Preview Chapter 3

.

.

"Tidak sih. Tapi, yaa.. sepertinya aku tahu,"

Kyungsoo menghirup nafas dalam-dalam, "Apa yang kau tahu?"

"Ck, gadis sepertimu pasti senang berdandan didalam toilet, membuat penampilanmu semenarik mungkin. Untuk siapa itu..? Kris ya? Si kapten basket. Dan yaa, mungkin kau hanya terlihat polos dari luar saja, tapi dari dalam siapa yang—" PLAAK.

Jongin memegangi pipi kirinya, ia menatap Kyungsoo tak percaya. Sejenak ia tertegun melihat airmata yang mengalir dari kedua pipi Kyungsoo. "Kau.. memang mengerikan, Kim Jongin!"

Kyungsoo langsung saja meninggalkan Jongin. Jongin membeku. Entah mengapa tamparan Kyungsoo bukan mengena di pipi melainkan—hatinya?

Hatinya yang sakit. Hatinya yang terluka. Hatinya yang tak kuasa melihat airmata Kyungsoo. Hatinya yang bodoh karena ragu untuk mengejar Kyungsoo.

Ck, Kim Jongin memang bodoh.

.

.

Destiny

Copyright © August 2014

By Han

.

Cast :

Kim Jongin—Do Kyungsoo—Oh Sehun—Xi Luhan—Byun Baekhyun—Park Chanyeol—Kris.

This is KaiSoo pairing

Drama—School-life—AU—Hurt/Comfort.

Teen

Lenght of Chapter

WARNING :

Typo(s)—No Copas—No Plagiarsm—No Bash—GS/Cross Gender for Uke.

Don't Like—Don't Read.

.

.

Chapter 4

.

.

Setelah beberapa detik terpaku pada posisinya, Jongin segera berbalik. Ia berlari, sekuat dan secepat yang ia bisa. Dadanya begitu bergemuruh menahan emosi. Ia kembali ke dalam lapangan, arah pandangannya tertuju pada Baekhyun yang sedang menarik tangan seorang gadis yang memiliki postur hampir sama dengannya. Jongin tahu itu siapa, ia kembali melanjutkan larinya. Ditariknya tangan itu, membuat si pemilik tangan menatapnya nyalang. Jongin sunguh tak kuasa saat bertatapan dengan mata yang penuh linangan airmata itu.

"Lepaskan!"

"Tidak!"

"Lepaskan aku bilang!"

"Tidak ak—"

"—YA! Kalian berdua ini apa-apaan sih? Jongin! Kau apakan Kyungsoo? Dan Kyungsoo kau belum menjawab pertanyaanku!" sela Baekhyun.

Perdebatan mereka mengundang seluruh murid yang ada didalam lapangan untuk menatap mereka. Dan dari mereka bertiga tidak ada yang peduli dengan tatapan aneh orang-orang yang disana.

"Baek, aku mohon.. lepaskan aku, jebalyo.." Kyungsoo menatap Baekhyun sendu. Baekhyun terpaku, genggaman tangannya terlepas. Kyungsoo tidak pernah memohon sampai seperti ini sebelumnya. Dan satu lagi, Baekhyun jarang melihat Kyungsoo menangis hingga seperti ini—wajah memerah, mata sayu dan sembab.

Sekali lagi, Kyungsoo menatap Jongin dengan tatapan penuh benci. Segera dihentakkan tangan Jongin. Dan Kyungsoo berhasil melepaskan genggaman tangan Jongin darinya. Kali ini, ia gunakan kesempatan itu untuk berlari—menjauh meninggalkan lapangan.

Jongin yang sempat terpaku kembali mengejar Kyungsoo, namun langkahnya terhenti saat seorang bertubuh tinggi menghadangnya.

"Apa yang kau lakukan padanya?" desisnya tajam. Jongin memicingkan mata, ia tak suka ada yang ikut campur urusannya. Apalagi orang itu adalah Kris.

"Bukan. Urusanmu. Kris. Sunbae!" ucap Jongin penuh dengan penekanan.

"Segala sesuatu yang menyangkut Kyungsoo adalah urusanku," berbeda dengan Jongin. Kris jauh lebih mampu mengendalikan emosinya. Ia menatap datar ke Jongin.

"Memang Kyungsoo siapamu, hah?"

Jongin hampir menarik leher kaos yang dikenakan Kris kalau saja Sehun tidak datang mencegahnya, "Ya! Tenangkan dirimu, Jongin!" bentak Sehun. Jongin juga menatap Sehun penuh amarah. Emosinya benar-benar tidak stabil.

"Diam kau Sehun!" Jongin mendorong kasar beberapa orang yang melingkupnya termasuk Sehun dan Kris. Kris hanya terdorong ke belakang, sedangkan Sehun hingga jatuh terduduk—mengingat kondisi kesehatan Sehun memang sedang tidak baik. Luhan buru-buru berlari mengejar Jongin, menarik tangan pria itu. Jongin berbalik, hampir saja ia melayangkan tangannya, namun segalanya terhenti. Luhan menatapanya penuh pertanyaan.

"Noona, aku mohon jangan ikut campur. Aku tidak ingin menyakitimu," jelasnya. Ia melepaskan tangan Luhan yang menggenggamnya perlahan. Segera ia berlari menyusul Kyungsoo.

.

.

Jongin memukul tembok yang ada disisinya. Tembok yang tidak bersalah itu menjadi pelampiasan kekesalannya. Berkali-kali ia melayangkan tinjunya, hingga tembok tersebut menyisakan bercak kemerahan. Bercak kemerahan yang berasal dari buku-buku jari Jongin—darah.

"Argh! Sial! Aku tak tahu harus kemana mencarinya! Aku sudah mengitari gedung ini tapi tetap tidak ada..! Aaarggh!"

Tubuh Jongin bersandar pada tembok. Dilihatnya jendela yang basah karena air hujan. Jongin menitikkan airmata, perkataannya tadi kembali terngiang dibenaknya.

"Tunggu, masih ada satu tempat lagi. Ya! Atap!" Jongin langsung saja berlari, menyusuri lorong yang sepi. Hanya suara gemuruh hujan yang terdengar serta petir bersahutan di luar sana. Jongin menulikan indra pendengarannya, ia hanya mempertajam fungsi hatinya saat ini.

Jongin mendorong pintu besi penghubung atap. Ia melemparkan tatapannya ke seluruh sudut. Hanya rintikan air hujan yang terlihat semakin deras. Jongin berjalan gontai menuju pagar pembatas. Membiarkan air hujan membasahi seluruh pakaiannya. Cairan bening dari pelupuk matanya juga ikut menetes. Ini pertama kalinya ia meneteskan airmata setelah beberapa tahun lalu—lebih tepatnya umur lima tahun saat ia berebut mainan dengan Sehun.

Jongin memejamkan matanya, meresapi air hujan yang jatuh menimpa kepalanya. Sejenak ia kembali membuka matanya. Ia menoleh ke bawah, hanya lapangan besar yang terlihat. Seketika ingatan saat ia mencelakai Kyungsoo berkelebat. Dia memang sudah keterlaluan. Dan benar kata Kyungsoo, dia memang mengerikan.

Otak Jongin mulai berputar—berpikir. Bukankah ini di atap? Gedung sekolah ini terdiri 4 lantai, cukup tinggi untuk melihat sekitarnya dari sini. Jongin segera mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru yang ada dibawahnya. Ia menoleh ke kiri, tak ada apapun. Matanya menyusuri gang-gang kecil, ia terpaku saat sosok yang dicarinya sedang berlari dibawah guyuran air hujan—sama seperti dirinya. Tak pikir panjang lagi, Jongin segera turun ke lantai dasar dan mengikuti arah yang dilihatnya tadi. Ia harus menemukan Kyungsoo. Ya, harus!

.

###

.

Kyungsoo berlari dibawah guyuran air hujan. Tak dipedulikannya air yang jatuh menusuk ke kulitnya, hanya dingin yang menembus tulang-belulangnya, bahkan petir yang tampak samar ingin menyambar tubuh mungilnya. Kyungsoo tak peduli. Ia begitu terluka atas pemikiran Jongin terhadapnya. Begitukah dirinya dimata Jongin? Seburuk itukah?

Air mata Kyungsoo tak henti-hentinya mengalir. Ini benar-benar menyakitkan. Sungguh bukan hanya hatinya yang sakit, tubuhnya pun saat ini telah lelah. Jujur saja, Kyungsoo tidak bisa kedinginan. Sudah dipastikan esok hari ia akan sakit, ya sebenarnya ia justru bersyukur karena ia nantinya tidak akan bertemu dengan Jongin.

Langkah Kyungsoo terhenti saat tangannya di genggam oleh seseorang. Orang itu membawa Kyungsoo ke dalam dekapannya. Jantung Kyungsoo memacu lebih cepat. Pakaian yang dikenakannya sama-sama basah, Kyungsoo berusaha melepaskan pelukan itu dengan cara mendorong dada orang yang memeluknya.

"Mau apa lagi kau, hah?!" Kyungsoo berteriak di wajah orang itu.

"Kyungsoo-sunbae, maafkan aku.."

"Aku tak butuh maafmu Jongin, aku ingin kau pergi dari kehidupanku! Hidupku yang tenang langsung berantakan hanya karenamu! PERGI!"

Kyungsoo berteriak tanpa menatap Jongin. Ya, Jongin-lah yang memeluk Kyungsoo, Jongin-lah yang mengejarnya. Jongin-lah yang—menyakitinya.

Jongin memegang kedua bahu Kyungsoo, mengisyaratkan agar Kyungsoo menatapnya. Namun, semakin kuat cengkraman dibahu Kyungsoo maka semakin enggan pula Kyungsoo menatap Jongin.

"Aku benar-benar minta maaf sunbae," Jongin berkata lirih, Kyungsoo menggelengkan kepalanya. "aku tak bermaksud mengatakan hal itu, sungguh! Aku hanya.. aku—"

"—Bodoh! Kau bodoh! Kau telah menyakitiku, aku tidak akan pernah memaafkanmu. Tidak akan! Aku memben—"—CHUP.

Mata Kyungsoo terbelalak saat bibir Jongin menempel tepat di bibirnya. Berbeda dengan Jongin, ia berusaha untuk tidak melihat raut wajah yang Kyungsoo tunjukkan, jadi ia memilih untuk memejamkan matanya. Hanya sekedar menempel namun detak jantung yang sama-sama berpacu lebih cepat tak bisa membohongi apa yang dia rasakan. Ya, Jongin merasakannya. Kyungsoo pun sama, ia justru semakin merasakannya. Ini adalah perasaan—Cinta.

BUGH—Jongin tersungkur ke permukaan. Sudut bibirnya ngilu saat hantaman keras mengenainya telak. Di lihatnya Kyungsoo kini sudah ada didekapan pria lain. Jujur saja itu membuatnya menggeram. Jongin bangkit, ia ingin mengambil Kyungsoo kembali. Tak peduli siapa yang mendekapnya ini.

"Oppa.." Kyungsoo menatap Kris—pria yang mendekapnya. Tubuh mereka basah kuyup. Kris menatap nyalang Jongin, langsung saja ditepisnya tangan Jongin yang berusaha mengambil Kyungsoo. Langsung saja dilayangkan kembali tinjunya mengenai wajah Jongin. "OPPA! Sudah..!" Kyungsoo segera menarik lengan Kris untuk menjauh dari Jongin. Ia tak berani menatap Jongin, separuh hatinya merasa bersalah karena pria itu telah dipukuli Kris, namun separuh hatinya yang lain merasa kalau ia sedang dipermainkan oleh bocah kecil ini.

"Kita pulang. Kau masih ingat kondisi tubuhmu yang tidak bisa kedinginan, 'kan?"

Kris menangkupkan kedua tangannya pada sisi wajah Kyungsoo. Kyungsoo mengangguk, ia mengerti. Kris terlihat memejamkan matanya, ia sangat terluka saat ini. Gadis yang sangat dicintainya, gadis yang selalu dijaganya dari pria lain, pria lain ini berhasil mengambil ciuman dari Kyungsoo. Namun, Kris segera meredakan emosinya, ia tidak bisa bersikap kasar pada Kyungsoo, Kyungsoo terlalu rapuh untuk disakiti. Kris berusaha menyunggingkan senyumannya yang malah terlihat aneh bagi Kyungsoo.

Tanpa mempedulikan Jongin yang tengah menatap mereka, mereka berjalan meninggalkan Jongin yang memukul-mukul permukaan air.

.

###

.

Kyungsoo merasakan tubuhnya lemas, badannya juga terasa sangat panas, namun ketika ia menyibakkan selimutnya, dingin langsung menyergap masuk ke tubuhnya. Kyungsoo merapatkan lagi selimutnya. Kepalanya terasa sangat pusing. Ia berusaha mengambil ponsel yang ada di atas nakas. Melihat pukul berapa sekarang, sudah pukul setengah 7 pagi, berarti ia akan terlambat.

Dengan badan yang lemas ia mencoba untuk bangkit dari kasurnya. Berusaha untuk tidak mempedulikan rasa sakit yang menyerang kepalanya. Sangat nyeri. Kyungsoo memegang kepalanya yang kembali berdenyut.

"YA! Apa yang ingin kau lakukan?" Kyungsoo mendengar samar suara sang ibu.

"Bu, aku terlambat," katanya lesu. Ibunya mendesah, segera dibawa kembali putrinya ke tempat tidur.

"Hari ini kau tidak sekolah. Kau sakit, sayang."

"Tapi, Bu.."

"Tidak ada tapi-tapian, tak masuk sehari tidak akan membuat nilaimu turun, sayang. Jadi istirahatlah,"

"Ne, siapa yang mengantarku pulang, Bu?"

"Tentu saja Kris, memangnya siapa lagi?"

Kyungsoo terdiam. Kenapa ia malah teringat Jongin? "—ah ya,"

"Sudahlah, kau jadi melantur begini. Istirahat dulu, ibu akan membawakan makanan dan obat," Kyungsoo mengangguk, dan setelah itu ibunya keluar dari kamarnya.

Kyungsoo menatap langit-langit kamar dengan mata sayu. Di sentuhnya permukaan bibirnya sendiri. Masih sangat terasa disana bagaimana Jongin menciumnya. Meskipun hanya sekedar menempel tapi begitu melekat. Ya tentu saja, itu adalah ciuman pertamanya. Ciuman pertamanya dan itu ia dapatkan dari cinta pertamanya juga.

Oh, apakah Kyungsoo harus senang sekarang?

Kyungsoo menggeleng. Ini memang dari cinta pertamanya, namun bukan dari orang yang mencintainya. Air mata Kyungsoo perlahan mengalir. Hatinya teramat sakit mengingat semua itu.

"Aku akan melupakan perasaan ini, sebelum perasaan ini menghancurkan diriku sendiri," gumamnya.

.

###

.

Jongin menghela nafas panjang, kakinya benar-benar gatal sekarang. Ia sudah berdiri didepan kelas Baekhyun sekarang—tepat saat bel pulang berbunyi. Ia telah mendengar kabar bahwa Kyungsoo tidak masuk—katanya sakit. Dan kabar itu membuatnya sangat khawatir.

Ia melihat Baekhyun keluar dari kelas, segera di kejarnya Baekhyun yang berjalan bersama Chanyeol—seniornya di klub basket.

"Baekhyun-sunbae..!" Baekhyun terus berjalan, entah tidak mendengar atau memang sengaja tidak mendengar, "Sunbaenim!" teriak Jongin sekali lagi, dan sekarang hanya Chanyeol yang berbalik.

"Ada apa, Jongin-ssi?"

"Eoh, Chanyeol-sunbae, aku ingin bicara sebentar dengan Baekhyun-sunbae, bisakah?" Chanyeol melirik sebentar ke arah Baekhyun. Setelah itu ia tersenyum miris dan menggeleng.

"Kenapa?"

"Karena kau menyakiti sahabatku," ucap Baekhyun dengan nada dingin, tanpa berbalik. Jujur, Jongin tidak suka mendengar suara Baekhyun yang begini. Lebih baik ia dimaki-maki oleh Baekhyun daripada harus seperti ini.

"Soal itu.. aku minta maaf,"

"Semudah itu kau meminta maaf? Setelah membuatnya menangis hingga seperti itu, dan memohon padaku, apa semudah itu?"

"Sunbae,"

"Aku memang tidak tahu masalah kalian. Tapi, sekarang, bukan Kyungsoo yang memohon, melainkan aku.. Byun Baekhyun memohon padamu, Kim Jongin. Jauhi sahabatku—Kyungsoo. Dia tidak pantas untuk disakiti, apalagi olehmu.."

Baekhyun menarik lengan Chanyeol. Chanyeol tersenyum sekilas pada Jongin, lalu dirangkulnya Baekhyun. Jongin bisa melihat bahwa tubuh Baekhyun bergetar.

Apa dia begitu jahat?

.

.

Jongin berjalan gontai menyusuri lorong sekolah. Sudah sepi, tapi tak ada niatan untuknya meninggalkan sekolah. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. Jongin menoleh, ia melihat Luhan yang sekarang tersenyum manis. Jongin juga hampir menyakiti Luhan, orang yang disukainya. Luhan mengamit tangan kanan Jongin yang diperban.

"Apa yang terjadi?" tanyanya, Jongin menggeleng dan berusaha untuk tersenyum didepan gadis manis ini.

"Tidak ada,"

"Jongin.." Jongin menoleh, tepat saat itu Jongin mendapatkan kecupan dibibirnya. "..maaf tapi, aku menyukaimu.."

"Noona?"

"Tapi aku tahu, hatimu untuk siapa,"

Jongin terdiam, "Maksud noona? Aku juga menyukai noona,"

"Benarkah?"

"Ya, saat pertama kali melihatmu,"

Luhan memegang sebelah pipi Jongin, tersenyum perih. "Kau memang jujur padaku, tapi kau bohong pada hatimu sendiri."

"Maksud, noona?"

"Aku sudah melihatnya kemarin,"

Jongin terdiam. Kemarin? Kemarin?—Kyungsoo.

"Ya, aku berbohong pada hatiku,"

"Mulai sekarang jujurlah sebelum semuanya terlambat,"

Jongin menatap Luhan, sepertinya ia kembali menyakiti orang lagi, "Aku tidak kau sakiti, Jongin.." jawab Luhan seakan mampu membaca pikiran Jongin.

"Maafkan aku,"

"Bukan salahmu, jadi semangatlah.." Luhan menepuk kepala Jongin beberapa kali. Jongin tersenyum lega, masalahnya seakan terpecahkan satu-per-satu.

"Terimakasih, noona.."

.

###

.

Kyungsoo saat ini sedang menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Sudah dua hari ia tidak masuk. Sudah dua hari berturut-turut pula Baekhyun menemani Kyungsoo dikamarnya setiap pulang sekolah. sebenarnya bukan hanya Baekhyun, tapi Kris dan juga Chanyeol. Kedua pria itu memilih untuk menghabiskan waktu mereka menunggu diruang tamu. Mengobrol-ngobrol kecil. Dan sekarang kembali lagi ke Baekhyun dan Kyungsoo yang ada dikamarnya.

Ibu Kyungsoo masuk dengan membawakan nampan berisi buah-buahan. Baekhyun tersenyum sekilas pada ibu Kyungsoo, sedangkan Kyungsoo hanya mengerucutkan bibirnya ketika mata sang ibu menatapnya.

"Ini yang tidak ibu suka saat kau sakit.." ibu Kyungsoo meletakkan nampan itu ke atas nakas, ".. kau akan sembuh lama, padahal hanya demam," celoteh ibunya.

Baekhyun hanya tersenyum geli, "bersyukurlah karena teman-temanmu masih ingin menemanimu saat kau sakit," tambahnya.

"Ibu.."

"Ibu keluar dulu ya Baekhyun, jaga anak manja satu itu,"

"YA!"

"Ne, ibu.. aku akan menjaga anak ini," Baekhyun melirik Kyungsoo dengan wajah meledek. Kyungsoo memalingkan wajahnya ke arah lain.

Sepeninggal ibu Kyungsoo keluar, Baekhyun mengambil satu buah jeruk dan mengupasnya. "Baek, biar aku saja," Kyungsoo mencoba untuk mengambil jeruk yanga da ditangan Baekhyun.

"Aniya, biar aku yang mengupaskannya untukmu. Lagipula, banyak sekali pertanyaan yang berputar di otakku dari kemarin."

"Oh? Apa?"

Baekhyun menarik nafas dalam-dalam, ditatapnya Kyungsoo. "Kemarin Jongin mencarimu, bahkan bukan hanya kemarin, sampai hari ini pun ia mencarimu.."

Kyungsoo terpaku, hatinya berkecamuk. Namun, ia memilih untuk mendengarkan apa yang Baekhyun katakan, "..aku tak mengerti mengapa ia mencarimu sampai begitu, padahal aku sudah berkata ketus padanya. Tapi, tetap saja ia dengan gigih menanyakanmu,"

"Lalu?"

"Aku ingin tahu, sebenarnya apa masalahmu dengannya?"

"Aku tidak tahu, Baek.."

"Jujurlah, Kyungsoo.."

"Aku sudah jujur, aku sendiri tak tahu. Aku tak mengerti, ia mengatakan hal buruk tentangku. Ia selalu mencari masalah denganku. Dan lagi, ia telah membuat hatiku hanya terpaku padanya.."

Baekhyun reflek menatap Kyungsoo, seakan mencari kebohongan yang tercipta dari sepasang manik mata bulat itu. "Kau jujur..?"

"Tentu saja, apa aku bisa berbohong padamu? Aku.. jatuh cinta padanya, tapi dia tidak mencintaiku, ia mencintai Luhan."

"Jangan berkata aneh-aneh, bagaimana kau tahu Jongin mencintai Luhan?"

Kyungsoo tersenyum, "perasaanku telah tumbuh lama, Baek. Aku terus mengamatinya,"

"Memang sih Jongin selalu bersama dengan Luhan, tapi bukan berarti ia mencintai Luhan, mungkin saja ia merasakan hal yang sama denganmu. Buktinya ia selalu mencarimu,"

Sekali lagi, Kyungsoo tersenyum. "ia hanya ingin meminta maaf padaku karena telah memperlakukanku dengan buruk kemarin-kemarin. Aku.. sudah tak ingin berharap lagi padanya."

"Apa? Kau menyerah...?"

"Sepertinya, dan aku akan membuka hatiku untuk oranglain,"

"Untuk Kris-oppa? Kau ingin menjadikannya pelampiasanmu. Kyung?!" nada suara Baekhyun agak meninggi,

"Aku tidak bermaksud begitu,"

"Tapi itulah yang ku tangkap dari ucapanmu,"

"Baek.."

"Kris-oppa orang yang baik. Kau juga orang yang baik. Dia tak pantas kau sakiti, dan kau tak pantas untuk menyakiti, Kyung.."

"Lalu aku harus bagaimana?"

Kyungsoo menatap Baekhyun, berharap mendapatkan penjelasan dari sahabatnya itu. Baekhyun menggeleng, bahunya terangkat. "Aku juga tidak tahu, ini rumit. Tapi, hanya satu pesanku, jujurlah pada dirimu sendiri termasuk hatimu." Jelas Baekhyun.

Kyungsoo menarik nafas dalam-dalam, mereka terdiam cukup lama.

"Huh, Jongin beruntung juga dapat dicintai olehmu," celetuknya dengan gumaman.

"Ck, apa yang kau bicarakan, eoh?"

"Tidak ada,"

.

###

.

"Aku tadi melihat Kyungsoo, sepertinya dia sudah masuk sekolah,"

"Iya, tapi dia bersama dengan kepala sekolah, ahh maksudku mereka satu mobil."

"Hmm, apa maksudnya ya? Kenapa bisa Kyungsoo bersama kepala sekolah? apa jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi?"

Tiba-tiba seseorang menggebrak mejanya, beberapa gadis yang sedang bergosip itu langsung menoleh ke seorang gadis yang menatap mereka penuh kekesalan.

"Memangnya kenapa kalau Kyungsoo bersama kepala sekolah?"

"Eo? Baekhyun, kenapa kau marah-marah?" tanya salah seorang gadis yang ada disana,

"Tentu saja, karena kalian tidak pernah bisa berhenti bergosip,"

"Memangnya itu urusanmu?"

"Kyungsoo itu sahabatku, tentu saja itu menjadi urusanku." Baekhyun menatap mereka datar, "..lagipula, apa salahnya Kyungsoo berangkat bersama ayahnya sendiri?"

Baekhyun menaikkan bahunya dan kembali duduk. Tanpa melihat ke arah gadis-gadis itu, Baekhyun yakin wajah mereka terkejut bercampur pucat.

"..J-Jadi Kyungsoo anak kepala sekolah?" bisik mereka takut terdengar oleh Baekhyun.

"Wah, aku benar-benar tak menyangka,"

.

.

Dengan langkah riang, Baekhyun memasuki area kantin, Chanyeol berjalan di sampingnya tapi tidak ikut-ikutan Baekhyun—berjalan dengan riang. Mendekat ke arah meja yang sudah di isi dua orang yaitu Kyungsoo dan Kris. Baekhyun tersenyum sumringah ketika dirinya sampai disana. Segera ditariknya Chanyeol untuk duduk disampingnya. Kyungsoo menaikkan sebelah alisnya tanda bingung, sedangkan Kris hanya menggelengkan kepalanya. Tak berniat untuk bertanya apa yang terjadi pada Baekhyun. Namun, Kyungsoo tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.

"Apa yang terjadi, Baek?"

"Sesuatu yang menakjubkan telah terjadi,"

"Hah? Apa?"

"Kau tidak menyadarinya?"

Kyungsoo spontan menoleh ke sekitarnya, hampir seluruh murid yang ada di kantin menatapnya. Kyungsoo mengerutkan keningnya dan menatap Baekhyun.

"Apa maksudnya? Kenapa mereka menatapku begitu?"

"Masa kau tidak tahu,"

Diam. Kyungsoo berpikir, "apa karena tadi pagi?" pikirnya.

"Tepat sekali."

"Eoh? Memangnya kenapa kalau aku berangkat dengan kepala sekolah?"

"HEI! Kepala sekolah itu ayahmu, Kyung!—ups," Kyungsoo mendelik saat Baekhyun mengucapkan itu keras-keras. Ia menunjukkan cengiran khasnya.

"Kau sengaja ya?"

"Tidak, aku hanya tak suka saja dengan mereka yang berbicara seenaknya, mereka berpikir yang macam-macam tentangmu karena kau berangkat bersama kepala sekolah,"

Kyungsoo mendesah pasrah, "Lalu, kenapa kau melakukannya?"

"Ya entahlah aku senang saja. Hei, itu kan ayahmu memangnya kenapa kalau seluruh murid tahu?"

"Kau tahu, imageku disekolah itu seperti apa, Baek. Mereka semua takut padaku, mereka semua segan padaku karena aku anggota kedisiplinan yang tak mentolelir apapun yang bersalah," Baekhyun mengangguk, "..kalau sampai anak-anak tahu, mereka pasti akan berpikir aku melakukan ini karena suruhan ayahku, padahal nyatanya tidak begitu. Dan juga aku takut mereka berpikir kalau aku menggunakan wewenang ayahku agar menjadikanku bagian dari anggota kedisiplinan. Bagaimana kalau begitu?"

"Cih alasanmu tak dapat aku mengerti. Tidak ada salahnya dengan itu semua, toh kau tidak melakukannya kan?"

Kyungsoo menatap Baekhyun lekat, "Sudahlah, semuanya sudah terjadi. Pantas saja aku merasa diperhatikan dari tadi,"

"Kau memang selalu diperhatikan, Kyung." Celetuk Baekhyun, dagunya mengarah pada seorang pria yang sedang duduk dengan kedua orang lainnya. Tak jauh dari mereka, pria itu terus menatap Kyungsoo. Seakan ingin menjelaskan sesuatu.

"Kenapa kau bicara begitu? Untung, Kris-oppa sedang memesan makanan," Kyungsoo menghembuskan nafasnya. Entahlah, sekarang ia jadi gugup sendiri.

"Lalu kenapa kalau ada Kris-oppa?" Baekhyun menaikkan satu alisnya.

"Tentu saja aku tidak enak padanya,"

"Huh, menggangtungkan perasaannya sampai lima tahun saja kau biasa saja. Sedangkan sekarang?"

"Kau tidak tahu yang sebenarnya terjadi, Baek.." gumam Kyungsoo.

.

.

.

.

TBC

2014-08-09

Huua, maaf aku baru bisa update sekarang –o-

Maaf juga kalo ceritanya semakin ga jelas, aku bener-bener minta maaf. Aku gatau ini klimaks atau nggak, tapi yang pasti chapter selanjutnya akan ada sesuatu yang heboh, wkwk /apasih -_-

Makasih yang udah sempet ngereview, aku seneng ^^

Kaisoo32: hoho, sekarang jadi low-up yaa :3 maap yaa, makasih udah review ^^

Park Ri Rin : haha, iyaa gapapa kok. Makasih udah sempet review. Oh itu, gimana yaa? Haha, aku usahain ^^

Lailatul : iya sama-sama~ duh gimana ya nasibnya? Entahlah, wkwk. Iyaa ini udah lanjut ^^

Atinaa : haha, iyaa ini udah lanjuut ^^

No name : jongin ga amnesia kok, iya ini udah lanjuut ^^

Wanny : ya so pasti ini KaiSoo dong. Haha, insyaallah ada~ ^^ sadis amat pen temsek menderita xD

Kyle : iya tuh PHP -_- wkwk

9394loves : haaa iyaa jan sedih dong, huuhu, tapi ini chap ini low-update yaa -_- maap ^^

Exindria : haha, makasih~ ^^

KyuraCho : hoho, iyaa ini udah lanjuuut ^^

Kimhyera96 : sehun sama aku xD yaa sepertinya sih nambah, liat aja nanti /ketawa nista/ makasih udah review ^^

Kyunginsoo : makasih ^^

Kyungie Baby : haha, iyaa makasih, makasih udah review ^^

Nagisaanjani : iyaa makasih ^^

Kim Kyungmin : gapapa kok, ini udah dilanjut ^^

Desta Soo : haha, ne bangapta, Desta~ hhoho, siapa yaa takdir jongin? :v haha iyaa ini udah update ^^

.

BIG THANKS to :

DO Bitches. exindria. Kimhyera96. kyle. abcd. wanny. 14045. Kaisoo32. 9394loves. Yixingcom. Lailatul. . kyuracho. Doaddict. Park Ri Rin. Atinaa. No name. KyuraCho. Kyunginsoo. Kyungie Baby. Nagisaanjani. Kim Kyungmin. Desta Soo

.

Boleh minta kritik dan saran?

Mind to review?

.

Xoxo,

Han..