The Midnight's Knocker

(The Last Multi Chapter)

.

A Naruto's Fanfiction

.

Enjoy!

.

.


Kau sudah mendengar cerita Sakura dan Ino mengenai para laki-laki hantu yang mengikuti mereka kemana pun.

Kali ini aku berbeda, dan aku akan bercerita. Namun sebelum ini, aku ingin bertanya pada kalian semua; apa kalian pernah mengetuk pintu utama rumah kalian di tengah malam dengan hitungan ganjil dari dalam rumah. Meski hanya sekedar iseng dan bermain-main?

Sebaiknya kuceritakan pengalamanku terlebih dahulu agar kalian mempertimbangkan kembali hal yang menurut kalian candaan tadi.

-Konohagakure, Tenten-


.

.

Sudah lama sekali memang ceritaku ini.

Waktu itu malam dimana aku, Hinata, Sakura dan Ino menginap dirumahku untuk merayakan kelulusan kami dari sekolah menengah atas. Kami begitu merasa senang dan bebas, seandainya kau pernah mengalami hal ini. Kau akan merasa seperti orang yang baru saja menjalani upacara kedewasaan dengan cara yang berbeda—yah, menurutku menerima tabung berisi ijazah dan melangkah keluar gerbang sekolah di musim semi yang indah merupakan upacara kedewasaan.

Sebelum semua kejadian hebat tadi pagi dirusak begitu saja oleh Ino yang sedang membaca isi website horor entah darimana.

"Hei, aku membaca artikel seru!"

Kalimat Ino yang bernada antusias cukup membuat kami yang asyik mengobrol serentak menoleh penasaran.; saat itu Sakura yang pertama mendekat masih dengan sebungkus kripik kentang di tangannya, diikuti Hinata yang sudah nyaris tidur dengan mendekap bantal dan aku yang baru selesai mandi. Jika aku tak salah ingat, jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam.

"Apa? 'Pengetuk Pintu di Tengah Malam'?" Sakura membaca artikel yang terpampang di layar monitor netbook-ku, "kau ini kurang kerjaan, ya? Mananya yang menarik?"

"Hei, dengar dulu!" Ino kesal, menyikut Sakura pelan dan meneruskan pembicaraan horornya, "meski saat ini masih musim semi, tapi tak ada salahnya bercerita seram, kan? Lihat ini, 'mengetuk pintu utama rumahmu saat tengah malam, paling tidak jam dua belas ke atas, dengan hitungan ganjil di atas tiga, akan membuat seseorang yang tidak kau harapkan akan mengetuk balik pintu rumahmu dari luar dengan hitungan genap'. Kau percaya itu?"

"Aku percaya, tapi tidak di pintu rumahku."

Ino memberengut mendengar pernyataan tegasku. Enak saja, aku tidak pernah berharap—bahkan dalam mimpi sekalipun—untuk menjadikan rumahku sebagai bahan percobaan horor Ino yang kadang agak tidak masuk akal. Well, walau memang hantu itu sendiri menurutku tidak masuk akal. Kalau ada seratus orang mengetuk pintu rumahnya masing-masing dari dalam secara bersaman, apa hantu itu juga akan mengetuknya bersamaan? Menurutku hantu itu pasti tipe pengangguran di tengah malam.

"Tck! Kalian ini penakut semua, baiklah!" Ino berdiri pongah, entah apa maksudnya, dan mematikan netbook lalubergabung dengan Sakura menghabiskan kripik kentang.

Tidak ada yang tahu maksud perkataan Ino waktu itu.

...

Aku terbangun oleh angin dingin yang berhembus kencang entah darimana. Melihat jam weker di samping kasurku, aku mengerang. Pukul dua dinihari.

Melihat tidak ada jendela kamar yang terbuka dan pintu yang masih terkunci, ditambah lagi tidak ada satu temanku yang terbangun, aku merasa curiga. Angin yang berhembus terasa aneh, dan bagaimana mungkin tidak ada yang terbangun dengan hembusan angin di tengkuk sedingin ini?

"Mungkin pintu kamar mandi terbuka..." bergumam sendiri, aku beranjak terkantuk-kantuk menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarku. Tentu saja pintunya masih tertutup rapat. Kecuali jika pintu utama di ruang tamu terbuka, mungkin saja angin menyebar ke seluruh ruangan lantai satu, tidak terkecuali kamarku. Tapi ternyata tidak ada pintu terbuka saat aku keluar dari kamar dan mendadak membuatku merinding. Angin dingin macam apa ini?

Ketuk. Ketuk.

Aku menoleh cepat, mencari sumber suara yang menggaung di rumahku yang tidak luas. Mungkin Ayah dan Ibu terbangun.

Ketuk. Ketuk.

Lagi-lagi ketukan dengan tempo genap.

Menelan ludah, aku mau tidak mau teringat artikel yang Sakura dan Ino perdebatkan dua jam yang lalu.

'Mengetuk pintu utama rumahmu saat tengah malam, paling tidak jam dua belas ke atas, dengan hitungan ganjil di atas tiga, akan membuat seseorang yang tidak kau harapkan akan mengetuk balik pintu rumahmu dari luar dengan hitungan genap'.

MANA MUNGKIN!

Keringat dingin entah sejak kapan menuruni dahiku. Mungkin sejak aku tahu sumber suara yang sedari tadi menimbulkan gaung di rumahku; pintu utama berbahan kayu mahoni kokoh yang terletak di ruang tamu. Persis seperti cerita Ino. Tapi bagaimana bisa? Bahkan aku tidak sekalipun terpikir untuk mengetuknya. Jangan-jangan maksud kata-kata Ino yang kesal waktu itu.

"Selamat malam..."

Ketuk. Ketuk.

Suara yang berat. Dan lirih. Dan terasa kering...

Aku menelan ludah. Mungkin saja orang yang tidak kuharapkan yang tertulis dalam artikel itu adalah manusia yang kubenci... tapi bagaimana mungkin Kisame senpai—orang yang paling kubenci se-SMA—mengetuk pintuku dalam timing yang pas setelah Ino mengetuknya dari dalam? Oh, apa mereka saling menelepon dan berjanji untuk menjahiliku sebagai hadiah kelulusanku? Bodoh sekali.

Keberanianku meningkat ketika aku memikirkan hal itu. Aku berpikir, sebenarnya itu adalah suara Kisame senpai. Lagipula tipe suara berat dan terasa kering itu memang mirip suaranya.

"Selamat malam..."

Ketuk. Ketuk.

"Senpai, aku tahu itu kau!" tanpa pikir panjang, aku melangkahkan kaki lebar-lebar menuju pintu utama demi menjahili balik Kisame senpai dengan membuatnya kaget dan—

"SELAMAT MALAM"

Aku bertatap muka dengan seorang perempuan. Wajah pucat. Kulitnya seperti tanah kering yang retak-retak dan rambut hitam panjangnya yang menutupi sebagian wajahnya.

Dan matanya yang nyalang merah membeliak menatapku lurus-lurus seolah seluruh darah di tubuhnya berkumpul di kedua bola mata itu.

...

Ino, Sakura dan Hinata yang berjanji untuk menjenguk Tenten berjalan perlahan, seolah-olah jalanan adalah medan penuh paku dan mereka harus berhati-hati agar tidak menginjak salah satunya. Atmosfer berat melingkupi mereka.

"S-setelah itu, a-apa Paman dan Bibi sudah memanggil paranormal?"

Pembicaraan diawali oleh Hinata. Bunga matahari kesukaan Tenten digenggamnya erat dan gemetaran—ya, gemetaran akibat mendengar pengakuan Ino mengenai malam dimana ia mengetuk pintu utama rumah Tenten di saat mereka semua seharusnya sudah tertidur, dua hari yang lalu, dan merasa SANGAT bersalah.

"Hmm," angguk Ino lemah, "paranormal yang datang ke rumahnya berkata bahwa arwah seorang gadis yang meninggal akibat tertabrak truk di sekitar rumah Tentenlah yang mengetuk rumah itu," jelasnya.

"Syukurlah jika ia sudah mengusir hantu wanita itu. Bukankah dua hari kemarin para tetangga Tenten ketakutan akibat penampakannya yang mengitari kompleks saat malam sudah larut dan mengetuk pintu rumah mereka bergantian?" kali ini Sakura yang menimpali. Ia menatap tajam Ino sebelum melanjutkan, "gara-gara ulang isengmu ini, rumah Tenten sempat dihantui dan Tenten sendiri mengalami demam tinggi di malam setelah kelulusannya hingga harus dirawat di rumah sakit, tahu!"

"...maafkan aku, forehead..."

"Tck, jangan minta maaf padaku, pig! Minta maaflah pada Tenten yang membukakan pintu dan menerima getah dari kelakuanmu!"

"S-sudahlah, kalian berdua," akhirnya Hinata menengahi. "Lagipula, a-aku menerima pesan dari Paman tadi pagi, kalau Tenten sudah sadar. J-jadi jangan bertengkar lagi, ya?"

"Ya, Hinata. Aku harap hantu itu benar-benar pergi dari rumah Tenten dan paranormal itu mengusirnya jauh-jauh," seiring gumaman bersalah Ino, kaki-kaki jenjang mereka sampai di lobi rumah sakit yang cukup ramai. Tak ada satu hal pun yang janggal dan semua pasien terlihat begitu normal dan lobi masih ramai meski matahari senja memutuskan untuk mengistirahatkan dirinya.

"A-anoo, Sakura-san, Ino-san...perempuan yang melewati kita tadi aneh sekali wajahnya ya, kulitnya seperti tanah kering yang retak di sana-sini dan matanya merah sekali. Menurut kalian itu penyakit apa?"

"Hah? Perempuan yang mana maksudmu? Aku tidak melihat perempuan berwajah seaneh itu tuh."

"...eh?"

.

.

Sekian ceritaku.

Dan jangan khawatir,keadaanku dan rumahku sangat baik hingga hari ini—tidak ada ketukan, tidak ada hantu dan terutama wanita berwajah retak. Tapi aku agak khawatir mengenai Hinata yang katanya beberapa kali melihat wanita itu mengitari rumah sakit tempat Sakura dan Ino bekerja saat ini. Bagaimana menurutmu? Apakah wanita itu masih menjadi arwah penasaran meski sepuluh tahun berlalu?

Kemudian pesanku, jangan bermain-main dengan artikel, permainan dan apapun yang melibatkan hantu beserta pengalaman nyata orang-orang yang diunggah ke internet. Hitori Kakurenbo dan Daruma-san, misalnya. Dan juga apa yang dilakukan Ino pada RUMAHku.

Percayalah, 'mereka' tak akan semudah itu pergi. Dan tidak mungkin pergi begitu saja tanpa kompensasi yang menurut mereka setara.

Kau tak akan tahu niat dan tujuan mereka.

-Konohagakure, Tenten-

.

.

.

The End

(Thank You for Reading and Review!)


Author Note : kali ini pengalaman temen yang pingsan dan demam tiga hari gegara lihat cewek muka rusak di depan pintunya lol. Tenang saja, kalian bisa mencoba dan si hantu nggak akan seliar di cerita ini kok...paling-paling dua-tiga hari keliaran di kompleks terus pergi *dikemplang readers*.

Tapi serius, saya nggak suka permainan hantu Jepang yang malah dicobain dan ditiru sama orang-orang yang ngaku maniak Jepang a.k.a weaboo...pliss,kalian mungkin punya indera keenam, ketujuh, kedelapan atau keempat-ratus-delapan-puluh-tiga atau berapalah terserah kalian, tapi kalian KAN nggak punya kemampuan mengusir hantu setara tim pengusir hantu di tipi-tipi itu lol. Baru tau rasa nanti kalo permainannya gagal trus dihantuin seumur idup.

At least, thank buat reviewnya xoxo, Haizara Azuki, Uchiha Ouka dan segala follow favorit serta silent reader!


Semarang, 22092014

Ashikaga Shu.