BAB II

"Ayah mana, Bu?" Tanya Sakura saat melihat Sang Ibu pulang dengan lesu. Tadi pagi orang tuanya pergi ke Rumah keluarga Mikko untuk menengok Mrs. Ayame Mikko yang jatuh sait setelah kehilangan anak tunggalnya.

"Ayahmu sedang mengantar Mr. Mikko ke Stasiun kereta." Mrs. Haruno mengerutkan kening saat melihat putrid sulungnya sibuk membersihkan busur dan panah.

Dia akan berburu lagi. Pikirnya masam. Mrs. Haruno tidak pernah suka dengan ketomboy-an Sakura.

"Mengantar?" Sakura mendongak. Sebelah alisnya terangkat tinggi.

Mrs. Haruno mengangkat bahu. "Mereka akan langsung pergi ke London. Mencari detektif hebat yang bisa menangani kasus Shion." Dia menghenyakan diri untuk duduk di kursi goyang di depan rumahnya, memperhatikan Sakura yang sedang asik mengasah anak panahnya. "Semoga dia bisa ditemukan."

Sakura mengerutkan bibir. "Kasihan Shion," gumamnya sedih. Shion seumuran dengan Sakura, dan mereka mengikuti kursus menyulam dan membuat kue di tempat yang sama.

"Mau berburu?"

"Iya." Sakura mengangguk. "Kemarin Shino dan Kiba mendapatkan seekor rusa jantan besar di hutan dekat padang belantara," katanya penuh semangat. "Mereka menjualnya di Pasar dan mendapatkan harga yang bagus. Kalau hari ini aku beruntung, aku akan bisa mendapatkan rusa yang lebih besar dari mereka, dan tentunya lebih mahal."

Mrs. Haruno tersenyum mendengar nada antusias yang keluar dari mulut Sakura. Walau dia tidak suka dengan sifat tomboy anaknya, tapi dia bangga terhadapnya. Selama setahun belakangan, Sakura mengumpulkan uang dari hasil menjual binatang yang dia buru dihutan. Seperti kelinci, ayam hutan—berbagaimacam jenis burung dan rusa.

Sakura berkata pada Ibunya bahwa uang tabungannya yang dia kumpulkan dari hasil berburu adalah untuk biaya melanjutkan sekolah adiknya, Konohamaru yang baru berumur Sembilan tahun. Sakura melakukan itu karena dia tahu betul kondisi ekonomi keluarganya.

"Bu. Aku berangkat ya," pamit Sakura setelah membereskan semua perlengkapan berburunya.

"Hati-hati. Jangan pulang terlalu sore. Dan jangan sekali-kali pergi ke The Castle!"

"Baik Bu."

Dengan langkah tertatih, Hinata Uchiha berjalan menghampiri Sang Kakak yang tengah sibuk membaca sebuah buku tebal tua aneh—yang sampulnya dibuat dari sesuatu seperti kulit manusia—di Perpustakaan. Gadis kurus berambut gelap itu terlihat gelisah. Dia ingin menyampaikan sesuatu pada Sang Kakak, tapi dia takut kalau Sasuke akan marah setelah mendengar keinginannya.

"Ada apa Hinata?" Tanya Sasuke datar tanpa menoleh ke arah pintu. Ternyata dia sudah menyadari kehadiran adiknya. Telinga pemuda emo tampan berusia dua puluh satu tahun itu menjadi sensitiv saat mendengar derap langkah kaki palsu adik semata wayangnya.

"S-Sasuke?" gagap Hinata sambil meremas dan memilin bagian bawah gaun abu-abu panjangnya.

Sasuke terus membaca. Matanya bergerak lincah membaca rangkaian huruf dalam buku tua aneh itu.

"B-Bolehkah aku pergi ke kota?"

Sasuke mendadak diam. Tangannya yang hendak membalik halaman buku yang sedang dia baca—seketika menggantung di udara hampa. Tatapan matanya berubah kosong.

Dalam hati Hinata berdo'a semoga Sasuke tidak marah mendengar permintaannya. Hinata tahu Sasuke akan bersikap tidak rasional jika itu menyangkut keselamatannya. Menurut Hinata, Sasuke adalah seorang kakak over protektif yang sangat menyayanginya.

"Kemarin …" Hinata menunduk, nyalinya ciut. Dia merasa terintimidasi dengan intensitas kediaman Sasuke."—Aku melihat dua orang anak lelaki seumuranku berburu di hutan dekat padang belantara. Mereka mendapatkan rusa jantan besar. Salah satu diantara mereka mengatakan bahwa mereka berdua harus pergi ke pasar untuk menjual rusa jantan itu, dan dengan uang hasil penjualan rusa. Mereka bisa bersenang-senang membeli makanan dan barang-barang bagus di festival kota besok malam." Hinata melirik takut ke arah Sasuke. "Aku ingin pergi ke kota dan menonton festival, jadi … bolehkah?" Hinata memberanikan diri untuk mendongak menatap Sasuke, dan dia langsung menelan ludah ngeri saat melihat raut murka Sasuke.

"TIDAK!" Potong Sasuke tajam sambil memelototi Hinata.

Hinata mendesah. "Sasuke. Kalau alasanmu hanya ada bahaya di luar jadi aku tidak boleh pergi itu konyol. Aku sudah besar. Enam belas tahun. Dan bisa jaga diri, kau tidak perlu terus mengurungku seperti ini!"

"Hinata. Hinata. Hinata." Sasuke menggeleng putus asa, dia bangun dari kursi lalu berjalan menghampiri Hinata,"Seharusnya kau tidak mendengarkan perkataan pemburu-pemburu jahat dari Circlewoods." Sasuke menangkup wajah tirus adiknya penuh sayang. Hinata mengernyit. "Mereka membuatmu tergoda untuk pergi ke tempat yang kejam," dia berkata dengan suara selembut beledu.

"Tapi Sasuke, mereka tidak terlihat jahat. Mereka …"

"Mereka jahat!" Nada suara Sasuke meninggi. Dia mendadak marah. "Orang-orang dari Circlewoods itu jahat." Matanya kosong, menerawang pada kenangan buruk masa silam. "Mereka semua jahat. Kalau mereka baik mereka seharusnya menolong keluarga kita, bukannya membawa Ibu pergi dan memasukan Beliau ke Rumah Sakit Jiwa!"

Hinata terdiam. Dia tahu trauma masa kecil Sasuke sulit untuk disembuhkan. Sejak usia lima tahun dia telah banyak mengalami kesulitan. Kehilangan Ayah, Kakek, dan Ibunya, ditambah tanggung jawab untuk menjaga adiknya yang masih bayi.

Sampai sekarang Sasuke masih mengingat jelas tragedy di malam orang-orang Circlewoods datang berbondong-bondong ke The Castle, membawa obor, senapan, dan senjata tajam. Orang-orang itu menghakimi Ibu mereka tanpa tahu permasalahan yang sebenarnya, lalu menyeretnya ke Rumah Sakit Jiwa. Sasuke mendendam pada Circlewoods. Dulu orang-orang dewasa dari kota kecil itu sama sekali tidak mempedulikan dia yang menangis, memohon pada mereka untuk melepaskan Ibunya.

Sejak kepergian Sang Ibu, Sasuke kecil berusaha keras untuk bertahan hidup dan menghidupi Hinata. Ketika orang-orang dari Dinas Sosial mencari mereka, Sasuke kecil membawa adiknya Hinata untuk bersembunyi di ruang bawah tanah The Castle.

Selama beberapa tahun Sasuke dan Hinata bertahan dengan persediaan makanan yang berasal dari dapur dan gudang beras dan gandum. Setelah itu Sasuke belajar menggunakan uang dan barang-barang berharga milik mendiang orang tuanya untuk membeli makanan. Jika bahan makanan sudah habis, Sasuke akan pergi ke kota, menyamar sebagai anak kota untuk berbelanja. Tidak sekalipun dia mengijinkan Hinata untuk keluar dari The Castle.

"Apa kau mendengarku, Hinata?" suara kasar Sasuke menarik Hinata keluar dari lamunan. Dia mencengkram keras pundak adiknya. "Di luar berbahaya, orang-orang itu sangat jahat. Aku tidak mau mereka mengambilmu seperti mereka membawa Ibu kita."

Hinata meringis saat merasakan cengkraman tangan Sasuke pada pundaknya semakin kuat. "Kau tidak boleh pergi kemanapun Hinata. Apa kau dengar?!"

Hinata mengangguk putus asa. "Aku mengerti," sahutnya muram.

"Bagus," gumam Sasuke sembari melepaskan cengkramannya.

Hinata menunduk menghindari tatapan tajam Sasuke. Dia mengerang sedih. "Aku mau mencari udara segar. Aku akan berjalan-jalan di Padang Belantara." Tanpa menunggu jawaban Sasuke, Hinata segera melangkah keluar dari perpustakaan.

Sudah lebih dari empat jam, Sakura berburu di hutan di dekat Padang Belantara—yang merupakan halaman The Castle, namun dia belum mendapatkan buruan seekorpun untuk dibawa pulang.

Sambil terus menggerutu tentang mitos kesialan dan keberuntungan, Sakura berjalan menerobos semak belukar.

Hari sudah beranjak sore. Sakura merasa sudah terlalu jauh masuk ke dalam hutan. Dia baru saja akan berbalik untuk pulang ke Circlewoods ketika tiba-tiba seekor kelinci kecil berbulu putih melintas cepat di depannya.

Dengan efisien dan cekatan, Sakura mengambil satu anak panah dari kantong penyimpanannya, lalu memasangnya pada busur, kemudian dia focus membidik kelinci kecil yang mencari tempat persembunyian. Dan …

"HEI AWAS!"

—Panah itu tepat mengenai kaki si kelinci. Dan sebuah tubuh lain jatu tersungkur ke belakang karena kaget mendengar teriakan peringatan Sakura, dan juga terkejut melihat anak panah yang melesat begitu cepat.

"Hei Nona itu buruanku!" Sakura memperingatkan gadis lembut bertubuh kurus itu dengan nada kesal. "Apa-apaan itu tadi? Memangnya kau pikir apa yang kau lakukan? Kau hampir saja terkena panahku!" omel Sakura sembari menghampiri gadis pirang yang tadi hendak mencuri kelinci buruannya.

Gadis itu mengerjap linglung. Wajah dan bibirnya telah sepenuhnya memucat, dia masih takut dengan kejadian tadi. Dia mendongak, mata lavendernya yang aneh, menatap Sakura dengan pandangan polos kekanakan.

"M-Maaf. Aku tidak tahu kalau kelinci itu buruanmu," gagapnya.

Sakura mendesah. Dia mengulurkan tangan pada si gadis asing, menawarkan bantuan untuk berdiri. Dengan ragu-ragu gadis manis bermata aneh itu membalas uluran tangan Sakura. Dia bangkit saat Sakura menariknya. Namun Sakura tersentak ketika gadis itu mencengkram keras kedua lengan Sakura, sementara matanya menatap pada kedua kakinya yang goyah. Gadis itu seperti tidak memiliki keseimbangan.

"Kau tak apa?" Tanya Sakura mendadak cemas. Dia khawatir gadis itu terluka. Dia takut anak panahnya tadi tak sengaja menggores dan melukai kaki gadis itu.

Gadis itu tak menjawab. Sebelah tangannya masih bertumpu pada pundak Sakura. Dengan gemetar dia berjongkok, tangan ringkihnya meraih bagian bawah gaun abu-abunya—yang panjangnya hingga mata kaki. Dia lalu menyingkapnya.

Sakura menarik napas keras, matanya membelalak melihat kondisi gadis itu. Dia tidak memiliki kaki! Dia hanya memakai alat bantu gerak—kaki palsu yang terbuat dari kayu dan batangan besi.

"Bautnya longgar,"gumam si gadis asing sembari memutar baur yang dimaksud hingga terpasang kuat.

Sementara Sakura langsung bungkam. Dia kehilangan kata-kata. Tiba-tiba dia merasa bersalah karena sudah bersikap kasar terhadap gadis pirang itu. Dia memperhatikan lagi si gadis asing yang masih memperbaiki baut kaki palsunya.

Dia terlihat beberapa tahun lebih muda dari Sakura, tapi Sakura yakin mereka seumuran. Gadis itu hanya terlihat lebih … kurus. Mungkin kurang gizi. Wajahnya tirus dan pucat. Dia memiliki mata ungu lavender yang aneh dan rambut gelap panjang lurus yang berantakan. Gadis itu memakai gaun abu-abu panjang model lama yang sering dijumpai Sakura berada di lemari Ibunya atau Bibi Tsunade.

Setelah selesai mengencangkan baut pada kaki palsunya, gadis itu mendongak dan menatap Sakura. "T-terimakasih," ucapnya pelan sembari melepaskan pegangan dari pundak si gadis pemburu.

"Sama-sama," jawab Sakura merasa bersalah. "Maaf. Aku tidak tahu kalau …" dia kehilangan kata-kata.

"T-t-tak apa. A-aku yang seharusnya minta maaf. Aku tidak tahu kalau kelinci itu buruanmu." Dia menoleh ke arah si kelinci kecil yang sekarat kehabisan darah.

"Oh ya!" Sakura maju sambil mengulurkan tangannya. "Namaku Sakura Haruno. Aku tinggal di Circlewoods. Kau?"

Gadis itu terlihat ragu untuk membalas uluran tangan Sakura. Dia tampak canggung saat berinteraksi dengannya.

"A-aku Hinata Uchiha. Aku tinggal di sekitar hutan ini," jawabnya pelan sembari membalas jabatan tangan Sakura.

Mereka berjabat tangan sebentar, kemudian melepasnya. Sakura tersenyum ceria.

"Senang berkenalan denganmu Hinata Uchiha." Sakura beranjak menghampiri buruannya, dia berjongkok sebentar, memperhatikan kelinci itu lalu mengangkatnya. "Hari sudah sore. Aku harus pulang, kalau tidak ibuku akan cemas."

Hinata terdiam. Dia tidak tahu harus bersikap seperti apa untuk membalas senyum hangat penuh persahabatan yang ditunjukan Sakura.

"Sampai jumpa Hinata!" Sakura mengangkat sebelah tangan, melambai sebentar, kemudian berlari pergi dari arah tempat dia datang tadi.

Hinata terdiam. Mata kuningnya menatap sayu punggung Sakura yang mulai menjauh. Perlahan dia mengangkat sebelah tangannya—melambai. "Sampai jumpa Sakura Haruno," lirihnya.