WOLF BITE

.


Main Cast:

Xi Luhan

Oh Sehun

Other Cast:

EXO Members


.

.


If the world goes blind and I lose my mind
Will you show me the way?


.

.

.

Sehun bangun dengan kepala yang masih sedikit pening. Ia merasakan ada sesuatu yang menghimpit lengannya. Kepala Luhan tertelungkup di atas tangannya. Yeoja cantik itu masih tertidur dengan pulas.

Entah karena insting atau apa tiba-tiba Sehun membelai rambut ikal Luhan dengan sayang. Kemudian mengelus pipinya.

Tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang berdesir di dadanya. Jantungnya berpacu ratusan kali lebih cepat. Sehun bingung dengan fenomena yang terjadi dalam dirinya.

"Eh Sehunnie sudah bangun?" tanya Luhan dengan suara agak serak, membuyarkan lamunan Sehun.

Sang yeoja kemudian menegakkan badannya dan mengucek matanya dengan imut.

DEG.

Luhan baru sadar kalau badan Sehun yang penuh dengan peluh membuat bentuk badannya tercetak dengan jelas. Dan rambut acak-acakannya itu menambah kesan seksi tersendiri. Ugh.

Luhan menelan ludah dan menggelengkan kepalanya. Astaga kenapa aku jadi berpikiran macam-macam?

"Xiao Lu semalaman berada disini?" tanya Sehun.

"E-eh? Iya Sehunnie" Luhan tergagap, karena pikirannya tengah fokus memikirkan hal-hal aneh.

"Maaf ya merepotkanmu, biasanya kalau aku demam begini kakek yang menemaniku" kata Sehun dengan nada menyesal.

"Eh? Demam? Jadi kata kakek kau hanya demam begitu?" Luhan keheranan.

"Tentu saja, memang apa lagi?" Sehun bertanya bingung.

Luhan menggeleng dan menjawab dengan kikuk. "Ti-tidak kok, tidak ada."

Jadi kakek tidak memberitahu siapa—ah apa—dia itu sebenarnya? Luhan membatin.

"Kau mandi dulu sana Sehunnie, badanmu berkeringat begitu" Luhan berkata sambil agak merona karena memperhatikan badan Sehun lagi.

Kemudian Sehun keluar dari kamar diiringi Luhan dibelakangnya. Mereka tidak menyadari ada sepasang mata menatap mereka penasaran dari celah pintu kamar seberang. Huang Zitao.

"Sebenarnya apa yang mereka lakukan? Bahkan pagi hari nona Lu baru keluar dari kamar Sehun" gumam Zitao. Entah kenapa hatinya terasa sakit.

.

.

.

.

.

.

Zitao berangkat ke sekolah sendirian karena menurut Luhan Sehun sedang sakit. Sebenarnya Zitao agak tidak percaya karena berdasarkan penglihatannya yang menurutnya masih normal Sehun terlihat baik-baik saja tadi.

Sampai di kelas yeoja bermata panda itu tampak tidak bersemangat dan langsung menelungkupkan kepala pada mejanya.

"Heh Sehun mana? Tumben tidak berangkat bersama?" Jongin yang duduk di belakang Zitao menanyakan keberadaan teman sebangkunya.

"Dia sakit" jawab Zitao singkat.

"Eh? Sakit apa? Sepertinya kemarin baik-baik saja?" Jongin keheranan.

Zitao membuat gerakan mendadak menoleh ke arah Jongin, membuat namja itu berjengit dan nyaris jatuh ke belakang.

"YA! Jangan mengagetkanku dong!" teriak Jongin.

"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu, tapi kau janji jangan beritahukan ini pada Sehun" Zitao berkata sambil menyipitkan matanya mengancam.

Jongin memutar bola matanya. "Iya iya katakan saja."

"Semalam nona Lu masuk ke kamar Sehun dan baru keluar tadi pagi. Kemudian saat mereka keluar kamar aku melihat Sehun berkeringat dan wajahnya tampak sayu. Kira-kira mereka habis melakukan apa?" jelas Zitao panjang lebar.

Jongin melongo. Otak mesumnya bekerja ratusan kali lebih cepat.

Sialan si cadel, mukanya saja kelihatan polos, ternyata aku kalah telak olehnya! Jongin membatin frustasi.

Dengan tergesa Jongin mengambil ipad di tasnya dan mulai memainkan jarinya tidak sabaran, tampak mencari sesuatu. Zitao memperhatikan dengan raut wajah serius sekaligus penasaran.

"Mereka melakukan ini" kata Jongin sambil menunjukkan sebuah gambar pada Zitao.

Muka Zitao merah padam. Antara menahan malu melihat gambar itu dan menahan marah pada si mesum Jongin.

DUAKK.

"ADUH! KENAPA MEMUKULKU SIH!" teriak Jongin setelah kena pukulan buku kalkulus yang entah setebal apa.

"DASAR MESUM!" Zitao berteriak sambil mendelik pada Jongin sebelum menelungkupkan kepalanya lagi pada mejanya.

Yeoja itu malah membayangkan Sehun dan Luhan beradegan tanpa busana seperti pada gambar yang ditunjukkan Jongin tapi kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.

TIDAK ZITAO TIDAK! MEREKA TIDAK MUNGKIN SEPERTI ITU! Teriaknya dalam hati.

.

.

.

.

.

Di sebuah rumah bernuansa kayu di kedalaman hutan, tampak dua namja tampan berbeda usia tengah berbincang serius.

"Jemput dia sekarang Kris—" ucap namja dengan rambut yang mulai memutih.

Namja bernama Kris hanya memutar bola matanya. Ia sungguh malas jika disuruh melakukan hal-hal yang merepotkan.

"—sekarang kakek tua menyebalkan itu sudah tidak ada jadi tidak ada yang melindunginya lagi. Ah, cucuku.." lanjut namja yang lebih tua sambil menerawang. Kris hanya mendengus.

"Kenapa kau tiba-tiba menginginkannya?" tanya Kris.

"Karena kau tak juga memberiku cucu astaga! Siapa yang akan meneruskan garis keturunan kita kalau begitu!" jawab namja tua itu kesal.

Kris mendengus lagi. "Tapi dia hanya setengah werewolf, appa, karena kakakku yang malang itu dengan bodohnya jatuh cinta pada manusia."

"Sebentar lagi saat dia menginjak tujuh belas ia bisa menjadi werewolf seutuhnya. Dan hari itu sebentar lagi tiba, jadi kau harus segera mengajak keponakanmu kesini" tegas yang lebih tua lagi.

Kris menghela nafas. "Baiklah baiklah, dimana dia sekarang?"

"Saat terakhir kali aku menjenguknya— yah melihatnya dari jauh maksudku— ada seorang gadis membawanya pergi dari hutan utara, menurutku gadis itu ada hubungannya dengan kakek tua sialan dan mantra pelindungnya itu" appa Kris tampak geram.

"Akan segera kuselidiki" kata Kris singkat sambil berlalu dari hadapan ayahnya.

.

.

.

.

.

Sore itu Chanyeol tengah berada di rumah Luhan. Gadis berdarah cina itu memohon pada Chanyeol untuk mengajarinya beberapa tugas kuliahnya. Mereka berada pada satu jurusan dan satu kampus yang sama, dengan Chanyeol satu angkatan di atas Luhan.

Sebenarnya itu hanya akal-akalan Luhan saja, tugasnya sebenarnya tidak terlalu sulit, ia hanya ingin berada lebih dekat dengan namja tinggi dan tampan yang telah ditaksirnya sejak kecil itu.

Luhan tengah memandangi Chanyeol yang tengah serius menjelaskan, sambil menopang dagunya dan melamun.

"Lu? Kau mendengarkan tidak?" suara berat Chanyeol menginterupsi lamunan Luhan.

"E-eh iya oppa, dengar kok hehe" jawab Luhan kikuk sambil merona.

Chanyeol hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. Gemas dengan tingkah Luhan.

"Sampai sini dulu ya Lu, oppa ada urusan" kata Chanyeol tiba-tiba sambil melihat jamnya.

"Eh? Mau kemana oppa?" Luhan tampak kecewa.

"Mau pergi bersama Baekhyun noona" jawab Chanyeol sambil nyengir.

DEG.

Luhan merasakan ada sesuatu yang menghantam hatinya.

"Bukankah oppa sudah putus dengannya?" tanya Luhan berusaha menyembunyikan raut wajah sedihnya.

"Kemarin sempat putus, tapi oppa masih sangat mencintainya. Yah, meskipun usia kami terpaut cukup jauh dan orang tua oppa belum juga menyetujui hubungan kami tapi kami tidak akan menyerah begitu saja" jelas Chanyeol sambil tersenyum miris.

Luhan mengangguk paham dan menggenggan tangan Chanyeol.

"Jangan sedih oppa, kau tampak jelek kalau memasang wajah sedih begitu" hibur Luhan.

Chanyeol terkekeh dan mengacak rambut Luhan. Gadis itu memang selalu tahu caranya membuat dia tersenyum.

Pada saat yang sama Sehun baru saja keluar dari kamarnya. Melihat pemandangan Chanyeol dan Luhan yang tampak mesra dengan tatapan yang sulit diartikan.

Kenapa terasa sakit sekali disini? Batin Sehun sambil memegang dadanya.

.

.

.

.

.

.

"Heh cadel, kenapa kau kemarin tidak masuk?" tanya Jongin saat Sehun baru saja sampai kelas dan mendudukkan diri disampingnya.

"Aku demam" jawab Sehun datar.

"Demam? Demam cinta maksudmu?" cibir Jongin.

Sehun menatap Jongin bingung. "Apa itu?"

"Jawab jujur, kau melakukan apa dengan Luhan noona kemarin malam hah?" tanya Jongin dengan mata menyipit penuh selidik.

Sehun hanya menggeleng tak mengerti.

"Berapa ronde eh?" tanya Jongin lagi.

Sehun semakin tidak mengerti. "Maksudmu apa sih? Aku benar-benar tidak mengerti."

Jongin mendengus kesal. "Kata Zitao Luhan noona tidur dikamarmu, apa benar?"

"Iya, dia menemaniku sampai pagi—" jawab Sehun polos.

"NAH KAN!—" teriak Jongin, sontak seisi kelas menoleh pada namja berkulit kecoklatan itu yang hanya ditanggapinya dengan cengiran.

"—nah kan berarti benar kalau kau tidur dengannya!" lanjut Jongin sambil merendahkan suaranya.

"Iya, lantas apa masalahnya?" Sehun tampak semakin bingung.

Jongin memegang kepalanya dengan ekspresi frustasi parah.

"Kau hanya tidur atau melakukan sesuatu yang lain lalu tertidur?" selidik Jongin.

"Hanya tidur" jawab Sehun jujur.

"Berpakaian lengkap?" tanya Jongin lagi semakin tak masuk akal.

"Tentu saja, sebenarnya kenapa sih?" Sehun mulai kesal.

"Aaahh, berarti memang benar kau itu masih sangat polos dan Zitao itu sangat bodoh!" kata Jongin dengan penuh penekanan di bagian akhirnya saat Zitao baru datang dan duduk di depannya.

"Apa maksudmu!" Zitao menoleh ke arah Jongin dengan tatapan siap menelan orang bulat-bulat.

Jongin hanya nyengir.

"Kau tadi kemana Zi?" Sehun bertanya pada Zitao.

Ekspresi Zitao berubah manis saat menoleh ke arah Sehun.

"Tadi aku meminjam buku di kelas sebelah sebentar" kata Zitao.

Jongin mendengus melihat Huang Zitao, yeoja bertampang preman yang biasanya galak pada setiap namja berubah menjadi semanis gulali ketika berada di hadapan Oh Sehun.

.

.

.

.

.

Sehun pulang bersama Jongin, karena Jongin berkata hendak mampir ke rumahnya. Sedangkan Zitao tidak bisa pulang bersama mereka karena masih ada latihan wushu di sekolah. Mereka berdua pulang berjalan kaki karena Chanyeol belum mengizinkan Jongin memakai kembali motornya, lagipula jarak dari rumah ke sekolah tidak terlalu jauh.

"Jongin-ah, kau pernah tidak merasakan sakit disini?" tanya Sehun tiba-tiba sambil menunjuk dada sebelah kirinya.

"Eh? Kau sakit jantung?" tanya Jongin heran.

"Pokoknya kemarin terasa sakit saat aku melihat Xiao Lu bersama hyung-mu" jelas Sehun.

"Luhan noona bersama Chanyeol hyung? Jadi kau cemburu?" Jongin tergelak.

"Cemburu? Apa itu?"

Jongin menepuk jidatnya. Entah berapa lama lagi ia harus terus-menerus menjadi mesin informasi bagi namja polos—atau bodoh—di sebelahnya ini.

"Jadi saat kau menyukai seseorang dan kau melihat orang itu bersama orang lain kau akan merasa cemburu dan hatimu terasa sakit" terang Jongin.

"Maksudmu aku menyukai Xiao Lu?" tanya Sehun.

Jongin mengangguk mantap. "Yap. Dan kau harus segera mendapatkannya sebelum keduluan Chanyeol hyung."

"Bagaimana caranya?"

"Serahkan saja padaku, percuma kau memiliki teman cassanova sepertiku jika membantumu dalam hal sekecil itu saja tidak bisa" kata Jongin percaya diri sambil menunjukkan smirk khasnya.

Sehun hanya menatap Jongin bingung sambil menggedikkan bahunya.

.

.

.

.

.

Jongin dan Sehun tengah memasuki rumah Luhan sambil melempar gurauan satu sama lain saat mata mereka menangkap dua sosok yeoja di depan mereka. Tatapan mata Sehun terfokus pada yeoja cantik berambut ikal di depannya—Xi Luhan. Sedangkan Jongin melongo melihat yeoja imut bermata bulat dengan rambut hitam berponinya di samping Luhan.

"Heh Jongin jangan melihat temanku dengan tatapan seperti itu!" suara nyaring Luhan membuyarkan lamunan Jongin akan yeoja yang baru saja dilihatnya itu.

Jongin menghiraukan teriakan Luhan.

"Hai cantik, siapa namamu?" tanya Jongin dengan suara dibuat-buat dan menaik–turunkan kedua alisnya. Yang ditanya hanya menaikkan sebelah alisnya heran tanpa berniat menjawab.

"ADUH! Kenapa kau menginjak kakiku sih!" erang Jongin gara-gara kakinya diinjak Luhan akibat ulahnya barusan.

"Tingkahmu itu menjijikan, Kim Jongin!" teriak Luhan berang.

Sehun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ulah Jongin—dan Luhan.

"Kita pergi saja Kyung, sebelum orang gila ini berulah lagi—" kata Luhan lagi sambil menatap Jongin sebal.

"—ah iya Sehunnie tadi bibi Huang sudah menyiapkan makan siang untukmu, jangan lupa makan ne, aku mau ke kampus dulu" Luhan berkata pada Sehun sambil mengacak rambut Sehun penuh sayang. Jongin hanya memutar bola matanya.

Sebelum kedua yeoja itu berlalu, Jongin sempat mengedipkan mata nakalnya pada teman Luhan tapi hanya dibalas dengan tatapan datar oleh yeoja itu.

"Menarik" gumam Jongin.

.

.

.

.

.

Malam harinya, Sehun seperti biasanya makan bersama dengan Luhan di meja makan super besar yang berisi berbagai macam makanan yang disediakan oleh bibi Huang. Tetapi ada yang tidak biasa, karena Sehun yang biasanya makan super lahap seperti kesetanan ketika makan daging hanya melamun sambil memainkan sendoknya.

"Sehun-ah kau baik-baik saja?" tanya Luhan membuyarkan lamunan Sehun.

"Eh? N-ne, aku baik kok Xiao Lu" jawab Sehun tergagap.

Apa benar aku menyukai Xiao Lu disaat aku bahkan belum paham rasa suka itu seperti apa. Sehun membatin sambil membuang nafasnya pelan.

"Sini aku suapi" Luhan tiba-tiba mendekat ke arah Sehun dan menyodorkan sendok ke mulut Sehun sambil tersenyum.

DEG.

Detak jantung Sehun kembali tidak beraturan. Apalagi dengan Luhan dalam jarak sedekat ini membuatnya dapat mencium wangi Luhan dengan jelas. Ada sesuatu yang terasa menggelitik dalam diri Sehun yang ia sendiri tidak paham itu apa.

"Aku mau tidur saja Xiao Lu, selamat malam" Sehun menghindar dan bergegas menuju kamarnya.

Luhan hanya menatap kepergian Sehun dengat wajah bingungnya.

.

.

.

.

.

.

"Sial kenapa aku harus melakukan hal-hal merepotkan seperti ini sih!" keluh seorang namja berambut blonde saat melompati pagar sebuah rumah dengan kelincahan di atas rata-rata kemampuan manusia.

"Keponakanku tersayang, paman Kris akan menjemputmu malam ini" gumam namja bernama Kris itu sambil menyeringai.

Dengan mudahnya Kris memanjat balkon dan masuk lewat jendela tanpa mengeluarkan suara berarti. Tapi setelah masuk ia kebingungan menentukan dimana letak kamar orang yang ia cari.

"Ah sial yang mana kamarnya? Asal masuk saja kalau begitu" gumam Kris sambil memasuki salah satu kamar.

DEG.

Pemandangan yang pertama dilihat Kris saat masuk kamar itu adalah seorang yeoja cantik bermata panda tengah tertidur dengan cantiknya—menurut Kris. Dan ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama ratusan tahun ia hidup.

Kris mendekati tempat tidur yeoja itu dan menatapnya dalam diam.

Cantik.

Entah mendapat keberanian dari mana Kris mengelus pipi yeoja yang baru ditemuinya itu. Dan saat itu pula kelopak mata yeoja itu tiba-tiba terbuka.

Mereka bertatapan cukup lama sampai sang yeoja akhirnya sadar ada orang asing tengah berada dikamarnya.

"Jangan berteriak oke, aku akan pergi saat ini juga asalkan kau tidak berteriak" kata Kris sambil membekap mulut yeoja didepannya.

Dan entah seperti terkena sihir apa sang yeoja hanya mengangguk.

Kris melepas tangannya dari yeoja itu dan kemudian melangkahkan kaki keluar kamar.

"Kita akan segera bertemu lagi cantik" gumam Kris sambil melempar wink mautnya saat hendak menutup pintu.

"Huang Zitao pabbo! Kenapa kau malah membiarkan dia pergi, jelas-jelas dia orang jahat" gumam yeoja bernama Zitao itu sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.

Tapi dia benar-benar tampan, dan matanya mengingatkanku pada... Sehun?

.

.

.

P.S : Sebenernya ide cerita ini muncul pas saya dengerin lagunya Owl City – Wolf Bite hahaha *kenapa baru bilang* padahal nggak ada yang nanya juga* XD

Makasih banget nget yang udah setia review, tapi nggak janji bakal fast update soalnya banyak tugas kuliah hikseuuu~