BAB III

"Aku punya firasat buruk tentang stand gabungan ini," komentar si kecil Konohamaru sambil melirik sinis ke arah pemuda berambut cokelat jabrik yang seumuran dengan kakaknya. Bocah tampan berumur Sembilan tahun dengan rambut gelap itu tidak setuju jika stand roti dan kue mereka digabung dengan stand mistery—medium konyol milik Kiba Inuzuka, anak tukang daging, yang juga sahabat sang kakak.

"Anak kecil diam saja, kau tidak perlu tahu urusan orang besar," timpal Kiba sembari memasang senyum lebar nan menawan pada para pengunjung yang mulai ramai berdatangan di festival hari ulang tahun kota, di alun-alun balai kota malam itu.

Banyak stand makanan, stand pakaian, dan stand mainan yang berjejer di sepanjang pinggir lapangan alun-alun balaikota. Sementara di tengah lapangan di pasang sebuah layar tancap besar. Sesuai tradisi, pada pukul Sembilan malam di hari ulang tahun kota, orang-orang Circlewoods akan berpesta, makan dan membelanjakan uang mereka di stand-stand yang tersedia, dan menonton film-film bagus yang 'mendidik' hingga pukul dua belas tengah malam—sebelum kembang api raksasa yang indah diluncurkan. Di sana juga disediakan wahana bermain untuk anak-anak, seperti komidi putar dan kincir angin.

Suasana di festival memang tampak seperti pasar malam, hanya saja suasana keakraban dan kekerabatan diacara ini terasa lebih kental.

"Urusan orang besar?" geram Konohamaru menepis keras tangan Kiba yang hendak mencomot roti selai kacang yang ada di stand-nya. "Bilang saja kau bergabung dengan stand kami agar bisa merampok roti dan kue serta berdekatan dengan kakakku." Mata gelap Konohamaru melotot galak pada Kiba.

Kiba terkekeh. Menghenyakan diri pada kursi kayu kecil yang tersedia di stand milik mereka, dia mengacak pelan rambut Konohamaru, membuat anak tampan itu makin cemberut.

"Anak pintar, kau menyebutkan dua dari antara sekian banyak alasanku untuk bergabung dengan stand ini. Dan biar kutambahkan satu lagi ; aku ingin menunjukan kemampuanku sebagai seorang medium handal kepada kalian semua."

Konohamaru mendengus sinis.

"Medium handal? Cenayang maksudmu? Kalau Paman Kaname yang cenayang aku percaya. Tapi kalau kau …" Konohamaru menggeleng dengan sikap sok dewasa.

Keluarga Inuzuka memang dikenal sebagai keluarga yang memiliki kemampuan okultisne dan supranatural. Mereka mempercayai mitos dan takhayul. Kaname Inuzuka, Ayah Kiba, selain sebagai tukang daging dia juga dikenal sebagai seorang pemanggil roh. Dia menerima jasa 'pemanggilan roh' dari keluarga-keluarga yang berduka untuk memanggil arwah salah satu anggota keluarga mereka yang meninggal tak wajar. Kiba. Remaja itu ingin membuktikan pada orang-orang bahwa dia juga hebat dalam urusan supranatural, seperti Ayahnya.

"Asik sekali. Apa kalian sedang membicarakan sesuatu yang seru?" Keduanya menoleh. Kiba tersenyum hangat mendapati Sakura yang tampak cantik dengan gaun biru panjangnya—berjalan menghampiri mereka sambil membawa sekeranjang penuh roti kacang merah yang tampaknya masih hangat. Rambut merah muda panjang gadis itu yang biasanya dikepang satu, kini disanggul rapi seperti seorang gadis bangsawan Eropa.

"Konohamaru tidak mempercayai kemampuanku sebagai seorang medium," jelas Kiba sembari mengambil keranjang dari tangan Sakura lalu membantunya menyusun roti-roti kacang merah lezat itu di atas meja tempat penyimpanan roti.

"Setidaknya satu hari saja. Cobalah untuk akur, Kiba, Konohamaru," nasihat Sakura. Dia bosan setiap saat mendapati Konohamaru dan Kiba yang selalu bertengkar.

Konohamaru kecil mendecih. "Aku bisa akur dengan siapa saja. Tapi bukan dengan orang seperti dia ... Eh! Hei! Taruh roti itu, itu untuk dijual bukan untuk kau makan!" geram Konohamaru sembari menyambar roti hangat yang hendak meluncur masuk ke dalam mulut Kiba.

"Adikmu masih kecil, tapi dia benar-benar pelit dan cerewet seperti seorang perempuan." Kiba berbisik dengan nada penuh konspirasi di telinga Sakura. Dia sengaja membiarkan Konohamaru mendengar jelas perkataannya.

Konohamaru mencibir. "Aku bisa mendengarmu, Bodoh!"

Sakura dan Kiba tertawa melihat reaksi Konohamaru.

Hari makin malam. Orang-orang kian ramai berdatangan. Sakura, Konohamaru, dan Kiba sibuk melayani para pembeli yang berdatangan ke stand mereka. Sesekali Mrs. Haruno datang dengan membawa sebakul roti untuk memeriksa apakah anak-anaknya bisa menjual semua roti dan kue-kue yang sudah mereka siapkan sejak subuh tadi. Mrs. Haruno dan Mr. Haruno berjualan di stand dekat pintu masuk alun-alun balaikota, letaknya lumayan berjauhan dengan stand milik Sakura, Konohamaru, dan Kiba.

Sekitar dua atau tiga kali Kiba memamerkan seringai kemenangan pada Konohamaru saat ada beberapa gadis yang datang ke stand-nya, meminta Konohamaru untuk memanggil/berinteraksi dengan roh teman atau mantan pacar mereka yang sudah meninggal, untuk menanyakan bagaimana kehidupan para arwah itu setelah kematian mereka.

"Konyol!" Komentar Konohamaru skeptis sambil memperhatikan Kiba yang sedang melayani pelanggan-seorang gadis pirang muda berpenampilan konvensional dan angkuh. Mereka mengenalnya sebagai Ino Yamanaka, gadis kaya, puteri seorang pemilik hotel di kota mereka. "Apa Kiba serius orang-orang itu benar-benar mempercayainya? Di sekolahku, maksudku menurut guru, hantu atau roh itu tidak nyata karena mereka bertentangan dengan ilmu pengetahuan."

Sakura tersenyum mendengar perkataan Konohamaru. Ada nada protes dalam suaranya. Walau masih kecil Konohamaru terbilang cerdas, dia bercita-cita untuk menjadi seorang Dokter atau Ilmuan.

"Semua tergantung kepercayaan masing-masing manusia, Konohamaru. Ya. Dalam konteks tertentu ilmu pengetahuan bisa dikatakan sebagai ilmu pasti yang nyata dan bisa dipertanggungjawabkan. Tapi ... kita juga tidak bisa mengabaikan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berbau okultisme, takhayul, dan hal-hal yang berbau supranatural. Kadang hal-hal yang tidak masuk akal bisa terjadi di sekitar kita."

Konohamaru menatap Sakura serius. Dahi mungilnya berkerut. "Kau terdengar seperti Bibi Tsunade." Sakura memang sering pergi ke Rumah Namikaze Tsunade (adik ayahnya) dan dia mendapatkan banyak pengetahuan dari Beliau yang merupakan seorang guru di sekolah khusus perempuan di Circlewoods. "Tapi aku bersumpah, aku tidak mengerti yang kau katakan tadi. Aku bisa menangkap sedikit maksudnya, tapi ... aku benar-benar tidak mengerti." Konohamaru menggeleng bingung.

Sakura terbahak. Sepertinya tadi dia terlalu bersemangat menjelaskan, sehingga dia tidak menyadari bahwa lawan bicaranya hanya seorang anak kecil—terlepas dari betapa sok dewasanya seorang Konohamaru Haruno.

"Kalau begitu jangan dipikirkan. Suatu saat kau akan mengerti sendiri."

Konohamaru mengangkat bahu. Dia kemudian melirik Kiba yang telah selesai dengan Ino Yamanaka. Gadis itu tampak sedikit berbasa-basi dengan Kiba. Dia memamerkan muka sedih yang berlebihan.

"Aku berani bertaruh dia tidak percaya pada hantu," bisik Konohamaru pada Sang Kakak, "Dia datang ke stand ini karena naksir pada Kiba."

Sakura terkikik.

Kiba mendesah lega setelah Ino Yamanaka pergi. "Aku senang dia pergi," katanya sambil memutar mata.

Sakura tertawa, sementara Konohamaru sedang melayani pembeli. "Memangnya dia memintamu untuk memanggil arwah siapa?"

"Arwah mantan pacarnya—yang katanya kuliah di Oxford," sahut Kiba sambil menatap punggung Ino yang menjauh lalu hilang ditelan keramaian.

"Wow," gumam Sakura kagum. "Kau berhasil memanggilnya?"

Kiba menggeleng. "Tidak."

"Kau tidak bisa memanggil arwah pacarnya Ino karena jarak yang terlalu jauh?"

"Bukan begitu. Ino mengatakan bahwa pacarnya itu meninggal dalam kecelakaan pesawat dan dikubur di daerah asalnya, Kingston Bishop—kota tetangga Circlewoods. Seharusnya aku bisa memanggil arwah itu kalau dia memang sudah mati."

Mata hijau gelap Sakura melebar. "Itu berarti pacarnya Ino masih hidup?" tebaknya.

"Atau dia hanya sekedar fiksi yang tidak pernah ada," tambah Kiba.

Konohamaru menyikut Kakaknya. "Sudah kubilang. Dia datang ke stand ini karena naksir pada Kiba." Dua beradik Haruno itu kembali tertawa.

"Berarti dia bohong padamu?" tanya Sakura.

Kiba mengangkat bahu. "Entahlah. Hanya Tuhan dan dia yang tahu kenyataannya."

"Lalu apa yang kau katakan padanya soal mantan pacarnya yang 'mati dalam kecelakaan pesawat' itu?" Sakura kembali bertanya. Dia mengutip separuh kalimatnya dengan menggunakan gerakan tangan ala telinga kelinci.

"Aku bilang arwah pacarnya tidak bisa kemari. Mungkin dia masih terjebak dalam reruntuhan bangkai pesawat."

Sakura mendengus geli. "Dasar kau," gumamnya sambil memukul pundak Kiba main-main.

Sudah dua jam pemutaran film dilaksanakan. Sakura, Konohamaru, dan Kiba lebih memilih untuk duduk di stand mereka daripada duduk di kursi yang dijejerkan berbaris di tanah lapang. Mereka melayani beberapa orang yang membeli roti dan kue sebagai cemilan untuk menemani acara menonton.

"Kau masih belum menunjukan kamampuan cenayangmu pada kami," gurau Konohamaru sambil menuding Kiba main-main.

Kiba mendengus. "Bukankah tadi kau sudah lihat sendiri kalau aku mendapatkan beberapa pelanggan?"

"Para gadis itu?" Cibir Konohamaru sinis. "Aku berani bertaruh kalau mereka datang kemari karena mereka naksir padamu, bukannya percaya pada kemampuan supranaturalmu."

"Aku merasa terhina," Kiba menoleh ke arah Sakura. "Bagaimana menurutmu?"

"Cari satu orang yang menurutmu memiliki masalah supranatural, dikelilingi arwah penasaran, ajak dia kemari tanyakan masalahnya dan dengan arwah siapa dia ingin bicara," usul Sakura tak acuh.

"Ide bagus," komentar Kiba antusias.

"Dan biar adil kali ini jangan perempuan. Harus seorang laki-laki," tambah Konohamaru.

"Baiklah."

Ketiganya lalu mengamati para pengunjung yang darang ke festival ulang tahun kota dengan seksama.

"Laki-laki itu?" Sakura menunjuk seorang laki-laki gondrong brewokan dengan rambut berwarna gelap keriting yang kelihatannua seumuran dengan Ayahnya. Laki-laki mengenakan celana lusuh berwarna cokelat, kemeja abu-abu, dan sepatu boot hitam.

Kiba menggeleng. "Tidak."

"Dia terlihat seperti seorang pembunuh seperti yang di film-film. Jadi aku pikir banyak arwah penasaran yang mengelilinginya."

Kiba mendengus. "Konyol. Jangan menilai buku dari sampulnya. Itu Mr. Meek, dia buruh pekerja kasar. Dia sering membantu orang tuaku di kios di pasar. Dia lelaki baik-baik."

"Maaf," ucap Sakura menyesal.

Setelah melewati beberapa kali perdebatan dengan dua beradik Haruno mengenai pelanggan yang akan mereka seret ke stand, Kiba kemudian menatap satu sosok laki-laki dengan ekspresi tertarik. Dia berdiri di pinggir Lapangan. Tidak seperti orang-orang lain yang tampak bergembira datang ke festival, dia justru terlihat begitu muram. Dia tidak menonton film yang sedang di putar di layar tancap, dia justru memperhatikan orang-orang yang menonton.

Kiba tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba tertarik untuk menjadikan laki-laki itu sebagai pelanggannya. Dia merasa berdebar-debar, dan minatnya semakin terpacu saat indera penglihatannya yang begitu tajam dan sensitive menangkap bayangan gelap seperti awan hitam samar di sekitar lelaki itu. Kiba pikir lelaki itu tidak berasal dari kota ini. Dia tidak pernah melihatnya. Dia tampak seperti laki-laki dari kalangan atas, mengenakan kemeja putih lengan panjang dipadu rompi berwarna abu-abu, celana denim hitam panjang, dan sepatu gelap yang mengkilap dan tampak mahal. Lelaki itu memiliki ciri fisik yang terbilang cukup tampan yang berkesan bangsawan untuk para wanita. Kulit putih, hidung mancung, garis wajah tegas, serta rambut hitam berantakan. Kiba pikir laki-laki itu lebih tua beberapa tahun darinya dan Sakura.

"Jangan bilang kalau kau jatuh cinta pada pemuda itu?" Ejek Sakura pada Kiba. Dia dan Konohamaru memajukan tubuh mereka untuk mengapit Kiba, keduanya mengikuti arah pandang Kiba dan melongo saat mengetahui bahwa Kiba tiba-tiba diam karena dia memperharikan seorang laki-laki tampan.

"Wah, Kiba suka pada laki-laki," ledek Konohamaru jahil.

"Hush. Diam kalian berdua." Dia mendorong pelan wajah kakak-beradik Haruno agar menjauh darinya. "Aku memilih dia sebagai objek untuk membuktikan kemampuan supranaturalku," kata Kiba penuh percaya diri sambil menunjuk si laki-laki bangsawan tampan.

"Kau serius? Kau melakukan ini bukan karena kau jatuh cinta padanya kan?" Kata Sakura lagi.

Kiba mendengus. "Ya ampun Sakura, jangan konyol. Menurut 'penglihatan'ku dia dikelilingi oleh arwah penasaran. Dia seperti seorang medium yang memiliki kemampuan okultisme yang kuat. Dia seperti magnet yang membuat para roh penasaran mengelilinginya."

"Berarti disekitarnya hantu semua," kata Sakura skeptis. Ekspresinya berubah datar.

"Sudahlah, ayo kita temui dia."

"Konohamaru! Kau jaga stand!" Perintah Sakura pada adiknya, sementara dia berlari kecil menyusul Kiba yang berjalan menghampiri laki-laki muda itu.

Sasuke mengerutkan kening menatap sepasang remaja laki-laki dan perempuan yang berdiri di hadapannya. Dia tidak mengerti kenapa kedua anak ini menghampirinya—di saat dia hendak melakukan suatu pekerjaan yang penting.

"Apa?" tanyanya sembari memperhatikan si gadis bermata hijau yang memperhatikannya dengan ekspresi penasaran yang polos. Sementara pemuda berambut cokelat sebahu yang berdiri disamping itu memandangnya seolah dia memiliki tanduk di atas kepala.

"Hai!" Sapa gadis itu riang dengan senyum lebar yang manis. "Aku Sakura Haruno. Kau bisa memanggillku Sakura. Dan ini temanku Kiba Inuzuka," Sakura memperkenalkan Kiba dengan gaya seperti seorang penjual binatang peliharaan di pasar. Sasuke mendengus geli. "Kami berdua berasal dari Stand 'Roti-Kue Cenayang' di sana."

Sasuke melirik sekilas ke arah stand makanan dengan tenda berwarna merah yang dijaga oleh seorang anak laki-laki kecil. Ada tulisan 'Roti-Kue Cenayang' di papan nama stand itu. Sebelah alisnya terangkat tinggi. "Lalu?"

"Kami ingin memberikan 'pelayanan' gratis padamu. Seperti memanggilkan arwah orang yang kau sayangi yang sudah meninggal ... Aku tidak berharap orang-orang yang kau sayangi meninggal," Sakura buru-buru menambahkan saat melihat ekspresi tersinggung melintas di wajah Sasuke. "Tapi tentunya ada satu atau dua yang sudah menghadap Tuhan dan ..."

"Ayah dan Ibuku sudah meninggal," gumam Sasuke, ekspresinya datar dan kosong.

Sakura tersentak. "M-Maaf. A-aku ..."

"Kalau begitu apa kau ingin aku memanggil arwah mereka?" potong Kiba yang sejak tadi diam. "Aku juga seorang medium, dan aku bisa memanggil arwah orang yang sudah mati."

Sasuke memperhatikan Kiba dengan seksama. Wajahnya serius. Dia kemudian mendengus.

"Kau tak akan bisa," katanya sambil lalu sambil beranjak pergi.

"Aku bisa melakukannya! Jangan meremehkanku," geram Kiba tersinggung.

Sasuke menoleh dia menatap Kiba dan Sakura dengan raut dingin yang menusuk. "Aku tidak meremehkanmu. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Kau tidak akan bisa, ah ... lebih tepatnya tidak akan sanggup."

Kiba tampak emosi. "Kau tidak akan tahu kalau kau tidak mencobanya!"

Sakura mengerutkan kening. "K-Kiba. Kalau dia tidak mau ya sudah. Ayo kita pergi," ajak Sakura, namun Kiba tak menggubrisnya.

"Bebahaya bagimu," kata Sasuke lagi.

"Sudah kubilang, kita tidak akan tahu sebelum mencoba!" Dia bersikeras.

Sasuke terdiam sejenak. Dia menatap Kiba dengan ekspresi menilai, setelah beberapa menit dia kemudian mengangguk."

Sakura tiba-tiba mendapat firasat buruk, persetujuan pemuda yang memperkenalkan dirinya dengan nama Sasuke untuk menjadi pelanggan Kiba, membuatnya gelisah. Dia tidak mengerti dengan perasaannya sekarang, tapi seperti ada sesuatu dalam diri pemuda itu yang membuat alarm tanda bahaya dalam diri Sakura menyala. Menurut Sakura, Sasuke cukup tampan. Dia terlihat dingin, pendiam, dan tenang, saat Kiba menyeretnya ke stand untuk memulai ritual pemanggilan roh. Sasuke telah setuju pada ide pemanggilan arwah kedua orang tuanya oleh Kiba.

Konohamaru dan Sakura saling berpandangan penasaran saat melihat Kiba dan Sasuke duduk berhadapan dengan sebatang lilin menyala di atas meja di tengah mereka. Kiba memejamkan mata, dahinya berkerut dalam seperti sedang berkonsentrasi pada sesuatu. Sementara Sasuke? Dia tampak tenang dan kalem memandangi lilin yang menyala di depannya.

Selama sepersekian menit mereka terdiam. Sakura dan Konohamaru mendadak merasa tak nyaman, dengan udara dingin yang tiba-tiba hadir menusuk tulang. Bulu kuduk meremang, dan ketakutan tanpa alasan tiba-tiba menguasai perasaan mereka.

"Apa dia akan berhasil?" Konohamaru bertanya pada Sakura dengan suara pelan.

"Entahlah," jawab Sakura sambil mengangkat bahu.

Dan keduanya tersentak ngeri saat mendengar suara erangan penuh penderitaan keluar dari mulut Kiba. Mata pemuda itu membelalak, dan kemudian dia terbatuk dengan darah menyembur keluar dari mulutnya.

"KIBA!" Seru Sakura dan Konohamaru panik sembari berlari menghampiri Kiba yang kejang-kejang, tersungkur dari kursi, dia tampak seperti orang yang memiliki penyakit ayan. Mata Kiba telah sepenuhnya memutih.

"Ya Tuhan, Kiba! Apa yang terjadi?"

"Sudah kubilang kan?" gumam Sasuke menatap Kiba datar. Dia bangun dari kursinya lalu melangkah pergi, tidak peduli pada Kiba yang tak sadarkan diri, Konohamaru kecil yang panik, dan juga Sakura yang histeris.

Kondisi Kiba membuat Sakura dan Konohamaru tidak menyadari bahwa pelanggan terakhir mereka telah pergi.

"Sakura. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Konohamaru cemas.

"PANGGIL AYAH DAN IBU ... CEPAT!"

"B-baik."

Festival ulang tahun kota tadi malam berlangsung tak seperti yang diharapkan penduduk Circlewoods. Terjadi kekacauan di tengah festival. Kiba Inuzuka, entah bagaimana pemuda itu tiba-tiba kejang-kejang dan tak sadarkan diri, membuat keluarga dan orang-orang disekitarnya panik. Menurut Ayahnya, dia kerasukan. Kiba telah mencoba menjadi medium dan berusaha memanivestasikan wujud sesuatu hal yang berbahaya. Beliau bertanya pada Sakura dan Konohamaru, arwah siapa yang hendak dipanggil anaknya? Dengan raut wajah bingung, Sakura menjelaskan bahwa Kiba hendak membuktikan kemampuan supranaturalnya dengan memanggil arwah orang tua seorang pemuda asing yang sama sekali tidak mereka kenal.

Terlepas dari kehebohan Kiba yang kerasukan dan sampai sekarang masih tak sadarkan diri-terbaring tak berdaya di atas tempat tidur dengan wajah yang sepucat mayat, seluruh tubuhnya mendingin. Kehebohan lain terjadi di Circlewoods, seorang gadis remaja kembali menghilang. Kali ini Ino Yamanaka, Puteri tunggal pemilik hotel King itu dikhabarkan telah tidak pulang sejak semalam. Ayahnya panik dan Ibunya histeris. Menurut kesaksian teman-temannya—sesama gadis dari kalangan atas, Ino terakhir kali terlihat berduaan di bianglala bersama seorang lelaki tampan berambut gelap, yang mereka tidak tahu siapa dia.

Para orang tua yang memiliki anak gadis turut perihatin dengan masalah yang menimpa Ino, mereka pikir penculik yang menculik Ino Yamanaka dan Shion Mikko adalah orang yang sama. Mereka berniat mengawasi anak gadis mereka dengan ketat agar tidak diculik.