiphos menjadi Xaiphos hitam, membuat makhluk itu kehilangan rasio dan akal sehat. Mereka yang sudah terinfeksi, akan membunuh semua makhluk hidup di sekitarnya tanpa pandang bulu, siapa yang tidak ketakutan?"

"Me-Memangnya ... organisasi apa yang membuat ramuan itu?"

Manik perak sang wakil divisi memandang jari-jarinya di meja, "Silence Silk ..."

.

.

.

Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ

Yuri berdiri dengan anggunnya menyambut tamu yang datang. Ditemani dengan dua uskup muda di sampingnya, Chris dan Ali. Juga beberapa pendeta amatir di belakangnya. Pintu utama Gereja Quillray yang selebar empat meter pun terbuka, menampakan lima sosok figur berseragam sama. Berlima masuk dengan langkah kaki yang serempak, dengan seorang yang berumur lebih tua berada di depan.

"Kami dari St. Poline, suatu kehormatan bisa datang kemari secara terhormat." ucap yang berdiri paling depan, yang tak lain adalah kepala sekolah dari St. Poline sendiri. Keempat murid yang berdiri di belakang langsung memberi hormat. Sang ketua baru dari Gereja Quillray pun tersenyum anggun.

"Suatu kehormatan juga bisa mengundang kalian."

"Saya membawa murid-murid terbaik kami yang berjulukan The Beast of Poline kemari. Saya dengar Anda ingin sekali bertemu dengan mereka untuk mendiskusikan suatu kerja sama, Saya sangat senang bisa memperlihatkan murid-murid terbaik kami," Yuri hanya menanggapinya dengan senyuman. Seiring dengan pintu utama yang kembali ditutup, empat murid yang tadi berdiri di belakang pun maju.

Dengan posisi memberi hormat, mereka mulai memperkenalkan diri, dimulai dari yang berdiri di sisi kiri. "Saya ketua The Beast of Poline, Theo Necklair."

Disambung dengan murid yang berdiri di sampingnya, "Saya wakil The Beast of Poline, Trapezist Irona."

"Saya anggota nomor tiga, Tron Mirde."

"Saya anggota nomor empat, Tiramisu Shiny."

Yuri sedikitnya terpesona dengan tampang keempat murid St. Poline di hadapannya. Ia langsung mengajak mereka mengobrol di ruangan pribadinya. Chris dan Ali pun setia mengekori Yuri dari belakang. Di tengah jalan menuju ruang pribadi, uskup yang bersurai merah berbisik.

"Wah, Chris, gadis bernama Trapezist itu manis sekali, ya~," dan bocah lainnya hanya bisa menghela nafas lelah.

Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ

"Hei, Miwa. Kapan Raja Savhalon akan kemari?" suara itu menginterupsi pemuda lainnya yang sibuk memecahkan kode. Pemilik manik perak hanya mendengus pelan sebagai jawaban, kemudian kembali melanjutkan perkerjaannya.

Jun bertopang dagu dengan wajah datarnya. Ia sudah bertanya tiga kali dan Miwa hanya cuek. Sang wakil divisi terlalu berkonsentrasi pada tugasnya, sampai-sampai melupakan masalah lainnya. Dirinya sibuk berkutat pada media gambar di tablet-nya. Kalau memanggil jin tiga kali masih dijawab, eh, ini dicuekin.

"Miwa."

Tidak ada jawaban―lagi.

Oke, Jun menyerah. Ia memutuskan untuk mengecek sendiri surat balasan yang dikirimkan dari Raja Savhalon, di laptop kerjanya.

Ctik.

Ctik.

"Jam tiga sore, berarti tiga jam lagi. Hm, sebaiknya aku harus meminta anak buahku untuk menyiapkan jamuan lezat," Jun berguman pada dirinya sendiri. Jari lentiknya langsung mengetik pesan, yang nantinya akan dikirim ke koki organisasi.

"Argh! Astaga! Kode ini benar-benar menipuku!" dan tiba-tiba Miwa berteriak. Akhirnya pemuda bersurai pirang itu kembali bersuara. Jun melirik dengan ekor mata lentiknya, Miwa mengangkat tablet-nya dengan wajah hina.

"Kenapa, sih?"

"Kode ini, kode pesan kematian dari Shin Nitta. Sebenarnya sangat mudah. Aku tertipu dengan 'sampul'-nya," Miwa mengadu, masih dengan wajah hina. Jun memutar bola matanya bosan. Tidak jarang Miwa terjebak pada kesimpulannya sendiri, walau rata-rata simulasi dari sang wakil luar biasa.

"Lalu? Kau bisa memecahkannya?"

"Tentu saja!" Miwa menyahut cepat. Tidak terima jika ia diremehkan Jun karena lama memecahkan kode. Pemuda berjubah fanta itu menekan-nekan layar touch-screen tablet-nya sebentar, kemudian menunjukannya pada Jun.

"Pemecahannya simpel. Shin menulisnya dengan darah saat posisinya terduduk. Menurut berita yang disiarkan, tangan kirinya terputus karena dibacok, berarti ia menulisnya dengan tangan kanan. Semua detekif bodoh yang disewa oleh Silence Silk mungkin tidak menyadari suatu keganjilan yang masuk logika disini," Miwa sedikit menjilat bibir bawahnya, menyadari betapa bodohnya detektif di luar sana.

Jun memiringkan kepalanya dan melipat tangan di depan dada, "Oh, ya? Kalau begitu keganjilan masuk logika apa yang kau sadari disini, hm?"

"Ayolah, masa kau tidak tahu? Semua orang membaca kode itu sebagai 'iJO7!9J7iiii'. Tapi ... bagaimana kalau ia menulisnya dengan posisi terbalik karena duduk?" Jun langsung membulatkan matanya. Benar juga. Kalau ia menulisnya dengan posisi menghadap tembok, kode itu dibaca iJO7!9J7iiii. Tapi karena Shin menulisnya dengan posisi duduk, ia tidak bisa menulis dengan posisi baca normal.

"Ja-Jangan-jangan ..."

"Ya, baca kode ini dengan posisi terbalik," Miwa pun memutar balik tablet-nya, "maka kode yang sebenarnya terlihat."

Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ

Aichi menginjakan kakinya di hamparan pasir. Akhirnya ia sampai pada negara yang ditujunya bersama Kai dan Lee. Nelayan yang tadi mengantarnya masih menatap pemuda bersurai biru di depannya dengan tatapan kagum.

"Ah, terima kasih atas tumpangannya, Paman!" Aichi membungkuk sopan ke arah nelayan tadi.

"Ah, sama-sama, Anak Muda! Ma-Maksudku ... Jewelic," sang nelayan sedikit tersipu. Legenda adanya Jewelic itu sudah lama. Jarang bisa menemui salah satunya terang-terangan. Pengalaman tadi sungguh sesuatu yang luar biasa bagi sang nelayan.

"Semoga kita bisa bertemu lagi, sampai jumpa!" Aichi melambai singkat pada nelayan baik hati itu. Kemudian memandang ke arah Kai, dan Lee yang digendong di punggung.

"Bagaimana keadaanmu?" Aichi bertanya khawatir pada bocah berkacamata di gendongan Kai. Lee hanya mengangguk lemah.

"Sudah baikan."

"Ne, Kai-kun, apa di Savhalon jika memasuki wilayah negara lain seperti ini tidak melanggar peraturan?" kemudian ia beralih pada Kai. Pemuda lainnya mengendikan bahunya.

"Tidak," Aichi menghela nafas lega. Sedikitnya terheran-heran dengan penjagaannya yang tidak ketat. Bagaimana jika penjahat atau imigran gelap masuk? Ekor mata birunya melihat-lihat ke sekitar. Cukup ramai. Langit sudah menunjukan siang hari. Perjalanan yang terhambat karena adanya gangguan membuat waktu mereka terkuras.

"Sebaiknya kita beristirahat dulu, sebelum melanjutkan perjalanan ke Kota Harthowl. Lee dan Kai pasti lelah," pemuda bermarga Sendou itu menunjuk ke arah batu-batuan besar yang menghiasi pinggir sungai, bermaksud duduk di sana. Kai menatap Lee sejenak, kemudian mengiyakan mau 'pasangan'nya.

Bruk.

Setelah menyamankan diri pada posisi duduknya, Aichi langsung mengeluarkan sebuah layar persegi panjang dari tasnya. Saat pinggirnya ditekan, layar itu menyala. Yep, benda elektronik. Semacam ponsel. Aichi mendapatkannya gratis dari Jun. Katanya sebagai alat komunikasi atau pun peta. Benda itu pasti sangat berguna.

Klik.

Aichi membuka peta Negara Savhalon lagi. Benda itu menunjukan dimana posisi Aichi sekarang, sekaligus memperlihatkan rute menuju Kota Harthowl. Tidak terlalu jauh, sekitar 1000 km. Mereka bisa menempunya dengan singkat jika ... terbang. Oh, mengingat dirinya akan melayang-layang di udara lagi membuat pemuda manis itu speechless.

'Kami tidak boleh terlambat. Menurut jadwal yang berhasil didapat Miwa-san, murid-murid dari Sekolah St. Poline yang datang ke sini akan melakukan keliling kota pada jam enam sore. Di saat itu, kami akan berpura-pura menjadi salah satu masyarakat yang menonton mereka, lalu membiarkan Lee mencari pelaku.' Aichi memantapkan rencana mereka dalam hati. Dirinya menatap ke arah langit. Udara begitu sejuk, matahari tidak terlalu terlihat.

Walaupun siang hari, sang mentari tidak menyengat dan membakari kulit. Baguslah, setidaknya dengan itu mereka bisa beristirahat dengan tenang.

Triling.

"Huh?" Aichi dan Kai bersamaan mendelik tatkala suara dering tiba-tiba muncul. Aichi melirik ke arah benda persegi panjang tadi. Dan benar saja, ada pesan baru yang diterima alat elektronik itu.

"A-Ada pesan dari Miwa-san," Aichi melirik ke arah Kai. Pemuda bermata tajam itu membuang muka dan bertopang dagu.

"Buka saja." dan Aichi menurut. Dirinya yang dulu tinggal di dunia modern memudahkannya untuk mempelajari bagaimana memakai alat canggih. Sekaligus memahami penggunaannya dalam waktu singkat.

Ctik.

Ctik.

Yo, Aichi!

Kau sudah sampai di Gumirose, ya? Kau benar-benar hebat. Sebaiknya kau santai dulu, karena masih lima jam lagi sampai murid-murid St. Poline melakukan keliling kota. Oh, iya, aku mengirim petunjuk baru untukmu. Kalau sudah bertemu murid-murid St. Poline, coba lihat rambut mereka. Apa ada yang berwarna hijau pucat atau tidak.

Itu saja. Selamat berjuang, aku menghandalkan kalian!

Miwa.

"Hng?" pemuda berusia enam belas tahun itu mengernyitkan dahinya. Tanpa sadar, sekarang ia dan Kai ikut bermain detektif-detektifan seperti Jun dan Miwa. Aichi melirik ke arah Kai―lagi, sementara pemuda lainnya yang sadar diperhatikan pun memandang dua manik biru Aichi.

"Ada apa?"

"Eng, kata Miwa-san, ia meminta kita untuk memperhatikan warna rambut murid-murid St. Poline nanti," Aichi bangkit berdiri, kemudian memanjat ke batu yang lebih besar, dimana Kai dan Lee duduk di sana. Lalu Aichi menyerahkan benda itu pada Kai.

'Rambut? Memangnya kenapa dengan rambut?' Kai bertanya dalam hati. Tapi ia memutuskan untuk tidak banyak berkomentar. Sebenarnya agak aneh, mengingat Togami malah menugaskan perkerjaan ini pada mereka. Bisa saja Jun meminta bawahannya yang mengantarkan Lee.

Tapi kemudian Kai melihat sisi lainnya. Mungkin kasus ini bisa menjadi latihan bagi Aichi, yang notabene adalah Jewelic baru. Kalau ia dan Aichi bisa menemukan dalang dari kasus waktu itu, mungkin Aichi bisa mendapatkan pencerahan mengenai jati dirinya. Mereka bisa mendalami situasi dunia kedua.

'Ah' Kai teringat satu hal. Di kapal tadi, ia sempat membaca sekilas buku Xaiphos milik Aichi. Tidak banyak kata yang terbaca oleh kedua manik emerald-nya. Lagipula ia juga tidak hobi membaca. Tapi ada suatu hal yang membuatnya tertarik untuk tahu.

Mengingat kasus Suzugamori Rei dan Shin Nitta yang diceritakan Jun, tepat sebelum mereka angkat kaki dari Organisasi Togami. Kedua orang itu ditangkap oleh Silence Silk, bukan sebagai narapidana, orang sok pahlawan yang menentang Silence Silk, atau apa pun itu. Mereka ditangkap karena ...

'―diduga sebagai pembuat Xaiphos? Pembuat ... aku?' Kai terdiam. Disertai suara deru air dan hembusan angin. Ia menatap tangannya. Berusaha mengingat-ingat masa lalunya. Dimana ia berasal. Dimana ia lahir. Atau keluarganya. Dan dari sana Kai baru menyadari sesuatu. Sesuatu fatal, yang selama ini tidak pernah terlintas di pikirannya sebagai sebuah Xaiphos.

Kai mengeratkan kepalan tangannya. 'Aku tidak mengingatnya, sama sekali ...'

Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ

Bruk.

Seorang gadis berpakaian militer menghempaskan tubuhnya ke sebuah sofa mewah. Sofa berwarna kuning keemasan, yang berbahan sehalus sutra, ditambah bahan dalamnya yang begitu empuk, membuat gadis itu semakin menyamankan diri. Jarang ia mendapat fasilitas seperti ini, mengingat dimana ia tinggal―asrama sekolah militer―.

"Whua, akhirnya pertemuannya selesai jugaa~," ia berseru panjang, disertai langkah kaki seseorang yang menyusulnya duduk, tepat di sampingnya. Toh, sofa besar yang berada di ruangan khusus tamu itu panjang.

"Trapezist, seharusnya kau tidak berkomentar sefrontal tadi," orang yang tadi duduk di samping gadis itu membuka pembicaraan, "memalukan tahu." tambahnya.

Trapezist mendesis, walau hal itu tetap menambah kesan imut di wajah babyface-nya. "Ih, Theo cerewet, deh! Aku 'kan hanya mengatakan apa yang menjadi kenyataan. Kalau orang-orang yang mau tunduk pada Silence Silk itu munafik dan penjilat!" ia menekan tiga kata terakhir. Membuat pemuda yang merupakan pemimpin mereka langsung memijat pelipisnya.

"Kau terlalu jujur memang, aku tahu. Tapi kita berbicara di depan banyak uskup dan pastor, terutama shana suci bersama Yuri itu. Sebaiknya kau jaga kata-katamu," Trapezist memeletkan lidahnya ke arah sang ketua The Beast of Poline, tidak terima jika sifat terlalu jujurnya menjadi halangan bagi mereka.

"Uskup? Maksudmu dua uskup cilik yang menemani Yuri-Shana?" kemudian seorang gadis yang tengah menuangkan teh ke empat buah cangkir, ikut membuka suara. Ia memiliki rambut panjang yang begitu halus dan terurus. Meskipun perkerjaannya tidak memungkinkan seorang gadis untuk tetap memanjangkan rambutnya.

"Heeh? Benar juga, dunia semakin aneh, anak kecil saja bisa jadi uskup," Trapezist berkomentar seraya menatap langit-langit ruangan yang berhias corak klasik. Gadis yang tadi menuangkan teh, terkikik geli. Ia berpakaian sama dengan Trapezist, juga Theo, yaitu seragam militer sekolah St. Poline.

Ckrik.

Dengan langkah anggun khasnya, ia pun membawa empat cangkir tadi dengan nampan, lalu mengantarkannya pada tiga teman seprofesinya yang juga berhak atas ruangan pribadi ini. "Jangan menilai dari penampilannya, Zisty. Umur mereka sudah mencapai 100 tahun lebih, lho―yah, setidaknya itu yang kulihat dari profil mereka di salah satu ruangan gereja besar ini."

"Apa!?" Trapezist tersentak kaget, hampir melempar cangkir teh yang baru saja diberikan Tiramisu untuknya. Tiramisu juga memberikan dua cangkir lainnya untuk Theo dan Tron. Sisa cangkir terakhir untuknya, kemudian nampan yang tidak terpakai lagi diletakannya di sebuah meja.

"Reaksimu berlebihan, deh," Tron mencibir dengan tampang mengejeknya. Sebetulnya ia tidak habis pikir, kenapa gadis yang cerewet dan penuh dramatis ini bisa masuk empat besar sebagai murid 'terbuas' dalam sekolah. Tapi kemudian pemuda bersurai biru tua itu tidak mempedulikannya dan menyeruput teh.

"Ha-Habisnya―'kan ..." sebelum Trapezist melakukan pembelaan, suara tawa Tiramisu keburu membahana di ruangan VIP mereka. Tron mengernyitkan dahinya, sebal dengan tawa Tiramisu yang menurutnya berisik. Sementara Theo hanya menyeruput minumannya seraya memejam mata.

"Zisty ... Zisty ... Kau sungguh menggemaskan, deh. Andai saja aku laki-laki, aku pasti akan menikahimu segera," Tiramisu berucap dengan nada santai, kemudian meminum tehnya. Trapezist menggembungkan pipinya kesal.

"Ceh, kau serius, Misu? Aku yang laki-laki saja harus berpikir dua kali untuk menikahi cewek macam dia," Tron menunjuk-nunjuk ke arah gadis bercepol dua. Tak ayal membuat emosi seorang gadis remaja yang masih labil pun bangkit. Trapezist segera bangkit berdiri, kemudian berlari mengejar-ngejar Tron dan menjambaknya habis-habisan.

Perilaku mereka tergolong normal untuk seukuran usia mereka. Ya, setidaknya hal itu mereka lakukan saat bebas dari pengawasan ketua dan anggota St. Poline yang lain. Jika di depan masyarakat, atau pun di sekolah, murid-murid berjulukan The Beast of Poline ini akan bertindak profesional sebagaimana seorang prajurit militer.

Tetapi seperti inilah mereka jika terbebas dari tugas, berperilaku layaknya sekawanan teman biasa, yang menjalani hidup-hidup seorang remaja seperti apa adanya.

Theo, pemuda bersurai zambrud, terdiam memandangi pantulan wajahnya di permukaan teh. Kedua matanya terpejam tenang, seakan-akan suasana ribut yang diciptakan ketiga anggotanya tidak pernah ada. Kemudian kedua matanya terbuka, dirinya menoleh ke arah jendela yang memantulkan pemandangan langit sore.

"Hm?" Tiramisu yang tadinya sibuk melerai kedua anggota timnya, kini baru menyadari kalau sejak tadi ketuanya diam saja. Ia melirik ke arah Theo yang memandangi jendela dengan tatapan yang sulit diartikan, "ada apa, Theo?"

Theo tersentak dari lamunannya. Ia memandang Tiramisu yang menatapnya khawatir, takut jika rekannya sakit atau apa. Pemuda berpostur tubuh cukup kecil itu menggeleng.

"Tidak, hanya memandang langit saja," tuturnya singkat.

Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ

Tap.

"Aduduh!" Aichi hampir saja terjatuh ketika mencoba mendarat ke tanah dari ketinggian satu meter. Tapi untungnya keseimbangan tubuhnya kuat, kedua kakinya bisa mengantisipasi. Ia melirik ke arah Kai dan Lee yang juga mendarat dengan selamat, lalu menghela nafas lega.

"Cepat, Kak. Kita tidak punya waktu," Lee memperingati, dan Aichi mengerti betul. Mereka ketiduran, dan hal itu membuat waktu berjalan begitu saja. Hari sudah semakin sore, dan Aichi baru saja sampai di Kota Harthowl. Semoga mereka masih keburu melihat murid-murid St. Poline yang menurut jadwal akan melakukan acara keliling kota di Harthowl.

Drap.

Drap.

Ketiganya berlari mengikuti arah kompas yang ditujukan benda elektronik di tangan Aichi. Kompas yang menunjukan rute tersingkat menuju jalan yang dekat dengan Gereja Quillray. Detak jantung Aichi berpacuh cepat, keringat samar-samar mulai membasahi pelipisnya. Hatinya bergelora, tak sabar untuk melakukan misi keduanya di Savhalon, dunia kedua.

Hatinya yang mencintai bagaimana hebatnya sihir tak bisa dibohongi. Dan tak akan pernah. Di sisi lain, hatinya begitu gembira dan bersemangat untuk berpetualang. Walau di lain pihak, ia sedikit takut dan cemas. Takut dengan masalah macam apa yang akan ia lalui. Cemas akan ancaman hidup yang selama ini hampir menimpa dirinya.

Tap―

Aichi menghentikan langkahnya di tengah lorong, tangannya terulur untuk menghalangi bias cahaya yang menyilaukan dari ujung sana. Begitu juga dengan dua pemuda lainnya yang mengikutinya di belakang. Samar-samar, telinga Kai menangkap suara keramaian dari sana. Berarti ...

"Aichi, di sana." Pemuda bersurai biru yang berdiri di depan pun mengangguk, dan melanjutkan langkahnya. Dan benar saja, begitu bias cahaya itu―sedikit―meredah, ia menemukan puluhan manusia yang memunggunginya. Disertai suara riuh dan musik khas parade. Kedua mata Aichi mengerjap lucu, lalu menengok-nengok sekitarnya.

"Ra-Ramai sekali," bisiknya, entah pada siapa.

"Kyaaa! Itu Trapezist Irona! Seperti gosip, dia sungguh manis. Trapeziiist!"

"Troon! Lihat sini, dong! Kau lulusan sekolah St. Poline tertangguh, 'kan!?"

Deg.

Jantung Aichi serasa berhenti berdetak sedetik itu juga. Ketika telinganya mendengar nama sekolah yang familiar dengan misinya kali ini. Sekolah St. Poline. Kedua matanya langsung menajam, Aichi pun berinisiatif untuk menerobos sederetan manusia yang berdiri di pinggir jalan menyambut murid-murid sekolah ternama itu.

Kai sedikit cengo melihat 'pasangan'nya, yang tampak kesulitan untuk menerobos kerumunan di depannya guna melihat lebih dekat. Dihalangi puluhan manusia seperti ini, tentu mereka yang akan kesulitan mencari pelaku, terutama Lee yang bertubuh pendek. Akhirnya ia turun tangan untuk membantu Aichi.

.

.

.

"The second world is most complicated than Earth ..."

To Be Continued

.

.

.

Information Fiction:
Ambil selembar kertas, tulis iJO7!9J7iiii (persis seperti ini) kemudian putar balikan kertas tersebut. Itulah kode asli daari kematian Shin Nitta. Tapi, jangan senang dulu, Kawan. Setelah diputar-balikan, itu bukan arti dari kode, melainkan kode sesungguhnya. Dengan kata lain, masih ada penyelesaian dan makna yang harus Jun, Miwa, dan kalian pecahkan setelah itu.

A/N: Hai, semuanya, maaf update-nya lama, sejak update terakhir kali kemarin kami sudah nggak jenguk FFn lagi karena sibuuk. Tadinya enak kira sudah UN dan santai, eh malah kepincut sama dunia buat doujinshi dan cosplay, jadilah fanfiksi kami terbelengkalai, uhuhuhuhu :") Coba kami punya jurus seribu bayangan kayak Narto(?), kan enak bisa bagi-bagi tugas #apa #dasarmales.

Say hi to karakter baru yang diambil dari kartu Vanguard, yah :))

Theo dari Aqua Force, Trapezist dari Palemoon, Tiramisu dari Oracle Think Tank, Tron dari Gold Paladin.
Terima kasih kepada teman facebook yang sudah membantu dalam mencari karakter tersebut :))

Alasan kami update lama? Banyaaak :")
Buat doujin, sibuk urusan cosplay, marathon nonton anime yang berepisode banyak, bagi waktu dengan dunia nyata. Tehe :")
Berikan kami boost(?) supaya bisa cepet ngetik SB chapter 3, yah #kedipkedip

Thanks for your support, readers! We love you all!

Reply Review:

Cece Mayuyu: Gak, mereka cari ikan kecil bukan buat dijual, tapi hanya sekedar menyimpannya, kok. Tapi nelayan yang lihat jadi gagal paham karena Aichi bilang pergi bareng teman dan nunjuk mereka yang pas lagi nyari ikan, hehehe. Hehehehe, tenang, tbc kan bukan berarti berakhir, tetap lanjut kok, jadi jangan cemas, yah XD

Kujo Kasuza: Ehehehe, benarkah? Kami senang sekali kalau begitu, bikin teka-teki itu nguras otak soalnya, hehehe. Ya ampun, nak, ternyata kamu pedo, kurag asyem, saya jadi ada saingan #ternyata# Aichi gak diminta ganti rugi, karena dia yang selamatin nelayan ituu ;DD

Dracokid: Kami nggak ke MikuExpo, sih. Soalnya walaupun suka sama Miku, kami nggak addicted banget sampai begitu, biasa saja gitu. Iya, makasih banyak doanya supaya kerjaan kami cepet kelar, ya :) Kami pasti semangat terus, kok XD

Yuu Si Anak Layangan: Silahkan fangirling, kurang baik apa aku, anak shota dimasukin ke pihak KaiChi, hohoho. Iya, lawan Xaiphos hitam yang diam di air lebih susah karena ada air yang menghalangi serangan, begitu. XD

Sorry for misstypo(s),
27 Mei 2014
Twinted Twining Tails.