Preview Chapter 2

.

.

"Ku dengar Kyungsoo-sunbae jatuh saat berlari dan dia cidera,"

"Hm, katanya begitu. Kasihan sekali, Kyungsoo-sunbae. Meskipun memang dia cerewet dan galak tapi dia sebenarnya orang yang baik."

"Eh tapi, kau tau tidak kejadian yang sangat mengejutkan saat itu terjadi?"

"Apa? Apa?"

"Tepat saat kejadian itu, Kyungsoo-sunbae dibantu oleh Kris-sunbae.."

"MWOYA? Kris-sunbae sudah kembali dari pertukaran pelajarnya di Kanada?!" pekik seorang gadis histeris.

"Ya, dan sepertinya pangeran dan sang putri sudah dipertemukan kembali..."

"Oh, Kris-sunbae memang yang terbaik untuk Kyungsoo-sunbae,"

.

Jongin menutup telinganya sendiri. Kenapa gadis-gadis dikelasnya senang sekali bergosip? Dan apa itu, sang pangeran dan sang putri. Cih, dasar gila! Jongin kembali menenggelamkan wajahnya ke dalam ceruk lengannya. Ya, ia kembali malas ke kantin, dan memilih untuk tidur didalam kelasnya.

'Tapi, berarti nama pria yang menggedong Kyungsoo itu adalah Kris?' batin Jongin dalam tidurnya.

.

.

Destiny

Copyright © August 2014

By Han

.

Cast :

Kim Jongin—Do Kyungsoo—Kim Ryeowook—Oh Sehun—Xi Luhan—Byun Baekhyun—Park Chanyeol—Kris—Lay.

This is KaiSoo pairing

Drama—School-life—AU—Hurt/Comfort.

Teen

Lenght of Chapter

WARNING :

Typo(s)—No Copas—No Plagiarsm—No Bash—GS/Cross Gender for Uke.

Don't Like—Don't Read.

.

.

Chapter 3

.

.

Sepertinya pilihan Jongin untuk tidur didalam kelas adalah pilihan yang paling salah. Ya, suara-suara halus bak hantu menyeramkan terus saja mengusik tidurnya hingga membuatnya tak tenang. Jongin menatap geram beberapa siswi yang sibuk bergosip tentang 'sang pangeran dan sang putri'. Oh, itu memuakkan!

Jongin akhirnya memilih beranjak ke kantin, ia ingin membeli minuman. Dan setidaknya setelah dari kantin ia bisa menemukan tempat istirahat yang cocok untuknya. Tempat yang tenang, tanpa suara bising anak sekolahnya, suasana yang sejuk karena angin berhembus. Oh, memikirkannya saja membuat Jongin langsung jatuh ke alam mimpi. Jongin memesan satu buah choco milk shake, memberikan beberapa lembar uang won lalu mengucapkan terimakasih sebelum pergi dari counter minuman.

"Aku dengar Kris-sunbae sangat mengkhawatirkan Kyungsoo-sunbae ya?"

Mata Jongin melotot parah saat dirinya di kantin pun mendengar kalimat yang membuatnya jengah. Ia menggelengkan kepalanya, segera ia keluar dari kantin. Tiba-tiba langkahnya terhenti pada lorong yang sepi. Ia ingat kemarin ia melihat tangga yang menghubungkan ke atap.

Ah ya, atap! Tempat itu pasti sepi.

Jongin menaiki satu persatu anak tangga yang di ujungnya terdapat pintu besi. Segera didorongnya pintu itu, seketika cahaya putih menyapa indra penglihatannya. Jongin mengintip sebentar ke sekitar, sepi. Sepertinya memang jarang ada murid yang datang kesini. Jongin merentangkan kedua tangannya saat angin berhembus menerpa dirinya.

Tempatnya benar-benar luas, lantainya juga bersih. Ah, benar-benar terawat. Jongin segera merebahkan tubuhnya, ia memejamkan matanya sejenak. Hangat dan menenangkan.

"Ya! Ayo kita kembali..!"

Suara teriakan mengganggu tidur Jongin, Jongin mendesah frustasi. "Hah! Apalagi ini?"

"Kalau kau ingin kembali, kembali saja. Lagipula siapa yang menyuruhmu mengikutiku?"

Jongin menajamkan indra pendengarannya, ia seperti pernah mendengar suara itu. Tapi, suara siapa ya?

"Hei, Kyungsoo!"

Ah! Benar Kyungsoo! Eh—Apa? Kyungsoo?

Jongin langsung saja duduk tegak, saat dirinya mulai bangkit, pintu besi itu terbuka. Jongin maupun Kyungsoo sama-sama terlonjak kaget, begitupun dengan sosok gadis yang ada dibelakang Kyungsoo—si Baekhyun.

"Eoh? Ada Kim Jongin ternyata," kata Baekhyun riang. Kyungsoo menatapnya tanpa ekspresi.

"Baekhyun-ie, bisa kau tinggalkan aku?"

"Eo? Baiklah. Oi, Jongin-ah! Aku titip Kyungsoo ya, ia sedang sakit." Baekhyun melambaikan tangannya sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan Kyungsoo berdua dengan Jongin.

.

.

Kyungsoo berdiri dibelakang pembatas atap, tangannya mengepal sangat kuat. Pandangannya jatuh pada lapangan tempat yang digunakan untuk olahraga tadi pagi. Ia memejamkan matanya, mencoba untuk mengontrol emosinya yang terlanjur membuncah. Mungkin menurut oranglain, nilai olahraga tidaklah begitu penting. Namun bagi Kyungsoo, nilai olahraga merupaka nilai yang sangat berharga. Ya, maklum saja Kyungsoo bukanlah anak yang pintar dalam olahraga, nilainya pun pas-pasan dan tadi?

Tadi dia gagal berlari karena kakinya masih nyeri akibat jatuh semalam.

"Kau puas, Jongin-ssi?"

"Sunbaenim.." Jongin sekarang tengah berdiri tepat dibelakang Kyungsoo. Rasa bersalahnya semakin membuncah saat melihat kaki kanan Kyungsoo diperban. Ia memang sudah keterlaluan.

"Sebenarnya apa salahku sampai kau melakukan ini padaku?"

Jongin terdiam. "Apa salah seorang senior memberi masukan pada juniornya dalam masalah kedisiplinan? Apa salah? Apa cara bicaraku yang salah?"

Jongin yang terdiam kini terpaku saat Kyungsoo membalikkan badannya. Ia menatap sepasang mata yang memerah, entah menahan amarah atau menahan tangis. Tangan Jongin bergetar, ingin sekali ia mengusap pipi Kyungsoo yang ikut memerah.

"Kau tahu? Kau benar-benar sialan Kim Jongin!" Kyungsoo hampir melayangkan tangannya menuju pipi Jongin, namun gerakannya terhenti. Ia terdiam, deru nafasnya naik-turun. "Cih, tak ada gunanya aku memukulmu, nilai olahragaku pun tak akan bisa naik hanya dengan memukulmu," tambah Kyungsoo.

Jongin menatap Kyungsoo, tatapan yang datar begitupun dengan Kyungsoo. Sinar mata mereka terlihat sama namun sebenarnya berbeda.

Tak selang berapa lama, bel usai istirahat berbunyi. Kyungsoo segera beranjak dari hadapan Jongin.

"Aish, aku ada ujian. Dan aku benar-benar membuang waktuku disini," gumam Kyungsoo yang mampu Jongin dengar.

Jongin terus saja menatap Kyungsoo dari belakang. Melihat bagaimana Kyungsoo berusaha menuruni anak tangga dengan hati-hati. Tangannya berpegangan pada penyangga. Jongin memejamkan matanya, ia menghela nafas sebelum ia mengangkat tubuh Kyungsoo.

"Eo?! Apa yang kau lakukan bocah?! Turunkan aku!"

"Kau bilang kau ada ujian. Melihat jalanmu yang lebih lambat dari siput membuatku jengah." Jongin berkata tanpa menatap Kyungsoo. Ia berusaha sebisa mungkin agar matanya tak bertemu pandang atau menatap wajah Kyungsoo dari jarak sedekat ini.

Kyungsoo menghela nafas, ia memalingkan wajahnya ke lantai, tangan kanannya ia sampirkan ke leher Jongin. Sepertinya ia juga tak mau bertemu pandang dengan Jongin. Sudut bibir Jongin terangkat, seperti gerakan slow-motion ia akhirnya memandangi Kyungsoo. Gadis yang ada digendongannya ini tak menatapnya ternyata. Bisa Jongin hirup aroma vanila yang menguar dari tubuh Kyungsoo. Kenapa manis sekali? Bisa-bisa Jongin kecanduan karenanya.

Apa ini yang dirasakan pria bernama Kris saat menggendong Kyungsoo? Jongin tersenyum.

Ini menyenangkan.

Seluruh murid melihat kehadiran Kyungsoo yang digendong Jongin. Semuanya saling berbisik, memandang kedua orang itu dengan tatapan tak percaya. Jongin membungkukkan badannya sopan saat melihat seorang guru sudah masuk ke kelas Kyungsoo. Sepertinya ujian belum dimulai.

"Tempat dudukku disana," gumam Kyungsoo.

Kyungsoo menunjuk bangku yang terletak agak dibelakang, tempat yang persis seperti tempatnya duduk. Jongin mendudukkan Kyungsoo dibangkunya. Wajahnya begitu dekat dengan kepala Kyungsoo, sebuah perkataan jahil muncul di otaknya.

"Kau berat juga ya, nona Do.." bisiknya, dan itu langsung menyambungkan urat-urat kekesalan pada wajah Kyungsoo.

Jongin sialan!

Sebelum Jongin meninggalkan Kyungsoo, ia melihat Luhan yang sedang menatapnya. Ia tersenyum ramah dan Luhan pun membalas senyuman itu.

Luhan cantik!

Dua pikiran yang sama-sama berbeda.

.

###

.

Kyungsoo memasukkan alat tulis ke dalam tas. Hari ini ia ada janji dengan Baekhyun dan Kris. Kyungsoo memperhatikan sekeliling, masih ada beberapa anak yang belum pulang. Dimeja sudut kelas juga masih ada Luhan, ia sepertinya sedang memasukkan barang-barangnya ke dalam tas—sama seperti Kyungsoo. Tiba-tiba pandangannya teralihkan pada sosok yang baru saja melewati jendelanya. Sosok itu melirik ke arahnya, namun langsung membuang wajahnya. Kyungsoo mendecih.

Sosok itu masuk ke dalam kelasnya—dengan angkuh. Siapa lagi yang bersikap seperti itu kalau bukan si anak baru Kim Jongin? Bocah tengil menyebalkan. Dilihatnya Jongin menghampiri Luhan, Luhan nampak tersenyum saat Jongin menyapanya. Kyungsoo memicingkan matanya saat melihat Jongin mengusap kepala Luhan. Cih, benar-benar bocah tidak sopan. Luhan kan lebih tua darinya, tapi sikapnya kenapa melebihi Luhan? Dan juga, kenapa Luhan terlihat nyaman atas perlakuan Jongin?

Kyungsoo mengalihkan pandangannya, tak peduli apa yang dilakukan Jongin dan Luhan. Kyungsoo mulai bangkit dari kursinya namun tepat saat itu juga seseorang merangkulnya. Ia menoleh—dan itu Kris bersamaan dengan Baekhyun masuk ke kelasnya.

"Sudah lama menunggu, chagi?" Kyungsoo memukul lengan Kris karena berkata seenaknya.

"Aniya, oppa."

"Kau benar ingin ikut?" Kris memastikan sesuatu. Baekhyun langsung saja muncul dihadapan Kris dan Kyungsoo.

"Tentu saja dia harus ikut. Aku tidak mau tahu! Do Kyungsoo harus ikut menjemput Chanyeol-oppa dan Lay-eonni.."

"Tuh, oppa dengar 'kan? Sekalinya aku menolak, aku pasti langsung disembur mulut pedasnya Baekhyun,"

"Ash kalian ini.." Kris mengusap kepala kedua gadis manis dihadapannya ini bergantian. Segera saja mereka keluar dari kelas, tanpa peduli dengan oranglain yang masih ada didalam kelas mereka. Menatap mereka penuh dengan asap mengepul dikepalanya.

"Eo, Jongin-ah gwaenchana?" tanya Luhan ketika menyadari Jongin melamun.

"Ah, ne.."

.

###

.

Kyungsoo dan Kris menunggu didalam mobil, membiarkan Baekhyun sendiri yang menjemput Lay dan Chanyeol ke dalam bandara. Bukannya tidak setia kawan sih, tapi mengingat keadaan Kyungsoo yang terluka Kris tidak mau membahayakan keadaan Kyungsoo. Kyungsoo memakan es krim yang baru dibelikan Kris, Kris begitu mengenal Kyungsoo. Kyungsoo tidak suka menunggu, seandainya ada waktu menunggu, pasti ia akan memakan cokelat atau es krim. Ia sadar, dibalik sifat Kyungsoo yang galak, cerewet dan datar, Kyungsoo adalah gadis yang sangat kekanak-kanakan. Mungkin jauh kekanak-kanakan dia dibanding Baekhyun.

Kris menggelengkan kepalanya, di usapnya sudut bibir Kyungsoo dengan tisu yang ada didalam mobil. "Masih berantakan saja," tegurnya.

Kyungsoo tersenyum kecil. "Kris-oppa, kenapa tidak kembali kesini bersama Chanyeol dan Lay-eonni?" tanya Kyungsoo.

"Entahlah, mungkin aku terlalu merindukan pinguin ini, makanya aku mengambil jam terbang pertama,"

"Oh pantas saja,"

"Bagaimana keadaan sekolah selama dua bulan aku tinggalkan?"

"Begitulah, semuanya baik-baik saja sampai kedatangan si anak baru,"

"Anak baru?"

"Ya, anak kelas 1, namanya Kim Jongin. Pintar dan berbakat sih, tapi banyak reputasi buruk yang tertulis di keterangan profilnya," Kyungsoo menghela nafas kasar saat mengingat kelakuan Jongin.

"Memang apa yang ia lakukan?"

Kyungsoo mengedikkan bahunya, seakan tak peduli. "Tidak perlu membicarakannya lagi, oppa. Aku bosan sekali,"

"Dasar anak kecil,"

"YA! Aku sudah besar,"

"Iya-iya sudah besar," Kris mengacak rambut Kyungsoo yang terikat rapih, "oh ya, ngomong-ngomong kenapa kau tidak pernah melepas ikat rambutmu?"

"Tak apa, akan repot kalau rambutku tergerai saat belajar,"

Kris menggelengkan kepalanya, tiba-tiba kaca jendela sebelah Kyungsoo di ketuk. Ada Baekhyun, Chanyeol dan Lay yang berdiri disamping mobilnya. Kris segera turun dari mobil, membantu Chanyeol memasukkan barang-barangnya ke bagasi.

"Cih, kalau mau duluan itu harusnya bilang," celetuk Chanyeol. Kris menaikkan sebelah alisnya.

"Aku kan sudah menulis surat, memangnya tidak sampai?"

"Kau menitipkannya pada siapa, eoh? Kami disana kelimpungan mencarimu,"

"Pada penjaga asrama kita, oh berarti dia lupa karena aku memberikan padanya malam hari."

"Benar-benar berniat kabur orang ini, noona." Chanyeol menoleh ke arah Lay yang hanya tersenyum. Wajah kalemnya menunjukkan bahwa ia tak masalah kalau Kris pulang duluan.

"Sudahlah aku lelah sekali, ayo kita langsung pulang,"

"Baiklah, Lay.." jawab Kris diikuti anggukan yang lain.

.

###

.

"Masuklah, noona." Jongin melambaikan tangannya ke arah Luhan, Luhan mengangguk dan ia akhirnya masuk ke dalam rumahnya.

Jongin melihat mobil yang terparkir dihalaman rumahnya. Tidak ada mobil Sehun, apa bocah itu sudah pulang? Jongin membuka pintu rumahnya, wangi cokelat menyeruak ke indra penciumannya. Keningnya mengkerut. Ia mendengar suara televisi menyala, ia memang tahu kalau kakaknya sudah pulang.

"Noona," panggil Jongin,

"Ya, Jongin. Ada apa, tumben sekali pulang sekolah langsung memanggilku,"

"Kau bersama siapa?"

"Oh, ini Sehun.. dia bilang akan menginap lagi," Jongin melongok ke sofa, dan benar saja Sehun sedang duduk disamping Ryeowook, ditangannya juga ada sepiring kecil kue cokelat. Jongin memicingkan matanya saat melihat kotak kue yang ada diatas meja.

"Noona, apa kue yang kau makan itu, kue yang ada di kulkas?" Jongin menelan ludah pahit. Itu kue buatan Kyungsoo.

"Ya, kau yang membelinya ya? Sungguh, ini enak sekali. Kau membelinya dimana? Aku tak tahu kau punya selera bagus tentang kue," Ryeowook mengangkat garpu kecil, dan menyodorkannya pada Jongin.

"K-Kenapa kau memakannya, noona?"

Ryeowook berhenti mengunyah begitupun dengan Sehun, mereka berdua menatap Jongin kebingungan. "Lho, memangnya kenapa? Ini memang untuk dimakan, 'kan?"

Jongin memijit pelipis, "memang tapi kenapa kau tidak bilang dulu padaku?"

"Eoh? Apa jangan-jangan ini kue dari penggemarmu? Atau malah dari pacarmu?" Sehun membulatkan matanya saat Jongin mengerang frustasi. Jongin mengacak rambutnua sendiri.

"Ash, bukan dari keduanya.. tapi—ah sudahlah," Jongin beranjak meninggalkan ruang tamu, ia menuju kamarnya sendiri. Ditutupnya pintu dengan kasar, sampai-sampai suaranya terdengar hingga ruang tamu.

"Yah noona, kuenya sudah habis. Bagaimana dong?"

"Ah biarkan saja, lagipula tumben sekali ia marah. Biasanya juga ia tidak pelit makanan," Ryeowook berkata dengan cuek.

"Ck, dasar adik dan kakak sama-sama aneh," gumam Sehun pelan,

.

.

Sehun memasuki kamarnya bersama Jongin. Ya, rumah Jongin hanya terdiri 2 kamar, jadi mau tidak mau mereka akan satu kamar. Jongin terlihat sedang merebahkan tubuhnya di kasur, bermain ponsel, Sehun mendadak takut masuk ke kamar Jongin. Aura gelap masih menyelimuti pria itu.

"Jong, kau marah?"

"Tidak,"

"Jujur saja, Jongin. Memangnya kue itu dari siapa, sampai kau sebegininya?"

"Sudah aku bilang tidak, dan itu bukan dari siapa-siapa,"

"Tapi kenapa nada bicaramu ketus?"

"YA! Kau mau menginap disini atau tidak? Kalau kau masih berisik tidur saja diluar," ketus Jongin, Sehun menepuk keningnya sendiri.

"Oke-oke, kau memang sedang sensitif hari ini," Sehun duduk disisi ranjang Jongin. "Jongin, menurutmu bagaimana kalau aku ikut pindah ke sekolahmu?"

Jongin mendongak, ia menatap Sehun lekat-lekat, "apa yang memutuskanmu untuk pindah?"

"Ya sebenarnya sih, aku sudah ada niatan saat ayahmu bilang kau ingin dipindahkan. Aku pikir tidak akan menyenangkan kalau kita berpisah, lagipula.. tadi pagi aku melihat bidadari,"

"Mwoya? Bidadari?"

"Ya, tetangga sebelah rumahmu, dia manis sekali. Aku pikir dia satu sekolah denganmu, karena aku mengikutinya sampai ke sekolah,"

Jongin terdiam, tetangganya? Apa itu Luhan?

"Ck, terserah kau sajalah.."

"Oh ya, kau bilang kau menyukai tetangga sebelahmu, 'kan? Kalau begitu bagaimana kalau kita saingan untuk mendapatkannya,"

"Kau pikir, orang yang kau maksud itu orang yang aku sukai?" Jongin kembali cuek,

"Ya, entahlah, tapi kan.. sebelah rumahmu itu cantik. Jadi aku yakin dia, bagaimana? Kau setuju?"

"Aku tidak tertarik,"

"Kau takut?"

"Tidak,"

"Ayo lakukan,"

"Ini bukan taruhan 'kan?"

"Ya tentu saja bukan, aku tidak akan mempertaruhkan apapun untuk sahabatku, seandainya kau memang mendapatnya aku tak masalah,"

Jongin megnangguk paham, "Oke, tapi.. berarti kau akan tinggal disini?!" Jongin memekik keras, dan Sehun mengangguk antusias.

.

###

.

Sudah lebih satu bulan Jongin dan Sehun bersekolah didaerah Busan, begitu jauh dari Seoul—sangat pedalaman. Mereka juga sudah mengenal banyak orang di sekolah tersebut, bahkan mereka juga mengikuti beberapa klub yang ada disana. Yang paling mereka ikuti sih, basket dan klub dance. Maklum saja, di SOPA dulu mereka adalah biangnya dua klub itu.

Seperti saat ini Jongin sedang melakukan peregangan. Ia juga mengenal baik seniornya di klub basket. Ada Chanyeol, pria tinggi dari angkatan kelas 2, satu kelas dengan Baekhyun. Dan beberapa yang lainnya seperti Yongjae, Jonghyun, Minho, dan masih banyak lagi. Namun ada satu lagi yang membuat Jongin semangat mengikuti klub ini adalah Kris. Pria tinggi yang memiliki postur atletik itu ternyata kapten basket disini.

Jongin benar-benar bersorak kegirangan. Tapi tak jarang juga Jongin memaki dalam hatinya ketika melihat Kyungsoo datang dengan sekotak makanan ditangannya. Kotak itu bukan ditujukan padanya melainkan pada Kris. Oh, apa tadi yang Jongin pikirkan? Ditujukan padanya? Ck, dia bermimpi disiang bolong sepertinya.

Jelas-jelas hubungannya dan Kyungsoo justru semakin memburuk. Kyungsoo yang terlihat memiliki dendam tersembunyi dibalik pancaran mata polosnya, begitupun dengan Jongin yang selalu menganggu Kyungsoo, itu yang membuat Kyungsoo kesal setengah mati. Oh, tapi jangan lupakan si gadis bermata rusa—Xi Luhan. Gadis itu semakin dekat dengan Jongin. Dan Sehun hampir menyerah karenanya.

Seperti sekarang, Luhan sedang menunggunya di kursi penonton. Tersenyum begitu manis ke arahnya, tak jarang Luhan akan membawakan minuman atau handuk untuk mengusap keringat Jongin. Jongin senang diperlakukan seperti itu oleh Luhan, namun ia juga sebenarnya tak enak pada Sehun. Ya, mereka bersaing, dan sudah dipastikan kalau Sehun menyukai Luhan—sama dengannya.

"Kau ingin minum, Jongin?" Luhan bertanya saat Jongin menghampirinya, Jongin tersenyum dan menggeleng. Tiba-tiba Sehun menyambar, "Aku yang ingin minum, noona.."

Luhan terlihat gelagapan, namun ia akhirnya tersenyum dan mengambilkan sebotol mineral untuk Sehun. Sehun meminumnya hingga menyisakan setengah botol. Padahal latihan belum dimulai, tapi Sehun sudah seperti orang kehausan begitu.

"Kau sakit, Hun?" tanya Jongin. Ia sudah mengenal Sehun lama, perubahan sedikit dari mimik wajah Sehun seperti sebuah sirine untuknya. Sehun menggeleng.

"Hanya pusing sedikit, tapi tenang saja. Aku baik,"

"Jangan memaksakan dirimu," Jongin menepuk pundak Sehun, "Iya, istirahat dulu saja Sehun," tambah Luhan.

Sehun tersenyum memandang Luhan, sepasang mata itu bertemu pandang. "Tenang saja, noona. Ini aku lakukan juga untuk sekolah, pertandingan antar sekolah sebentar lagi.." jelasnya.

Luhan akhirnya mengangguk pasrah. Di lihatnya kedua pria tampan itu menjauh. Ia menghela nafas panjang.

.

.

"YA! Chanyeol-oppa! Hwaiting!"

Baekhyun berteriak dari sisi lapangan, suara itu menggema hingga ke seluruh sudut. Chanyeol yang mendengarnya tersenyum jenaka, ia mengepalkan tangannya tanda semangat ke arah Baekhyun. Baekhyun juga ikut-ikutan, dan Kyungsoo yang disamping Baekhyun hanya menatap kedua orang itu jengah.

"Berhentilah memanggilnya 'oppa' kau bahkan lebih tua enam bulan darinya, Baek.." ucap Kyungsoo dingin. Baekhyun mengerucutkan bibirnya, ia duduk disamping Kyungsoo.

"Memangnya kenapa? Dia juga tak masalah aku memanggilnya oppa.."

"Ck, itu karena kalian berdua saling menyukai. Dasar aneh,"

"Dari mana kau tahu?"

Kyungsoo menatap langit-langit lapangan indoor, "dari Cupid.."

"Haha, dasar bodoh!" Baekhyun menjitak kepala Kyungsoo, "kau sendiri, kau menyukai Kris-oppa tidak? Kapan kau akan menerimanya?"

"Aku.. yaa.. menyukainya, tapi aku belum bisa menerimanya. Hei, memangnya kau sudah jadian dengan Chanyeol?"

"Hmm, entahlah.. aku bingung, mungkin ini yang dibilang hubungan tanpa status,"

"Haha, status itu bukan masalah Baek, yang penting adalah isi hatimu padanya dan isi hatinya padamu." Ceramah Kyungsoo,

"Ck, sok pengalaman. Menjawab pertanyaanku saja masih ragu,"

Kyungsoo mendengus kesal, "aku.. entahlah,"

"Jangan terlalu lama membuat orang menunggu, Kyung. 5 tahun apa bukan waktu yang lama untukmu mengenal baik Kris-oppa? Atau jangan-jangan ada orang yang kau sukai?" selidik Baekhyun, tiba-tiba ia memegang pundak Kyungsoo. Membiarkan ia melihat isi mata Kyungsoo.

"A-Apa? Tidak—tidak ada yang aku sukai,"

Baekhyun terbahak, "Kau bohong! Siapa orang yang beruntung itu?"

"Aniya, eobseoyo.."

"Haha, sudahlah Kyungsoo.. ayo ceritakan padaku,"

"Ish, sudahlah. Aku mau ke toilet,"

Baekhyun semakin tertawa puas melihat Kyungsoo yang gugup. Jadi dia benar-benar menyukai seseorang? Dan orang itu bukan Kris? Lalu siapa? Aish, Baekhyun jadi penasaran, 'kan?!

.

###

.

Kyungsoo membasuh kedua tangannya di air kran wastafel, menangkupkan kedua tangannya hingga terisi air lalu menggunakan air itu untuk membasuh wajahnya. Kyungsoo menatap pantulan dirinya di depan cermin. Wajah yang agak bulat, mata yang bulat, bibir yang berbentuk hati. Ia tidak merasa dirinya cantik, bahkan ia sangat jauh dari kata cantik. Tapi kenapa Kris begitu gigih menunggu untuk membuka hati untuknya? Kyungsoo tak tahu sampai kapan dirinya bisa mengunci hatinya. Ya, ia tak tahu sampai dirinya bertemu dengan si anak baru yang pernah mencelakainya. Selalu mengerjainya, menggodanya, dan membuatnya kesal. Ya—betul sekali—dia—Kim—Jongin.

Apa yang Kyungsoo rasakan saat ini?

Entahlah, hatinya begitu bimbang akan perasaannya sendiri. Setiap memikirkan apa yang dilakukan Jongin padanya, setiap mencerna perasaannya menggunakan logika ia tak mampu.

Apa ini perasaan suka? Kyungsoo bingung.

Kyungsoo belum pernah jatuh cinta, dan ini pertama kalinya ia merasakan perasaan yang orang bilang 'jatuh cinta'. Ia jadi bingung membedakannya.

Setiap melihat Jongin memberikan perhatian pada Luhan, ia begitu gemas. Rasanya ia ingin memotong-motong tubuh Jongin dan memasukkannya ke dalam karung.

Setiap melihat Jongin tersenyum pada oranglain, ia begitu iri. Ia juga ingin diberikan senyuman, namun ia tak ingin mengatakannya. Gengsi—mungkin.

Dan setiap kali Jongin menggodanya, rasanya ia ingin menangis. Ia selalu berpikir, kapan Jongin memperlakukannya seperti Luhan?

Apa ini namanya cemburu?

Kyungsoo harus bisa menyimpan perasaannya sendiri, itulah yang selalu ia pikirkan.

Tuh, memikirkannya saja membuat air mata Kyungsoo jatuh berlinangan. Buru-buru ia menghapus air mata yang mengalir dipipinya, takut ada orang yang tiba-tiba masuk. Ia menarik nafas dalam lalu menghembuskannya. Ia merogoh saku blazzernya, mengambil saputangan dan mengusapnya ke bagian wajah. Berharap kalau wajahnya tidak berubah sama sekali.

.

.

Kyungsoo segera keluar dari toilet setelah dirasa semuanya membaik. Ia menghadap ke depan, dan tepat saat itu juga ia tersentak. Tubuhnya menegang. Ia mundur beberapa langkah. Ada Jongin yang sedang bersandar di tembok, tangannya melipat didepan dada. Mata elangnya menatap Kyungsoo tajam.

Ia berjalan mendekat pada Kyungsoo.

"Mau apa kau?" Kyungsoo berdiri tegak. Ia tak boleh menunjukkan sisi lemahnya pada Jongin. Tidak boleh!

"Hanya ingin mencari tahu, sebenarnya apa yang dilakukan seorang gadis sepertimu saat di toilet. Mengapa lama sekali?" Jongin berucap dengan datar. Kyungsoo memicingkan matanya.

"Memangnya itu urusanmu?"

"Tidak sih. Tapi, yaa.. sepertinya aku tahu,"

Kyungsoo menghirup nafas dalam-dalam, "Apa yang kau tahu?"

"Ck, gadis sepertimu pasti senang berdandan didalam toilet, membuat penampilanmu semenarik mungkin. Untuk siapa itu..? Kris ya? Si kapten basket. Dan yaa, mungkin kau hanya terlihat polos dari luar saja, tapi dari dalam siapa yang—" PLAAK.

Jongin memegangi pipi kirinya, ia menatap Kyungsoo tak percaya. Sejenak ia tertegun melihat airmata yang mengalir dari kedua pipi Kyungsoo. "Kau.. memang mengerikan, Kim Jongin!"

Kyungsoo langsung saja meninggalkan Jongin. Jongin membeku. Entah mengapa tamparan Kyungsoo bukan mengena di pipi melainkan—hatinya?

Hatinya yang sakit. Hatinya yang terluka. Hatinya yang tak kuasa melihat airmata Kyungsoo. Hatinya yang bodoh karena ragu untuk mengejar Kyungsoo.

Ck, Kim Jongin memang bodoh.

.

.

.

TBC

2014-08-04

14045 : hihi, iyaa sama~~ ne ini udah dilanjut~ makasih reviewnya yaa ^^

Kaisoo32 : haha, iyaa ini udah lanjut, fast-up ga ya kira"? haha makasih reviewnya ^^

9394loves : hoho, iyaa masih love/? :v panggil han aja juga gapapa, dripada dipanggil thor -_-" haha, masa sih? Iyaa ini udah fast-up ^^ makasih reviewnyaa~

Yixingcom : wkwk, males ga males sih, soalnya si lulu juga jadi korban penistaan/? Disini :v haha iyaa? Kita sama *toss

.16 : haha annyeong *pungutin bunga :v tau tuuh si kkamjong udah ngambil keputusan begitu aja :v iyaa silahkan~~

kimhyera96 : wkwk, yaa mungkin aku bikin jongin disini anak nakal yg labil/? *itu pan lu Han -_-* haha, iyaa dong harus setuju kalo si lulu jadi third person :v makasih reviewnya yaa ^o^

: iyaa ini udah apdeet :v

kyuracho : iyaa udaaah ^^

doaddict : tau arahnya? Arah apa? arah cinta mereka? wkwk oke! ^^

exindria : haha, pacaran ga yaa? Entahlah :v tergantung gimana jalan dri otak aku aja /plakk okeee ^^

.

.

Huhu, ini chap 3nya, gimana? Makin aneh ya? ga seru?

Hueee, aku cuma nulis jalan cerita yang ada diotak aku aja wkwk, maap kalo banyak typo soalnya no edit :v

Makasih buat yang udah ngereview, ngefav, ngefoll, aku seneng, buat siders yg udah baca juga makasih, soalnya udah nyempetin baca epep buta/? ini :v

BIG THANKS to :

DO Bitches. exindria. Kimhyera96. kyle. abcd. wanny. 14045. Kaisoo32. 9394loves. Yixingcom. .16. . kyuracho. Doaddict.

Boleh minta kritik dan saran?

Mind to review?

.

Xoxo,

Han..