A Voice
.
.
A Naruto Fanfiction
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto
.
.
Kini giliranku bertanya: pernahkah kalian tidak bisa tidur di suatu malam yang sunyi, dimana seluruh anggota keluargamu terlelap dan mendapati sesuatu yang lain yang menemanimu? Atau mungkin suara-suara tak berwujud dan tak bertuan yang terdengar olehmu?
Aku akan menceritakan pengalamanku sendiri.
-Konohagakure, Yamanaka Ino-
.
.
"Nah, Ino, ini tempat tidurmu yang baru."
Aku hanya mengangguk menurut. Bagaimana lagi? Aku sudah lama tidak pulang ke rumahku di Konoha dan sekarang Ibu sudah menggunakan kamarku untuk home stay seorang mahasiswa asing. Aku hanya tahu dia dari Iwa dan wajahnya ketika tersenyum mengingatkanku akan wajah mesum yang sering kutemui di jalan-jalan…tidak, tidak. Mau setampan apapun, aku tetap cinta Sai.
Membaringkan badanku di kamar (dadakan) yang baru, aku mengingat-ingat mengenai sejak kapan ruang yang dulunya digunakan sebagai tempat belajar mendiang kakakku ini tidak dipakai lagi hingga sekarang. Setahun mungkin? Atau dua tahun?
Entahlah, aku sudah tidak ingat. Aku sendiri merasa heran dengan memori jangka depan-ku yang memburuk sampai-sampai Sakura sering memarahiku.
"Inooo~ kau mau cake chocolate?"
Lamunanku segera buyar. Itu suara Ibu yang berteriak dari lantai satu.
"Ya Ibu, aku segera turun~"
Saatnya makan kue bersama keluarga.
.
.
Pukul sebelas malam.
Tak sadar aku mengobrol dengan Ibu sembari menunggu Ayah pulang bekerja (dan tentu saja memakan semua kue buatannya), kemudian meminjam telepon rumah sebentar untuk mengabari Sakura kalau aku akan mengajaknya berbelanja esok hari dan kembali mengobrol dengan Ayah hingga kedua orangtuaku pergi tidur terlebih dahulu.
Aku tidak melihat mahasiswa asing yang home stay itu, kata Ibu dia pulang ke negaranya untuk beberapa waktu.
Sebodoh amat.
Berguling-guling di kasur empuk yang sepertinya baru saja di belikan Ayah, aku sama sekali tidak berniat untuk tidur, dan memang aku tidak bisa tidur awal akibat shift rumah sakit yang menggemblengku menjadi makhluk malam *tertawa*.
DUK!
Aku berhenti berguling. Suara keras seperti benda besar yang jatuh dari mana itu?
DUK!
Ada lagi.
Aku mendongak untuk mencari sumber suara. Kurasa suara tadi berasal dari atap… seperti suara orang yang meloncat dengan seluruh tenaga—
DUK!
"Astaga!" teriakku frustasi. Aku berdiri dengan kepala masih mencari-cari suara mengganggu, yang entah kenapa dan bagaimana bisa terdengar begitu keras sampai-sampai atap kamarku berdebum. Aku mulai mengira-ngira: apa itu suara kontruksi di suatu tempat dekat sini? Atau mungkin anak tetangga yang bermain-main dengan atap rumahku? Yang benar saja kalau iya!
DUK!
Kali ini lebih keras, seolah suara tadi milik benda yang berjalan dan dia mengarah tepat di atas kepalaku…
Ugh! Pikiran horor macam apa yang bersarang di kepalaku jam segini?
DRAK! DRAK!
Belum suara yang satu ini, kali ini terdengar suara lain? Suara pagar rumahku yang seperti dimainkan oleh orang dengan cara tertentu sehingga terdengar suara dengan nada dan jeda yang sama.
Niat sekali orang itu, bahkan di tengah malam seperti ini mereka masih saja menjahili anak orang. Baiklah! Aku akan mencari sumber suara itu! Kau pikir aku takut dengan suara di tengah malam? Aku jauh lebih takut dengan suara bel kamar pasien di tengah malam…kau tahulah, kemungkinan terburuk yang bisa kau bayangkan.
Meraih senter dan jaket, aku memutuskan keluar ke pekarangan agar lebih mudah mencari orang iseng yang dari tadi membuat suara-suara di sekitarku. Baru saja keluar ke teras, aku mendapati tak ada seorang pun di pagar, begitu juga ketika aku mengarahkan senterku ke atap.
Tak ada orang… seharusnya orang yang tadi membuat suara di atap tidak semudah itu kabur, bukan? Apalagi atapku tidak menyambung kemana-mana, dan tidak ada tembok pembatas yang bisa digunakan sebagai tempat panjatan karena pagarku terbuat dari besi dengan teralis-teralis tajam yang tidak memungkinkan orang untuk memanjatnya…
DUK!
Suara itu lebih keras terdengar…dari atap lagi. Bersiap untuk kemungkinan terburuk, aku mencoba menghampiri sumber suara itu dengan memutari rumahku sendiri.
Dan detik berikutnya, aku melihat seorang laki-laki berambut cepak yang menggebrak atapku sementara aku tidak dapat melihat tubuh bagian bawahnya karena ususnya yang terburai ke bawah dan wajahnya yang melepuh seperti lahar gunung berapi…
Dan aku pingsan saat itu juga.
.
.
.
"Hei."
Suara siapa itu?
"HEI."
Aku segera bangun dari posisiku yang ternyata sudah berpindah di kasur. Aku melihat ke arah orang yang memanggilku… si mahasiswa asing berwajah mesum?
"Kenapa kau… Ibu bilang kau pergi ke negaramu… apa yang kau lakukan…"
"Ngomong yang benar, un. Aku baru saja tiba karena pesawat yang delay dan menemukanmu di pekarangan dengan posisi tidak etis—"
"Hei! Aku pingsan, tahu!"
"Mana aku tahu kau pingsan atau tidak, un!"
"Ini…masih malam?"
Aku melihat mahasiswa itu mengangguk. Ia menunjuk jam dinding di kamarnya (atau bekas kamarku). Pukul 02.30. Waktu tidak terlalu lama berlalu ketika aku pingsan…
"Hei, namamu siapa?"
"Deidara. Kenapa, un?"
"Kau…" aku agak ragu untuk melanjutkan meskipun akhirnya aku mencoba bertanya, "pernah mendengar suara aneh, tidak?"
"Oh, maksudmu atap yang berbunyi 'duk, duk' dan pagar yang berbunyi 'drak, drak' itu, un?"
"Apalah bunyi itu! Hei, kau mendengarnya juga?"
"Kadang-kadang sih, un, tapi Ayah dan Ibumu tidak bisa dengar," Deidara menelengkan kepalanya heran. "Lalu kenapa?"
"Aku mencoba melihat siapa pelakunya tadi dan keluar melihat atap—"
"Oh, jadi karena itu kau pingsan di pekarangan?"
"Dengar dulu! Iya, aku pingsan gara-gara melihat hantu laki-laki yang wajahnya rusak, tahu! Aaarrgggh! sejak kapan rumahku jadi tempat horor begini!" aku mejambak rambutku, kembali frustasi. Jujur, aku tidak takut. Hanya saja…kau tidak akan tahu apa yang dilakukan hantu pada manusia hidup yang mendapati wujud asli mereka, kan? Mungkin saja aku akan berakhir seperti korban-korban Sadako… tidak!
"Sejak setengah tahun yang lalu sih, un. Kau tidak pernah pulang sih, saat itu ada kecelakaan di depan rumahmu. Seorang laki-laki. Terlindas truk."
"Ih!"
"Wajahmu jadi sepucat tembok deh, un."
"Tentu saja! Memangnya kau tidak ngeri mendengarnya!"
"Tidak juga," Deidara menyahut dengan tenang, kemudian menunjuk pundakku. "Aku sudah terbiasa melihatnya, un. Tuh, dia bilang dia menyapamu sebentar tadi dan dia bergelayut manja di pundakmu. Wajahnya seperti lahar gunung berapi kan, un?"
.
.
.
Kau percaya ceritaku?
Karena itu, saranku, lebih baik kau tidak mengikuti atau berusaha mencari tahu suara apapun yang terjadi di sekitarmu saat malam sudah larut karena, percayalah, tidak ada manusia HIDUP yang akan membuat suara dengan nada dan tempo yang ganjil di tengah malam. Kecuali kau ingin sepertiku.
Dan, hei. Kata Deidara tadi, laki-laki itu berniat menyapamu malam ini. Saranku terakhir kali, tidurlah lebih cepat dari biasanya. Kalau bisa pakai obat tidur.
-Yamanaka Ino-
.
.
.
THE END
Author Note : pengalaman beneran, bedanya yang liat hantunya bukan saya wkwkwk mana beranilah saya...suami yang malang *pukpuk*
well...berniat memperbaiki EYD di bidang horor akibat chapter lalu yang agak aneh penceritaannya...semoga kali ini membantu m(_ _)m
