Good Boy vs Bad Boy
By Fan_dio
Cast : Do Kyungsoo, Kim Jongin, Exo member, Kpop, Kdrama and Kmovie
Genre : Drama and Friendship
Warning : This is Yaoi (BL) , Author Newbie, Maaf kalau Typo berserakan,
= Happy Reading =
o…o…o…o…o…o…o…o…o…o
Kyungsoo kembali tidak diperkenankan oleh dosennya untuk mengikuti mata kuliah, kira-kira sudah ada 5 mata kuliah selama seminggu ini yang dilewatkan oleh Kyungsoo, dikarenakan gaya dan penampilan Kyungsoo yang dinilai tidak sesuai standar kampus. Dan hanya ada beberapa dosen yang tidak memperdulikan mahasiswanya mau pakai apa ke kampus
Kyungsoo berusaha cuek, namun dalam hati kecilnya dia memberontak dan tidak terima, namun dia sudah yakin dengan semua konsekuensi yang harus diterima akibat perubahan yang dipilih olehnya
Kyungsoo melangkahkan kakinya ke westafel untuk cuci muka, dia memandang pantulan wajahnya yang telah dibasuh dengan air dicermin dekat westafel, eyeliner yang dia pakai sedikit luntur. Kyungsoo menatap ekspresi wajahnya, matanya yang bulat dan bibir tebal bentuk hatinya. Banyak yang memperoleh kesan bahwa pandangan matanya terkesan tidak bersahabat, itu karena mata Kyungsoo yang seperti melotot, bukan tanpa alasan, Kyungsoo memang menderita kelainan mata yang membuat dia harus memicingkan matanya saat memandang seseorang.
Dengan pandangan yang dianggap judes itu, seharusnya orang-orang yang mengenal Kyungsoo akan merasa segan dan menghormatinya, namun dalam kenyataannya tidak sedikit yang membullynya, menganggap remeh, lemah dan tidak gentle. Kyungsoo teringat sesuatu, dia menuju kesamping ruangan WC, tempat yang agak tersembunyi
Kyungsoo mengeluarkan sesuatu di sakunya, Rokok. Dia mengeluarkan sebatang rokok itu dan membakar ujungnya, seumur hidupnya Kyungsoo baru sekali memegang rokok dan dia tidak mempunyai pengalaman apapun dalam hal isap-menghisap,
Dengan sedikit ragu, Kyungsoo mengarahkan ujung pangkal rokok itu di bibirnya, dan dia mulai menghisap rokok itu, dan… uhukkk… uhukk…. Kyungsoo seketika terbatuk, dia tersedak asap rokok yang masuk tiba-tiba ke paru-parunya.,
Dengan masih terbatuk, kyungsoo menatap rokok yang masih ditangannya, dia kembali mencoba, dan hasilnya tetap sama, dia tidak tahan dan kembali terbatuk-batuk, sial
"kamu tidak pantas bermain dengan benda seperti itu Kyungsoo ya" sebuah suara tiba-tiba mendengung ditelinga Kyungsoo, dia kenal dengan suara itu, suara yang begitu dia rindukan,
"Jo…Jongin?" gagap Kyungsoo,
Kyungsoo reflex membuang rokok yang sudah dibakar itu ke tanah dan menginjaknya cepat, dia seperti bocah yang kedapatan mencuri permen dikios tetangga
Jongin berdiri dengan manis di samping tembok belakang WC, dia memang sedari tadi mengamati kegiatan isap-menghisap rokok yang gagal dilakukan oleh Kyungsoo
"merokok itu tidak sehat" kata Jongin lagi,
"aku tahu" timpal Kyungsoo otomatis
Jongin melangkahkan kakinya, mendekati Kyungsoo, dan seketika Kyungsoo menjadi tegang dan memerah, jaraknya kini dengan Jongin sangat dekat, kira-kira hanya setengah meter,
Dengan jarak yang sedekat itu, bisa-bisa Kyungsoo tidak bisa menahan dirinya, dia kemungkinan bisa pingsan atau lebih ekstrim lagi menghamburkan dirinya dan memeluk tubuh Jongin
"kamu melupakan sesuatu" ujar Jongin kalem,
"lu…lupa apa?" gagap Kyungsoo lagi, dia berusaha untuk tetap tenang dan menampilkan ekspresi datarnya
"ini.." timpal Jongin sembari mengeluarkan sesuatu di tasnya, tas Kyungsoo yang tempo hari di titipkan oleh teman kyungsoo, Baekhyun
Kyungsoo membulatkan matanya yang sudah bulat, kenapa tas itu ada pada jongin? Tanya kyungsoo dalam hati, kyungsoo hanya berharap jongin tidak melihat isinya. Dan dengan cepat Kyungsoo menyambar tas itu dan mendekapnya didada
"dimana kamu mendapatkan tas ini?" Tanya Kyungsoo ingin tahu
"dari teman kelasmu, kalau tidak salah namanya Baekhyun" jawab jongin santai, namun ada sedih dalam kalimatnya
Kyungsoo terdiam, dia memang menitipkan tas itu, karena Kyungsoo ingin pulang tanpa membuat curiga dosen yang masih memberikan kuliah di kelasnya. Dan kyungsoo lupa menanyakan tasnya itu ke Baekhyun, ceroboh
"maaf, Kyungsoo ya.. aku sudah melihat isi tas itu…" ujar Jongin hati-hati,
Deg, Kyungsoo sedikit tersentak. Aduh, Jongin sudah tahu isi tasnya itu dan Kyungsoo hanya bisa menebak-nebak bagaimana pendapat dan komentar Jongin atas isi tasnya yang tidak senonoh tersebut
"…"
Jongin menatap Kyungsoo yang menunduk,
"sebagai teman, aku hanya bisa berharap yang terbaik untukmu Kyungsoo ya, aku…" Jongin menghentikan kalimatnya
Hening,
"maaf Jongin ah, aku pergi dulu" ujar Kyungsoo, dia antara setengah hati untuk pergi atau tetap tinggal, Kyungsoo dilemma, namun egonya lah yang menang, Kyungsoo melangkahkan kakinya melewati Jongin yang masih berdiri dekat tembok WC,
Jongin tidak berucap apa-apa, dia ingin menahan Kyungsoo, namun dia sadar dia tidak punya hak, dia bukan saudara atau keluarga Kyungsoo, mereka hanya sekedar teman
Jongin menatap bahu sempit Kyungsoo yang mulai menjauh,
"aku ingin kamu kembali seperti dulu Kyungsoo ya" ujar Jongin lemah, namun jelas bahwa perkataannya itu tidak mungkin didengar oleh Kyungsoo yang sudah menjauh
Jongin menghela nafasnya,
.
.
o…o…o…o…o…o…o…o…o…o….o….o
Di ruang Kuliah Kyungsoo,
Pemuda teman Kyungsoo yang bernama baekhyun mencari-cari sosok Kyungsoo, namun nihil, Kyungsoo tidak menampakkan dirinya dikelas,
"hei, baek… kamu sedang mencari siapa?" Tanya seseorang di samping Baekhyun, pemuda yang berkulit putih, sangat putih
"Sehun, mana sopan santunmu terhadap yang lebih tua, mana kata-kata Hyungnya?" timpal Baekhyun sengit,
"eh, aku memang lebih muda, tapi anggap saja kita seumuran, kita sama-sama baru semester dua kan" balas seseorang yang dipanggil Sehun itu,
"tapi tetap saja aku ingin kamu memanggilku Hyung dan semua yang lebih tua darimu" kata Baekhyun lagi, matanya masih mencari-cari sosok Kyungsoo
"iya, dasar tua… maksudku iya, hyung" kata sehun, mengejek
Baekhyun tidak peduli dengan ejekan sehun, dia masih fokus mencari Kyungsoo,
"hyung.. mencari siapa?" Tanya Sehun lagi, agak jengkel, pertanyaan pertamanya tadi belum dijawab
"Kyungsoo… puas.." jawab Baekhyun sambil memelototkan mata sipitnya
"paling-paling dia tidak masuk lagi, aku heran dengan perubahan yang dialami oleh Kyungsoo hyung akhir-akhir ini, mulai dari penampilan dan cara berbicaranya" ucap sehun sambil menggeleng-gelengkan kepala
"aku juga merasakan itu"
"kemarin aku mengambil ini dari tas Kyungsoo hyung" kata sehun sambil menunjukkan benda plastik licin yang masih dalam kemasan ditangannya, Baekhyun membulatkan mata sipitnya,
"turunkan tanganmu, jangan sampai teman-teman yang lain lihat kalau kamu membawa kondom" hardik baekhyun pelan, dia menarik paksa tangan sehun untuk turun di bawah meja
"hyung.."
"kenapa kondom ini ada padamu? Katakan? Kamu mengambil tanpa izin?" cecar baekhyun sengit,
"aku hanya iseng mengambilnya di tas Kyungsoo hyung, lagi pula ada banyak dan aku cuma mengambil satu ini saja" terang sehun,
"tapi, bisa bahaya kalau ada razia mendadak, tahu sendirikan kalau kampus kita ini sering diadakan razia mendadak" ujar baekhyun takut, itulah alasannya dia memberikan tas kepunyaan Kyungsoo yang dititipkan kepadanya ke jongin, tapi baekhyun juga sadar bahwa perbuatannya juga tidak baik, dia membahayakan nama baik jongin yang mungkin saja kena razia
"Cuma satu, hyung" kata sehun lagi
"iya, 10 juga tidak apa-apa asal kamu sudah dewasa dan mapan" timpal baekhyun disertai pernyataan yang ambigu
"aku sudah kuliah hyung, dan otomatis aku sudah dewasa"
"bukan itu masalahnya, lagi pula untuk apa kamu mengambil kondom itu? Jangan bilang kamu sudah mulai ancang-ancang untuk menjebol salah satu gadis dikampus ini?"
"kan tadi sudah aku bilang, kalau aku cuma iseng, cuma main-main saja"
"sudahlah, terserah kamu, jangan salahkan jika kondom itu bocor dan berakibat kamu menikah muda" baekhyun mulai melantur kemana-mana
"…"
Percakapan dua pemuda yang berbeda gaya itu terhenti, karena dosen ekonomi internasional sudah menampakkan dirinya,
Baekhyun mengalihkan pandangannya kepintu,
'dimana kamu Kyungsoo, kalau kamu terus seperti ini, bisa-bisa kamu akan di Drop out dari kampus ini' batin Baekhyun,
.
.
Kyungsoo berjalan pelan, dia tidak menggunakan jasa angkutan bus untuk menghemat pengeluarannya. Kyungsoo menendang kerikil kecil, Kyungsoo yang memutar arah dan kembali pulang, dia memutuskan untuk tidak ke kampus, dia malas
Dipinggir jalan yang lumayan sepi, kyungsoo melihat seorang anak kecil, perempuan, sedang menangis, tidak ada seorangpun yang menghampiri anak kecil itu dan menanyakan kenapa dia menangis. Kyungsoo berjalan menghampiri anak itu, kyungsoo berjongkok
"ada apa adik kecil?" Tanya Kyungsoo pelan dan bersahabat, dia menampilkan senyum hatinya
"om..ommaku… dia hilang.. aku terse.. tersesat" gagap anak kecil itu sambil cegukan dan menangis terisak
"memangnya omma tadi dimana?" Tanya Kyungsoo lagi,
"omma tadi disana" jawab anak itu sambil menunjuk sebuah pohon besar diseberang jalan,
"ayo, aku bisa antar kesana, mencari omma" ajak kyungsoo, anak itu mengangguk singkat
Kyungsoo dan si anak berjalan pelan, kyungsoo menuntun anak itu dan menanyakan kepada setiap ibu dan wanita yang dia papasi, mungkin ada yang mengenal anak yang tersesat itu
Dan tidak lama kemudian, muncul wanita paruh baya, dia mendekati kyungsoo dan anak yang dia pegang,
"Jinri, omma mencarimu dari tadi" kata wanita itu sembari melepaskan genggaman tangan Kyungsoo dari anaknya dan memeluk anaknya erat,
Kyungsoo tersenyum lega, anak dan ibu bisa bertemu, kyungsoo sedikit teringat ibunya, ibu yang sudah mengusirnya
Ibu dari anak itu sejenak memandang wajah dan penampilan kyungsoo, dan dia langsung menampilkan ekspresi sedikit terkejut, dia menjauh dan membawa pergi anaknya, tidak mengucapkan sepatah kata lagi
"terima kasih" yang memberikan terima kasih adalah anak yang ditolong kyungsoo, dia melambaikan tangannya dan kyungsoo balas melambai, mereka saling senyum
Kyungsoo sedikit aneh dengan sikap ibu si anak tadi,
Kyungsoo melanjutkan perjalanannya untuk pulang dan dia kembali teralihkan oleh sesuatu, kali ini bukan anak gadis seperti tadi, tapi mobil, mobil yang cukup mewah dan kyungsoo sangat kenal dengan mobil itu,
Kyungsoo mendekati mobil itu, dan dia menghentikan langkahnya, karena mendengar suara yang sudah dia kenal, pemilik suara itu sepertinya sedang menelfon dengan seseorang,
"sayang, sebentar lagi aku ke sana… siapkan masakan china yang enak… anakmu sudah aku titipkan bersama saudara perempuanku, kamu tenang saja. Aku pasti tidak akan mengijinkannya ikut dan mengganggu bulan madu kita sayang" orang itu berbicara dengan dialek korea namun dengan tambahan aksen china juga,
Kyungsoo kenal dengan orang itu, dia pamannya. Paman yang sudah sejak dahulu meremehkannya, selalu memojokkannya didepan ibu dan ayahnya dan terakhir oleh karena ulah pamannya yang ember akhirnya kyungsoo terusir dari rumahnya sendiri
Kyungsoo berdehem cukup keras, dia mengagetkan pamannya yang masih asyik menelfon, jika tidak ada yang mengganggunya mungkin dia akan melakukan phone sex
"kyungsoo, sedang apa kamu disini?" Tanya paman Kyungsoo, dia memandang intens penampilan kyungsoo dari atas sampai bawah,
Kyungsoo tidak menjawab,
"Wah.. wah.. baru 2 minggu terusir dari rumah penampilanmu sudah seperti ini, kamu pasti memang menginginkan hal seperti ini kan?" kata paman kyungsoo sinis, dia mendengus,
"…"
"aku ingin tahu bagaimana reaksi ibu dan ayahmu begitu mengetahui anaknya sudah jadi berandalan" kekeh paman Kyungsoo meremehkan,
"…"
Kyungsoo masih terdiam,
"aku juga ingin tahu sudah berapa banyak ajuhsi di luar sana yang memakaimu.." tukas paman Kyungsoo sadis, nada bicaranya merendahkan,
Kyungsoo masih memandang wajah pamannya, pandangan marah, kyungsoo membuka suaranya
"sayang sekali ajuhsi, aku tidak tertarik dengan om-om tua, terlebih lagi yang seperti ajuhsi ini"
"apa katamu?" seru paman Kyungsoo berkilat marah, dia kaget karena Kyungsoo berani membalas ocehannya
"apa kurang jelas ajuhsi, aku harap ajuhsi bertemu 'seseorang sepertiku' diluar sana, yang bisa merobek mulut sialan ajuhsi itu" tukas Kyungsoo dalam, dia sedikit bergetar saat mengucapkan kata makian itu, namun kyungsoo berusaha menguasai dirinya
"kurang ajar kamu, kamu akan menyesal sudah mengucapkan kalimat itu" balas paman Kyungsoo tidak terima
"seharusnya ajuhsi yang menyesal, aku ingin tahu apa reaksi omma saat tahu bahwa saudaranya tidak benar-benar tulus menitipkan anaknya, dia hanya ingin bersenang-senang dan tidak ingin anak itu mengganggu bulan madunya, iyakan" kata Kyungsoo datar, tapi menusuk
Wajah paman Kyungsoo merah padam, dia merasa dilecehkan dan dipecundangi oleh Kyungsoo, dan tepat saat itu, ponsel paman Kyungsoo kembali berbunyi, dia menekan kasar tombol terima,
"baiklah, aku akan segera kesana" ujar paman Kyungsoo setelah dia mendengar informasi dari si penelfon, dia memasukkan ponsel disakunya, masih secara kasar
"ingat bocah, aku tidak akan lupa penghinaan ini. Kamu akan menyesal telah lahir dari rahim ibumu, bocah sialan" tutup paman Kyungsoo, dia berbalik menuju mobilnya, menutup pintu mobilnya kasar dan melajukan mobilnya dengan kencang
Kyungsoo tidak menanggapi ancaman pamannya itu, dia sudah tahu tabiat pamannya dan baru kali ini dia bisa membalas semua kata-kata dan cercaan pamannya itu, kyungsoo sedikit puas, dia tidak peduli dengan ancaman itu
o…o…o…o…o…o…o…o…o…o
Jongin pulang dengan perasaan gundah, pikirannya terus dipenuhi oleh sosok kyungsoo, kyungsoo yang dulu pendiam, pemalu dan kalem , dan sekarang berubah menjadi sosok yang tidak dikenali lagi olehnya, dia rindu Kyungsoo yang dulu,
Jongin rindu saat-saat dia ada dikala kyungsoo butuh bantuan, dia rindu moment dimana kyungsoo butuh pertolongan, dan jongin muncul sebagai penolongnya, dia rindu semua hal itu. jongin juga tidak tahu kenapa dia jadi seperti ini, kyungsoo bukan siapa-siapanya,
Jongin kembali membuka koyakan kertas pesan dari Jiyoon kepada kyungsoo, besok, pikir jongin. dia meneliti setiap kalimat yang dituliskan oleh jiyoon, mencari pencerahan kemana arah kalimat itu, dan tiba-tiba jongin mendapatkan titik terang, dia beranjak turun dari ranjang dan bergegas menuju ruangan ibunya
"omma, aku butuh uang" kata Jongin cepat, saat dia tiba dikamar ibunya yang tidak terkunci
"untuk apa?" Tanya ibu jongin sambil membersihkan BB cream di wajah keriputnya
"Komputer kamarku rusak dan jaringan internetnya tidak berfungsi" jawab Jongin enteng
"bukannya komputer itu masih baru, baru 2 bulan digantikan?"
"barang baru tidak menjamin kalau tidak akan rusak dengan cepat kan omma, ayolah omma, aku banyak tugas"
"nanti omma menyuruh teknisi menggantinya, kamu sebaiknya siap-siap, kamu ada les hari ini kan?"
"tidak omma, aku ingin membelinya sendiri. Omma hanya tinggal memberiku uang saja, beres"
Ibu Jongin menghentikan kegiatannya membersihkan Make up, dia menatap wajah anaknya, tidak biasanya anaknya merengek seperti itu, terlebih lagi dia meminta uang
"tidak ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari omma, jongin?" Tanya ibu Jongin serius,
"sembunyikan? Sembunyikan apa? tidak ada omma, aku hanya perlu uang untuk beli komputer baru, itu saja"
"baiklah" ibu Jongin akhirnya menyerah, dia tidak ingin berdebat masalah uang, karena uang bukan salah satu masalah dalam keluarganya, dia punya cukup banyak uang
Ibu jongin beranjak ke lemarinya dan mengeluarkan uang won berlembar-lembar,
"ini cukup?" ibu jongin memperlihatkan lembaran-lembaran uang itu kepada anaknya,
"cukup omma" seru jongin gembira, dia meraih uang itu
"terima kasih omma" kata jongin sambil berbalik keluar, dia berjalan cepat
Ibu jongin tersenyum,
.
.
o…o…o…o…o…o…o…o…o…o
Kyungsoo bersama tetangga kamarnya, Chanyeol berjalan menuju Yoshi Caffe tempat Chanyeol bekerja sebagai bartender. Perasaan kyungsoo gelisah, dia sedikit takut, ini kali pertamanya dia mencoba peruntungan untuk bekerja,
"Chanyeol, aku sedikit takut" gumam Kyungsoo pelan, dia memandang wajah Chanyeol yang memperhatikannya dari tadi
"takut kenapa?" Tanya Chanyeol,
"aku takut tidak diterima ditempat ini, aku merasa banyak mempunyai kekurangan. Aku… aku tidak tinggi sepertimu.. dan.." kyungsoo menghentikan kalimatnya saat melihat chanyeol tersenyum kepadanya,
"ah, kamu tenang saja. Postur bukan yang utama Kyungsoo ya, disana ada seorang temanku yang posturnya seperti kamu ini, namanya Kim Junmeyon, dia mungkin lebih pendek dari kamu" kekeh chanyeol sedikit bercanda,
Kyungsoo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia sedikit bernafas lega, Chanyeol menenangkannya,
10 menit kemudian , mereka tiba di tempat yang mereka tuju
.
.
"jadi ini temanmu itu?" Tanya seseorang yang bertampang orang jepang, dia adalah pemilik resmi Yoshi caffe.
"iya tuan" jawab Chanyeol singkat
Kyungsoo yang sudah ada diruangan bos yoshi caffe mengarahkan pandangannya kesegala arah, dia menatap banyak pigura yang didominasi oleh gambar botol-botol berbagai merk dan jenis,
"namamu siapa?" Tanya bos caffe kepada Kyungsoo, dia meneliti penampilan kyungsoo
"Kyungsoo, Do kyungsoo" jawab kyungsoo cepat, ada getaran dalam nada suaranya, namun tidak terlalu kentara,
"baiklah Kyungsoo, kamu ada pengalaman dalam bekerja?"
"tidak ada tuan"
"jadi ini kali pertamamu bekerja?"
"iya tuan"
Bos yoshi caffe mengangguk angguk sejenak, dia berfikir, dia masih menatap penampilan dan wajah kyungsoo, mungkin anak ini bisa menarik banyak pelanggan remaja, pikir sang bos caffe
"baiklah, sebagai permulaan, kamu ikut sebagai asisten chanyeol, perhatikan semua yang dia lakukan, amati. Dan aku harap seminggu dari sekarang kamu akan mahir sendiri" tegas bos pemilik caffe,
"terima kasih tuan, jadi aku diterima di caffe ini?" Tanya kyungsoo lagi, dia memperjelas
"anggap saja begitu, dan aku harap kita bisa bekerja sama dan memajukan bar ini.. eh, maksudku caffe ini" ucap pemilik caffe memperbaiki kesalahan kalimatnya
"ingat, kamu mulai bekerja senin lusa. Ini sudah tradisi tempat ini bagi pegawai baru"
"terima kasih tuan" Kyungsoo membungkuk berkali-kali
Disamping kyungsoo, terlihat Chanyeol yang senang dan sumringah. Dia akan mengajari kyungsoo untuk menjadi seorang bartender yang handal,
.
.
o…o…o…o…o…o…o…o…o…o…o…o…o
Hari Minggu dilalui Kyungsoo dikamarnya, hari ini tepat hari dimana gadis yang bernama Jiyoon memberikan jadwal penawaran kepadanya. Tinggal menghitung jam lagi tepat jam 9 malam. Kyungsoo sedikit gelisah, jadwal bekerjanya adalah besok dan dia sangat butuh uang, sangat butuh
Kyungsoo berpikir keras, antara menerima penawaran itu atau mengabaikannya. Gadis itu tahu bahwa Kyungsoo sangat butuh uang, dan memang kenyataannya demikian
Kyungsoo mengusap kasar wajahnya, dia galau… satu menit, dua menit, sepuluh menit… satu jam berlalu, dan akhirnya kyungsoo membuat keputusan…
.
.
Kyungsoo berjalan menuju Hotel yang di jelaskan dipesan kertas Jiyoon untuknya, dia masih mengingat nama hotel dan jamnya, juga letak dan nomor kamarnya
Kyungsoo memakai baju kaos berwarna hitam dan celana jins robek warna senada, black fashion adalah favoritnya. Kyungsoo memandang bangunan hotel yang menjulang dihadapannya, dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya,
'aku harus melakukan ini, maafkan aku omma, appa..' batin kyungsoo pelan,
Kyungsoo hendak melangkahkan kakinya lagi dan tiba-tiba seseorang memegang erat tangannya dari belakang, kyungsoo kaget,
"tolong kyungsoo ya, jangan lakukan ini" seru orang itu, nadanya memohon, dia masih memegang erat tangan Kyungsoo,
"Jo.. Jongin, kamu.." gagap Kyungsoo, dia semakin kaget
Kyungsoo membulatkan matanya, dia tidak menyangka akan bertemu dengan Jongin, bukan saat yang tepat tentunya
"maaf jongin, aku…" ucap kyungsoo gugup
Jongin menatap sendu manik mata Kyungsoo,
"tolong kyungsoo, jangan lakukan.."
"tidak jongin, aku… aku butuh…" kyungsoo menjeda kalimatnya, dia ragu
"…aku harus melakukannya.."
Jongin melepaskan pegangan tangannya di Kyungsoo, dia lalu dengan cepat mengeluarkan amplop tebal, yang berisi uang
"ambil ini Kyungsoo ya, aku tahu kamu sangat butuh uang. Tapi kamu harus janji tidak akan melakukan 'hal' itu dengan gadis disana" seru jongin menggeleng, seraya menunjuk hotel di hadapannya
"tidak, aku tidak bisa menerima ini… tidak, aku.." kata kyungsoo menolak uang pemberian Jongin, dia heran kenapa bisa jongin tahu jika dia sangat butuh uang,
Jongin berpikir keras, dia harus menghentikan aksi kyungsoo yang kemungkinan menjual dirinya kepada orang lain, dia tidak rela kyungsoo ternoda
"kalau begitu, puaskan aku kyungsoo ya.." ujar Jongin cepat,
"ap..apa?"
"iya, puaskan aku… anggap saja aku pengganti penawaran gadis bernama Jiyoon itu, terima uang dariku, tolonglah"
"tapi Jongin, aku…"
"ayo kita lakukan sekarang dan semuanya selesai sampai disini"
.
.
.
.
.
To Be Continued
o…o…o…o…o…o…o…o…o…o…o…o
Chapter 5 kelar.. terima kasih untuk yang sudah berkomentar dan Review, maaf kalau chap ini masih pendek juga… he..he… tidak berpanjang-panjang lagi, Reviewnya lagi ya… gomawoo… salam Exo-L
Big Thanks :
Mapple fujoshi2309, Insooie baby, ZeeKai, Fuji jump910, mrblackj, beng beng max, BangMinKi, Gyurievil, Chinen Yuuri, YeolSoo, SognatoreL, , Guest, aku adalah aku, nisakaisa, and All Reader
