BAB IV
"Ini konyol! Yang benar saja? Aku harus terkurung seharian di rumah, hanya gara-gara orang tuaku takut sesuatu yang tidak akan pernah terjadi padaku akan terjadi?"
Bibi Tsunade terkekeh geli mendengar gerutuan Sakura. Gadis itu tampak begitu kesal saat orang tuanya melarangnya keluar rumah dan malah menyuruh Tsunade Namikaze datang untuk mengawasi anak mereka. Dan yang membuat Sakura makin kesal adalah saat orang tuanya melarang dia pergi menjenguk Kiba yang masih sakit.
"Kalimat akhirmu terlalu berbelut Nak," komentar Bibi Tsunade geli. Wanita enerjik itu terlihat sedang asik merajut sesuatu, dari benang wol berwarna biru.
"Tapi ini menyebalkan Bi. Kasus penculikan yang merebak membuatku tidak bisa keluar rumah … Aku bahkan tidak bisa pergi menengok Kiba yang sedang sakit." Sakura mengomel sembari berjalan mondar-mandir di ruang tamu, di depan televisi kecil hitam putih yang masih menyala-memperlihatkan film bisu antara seorang penjahat berkumis dan gadis pirang cantik.
"Jangan seperti itu. Orang tuamu hanya mengkhawatirkanmu, Sakura."
"Kekhawatiran mereka terlalu berlebihan Bi, aku bisa jaga diri," kata Sakura keras kepala.
"Kau ini bandel sekali. Turuti saja perkataan orang tuamu dengan tetap berada di rumah dan jangan protes!"
Sakura berhenti mondar-mandir, dia cemberut menatap Bibi Tsunade.
"Tapi aku ingin menjenguk Kiba," keluhnya sembari menghenyakan diri di samping Sang Bibi.
Menghentikan kegiatan menyulamnya, Bibi Tsunade menoleh ke arah Sakura, dia lalu menepuk pelan kepala keponakannya.
"Bibi tahu kau menghawatirkan Kiba, tapi percayalah, dia baik-baik saja, orang tuanya ada bersama dia. Mereka akan melakukan apapun untuk membuatnya kembali sembuh dan sadar."
Keduanya saling bertatapan mata selama sepersekian detik, lalu Sakura mengangguk pasrah.
"Bi," ucap Sakura setelah keduanya terdiam selama beberapa menit.
"Ya?"
"Menurut Bibi, apa Kiba benar-benar kerasukan arwah?" tanya Sakura sembari menoleh dan menatap Bibi Tsunade penasaran.
Menghentikan kegiatan menyulamnya, Bibi Tsunade tersenyum pada Sakura. "Kalau menurutmu?"
"Bibi selalu bilang padaku kalau semua yang tidak masuk akal di dunia ini selalu memiliki penjelasan yang masuk akal (ilmiah)."
Bibi Tsunade terdiam sejenak, dahinya berkerut dalam seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Pemuda itu seperti apa?" tanyanya tiba-tiba.
Sebelah alis Sakura terangkat bingung. "Pemuda?"
"Pemuda yang menyuruh Kiba memanggil arwah kedua orang tuanya," jelas Bibi Tsunade.
Sakura mendesah. Pemuda itu tidak menyuruh Kiba memanggil arwah orang tuanya, justru Kiba-lah yang memaksa pemuda itu agar mau menyetujui upacara pemanggilan arwah itu, pikir Sakura.
"Sakura, bagaimana ciri pemuda itu?" Bibi Tsunade mengulang pertanyaannya saat melihat Sakura melamun.
"Dia ... aku tidak pernah melihatnya di sekitar Circlewoods. Dia tampan, berusia diatas sekitar dua puluh tahunan, berpenampilan konvensional seperti pemuda dari kalangan atas, dan ... dia tampak angkuh."
"Angkuh?" Bibi Tsunade mengulang potongan perkataan Sakura. Sakura mengangguk.
"Memangnya Bibi berharap penampilannya seperti apa?"
"Seperti seorang pesulap sirkus," jawab Bibi Tsunade tanpa ragu.
Sepasang alis Sakura menukik tak mengerti.
"Menurut Bibi, Kiba dihipnotis."
"Hipnotis?"
"Ya. Seperti bahasa awamnya orang pedesaan dia diguna-guna, biasanya orang-orang yang menganggap diri mereka penyihir selalu menggunakan ilmu hipnotis (baik itu dengan sentuhan atau dengan psikotropika yang terbuat dari tumbuhan) untuk melaksanakan niat buruk mereka. Contohnya beberapa perempuan dari sebuah suku terpencil di India, memberikan suaminya minuman sejenis tumbuhan beracun yang bisa membuat kaum laki-laki berhalusinasi, mereka menganggap itu sebagai guna-guna, dan mereka melakukannya agar si suami tidak melirik wanita lain," jelas Bibi Tsunade panjang lebar.
Kerutan di dahi Sakura makin dalam. "Jadi menurut Bibi. Penjelasan yang masuk akal dari kondisi Kiba, adalah karena dia dihipnotis oleh pemuda itu?"
Bibi Tsunade mengangkat bahu. "Entahlah, itu hanya sekedar pendapat dari pecinta ilmu pengetahuan sepertiku," sahutnya sambil tersenyum.
"Kalau benar Kiba dihipnotis, kenapa Bibi tidak segera memberitahu keluarga Inuzuka?" kata Sakura bersemangat ketika mengetahui bahwa temannya memiliki peluang untuk sembuh dalam waktu dekat. Jika Kiba benar-benar dihipnotis, mereka pasti bisa menghilangkan pengaruhnya kan?
"Kaname orang yang cerdas, dia pasti bisa mengetahui apa yang terjadi pada puteranya," jawab Bibi Tsunade bijak.
Beberapa hari setelah kejadian menghilangnya dua remaja dan juga Kiba Inuzuka yang kesurupan, hari ini Circlewoods kembali heboh. Orang-orang ramai berkumpul memadati halaman sebuah rumah jagal hewan yang tidak terpakai, dan letaknya tak jauh dari pasar. Pagi tadi, sekelompok anak kecil yang biasa bermain petak umpat di properti milik adik walikota itu, menemukan sesosok mayat perempuan di halaman rumah jagal tersebut.
Mayat perempuan itu memiliki ciri-ciri ; berkulit putih, rambut pirang panjang, memakai gaun katun sederhana berwarna biru, usianya sekitar enam belas tahun, dan dia tidak memakai sepatu. Orang-orang mengenali mayat itu sebagai Shion Mikko, gadis remaja yang menghilang minggu lalu. Polisi dan dokter forensik dari Scotland Yard, yang datang satu jam setelah penemuan mayat, menyatakan bahwa Shion Mikko meninggal akibat luka tusukan pisau yang dihujamkan tepat ke jantungnya. Dia sudah meninggal selama beberapa hari.
Mr. dan Mrs. Mikko yang diberitahu oleh warga mengenai penemuan mayat anak mereka langsung menuju ke Rumah Jagal itu. Dan setibanya di sana, Mrs. Mikko langsung menangis histeris dan berkali-kali jatuh pingsan saat melihat tubuh tak bernyawa puterinya.
Kematian Shion membuat desas-desus tak baik dan rumor buruk kembali merebak. Mereka menganggap bahwa Shion Mikko telah dijadikan tumbal oleh pemuja setan, pasalnya mayat gadis malang itu diletakan di tanah—ditengah gambar besar sebuah simbol berbentuk pentagram yang digambar menggunakan ranting kayu.
"Ini seperti empat belas tahun lalu." Mrs. Smith yang dikenal sebagi tukang jahit keliling berbisik pada temannya, seorang perempuan tua berbadan kurus dengan pakaian berjumbai yang aneh.
"Maksudmu Mikoto?" Teman Mrs. Smith bergidik saat menyebutkan nama itu.
"Iya. Siapa lagi kalau bukan dia? Mikoto Uchiha, wanita gila yang membunuh puluhan gadis dan pelayannya untuk dijadikan tumbal iblis," dia berkata dengan suara parau yang rendah dan serak sehingga membuat temannya merasa tak nyaman.
"Menurutmu ... Mikoto yang membunuhnya?" si teman bertanya pada Mrs. Smith, dari nada suaranya dia terdengar ngeri. Matanya memandang perihatin pada jasad dingin gadis malang yang tengah dipeluk sang ibu.
Tsunade Namikaze tergopoh memasuki rumah saudaranya. Wajah perempuan paruh baya itu terlihat pucat pasi, sorot matanya menampakan kesedihan yang mendalam.
Tsunade mendapati Mr. dan Mrs. Haruno sedang duduk di ruang tamu dengan dua anak mereka.
"Bibi Tsunade, apa yang terjadi?" tanya Sakura heran melihat kelakuan Sang Bibi. Dia seperti hendak menyampaikan sebuah berita gawat.
"Tsunade, ada apa?" Mrs. Haruno bangun dari kursi lalu menghampiri adik iparnya, cemas.
"Shion Mikko ..."
"Shion?" Ayah dan Ibu Sakura saling berpandangan. "Apa yang terjadi dengan Shion? apa dia sudah ditemukan?" tanya Mr. Haruno penuh harap. Walau Shion bukan anaknya, dia berharap gadis itu bisa ditemukan. Dia juga memiliki seorang anak perempuan, jadi dia mengerti perasaan Mr. Mikko.
Bibi Tsunade menggeleng. "Shion mati."
Mr. Haruno tersentak. Suara pekikan tertahan terdengar dari arah Sang Istri. Sementara Sakura dan Konohamaru hanya bisa saling berpandangan, kedua anak itu tertegun dan tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Orang-orang menemukan mayatnya di depan sebuah rumah jagal tak terpakai di dekat pasar," jelas Bibi Tsunade.
"Apa polisi sudah ada di sana?" Mr. Haruno segera bangkit dari duduknya, kemudian bergegas masuk ke dalam kamar untuk mengambil mantelnya.
"Iya. Mereka sudah mengumumkan bahwa kematian Shion karena pembunuhan." Alis Sakura berkerut dalam saat melihat Bibi Tsunade memandangnya dengan sorot khawatir yang berlebihan.
Ada apa ini? pikirnya bingung.
"Ya Tuhan. Kasihan gadis itu," lirih Mrs. Haruno, nada suaranya terdengar tulus dan perihatin.
Tak lama kemudian, Mr. Haruno keluar dari kamar sambil mengenakan sebuah mantel cokelat besar yang biasa dia pakai untuk mengambil kayu di hutan.
"Aku akan ke sana untuk memastikan apa yang terjadi," katanya sambil berjalan menuju pintu keluar.
"Kizashi ..."
Mr. Haruno berhenti lalu menoleh ketika mendengar panggilan saudarinya. Tidak biasanya Tsunade memanggilnya menggunakan nama kecil. Dan Mr. Haruno langsung tahu bahwa ada sesuatu yang salah dengan kasus Shion, saat melihat ekspresi wajah Tsunade.
"Mereka menemukan mayat Shion di letakan di tengah sebuah gambar pentagram raksasa yang diukir di tanah."
Mrs. Haruno menarik napas keras mendengar informasi dari Bibi Tsunade, dengan segera dia menyambar dan menggenggam tangan Sakura erat. Hal itu membuat Sakura kebingungan, dan firasatnya bertambah buruk ketika mendapati sorot ketakutan dari mata Sang Ayah saat menatapnya.
Kasus kegilaan Mikoto memang sudah lama berakhir, namun penduduk Circlewoods masih belum bisa melupakannya. Empat belas tahun yang lalu, anak-anak gadis dari Circlewoods satu-persatu diculik dan dibunuh untuk dijadikan tumbal iblis. Salah satu ciri khas Mikoto dalam penculikannya adalah, adanya sobekan kertas kecil yang bergambar simbol-simbola aneh (seperti pentagram, hexagram, eye horus, atau scarab beetle egyptian) di TKP awal penculikan para gadis malang itu. Dan kasus penculikan Shion Mikko, disertai pembunuhan yang dibumbui dengan jenis simbol setan seperti pentagram, membuat penduduk Circlewoods resah.
Mereka khawatir tragedy empat belas tahun lalu terjadi kembali. Para gadis remaja akan diculik dan dibunuh untuk pemujaan setan. Oleh karena itu para orang tua sepakat menjaga anak-anak gadisnya dengan ketat. Termasuk orang tua Sakura.
Sakura berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia kesal. Ayah, Ibu, dan Konohamaru, sudah pergi ke TKP pembunuhan Shion, rumah jagal tak terpakai yang ada di dekat pasar. Sementara dia dilarang keluar, Bibi Tsunade disuruh menemaninya di Rumah, karena-entah dalam rangka apa-keluarganya tiba-tiba menghawatirkan keselamatan Sakura. Padahal selama ini mereka percaya bahwa Sakura yang tomboy bisa menjaga diri, orang tuanya bahkan tidak mempermasalahkan mengenai kesukaan Sakura yang sering pergi ke hutan sendirian untuk berburu.
"Apa-apaan ini? Aku mengerti kasus Shion dan Ino membuat para orang tua jadi kebakaran jenggot soal anak gadis mereka. Tapi mereka tidak perlu sampai bertingkah seperti ... Seolah dunia akan kiamat!" Sakura mengoceh kesal. Dia tidak habis pikir, kenapa penculikan Ino dan pembunuhan Shion malah berimbas terhadap kebebasannya.
Sementara itu ribuan meter dari kamar tempat Sakura mengomel sendirian. Sasuke Uchiha, tampak bergabung dengan keramaian yang terjadi di dekat pasar-yang menjadi TKP penemuan mayat Shion.
Mata gelapnya memancarkan sorot kesedihan saat melihat Ibu gadis malang itu menangis sambil memeluk jasad puterinya. Sekelebat perasaan bersalah sesaat muncul di hati Sasuke. Dia sadar, perbuatannya sudah membuat seorang Ibu kehilangan anak gadisnya. Tapi dia tidak memiliki pilihan lain.
Hati kecilnya mengasihani dan iba pada para gadis malang yang dia culik dan dia eksekusi. Tiap malam dia selalu mendapatkan mimpi buruk yang sama, suara isakan gadis-gadis itu saat dia menahan mereka di penjara bawah tanah The Castle. Dan juga suara ratapan mereka sesaat sebelum upacara eksekusi berlangsung, selalu terdengar jelas di telinganya.
"Semua ini antara mengorbankan dan dikorbankan. Lakukan apapun untuk menyelamatkan adikmu dan mempertahankan garis keturunan Uchiha. Kau harus tetap hidup, agar kau bisa melakukan apa yang sudah Ibu lakukan untuk mempertahankan keluarga kita."
Nasihat terakhir dari mendiang Ibunya—sebelum dibawa ke Rumah Sakit Jiwa, selalu diingat oleh Sasuke. Dia berpikir nasihat itu menguatkan hatinya untuk bersikap tega terhadap para gadis remaja yang menjadi korbannya.
Ketika beberapa perempuan menyebalkan yang ada di TKP pembunuhan Shion, mulai bergosip tentang kasus empat belas tahun yang lalu—yang melibatkan Mikoto Uchiha, Sasuke buru-buru pergi dari sana. Dia tidak tahan mendengar orang-orang Circlewoods yang jahat masih menggunjingkan mendiang Ibunya. Sasuke tidak mau mendengar perkataan-perkataan jelek mereka tentang Mikoto. Kalau dia tetap berada di sana, Sasuke takut akan lepas kendali dan menyerang perempuan-perempuan gila tukang gunjing itu. Apalagi di sana ada banyak polisi.
Tapi ... Tidak ada seorang anakpun di dunia ini, yang tidak akan marah dan sedih mendengar orang tuanya dijelek-jelekan dan dihina. Terlepas dari orang tua itu sudah meninggalkan anaknya sejak masih kecil, dan mewariskan banyak masalah yang sulit untuk diselesaikan. Bukankah di dunia ini tidak ada yang namanya mantan orang tua?
Saat berjalan keluar meninggalkan halaman Rumah jagal yang menjadi tempat TKP, Sasuke berpapasan dengan sebuah keluarga. Seorang lelaki tegap berambut perak, yang memiliki raut wajah dan aura kebapakan, mengenakan mantel cokelat dan celana abu-abu, menggandeng seorang wanita berambut pirang gelap yang seumuran dengan Ibu dari Shion. Wanita itu memakai gaun berwarna putih dengan motif bordir cantik berwarna cokelat pada ujung kedua lengan baju dan roknya. Rambut gelapnya disanggul rapi.
"Ya Tuhan!" Dia menjerit perihatin sambil berlari kecil menghampiri Ibu Shion yang histeris, kemudian pingsan sambil memeluk jasad anaknya.
Mereka teman dari keluarga gadis itu, pikirnya. Namun dahi Sasuke berkerut dalam saat berpapasan dengan seorang bocah lelaki kecil berusia sembilan tahun. Bocah laki-laki itu menatap Sasuke dengan seksama, alis kecilnya bertaut. Dia seperti sedang mencoba mengingat sesuatu.
Sementara Sasuke merasa familliar dengan anak kecil itu. Dia pikir mereka pernah bertemu, atau dia pernah melihatnya di suatu tempat?
Tak mau ambil pusing akhirnya Sasuke berjalan menjauhi keramaian itu.
"Diakan ..." Konohamaru bergumam pelan, "—orang yang membuat Kiba sakit?"
Sakura sedang duduk melamun di depan pintu rumahnya, sambil mendengarkan nasihat dari Bibi Tsunade—yang entah kenapa hari itu membuatnya merasa bosan. Bibi Tsunade menguliahi Sakura, tentang bagaimana menjadi perempuan yang mandiri, sambil membuat sedikit adonan roti untuk dipanggang dan di makan berdua dengan Sakura. Dia telah menyelesaikan sulamannya tadi. Sementara Sakura hanya menjawab malas-malasan nasihat Bibi Tsunade dengan kata 'iya'.
Saat sedang asik mendengar 'kuliah' dari Bibi Tsunade, tiba-tiba pandangan Sakura tertumbuk pada seorang lelaki berambut gelap yang mengenakan mantel gelap dan celana kain berwarna cokelat yang berjalan di depan rumahnya. Sakura mengerutkan kening, dia merasa familiar dengan laki-laki itu—dia pikir pernah melihatnya di suatu tempat.
Tapi dimana? Pikir Sakura mengabaikan nasihat Bibi Tsunade. Dia berusaha keras untuk mengingatnya, lalu dia tersentak saat menyadari bahwa laki-laki berambut gelap itu adalah laki-laki asing di malam festival yang sudah membuat Kiba kerasukan dan tak sadarkan diri.
Dan seolah menyadari bahwa Sakura memperhatikannya, lelaki itu berhenti, dia menoleh ke arah Sakura. Mata gelap misterius laki-laki itu bertemu pandang dengan mata hijau Sakura, hingga membuat Sakura terkejut dan salah tingkah.
Laki-laki itu mengamati Sakura selama beberapa menit, kemudian dia berbalik dan pergi.
"Dia ..." Sakura tidak mengerti kenapa dia merasa tertàrik untuk mengikuti laki-laki asing berbahaya itu. Dengan buru-buru dia melompat bangun dari duduknya, berlari ke dalam kamar untuk mengambil kantong busur dan panahnya, lalu keluar.
"Sakura! Sakura, kamu mau kemana?!" Teriak Bibi Tsunade panik melihat keponakannya yang tiba-tiba kabur.
"Saya hanya pergi sebentar Bi!" Jawab Sakura sembari berlari menjauh.
"Ya Tuhan, Sakura, diluar berbahaya! SAKURA!"
Namun Sakura tidak mengindahkan peringatan Bibi Tsunade, dia terus berlari mengikuti lelaki asing berbahaya, yang tiba-tiba menarik perhatiannya.
Sakura berlari kecil dan mengendap-endap mengikuti Sasuke masuk ke dalam hutan. Sesekali dia bersembunyi di belakang semak atau pepohonan, ketika Sasuke berhenti dan berbalik untuk melihat sesuatu—sepertinya pemuda tampan itu menyadari kalau dia sedang diikuti.
Sakura keluar dari persembunyiannya saat Sasuke kembali melanjutkan perjalanannya karena tidak menemukan orang yang menguntitnya. Dalam hati Sakura menggerutu karena tidak sempat mengganti gaun hijau muda panjangnya dengan pakaian yang biasa dia gunakan untuk berburu. Sakura mengalami sedikit kesulitan berjalan melewati semak-semak dan akar pepohonan rimbun yang besar, menggunakan gaun panjangnya.
"Sial," Sakura menggerutu pelan ketika bagian bawah belakang gaunnya tersangkut pada sebuah rimbunan semak berduri, hal itu memperlambatnya, Sakura mendengus kesal melihat Sasuke makin menjauh lalu menghilang diantara pepohonan dan semak belukar. "Seharusnya tadi aku mengganti dulu pakaianku!" Ketusnya sembari menarik paksa bagian bawah gaunnya yang tersangkut hingga sobek.
Begitu gaunnya sudah tidak tersangkut lagi, Sakura mendongak, dia lalu mendesah kecewa saat tidak melihat kemana Sasuke pergi. "Dia pergi kemana?" Gumamnya sembari melangkah maju, melongokan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk melihat jejak kemana Sasuke pergi, namun hasilnya nihil.
"Sial!" Makinya kemudian menunduk. Sakura meringis saat melihat sobekan pada bagian belakang gaunnya. "Ibu bisa membunuhku," katanya mengingat gaun yang dipakainya sekarang adalah gaun yang dijahitkan oleh sang Ibu.
"Aku akan meminta Bibi Tsunade untuk menjahit ..."
Dhuak!
Sebuah pukulan keras pada bagian belakang kepalanya membuat Sakura jatuh tersungkur. Dia pingsan—tak sadarkan diri.
Sasuke terdiam. Selama beberapa saat dia hanya berdiri tegak dan menatap kosong pada sosok gadis muda berambut merah muda yang jatuh pingsan karena perbuatannya—dia menghantam tengkuk gadis itu dengan keras menggunakan tinjunya.
Dahi Sasuke berkerut dalam. Gadis yang pingsan ini tampak familiar baginya—seperti halnya anak laki-laki kecil di TKP rumah jagal tadi. Dia merasa mengenal mereka berdua.
Mungkin aku pernah bertemu dengannya di suatu tempat, pikir Sasuke skeptis. Tapi dimana?
Beberapa detik kemudian kesadaran menghantam Sasuke. Dia ingat tentang gadis berambut merah muda yang diam-diam mengikutinya ini, dan juga bocah laki-laki di TKP. Gadis yang pingsan ini adalah 'gadis penjual roti' di malam festival. Teman dari pemuda cenayang bodoh yang telah dia buat tak sadarkan diri. Sementara anak kecil itu adalah adik laki-laki dari gadis penjual roti ini.
Sasuke menatap Sakura selama beberapa saat, bibir atasnya berkerut, ekspresinya tampak serius seperti sedang mencoba mempertimbangkan sesuatu. Dan kemudian dia mengambil dan mengeluarkan suatu benda dari balik saku mantelnya, sebuah belati pendek tajam dengan ukiran seperti sesuatu berbentuk mata pada bagian gagangnya.
Dia berjongkok, tangannya yang memegang belati diangkatnya tinggi untuk dihujamkan pada leher Sakura. Sasuke beranggapan bahwa Sakura adalah orang jahat, berbahaya—yang ingin mencelakainya dan Hinata, dia diam-diam mengikutinya ke hutan, membawa senjata berupa busur dan anak panah.
Dan ketika Sasuke hendak menusukan belati itu ke leher Sakura, sebuah suara tanpa wujud menggema di telinganya.
"Sasuke Sayang ..." Sasuke mengenali suara itu sebagai suara Ibunya. Dia kembali mengalami delusi. Satu sosok wanita cantik berambut dan bermata gelap—hampir bisa dikatakan bahwa dia adalah Sasuke dewasa versy perempuan—berjalan keluar diantara rimbunan semak. Dia. Mikoto memakai gaun hitam berenda yang panjang, kaus tangan, serta sebuah topi bulat besar yang biasa dipakai oleh para puteri kerajaan.
Dia berjalan menghampiri Sasuke, sebuah senyuman manis yang ganjil tersungging di wajah pucatnya.
"Ibu?" Sasuke mendongak. Ekspresinya berubah kosong.
"Sebelum kau membunuhnya, kenapa kau tidak memeriksanya dulu? Siapa tahu dia orang yang kita cari?" Suara Mikoto mengalun lembut bagai dentingan lonceng dari surga.
Sasuke terdiam.
"Mungkin gadis ini yang diinginkan Iblis." Bayangan Mikoto, yang nyata dalam pikiran Sasuke, ikut berjongkok di samping tubuh Sakura. Tangan dinginnya membelai lembut wajah cantik gadis remaja yang sedang pingsan itu. "Sasuke Sayang, Ibu punya firasat kalau gadis ini bisa membebaskanmu dan Hinata dari kutukan. Jangan bunuh dia sekarang. Eksekusi dia di altar pengorbanan!"
Sebelah alis Sasuke terangkat bingung. "Maksud Ibu, gadis ini keturunan dari seorang penyihir Salem dan salah satu pemuja setia iblis?"
"Iya! Iya! Itulah yang Ibu rasakan!" Suara delusi Mikoto berubah mengerikan, melengking tinggi seperti seorang anak kecil manja yang mendapat banyak permen di malam Hallowen.
"Kalau begitu aku harus menahannya." Kata Sasuke pelan. Saat dia mendongak, Ibunya sudah tidak ada. Yeah, karena memang sejak awal Mikoto memang tidak ada. Sasuke hanya berbicara dengan bayangan Sang Ibu dalam pikirannya.
Memasukan kembali belatinya ke dalam saku mantel, Sasuke lalu bangkit dan mengangkat tubuh Sakura bersamanya.
Mungkin ada benarnya aku membiarkan gadis ini hidup. Si pirang manja yang aku culik di malam festival itu, seharusnya akan dieksekusi di Altar pengorbanan malam ini. Dia bisa menjadi pengganti untuk korban berikutnya.
Sasuke menggendong Sakura menuju The Castle.
Hinata yang sedang duduk di bingkai jendela The Castle sambil menyisir rambut panjangnya, terkejut saat melihat Sang Kakak pulang sambil menggendong sesosok perempuan berambut merah muda di lengannya yang kuat.
Ini bukan bulan dan tanggalnya untuk upacara di altar pengorbanan. Dan kakaknya tidak suka berburu gadis, sebelum gadis korban yang diculik sebelumnya mati. Seingat Hinata, gadis pirang korban penculikan Sasuke sebelumnya belum mati. Dia masih dirantai di penjara bawah tanah The Castle, tadi pagi Hinata yang mengantarkan sarapan gadis itu—yang disambut dengan rintihan permohonan yang membuat Hinata tak tega.
Gadis pirang, yang mengaku bernama Ino itu, menangis dan memohon pada Hinata untuk melepaskannya. Tapi Hinata tidak berani melakukannya, dia takut Sasuke marah.
Saat Sasuke masuk ke dalam The Castle, Hinata buru-buru turun dari kamarnya, dia berlari ke ruang tamu untuk menyambut Kakaknya. Dan betapa terkejutnya dia saat mengenali gadis yang digendong Sasuke. Rambut merah muda, kulit putih, busur dan anak panah, yah ... Kecuali gaunnya ...
"Sakura!" Hinata memekik tertahan di bawah tangga.
Sasuke menoleh. Dia menatap adiknya datar. "Kau mengenalnya?"
Hinata diam tak menjawab. Dia takut Sasuke murka kalau tahu bahwa dia pernah berbicara dengan orang dari Circlewoods, karena dia tahu bahwa Sasuke beranggapan semua orang yang berasal dari kota kecil itu adalah orang jahat.
Kediaman Hinata diartikan Sasuke sebagai jawaban iya. Dia menganggap Hinata mengenal gadis dalam gendongannya ini.
"Kita akan membicarakan ini nanti," katanya kemudian berbalik memunggungi Hinata. Dia lalu berjalan menyusuri koridor—menuju ruang bawah tanah untuk memenjarakan gadis ini.
Langkah Sasuke terhenti saat tubuh gadis dalam gendongannya bergerak pelan, dengan mata terpejam dia mengeluarkan suara rintihan sedih.
"Bibi ..."
"Sakura ..." Gumam Sasuke pelan. Untuk sesaat dia memperhatikan wajah Sakura dengan seksama. Setelah itu dia melanjutkan langkahnya ke ruang bawah tanah The Castle.
"SAKURA HILANG!"
"Maafkan aku Kizashi. Aku tidak bisa menjaganya dengan baik," sesal Tsunade Namikaze sambil mengusap wajahnya frustrasi.
Hari sudah larut malam. Sakura yang tadi pagi kabur-entah karena apa, keluarganya tidak tahu-sampai sekarang belum pulang. Mr. dan Mrs. Haruno panik. Kematian Shion, dan hilangnya Ino, membuat mereka sangat khawatir.
Mrs. Haruno menangis sesengukan di kursi goyang sudut ruangan, dengan Konohamaru yang mencoba menenangkan. Bibi Tsunade tampak tertunduk lesu di sofa depan televisi. Sementara Mr. Haruno berjalan mondar-mandir tak sabar di depan mereka.
"Bagaimana kau bisa seceroboh ini, Tsunade?!" Bentak Mr. Haruno. "Ya Tuhan, Sakura, sebenarnya apa yang anak itu pikirkan sampai dia kabur begitu!"
"Aku sendiri tidak tahu, Kizashi. Dia tiba-tiba berlari masuk ke kamar, mengambil busur dan anak panahnya lalu berlari keluar ... Aku tidak tahu apa yang dia kejar," jelas Bibi Tsunade.
Ayah Sakura dan Bibi Tsunade menoleh saat mendengar suara sedu-sedan pilu Mrs. Haruno.
Kizashi Haruno terdiam sejenak. Dia lalu mendesah putus ada, mengambil mantel dan topinya yang dia gantung di dekat pint, Mr. Haruno kemudian membuka pintu rumah, dia hendak keluar.
"Kau mau kemana?" Tanya Mrs. Haruno parau saat melihat suaminya yang hendak pergi.
"Aku akan ke Balai Kota, mengumpulkan orang-orang untuk membantu kita mencari Sakura. Semoga saja dia tidak diculik oleh penculik Ino ataupun pembunuh Shion." Mr. Haruno harap-harap cemas.
"Tsunade. Jaga mereka."
"Baiklah. Tolong temukan Sakura."
"Hmm."
Sakura terbangun dalam posisi yang tidak nyaman. Dia merasa kepalanya sakit, kedua tangannya terangkat ngilu, dan kedua kakinya seperti ditarik dan diikat menggunakan sesuatu yang keras dan dingin.
Hal pertama yang Sakura lihat ketika membuka mata adalah cahaya api dari sebuah obor tiki menyala, menerangi ruangan gelap lembab berjeruji yang berbau aneh dan minim pencahayaan.
Sakura mengerutkan kening. Untuk beberapa saat dia tampak bingung dan kehilangan orientasi, lalu matanya melebar ketika menyadari bahwa ... Dia berada di penjara. kedua tangan dirantai menggunakan rantai besi yang direkatkan kuat di dinding belakang tempat Sakura bersandar.
"A-apa-apaan ini?" Kata Sakura panik sembari berusaha melepaskan borgol rantai yang melekat di tangannya, namun dia tidak bisa, hal itu hanya menimbulkan rasa sakit. "Ya Tuhan, apa-apaan ini?!"
"Kau sudah bangun?"
Suara lembut nan parau dari seorang gadis, mengagetkan Sakura. Dia menoleh dan terkejut mendapati Ino Yamanaka ada di sana. Keadaan gadis itu sama seperti Sakura, tangan dan kakinya terborgol oleh rantai besar yang direkatkan di dinding belakang mereka.
"I-Ino?" Sakura ternganga, sorot matanya menyiratkan keprihatinan melihat kondisi Ino yang ... Bukan seperti Ino Yamanaka yang biasanya. Sakura mengenali gaun yang dikenakan Ino sebagai pakaian yang dia pakai dimalam festival lalu, namun sekarang gaun biru mahal itu tampak seperti pakaian gelandangan, kusam dan berbau apek. Rambut Ino yang biasa disanggul rapi, kini berantakan, dan wajahnya pun tampak kotor.
"Kau mengenaliku?" Tanya Ino pelan. Dia mengerjap menatap Sakura.
"Kau Ino Yamanaka, puteri tunggal pemilik hotel King."
Ino mendengus mendengar penjelasan Sakura mengenai identitasnya.
"Kau juga dari Circlewoods?" Tebak Ino.
Sakura mengangguk.
Keduanya terdiam sejenak.
"Bagaimana kau bisa berada disini?" Tanya Sakura lagi.
Ino diam. Sesaat kemudian dia menjawab, "Karena kebodohanku," katanya pahit. "Seharusnya aku tidak mempercayai orang asing."
Sakura mendesah. Enggan mendesak Ino untuk mengungkap lebih banyak, karena pasti Ino sudah mengalami suatu hal yang begitu buruk, sampai keperibadian Ino yang biasanya angkuh dan banyak bicara, kini berubah lembut dan ... Yah ... Gadis Yamanaka itu tampak terguncang.
"Kau sediri, bagaimana kau bisa berada di sini?" Ino balik bertanya pada Sakura.
Sakura terdiam. Ingatannya melayang pada sosok pemuda asing di malam festival yang membuat Kiba kesurupan. Tadi pagi, dia melihat pemuda itu dan mengikutinya masuk ke dalam hutan. Dan kemudian ... Dia tidak ingat apapun lagi karena semua menjadi samar dan gelap saat dia pingsan.
"Hei ..."
"Sama sepertimu," Sakura menoleh ke arah Ino, "aku berada di sini juga karena kebodohanku."
Ino terkekeh sedih. "Kita para gadis memang selalu menjadi bodoh jika berhadapan dengan pemuda tampan ..."
"Hmmm." Sakura bergumam, membiarkan Ino berpikir bahwa Sakura berada disini karena jatuh cinta pada ketampanan si penculik.
"Oh ya, maaf jika aku menanyakan hal ini. Kau mengenalku tapi aku tidak mengenalmu. Boleh aku tahu siapa namamu?"
"Sakura Haruno. Tapi panggil saja aku Sakura."
"Haruno? Toko Roti Haruno?"
Sakura mengangguk. Senyuman manis tersungging di bibirnya saat mendengar gadis kaya seperti Ino tahu tentang toko roti kecil milik keluarganya.
Sakura berusaha untuk tetap tenang dan tidak takut pada keadaan yang terjadi sekarang. Dia tahu dia harus tetap berpikiran jernih agar bisa lolos dari tempat ini. Sakura curiga, lelaki tampan berambut gelap yang waktu itu memperkenalkan dirinya dengan nama Sasuke, adalah penculik dan pembunuh Shion.
Dia ingin bertanya pada Ino, apakah Shion juga dikurung di tempat ini sebelum dibunuh? Tapi dia mengurungkan niatnya karena takut Ino histeris. Lagipula, kelihatannya teman pertama Ino di sel ini adalah Sakura—tidak ada tanda-tanda dua gadis dirantai pada saat bersamaan di tempat ini.
Sakura mengamati perbedaan borgol rantai yang dipakai Ino dengan yang dia pakai, satu masih agak baru, tampak jarang dipakai dan yang satu lagi sudah berkarat.
Itu berarti si penculik tidak berencana menculik dan membunuhku, dia melakukan ini karena aku diam-diam mengikutinya.
Sakura sedang terkantuk-kantuk ketika dia mendengar suara tangisan Ino dan permohonan pilunya. Dia terbangun lalu menoleh, matanya membelalak melihat Sasuke, yang tampak seperti seorang malaikat pencabut nyawa dalam balutan jubah hitam panjangnya.
Dia melepaskan borgol tangan dan kaki Ino, lalu menjambak dan menyeret gadis itu kasar menuju pintu keluar penjara.
"HEI! APA-APAAN KAU?! LEPASKAN DIA!" Teriak Sakura merasa begitu berani karena kasihan dan marah melihat Ino diperlakukan sedemikian rupa.
Ino menatap Sakura dengan pandangan memohon, air matanya berlinang. "Sakura tolong ..." Pintanya, walau tahu bahwa teman barunya itu tidak akan bisa menolong.
"HEI! LEPASKAN DIA BRENGSEK!" Maki Sakura murka.
Laki-laki itu berhenti menyeret Ino. Tangan Sasuke masih berada di rambut Ino, dia menoleh menatap Sakura datar.
Sekelebat perasaan asing menyusup di hati Sasuke saat mata gelapnya bertemu pandang dengan mata hijau Sakura yang marah. Dia menatap Sakura bingung.
"LEPASKAN DIA PENCULIK HINA!" Bentakan Sakura membuat Sasuke sadar dari lamunan.
Tak menjawab, dia kemudian kembali menyeret Ino pergi dari penjara bawah tanah itu.
"Sakura. Tolooong ..." Tangisan terakhir Ino terdengar sebelum dia keluar dari pintu penjara untuk dieksekusi.
"Ino ..."
Mr. Haruno mendesah sedih. Sudah berjam-jam dia dan para lelaki dari Circlewoods mencari keberadaan Sakura di seluruh penjuru kota, namun hasilnya nihil. Seperti halnya Ino dan Shion (sebelum meninggal), puteri sulung keluarga Haruno itu hilang seperti ditelan bumi.
Mereka mencari Sakura dari malam hingga subuh. Mr. Haruno mulai putus asa. Dia berdiri di perbatasan kota sambil menunduk sedih.
Kepalanya hampir meledak saat memikirkan segala sesuatu tentang Sakura. Bagaimana keadaan putriku? Apa yang terjadi padanya? Apa dia baik-baik saja? Dan ... Semoga dia tidak berakhir seperti Shion.
Mr. Haruno berbalik saat merasakan tepukan pada punggungnya. Mr. Mikko menatapnya perihatin. Sebagai seorang Ayah yang baru saja kehilangan anaknya, dia mengerti perasaan Mr. Haruno.
"Kita hanya bisa berdoa semoga Sakura baik-baik saja dan ... Tidak berakhir seperti anakku," katanya pahit.
Mr. Haruno mengangguk lesu.
