Preview Chapter 4

.

.

Kyungsoo menatap Baekhyun lekat, "Sudahlah, semuanya sudah terjadi. Pantas saja aku merasa diperhatikan dari tadi,"

"Kau memang selalu diperhatikan, Kyung." Celetuk Baekhyun, dagunya mengarah pada seorang pria yang sedang duduk dengan kedua orang lainnya. Tak jauh dari mereka, pria itu terus menatap Kyungsoo. Seakan ingin menjelaskan sesuatu.

"Kenapa kau bicara begitu? Untung, Kris-oppa sedang memesan makanan," Kyungsoo menghembuskan nafasnya. Entahlah, sekarang ia jadi gugup sendiri.

"Lalu kenapa kalau ada Kris-oppa?" Baekhyun menaikkan satu alisnya.

"Tentu saja aku tidak enak padanya,"

"Huh, menggangtungkan perasaannya sampai lima tahun saja kau biasa saja. Sedangkan sekarang?"

"Kau tidak tahu yang sebenarnya terjadi, Baek.." gumam Kyungsoo.

.

.

Destiny

Copyright © August 2014

By Han

.

Cast :

Kim Jongin—Do Kyungsoo—Kim Ryeowook—Oh Sehun—Xi Luhan—Byun Baekhyun—Park Chanyeol—Kris—Sungjae.

This is KaiSoo pairing

Drama—School-life—AU—Hurt/Comfort.

Teen

Lenght of Chapter

WARNING :

Typo(s)—No Copas—No Plagiarsm—No Bash—GS/Cross Gender for Uke.

Don't Like—Don't Read.

.

.

Chapter 5

.

.

Jongin mengitari lapangan sudah hampir 10 kali. Selama putaran itu pula, ia terus saja melihat ke arah kursi penonton. Nafasnya terengah-engah, ia berhenti dan memegang lututnya sendiri. Ada rasa sesal dan kesal yang merasuk kedalam hatinya. Jongin tidak melihat gadis itu, gadis itu tidak datang ke latihan terakhir basket mereka. Jongin menghela nafas.

"YA! Kim Jongin! Apa yang kau lakukan disana? Cepat berbaris disini," Jongin berlari menghampiri teman-temannya, ia membungkukkan badannya tanda minta maaf. Ia berdiri disamping Sehun, sahabatnya itu reflek menyenggol lengan Jongin.

"Kau kenapa? Lusa kita sudah pertandingan,"

"Aku tidak tahu. Oh iya, aku hampir lupa," jawab Jongin. Sehun menyipitkan matanya, Jongin tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ah, pasti gara-gara Kyungsoo.

"Apapun yang terjadi, kau harus melakukan yang terbaik untuk sekolah kita ini,"

"Aku tahu,"

"Apa kau juga tahu, siapa lawan kita?"

Jongin menarik nafas, " siapapun lawannya, kita pasti bisa mengalahkan mereka."

"Bahkan, kalau itu musuhmu sendiri? Apa kau yakin?"

"Maksudmu?" Jongin menoleh tanda tak mengerti.

"Sungjae, musuhmu di trek."

Rahang Jongin hampir saja copot dari tempatnya. Baru saja, Jongin ingin melontarkan beberapa pertanyaan lagi pada sehun, tapi niatnya batal karena Kris telah menatapnya sengit. Memberikan intruksi agar seluruh anggota basket mendengarkannya.

.

.

Jongin duduk dibangku pemain. Ia sedang beristirahat dan hanya melihat teman-temannya dilapangan berlatih. Jongin memutar-mutar tutup botol mineralnya. Ia bosan, berkali-kali ia berbalik ke arah bangku penonton. Sesaat ia melihat Baekhyun yang duduk sendirian, sesekali Baekhyun melirik ponselnya. Jongin beranjak, ia segera menghampiri Baekhyun.

"Sunbae.." panggil Jongin, Baekhyun menoleh. Tatapannya tertuju ke arah lapangan. "Boleh aku duduk?"

"Terserah kau, ini kursi umum,"

"Sunbae, sekali lagi aku minta maaf. Ah, maaf pun tidak cukup. Tapi banyak yang ingin aku tanyakan padamu tentang—"

"Apa yang kau rasakan selama ini?" sela Baekhyun, ia menatap Jongin serius.

"Maksud, sunbae?"

"Apa yang kau rasakan? Disaat Kyungsoo menjauhimu, kami melindunginya, kami tidak ingin dia berhubungan lagi denganmu."

"Kami?"

"Ya. Aku, Kris-oppa dan Chanyeol-oppa."

"Apa aku boleh jujur sekarang?"

"Tentu," Baekhyun menatap Jongin dalam-dalam. Seakan mencari kesungguhan dari pancaran mata Jongin.

"Aku.. jujur saja aku terluka. Aku ingin sekali menjelaskan segalanya pada Kyungsoo-sunbae. Namun melihat kalian begitu menyayanginya dan tidak ingin ia kembali terluka membuatku minder. Aku jadi tidak ingin mendekatinya, tapi semakin aku berusaha untuk menjauhinya, semakin aku merasa bahwa aku membutuhkannya. Aku tidak ingin ia menjauhiku. Aku ingin ia berada didekatku selama apapun itu,"

"Kau mencintainya?" tanya Baekhyun. Bisa ia lihat senyum Jongin agak mengembang.

"Aku ingin orang pertama yang mendengar pernyataan ini adalah Kyungsoo-sunbae,"

Sejenak Baekhyun tertegun. "Lakukanlah, Jongin.."

"Kau tidak melarangku lagi, sunbae?"

Baekhyun menggeleng, "tidak seharusnya aku memisahkan takdir kalian,"

"Terimakasih, sunbae.."

"Oh ya, mulai sekarang kau tidak perlu memanggilku sunbae lagi. Aku sudah menganggapmu adikku sendiri, jadi kau bisa memanggilku noona.."

"Eo? Apa tidak masalah?"

"Tentu saja tidak, memiliki adik sepertimu kurasa tidak buruk, meskipun kenyataannya kau suka mencari masalah,"

Jongin memandang Baekhyun, "sekali lagi terimakasih, noona.."

"Tapi kau harus ingat. Aku tetaplah anggota kedisiplinan, sekalinya kau membuat masalah, aku akan tetap bertindak adil," jelas Baekhyun.

"Aku tahu. Oh ya, apa Kyungsoo-sunbae itu benar-benar anak kepala sekolah?"

"Tentu saja, dia anak satu-satunya. Makanya jangan pernah berani menyakiti Kyungsoo, atau kau akan berurusan langsung dengan kepala sekolah." ancam Baekhyun membuat Jongin bergidik.

"O-Oh, baiklah akan aku usahakan." Gumamnya. Baekhyun tertawa setelahnya dan mengusap kepala Jongin. Membuat mereka saling tertawa bersama.

.

.

Sedangkan ditempat lain, seorang gadis tengah bertipang dagu dengan kedua tangannya. Matanya memperhatikan gerak-gerik pelanggan yang memasuki tokonya. Ugh, sepertinya ia hampir mati kebosanan. Seandainya ibunya mengijinkan ia untuk menonton latihan basket disekolah, mungkin ia tidak akan seperti ini.

"Jaga yang benar, Kyungie. Ibu akan pulang duluan, kau yang akan tutup toko." celetuk ibunya dari belakang.

"Aku tahu, boleh aku tutup tokonya sekarang?"

"Tidak, sebentar lagi,"

"Oh baiklah,"

Kyungsoo menatap ke arah pintu toko, dilihatnya pintu itu terbuka. Menampakkan sosok wanita muda yang sehabis pulang kantor. Ya, begitulah pikir Kyungsoo karena wanita tersebut menggunakan pakaian formal. Wanita itu mendekat ke arah Kyungsoo.

"Annyeong. Ada yang bisa kami bantu?"

"Eoh? Aku ingin membeli kue, kata temanku kue disini terkenal enak," katanya. Kyungsoo tersenyum mendengarnya.

"Terimakasih, lalu kue apa yang anda cari?"

Wanita itu menepuk dahinya sendiri, "aku lupa menanyakan apa nama kuenya. Tapi, aku boleh melihat-lihat sebentar?"

"Tentu saja,"

Wanita itu menganggukkan kepalanya, dan ia jadi bingung sendiri saat melihat penampilan kue yang ada didalam meja kaca.

"Bisa aku membantu, kue jenis apa?"

"Hm, itu sepertinya cokelat. Tapi, ada rasa strawberry didalamnya. Kue itu sangat enak, dan aku menghabiskannya, padahal itu milik adikku.." wanita itu malah curhat didepan Kyungsoo.

"Oh, cokelat? Apa yang seperti ini? Anda bisa melihatnya disini, kue bagian ini berbahan dasar cokelat,"

Wanita itu melihat-lihat kue yang ditunjukkan Kyungsoo, tiba-tiba matanya memicing saat mengenali kue yang terdapat dibagian ujung. "Yang ini.. sepertinya,"

"Yang ini?" Kyungsoo mengeluarkan kue buatannya itu. Sudah terhias dengan rapih berbagai macam buah dan krim diatasnya.

"Ya, tapi waktu itu belum ada buah dan krim diatasnya, masih polos. Boleh aku mencicipinya?"

"Silahkan," Kyungsoo menyodorkan piring kecil dan sendok, serta dipotongkannya kue itu. Wanita itu segera mencicipinya, seketika matanya berbinar cerah.

"Ya ini kue yang aku cari, apa namanya? Dan bagaimana bisa seenak ini?"

"Oh, namanya choco strawberry cake. Terimakasih, ini kue buatanku sendiri,"

"Wah benarkah? Lalu apa adikku membelinya disini ya?"

"Siapa nama adik anda?"

"Kim Jongin, dia adikku.." mata Kyungsoo membulat ketika mendengar nama Jongin disebut. Dia ingat, ia pernah memberikan kue ini pada Jongin, masih belum dihias tampilannya. "..kau mengenalnya?"

"Ya, aku mengenalnya.." Kyungsoo mencoba tersenyum.

"Wahaha, benar-benar beruntung. Apa kau yang memberikan kue ini padanya?"

"I-Iya.." entah mengapa Kyungsoo jadi gugup saat ditatap kakak Jongin seperti ini.

"Cih, pantas saja ia jadi uring-uringan. Yang memberi kue ini sangat manis. Siapa namamu? Namaku, Kim Ryeowook,"

"Oh, aku Do Kyungsoo,"

"Senang berkenalan denganmu Kyungsoo-ie. Kapan-kapan kau harus main ke rumah Jongin,"

"O-oh, tapi hubunganku tidak begitu baik dengan Jongin," jujur Kyungsoo.

"Benarkah? Apa anak itu mencari gara-gara denganmu? Ck, dasar bocah itu!"

"T-Tidak juga,"

"Kalau begitu mainlah ke rumahku sebagai temanku bukan teman Jongin, bagaimana?"

"Akan aku usahakan, eonni."

Ryeowook mencubit pipi Kyungsoo, "wuaah kau benar-benar imut. Baiklah aku pesan kue ini, bungkus yang bagus ya Kyungie,"

"Baiklah, eonni.." ucap Kyungsoo. Ia memejamkan matanya untuk menetralisir kegugupan yang melandanya. "Ini.. terimakasih kunjungannya.."

Kyungsoo membungkuk sopan, dan tersenyum ramah. Ryeowook melambaikan tangannya. Kyungsoo menangkap secarik kertas, ia melihatnya. Dan itu alamat rumah Jongin dan beserta nomor telepon Ryeowook.

Dia benar-benar bisa gila!

.

#

.

Ryeowook pulang ke rumah dengan senyuman mengembang. Berkali-kali ia menggumam nama Kyungsoo dan Jongin. Entahlah apa yang ia pikirkan tapi yang pasti ia ingin sekali menjadikan Kyungsoo sebagai adiknya. Apalagi Kyungsoo pintar membuat kue, sudah dipastikan mereka berdua akan cocok (maksudnya disini adalah Ryeowook dengan Kyungsoo, bukan Jongin dengan Kyungsoo ya!). Ia melihat kedua adiknya—Jongin dan Sehun—sedang duduk didepan ruang keluarga. Ryeowook langsung saja meletakkan kotak yang berisi kue dimeja.

"Apa ini, noona?" tanya Jongin,

"Buka saja, ini yaa.. sebagai permintaan maafku,"

Jongin menaikkan sebelah alisnya, begitupun dengan Sehun. Jongin segera membuak kotak tersebut. Matanya mengerjap berkali-kali saat melihat kue yang belum pernah dicicipinya itu.

"N-Noona beli dimana?" tanya Jongin agak—gugup?

"Di tempat teman baruku. Makanlah, rasanya sangat persis kue yang waktu itu aku dan Sehun habiskan,"

Ryeowook menaikkan kedua bahunya, saat Sehun dan dirinya bertatapan, Sehun hanya mengulas senyum dan Ryeowook mengerling jahil. Ia buru-buru meninggalkan Jongin, Sehun pun memilih untuk meninggalkan Jongin ke dapur, mengambilkannya garpu. Jongin jadi kaku sendiri, saat meneriman garpu yang disodorkan Sehun.

"Selamat menikmati," ucap Sehun, ia kembali meninggalkan Jongin sendiri, beserta kue itu.

Jongin mengangkat garpunya, menusukkannya pada sisi pinggir kue itu. Ia menelan ludah sendiri, dan akhirnya ia memasukkan satu suap ke mulutnya. Tangannya mengambang di udara. Sesuatu yang tajam menikam jantungnya, membuat lubang disana dan rasa sakit yang menjalar disekitarnya. Hawa panas memenuhi dirinya hingga ke pelupuk matanya.

Buru-buru ia bangkit dari sofa, segera diraihnya kunci mobil Sehun yang tergeletak di meja. Tanpa mempedulikan sekitarnya termasuk dua orang yang berdiri tak jauh darinya. Memandang kepergian Jongin dengan suasana campur aduk.

"Jongin benar-benar menyukai gadis itu ya?"

"Menurutku lebih dari sekedar menyukai, noona.."

"Semoga Jongin tidak menyia-nyiakan gadis seperti Kyungsoo.."

"Aku harap juga begitu,"

.

.

Jongin berhenti tepat didepan toko Kyungsoo, tanpa babibu lagi ia langsung turun dari mobil. Lampu toko mulai padam, dan hanya lampu luar yang masih dinyalakan. Dilihatnya seorang gadis keluar dari toko tersebut. Kyungsoo sedang mengunci pintu toko. Jongin pun sudah berdiri tepat dibelakang Kyungsoo. Dan saat Kyungsoo berbalik, mata bulatnya yang memancarkan sinar indah itu terbuka lebar. Jongin dengan mata sayu dan sendunya menatap tepat ke mata Kyungsoo. Ingin sekali ia memeluk Kyungsoo, membawanya ke dekapannya.

Ini pertama kali sejak insiden hujan-hujanan itu mereka berdiri saling berhadapan seperti ini. Jangan salah kalau diantara mereka tidak ada yang dilanda kegugupan. Sekarang bukan hanya Kyungsoo, melainkan Jongin pun merasakan kegugupan yang luar biasa.

Kyungsoo berdeham, "Ada apa, Jongin?"

Hati Jongin seperti ditimpuk bola basket, kenapa Kyungsoo bersikap seolah-olah tak ada yang terjadi antara mereka?

"Kyungsoo-sunbae,"

"Ne?"

Jongin membawa Kyungsoo ke dalam pelukannya. Kyungsoo terkejut bukan main, bisa ia rasakan pelukan Jongin benar-benar erat melingkup tubuhnya. Namun, ia tak bisa membalas pelukan hangat ini. Tangannya diam disisi tubuhnya sendiri. Ya, ini hanyalah pelukan sepihak.

Kyungsoo merasakan bibir Jongin menyentuh puncak kepalanya, seperti disengat listrik. Kaki Kyungsoo seperti tak ada tulangnya, ia lemas. Namun, ia memantapkan hatinya untuk tidak terbuai atas apa yang dilakukan Jongin padanya.

"Maaf," sepatah kata keluar dari mulut Jongin setelah beberapa menit mereka berada diposisi seperti ini.

"Aku juga minta maaf," balas Kyungsoo membuat dahi Jongin mengkerut kebingungan. Jongin melepaskan pelukannya, ditangkupkan kedua tangannya pada sisi wajah Kyungsoo.

Jongin menatap Kyungsoo dalam.

"Kau tidak salah apapun padaku, sunbae.." bisik Jongin didepan wajah Kyungsoo. Kyungsoo menggeleng. Dilepaskannya tangan Jongin dari sisi wajahnya. Ia memberanikan diri untuk balas menatap Jongin.

"Aku salah, Jongin. Sangat salah padamu.. dan pada diriku sendiri," Jongin ingin menyela ucapan Kyungsoo, tapi saat melihat sinar sendu yang terpancar dari sepasang mata orang yang dikasihinya membuat Jongin bungkam seribu bahasa.

Kyungsoo mengambil nafas dalam, "Tidak pernah terpikir olehku akan menaruh harapan besar hatiku, hingga menjatuhkan hatiku padamu. Membuatku seperti orang bodoh yang mengharapkan balasan cinta dari orang yang tidak menyukaiku, haruskah aku bilang orang yang membenciku? Berkali-kali aku merasakan sakit dibagian terdalam hatiku. Bahkan aku tidak menyadari kalau perasaan itu justru menghancurkan diriku sendiri. Namun itu dulu, sebelum aku menyadari segalanya. Jadi aku putuskan untuk mengakhiri perasaan terkutuk ini, aku sudah lelah. Aku sudah cukup menghancurkan diri dan perasaanku sendiri. Aku telah berhenti, berhenti mencintaimu, Kim Jongin. Jadi, aku harap tidak ada lagi kesalahan atau apapun yang mengganggumu dan juga aku,"

Jongin tercengang. Sepasan manik mata itu menatapnya penuh kesungguhan, tanpa ada jejak airmata berlinangan disana. Jongin terpukul telak sekarang.

"Tapi sunbae, aku..."

Kyungsoo menggeleng, "kau tidak perlu mengatakan apapun lagi. Aku tidak membutuhkannya,"

Tiba-tiba suara klakson mobil mengagetkan mereka. Kyungsoo menatap seseorang yang keluar dari mobil. Kyungsoo tersenyum pada pria itu.

"Aku sudah dijemput, aku pulang duluan ya.." Kyungsoo melewati Jongin, seperti gerakan pelan yang ada didrama percintaan, Jongin ikut berbalik perlahan, memandangi kepergian Jongin dengan pria lain. Tangan Jongin mengepal saat melihat Kris—pria itu mengusak kepala Kyungsoo.

Airmata Jongin sudah tak dapat ditahan. Seiring mobil itu melaju, serpihan hati Jongin hancur dan terbawa angin malam.

Ini yang namanya sakit hati, Kim Jongin.

.

.

Kris menatap Kyungsoo sendu. Sejak masuk ke dalam mobilnya ia sama sekali tak menoleh ke depan, ia terus saja menatap keluar jendela yang ada disampingnya. Dari bayangan kaca itu terlihat airmata Kyungsoo yang menetes, berlomba-lomba turun untuk membasahi pipi putih nan bersih Kyungsoo. Kris menarik nafas dalam, ia menepikan mobilnya perlahan. Ia tidak bisa konsentrasi menyetir kalau begini caranya. Kyungsoo menatap Kris setelah menghapus jejak airmatanya.

"Kenapa berhenti, oppa?"

"Airmatamu jatuh disepanjang jalan, sepertinya aku harus memungutinya dulu," canda Kris. Kyungsoo menunduk, Kris menggenggam tangan Kyungsoo. "Apa dia menyakitimu lagi?"

Kyungsoo menggeleng, "Tidak, tapi.. aku,"

"Apa maksudmu?"

"Tidak ada," Kyungsoo menatap Kris dalam, "..oppa, maafkan aku karena selama ini aku menyakitimu. Maksudku selama 5 tahun terakhir aku belum bisa membalas perasaanmu, tapi aku malah memberikan perasaanku pada oranglain,"

Kris tersenyum, diusapnya puncak kepala Kyungsoo. "Aku mengerti, cinta tidak bisa dipaksakan, Kyung. Jadi, kau menyukai Jongin?"

"Sudah tidak ada yang perlu dibahas mengenai Jongin, oppa." Kyungsoo mencoba tersenyum, Kris tahu betul itu adalah senyum palsu.

"Oh ya, lusa oppa dan yang lainnya akan melaksanakan pertandingan basket antar sekolah. Aku pasti akan datang dan mendukungmu, oppa."

"Hanya mendukungku?"

"Dan tim oppa tentunya,"

"Berarti termasuk Jongin?"

"Apa Jongin masuk ke dalam tim oppa? Kalau iya, aku akan bersikap adil saat itu," jawab Kyungsoo membuat Kris tertawa.

"Kau memang benar-benar..."

.

#

.

Jongin tengah mengganti pakaiannya dengan pakaian basket tim-nya. Didalam sana bukan hanya dia, tapi juga beberapa temannya yang lain. Namun saat ini hanya ada dirinya dan juga sang kapten—Kris. Jongin tidak berniat menghindari Kris, tapi setiap melihat Kris, selalu saja membuat sesuatu didalam benaknya meledak-ledak. Seakan mengaktifkan bom yang siap meledak kapan saja. Setelah dirasanya selesai, Jongin segera menutup loker dan beranjak keluar dari ruang ganti. Namun, gerakannya terhenti saat tangan besar menahan lengannya. Jongin berhenti namun tidak berbalik.

"Lakukanlah yang terbaik untuk pertandingan hari ini,"

"Aku tahu,"

"Dan lagi, untuk hari lupakan permasalahan yang terjadi diantara kau, aku dan.. Kyungsoo," mendengar nama Kyungsoo disebut rasanya Jongin ingin melayangkan tinjunya ke wajah—sok—tampan Kris.

"Maaf, mungkin maksudmu permasalahan yang terjadi antara aku dan Kyungsoo, aku pikir tidak ada sangkut pautnya dirimu dalam semua ini,"

Jongin menepis tangan Kris, ia segera keluar dari ruangan itu. Setelah keluar, ia memegang kepalanya sendiri. Ia tak habis pikir, kalau dirinya bisa setertekan ini hanya karena sebuah perasaan yang disebut Cinta.

"Lebih baik aku toilet dulu,"

Berkali-kali Jongin menghela nafas, ia segera membuka pintu toilet. Ia berdiri didepan cermin besar, tanganya memutar kran wastafel. Saat air jerih itu keluar, ia menangkupkan kedua tangannya dan membasuhkannya ke wajah sendiri. Ia benar-benar terlihat berantakan. Padahal hari ini ia akan bertanding dengan musuhnya. Seharusnya ia menyadari dari dulu, kalau pertandingan ini bisa mempertemukan dengan Sungjae. Dan tepat saat salah satu bilik terbuka, Jongin melihat wajah Sungjae dari pantula cermin. Dilihatnya Sungjae menyeringai.

"Wah, ada apa dengan wajahmu Kim Jongin. Lama tidak berjumpa denganmu,"

"Sepertinya kau sudah sangat siap bertanding denganku, Sungjae!"

"Ya tentu saja. Beberapa bulan terakhir ini, aku kesepian karena 'teman'ku bertanding balap mobil tak kelihatan. Ah, ternyata kau dipindahkan ke sekolah ini,"

Jongin mendecih, "Aktingmu buruk sekali untuk orang yang berniat mencelakaiku waktu itu,"

"Ow-ow, apa aku mencelakaimu waktu itu? Bukan aku yang menyalip mobilmu Jongin-ssi. Kau tahu aku selalu berada paling depan, dan aku tidak ingin melihat apa yang ada dibelakangku. Karena bagiku itu pecundang,"

"Ck, sialan kau!"

Jongin segera mendorong Sungjae, mengunci leher Sungjae dengan lengan kanannya. Sungjae tercekat, namun ia berusaha tampil datar. "Hei, tidak usah sekasar ini! Bersikap baiklah padaku, kalau kau tidak ingin terjadi sesuatu pada kekasihmu,"

Jongin terbelalak, kekasih?

"Oh maaf saja, tapi aku tidak punya kekasih."

"Woah, jadi siapa gadis yang waktu itu kau cium saat hujan kalau dia bukan pacarmu?"

Dada Jongin naik-turun saat berhasil mencerna perkataan Sungjae, nafasnya agak tersendat saat memikirkan Kyungsoo.

"Jangan sekali-kali kau menyentuhnya!" Sungjae menyeringai, ditampiknya lengan Jongin.

"Yaa, akan aku usahakan. Tapi, sepertinya gadismu cukup manis, mungkin aku akan memilikinya."

"KAU!"

"Temui aku setelah pertandingan selesai di trek tempat biasa, aku menantangmu balapan, jika tidak. Jangan salahkan aku kalau nanti kekasihmu hancur,"

Jongin terpaku saat ini. Kepalanya dipenuhi oleh nama Kyungsoo, segala apa yang terjadi diantara mereka, semuanya berkelebat dalam sekejap.

"Jangan jadi pecundang, Kim Jongin!" suara terakhir Sungjae sebelum ia menghilang dibalik pintu.

.

#

.

Jongin benar-benar frustasi sekarang, 5 menit menjelang permainan tapi ia belum melihat Kyungsoo dibangku penonton. Padahal Baekhyun dan Luhan sudah duduk disana. Jongin mengacak rambutnya sendiri. Tiba-tiba lengannya disenggol oleh Sehun.

"Kau kenapa?"

"Tidak ad—eo?" Jongin segera berlari menuju pintu masuk saat ia melihat Kyungsoo datang. Sesaat ia terpaku ketika melihat penampilan Kyungsoo yang sangat anggun sore ini. Buru-buru ditariknya lengan Kyungsoo, membuat Kyungsoo menyerngit kebingungan. Namun ia tidak bisa menghindar, jadi ia memilih untuk mengikuti Jongin yang membawanya ke lorong sepi.

"Kau harus kembali pulang sekarang!"

"Mwo?! Kenapa?"

"Pokoknya kau harus pulang. Jangan ada disini,"

"Aku tidak akan pulang! Jangan melarangku, Kim Jongin!"

"Aku mohon! Kau harus pulang,"

"Tidak!"

Baru Jongin ingin memprotes, suara pemberitahuan bahwa pertandingan akan dimulai mengganggunya. Ia menatap Kyungsoo dalam sebelum ia benar-benar menuju lapangan ia berkata, "aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk menimpamu,"

Dan saat itu pula, Kyungsoo terpaku melihat kepergian Jongin.

.

.

.

TBC

Gyahaha, Chapter 5 yang tidak memuaskan ya? aku tahu kok /pundung :3

Dan aku juga tau kalo ini pendek, jadi aku minta maaf karena aku juga nyuri-nyuri/? waktu buat ngetiknya. Akhir-akhir ini aku sibuk banget soalnya, haha. Oh ya, aku masukin Sungjae disini, wkwk aku suka dia meskipun biasku di BtoB itu Ilhoon :D ada yg suka juga sama BtoB? –o-

Eh, banyak yg minta KaiSoo cepet bersatu yaa? Wkwk, aku gatau kapan mau nyatuin mereka, tapi yang pasti mereka harus melewati beberapan rintangan/? dulu kalo pen bersatu, haha.

Satu lagi, mungkin 1-2 chapter lagi, FF ini selesaiiii /yeaah, dan aku punya inspirasi baru, Married Life gitu. Dan yang pasti pairnya KaiSoo dan GS lagi -_-, wkwkwk

Maaf yaaa~ makasih yang udah mau review.. aku sayang banget sama kaliaaaan ^^

Dan maaf aku gabisa bales review kalian satu-satu, yang pasti aku terimakasih banget, nanti kalo sempet aku bales kok ^^

.

BIG THANKS to :

DO Bitches. exindria. Kimhyera96. kyle. abcd. wanny. 14045. Kaisoo32. 9394loves. Yixingcom. Lailatul. . kyuracho. Doaddict. Park Ri Rin. Atinaa. No name. KyuraCho. Kyunginsoo. Kyungie Baby. Nagisaanjani. Kim Kyungmin. Desta Soo. KyungiNoru. Blackwhite1214. Guest. Screen. SuvinaAsantoni. Lady soojung.

.

Boleh minta kritik dan saran?

Mind to review?

.

Xoxo,

Han..