Preview Chapter 1...
.
.
"Arraseo noona.. tapi kenapa kau bisa tahu kalau aku anak baru?" tanya Jongin.
Luhan tertawa, "Aku mengetahui dari temanku,"
"Eo? Nuguya?"
"Kau yakin ingin tahu?" Jongin mengangguk antusias.
"Do Kyungsoo, anggota kedisiplinan." Jongin mangap setelah mendengar jawaban Luhan.
"Bagaimana bisa?"
"Tentu saja, aku ini satu kelas dengannya,"
Jongin menghela nafas panjang. "Oh ya, rumahmu dimana? Siapa tahu kita searah noona.."
"Di dekat sini, Blok F No. 26 Golden,"
"Wuah jinjja? Rumahku No. 25," Luhan tertawa begitupun dengan Jongin. "Kita tetangga ternyata," lanjutnya.
"Kebetulan sekali," Luhan tertawa, mereka telah melewati gerbang sekolah. Dan tak berapa gerbang pun ditutup.
Jongin tersenyum, "kebetulan? Bagaimana kalau semua ini adalah takdir, noona?" celetuk Jongin.
"Kau ada-ada saja—" Luhan memukul lengan Jongin. Jongin terdiam, tiba-tiba ia teringat mimpinya saat ia kecelekaan.
.
"Apa gadis itu Luhan-noona?"
.
"—eo? Kyungsoo-yaaa!" —seketika Jongin terperajat dan hampir tersandung kakinya sendiri.
.
.
Destiny
Copyright © August 2014
By Han
.
Cast :
Kim Jongin—Do Kyungsoo—Kim Ryeowook—Oh Sehun—Xi Luhan—Byun Baekhyun—Kris.
This is KaiSoo pairing
Drama—School-life—AU—Hurt/Comfort.
Teen
Lenght of Chapter
WARNING :
Typo(s)—No Copas—No Plagiarsm—No Bash—GS/Cross Gender for Uke.
Don't Like—Don't Read.
.
.
Chapter 2
.
.
Jongin menatap jengah satu orang yang ada dihadapannya. Ya meskipun sekarang ada dua orang, tapi satu orang itu benar-benar membuat Jongin jengah. Entahlah, mungkin karena insiden tadi pagi dan juga istirahat. Jongin melihat Luhan yang berbincang dengan Kyungsoo, bahkan bisa ia lihat kalau dua gadis itu tengah tertawa—saling bertukar candaan.
Dasar Kyungsoo menyebalkan.
Tadinya Jongin ingin pulang berduaan saja dengan Luhan. Tapi acaranya diganggu oleh Kyungsoo yang sedang berjalan sendirian. Jongin terus berjalan dibelakang dua gadis itu bak penguntit. Sebenarnya ia bisa saja menarik Luhan, mengajaknya untuk cepat-cepat pulang. Namun, ia tidak enak hati pada Kyungsoo. Jongin terus saja menatap Kyungsoo dan Luhan. Melihat kedua tubuh mungil itu dari atas sampai bawah. Sejujurnya kalau boleh berpendapat, kedua gadis ini jauh dari kata rata-rata bila dibandingkan gadis-gadis Seoul. Kalau di Seoul, rok sekolah mereka pasti di atas lutut, tapi kalau disinni roknya memiliki batasan yaitu selutut—tidak boleh kurang. Tidak ada kesan seksi sama sekali.
Tiba-tiba Jongin menatap kedua gadis yang dihadapannya ini bergantian. Luhan dan Kyungsoo. Kalau diperhatikan secara seksama, mereka seperti dua belah sisi koin—berkebalikan. Luhan dengan rambut cokelat yang dibiarkan tergerai dengan sebuah jepitan kecil menghias disana, sedangkan Kyungsoo rambutnya diikat satu. Luhan juga menggunakan gelang atau jam ditangannya, kalau Kyungsoo hanya memakai jam. Itupun seperti anak kecil, warnanya kuning. Meskipun tas mereka sama-sama ransel, tapi Luhan menggunakan tas dengan model polos, tak ada gantungan apapun. Sedangkan Kyungsoo, ada gambar pinguin disudut tasnya. Dan juga, gantungan kunci berbentuk pinguin kecil yang sedang memegang keranjang ikan.
Ck. Kekanak-kanakan sekali si Kyungsoo.
Jongin menggelengkan kepalanya. Lihat saja apa yang akan dilakukan Jongin padanya, karena telah berani berurusan dengan Kim Jongin—si anak baru dari Seoul. Jangan pernah remehkan dia!
"Hei.. anak baru!"
Jongin tersadar dari dunianya sendiri, ia menatap Luhan dan Kyungsoo bergantian. Saat matanya menangkap sosok Kyungsoo, ia menaikkan sudut bibirnya.
"Aku punya nama sunbae.."
Kyungsoo mengangguk acuh, "arraseo.. kau mau ikut mampir ke toko ibuku tidak?"
"Eo?"
"Ne, Jongin-ie.. aku ingin mampir sebentar ke toko ibu Kyungsoo. Kalau kau ingin pulang duluan tidak apa," Jongin buru-buru menggeleng.
"Aku ikut!" katanya tegas.
"Woah, semangat sekali," celetuk Kyungsoo. "jja, Luhan-eonni..."
.
###
.
Jongin duduk berhadapan dengan Luhan., Kyungsoo meninggalkan mereka berdua. Jongin tersenyum melihat apa yang Luhan lakukan. Gadis mata rusa itu sibuk memainkan ponselnya, dan juga sesekali melihat keluar jendela. Apa Luhan tidak menyadari kalau Jongin tengah memperhatikannya?
Luhan tersentak saat Jongin menyentuh rambutnya, menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya. Bisa dilihat jelas, kalau Luhan tersipu.
"Aish, bermesraan eoh?" seseorang mencibir. Jongin sangat merutuki kehadiran Kyungsoo yang tiba-tiba.
"Ah a—aniya Kyung-ah," gagap Luhan, Jongin hanya bisa tersenyum melihat Luhan dan ia melemparkan tatapan sinis pada Kyungsoo. Kyungsoo tersenyum mengejek.
"Oh ya, ini..." Kyungsoo menyodorkan dua buah kotak. ".. aku membuat resep baru, karena Luhan-eonni mau mampir, aku memberikan ini gratis. Lagipula aku belum memberi nama untuk kue ini,"
Luhan berbinar. Jongin menatap kotak yang ada dihadapannya malas. "Terimakasih, Kyung-ah. Ya! Jongin-ie, ayo berterimakasih,"
"Ah, ye terimakasih Kyungsoo-sunbae.."
"Kyung, sepertinya ini sangat enak. Apa kau membuatnya dengan cinta?" goda Luhan. Kyungsoo tertawa, Jongin mengangkat kepalanya menatap Kyungsoo saat mendengar kata 'cinta'.
"Aku memang selalu menggunakan cinta setiap membuat kue, eonni. Jadi setiap kue yang ada disini pasti ada cintanya,"
"Ah jeongmal? Kau tidak sedang jatuh cinta, 'kan? Soalnya meskipun kue ini berlapis cokelat entah mengapa terlihat berwarna-warni," Kyungsoo tertawa lagi.
Dan lagi-lagi Jongin menatap Kyungsoo, melihat senyuman gadis bermata bulat ini membuat Jongin—sedikit waspada.
Eh? Waspada? Untuk apa Jongin waspada hanya dengan jawaban yang didengarkannya ini?
"Aku tidak sedang jatuh cinta, eonni. Jadi berhenti menggodaku,"
"Hhhh..." Kyungsoo dan Luhan memandang Jongin bingung. Tunggu, yang mereka dengar tidak salah 'kan? Karena mereka mendengar helaan nafas keluar dari mulut pria itu—
—itu helaan nafas yang terdengar—lega?
.
###
.
Kyungsoo mengacak rambutnya sendiri, rambut panjangnya yang tadi terikat rapih sekarang acak-acakan seperti orang frustasi. Kyungsoo menjatuhkan dirinya pada kursi, ia menatap adonan kue yang ada didalam loyang. Tepung yang berserakan dimeja pantri. Tidak biasanya ia seperti ini saat membuat kue. Ya, ia selalu rapih dalam memasak. Pikirannya tiba-tiba melayang pada kejadian sore tadi. Ia teringat Jongin.
"Ash, kenapa aku mengingat bocah itu?" Kyungsoo semakin mengacak rambutnya frustasi. Ia menghela nafas, tiba-tiba ia terdiam. Yang didengarnya malah bukan helaan nafas sendiri, tapi justru helaan nafas Jongin.
"Kenapa juga ia harus menghela nafas seperti itu? Menyebalkan! Ia benar-benar mengacaukan pikiranku!"
Kyungsoo beranjak dari kursinya, ia menatap meja yang ia buat hancur berantakan. Segera dibuangnya beberapa adonan yang tidak jadi ia masukkan ke dalam oven. Ia benar-benar tidak bisa memasak dalam keadaan kacau, karena rasanya pasti tidak akan enak. Hasilnya juga pasti mengerikan.
"Kau kenapa, sayang?" Kyungsoo melihat ibunya masuk ke dapur. Ia mencoba tersenyum.
"Pikiranku sedang kacau, Ibu.."
Ibunya tersenyum, "istirahatlah. Ibu akan membereskan dapur, kau bisa pulang duluan,"
Kyungsoo buru-buru menggeleng, "aku akan membantu membersihkannya, Bu. Lagipula ini salahku,"
"Aniya, hari ini ibu yang akan tutup toko. Kau bisa ke supermarket 'kan? Membeli beberapa bahan untuk makan malam? Persediaan dirumah sepertinya habis,"
"Ibu saja, aku yang akan tutup toko. Aku sedang tidak mood untuk memasak, daripada masakannya tidak enak dan diledek oleh ayah, lebih baik aku tidak usah masak," kata Kyungsoo. Ibunya tertawa.
"Baiklah, ibu pulang ya.. hati-hati dijalan,"
"Ya, ibu juga hati-hati dijalan,"
.
Kyungsoo menutup pintu toko, segera ia menguncinya. Kyungsoo langsung mengambil sebuah sepeda yang terparkir didepan toko. Ya, Kyungsoo memang selalu membawa sepeda. Menitipkannya di toko, dan akhirnya berjalan kaki ke sekolah. Ya berhubungan toko ibunya dan sekolah tidak jauh, jadi ia lebih memilih berjalan kaki.
Diletakkannya tas ransel di keranjang depan sepedanya. Kyungsoo segera mengayuh sepedanya. Sepertinya ia ingin berjalan-jalan sebentar, pulang sedikit telat mungkin tidak masalah.
.
###
.
Jongin menekan sembarangan tombol remote televisi. Malam ini tidak ada acara yang bagus, Jongin menengadah. Memandang langit-langit rumahnya. Ia meraih ponsel yang tergeletak di meja. Tak berapa lama sebuah pesan masuk, buru-buru Jongin membukanya. Itu dari Ryeowook.
From : Wook Noona
Mianhae Jongin-ah. Sepertinya aku akan pulang terlambat. Makanan sudah aku siapkan, kau tinggal menghangatkannya saja di macrowave. Jangan makan makanan instan. Aku mau saat aku pulang makanan yang aku buatkan itu sudah habis, arra!
Salam cinta, Ryeowookie.. :*
Jongin membanting ponselnya ke samping tempat duduknya. Sungguh—benar-benar membosankan! Jongin berjalan menuju dapur malas-malasan. Di keluarkannya beberapa makanan dari kulkas dan memasukkannya ke macrowave. Jongin tiba-tiba teringat Luhan. Ia sudah mendapatkan nomor ponsel tetangganya itu. Jongin langsung berlari menuju sofa yang tadi didudukinya. Baru saja ia ingin mengambil ponselnya, tiba-tiba bel pintu rumahnya berbunyi. Jongin mendesah, segera ia melangkah menuju pintu.
Di bukanya pintu itu. Mata Jongin membulat saat melihat siapa yang berdiri dihadapannya. Dia—Oh Sehun!
"YA! Sehun-ah!" pekiknya girang. Segera dirangkulnya Sehun, namun Sehun mengelak. Ia langsung masuk ke dalam rumah Jongin. Ya, rumah Jongin adalah rumahnya begitupun sebaliknya.
"Ya ya, aku tahu kau merindukanku, tapi tidak usah berlebihan." Sehun dengan gayanya yang sok, berlagak memasuki rumah Jongin seperti orang yang baru dikenal. Jongin reflek menjitak Sehun, berjalan mendahului Sehun. Ia ingat kalau ia sedang memasak. Ehm, mungkin bagi pria seperti Jongin hal itu bisa disebut memasak karena memang berurusan dengan dapur.
"Hei, ayo makan bersama," ajak Jongin setelah mengeluarkan beberapa makanan.
"Wuah, masakan Ryeowook-noona pasti. Aku datang disaat yang tepat. Eh, tapi kemana dia?"
"Belum pulang, katanya akan pulang terlambat. Kau sendiri kesini mencariku atau noona-ku hah?"
"Ya dua-duanya, kalian kan orang terdekatku." Sehun nyengir, membuat Jongin jengah.
"Oh ya, kenapa malam-malam kau kesini? Memangnya besok kau tidak sekolah?"
"Haha, baru meninggalkan SOPA satu hari saja sudah langsung lupa. Besok kan ulangtahun SOPA, seperti biasa setiap hari ulangtahun pasti sekolah mengadakan acara, dan aku malas datang, jadi yaa aku kesini."
"Cih, sialan! Haaa, kenapa aku harus pindah saat SOPA ulangtahun? Aku jadi tidak bisa libur."
"Haha, rasakan! Eh, tapi bagaimana hari pertamamu disekolah baru?"
Pertanyaan Sehun langsung mengingatkan Jongin pada sosok gadis bermata bulat dengan nama Do Kyungsoo. "Tak ada yang spesial," jawabnya.
"Benarkah? Kau tidak langsung mendapatkan fans saat masuk?"
"Oh tentu saja ada, tapi yang lebih baik lagi sih. Aku mendapatkan takdirku disana,"
Sehun menautkan kedua alisnya. Takdir? Oh, seorang Kim Jongin berbicara tentang takdir?
"Apa yang baru saja kau bicarakan Kim? Aku tidak dengar," cibir Sehun.
"Cih, asal kau tahu, dia gadis yang manis. Dia seniorku, dan dia... tinggal disebelah rumahku," Sehun tersedak makanannya sendiri.
"Uhuk, benarkah?"
"Ya, aku pasti akan mendapatkannya segera." Jongin mengepalkan tangannya, Sehun hanya menggelengkan kepalanya.
.
.
"Hei, Jongin bagaimana kalau kita jalan-jalan?"
Sehun dan Jongin sudah selesai makan. Sekarang mereka sedang bersantai diruang tamu. Jongin yang tadinya sibuk pada ponselnya, langsung saja menegakkan tubuhnya. Ditatapnya Sehun dengan tatapan tak percaya, "Noona-mu belum pulang, 'kan? Dari pada aku mati kebosanan disini," tambah Sehun.
"Yep! Kau benar, tapi kau bawa mobil 'kan?"
"Yaa, ya tentu saja aku bawa. Kau pikir aku kesini naik apa kalau bukan mobil?"
"Aku yang menyetir ya,"
"Ish, baiklah.."
Jongin segera mengambil jaketnya, begitupun dengan Sehun. Segera mereka keluar rumah, Jongin segera masuk ke dalam mobil Sehun. Ya, Sehun sudah terbiasa dengan sikap Jongin yang seakan memiliki milik oranglain ini, karena memang Sehun pun kadang melakukannya. Simbosis mutualisme—mungkin.
"Huaaa.. aku jadi merindukan ferarri-ku.. apa kabar ya mobilku itu? Huh,"
"Aku dengar sih, ferarrimu sudah selesai diperbaiki. Tapi, karena fasilitasmu banyak yang diambil jadi, yaa.. kau tidak bisa mengendarainya lagi, haha"
"Sialan kau Oh Sehun!"
"Ya! Tapi awas saja kalau kau merusak mobilku ini. Aku akan menghancurkan mobilnya,"
"Ya baiklah.."
.
###
.
Kyungsoo mengayuh sepedanya dengan kecepatan sedang. Sudah pukul 9 malam. Tangan kirinya sibuk memegang es krim, tangan kanannya mengendalikan stir. Sesekali ia memakan es krimnya agar lelehannya tidak mengotori tangannya. Setelah es krim ditangannya habis, ia segera membuangkan ke tempat sampah terdekat. Kyungsoo kembali mengayuh sepedanya. Sekarang ia harus segera pulang ke rumah, orangtuanya pasti mengkhawatirkannya. Kyungsoo akhirnya memilik jalan pintas menuju rumahnya.
Melewati jalanan yang agak sepi, jarang sekali yang berlalu-lalang kalau sudah malam begini. Namun Kyungsoo bukan gadis pengecut, lagipula pemandangan di sekitar sini cukup bagus. Sepanjang jalan pohon-pohon berdiri tegak seakan mengawasinya. Lampu-lampu jalanan juga menyinari jalannya, bersama dengan sang rembulan. Angin berhembus melawan arah darinya. Tiba-tiba sepeda Kyungsoo oleng karena keseimbangannya runtuh. Ada sesuatu yang hampir menyerempetnya. Akhirnya tubuh Kyungsoo jatuh bersamaan dengan sepedanya.
Sebuah mobil berhenti dihadapannya. Kyungsoo menatap mobil itu garang, orang yang menaiki mobil pun keluar. Ada dua orang, dan sepertinya Kyungsoo mengenali salah satunya. Dia—Kim Jongin. Kyungsoo mencoba untuk bangun, meskipun kakinya sakit karena terbentuk badan jalan ia berusaha menutupi rasa sakitnya.
"KAU?! Si anak baru itu 'kan?!" pekik Kyungsoo.
"Ya, aku si anak baru. Dan aku beritahu sekali lagi padamu ya anggota kedisiplinan! Aku punya nama, dan namaku Kim Jongin!" bisa Kyungsoo lihat, Jongin sedang menyeringai licik.
"Sialan kau! Kau berniat mencelakaiku!" tuding Kyungsoo. Jongin mengedikkan bahunya tak peduli.
"Sebenarnya tak bermaksud, tapi karena aku harus memberitahukan sesuatu padamu, jadi aku melakukan hal ini!" Jongin melangkah ke arah Kyungsoo. Ia semakin mendekat pada Kyungsoo. Kyungsoo menatapnya nyalang. Kedua manik mata itu bertemu.
"Jangan sekali-kali kau berani meremehkanku. Jangan mentang-mentang kau adalah anggota kedisiplinan, aku akan takut padamu! Kekuasaanmu hanya berlaku di sekolah, tapi kalau diluar sekolah? Kau hanya murid biasa! Camkan itu nona Do!"
Kyungsoo terpaku. Ia tahu, banyak yang tidak menyukainya. Namun, ini pertama kali ada yang mengancamnya sampai seperti ini.
"Akan aku tunjukkan siapa diriku, Do Kyungsoo! Aku adalah Kim Jongin! Seseorang yang tidak takut hanya karena diancam peraturan sekolah! Dan terakhir.." Jongin menyentuh pipi kiri Kyungsoo, Kyungsoo bergidik dibuatnya. "...jangan harap hidupmu akan tenang setelah ini!"
Jongin segera menjauh setelah apa yang dilakukannya pada Kyungsoo. Rasanya puas membuat Kyungsoo terpaku tak berkutik. Jongin segera masuk ke dalam mobilnya, tentu saja diikuti oleh Sehun yang menatap iba ke arah Kyungsoo. Jujur saja, senakal-nakalnya dia, ia tak pernah ingin mengamcam seorang gadis. Tapi, apa yang terjadi pada Jongin?
Kenapa Jongin jadi aneh begini? Ini terlalu berlebihan, menurutnya.
.
.
Kyungsoo menatap mobil yang hampir menabraknya itu menjauh. Jongin, pria itu memang sialan! Kyungsoo membangunkan sepedanya. Di ambilnya ponsel yang ada didalam tas. Segera ia mendekatkannya ke telinga saat berhasil nomor kontak yang akan ia hubungi.
"Ne Ayah. Maafkan aku, bisa kau jemput aku dijalan dekat rumah? Sepedaku tiba-tiba rusak. Ya, aku akan menunggumu, terimakasih Ayah.."
Kyungsoo menutup sambungan telponnya. Jujur saja, kakinya sakit sekali. Ia tadi berdiri hanya berpura-pura agar tidak terlihat lemah dihadapan Jongin. Kyungsoo terduduk di bahu jalan. Tak lama, mobil hitam yang dikenalinya datang. Kyungsoo hanya menunduk, sampai ayahnya keluar.
"Kau kenapa sayang?"
"Aku tadi keserempet," Kyungsoo tak berani menatap ayahnya. Masalahnya ini juga salahnya karena ia pulang terlambat.
"Aish, tidak ada yang luka kan?" Ayahnya mendekat ke arah Kyungsoo.
"Kakiku terkilir, sepertinya.."
Ayahnya mendesah kecewa. Anak semata wayangnya seperti ini membuatnya gusar. Segera dibantunya Kyungsoo berdiri dan membawa sang anak masuk ke dalam mobil. Sepeda Kyungsoo langsung diletakkan di atas mobil.
"Lainkali hati-hati arraseo.."
"Ne arraseo,"
.
.
Kyungsoo meringis saat kakinya disentuh oleh ibunya. Sekarang ia tengah berbaring di kasurnya sendiri. Bahkan, ia menggigit gulingnya sendiri saat rasa nyeri semakin menyerang. Ibunya sedang memijat kaki Kyungsoo. Kaki anaknya benar-benar terkilir.
"I..bu..sa..ki..t.."
"Aish, siapa yang berani menyerempetmu ini? Kenapa tidak bertanggung jawab sama sekali?"
Orangtua mana yang tega melihat anaknya terluka, begitupun dengan orangtua Kyungsoo. Kyungsoo tak pernah mencari masalah dengan siapapun, tapi kenapa anaknya bisa dilukai seperti ini?
"Aniya, aku tak apa. Aku besok boleh sekolah 'kan?"
Ibunya menggeleng, "Eoh? Wae? Besok adalah hari penting bu,"
"Baiklah, tapi kau harus berangkat bersama ayahmu.."
Kyungsoo menggeleng keras, "aku tidak mau, aku akan naik sepeda saja. Atau naik bus, aku tidak ingin berangkat bersama ayah,"
"Ish kau ini!" Kyungsoo meringis saat ibunya menjitak kepala Kyungsoo. "..kalau begitu naik bus,"
Kyungsoo tersenyum girang. Setelah selesai di pijat oleh ibunya, Kyungsoo langsung merasa ngantuk hingga ia langsung terlelap ke alam mimpi.
Dasar Kim Jongin sialan!
.
###
.
Jongin menatap seorang guru pria dihadapannya dengan tatapan malas. Matematika. Sebenarnya Jongin tidak pernah ambil pusing pada pelajaran ini, ia begitu pandai menguasai rumus-rumus yang ada dibuku dalam sekejap saja. Dan lagi, menurutnya pelajaran disini sangatlah membosankan. Rumus-rumus yang diterangkan dipapan tulis pun sudah pernah ia pelajari saat di SOPA. Jongin jadi teringat kata-kata pedas Kyungsoo yang mengatakan bahwa ia harus melakukan yang terbaik untuk sekolah ini, menjaga nama baik sekolah ini seperti menjaga dirinya sendiri.
Ck, Jongin rasanya ingin tertawa. Menjaga dirinya saja ia belum tentu mampu, bagaimana ia disuruh menjaga sekolah sebesar ini? Dasar aneh.
Lagipula, untuk apa Jongin harus melakukan yang terbaik untuk sekolah ini? Pelajarannya saja mungkin tidak lebih bagus dibanding sekolah lain disekitar sini. Jongin benar-benar ingin tertawa rasanya. Sepertinya tertawa di depan wajah Kyungsoo akan menyenangkan sekali.
'Kau gila ya? Bagaimana kalau lukanya parah?'
'Dan lagi, dia itu wanita, kita tidak pernah berlaku kasar pada seorang gadis!'
'Aku ingin kau sesegera mungkin minta maaf padanya, dia itu seniormu, 'kan?'
'Kita memang nakal, tapi kita tidak pernah menyakiti wanita, Jongin!'
'Memangnya apa yang dia lakukan sampai-sampai kau melakukan ini padanya? Apa dia menumpahkan minuman atau makanan ke seragammu? Menyirammu dengan air tanaman? Kau bahkan pernah mendapatkan tamparan dari seorang gadis dulu. Tapi, kau mengabaikannya. Kau tidak mau berurusan dengan seorang gadis apabila itu menyakitinya! Kita selalu berkelahi dengan sesama pria, bukan wanita! '
.
"Dia hanya memberitahukanku tentang peraturan sekolah karena aku anak baru," gumam Jongin.
Jongin terpaku. Suara sialan Sehun benar-benar mengganggunya. Semalaman ia diceramahi oleh si albino itu karena sengaja mencelakai Kyungsoo. Tapi memang benar apa yang dikatakan Sehun, mereka berdua tidak pernah menyakiti seorang gadis meskipun kenyataannya mereka suka berbuat masalah dan berkelahi.
Tapi—tapi—dalam hal ini, entah mengapa Jongin merasa marah. Ia berasa tertipu oleh Kyungsoo. Oke, dijabarkan! Yang pertama, Jongin terpukau dengan sikap anggun Kyungsoo yang melewati ruang kelasnya. Kedua, Jongin terpukau oleh mata manik yang bertemu pandang dengannya. Namun yang ketiga, disini ia merasa tertipu. Kyungsoo memperlakukan layaknya orang yang tidak tahu diri. Membeberkan segala kejelekannya. Berkata dengan wajah datar, menatapnya tajam. Itu membuat Jongin kesal setengah mati.
"YA! KIM JONGIN! KELUAR DARI KELAS SEKARANG!"
Jongin tersedak air liurnya sendiri saat mendengar teriakan super kencang mengisi gendang telinganya. "Uhuk, apa ssaem?"
"KELUAR SEKARANG! BERDIRI DIDEPAN KELAS!"
Dengan amat sangat terpaksa, Jongin bangkit dari tempat duduknya. Ia menoleh ke jendela, pandangannya jatuh pada beberapa murid yang sedang berolahraga. Seketika matanya menangkap sosok yang begitu dikenalinya tengah berlari. Namun, ada yang aneh dari cara larinya—pincang?
Dia—Kyungsoo yang berlari dengan pincang, tiba-tiba Kyungsoo jatuh tersungkur membuat Jongin langsung terlonjak kaget. Perasaan bersalah langsung menyelimutinya, bersamaan dengan anak-anak yang dilapangan mengerumuni Kyungsoo, membantunya untuk bangkit.
Katakan saja kalau sekarang Jongin tidak waras! Tidak berpendirian tetap! Plin-plan! Pria menyebalkan.
.
.
Jongin berlutut didepan kelas. Kedua tangannya terangkat ke atas. Otaknya terus berputar ke kejadian dimana Kyungsoo jatuh, ingin rasanya ia berlari dan menolong Kyungsoo. Namun, ia tidak bisa. Ia yang menyebabkan Kyungsoo seperti itu. Ini aneh—kenapa juga Jongin harus perhatian pada Kyungsoo? Ini bukan seperti Jongin yang biasanya.
Kepala Jongin mendongak, ia mendengar langkah kaki yang berjalan ke arahnya. Jongin menoleh ke kiri, ke arah sumber suara. Ia melihat seorang gadis yang tengah digendong oleh pria yang bertubuh tinggi besar. Jongin tahu, gadis itu adalah Kyungsoo. Tapi, ia tak tahu siapa pria yang menggendongnya.
Ada sesuatu dari dalam diri Jongin yang terbakar, rasanya panas. Menjalar hingga telinga lalu ke ubun-ubun. Jongin memandang—sinis—sepasang tangan Kyungsoo yang melingkar dileher pria itu. Sesaat mereka melewati Jongin, kontak mata kembali terjadi antara dirinya dan Kyungsoo. Jantung Jongin kembali berdegup lebih cepat, namun segalanya sirna saat sinar tajam dari sepasang mata Kyungsoo.
Apa Kyungsoo marah padanya?
Ya, seharusnya memang begitu. Siapa pula yang tidak marah kalau diserempet secara sengaja. Kyungsoo hanyalah orang biasa, yang memiliki emosi dan bisa meluapkannya kapan saja.
.
###
.
"Ku dengar Kyungsoo-sunbae jatuh saat berlari dan dia cidera,"
"Hm, katanya begitu. Kasihan sekali, Kyungsoo-sunbae. Meskipun memang dia cerewet dan galak tapi dia sebenarnya orang yang baik."
"Eh tapi, kau tau tidak kejadian yang sangat mengejutkan saat itu terjadi?"
"Apa? Apa?"
"Tepat saat kejadian itu, Kyungsoo-sunbae dibantu oleh Kris-sunbae.."
"MWOYA? Kris-sunbae sudah kembali dari pertukaran pelajarnya di Kanada?!" pekik seorang gadis histeris.
"Ya, dan sepertinya pangeran dan sang putri sudah dipertemukan kembali..."
"Oh, Kris-sunbae memang yang terbaik untuk Kyungsoo-sunbae,"
.
Jongin menutup telinganya sendiri. Kenapa gadis-gadis dikelasnya senang sekali bergosip? Dan apa itu, sang pangeran dan sang putri. Cih, dasar gila! Jongin kembali menenggelamkan wajahnya ke dalam ceruk lengannya. Ya, ia kembali malas ke kantin, dan memilih untuk tidur didalam kelasnya.
'Tapi, berarti nama pria yang menggedong Kyungsoo itu adalah Kris?' batin Jongin dalam tidurnya.
.
.
.
TBC/?
.
DO Bitches : ini prolog+Chap. 1 kok, hehe. Oh begitu, kalo kamu ngga suka juga gapapa sih, hehe. Aku ngga pernah ada niatan buat nistain Kyungsoo kok. Aku sayang sama dia, dia itu bias aku. Jadi, aku bikin GS gini bukan cuma buat Kyungsoo aja, aku bikin ini yaa cuma sebagai pendukung jalannya cerita aja. Makasih reviewnya yaa ^^
exindria : hehe, makasih. Ne ^^
kimhyera96 : haha, iya aku bikin karakternya hampir sebelas-duabelas sama Baekhyun -_- soalnya menurut aku, Kyungsoo itu anaknya diem-diem cerewet -_-v.. hueee, bahkan aku bingung disini Jongin badboy apa nggak, haha. Tapi, aku bikin dia tetep nurut kok, noh ada pawangnya /nunjuk Ryeowook/ :v Iya, meskipun ga terlalu suka sama KaiLu /plakk, tapi menurutku cocok aja kalo Luhan yg dijadiin orang ketiga dari hubungan KaiSoo :'v Iya, menurut kamu gimana Chap sekarang? Apa udah banyak, apa belom kerasa apa masih kurang? Maklum, kan baru 2 Chapter, kita perkenalan dulu satu-satu, soalnya takut alurnya jadi kecepetan :v haha.. makasih reviewnyaaa ^^
wanny : iya ini official couple kok, aku kan KaiSoo-ship :v yaa kalo si Lulu mah cuma aku jadiin orang ketiga aja, tapi liat aja nanti ceritanya /ketawanista, haha
abcd : eo? yaoi-nya? Doh, aku nggak janji yaa, nanti kalo bisa bakal aku bikinin, semoga aja dapet pencerahan yaa ^^ makasih udah review~
kyle : ini fast update ^^ makasih yaa ^^
.
YEEAYY :V
Huwaaa, Chapter 2 sudah rilis, hihi. Dan sekali lagi maaf ya kalo ada yang nggak suka GS, aku nggak ada niatan buat nistain Kyungsoo kok. Soalnya bias aku ya si burung hantu itu, haha. Oh ya, meskipun ada Crack Pair, tapi tetep kok ini adalah KaiSoo /ketawanista/
Dan sebisa mungkin aku akan fast-update ^^
BIG THANKS to :
DO Bitches. exindria. Kimhyera96. kyle. abcd. wanny.
Boleh minta kritik dan saran?
Mind to review?
.
Xoxo,
Han..
