WOLF BITE
.
Main Cast:
Xi Luhan
Oh Sehun
Other Cast:
EXO Members
.
.
If the world goes blind and I lose my mind
Will you show me the way?
Luhan terus memacu mobilnya. Di kanan kiri jalan yang dilewatinya mulai tertutupi pohon-pohon besar, itu artinya ia sudah hampir sampai tempat tujuan, yaitu rumah kakeknya.
Xi Luhan, merupakan putri tunggal dari seorang pengusaha kaya raya. Tinggal sendirian di Korea karena ayah dan ibunya mengurusi bisnis mereka di China. Di rumah ia hanya ditemani seorang pembantu yang telah merawatnya sejak kecil—bibi Huang dan putri semata wayang bibi Huang yaitu Zitao. Luhan sangat dekat dengan kakeknya karena sang kakek-lah satu-satunya keluarganya yang ada di Korea.
Beberapa menit kemudian ia sudah sampai di halaman sebuah rumah bergaya kuno—rumah kakeknya. Dengan tergesa Luhan memarkir mobilnya dan memasuki hutan di belakang rumah kakeknya yang sebenarnya cukup mengerikan. Yeoja berambut karamel itu berjalan setengah berlari, selain karena hari sebentar lagi sore, di dalam hatinya ia juga merasa takut dengan hutan itu.
"Harus berjalan seberapa jauh lagi sih? Belum terlihat juga pondoknya" gerutu Luhan sambil berjalan terseok-seok. Ia mulai kelelahan.
KREK.
Luhan menengok secepat kilat ke arah belakang. Ia merasa ada seseorang yang mengikutinya. Jujur Luhan itu super penakut dan sekarang ia hampir menangis karena ada suara-suara tidak jelas di belakangnya. Gadis itu masih menyenteri semak-semak di belakangnya, saat ia kembali menengok ke depan—
"AAAAAAAA!"
—ada sesosok manusia berdiri tepat di depannya.
"PERGI! PERGI! JANGAN GANGGU AKU!" Luhan memukuli sosok itu dengan brutal.
Sosok itu dengan sigap memegang tangan brutal Luhan.
Luhan shock. Ia kemudian menyenteri wajah sosok di depannya yang ternyata seorang namja dengan tubuh lebih tinggi darinya.
"Ayo pergi dari sini, disini tidak aman, banyak binatang buas" Namja itu dengan seenak hati menarik tangan Luhan dan mengajaknya beranjak dari situ.
"Jadi, kau kan orangnya?" tanya Luhan ketika mereka sudah sampai di sebuah pondok di tengah hutan.
"Maksudnya?" Namja itu mengernyit, tidak paham dengan pertanyaan Luhan barusan.
"Kau Sehun kan? Kakekku menyuruhku menjemputmu" Luhan berkata lagi sambil terus mengamati sosok yang menurut kakeknya seorang werewolf itu. Dia tampan, itu yang ada di benak Luhan.
"Kakekmu? Maksudmu kakek Xi? Lalu dimana dia sekarang? Kenapa ia tidak datang? Sudah sebulan ia tidak menjengukku disini" tanya namja bernama Sehun itu menginterogasi.
"Kakek— sudah meninggal" Luhan berkata lirih.
Sehun membulatkan matanya, hendak berkata sesuatu tapi kemudian ia menutup mulutnya kembali.
"Ap—apa itu berarti kakek tidak akan kembali kesini lagi?" tanya Sehun dengan polosnya.
Luhan hanya mengangguk pelan.
Kemudian hening diantara keduanya.
"Apa kau begitu menyayangi kakekku?" Luhan membuka pembicaraan lagi.
Sehun mengangguk sedih. "Aku.. tidak memiliki siapa-siapa lagi selain kakek."
Bagaimana kalau ia tau kakek yang membunuh ayahnya? Apa ia masih akan menyayangi kakek? Luhan membatin.
"Ehm.. Memangnya orangtuamu dimana?" Luhan bertanya dengan hati-hati.
"Kata kakek mereka meninggal saat aku masih bayi."
Luhan hanya mengangguk-angguk sambil mengamati pondok kecil tempat Sehun tinggal itu. Kecil, tapi cukup bersih.
"Jadi sejak kecil kau tinggal disini?" tanya Luhan lagi.
"Ne, kakek tidak mengizinkanku keluar dari hutan. Katanya itu berbahaya" Sehun berkata sambil terus memperhatikan Luhan dari atas sampai bawah.
"Bukannya di hutan itu malah lebih berbahaya ya?" gumam Luhan.
Sehun tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke wajah Luhan.
"YA! YA! Kau mau apa?" Luhan berjengit dan memundurkan kepalanya.
"Kau tampak berbeda dengan yang disini—" Sehun berkata sambil menunjuk sebuah foto yang entah sejak kapan ada di tangannya.
Luhan melongo. Itu adalah fotonya saat berumur 6 tahun, berpose meringis menunjukkan giginya yang ompong.
Ya Tuhan kakek kenapa harus foto yang itu? Batin Luhan miris.
"Tentu saja berbeda sekarang kan aku sudah dewasa!" jawab Luhan kesal.
"Dewasa itu apa?" tanya Sehun bingung.
Luhan menepuk jidatnya. "Astaga bukannya kakek selama ini mengajarimu banyak hal ya?"
"Kakek hanya mengajariku membaca dan menghitung saja, Xiao Lu" jawab Sehun polos.
Luhan membulatkan matanya kaget karena biasanya hanya kakeknya yang memanggilnya dengan panggilan Xiao Lu.
"Baiklah, baiklah mulai sekarang aku akan mengajarkanmu banyak hal. Dan mulai sekarang kau tinggal denganku ne?" kata Luhan sambil menepuk-nepuk kepala Sehun.
"Jadi Xiao Lu akan tinggal disini bersamaku?" tanya Sehun berbinar-binar, menyangka bahwa ia tidak akan kesepian lagi di hutan.
"Bukan bukan, kau ikut denganku ke Seoul, kita tinggal di rumahku" jelas Luhan.
"Tidak bisa, kata kakek aku tidak boleh meninggalkan hutan, itu berbahaya" kata Sehun. Luhan mendesah frustasi. Anak ini bodoh atau apa sih? Batinnya.
"Hutan itu lebih berbahaya untuk manusia seperti kita astaga!" kata Luhan. Tunggu dulu, dia kan bukan manusia ya? Luhan membatin sambil membekap mulutnya. Ia kelupaan kalau Sehun bukanlah manusia biasa.
Luhan kemudian membantu Sehun berkemas dan bergegas meninggalkan pondoknya.
"Baiklah kajja kita pergi sekarang!" Luhan menggandeng tangan Sehun, sekilas mengerling gelang yang dipakai Sehun—memastikan gelang itu masih ada dan berjalan keluar dari hutan.
"Waaahh seperti istana di buku dongeng yang biasa dibacakan kakek!" teriak Sehun girang saat pertama kali melihat rumah Luhan.
Luhan hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum melihat kelakuan namja di sebelahnya. Badannya boleh tinggi dan tegap tapi kelakuan masih semacam bocah lima tahun.
Sehun masih saja berteriak 'woah' berkali-kali saat diajak Luhan masuk ke rumahnya yang super mewah itu. Saat Luhan menunjukkan kamar untuknya, ia langsung melompat-lompat di atas kasurnya.
"Wah ini empuk sekali, sungguh menyenangkan!" Sehun masih terus melompat-lompat sambil tertawa senang. Luhan hanya terkekeh melihatnya.
"Ayo kita makan malam dulu Sehunnie, kau pasti lapar"
Sehun menurut, dan melompat turun dari tempat tidurnya.
.
"Nah, ini bibi Huang, kalau kau butuh apa-apa kau bisa meminta bantuannya" kata Luhan saat ia dan Sehun tengah berada di meja makan. Luhan memperkenalkan Sehun sebagai sepupu jauhnya.
Sehun mengangguk, sambil terus mengunyah daging yang tengah dimakannya.
"Kalau ini, anak bibi Huang, namanya Zitao, sepertinya kalian seumuran, berarti nantinya kalian satu sekolah" Luhan berkata sambil menunjuk seorang yeoja berambut hitam panjang yang tampak menatap Sehun dengan malu-malu.
"Sekolah itu apa sih?" tanya Sehun, yang sontak membuat semuanya sweatdrop.
Luhan tersenyum kikuk pada bibi Huang dan Zitao yang memasang tampang penuh tanya karena pertanyaan Sehun barusan
"Ehm, kau sudah mengantuk ya Sehunnie? Kembali ke kamarmu saja kalau begitu hahaha" Luhan mengalihkan topik pembicaraan sambil tertawa canggung dan menyeret Sehun ke kamar.
Ya Tuhan anak ini benar-benar tidak tahu apa-apa, aku harus mengajarinya mulai dari mana? Luhan membatin.
"Sehun-ah, kau memakai gelang ini sejak kapan?" tanya Luhan saat mereka sudah berada di kamar Sehun.
"Molla, mungkin sejak bayi, aku tidak ingat" kata Sehun sambil menggelengkan kepalanya dengan lucu. Luhan gemas sekali melihatnya. Bagaimana bisa anak sepolos ini adalah seorang werewolf?
"Kakek juga memakai gelang seperti ini" kata Sehun lagi.
"Ne, dan kakek sekarang memberikan gelang itu padaku Sehun-ah" Luhan tersenyum sambil memamerkan gelangnya. "Karena aku yang akan menjagamu mulai sekarang."
"Aku berjanji akan menjadi anak yang baik dan tidak akan menyusahkan Xiao Lu" Sehun berkata sambil menunjukkan eyesmile-nya.
Manis sekali, batin Luhan.
"Kau akan kuanggap sebagai adikku sendiri mulai sekarang, Sehunnie" kata Luhan sambil mengacak rambut Sehun.
Sehun tersenyum lagi. Ia tidak paham kenapa saat itu tiba-tiba jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Hari ini adalah hari pertama Sehun ke sekolah. Luhan berniat mengantarkannya walaupun sebenarnya Sehun bisa berangkat bersama Zitao.
"Waah Sehunnie tampan sekali!" seru Luhan sambil terkekeh saat melihat Sehun dengan seragam sekolahnya yang tampak lucu karena ia mengancingkan semua kemejanya dan celana yang ia pakai terlalu ke atas. Jangan lupakan rambut belah tengahnya.
Sehun tersenyum senang karena disebut tampan, sama sekali tidak tahu bahwa Luhan sebenarnya menertawai penampilannya.
Sehun dan Zitao bergegas masuk ke dalam mobil Luhan. Sementara Luhan terlihat sedang mengobrol dengan seseorang di depan gerbang rumahnya.
"Chanyeol oppa mau berangkat kuliah?" tanya Luhan pada namja tinggi dan tampan di depannya yang tampaknya juga baru saja mengeluarkan mobilnya.
"Iya sekalian mengantar Jongin ke sekolah, motornya rusak gara-gara dipakai balapan liar olehnya, anak itu benar-benar" Chanyeol berkata sambil men-deathglare seseorang di dalam mobilnya.
"Jangan sampai anak itu kubiarkan dekat dengan Sehunnie kalau begitu, nanti Sehunnie bisa rusak" gumam Luhan pelan.
"Kau bilang apa barusan Lu?" tanya Chanyeol heran.
Luhan hanya menggeleng sambil nyengir.
"Oh iya, namja yang ada di mobilmu itu siapa?" Chanyeol bertanya sambil menggedikan kepala ke arah Sehun.
"Ng.. dia sepupuku oppa, hehe" jawab Luhan sambil nyengir lagi.
"Oh begitu. Baiklah aku berangkat duluan Lu" Chanyeol berkata sambil mengusak pelan rambut Luhan yang membuat pipi Luhan merona.
Sehun hanya menatap adegan itu dengan heran. Kenapa pipi Xiao Lu selalu merona saat di dekat orang itu ya? Batinnya.
"Kajja kita berangkat!" Luhan memasuki mobil dengan berseri-seri.
"Yess nanti di kampus aku bisa bertemu dengan Chanyeol oppa lagi hihi" gumam Luhan sambil senyum-senyum sendiri.
Sehun dan Zitao hanya menatap Luhan dengan heran.
Hal yang ditakutkan Luhan ternyata terjadi. Di kelas, Sehun duduk disamping Jongin. Dan sejak kelas belum dimulai Jongin sudah mengajarkan hal aneh-aneh pada namja polos disampingnya. Seperti menggoda yeoja di kelas mereka misalnya.
"Kenapa kau mengeluarkan bunyi seperti itu?" tanya Sehun heran saat Jongin bersiul melihat yeoja paling cantik di kelas baru saja duduk didepannya. Yeoja itu hanya merona malu.
Jongin melongo, tidak percaya dengan kepolosan teman barunya.
"Itu artinya kau mengagumi mereka karena mereka cantik" bisik Jongin kemudian sambil menyeringai jahil.
Sehun mengangguk-angguk. "Aaahh berarti kalau aku harus melakukan itu pada Xiao Lu, dia kan sangat cantik."
"Eh? Maksudmu Luhan noona? Kau menyukainya? Bukankah dia itu sepupumu ya? Lagipula dia kan menyukai Chanyeol hyung sejak dulu" kata Jongin lagi.
Sehun sebenarnya bingung dengan apa yang dikatakan Jongin, masalah menyukai dan sebagainya, dia benar-benar tidak paham. Tapi satu yang bisa ia simpulkan, bahwa jika kau menyukai seseorang wajahmu akan terus merona bila didekatnya.
Ketika kelas dimulai, mereka ditugaskan membentuk kelompok sebanyak tiga orang tiap kelompok. Dan Sehun, Jongin, dan Zitao berada dalam satu kelompok.
Dari awal mereka menarik bangku untuk duduk satu meja, Zitao terus menunduk malu dan wajahnya memerah bila Sehun mengajaknya bicara. Jongin yang paham akan gelagat Zitao dengan sengaja membiarkan Sehun dan Zitao yang mengerjakan semuanya dan dia hanya menonton mereka berdua berinteraksi.
"Jongin-ah, kenapa kau tidak ikut mengerjakan?" protes Sehun.
"Aku tidak bisa, kalau aku yang mengerjakan nanti salah semua, kalian saja yang kerjakan" Jongin beralasan.
Sehun akhirnya menyadari juga tingkah aneh Zitao sedari tadi.
Kenapa dia selalu merona setiap aku ajak bicara? Batin Sehun bingung.
"Zitao? Kau menyukaiku ya?" tanya Sehun frontal.
JDER.
Muka Zitao bertambah merah dari semula. Tanpa mempedulikan sekitarnya ia berlari keluar kelas diiringi tatapan bingung teman-temannya.
Jongin yang menyaksikan semuanya hanya sweatdrop. Tapi karena pelajaran masih berlangsung ia mengurungkan niatnya untuk mengomeli Sehun.
"Heh kau gila ya! Kenapa kau menanyakan yang seperti itu pada Zitao!" ledak Jongin saat jam istirahat.
Sehun hanya memasang tampang bingung.
"Memangnya kenapa? Kan aku hanya bertanya apa dia menyukaiku? Apanya yang salah?" tanya Sehun polos.
"ASTAGA KAU ITU BERASAL DARI PLANET MANA SIH?" teriak Jongin frustasi.
Jongin kemudian menjelaskan tentang menyukai lawan jenis dan bla bla bla pada Sehun dengan sesekali menepuk jidatnya karena pertanyaan remeh Sehun.
"Nah kau paham sekarang?" tanya Jongin. "Aku heran kau hidup dimana sih selama ini sampai hal-hal begitu saja tidak paham."
"Eh berarti aku harus minta maaf pada Zitao ya, Jongin-ah?" tanya Sehun tiba-tiba.
"Tentu saja, dia pasti malu dan bingung tiba-tiba kau tanya seperti itu. Sudah sana cari dia, aku mau ke toilet dulu" kata Jongin sambil berjalan menjauh.
"Tunggu aku ikut!"
.
DI DALAM TOILET
"Whoaa punyamu lumayan besar juga" kata Jongin saat Sehun membuka resleting celananya.
Sehun bingung. Dia mengikuti arah pandang Jongin dan baru paham apa yang dibilang Jongin lumayan besar.
"Memangnya kenapa kalau besar?" tanya Sehun bingung.
Jongin mengela nafas lelah.
"Astaga apa aku harus menjelaskan yang ini juga?" keluh Jongin.
"Kalau besar memangnya kenapa Jongin-ah?" Sehun bertanya lagi.
"Kalau besar berarti masa depanmu cerah! Sudahlah aku mau ke kantin!" jawab Jongin ketus sambil mencuci tangannya dan bergegas keluar toilet meninggalkan Sehun yang masih kebingungan.
Sudah seminggu Sehun tinggal di rumah Luhan. Dan malam-malam yang paling Luhan takutkan dalam sebulan datang, malam bulan purnama. Dalam suratnya kakek Luhan menjelaskan bahwa Sehun harusnya berubah menjadi manusia serigala pada satu hari di malam bulan purnama, karena ia hanya setengah werewolf .
Luhan tengah pergi bersama Chanyeol ketika gelang yang dipakainya terasa panas.
Gawat, menurut petunjuk kakek ini artinya ia dalam fase perubahan, batin Luhan cemas.
"Ehm, oppa bisa tidak kita pulang sekarang?" tanya Luhan hati-hati saat mereka baru saja sampai bioskop.
"Eh? Wae? Kita kan baru saja sampai, Lu" tanya Chanyeol keheranan.
Luhan menggigit bibir bawahnya bingung.
"Itu.. Kepalaku, tiba-tiba pusing" Luhan beralasan.
Chanyeol tidak ada pilihan lain selain mengikuti keinginan Luhan. Mereka sudah bertetangga sejak kecil dan Luhan sudah ia anggap adiknya sendiri sehingga ia tahu betul watak Luhan.
.
Luhan memasuki rumahnya dengan tidak sabaran. Ia langsung berlari menuju kamar Sehun. Zitao melihat Luhan masuk ke dalam kamar Sehun dan merasa keheranan. Ia hendak bertanya tapi ketika dirasa Luhan tampak terburu-buru ia mengurungkan niatnya.
Ketika ia membuka kamar dilihatnya Sehun tengah berbaring sambil menunjukkan wajah kesakitan. Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.
"Sehun-ah, gwenchana?" Luhan mendekati Sehun dan mengguncang badannya tapi Sehun tetap terpejam sambil sesekali mengerang.
Luhan khawatir setengah mati. Ia menggenggam tangan dingin Sehun.
Apa sesakit itu Sehun-ah? Tapi aku tidak bisa melepaskan gelang ini dan membiarkanmu berubah, batin Luhan sambil menatap Sehun sedih. Sesekali ia mengelap keringat yang mengalir di pelipis Sehun dengan sayang.
"Kata kakek aku harus terus berada didekatnya sampai matahari terbit, baiklah" gumam Luhan sambil memposisikan kepalanya telungkup diatas tangan Sehun yang tengah ia genggam dengan erat.
Sementara itu Zitao tengah menguping di depan pintu kamar Sehun. Ia penasaran. Tapi yang ia dengar hanya suara erangan Sehun. Sebenarnya apa yang mereka lakukan di dalam?
.
.
.
Hahaha maafkan ya lama update, udah mulai kuliah soalnya heol~
Semoga masih sudi buat review yaa gomawooo~
P.S : Disini Sehun bukan dipelihara kayak binatang peliharaan sama kakeknya Luhan, tapi dirawat dari kecil maksudnya hahaha kayaknya kemaren banyak yg salah paham hehe
