Preview Chapter 5

.

.

"Tidak ad—eo?" Jongin segera berlari menuju pintu masuk saat ia melihat Kyungsoo datang. Sesaat ia terpaku ketika melihat penampilan Kyungsoo yang sangat anggun sore ini. Buru-buru ditariknya lengan Kyungsoo, membuat Kyungsoo menyerngit kebingungan. Namun ia tidak bisa menghindar, jadi ia memilih untuk mengikuti Jongin yang membawanya ke lorong sepi.

"Kau harus kembali pulang sekarang!"

"Mwo?! Kenapa?"

"Pokoknya kau harus pulang. Jangan ada disini,"

"Aku tidak akan pulang! Jangan melarangku, Kim Jongin!"

"Aku mohon! Kau harus pulang,"

"Tidak!"

Baru Jongin ingin memprotes, suara pemberitahuan bahwa pertandingan akan dimulai mengganggunya. Ia menatap Kyungsoo dalam sebelum ia benar-benar menuju lapangan ia berkata, "aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk menimpamu,"

Dan saat itu pula, Kyungsoo terpaku melihat kepergian Jongin.

.

.

Destiny

Copyright © August 2014

By Han

.

Cast :

Kim Jongin—Do Kyungsoo—Kim Ryeowook—Oh Sehun—Xi Luhan—Byun Baekhyun—Park Chanyeol—Kris—Sungjae.

This is KaiSoo pairing

Drama—School-life—AU—Hurt/Comfort.

Teen

Lenght of Chapter

WARNING :

Typo(s)—No Copas—No Plagiarsm—No Bash—GS/Cross Gender for Uke.

Don't Like—Don't Read.

.

.

Chapter 6

.

.

Pertandingan akhirnya dimulai, para penonton pun telah bersorak untuk memberikan semangat pada kedua tim yang bermain dilapangan. Jongin terus berlari kesana kemari, ia juga memblock beberapa pemain yang ingin merebut bola dari timnya. Sesaat ia melihat ke arah Kris yang mengoper bola padanya, Jongin dengan sigap mengambilnya. Segera ia mendribble bola dan membawanya ke daerah lawan. Tidak butuh waktu lama, ia menembakkan bola dari jauh. Dan tim Jongin berhasil mendapatkan three point.

Jongin kembali berlari menuju daerahnya, tepat saat itu Sungjae yang tengah mendribble bola. Jongin sudah berdiri dihadapan Sungjae, tangannya merentang untuk menghalangi pergerakan dan membuatnya lambat. Namun, Sungjae menyeringai. Matanya terfokus pada ring, dan—shoot! Three point untuk Sungjae.

"Fokuslah pada pertandingan, jangan melihat ke kursi penonton terus menerus," bisik Sungjae. Jongin berdecak, ia benar-benar tak habis pikir. Kenapa Kyungsoo tidak menuruti kata-katanya agar pulang? Ash, Kyungsoo memang keras kepala.

Kris dan Chanyeol saling mengoper bola, Jongin melihatnya dari belakang. Buru-buru ia menyusul dari belakang. Kalau bisa mendahuluinya, namun tiba-tiba Kris mengoper bola ke belakang. Berhubungan dirinya memang tidak ada yang menjaga, Jongin segera mengambil bola. Ia akan menunjukkan pada Sungjae, siapa ia sebenarnya.

Jongin kembali membawa bola ke daerah lawan. Namun, Sungjae dengan sigap menghadang Jongin. Sungjae tersenyum mengejek, ia tidak bisa memegang bola terlalu lama. Jongin melirik ke arah Kris, dilemparnya bola tersebut dan Jongin mengambil langkah ke kiri lalu ke kanan untuk mengelabui Sungjae, dan niatnya berhasil. Kris kembali mengoper bola tersebut ke arah Jongin. Jongin membawanya, dan ia meloncat untuk melakukan dunk. Dan ia berhasil membuat seluruh penonton tercengang melihat hasil dunknya.

"Jangan meremehkan aku, Sungjae!" Jongin berbisik sinis saat ia melewati Sungjae.

.

.

Pertandingan sengit terjadi dilapangan. Tak ada salah satu tim yang mengalah. Kris dan Chanyeol bahkan kewalahan menghadapi tim dari sekolah lawan padahal ini baru quarter kedua. Dada Jongin terlihat naik-turun, nafasnya juga sudah tak teratur. Begitu banyak bola yang diberikan padanya, dan ia juga sering melakukan dunk. Saat di menit-menit akhir quarter kedua, Jongin hampir mulai tidak fokus, pandangannya selalu berakhir pada kursi penonton.

Dan ia melihat Kyungsoo yang terus menatapnya. Dari pancaran mata itu, Jongin bisa melihat kekhawatiran tengah melanda gadis imut itu. Jongin tersenyum dalam hati, namun segalanya lenyap ketika ia mengingat perjanjian saat pertandingan selesai. Jongin menggelengkan kepalanya, sekarang ia harus fokus untuk mengalahkan Sungjae.

"Jongin!" Jongin menoleh, dan tepat saat itu juga sebuah bola meluncur dengan cepat ke arahnya. Jongin mencoba menghindar namun sayangnya tidak berhasil dengan baik, karena bola itu mengenai pundak kirinya. Jongin meringis dengan memegangi pundak kirinya. Kris yang berada tak jauh dari Jongin langsung menghampiri Jongin.

"Kau tak apa?" tanyanya.

Jongin mengangguk, "Ya,"

Kris menatap Jongin agak kelelahan, "kau istirahat dulu. Biar Sehun yang menggantikanmu,"

"Ta-Tapi—"

"Pergantian pemain untuk SMA Hana," suara speaker berkumandang. Jongin merasakan pundaknya ditepuk oleh Kris, kaptennya mengangguk dan Jongin tak bisa berbuat apa-apa sekarang.

Jongin berjalan lesu, Sehun menepuk punggung Jongin. "Aku akan melakukan yang terbaik," ucapnya. Jongin hanya bisa mengangguk, ia ingin ikut pertandingan hingga akhir tapi memang tak bisa dipungkiri kalau kondisinya sekarang sedang tidak dalam keadaan baik. Terlalu banyak tekanan yang mengerubungi otaknya.

Jongin menundukkan kepalanya, tangannya sibuk memutar-mutar botol air mineral yang volumenya tinggal setengah. Handuk putih bertengger dikepalanya, menyembunyikan wajah kusutnya. Jongin mengutuk dirinya sendiri, bagaimana bisa ia kembali berurusan dengan Sungjae? Apa karena masalah itu? Ck, berarti Sungjae sangat kekanak-kanakan.

Wajah Kyungsoo terbayang dibenaknya. Ia menoleh ke kursi penonton, dilihatnya Baekhyun yang mengepalkan tangannya untuk memberikan semangat. Dan ia juga melihat Luhan tengah tersenyum. Matanya fokus ke tempat duduk Kyungsoo yang berada disamping Baekhyun. Sekeika mata itu membulat saat objek yang ingin dilihatnya tidak ada. Kyungsoo tidak disamping Baekhyun.

Tiba-tiba Jongin berdiri dari tempat duduknya. Handuk yang ada dikepalanya jatuh begitu saja saat ia mendongak ke arah lain. Ia menggeleng, tidak! Jongin tidak menemukan Kyungsoo. Dan pandangannya jatuh pada Sungjae yang sedang menunjukkan seringai dari bibirnya. Tangan Jongin mengepal kuat, ia bisa melihat gerak dibibir Sungjae.

"Selesaikan, atau..." Sungjae memalingkan wajahnya ke arah lain, ia menggaruk lehernya. Jarinya perlahan membentuk garis pada lehernya. "...mati,"

Jongin terduduk kembali dibangkunya. Ia kembali menunduk, keringat mengucur deras dari pelipisnya. Perlahan sebutir air matanya jatuh bersamaan dengan keringatnya. Ia khawatir—sungguh. Segera diusap wajahnya dengan handuk yang tergeletak dilantai.

"Ya Tuhan, tolong jaga Kyungsoo.." gumamnya.

.

.

.

Sehun mengeluarkan seluruh isi yang ada didalam tasnya. Pertandingan sudah selesai dan mereka berhasil memenangkan pertandingan meskipun dengan hasil berbeda tipis yaitu 83-81. Dan sekarang mereka sedang berada didalam ruang ganti. Sehun mengerang frustasi saat apa yang dicarinya tidak ditemukan, dan itu mengakibatkan beberapa orang yang ada didalam ruangan tersebut langsung menoleh ke arahnya.

"Ada apa Sehun-ah?" tanya Chanyeol, ia berdiri dibelakang Sehun yang sedang berjongkok.

"Kunci mobilku tidak ada, hyung."

"Eh? Benarkah? Kau tidak lupa menaruhnya dimana 'kan?"

Sehun menggeleng keras, ia ingat betul kalau kunci mobilnya ia taruh didalam tas. Tidak mungkin ia melupakan benda sepenting itu. Tiba-tiba seseorang masuk dengan wajah datarnya.

"Apa kalian melihat dimana Jongin?" ucapnya dingin, setelah Sehun, semua orang yang ada disana sekarang melihat ke arah Kris. Semuanya menggeleng.

"Setelah pertandingan selesai, ia tidak kelihatan. Kenapa hyung?"

"Kyungsoo tidak ada bersama Baekhyun,"

"Woaah, serius? Kunci mobil Sehun juga tidak ada ditasnya,"

"Apa jangan-jangan mereka pergi berdua menggunakan mobilku ya?" Sehun mencoba berpikir keras, tapi kalau memang iya seharusnya Jongin ijin dulu padanya.

"Sepertinya begitu, tasnya masih tertinggal." Ucap salah seorang yang ada didalam ruangan itu sambil menunjuk ransel hitam yang sudah diketahui milik Jongin.

"Ck, bocah itu! Bukannya ijin dulu!" geram Sehun, ia langsung terduduk dilantai. Ia membuang nafas kasar, antara kesal dan juga lega. Setidaknya kunci mobilnya itu tidak hilang tapi dipegang sahabatnya.

"Tapi kenapa mereka bisa meninggalkan secepat itu ya?" Chanyeol berkata, yang lain terlihat berpikir bingung. Semuanya mengedikkan bahu kecuali Kris. Ia nampak memikirkan sesuatu.

Ada sebuah firasat buruk yang menyergap hatinya.

.

.

.

Jongin memacu kecepatan mobilnya hinggat diatas rata-rata. Untung saja jalanan cukup lengang, jadi ia tidak akan menabrak pengendara lain dengan kecepatan mobilnya ini. Jongin melihat papan hijau penunjuk arah, ia harus segera ke daerah yang disebutkan oleh Sungjae. Ia harus bergegas agar tak terjadi apapun pada Kyungsoo.

Ah ya, Kyungsoo. Ia benar-benar mengkhawatirkan gadis itu. Saat pertandingan babak terakhir tadi Jongin hampir membuat kesalahan fatal, bahkan ia mendapat 4 kartu merah. Kalau saja saat itu Jongin tidak bisa meredakan emosinya yang tidak stabil, mungkin ia akan mendapat kartu pelanggaran lagi dan akhirnya dikeluarkan. Namun, lagi-lagi wajah Kyungsoo terbayang dibenaknya. Ia harus memenangkan pertandingan tadi dengan baik, meskipun Sungjae terus saja memancing kemarahan Jongin.

Dan setelah kejadian ini, Jongin harus mengucapkan permintaan maaf dan terimakasih pada Sehun karena telah meminjamkan mobilnya, meskipun tanpa persetujuan dari sang pemilik. Jongin kembali menginjak pedal gas, mobil pun kembali melaju dengan kencang.

Jongin berbelok ke kiri, jalanan sekitarnya cukup sepi. Hanya ada pohon-pohon yang tinggi dan juga beberapa bangunan tua. Memang cocok untuk dijadikan tempat trek. Jongin tak habis pikir dengan Sungjae, bagaimana bisa ia menemukan tempat sebegini sepi didaerah yang bahkan bukan tempat tinggalnya. Oh, sebenarnya mereka pernah satu sekolah yaitu SOPA. Dan mereka selalu menjadi rival hingga sekarang.

Pandangan Jongin tertuju pada apa yang ada dihadapannya. Jongin memelankan laju mobilnya, saat melihat segerombolan manusia sudah berdiri—seakan menghadangnya. Sebenarnya kalau Jongin mau, Jongin bisa melaju dengan kecepatan tinggi. Menabrakkan mobil yang ia kendarai pada manusia-manusia yang bertampang sok dan menyebalkan. Membiarkan tubuh mereka hancur tergilas roda mobil, hingga darah mengalir deras dari tubuh mereka dan seluruh isi bagian tubuhnya mencuat keluar lalu berserakan ditanah aspal.

Namun, segala niatan itu lenyap ketika melihat seorang gadis yang sedang terduduk dikursi, tangannya terikat ke belakang, kepalanya tertunduk hingga rambutnya yang panjang sebahu itu berantakan dan menutupi sebagian wajahnya. Jongin bisa melihat dengan jelas bahwa itu Kyungsoo. Dan Kyungsoo sedang dibawah pengaruh obat bius. Kedua telapak tangan Jongin mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Segera Jongin keluar dari mobil, menutup pintu kasar hingga menimbulkan debuman keras saat pintu tertutup.

"Lepaskan dia!" dengan intonasi suara yang tinggi dan lantang, Jongin menatap nyalang ke arah Sungjae dan semua orang yang berdiri dibelakangannya. Seketika tatapannya jatuh pada seorang gadis yang begitu dikenalnya, gadis itu berdiri tepat disamping Sungjae. Saat pandangan mereka bertemu, gadis itu menundukkan kepalanya. "..Krystal?" gumam Jongin tak habis pikir.

"Hoo! Sabar dulu, Kim Jongin.." Sungjae bergerak maju mendekat ke arah Kyungsoo. Baru saja Jongin melangkah, Sungjae kembali mengintruksi. ".. berani kau mendekat, leher gadis ini akan patah,"

Sungjae mengusap kepala Kyungsoo, usapan itu turun ke sisi wajah Kyungsoo. Dengan gerakan cepat Sungjae menarik wajah itu, hingga Jongin bisa melihat dengan jelas bagaimana raut wajah Kyungsoo. Mata itu terpejam, namun Jongin yakin, Kyungsoo pasti sedang kesakitan. Jongin menghela nafas kasar, ia memejamkan matanya dan membukanya kembali. Tepat saat itu juga ia menatap Sungjae penuh kemarahan.

"Jangan sentuh dia! Katakan apa maumu sekarang juga!" bentak Jongin. Sungjae sama sekali tak gentar dengan bentakan Jongin. Ia justru semakin menyeringai, kilatan puas terpancar dari matanya.

"Oh benarkah? Sudah ku bilang santai saja, Kim. Tapi, apa kau melarangku untuk menyentuhnya? Ck, itu tandanya perintah bagiku, Kim."

Sungjae mengisyaratkan rekannya untuk melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki Kyungsoo. Setelah ikatan itu terlepas, Sungjae memaksa tubuh Kyungsoo agar berdiri. Jongin mengepalkan tangannya saat melihat Sungjae melingkarkan tangannya pada pinggang Kyungsoo. Menyandarkan kepala Kyungsoo ke dadanya. Lalu, tangannya Sungjae yang terbebas ia gunakan untuk mengusap surai hitam Kyungsoo, lalu menghirupnya.

"SUNGJAE! HENTIKAN!"

"Haruskah?"

Sungjae kembali menyeringai. Namun tubuhnya tiba-tiba terdorong pelan saat gadis yang didekapannya mulai tersadar dari pengaruh obat bius. Jongin kembali melihat tubuh Kyungsoo yang masih lemas itu mendorong Sungjae, namun memang pada dasarnya kondisi Kyungsoo masih belum stabil, ia kembali berada didekapan Sungjae saat Sungjae menariknya kasar.

"Kau dan gadismu ini benar-benar tidak tahu diri ya? Aku benar-benar akan menghancurkan kalian!"

Sungjae langsung saja merobek rok Kyungsoo yang tadinya selutut sekarang menjadi setengah paha. Akibatnya paha mulus Kyungsoo terekspos jelas. Mata Jongin terbelalak akibat aksi yang Sungjae lakukan. Segera saja ia berlari ke arah Sungjae, melayangkan tinjunya ke wajah Sungjae, hingga Sungjae tersungkur ke belakang. Jongin segera menarik Kyungsoo sebelum tubuh gadis itu jatuh menyentuh kerasnya aspal.

Deru nafas Jongin tak beraturan, dadanya naik-turun. Ia benar-benar emosi sekarang ini.

"Kau pecundang Sungjae! Kau bilang, kau menantangku balapan, 'kan? Kenapa kau juga melukainya?" Kyungsoo yang berada dalam dekapan Jongin ikut merasakan emosi yang keluar dari tubuh Jongin. Kyungsoo tiba-tiba mencengkram kuat kaos yang Jongin kenakan.

Rekan-rekan Sungjae tidak terima dengan apa yang dilakukan Jongin. Mereka semua hampir maju untuk menyerang Jongin. Namun terhenti saat mendapat intruksi dari Sungjae.

"Oh benarkah? Apa kau pikir aku akan menepati ucapanku? Aku hanya ingin kau hancur, Kim Jongin! Kau hancur disini!"

"Kau tidak perlu melibatkan gadis ini!" kata Jongin. Kyungsoo mampu mendengarnya, dadanya tiba-tiba terasa sesak. Jongin tidak menyebut namanya, itu menyedihkan sekali.

"Tapi aku perlu melakukannya, aku ingin menghancurkanmu dari bagian terdalam. Saat kau melihat orang yang kau cintai hancur, maka kau akan lebih hancur darinya setelah itu kau akan mati perlahan dan aku hanya tinggal meremukkan jasadmu hingga menjadi abu! Maka dari itu... TANGKAP GADIS ITU!"

Setelah mendapat intruksi itu, Jongin langsung saja berlari bersama Kyungsoo. Ia berusaha mengajak Kyungsoo berlari meskipun ia tahu Kyungsoo masih lemah. Jongin melihat ke belakang, segerombolan orang mengejarnya.

Nafas Kyungsoo terengah, ia hampir saja lepas dari genggaman Jongin.

"Jongin.. aku sudah tidak kuat!"

"Kau harus kuat! Kita akan bersembunyi,"

"Tapi, Jongin.. lepaskan saja aku. Mereka menginginkanku, 'kan?"

Jongin merasa darahnya naik ke ubun-ubun saat mendengar ucapan Kyungsoo. "IYA! Mereka memang menginginkanmu! Mereka menginginkanmu karena mereka ingin menghancurkanku, Kyung! Kau seharusnya tahu. Kau orang yang sangat berarti untukku, mereka tahu kalau aku akan mati saat kau hancu—"

Langkah Jongin terhenti saat beberapa orang menghadangnya. Dengan cepat Jongin menyembunyikan Kyungsoo dibelakang punggungnya. Jongin juga melihat ke sisi lain, dan mereka berdua terkepung. Tidak ada jalan keluar selain mengeluarkan adegan saling memukul satu sama lain. Tapi, disisi lain ia juga harus melindungi Kyungsoo.

Tiga orang sekaligus langsung maju ke arah Jongin. Dua dari mereka membawa balok kayu, Kyungsoo yang melihat itu hanya bisa membelalakkan matanya. Jongin langsung menghindar saat balok itu mengarah padanya. Kyungsoo juga terlihat berusaha sebisa mungkin menghindar dari pukulan. Jongin melayangkan tinjunya ke salah satu orang disana, tubuh orang itu limbung.

Berkali-kali Jongin mengeluarkan tinjunya tapi orang-orang itu masih sanggup berdiri menghadapi Jongin. Bahkan Jongin sampai melupakan Kyungsoo, Jongin sibuk memukuli orang-orang ini. Pukulan Jongin terhenti saat Jongin mendengar suara tawa dari belakang tubuhnya. Jongin segera berbalik, ia menemukan Kyungsoo yang ditangkap Sungjae, leher gadis itu terhimpit lengan Sungjae. Jongin benar-benar tak habis pikir dengan apa yang dilihatnya. Kyungsoo meronta saat lengan Sungjae menekan lehernya.

Sesak—sulit bernafas.

"Le..pas..kan.. aku!"

"Semakin banyak kau bicara, maka itu akan semakin menyakitimu, nona! Jadi diamlah, biar tuan Kim ini yang menyelesaikannya." Ucap Sungjae menatap Jongin.

Jongin tidak mempedulikan tatapan Sungjae, tapi ia hanya fokus pada Kyungsoo yang sekarang meneteskan airmatanya. Gadis itu benar-benar ketakutan sekarang. Jongin menghela nafas panjang, tubuhnya melemas. Ia tidak bisa melihat wajah Kyungsoo yang terluka begitu. Akhirnya ia jatuh dengan lutut lebih dulu. Sungjae mengerutkan keningnya.

"Aku akan melakukan apapun asalkan kau melepaskannya, Sungjae." Ucap Jongin, kepalanya tertunduk. Ia memohon pada Sungjae sekarang.

Sungjae semakin menyeringai. Jongin memang tak berdaya kalau Kyungsoo yang tersakiti. Ini sangat mengutungkan Sungjae.

"Tidak semudah itu, Kim. Cepat bawa dia!" perintah Sungjae, Jongin pun langsung dibawa oleh dua orang yang memegangi lengannya. Kepalanya semakin tertunduk. Ia tidak bisa melihat wajah Kyungsoo.

Airmata Kyungsoo semakin mengalir ketika melihat Jongin yang tidak berdaya seperti ini. Apa ini semua salahnya?

"Jongin.." gumam Kyungsoo lirih.

.

.

.

Mereka berdua sekarang berada disebuah ruangan tempat gedung yang sudah tak terpakai. Jongin duduk disebuah kursi dengan tangan dan kaki yang terikat, sama persis seperti Kyungsoo yang ada dihadapannya. Namun, Jongin sama sekali tidak menatap Kyungsoo, padahal jelas-jelas ia sangat mengkhawatirkan Kyungsoo. Sedangkan Kyungsoo, ia justru memusatkan perhatiannya untuk melihat Jongin. Berharap bahwa Jongin akan baik-baik saja.

Tidak ada yang menjaga mereka saat ini. Sungjae meninggalkannya, begitupun dengan rekan-rekan Sungjae yang lainnya. Tapi Jongin juga yakin sekali bahwa pintu keluar itu telah dijaga ketat. Ia tidak habis pikir dengan keinginan Sungjae yang menghancurkannya secara perlahan. Semua kunci berada di Kyungsoo. Kyungsoo-lah yang saat ini menjadi kelemahan Jongin.

Tak lama, terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah mereka. Kyungsoo menoleh ke arah sumber suara, dilihatnya seorang gadis dengan pakaian sexy yang mendekati Jongin. Entahlah, ada rasa sesak yang menjalar ke ulu hatinya saat ini.

"Kai.." panggil gadis itu, Jongin mendongak. Tatapannya datar menghujam gadis itu. Tapi, tunggu! Kai? Apa itu nama lain Jongin?

"Namaku Jongin, Krys!" sahut Jongin ketus.

"Aku tahu, Kim Jongin." Kyungsoo melihat gadis itu berjongkok didepan Jongin. Kyungsoo memalingkan wajahnya ke arah lain, dan tepat saat itu, Jongin melihat ke arah Kyungsoo. Ia jadi tak enak hati pada Kyungsoo.

"Jadi apa maumu? Menjauhlah dariku, Krystal." pinta Jongin. Gadis bernama Krystal itu tersenyum kecil, lalu ia menoleh ke belakang tubuhnya untuk melihat Kyungsoo.

"Kau benar-benar menyukainya ya?" bisik Krystal, Jongin membulatkan matanya. Ia terdiam, "Aku tahu, aku tidak akan pernah mendapatkan hatimu, Kai.."

Jongin menatap mata Krystal. Gadis itu bicara penuh kesungguhan. Senyuman manisnya bahkan terpantri dibibirnya. Jongin menyukai senyum tulus seorang gadis—mungkin itulah yang membuat Jongin jatuh cinta pada Kyungsoo.

"Maaf atas perlakuan Sungjae. Aku akan melepaskan kalian," mata Jongin membulat sempurna.

"Krys! Kau akan.."

"Sungjae kekasihku sekarang, ia tidak akan berbuat apa-apa padaku."

"Sungjae.. kekasihmu?"

"Ya, nanti setelah kau selamat dari sini aku akan menjelaskan semuanya padamu. Sekarang pergilah,"

Jongin melepaskan ikatan ditangan dan kaki Jongin. Jongin meregangkan otot tangan dan kakinya. Ia lantas berdiri menghampiri Kyungsoo. Saat Jongin berdiri dihadapan Kyungsoo, gadis itu benar-benar terkejut. Matanya yang bulat semakin bulat, dan Jongin ingin sekali memakannya.

"Ayo kita pergi," Jongin segera melepaskan tali yang mengingat Kyungsoo. Ia membantu Kyungsoo berdiri.

"Jongin.." gumam Kyungsoo.

Jongin dan Kyungsoo segera mengikuti Krystal dari belakang. Gadis itu akan menunjukkan jalan keluar tanpa diketahui rekan Sungjae. Akhirnya mereka berhasil keluar, dan Jongin berbalik melihat Krystal.

"Krys, terimakasih. Kau gadis yang baik," kata Jongin, Krystal tersenyum.

"Tak cukup baik bila dibandingkan dengan gadis yang sekarang bersamamu, Jongin.." gumamnya. Ia langsung kembali ke tempat Sungjae tanpa Sungjae ketahui tentunya.

.

.

.

Jongin berlari dengan terus menggenggam erat tangan Kyungsoo. Kyungsoo melihat punggung Jongin, entah mengapa Kyungsoo ingin sekali memeluk punggung itu. Segala pemikiran buruknya tentang Jongin menguap saat melihat Jongin berlutut seperti tadi. Dan ia melakukan itu agar Kyungsoo dilepaskan. Itu sangat menyentuh—bagi Kyungsoo.

Nafas Kyungsoo terengah-engah, begitupun dengan Jongin. Kyungsoo lebih dulu berhenti membuat Jongin menoleh khawatir pada Kyungsoo. Jongin mendekat dan memegang pundak Kyungsoo. Dengan mata sayu Kyungsoo berusaha untuk menatap Jongin. Sepasang mata itu bertemu, menyalurkan kehangatan ke hati masing-masing. Jongin tengah menatap Kyungsoo khawatir.

"Kau lelah?" tanya Jongin. Kyungsoo mengangguk. "Baiklah, kita istirahat dulu disini, aku pikir kita cukup jauh meninggalkan tempat itu,"

Jongin lalu menarik tangan Kyungsoo, mereka duduk disebuah pohon yang cukup besar. Entah kemana langkah kaki membawa mereka sampai-sampai, mereka tidak menyadari mereka sudah masuk ke daerah yang ditumbuhi pohon tinggi dan lebat. Kyungsoo menyandarkan kepalanya pada batang pohon tersebut, Jongin juga berada disebelahnya, pria itu terlihat lelah. Peluh bahkan membasahi wajah tampannya. Kyungsoo mengerjapkan matanya saat mata Jongin beradu dengannya.

"Kyung, bisa kau lepaskan cardiganmu?" tanya Jongin, Kyungsoo membulatkan matanya.

"Untuk apa?"

Jongin melirik paha Kyungsoo yang terekspos, Kyungsoo buru-buru melepaskan cardigan yang dipakainya. Untung saja ia mengenakan dress dengan lengan jadi tubuh bagian atasnya pun tidak akan terekspos. Jongin memalingkan wajahnya ke arah lain saat Kyungsoo sudah menutup pahanya dengan cardigan. Tiba-tiba Jongin merasakan lengan tangannya menghangat. Ia kembali menoleh, agaknya terkejut saat Kyungsoo memeluk erat lengannya.

"Kenapa?" Kyungsoo menggeleng, ia tidak menjawab, namun pelukan yang semakin mengerat menandakan bahwa dirinya gelisah saat ini.

"Berjanjilah akan selalu bersamaku, Jongin.." lirihnya, Jongin menajamkan pandangannya pada wajah Kyungsoo. Mereka kembali bertemu pandang, kali ini cukup lama. Seakan mengagumi keindahan mata masing-masing. "Maaf aku pernah memutuskan untuk menyerah waktu itu, maafkan aku.."

Jongin terdiam. Ia tidak bisa menjawab apa yang Kyungsoo katakan. Semuanya terjadi begitu cepat sampai-sampai ia tidak bisa berpikir jernih. Jongin memutuskan kontak mata itu, ia tiba-tiba berdiri sambil menarik tangan Kyungsoo. Gadis itu agaknya terkejut sekaligus bingung. Namun, ia mendengar teriakan yang masih cukup jauh.

"Kita harus segera pergi dari sini," Jongin mengajak Kyungsoo kembali berlari. Kyungsoo mengangguk paham, dan mengikuti Jongin dari belakang.

"HEI! ITU MEREKA!"

Jongin dan Kyungsoo semakin mempercepat lari mereka, hingga mereka benar-benar memasuki kawasan cukup berbahaya. Mereka mengabaikan sebuah papan yang bertuliskan 'DANGER' didekat pohon. Mereka terlalu takut bila mereka tertangkap saat itu juga.

Kyungsoo menghentikan langkahnya, ia menarik lengan Jongin. "JONGIN!"

"Kenapa, Kyung? Kita harus—"

"—J-Jurang!" gumam Kyungsoo gemetar, Jongin membulatkan matanya saat mereka ada diambang batas pijakan mereka. Suara-suara orang yang ingin menangkap Jongin dan Kyungsoo semakin nyaring menandakan bahwa mereka semakin dekat.

"Kyungsoo.. saranghae!"

Kyungsoo langsung tertarik ke belakang saat mendengar kalimat itu, ia memejamkan matanya saat dirasanya tubuhnya mengambang diudara bersama dengan Jongin. Jongin memeluk Kyungsoo begitu erat, Kyungsoo bisa merasakan detak jantung Jongin yang berpacu dengan cepat.

Mereka bunuh diri. Kyungsoo mengeratkan pelukannya, airmatanya mengalir saat Jongin membisikkan terus kalimat 'saranghae.. Do Kyungsoo, saranghae.."

Dan rekan-rekan Sungjae yang melihat mereka melakukan aksi nekat itu hanya tertawa dan mencibir bahwa mereka tidak akan selamat.

.

.

.

TBC/END

Oh aku nggak tau kenapa aku bisa bikin kayak gini -_- maaf kalo semakin nggak bagus ceritanya, aku bener-bener minta maaf. Buat yang nungguin dan merasa kecewa aku nggak masalah kok T_T soalnya aku tau ini—aneh.

Yang udah ngereview chapter kemarin, makasiiiih banget, aku sebenernya nggak nyangka itu -_-

Love you, guys. 3

Xoxo.

Han