WOLF BITE
.
Main Cast:
Xi Luhan
Oh Sehun
Other Cast:
EXO Members
.
.
If the world goes blind and I lose my mind
Will you show me the way?
.
.
.
Memasuki bulan purnama ke dua semenjak Sehun tinggal di rumahnya, Luhan masih setia menemani namja itu saat fase perubahannya. Luhan sempat heran bagaimana bisa kakeknya menciptakan gelang sehebat itu sehingga bisa menghalangi perubahan Sehun menjadi manusia serigala. Memang kakek Luhan suka hal-hal berbau mistis tapi Luhan tak tahu sampai sejauh itu kemampuan kakeknya.
Luhan mengelus rambut Sehun dengan sayang saat ia mengerang tertahan. Menghapus bulir keringat di pelipisnya. Tangannya secara tidak sengaja—atau memang sengaja—menelusuri rahang tegas Sehun dan berhenti di bibirnya.
"Tidak Luhan tidak, bagaimana bisa kau berpikiran yang tidak-tidak di saat seperti ini!" gumam Luhan merutuki pikirannya sendiri.
Gadis itu masih tidak habis pikir kenapa akhir-akhir ini ia sering berpikiran macam-macam tentang Sehun. Apa karena mereka terlalu sering berdekatan seperti ini? Atau karena ia tertular virus mesum Jongin? Ugh—tidak, tidak.
Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya lagi. Menepuk kedua pipinya pelan. Berusaha mengontrol pikiran-pikiran anehnya dan juga detak jantungnya.
"Bagaimana caranya agar kau bisa menjadi manusia seutuhnya Sehun-ah? Aku tidak tega melihatmu seperti ini" gumam Luhan lirih sambil tersenyum pahit.
Tiba-tiba gadis itu teringat sesuatu, ia bergegas kembali ke kamarnya, tak menyadari bahwa saat ia keluar dari kamar Sehun ada sepasang mata yang memperhatikannya, Huang Zitao.
Sama seperti Luhan yang setia menemani Sehun, Zitao juga setia mengawasi mereka berdua, masih penasaran dengan apa yang terjadi atau apa yang mereka lakukan. Tapi satu yang ia tahu pasti, ia sering mendengar suara-suara aneh saat menguping. Ugh—andai saja ia bisa mengintip.
Zitao memundurkan kepalanya saat melihat Luhan tampak setengah berlari kembali ke kamar Sehun. Sungguh saat itu Zitao ingin menjadi manusia tak kasat mata dan ikut menyusup masuk.
Luhan membuka dengan tergesa kertas yang dibawanya—surat dari kakeknya. Seingatnya ada sesuatu yang ditulis kakeknya mengenai cara agar Sehun bisa berubah menjadi manusia.
"Nah ini dia—" Luhan membaca sambil sebelah tangannya tetap memegang tangan Sehun, karena dengan kontak fisik semacam itu ia bisa menyalurkan hawa manusianya ke Sehun. Setidaknya begitu menurut petunjuk kakeknya.
"—jadi saat usianya menginjak 17 tahun itu menjadi fase puncak dimana ia bisa memilih untuk menjadi manusia atau serigala seutuhnya—"
Luhan mengerutkan keningnya, mungkin besok ia harus menanyakan kapan Sehun berulang tahun.
"—saat usianya genap 17 tahun dan ia masih bisa menahan perubahannya kemudian melakukan penyatuan dengan manusia maka ia akan menjadi manusia seutuhnya, tapi jika tidak ia akan menjadi werewolf selamanya."
Luhan tersenyum lega. Syaratnya cukup mudah, ia hanya harus tetap menjaga Sehun seperti ini hingga ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Ia hanya bingung masalah penyatuan.
Apa itu penyatuan?
Tapi Luhan tidak tahu bahwa semuanya tidak akan berjalan semudah pemikirannya, di luar sana ada yang menginginkan Sehun sebesar ia menginginkan sang setengah manusia serigala.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Sehun-ah, pokoknya gelang ini tidak boleh sampe hilang ne?" Luhan mewanti-wanti Sehun saat ia hendak berangkat sekolah.
Sehun mengangguk imut. "Ne, aku selalu menjaga gelang ini dengan baik kok."
Luhan mengacak rambut Sehun dengan gemas, membuat Zitao yang tengah berjalan ke arah mereka mengerucutkan bibirnya sebal.
Apa itu gelang couple? Apa sebenarnya mereka itu pacaran? Batin Zitao kesal.
"Kau sudah siap Zi? Hari ini kalian biar kuantar ya? Kebetulan aku kuliah siang" kata Luhan sambil tersenyum manis, yang dibalas Zitao dengan anggukan dan senyum palsunya.
"Ehm—nanti siang aku diajak pergi oleh Jongin, boleh tidak Xiao Lu?" Sehun menatap Luhan dengan tatapan memohon.
Ugh—si mesum itu bisa-bisa Sehun diajarkan sesuatu yang bukan-bukan. Luhan membatin.
Luhan membuka mulutnya hendak menolak tapi Sehun sudah mengeluarkan puppy eyes-nya. Luhan tak tega. Lagipula selama ini ia tidak pernah mengajak Sehun kemana-mana karena tugas kuliahnya yang menumpuk. Jadilah Sehun hanya mengenal sekolah dan rumah.
"Baiklah, baiklah asal jangan pulang terlalu malam" jawab Luhan akhirnya
Sehun berjingkrak-jingkrak layaknya anak kecil. Luhan hanya menggelengkan kepala sambil terkekeh.
"Hei sudah, sudah, kau tidak malu pada Zitao?" Luhan menarik lengan Sehun yang masih asyik dengan euphoria-nya. Zitao hanya bersemu merah. Sepertinya ia jatuh lebih dalam lagi pada pesona 4D seorang Sehun.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jongin menepai janjinya mengajak Sehun ke sebuah mal sepulang sekolah, dengan menggunakan motornya yang baru saja selesai diperbaiki.
"Ayo cepat naik, tunggu apalagi sih?" sungut Jongin saat Sehun memandang motornya dengan ragu.
"Apa tidak roboh kalau kita berdua naik?" tanya Sehun bingung.
Jongin rasanya ingin menelan orang didepannya ini bulat-bulat. Hidupnya menjadi cukup runyam belakangan ini gara-gara sering dihadapkan dengan pertanyaan dan tingkah konyol orang yang sekarang menjadi sahabat dekatnya itu.
"Tidak akan roboh, buktinya aku tadi berangkat sekolah naik ini—" Jongin berkata setelah sebelumnya mengambil nafas dalam-dalam menahan emosi.
Sehun menaikkan alisnya, tampak menimbang sejenak sebelum akhirnya menaiki motor Jongin dengan ragu.
"Kau tidak punya baju lain apa? Bajumu norak tahu!" kata Jongin sambil menjalankan motornya keluar gerbang rumah Luhan. Ia merasa risih dengan penampilan Sehun yang cukup norak, dengan kemeja kuno dan celana kain yang biasa dipakai para ahjussi. Dan jangan lupakan rambut belah tengahnya. Berbanding terbalik dengannya yang memakai celana jeans dan jaket kulit.
"Aku hanya punya baju ini. Kakek yang memberikannya" jawab Sehun sambil berpegangan erat pada bahu Jongin.
"Ck, pantas saja Luhan noona tidak tertarik padamu" ejek Jongin.
Sehun hanya menggedikkan bahunya tak paham sebelum ia memekik karena Jongin menjalankan motornya dengan kecepatan di luar batas. Atau menurut Sehun saja di luar batas mengingat ini pertama kalinya ia naik motor.
Sesampainya di mall, Jongin kembali dibuat kesal dengan tingkah Sehun yang terus-menerus berkata 'woah' dan melongo sepanjang jalan karena melihat hal-hal yang menurutnya mengagumkan. Sebenarnya ia sudah menduga hal-hal seperti itu akan terjadi, tapi ia tidak menyangka akan sememalukan ini.
"Oke yang pertama harus kita lakukan adalah memperbaiki rambutmu, astaga itu kuno sekali aku saja pusing melihatnya"
Setelah beberapa saat Sehun sudah tampil beda dengan penampilan barunya. Rambutnya mirip dengan rambut Jongin, hanya warnanya lebih gelap. Bukan lagi rambut belah tengah melainkan model rambut berponi yang tampak modern. Jongin juga membelikannya beberapa kaus dan celana jeans. Dan jangan lupakan kacamata hitam yang dipakainya, membuatnya terlihat semakin tampan.
"Jongin-ah, celana ini tidak enak dipakai, terasa sempit di bagian sini" kata Sehun sambil meringis dan menunjuk bagian selangkangannya. Beberapa pelayan wanita terkikik geli mendengar perkataan frontal Sehun.
Sementara Jongin? Memasang ekspresi ingin mengubur orang hidup-hidup.
"Whoaaa cantik sekali!" teriak Sehun heboh saat mereka berdua melewati galeri Victoria's Secret. Sehun melihat poster besar seorang model terpampang disana.
"Jangan teriak bisa tidak sih! Tapi seleramu boleh juga eh?" goda Jongin.
"Dia itu siapa? Kenapa ada gambarnya besar sekali disana?" tanya Sehun sambil terus memandangi foto sang model.
"Mirenda Kerr, model VS, aku punya beberapa videonya kalau kau mau lihat" tawar Jongin sambil menyeringai.
Sehun mengangguk semangat, meskipun ia tidak tahu video itu apa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sehun mengajak Jongin ke rumahnya karena Jongin berjanji hendak menunjukkan video model cantik yang baru saja dikagumi Sehun itu, meskipun bagi Sehun Xiao Lu tetap lebih cantik.
"Aku pulang!" teriak Sehun saat memasuki rumah.
"Eh Seh—" perkataan Luhan terpotong karena ia tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya melihat Sehun dengan penampilan barunya. Skinny jeans robek dan kaus putihnya, dan jangan lupakan model rambut barunya. Ugh.
He's so damn hot! Batin Luhan.
"Xiao Lu kenapa melamun?" Sehun mengibaskan tangannya di depan Luhan yang tengah terbengong.
"E-eh? Ehm—kau potong rambut?" tanya Luhan gugup. Ia merasa jantungnya mau copot saat itu juga.
"Iya, tadi Jongin yang mengajakku potong rambut, aneh ya?" tanya Sehun sambil memegang-megang rambutnya.
Aneh apanya? Kau tampan tahu! Semakin tampan argh! Aku bisa gila! Luhan membatin frustasi.
Luhan sejenak melirik Jongin yang tampak sedang menyeringai padanya. Sepertinya Jongin bisa dengan mudah membaca pikiran Luhan.
"Tidak aneh kok Sehunnie, bagus kok" Luhan berusaha menjawab senormal mungkin.
"Baiklah aku dan Jongin ke kamar dulu Xiao Lu, ada yang mau Jongin tunjukkan padaku" kata Sehun riang.
Luhan mengangguk dan tersenyum pada Sehun. Kemudian menatap Jongin dengan tatapan awas-kalau-macam-macam yang hanya dibalas Jongin dengan seringaian khasnya.
Di kamar Sehun, Jongin segera mengeluarkan ipad-nya dan menunjukkan pada Sehun video yang dijanjikannya tadi.
"Aaah jadi video itu semacam ini" kata Sehun sok paham.
Sehun memelototi layar ipad dengan seksama. Melihat lenggak-lenggok model di atas catwalk. Mengingat yang mereka tonton adalah fashion show Victosia's Secret.
"Jongin-ah, kenapa aku merasa tidak nyaman ya melihat yeoja berpakaian seperti itu?" tanya Sehun sambil bergerak gelisah.
Jongin menahan tawanya. Tentu saja Jongin tidak merasakan yang Sehun rasakan, baginya melihat yeoja hanya berpakaian dalam sudah terlalu biasa mengingat ia biasa menonton yang lebih dari itu. Salahkan saja otak mesumnya.
"Tentu saja, kau kan laki-laki" jawab Jongin enteng.
"Lalu apa hubungannya?" tanya Sehun lagi.
Jongin memutar bola matanya dan menunjukkan video lain pada Sehun yang membuat Sehun membulatkan bola matanya.
"Me-mereka sedang apa?" tanya Sehun bingung melihat adegan pria dan wanita entah sedang melakukan apa, yang jelas itu membuat celananya menyempit dan ia takut. Jongin kemudian menjelaskan masalah hubungan pria dan wanita dan sebagainya. Ia tidak keberatan menjelaskan panjang lebar mengenai ini karena ia merasa ahli di bidang ini.
"Jadi dulu eomma dan appa-ku melakukan itu agar aku ada?" tanya Sehun polos yang sukses membuat Jongin tertawa terbahak-bahak sambil memukul-mukul lengan Sehun.
"Aigooo ada ya orang bodoh sepertimu di dunia ini? Jinja daebakkida!" kata Jongin sambil terus tertawa.
"Aduh ini-ku membesar, terasa sesak" keluh Sehun sambil menunjuk celananya.
Jongin tertawa lagi, kali ini lebih keras.
"YA! KALIAN SEDANG MENONTON APA!" amuk Luhan yang kini tengah berdiri di ambang pintu. Jongin dan Sehun tidak menyadari keberadaan Luhan karena duduk membelakangi pintu.
Sehun spontan berdiri dan menghadap ke arah Luhan. Arah pandang Luhan tidak sengaja menangkap sesuatu yang aneh pada bagian bawah Sehun.
"AAAAA! AWAS KAU KIM JONGIN! KU BUNUH KAU NANTI!" Luhan tiba-tiba berteriak heboh dan berlari pergi.
Sehun menatap Jongin bingung. "Xiao Lu kenapa sih?"
"Takut pada senjatamu" jawab Jongin sambil terus tergelak dan keluar dari kamar.
"Hei apa maksudmu? Dan bagaimana cara mengembalikan ini seperti semula?" teriak Sehun kesal.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sehun dan Luhan tengah menonton film di ruang tengah setelah Luhan mengusir Jongin pulang dengan membabi buta dan Sehun menidurkan adik kecil-nya—entah bagaimana caranya.
"Aku suka dengan Spiderman tapi aku tidak mau menjadi dia" celetuk Sehun di sela-sela film yang mereka tonton.
"Kenapa memangnya?" tanya Luhan heran.
"Karena dia tidak berani bilang kalau dia menyukai Mary Jane, keburu direbut orang kan" jelas Sehun.
Luhan merasa tertohok. Ia teringat Chanyeol. Teringat pada perasaan yang ia sembunyikan semenjak bertahun yang lalu dan sadar perasaan itu tidak mungkin terbalas karena Chanyeol sudah direbut orang—yah direbut orang.
"Sepertinya nasibku sama seperti Peter Parker" kata Luhan sambil tersenyum pahit.
Sehun menoleh pada Luhan dan memasang wajah penuh tanya.
"Yah—orang yang kusukai sudah direbut orang karena aku tidak berani menyatakan perasaan padanya" lanjut Luhan lagi, ia tampak sedih kali ini.
Sehun mendekat pada Luhan. Meletakkan tangannya pada pipi Luhan.
"Jangan sedih Xiao Lu, kau pasti err—akan mendapatkan yang lebih baik darinya" kata Sehun hati-hati.
Luhan terharu mendengar perkataan Sehun. Dipeluknya namja itu erat-erat. Entah kenapa dengan memeluk Sehun ia merasa semua bebannya hilang.
Tapi beban Sehun bertambah. Ia merasa tidak karuan, apalagi setelah dijejali video tidak jelas Jongin.
"Xiao Lu sebaiknya kau tidur, ini sudah malam" Sehun melepaskan pelukan Luhan.
Luhan mengangguk, mengacak rambut Sehun sepeti biasa dan berjalan menuju kamarnya.
Sehun menghela nafas pelan.
Aku juga tidak boleh terlambat mengungkapkan perasaanku, batinnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Zitao tengah berjalan tergesa menuju pasar terdekat. Pagi itu ia berbelanja sendirian karena eomma-nya agak tidak enak badan. Keluarga Luhan memang lebih suka berbelanja di pasar tradisional karena menurut mereka semua yang dijual disana lebih segar dan lebih sehat dari yang ada di supemarket.
"Uugh. Ternyata agak menyeramkan juga berjalan sendirian begini. Kenapa sepi sekali sih pagi ini?" gerutu Zitao sambil melangkahkan kakinya lebih cepat.
Belakangan ini Zitao sering merasa ada orang yang mengikutinya tapi orang itu sepertinya punya kemampuan detektif yang cukup baik atau apa sehingga tidak pernah tertangkap basah olehnya. Untung Zitao punya kemampuan wushu yang lumayan sehingga ia tidak perlu khawatir. Ia hanya penasaran sebenarnya untuk apa orang itu mengikutinya.
Gadis bermata panda itu berjalan sambil agak terhuyung, maklum ia masih sangat mengantuk semalam ia mengerjakan tugas sampai malam dan sepagi ini sudah harus ke pasar. Memang harus pagi karena ia juga harus berangkat sekolah setelahnya.
Zitao tengah menguap lebar sampai tidak memperhatikan si depannya ada tulisan 'Awas Lubang Galian". Tiba-tiba saja ia merasa ada tangan yang melingkar di pinggangnya dan menarik tubuhnya dengan cepat.
Zitao mengerjap-ngerjapkan matanya dan mematung dengan posisinya. Ada seorang namja yang menariknya tadi dan sekarang posisi mereka sangat awkward.
"Ehm—" Zitao berdeham dan melepaskan diri dari pelukan sang namja.
"Hai cantik, kita bertemu lagi" namja itu tersenyum, tapi lebih terlihat sebagai seringaian menurut Zitao.
"Memang kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Zitao sambil mengamati wajah namja itu.
Ah, dia orang gila yang pernah masuk ke kamarku itu kan? Batin Zitao.
"Sebegitu mudahnya kah kau melupakan wajah tampanku?"
Zitao memutar bola matanya malas.
"Namaku Kris, namamu?" Kris mengulurkan tangannya.
"Zitao"
"Wow kau dingin sekali, tapi aku suka" kata Kris lagi.
"Kalau tidak ada yang mau kaubicarakan lagi, aku permisi dulu" Zitao hendak pergi tapi tangannya ditahan oleh Kris.
"Tunggu dulu. Kau tinggal serumah dengan Sehun kan?" tanya Kris, membuat Zitao menatap Kris dengan heran sekaligus curiga. Bagaimana dia bisa mengenal Sehun?
"Kau mengenal Sehun?"
"Begitulah,—"
"—aku pamannya"
Kata-kata Kris membuat Zitao membulatkan matanya tak percaya. Tapi kalau dilihat-lihat memang mirip sih, Zitao membatin.
"Yah—waktu aku masuk ke kamarmu itu sebenarnya aku hendak menjemput Sehun tapi malah salah masuk kamar, sepertinya memang kita ditakdirkan untuk bertemu—" goda Kris sambil mengedipkan matanya.
AHJUSSI INI SUDAH GILA!
"—dan saat aku berniat mencari cara lain membawanya dia terlihat begitu bahagia dengan pacarnya yang cantik dan mungil itu—"
"Gadis itu bukan pacarnya" potong Zitao dingin.
"Lalu siapa pacarnya? Kau?"
Wajah Zitao memerah. Antara menahan marah dan malu.
"Dia juga terlihat sangat menikmati hidupnya di tempat ini, kalau aku membawanya ke tempat tinggal kami dia tidak akan bisa menemukan seperti yang ada disini" jelas Kris lagi.
"Memangnya kau hidup dimana? Di hutan?" tanya Tao asal.
"Begitulah"
Zitao memutar bola matanya lagi. Selera humor orang ini benar-benar buruk.
"Dan juga, dengan mengawasi Sehun aku juga bisa melihatmu setiap hari. Sepertinya aku mulai suka tinggal disini—" Kris mendekat pada Zitao.
"—kurasa aku mulai menyukaimu" bisik Kris.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hai hai sekali lagi saya mau ngucapin beribu terima kasih buat yg udah review, fav sama follow karya nggak jelas saya ini hehehe *peluk cium dari Sehun*
See you in the next chapter! :)
