Ketik.
Hapus.
Ketik.
Hapus.
Tutup.
Buka.
Pandangi.
Ketik.
Hapus.
Pandangi.
Sudah sejak setengah jam lalu Karin melakukan kegiatan yang terus berulang secara acak itu. Ponsel merahmudanya digenggamnya erat. Telapak tangannya bahkan sedikit berkeringat karenanya. Mereguk ludah sesekali. Ragu untuk mengirimkan pesan elektronik di hadapannya kepada sang pemilik jaket kulit merah yang dipakainya tadi sore.
Padahal isinya sederhana saja.
'Permisi, Saya Karin yang tadi kau pinjamkan jaket merah. Bagaimana kalau kau saja yang menentukan tempat bertemu? Saya siap kapan saja. Terima kasih.'
Terlalu formal? Sebenarnya inilah yang sedari tadi jadi pertimbangannya. Karin bisa saja mengirimkan dengan nada yang sedikit bersahabat tapi takut Koutarou akan menganggapnya menyukai pria itu. Well, padahal iya juga. Tapi takut juga Koutarou akan menganggapnya aneh jika memakai bahasa formal begini.
Ah, orang yang tengah jatuh cinta.
Di tengah kebingungannya itu, ponsel Karin bergetar. Ada e-mail lain masuk dari Yamato. Disimpannya e-mail untuk Koutarou dan berniat untuk segera membalas e-mail Yamato. Ia tidak ingin sahabatnya itu tahu jika ia sedang jatuh cinta. Terlebih pada orang yang sebenarnya baru saja ditemuinya.
"Onee-chan!" Sebuah suara cempreng adik laki-laki Karin terdengar dari balik pintu kamarnya, membuat Karin terlunjak dan tanpa sengaja malah memencet tombol kirim.
"Aaaaah!" Pekik Karin histeris. Pesan terkirim dengan sukses satu sekon kemudian.
.
.
.
"Gadis yang sedang jatuh cinta memang terlihat sangat manis." — (?)
.
.
.
Warning : Disclaimer Yuusuke Murata and Riichiro Inagaki, OOC!, Crackpair, maybe typo(s), for ES21 Awards "Notice Me".
.
.
.
An Eyeshield 21 fanfiction
"Chasing" part. 2
.
.
.
"Karin yakin nggak mau bareng sama aku? Hati-hati lho akhir-akhir ini kejahatan seksual makin merajalela!" Seorang pemuda dengan kepala licin—langsung saja, botak—menghadang Karin dengan senyum sejuta watt. Dengan terpaksa Karin menyunggingkan senyum formalitasnya untuk yang kesekian kalinya kepada pemuda ini dan menolak dengan suara super halus.
"Maaf Kak Achilles, hari ini aku ada janji, sungguh! Tolong biarkan aku pulang..." Pinta Karin, mulai terdengar tegas.
Helaan nafas panjang akhirnya terdengar dari bibir dengan satu tindikan itu. Pemuda bernama Achilles—yang kentara sekali sangat mengincar Karin—terpaksa pergi dengan langkah gontai. Karin memeriksa jam tangan yang melekat dengan elegan di lengan kurusnya. Ia harus buru-buru jika ingin menepati janjinya kepada Koutarou.
Senyum manis pemilik titel gadis pemalu itu pun mengembang seiring langkahnya menjauhi Teikoku gakuen. Terima kasih banyak kepada Kouta Koizumi yang telah mengagetkannya kemarin, Koutarou membalas pesannya semalam dan mengatakan bahwa ia akan menunggu Karin di Seven Eleven dekat stasiun jam enam sore. Untunglah kedua sekolah mereka bisa dibilang dekat walau beda provinsi. Kenapa Seven Eleven? Cek sendiri dompet tempat Koutarou menyimpan uang bulanannya.
Lima belas menit kemudian, Karin yang terengah-engah sehabis berlari menemukan sosok Koutarou yang sedang menyesap Slurpee entah rasa apa di depan pintu Seven Eleven. Pukul enam pas. Rupanya cowok dangdut itu tipe orang yang bisa menepati waktu.
"Koizumi-san!" Panggilan Koutarou membuat dada Karin sedikit berdesir hangat. Karin membalasnya dengan senyum manis dan menghampiri Koutarou.
"Maafkan aku, apa kamu sudah sedari tadi di sini?" Tanya Karin, sambil berusaha tidak terlihat kelihatan lelah sehabis berlari di depan Koutarou.
Koutarou pun duduk di kursi terdekat, diikuti Karin. "Yah, sebenarnya ini Slurpee keduaku. Hari ini latihan dipercepat gara-gara si pecinta gitar yang tidak smart itu tidak datang latihan. Aku malas mengakuinya tapi dia memang berpengaruh dalam tim."
Karin tergelak pelan. "Akaba Hayato?"
"Yaa... namanya memang tidak smart kan?" Timpal Koutarou lagi, sambil menyesap slurpee-nya dalam-dalam, melampiaskan kekesalannya.
"Maafkan aku, berarti kamu sudah menunggu dari tadi, ya, Koutarou-san?" Sesal Karin.
Koutarou menunjukkan wajah cemberutnya. "Begitulah, tapi ini juga bukan salahmu karena kau datang tepat waktu kan?"
Karin tersenyum.
"Lalu, di mana jaket merah kesayanganku, Koizumi-san?" Tanya Koutarou langsung tanpa ada unsur basa-basi sedikitpun. Karin dibuatnya kecewa karenanya. Mungkin pemuda itu bosan sudah terlalu lama berada di sini. Uuh, rasanya Karin juga jadi ingin menyalahkan Akaba!
Karin meraih sport bag-nya yang cukup besar dan meletakkannya di atas meja. Dibukanya risleting panjang itu perlahan dan ditariknya sebuah jaket kulit merah yang tampak terlipat rapi. Selain merapikannya, sebenarnya Karin sempat menyemprot parfum yang biasa dikenakannya ke jaket itu sekali. Dengan harapan pemuda itu akan menyadarinya tentu.
"Wah, terima kasih, Koizumi-san! Kau memang smart! Sampai repot melipatnya begini, hahaha!" Koutarou menerimanya dengan riang dan langsung memakainya. "Sebenarnya pagi ini aku membawa motorku dan cukup merasa kedinginan karena tidak memakai jaket, hahaha. Tapi biar begitu aku tetap smart."
Karin tersenyum menanggapi curhatan Koutarou yang sekarang sedang menyisir lagi. "Justru seharusnya aku yang berterima kasih banyak, sampai merepot..."
Kring kring kring
Dialog Karin terputus setelah mendengar interupsi dari benda yang bergetar di saku rok kotak-kotaknya.
"Angkat saja teleponnya dulu, Koizumi-san. Tidak smart membiarkan orang menunggu di telepon!" Koutarou menyilakan Karin mengangkat panggilan di ponselnya dulu.
Setengah hati, Karin mengangkat telepon dari nomor tak dikenal tersebut.
"Moshi moshi."
"Oh, Karin! Ini Takeru, maaf aku menggunakan ponsel Akaba karena ponselku baterainya habis..."
Karin tertegun mendengarnya. "Akaba... maksudmu Akaba Hayato?"
Koutarou tersedak slurpee mendengar nama partner-nya itu disebut.
"Ya, yang dari Bando Spider. Dia tiba-tiba mendatangiku dan ingin ikut latih tanding. Yaa tentu saja boleh. Tapi kami butuh bantuanmu soalnya Taka bilang dia benar-benar tidak mau main tanpamu. Jangan-jangan kau sudah pulang ya, Karin?" Tanya Yamato di seberang sana.
"Hei, telepon dari siapa? Barusan tadi kau menyebut nama Akaba?" Serang Koutarou.
Karin menaruh telunjuk lentiknya di depan bibir. "Mmm... belum sih... Aku ada di Seven Eleven dekat stasiun, aku..."
Ucapan Karin terhenti melihat wajah Koutarou yang sangat ingin diberitahu. Antara kasihan dan ingin tertawa.
"Yamato bilang Akaba-san datang ke Teikoku dan minta bergabung dalam latih tanding antar tingkat tim, dan ia memanggilku kembali untuk menjadi quarterback tim 1..."
"APA? Jadi karena itu dia tidak ada hari ini?!"
"Karin..? kau masih di sana?"
"Oh.. oh maaf, Yamato. Aku akan segera ke sana." Tanggap Karin sedikit gelagapan.
"Aku ikut! Oh sial rasanya aku ingin sekali langsung menghajar orang yang sangat tidak smart seperti dia!" Koutarou beranjak dari duduknya dan melupakan slurpee-nya yang mulai mencair.
"Tt—!"
"Kau bersama orang lain, Karin?"
"Selamat tinggal!" Koutarou melenggang pergi dengan cepat. Meninggalkan Karin dan slurpee-nya yang mencair.
.
"... tidak, Takeru." Jawab Karin lesu.
.
.
.
Sesungguhnya hati Karin sedang terasa sakit sekarang, tapi ia tak ingin mengecewakan sahabatnya dan juga... ia masih ingin bertemu dengan sang pujaan hati. Yang meninggalkannya.
Karin tersenyum sedih. Ia takkan menyerah.
"Kau datang juga, Karin!" Sambut Yamato dengan senyum pepsodent-nya. Ia langsung menarik Karin menuju loker tim satu dan menungguinya berganti seragam di luar bilik khusus Karin.
Sepasang mata Karin yang sudah memakai helm American Football menangkap sosok Koutarou di lapangan sedang beradu mulut dengan Akaba yang sudah memakai seragam Bando Spiders. Dilihatnya pemuda itu dari jauh. Sama sekali tidak tampan, terlihat begitu narsis dan sangat emosian. Entah bagian mana yang membuat Karin tiba-tiba jadi menyukainya.
Yamato menepuk pundak Karin pelan. "Tolong kau beritahukan pada mereka kalau kita sudah siap, Karin."
"Baik..." Jawab Karin sedikit berbunga-bunga. Ini berarti ia akan berinteraksi lagi dengan Koutarou yang disukainya.
"Mmmm... permisi, Akaba-san, Koutarou-san, kami semua sudah siap. Bagaimana dengan Akaba-san?" Tanya Karin halus.
"Apa? Kenapa kau tidak menanyakan apakah aku siap atau tidak, Koizumi-san?!" Tanya Koutarou galak, sambil menyisir. "Aku ikut!"
"Tidak, kubilang. Kau ini selalu saja membuatku susah. Bagaimana bisa sih kau tahu aku ada di sini?" Tanya Akaba dengan tatapan tajam dari balik kacamata hitamnya.
"Dari dia!" Pekik Koutarou sambil menunjuk Karin yang tampak kaget. "Di sevel dekat stasiun!"
Akaba mengangkat alisnya. "Kau... dan nona Koizumi? Di sevel? Sebenarnya ada ap..."
"Ah, jika Koutarou-san ingin ikut juga akan kutanyakan teman-temanku apakah mereka punya seragam cadangan seukuran Koutarou-san, umm... ayo ikut aku." Potong Karin secepatnya.
Koutarou tersenyum narsis. Mati kau Akaba, umpatnya dalam benaknya. Ia mengikuti Karin seraya bersiul puas sambil menyisir—tentunya.
.
Degup jantung sang quarterback wanita itu terdengar samar. Wajahnya memerah malu, takut suara itu terdengar oleh pemuda yang sedang memegang seragam American Football Teikoku Alexander pinjaman itu. Dengan sedikit gugup, Karin membukakan pintu ruang tim satu dan menyilakan Koutarou mengganti bajunya di salah satu bilik yang tidak terkunci—tentu saja miliknya sendiri terkunci. Karin tersenyum simpul ketika Koutarou menyebutnya smart dan langsung melompat masuk ke dalam salah satu bilik dengan noraknya.
Khas Koutarou, Karin mulai terbiasa.
Tringg!
Suara ponsel itu membuyarkan lamunan Karin. Itu kan suara tanda e-mail masuk di ponselnya. Tapi Karin tidak sedang memegang ponselnya saat ini. Jadi, itu suara ponsel... siapa yang tertinggal... atau jangan-jangan milik Koutarou? Ah, jadi mereka memasang penanda yang sama? Karin jadi kesenangan sendiri memikirkannya.
Brakk!
Suara bantingan pintu dari bilik yang ditempati Koutarou pun kembali membuyarkan lamunan Karin. Tampak dirinya yang masih memakai seragam SMA Bando. Lho, jadi dia belum ganti seragam American Football? Waduh, kalau terlalu lama nanti...
"Maaf, Koizumi-san! Rupanya aku harus pulang sekarang!"
Eh?
"Julie sedang sendirian di stasiun sekarang, aku benar-benar lupa selepas mengambil jaketku aku berjanji akan mengantarkannya pulang! Dan sekarang ia sedang sendirian di stasiun! Bayangkan! Di jam penuh seperti ini! Bagaimana kalau dia diserang orang mesum?" Oceh Koutarou yang mendadak panik.
Julie? Siapa ya? Sepertinya aku pernah mendengar namanya... Batin Karin.
"Koutarou-san tidak jadi bertanding?" Tanya Karin, retoris.
Koutarou mengangguk tegas. "Maafkan aku. Aku tahu ini sangat tidak smart tapi ini menyangkut Julie dan aku tidak mau membuatnya marah besar lagi, hehehe. Biar menyebalkan, tapi sampaikan maafku ke si rambut merah itu ya."
Karin tersenyum getir. Koutarou jelas terlihat sangat mengejar wanita bernama Julie ini. Dan bahkan ia membandingkannya dengan prioritas bersama Akaba, dan sama sekali tak memperhitungkan keberadaan dirinya. Karin cuma seorang gadis yang tak sengaja bertemu dengannya dan dipinjaminya jaket lalu membuatnya menunggu lama di Seven Eleven. Karin cuma seorang quarterback tim lawan yang berbaik hati mencarikannya seragam. Karin cuma... teman selewat. Betul teman? Bukannya cuma sekedar... orang lewat jangan-jangan?
Koutarou melesat pergi melewati Karin. Tak lama kemudian sosoknya sudah tak terlihat lagi di pandangan Karin. Ia benar-benar pergi, meninggalkannya sendiri di ruang ganti yang dingin, mengejar wanita yang begitu ditakutinya mengalami sekuhara, selain dari dirinya sendiri mungkin? Memikirkannya membuat Karin memijit pelipisnya pelan.
Cinta ini sudah tidak mungkin, bisik nuraninya.
"Fuu... Koizumi-san? Kemana si penggila sisir itu?"
Mendengar sebuah suara berat dengan aksen khas itu membuat Karin menahan setitik air matanya yang hampir jatuh. Akaba Hayato.
"A.. Ah... Mo.. Mohon maaf, Akaba-san! Tadi Koutarou-san bilang sesuatu soal harus menjemput Julie dan ia langsung melesat pergi... begitu saja." Karin memelankan suaranya perlahan. Kenapa lagi-lagi pemuda di sekitarnya tidak ada yang memahaminya dengan baik? Kenapa lagi-lagi ia mengalah? Bahkan oleh Yamato dan Taka yang notabene adalah sahabatnya sendiri kadang ia masih harus selalu mengalah.
Siapa yang bisa mengerti perasaannya sekarang?
Sementara Karin kembali dalam lamunannya, Akaba yang tadinya ingin memanggil Koutarou dan Karin kembali ke lapangan ikut terdiam melihat diamnya gadis di hadapannya ini. Ia jelas sekali terlihat ingin menangis, terlihat dari matanya yang berkaca-kaca. Tapi, kenapa? Sedari tadi pemuda berambut merah itu tidak melakukan suatu hal yang bisa membuat gadis ini menangis kan?
Jangan-jangan?
"Fuu... Apakah Koutarou yang membuatmu sedih?"
"Eh?" Karin mendelik ke arah pemakai kacamata gelap itu.
"Sudah, hapuslah air matamu yang nyaris menggenang itu. Lupakan apapun yang Koutarou lakukan sampai membuatmu nyaris menangis begitu. Ayo, kita kembali ke lapangan." Ajak Akaba, dengan sedikit datar sebenarnya.
Tapi kata demi kata yang diucapkannya benar-benar menghibur batin Karin. Sampai-sampai Karin malah sibuk menatap Akaba dengan sedikit kagum. Ternyata di balik kacamata gelap itu sebuah mata elang yang begitu peka terpasang di wajah Akaba yang sebenarnya justru jauh lebih tampan dari pada Koutarou.
Iya ya, kenapa Karin baru sadar sekarang? Pemuda di hadapannya ini jelas-jelas lebih peka dan perhatian terhadap dirinya jika dibandingkan Koutarou kan?
"Baik. Maaf aku... menyusahkanmu. Tadi ada titipan maaf dari Koutarou-san." Jawab Karin, akhirnya. Dirasakannya dadanya mulai berdesir pelan. Senyum puas tercetak di wajah malaikatnya. Ini tanda awalnya, bisik hati Karin. Dengan jatuh cinta kepada Akaba mungkin bisa mengenyahkan luka yang ditorehkan Koutarou di hatinya.
Akaba kembali menghela nafas khasnya, "Fuu..." seraya membetulkan kacamatanya dengan jari telunjuknya. "Bilang padanya aku takkan memaafkannya."
Karin terkikik perlahan. "Akaba-san kan satu sekolah dengannya. Seharusnya kau katakan sendiri!"
Mendengar tawa renyah sang komikus muda, Akaba menarik bibirnya ke atas. Membentuk senyum tipis. Lensa mata Karin yang menangkap refleksinya tertegun. Saraf simpatiknya bekerja. Dadanya terasa sesak. Ia sudah sering mengalami ini ketika jatuh cinta. Berarti, sekarang Karin positif jatuh cinta dengan Akaba?
"Aku tidak akan memaafkannya." Ulang Akaba. "Dan tidak akan mengatakannya sendiri pada dirinya."
Raut serius Akaba mulai terlihat jelas walau dihalangi sang kacamata gelap. Karin menghentikan senyumannya. Merasakan ada sesuatu yang sangat penting yang akan dikatakan pemuda berambut merah di hadapannya ini.
"Setelah ia mengambil alih Julie dari tim—dan aku. Memonopolinya sendirian."
Satu hentakan keras terasa sakit di jantung Karin. Jadi... Siapapun Julie itu, dia sudah mengambil cinta kedua pemuda itu terlebih dahulu?
Karin tersenyum. "Ayo kita kembali ke lapangan, Akaba-san. Semua menunggu kita."
Keduanya pun berjalan beriringan sampai ke lapangan. Biar telat cukup lama, tidak ada yang tega memarahi Karin. Latihan itu pun dimulai dan terfokus pada duel Yamato vs Akaba. Berulang kali mencoba, Akaba tidak dapat merobohkan sang pemilik teknik Caesar Charge itu. Melihatnya,Karin jadi terpikir, mereka sama.
Karin tidak akan menyerah mendapatkan Akaba, karena ia cinta kan?
.
.
.
Setidaknya, sampai ia menemukan pemuda lain yang lebih menarik hatinya.
.
.
.
"Lama tidak bersua, Honjo! Ada apa meneleponku tiba-tiba?"
"Kau mantan pacar Koizumi Karin, kan?"
"Wow, wow, wow, langsung ke tujuan seperti biasa ya, hahaha! Ya, dia mantanku. Suaramu menyeramkan sekali, omong-omong. Kalau tidak salah dia satu sekolah denganmu... Oh! Kau pacarnya sekarang?"
"Bukan. Dia sahabatku."
"Oh, well, benar-benar sahabat? Serius tuh?"
"Ya."
"Wah, baguslah. Atau malah kau diam-diam naksir sebenarnya?"
"Cerewet seperti biasa, Shirosagi."
"Hahaha! Baik, baik, jadi sebenarnya apa yang ingin kau katakan?"
"Aku cuma penasaran dengan bagaimana kalian putus. Sepertinya ada yang disembunyikan Karin dan itu membuatku dan Takeru penasaran."
"..."
"Shirosagi? Kau di sana kan?"
"Ya... Aku masih di sini. Sori, aku cuma tidak ingin mengingatnya, sebenarnya. Tapi ya sudahlah..."
"Jadi?"
"Hm, gadis itu yah berbeda dengan yang terlihat awalnya. Jadi aku memutuskannya."
"Jangan bohong. Aku tahu kau begitu mengejarnya dulu."
"Wah, jadi dia cerita begitu?"
"Ya. Dan kita sama-sama tahu ia tidak pernah berbohong kan?"
"...ya... benar juga sih."
"Katakan yang sebenarnya."
"Oke, oke. Kau pasti tahu kalau aku dulu meninggalkan klub Baseball karena dia kan?"
"Ya."
"Itu hal paling idiot yang pernah kulakukan. Untungnya aku bisa kembali lagi ke dunia Baseball. Sebenarnya, dialah yang memutuskanku tak lama setelah itu."
"..."
"Dia bilang, dia tertarik pada pemuda lain yang, yah, bisa dikejarnya. Aku baru sadar kalau di balik segala sifat malaikatnya dia itu orang yang gampang jatuh cinta. Menyebalkan."
"Hn..."
"Makanya kurasa dengan sifat seperti itu ia pasti tidak bisa punya suami yang memilikinya hahaha..."
"Baguslah."
"Hah? Kau bilang apa tadi Honjo? Aku mendengarnya—tapi maksudku—Apa maksudmu?"
"Ya, kubilang baguslah. Dengan begitu aku dan Takeru sebagai sahabatnya akan selalu jadi tempat Karin kembali kan?"
"Hah?"
"Terima kasih banyak informasinya, Shirosagi—"
"Tunggu!—"
.
Tut tut tuuut
.
end.
.
.
.
.
.
.
.
A/N : Hai akhirnya kelar juga ya hehehe padahal cuma twoshoot dasar author pemalas.
Yah, buat yang nggak ngerti, pm yuki aja ya hehe mager banget ngetik di sininya.
Honestly sih lamanya bukan gara-gara mager juga cuma rasanya dorongan untuk melanjutkan kalah sama ngebuat fic dengan ide yang lain ehe.
So, mind to review?
