Significance Essence
Cardfight! Vanguard fiction from © Hyucchi
Cover madeby © Hyucchi.
SO DON'T TRY TO STOLE AND MAKE IT YOURS!
Disclaimer:
Cardfight! Vanguard belong to Bushiroad, it's not our own
Genre(s):
Superanatural, Fantasy, Romance, Angst, Mistery, Adventure, Crime, Suspense.
Main Pairing:
Kai x Aichi
Rating:
T+ (for violence, horror, and angsty)
WARNING(!):
AU (alternative universe) story, karakter OOC, Half OC, cerita sesuka fantasi author, misstypo beredar seperti tawon tanpa sarang, penulisan tidak sesuai dengan EYD, shounen-ai, romansa bukan rating utama, ReverseKai mode later, beberapa karakter menggunakan kartu Vanguard (ex: Ezel, Beaumains, etcs), characters death, bloody scene, action-scene masih amatir, and all.
DON'T LIKE DON'T READ!
We're already told you before!
Enjoy the fiction~
.
.
ᴲᶳᶳᶟᶯᶜᶟ₁₄ Know The Real Monster
Miwa hampir saja memejamkan matanya. Ia sangat mengantuk. Seharian ini memecahkan kode suatu pesan kematian, belum beberapa anak buahnya―yang juga berprofesi sebagai detektif, walau tingkatannya kecil―meminta tolong dirinya memecahkan kode lain.
Di jam yang hampir menunjukan pukul tujuh, ia sudah tidak peduli lagi jika harus tidur terlalu cepat. Lalu nantinya akan bangun tengah malam dan tak bisa melanjutkan tidurnya sampai pagi. Ya, sebelum sebuah dering benda elektronik menginterupsinya.
Triling.
Triling.
Miwa mengernyitkan dahinya. "Nggh ..." lalu mengguman pelan. Ia hanya berbaring dengan posisi asal di sofa ruangan Jun. Toh' sang ketua divisi sedang berdiskusi langsung dengan Raja Savhalon, Suzugamori Ren, di ruangan lain. Si pirang bisa sesuka hatinya berguling-guling di ruangan Jun, sampai pagi sekali pun.
Triling.
Triling.
"Duh, berisik ... awas saja jika itu pesan dari anak buahku, akan kucaci-maki mereka," Miwa menggerutu pada dirinya sendiri. Dengan malas-malasan ia bangkit berdiri kemudian menghampiri meja kerja Jun, dimana layar tabletnya menyala, sedikit menerangi ruangan yang penerangannya hanya bergantung pada rembulan dari arah jendela.
Grep.
Ia meraih tablet kesayangannya dan membuka sebuah pesan masuk. Matanya yang tadi menyorot sebal kini berganti menjadi tenang. Ia diam sejenak tatkala nama 'Sendou Aichi' tertera di layar sebagai nama pengirim. Untunglah, setidaknya anak buahnya tidak akan kena semprot.
Pemilik manik perak itu pun mulai membuka pesan. Dan kedua matanya sukses melongo tatkala membaca pesan singkat dari Aichi, sang Jewelic amatir yang ditugaskan Jun untuk membantunya mencari pelaku.
Aku menemukannya, Miwa-san. Murid St. Poline yang berambut hijau pucat. Apa yang harus kulakukan sekarang?
Buru-buru Miwa mematikan layar pesan dan beralih untuk menelepon Aichi. Jari-jarinya dengan lihai bergerak cepat di layar touch-screen, baru kemudian ia terdiam ketika nada sambung berbunyi. Matanya melirik sekitarnya tidak sabar untuk segera berbicara. Ia merasa kasus ini semakin menarik, sayangnya Miwa tidak bisa hadir di Kota Harthowl.
PIP.
―"Halo, Miwa-san?"―
Miwa memang bisa mendengar suara Aichi, walau samar-samar suara riuh dan keramaian juga bisa didengar. Si pirang menduga jika Aichi tengah pergi ke tempat yang agak sepi, walau tidak jauh dari keramaian parade keliling kota yang diadakan St. Poline.
"Halo, Aichi. Bagaimana keadaannya di sana? Lee sudah menemukan pelakunya?" terdengar helaan nafas dari seberang sana.
―"Tidak, Lee sudah berusaha. Tapi ia tidak bisa mengingat tampang orang yang memberikannya bola misterius itu. Tapi kami menemukan murid St. Poline yang memiliki warna rambut hijau pucat, seperti yang Miwa-san katakan."―
Miwa memijat pelipisnya. Ia sedikit jengkel dengan bocah berusia sepuluh tahun itu. Padahal tujuan mengirim Aichi, Kai, berserta Lee ke Gumirose adalah untuk mencari pelaku. Tapi sepertinya hal itu tidak mudah, di sisi lain Miwa penasaran mengapa Lee tidak bisa mengingatnya. Apa otaknya dipengaruhi sehingga memorinya dihapus? Apa pelakunya bisa menggunakan kekuatan superanatural?
Tapi harapan mereka tidak putus. "Benarkah? Ada berapa murid yang berambut sama?"
―"Hanya satu, aku dan Kai yakin itu. Walau kami melihat di malam hari. Sedari tadi Kai ingin sekali mencoba menahannya, tapi aku masih ragu."―
Wajah Miwa yang semula kusam, kini kembali mengulas sebuah senyum. Oh, demi apa pun, ia tidak mengira jika persentasi keberadaan orang berambut hijau pucat akan sebagus ini. Titik mati untuk mencurigai pelaku pun mulai menemukan terangnya.
"Apa kau tahu namanya? Atau jabatannya? Biasanya orang yang berada di posisi depan dalam acara seperti itu, memiliki jabatan yang istimewa. Sebaliknya, yang berdiri di bagian belakang hanya murid-murid biasa, yang mungkin ikut meramaikan." Miwa menjelaskan dengan tidak sabar. Dan sepertinya Aichi di seberang sana mengetahui itu.
―"Eng ... kami tidak bisa menanyakannya langsung, tidak enak. Parade keliling kota mereka masih berjalan. Tapi Kai menghafal setiap nama yang diteriaki oleh penduduk-penduduk kota. Kalau tidak salah, namanya ..."―
Miwa mendengarkannya dengan baik-baik, satu tangannya buru-buru merogoh asal laci meja Jun dan mencari kertas dan pulpen, untuk mencatat beberapa keterangan yang dirasa perlu. Ia mengetuk-ngetuk sebentar ujung pulpen di dagu, sebelum kemudian berpikir.
Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ
Aichi memandang ke arah Kai dengan tatapan bingungnya, yang terlihat manis sekalipun ia seorang laki-laki. Kai mengangguk sebagai kode. Si surai biru kembali fokus dengan teleponnya. "Eng ... kami tidak bisa menanyakannya langsung, tidak enak. Parade keliling kota mereka masih berjalan. Tapi Kai menghafal setiap nama yang diteriaki oleh penduduk-penduduk kota. Kalau tidak salah, namanya ..." sebelum melanjutkan, Aichi terlebih dahulu memandang ke arah murid-murid St. Poline dari kejauhan.
Dari jarak itu pun, Aichi bisa melihatnya dengan jelas, sosok yang berjalan di barisan depan, dengan tenangnya melangkah bersama teman-temannya. Namun warna rambut figur itu yang membuat Aichi semakin fokus, "Theo Necklair, jabatannya adalah ketua dari The Beast of Poline."
Lee menatap ke arah kerumunan dengan tatapan kesal. Bukan, ia bukan benci dengan figur-figur berseragam St. Poline yang dikerumuni banyak masyarakat. Tapi ia kesal dengan dirinya sendiri, yang tidak bisa mengingat apa pun mengenai wajah dari pemberi bola misterius di tangannya. Sampai sekarang Lee masih menggenggam benda itu, tapi ia tetap tidak bisa mengingat apa pun.
Sedikit pun, dari ujung rambut sampai kaki. Hanya lambang dan nama St. Poline yang bocah itu ingat. Dan hal ini sama sekali tidak membantu. Mereka sudah kemari susah payah, dan hasilnya nihil. Lee sungguh membenci dirinya sendiri.
"Bagaimana?" Kai bertanya singkat pada Aichi yang baru saja mematikan ponselnya. Si surai biru menatap benda elektronik di tangannya sejenak, sebelum ia menyimpannya di saku. Lalu matanya beradu dengan manik emerald milik Kai.
"Miwa meminta kita untuk mengingat baik wajah orang itu. Lalu sebaiknya kita mencari tempat peristirahatan, Miwa ingin kita berusaha untuk bisa bertemu dengan orang bernama Theo itu," Aichi menjelaskan dengan wajah yang menyirat rasa lelah. Kai tahu kalau Aichi pasti merasa letih setelah perjalanan mereka seharian ini menyeberang negara.
Hasilnya nihil pula. Tapi Kai tidak bisa menyalahkan Lee. Ia sudah menduga jika pelaku yang dicari, pasti memiliki kekuatan misterius, yang mungkin bisa mengendalikan atau menghapus memori orang lain. Buktinya figur misterius itu yang memberikan bola pengendali Xaiphos hitam pada Lee. Kai sedikitnya penasaran, siapa sosok yang bisa-bisanya memiliki benda seseram bola di tangan Lee.
Kai pun mengangguk sebagai jawaban, khasnya. Karena ia memang tidak suka banyak berbicara. Aichi tersenyum dan mengerti. Untungnya Jun―sang ketua royal―sudah memberikan Aichi uang saku, tentunya diam-diam dari Miwa. Uang itu bisa dipergunakannya untuk membayar penginapan.
"Kai-kun, bisa tolong bawa Lee mencari tempat penginapan? Ini uangnya," Aichi meraih tangan kanan Kai, lalu meletakan semua lembar uang yang diberikan Jun pada mereka. Kini giliran si rambut brunet yang membulatkan mata. Sorot mata emerald-nya bertanya 'kenapa?' pada Aichi, dan si bluenette hanya membalasnya dengan senyum manis.
"Ehehe, a-aku sebenarnya ingin melihat lebih dekat lagi. Nggak apa-apa, 'kan?" Aichi menunjuk ke arah parade keliling kota yang sudah menjauh. Kai terdiam sejenak dan berpikir, sedetik kemudian ia mulai mengerti apa maksud Aichi.
"Yah ... baiklah," Aichi bersorak senang ketika Kai mengijinkannya begitu saja. Setelah menatap Aichi yang pergi sambil melambai-lambai, pemuda bertubuh atletis itu menatap sejumlah uang di tangannya.
'Ini terlalu banyak, bahkan bisa untuk satu bulan penuh penginapan.' pikir Kai dalam hati, sementara Lee hanya memegang celana Kai, bersiap mengikuti kemana pun pemuda itu pergi. Tak bisa Kai bayangkan betapa royalnya Jun menjadi ketua, plus kalau ketahuan Miwa jika mereka diberikan uang saku sebanyak ini.
Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ
Tap.
Tap.
'Whua, aku ketinggalan cukup jauh!' Aichi menjerit dalam hati, akhirnya ia bisa menyusul segerombolan murid St. Poline yang tengah melakukan acara keliling kota. Sejak satu jam yang lalu mereka memulai acara ini, masyarakat yang menonton tidak berkurang, yang ada justru bertambah banyak.
Aichi tidak bisa membayangkan betapa terkenalnya sekolah militer itu. Mungkinkah isinya murid-murid bergengsi karena label sekolah yang ternama? Tapi rasanya Aichi harus membuang pikiran itu jauh-jauh, mengingat di dunia mana ia berada sekarang. Negara yang sudah separuh lebih dikuasahi Xaiphos hitam dan Silence Silk.
"Kyaaa! Itu Nona Tiramisu! Dia cantik sekali! Benar-benar seperti model!"
"Padahal murid sekolah militer, tapi dia terlihat elegan dan memiliki pancaran aura kuat! Mengesankan!"
"Kirami juga tak kalah keren, lho!"
"Tuan Tron, ayo lihat kemari!"
Entah sudah berapa teriakan ricuh yang Aichi dengar, sampai-sampai ia tidak bisa mengingat lagi nama siapa saja yang disebutkan. Tidak seperti Kai yang terlalu fokus, sampai bisa menghafal dua puluh tiga nama berbeda yang disebutkan oleh masyarakat-masyarakat yang menonton. Sudah dekat, Aichi kini menerobos kerumunan untuk melihat lebih dekat.
Dengan tubuh kecilnya, Aichi bisa menerobos dengan cepat, mudah, dan tidak ada orang yang tega menegurnya. Wajah Aichi terlalu manis untuk ditegur, tidak jarang dari mereka mengira jika Aichi adalah perempuan.
Dan, gotcha!
'Berhasil! Aku bisa melihat dengan jelas sekarang!' pemuda bermanik biru bersorak dalam hati. Ia sudah berada di deretan paling depan dari segerombolan masyarakat yang menonton. Tentunya Aichi bisa melihat murid-murid St. Poline lebih mudah. Maniknya kembali mencari-cari sosok yang dicurigai Miwa.
'Itu ...' walau tidak mau mengakui ini, sebenarnya Aichi langsung terkagum-kagum dengan sosok bernama Theo itu. Tubuhnya tidak lebih tinggi dari Aichi, tapi auranya terasa begitu kuat. Sehingga di tengah banyak murid saja, rasanya mata ini hanya ingin tertuju padanya. Saat figur bernama Theo mulai melewatinya, Aichi terus mengamati.
Di samping Theo, ada seorang gadis yang rambutnya dicepol dua. Aichi akui, gadis itu tergolong manis untuk murid sekolah militer. Sedari tadi tak henti-hentinya perempuan bernama Trapezist itu melambai-lambaikan tangan, ke arah penduduk setempat yang menonton. Dan tentu saja hal itu membuat penonton semakin ricuh layaknya penggemar berat.
Kemudian Aichi beralih pada murid-murid yang berdiri di belakang, atau lebih tepatnya di belakang Theo dan Trapezist. Dan mata birunya langsung melongo, dan dirinya memutih seketika. Tatkala sosok dengan wajah―yang bisa dibilang tidak ramah―berjalan di belakang Trapezist. Auranya yang sungguh menyeramkan membuat Aichi bergidik seketika.
'Hyii, i-itu baru terkesan seperti murid militer. Menyeramkan sekali, dia pasti galak!' cicit sang Jewelic dalam hati. Ditawari sekali pun, Aichi rasanya takut berteman dengan figur―yang kalau tidak salah namanya Tron Mirde. Tapi penggemar figur bersurai biru tua itu banyak sekali, Aichi bisa mendengar nama itu diteriaki beberapa kali.
Aichi terlalu sibuk mengamati tiap murid yang berkeliling kota, sampai-sampai ia tidak menyadari jika salah satu dari murid St. Poline sempat mengamatinya dengan sekilas. Atau lebih tepatnya ditatap dengan intens dalam waktu singkat. Tapi kemudian tatapan itu sirna sebelum Aichi mengetahuinya.
Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ
Seorang pemuda berjubah putih, tampak asyik mengaduk-ngaduk minuman yang dihidangkan untuknya. Sungguh, tatapannya tak lebih dari anak kecil yang mendapat mainan baru. Siapa saja yang melihat tingkahnya, pasti tidak percaya jika Suzugamori Ren adalah seorang pemimpin negeri.
Kamui menghela nafas lelah, ia mengamati atasannya yang tengah duduk berhadapan dengan sesosok figur. Sosok yang selama ini selalu berdiri di belakang layar dalam menjalani kerja. Hasil kerja yang katanya selalu sempurna, mengagumkan, juga tiada cacat. Figur yang selalu menjadi tanda tanya bagi siapa pun yang penasaran dengan nama Togami.
Mutsuki Jun, ketua divisi dari Secret Detective Organization, Togami. Ada di depan mata.
"Santai saja, tampaknya Anda suka dengan minuman terbaik kami," pemilik mata lentik itu lagi-lagi membuka suara. Selain tadi memperkenalkan diri, dan mempersilahkan Ren dan juga Kamui untuk santai di ruang pribadi ini.
Dan kalau perlu diberitahu, Ren dan Kamui pergi kemari melalui jalur teleport, agar tidak ada seorang pun yang bisa mengintai kepergian mereka. Sekalipun itu orang istana sendiri. Hanya Ren, dan orang yang paling dipercaya olehnya―Kamui―yang turut serta untuk pergi meminta penyelidikan. Lagipula, Togami sendiri sudah meminta agar pertemuan ini tertutup dan tidak melibatkan banyak orang.
Dan ini dia, hanya mereka bertiga. Tidak ada seorang bawahan Jun yang berada di ruangan itu, Kamui sangat yakin. Bahkan pemuda bersurai donker itu tidak merasakan tanda-tanda penyusup yang bersembunyi di balik tirai gorden, di luar pintu, atau bagian atap ruangan. Insting sang ketua divisi tentara tidak bisa diremehkan.
"Ehehe, maaf. Ini yang biasanya kulakukan jika baru mencicipi minuman baru," Ren berucap santai serasa menunjukan ujung sendok tehnya. Kemudian ia merasakan tatapan tajam, yang berasal dari belakangnya. Pemuda bersurai merah tahu betul tatapan itu dari Kamui, yang mengisyaratkannya untuk cepat.
Ctik.
"Bisa Saya mulai?" Jun bertanya dengan nada kalem setelah bisa membaca suasana dari tatapan Kamui, yang tentunya bisa ia lihat, karena Jun duduk berhadapan dengan Ren. Sang pemimpin negeri mengangguk.
"Mohon bantuannya."
Jun tersenyum tipis, tangannya kemudian mengambil sebuah amplop coklat, yang sedari tadi berada di bawah meja. Dari amplop itu, sang ketua divisi mengeluarkan sebuah foto. Ya, hanya sebuah. Sebenarnya isinya masih ada, tapi hanya sebuah foto yang baru Jun keluarkan. Pemuda bersurai kelabu itu meletakan fotonya di meja dengan posisi menghadap Ren.
"Kakak Anda, Suzugamori Rei, meninggal sepuluh hari yang lalu. Penyebab kematian adalah keracunan zat kimia dosis tinggi. Mati di dalam sel, tanpa seorang pun tahu siapa yang membunuhnya. Disaat yang sama, salah satu tahanan Silence Silk bernama Shin Nitta, menghilang dari sel. Mengenai hubungan keduanya, apa Anda sudah tahu?" Jun menghentikan kata-katanya dengan pertanyaan.
Sementara Ren, yang sedari tadi mendengarkan dengan serius, kini mengangkat wajahnya. "Hubungan antara kakakku dengan Shin Nitta?" Jun mengangguk.
"Tidak, aku tidak pernah berkontak dengan kakak Saya sejak ia pergi dari istana," Ren berucap jujur. Kamui yang sedari tadi juga mendengarkan pun menautkan alisnya, tumben Ren bisa seserius itu, pikirnya. Tapi mengingat objek siapa yang dibicarakan, rasanya Kamui tidak perlu terkejut.
"Begitu, baiklah. Saya mendapat kabar dari bawahan saya yang menyusup ke salah satu negara yang dikuasahi Silence Silk, yaitu Negara Thornson. Di negara itu, ada siaran yang mengabarkan bahwa Suzugamori Rei dan Shin Nitta ditangkap karena dituduh kuat sebagai pembuat Xaiphos, berarti, mereka berdua adalah rekan," Ren langsung membulatkan kedua matanya syok. Bibirnya keluh, bingung mau berkomentar apa.
Ia mengira jika kematian kakaknya disebabkan oleh pemberontakannya terhadap Silence Silk. Tapi ternyata dugaannya meleset. Dan persetan dengan tuduhan itu, Ren tidak terpikir jika kakaknya ... ada hubungan dengan―
"Xaiphos? Maksudmu, makhluk yang menyerupai manusia, yang memiliki energi alam di tubuhnya? Makhluk yang muncul sekitar dua tahun yang lalu?" Ren bertanya untuk memastikan. Nada bicaranya terdengar begitu serius. Jun mengangguk tegas sebagai jawaban.
"Ya. Saat ini Silence Silk sedang mengembangkan suatu teknologi, itu yang saya yakinkan. Karena itu mereka sedang mencari bagaimana Xaiphos dibuat dan siapa pembuatnya. Mereka yakin jika Xaiphos bukan makhluk magis, melainkan ciptaan manusia," Jun kembali menjelaskan. Ketua divisi tentara yang sedari tadi masih melipat kedua tangannya di pinggir ruangan, langsung memasang wajah hina.
'Apa-apaan mereka? Sudah berhasil menerror dunia dengan Xaiphos hitam, masih belum puas juga? Mereka sungguh menjijikan!' Kamui membatin kesal.
"Kakak Anda dan Shin Nitta ditahan seminggu sebelum tragedi pembunuhan terjadi. Mungkin mereka sudah pernah melewati proses introgasi atau sejenisnya. Dan tetap ditahan sampai pembunuhan terjadi. Detektif-detektif yang disewa oleh Silence Silk menduga jika pelaku pembunuhan adalah Shin Nitta, karena saat kakak Anda meninggal di sel tahanan, Shin Nitta dinyatakan kabur dari tahanan," Jun mengeluarkan dua lembar kertas dari amplop tadi.
Lembar yang membuktikan bahwa detektif di luar sana menyelidikinya demikian. Soal dari mana Jun mendapatkannya, tentu saja dari tim pengintai kebanggaan Togami, yaitu Zero. Ren memandang lembar yang tergeletak di meja, tanpa niat untuk mengambilnya atau membaca.
"Tapi Saya menyatakan jika kesimpulan itu salah. Bahkan sebelum kabar kematian Shin Nitta datang," Kamui yang semula memejamkan matanya tenang, kini kembali melongo.
'Shin Nitta juga mati―?'
"Seperti yang ada di foto, ini satu-satunya yang tertinggal dalam kematian kakak Anda. Yaitu sebuah die message, pesan kematian. Kakak Anda tidak biasa, ia menulis pesan kematian menggunakan kode, agar hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahuinya. Kalau boleh tahu, apa Anda bisa membaca kode?" Jun menunjuk foto tadi. Foto bertulis kode dengan merah pekat, yang diyakininya darah.
Ren menghela nafas. Benarkah jika kakaknya menulis kode ini agar hanya orang tertentu yang mengetahuinya? Tapi kenapa bukan Ren? Pemuda bersurai merah panjang itu tidak mengerti satu huruf pun dari kode, ia memang tidak berbakat dalam menebak dan memecahkan kode. Apalagi ini. Ren menggeleng.
"Begitu, tapi saya rasa tidak perlu menyembunyikannya dari Anda. Setelah Saya mendapatkan kode ini dari meng-hack data komputer kepolisian Silence Silk, Saya mencoba untuk memecahkannya. Dibantu dengan wakil divisi Saya. Walau kami masih belum bisa memecahkan seutuhnya, karena kode ini bersifat pribadi."
"Huh?" Kamui menautkan alisnya, "Apa yang kau maksud dengan bersifat pribadi?" tanya pemuda bersurai donker itu, sedikit penasaran dan curiga.
"Maksudnya, kode ini benar-benar hanya diketahui dan dipecahkan oleh orang-orang tertentu. Tapi tenang saja, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Boleh kukatakan hasil sementara yang kami dapat?" Ren memutar bola matanya sekilas, sebelum ia mengangguk dengan enggan. Di hatinya masih terbesit rasa kecewa, tatkala dirinya tak mengerti kode peninggalan kakaknya, sedikit pun.
1(5)
T=S(Ad)
"Di bagian 1(5), berarti satu dari sebuah kelompok yang beranggota lima orang. Saya menduga jika pelaku sangat dekat dengan korban, bahkan lebih dekat daripada teman seprofesi. Jadi Suzugamori Rei tidak ingin orang lain mengetahuinya dan menulis nama pelaku dengan kode. Pelaku berjumlah satu orang, dan sepertinya kakak Anda termasuk dari lima orang yang berada di kelompok," Jun menjelaskan dengan nada tegas dan pasti. Ren mengangguk, mengisyaratkan Jun untuk meneruskan.
"Lalu, bagian bawahnya adalah inisial. Saya terlebih dahulu mencoba memecahkan bagian S(Ad). Dan kesimpulan yang saya dapat, S adalah inisial dari pelaku. Sayangnya nama berawalan S ada begitu banyak, Saya tidak mungkin menebaknya satu-satu. Karena itu Saya pun mencoba memecahkan bagian Ad, yang ternyata adalah profesi kerja dari pelaku," Jun menunjuk bagian Ad. Kemudian tangan lentiknya kembali mengeluarkan selembar kertas dari amplop.
Kamui berjinggit pelan, rupanya sosok yang berdiri di belakang Togami benar-benar bukan orang biasa. Jun melakukan penyelidikan dengan detail dan bukti yang kuat.
"Saya mencoba mencari data mengenai perkerjaan kakak Anda di internet, yang ternyata adalah seorang profesor ramuan kimia dan bioteknologika. Apa Anda mengetahui hal ini juga?" Ren lagi-lagi dibuat terkejut. Sejak dulu ia tahu jika kakaknya begitu pandai, tapi Ren sama sekali tak pernah tahu jika kakaknya menjabat menjadi seorang profesor. Apa jarak mereka berdua sebagai saudara sebegini jauhnya?
"Tidak."
"Karena Suzugamori Rei dekat dengan pelaku, dan pelaku besar kemungkinan seprofesi dengannya, maka kami mulai mencari makna Ad dari perkerjaan yang berhubungan dengan profesor. Memang sulit, tapi ternyata Ad di sini adalah profesi yang unik dan jarang ditemukan di dunia ilmuan belakangan ini," Jun kembali menjelaskan dengan nada tegasnya. Ren dan Kamui mendengarkan baik-baik.
"Ad, berarti Androit. Memang, pembuat Androit belakangan ini sangat jarang ditemukan, bahkan sangat langka. Mungkin hanya ditemukan satu orang dari 100 ilmuan. Dengan jumlah yang sesedikit itu, tentu akan memudahkan kami mencari pelaku, tapi ternyata dugaan kami meleset," berhenti di sana, Jun kembali mengeluarkan lembar data berikutnya. Di lembar itu, terlampir jelas data dua sosok figur.
"Kami sudah mengubrak-abrik data mengenai pembuat androit di Savhalon, dan hanya menemukan dua ilmuan saja. Satunya bernama Nephery Brashyl, seorang wanita, lulusan Universitas Fro. Sedangkan satunya lagi bernama Vhaul Gallatin, seorang laki-laki, lulusan Universitas JTB. Nama kedua orang ini, sama sekali tidak ada hubungannya dengan T, maupun S yang ada di kode kematian Suzugamori Rei," Ren melihat sekilas dua wajah yang ikut terlampirkan di data. Kemudian menatap Jun dalam.
"Mungkinkah kakakku salah menulis kode?" katanya, sedikit ragu jika kode itu benar-benar dibaca T=S(Ad). Apalagi kakaknya pasti menulis dalam keadaan keracunan, bisa saja tangannya meleset atau apa. Tapi kemudian Jun menyangkalnya.
"Tidak, huruf T dan S di sini sangat jelas. Kakakmu menulisnya dengan baik, ia tidak mungkin salah. Karena data dua orang ini kami anggap tidak ada hubungannya, jadi kami tidak membutuhkannya lagi. Satu kesimpulan, jika inisial nama pelaku adalah S, dan data pembuat androit tidak ada yang memiliki inisial huruf S, berarti mudah saja,"
Ren menautkan alisnya, sedikit terkejut. Begitu juga dengan Kamui. Mereka bersamaan mengira jika kode ini tidak menemukan titik terang, tapi ternyata Togami tidak selemah itu. Jun mengulas sedikit senyum. "Pelaku yang merupakan pembuat androit, sekaligus berinisial nama S ini, adalah profesor ilegal, alias profesor yang tidak di-sahkan secara hukum. Kita bisa menemukannya jika mengecek data profesor ilegal di Savhalon."
Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ
"Whuaa, lelahnya. Acara tadi benar-benar menguras tenaga!" Trapezist mengeluh seraya menarik-narik otot lengannya. Ia pandangi beberapa murid yang sudah menaiki tangga besar, menuju Gereja Quillray yang letaknya cukup tinggi. Acara sudah selesai, hari pun sudah menginjak malam hari. Mereka yang tidak memiliki aktifitas apa pun sebaiknya kembali ke tempat penginapan mereka di Quillray.
"Kau lelah? Mau kugendong saja, Zisty?" Tiramisu, sahabat seprofesinya, menawarkan bantuan. Walau hal itu justru salah ditanggapi oleh Trapezist.
"Ukh, jangan menganggapku lesbian, Misu! Aku masih bisa berjalan sendiri, kok!" buru-buru gadis bercepol dua itu melangkahkan kakinya menyusul murid-murid St. Poline lainnya, yang tadi juga mengikuti parade keliling kota. Tiramisu terkekeh, kemudian ikut menyusul gadis yang mungkin ditaksirnya itu.
"Aku duluan, ya! Theo! Tron!" seru Tiramisu seraya memberi kedipan singkat ke arah dua pemuda yang masih di depan tangga, sedang membereskan peralatan militer yang tadi dibawa. Theo menyekah keringatnya lelah, walau ekspresinya tetap tenang.
Dirasa semua alat persenjataan sudah diikat, ia pun mengangkutnya dengan bahu. Kemudian melirik ke arah Tron. "Bagaimana? Di sana sudah beres?"
"Tenang saja, tidak ada yang tersisa," Tron menjawab dengan ekspresi datarnya. Kemudian Theo langsung membalikan badan, bersiap mendaki tangga yang cukup panjang menuju Gereja Quillray. Namun sebelum dirinya menginjak anak tangga pertanya, bahu kanannya yang bebas ditahan oleh seseorang.
"Tunggu, Theo. Apa kau merasakannya? Ada yang mengawasi kita," Tron berbisik dengan nada serius. Dengan ekor matanya, ia menunjuk ke arah sebuah pohon besar yang letaknya tak jauh dari tangga menuju bangunan gereja. Dengan artian jika ada seseorang di balik pohon.
"Hoh, biar aku yang ladeni, bawa ini." Theo menyerahkan peralatan senjata yang tadi dibawanya sepihak, sampai-sampai Tron kewalahan dengan jumlah beban yang dibawa. Tapi pemuda bertatapan tajam itu memutuskan untuk tidak protes, ia bergegas menaiki tangga. Theo menghela nafas, lalu mengelus-ngelus rambut zambrud miliknya.
Suasana sekitarnya sungguh sepi, mengingat hari sudah menginjak malam. Sekarang di luar gereja hanya ada dirinya, semua murid sudah memasuki Quillray untuk beristirahat. Sepertinya ini saat yang tepat untuk membongkar kedok penguntit. Dirinya berbalik, menatap tenang pohon besar yang tadi ditunjuk oleh Tron.
"Oi, sedang apa kau di sana?" dan tak perlu menunggu lama ketika ranting pohon bergoyang sedikit. Tanda jika figur di balik sana terkejut dan tak sengaja mengguncangkan pohon. Tapi sesaat kemudian hening, mungkin sosok itu masih takut menunjukan dirinya. Theo pun mendekat.
"Keluarlah, aku tidak akan menyakitimu," bujuknya. Lagipula Theo sama sekali tidak ada niat untuk membanting siapa yang menguntit mereka seperti Tiramisu, atau menceramahinya habis-habisan seperti Trapezist. Dengan langkah pelan, akhirnya figur di balik pohon itu mulai menampakan diri. Hal pertama yang Theo lihat adalah jubah putih, kemudian jambul biru sosok itu yang bergoyang-goyang.
"Ha-Halo ..." sapa pemuda―atau pemudi, begitu pikir Theo―yang ternyata penguntit yang sedari tadi dicurigai Tron. Dilihat dari pakaiannya, ia tidak terlihat seperti maniak yang tadi menonton acara keliling kota mereka.
Theo mendekat dengan langkah pelan. "Apa yang kau lakukan di sini? Ini sudah malam, sebaiknya kau pulang," ucapnya terlihat memerintah, yang mungkin sudah menjadi bawaannya karena sering menjadi ketua. Figur berjubah putih―Aichi―tampak gugup, walau ia berusaha untuk tenang.
"A-Ah, itu ... aku ingin mengunjungi gereja―"
"Gereja Quillray hanya beroperasi ketika matahari masih menyinari kota,"
"Eng, a-aku ingin bertemu dengan pendeta―"
"Bertemu dengan pendeta tidak boleh sembarang dan harus meminta ijin."
Jleb.
Aichi seketika berkeringat dingin. Alasan yang sudah terpikirkannya jika aksi menguntit ini terbongkar tidak bisa dipakai lagi. Rupanya murid St. Poline tidak bisa dikecohnya dengan mudah. Pemuda bersurai biru tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengannya sekarang. 'A-Apa nanti aku akan ditangkap!?'
"Apa tujuanmu kemari?" Theo kembali bertanya, masih dengan tatapan kalemnya. Sepertinya pemuda di depan Aichi tidak begitu ramah. Ya, setidaknya masih lebih baik daripada anggota St. Poline lain yang bernama Tron, melihat wajahnya saja sudah membuat Aichi bergidik, apalagi berhadapan dengannya.
"A-Aku ..." Aichi tampak gelisah, bingung mencari alasan yang jelas. Kini giliran Theo yang menghela nafas. Sepertinya pemuda di depannya memang penguntit, tapi ia tak punya waktu untuk meladeninya. Ia bisa-bisa dimarahi atasannya jika pulang terlambat.
Theo pun membalikan badan. "Pulang sana," Aichi langsung menghentikan kedua telunjuk jarinya yang saling mengetuk-ngetuk. Lalu mengangkat kepalanya. Aichi sedikit bingung, apa figur di hadapannya sama sekali tidak ada niat untuk menghabisinya? Tapi itu satu keuntungan untuk Aichi.
"Te-Terima kasih, un ... Theo," ucapan itu membuat pemuda lainnya yang berseragam militer menghentikan langkahnya. Theo bertanya-tanya dalam hatinya, bagaimana anak itu mengetahui namanya. Tapi kalau memang figur bersurai biru itu penguntit, berarti hal itu sudah lumrah. Tidak membalas, figur bersurai zambrud kembali melanjutkan jalannya menaiki tangga.
Sebelum tiba-tiba sesosok bayangan tiba-tiba terjun di depannya. "Hah!?"
Theo memang terkejut, tapi figur yang masih berdiri di belakangnya lebih terkejut. Aichi melongo ketika sosok bayangan yang tadi turun di depan Theo mulai berdiri, menampakan wajahnya yang sehalus porselen, juga kedua mata emerald-nya yang tajam.
'Ka-Kai-kun―'
"Kau ..." sebelum Theo sempat melanjutkan ucapannya, Kai bersuara duluan.
"Theo Necklair, bisa kita bicara sebentar?" figur bersurai brunet itu bertanya dengan nada kalem. Yang sanggup membuat Theo menghentikan nafasnya sejenak.
.
.
.
"Don't ever to hide your darkness secret from Him ..."
Significance Essence
To Be Continued
.
.
A/N: Halo, masih ada yang inget fic ini? #heningsemua# Ohok, maaf ya, kami lambat nge-update, soalnya liburan tidak mengurangi kesibukan kami X"D Kami berdua akhirnya reuni dua minggu yang lalu dan sebentar lagi mau cao ke luar negeri bersama(?), jadi sebelum pergi kita update status dulu! #inifictwoibukanstatus. Ohok, pembaca kayaknya pada penasaran ya sama penjahatnya? Kira-kira siapa sih dalang di balik semua ini? Ups, kalau sudah ketahuan nggak seru, dong.
By the way, soal kami sibuk apa, Gane sedang tertarik dan berkecimpung di dunia Cardfight Vanguard online, asyik dong main Vanguard versi online, makanya ketagihan #eh. Readers ada yang main jugakah? XDD #plak
Reply Review:
Cece Mayuyu: Eh, baru nyadar karakternya unit setelah Theo? Jangan-jangan cuma tahu Theo lagi D: #plok. Karakter lainnya juga cakep, dong, percaya, deh. #plak
Kujo Kasuza: Wkwkwk, SIT memang shota semua, menggemaskan. Eh, balasan review-nya makin sedikit? Masa ;-; Kami balas sesuai bobotan review itu sendiri kok :") Iyap, big spoiler, reverse Kai later X"D Soal pertanyaan seputar fanfict, khususnya bagian kasus, kami gak akan jawab sedikit pun :p Uhuk, ada yang kangen sama Koutei, aku juga kangen nih :" #NGEK.
Carine Quarene: Terima kasih sudah membaca, ya :D Hehehe, gomen, kami nggak akan menyebar spoiler, sepenasaran apa pun pembaca #tega #dibacok. Biar seru sampai chapter-chapter berikutnya, fufufu. Punya Suzugamori Rei sudah dibahas di sini sama detektif kita, Mutsuki Jun. Hehehe, iya, sih, walau ada shoi-ai, tapi itu hanya fanservice di sini dan bukan prioritas utama :) Terima kasih banyak dukungannya!
AnimeLovers and Dr. Tom ZX: Makin seru? Syukurlah, usaha kami bikin tegang(?) pembaca nggak sia-sia. Pantang mundur, dong~
Chacharat: Ajarin? Hehehe, habis buat doujin kami beralih ke main Vanguard online #slap. Hehehe, soal bola misterius itu memang labil(?) dari sananya mungkin. Hooh, main palemoon, ya, unit-nya memang keren-keren di sana :D Terima kasih support-nya!
Snowy Coyote: Heh, ada juga yang kasihan sama Grim. Berdoalah supaya dia tenang di alam sana #enggak. Hahaha, iya, Jun sama Miwa sudah seperti ayah dan ibu sih di sini, soalnya mereka berpengetahuan tinggi #plak. Hahaha, Aqua Force memang dipenuhi unit tampan. Pasti lanjut terus~
Tsumiki-Nyan: Terima kasih sudah membaca :D Heeh, sudah tahu? Siapa, ya? Simpan dulu jawabanmu, oke? #kedipkedip. Seru? Wah, benarkah? Terima kasih banyak, kami senang sekali. Kai memang sedikit overprotective sama Aichi karena dia Jewelic, nggak boleh sampai hilang 'kan? :) Kalau mau nanya nama fb di PM saja, kami pasti jawab. Ganti rate? Hm, entahlah, selama adegan berdarah di sini nggak parah, mungkin masih bertahan di T saja :) Ini sudah update~
Sorry for misstypo(s),
Review, please? We need your critics and comment for improve.
1 Juli 2014,
Twinted Twining Tails.
