Good Boy vs Bad Boy

By Fan_dio

Cast : Do Kyungsoo, Kim Jongin, Exo member, Kpop, Kdrama and Kmovie

Genre : Drama and Friendship

Warning : This is Yaoi (BL) , Author Newbie, Maaf kalau Typo berserakan,

= Happy Reading =

o…o…o…o…o…o…o…o…o…o

Kyungsoo terkejut, dia mendadak bangun dari tidurnya. Dengan mata yang masih sayu dan menyipit dia memandang ketiga orang yang sudah berada didalam kamar hotel. Kyungsoo membelalakkan mata bulatnya, Deggg…

"ap.. appa" gagap Kyungsoo, dia tidak menyangka akan bertemu dengan appanya disaat yang tidak tepat seperti ini. Ingin sekali dia menyapa ayahnya, tapi suaranya mendadak tertahan

Ayah kyungsoo yang sedari tadi melihat anaknya, hanya menggeleng pelan, pandangannya menyiratkan kekecewaan yang dalam, sangat kecewa

Kyungsoo coba mengingat-ingat, ayahnya memang bekerja sebagai manager hotel, tapi dia tidak tahu hotel yang mana, dia tidak pernah menanyakan nama hotel ayahnya. Kyungsoo memang anak rumahan yang pendiam, dia tidak ambil pusing dengan apa pekerjaan ayah dan ibunya. Dan saat ini ceritanya menjadi lain, dia kedapatan bersama seorang namja dalam satu ruangan, dengan posisi yang mengundang persepsi negatif. Ceritanya mungkin menjadi lain apabila tidak ada sejarah yang sudah diukir oleh kyungsoo mengenai orientasi seksnya.

Jongin menggeliat pelan, dia sadar bahwa ada orang lain dikamar hotel selain dia dan kyungsoo. Jongin beranjak dan mendudukkan dirinya cepat, dia mengambil bajunya ditepi ranjang dan memakainya, dia memandang kyungsoo yang mematung disebelahnya

"kamu yang membukakan pintu untuk mereka?" Tanya Jongin pelan, kyungsoo menggeleng-geleng, dia tidak tahu harus menjawab apa,

"ada apa ini?" Tanya Jongin kepada ketiga orang yang masih berdiri di depan pintu

"maaf, mengganggu kenyamanan anda. Kami dari kepolisian, kami harus memeriksa anda berdua" jawab salah orang yang paling pinggir, ayah kyungsoo masih terdiam

"kalian menyalahi aturan perhotelan, pihak hotel tidak diperkenankan untuk membuka paksa ruangan kamar tamunya tanpa persetujuan tamu, kalian melanggar privasi kami sebagai tamu hotel ini" jelas jongin naik pitam, dia gusar

"maaf, sekali lagi kami minta maaf, kami sudah memencet bel kamar ini sebanyak 3 kali. Namun tidak ada tanggapan. Jadi kami terpaksa membukanya dengan kunci cadangan milik hotel" tukas salah seorang lagi, yang berbadan gemuk

"tetap saja kalian menyalahi aturan, setahuku ini hotel mahal dan dengan cara kalian yang seperti ini aku menjamin bahwa pamor hotel ini akan meredup" seru Jongin, nada suaranya masih tinggi

"periksa mereka" seru ayah kyungsoo cepat, mengabaikan kalimat jongin tadi

Kedua orang yang memakai seragam polisi dengan sigap memeriksa kamar, dia membuka lemari, laci, westafel hingga membuka tempat sampah dan memeriksa jendela. Mereka tidak menemukan sesuatu yang melanggar

Jongin dan kyungsoo hanya bisa diam melihat kedua polisi itu menjalankan tugasnya. Jongin masih tidak terima dengan cara ketiga orang itu yang seenaknya masuk tanpa izin.

"periksa saku celana dan baju mereka berdua" seru ayah Kyungsoo lagi, dia seakan-akan tidak kenal dengan anaknya yang sedari tadi masih mematung. Dia tidak peduli lagi bagaimana perasaan kyungsoo.

Kedua polisi memeriksa saku dan baju jongin dan jongin. kyungsoo mendadak gemetar, dia menyimpan sesuatu yang tidak seharusnya dia bawa kemana-mana, keringat dingin mengucur didahinya

Jongin aman, dia bersih dan tidak mempunyai benda yang dilarang, namun lain halnya dengan Kyungsoo, disaku sweaternya ditemukan 2 kondom dan 1 bungkus heroin bubuk.

"aku menemukan ini" salah seorang yang lebih gemuk mengangkat barang temuannya, dia menatap wajah kyungsoo, dia merasa terkecoh dengan wajah polos orang dihadapannya itu

Ayah kyungsoo menggeleng miris, kekecewaannya semakin bertambah, dia ingin segera pergi dari kamar itu dan tidak ingin mengetahui mengenai anaknya lagi, namun sebagai manager hotel dia harus mendampingi pihak kepolisian untuk menertibkan dan mengamankan barang yang mencurigakan dan dilarang milik tamu.

"i..itu.. itu bukan punyaku, itu.. itu punya Kris, dia.." gagap kyungsoo, telunjuknya menunjuk bungkusan merah heroin yang ditemukan tadi, barang itu memang bukan kepunyaannya, namun milik Kris yang menjejalkannya disaku Kyungsoo tempo hari. Dan kyungsoo lupa mengeluarkan barang haram itu

Jongin mengusap wajahnya, dia menghela nafas panjang. Dia mendengar kalimat kyungsoo barusan, dia percaya dengan Kyungsoo, heroin serbuk itu bukan punya kyungsoo, kecuali kondom tentunya

"tidak ada alasan, bukti sudah ditangan" tukas polisi yang lebih kurus

Jongin berpikir keras, dia harus menyelamatkan kyungsoo, kyungsoo sudah sering menderita. Dia tidak ingin penderitaan kyungsoo bertambah lagi

"itu punyaku, aku tadi memasukkannya di saku sweater temanku. Dia tidak salah, jangan libatkan dia" seru jongin kemudian, matanya menatap bergantian kedua polisi itu

"tapi joingin.."

"itu punyaku, maaf kyungsoo ya, aku memasukkan benda itu ke sakumu" potong jongin, meyakinkan pihak polisi bahwa kedua benda itu adalah miliknya, acting berbohongnya sungguh alami

Kedua polisi saling berbicara, berdiskusi. Sedangkan ayah kyungsoo masih memandang datar anaknya. Sorot matanya sangat menusuk.

"baiklah, kamu ikut kami. Jelaskan mengenai barang ini nanti dikantor polisi, dan bila ada bukti lain, kami akan memanggil teman kamu ini sebagai saksi" kata salah satu polisi itu tegas, kalimatnya ditujukan kepada jongin

Jongin bernafas lega, paling tidak untuk saat ini kyungsoo aman, dia akan menghadapi masalah ini tanpa melibatkan kyungsoo

Dilain pihak, kyungsoo ingin sekali membantah dan memberontak, namun setelah melihat sorot mata jongin yang menyiratkan kyungsoo untuk tetap tenang, dia mendadak mengurungkan niatnya. Kyungsoo juga ingin sekali berteriak kepada ayahnya, namun lagi-lagi kyungsoo tidak berdaya. Jongin sama sekali tidak tahu bahwa manager hotel di depannya adalah ayah kyungsoo

Para polisi akan menggiring jongin untuk ikut ke kantor polisi, dan tepat saat itu, seseorang lagi muncul di balik pintu, wajahnya berseri-seri dan senyumannya licik,

"bagaimana Min Joon? Laporanku valid kan?" kata orang itu kemudian, kalimatnya ditujukan kepada ayah Kyungsoo,

Ayah kyungsoo tidak menjawab, dia masih membisu

"ah, tuan Jin Young, laporan anda sejam yang lalu tidak semuanya benar, hanya kamar ini yang ditemukan barang-barang yang dilarang" tukas salah satu polisi,

Ternyata orang yang baru datang itu adalah paman Kyungsoo. Dia sengaja melaporkan 8 kamar dan salah satunya kamar tempat kyungsoo tidur. 7 kamar lain, hanya pengalihan saja, dia sebenarnya ingin ayah kyungsoo mengetahui bahwa Kyungsoo tidur dengan namja. dan berbuat sesuatu yang tidak-tidak. Dan harapannya menjadi kenyataan

"memangnya kalian menemukan apa?" Tanya paman Kyungsoo berbinar

"ini" polisi itu memperlihatkan barang bukti yang mereka temukan, bukti yang tidak terbantahkan

"surprise, aku tidak menyangka" girang paman Kyungsoo, dia tidak bohong, dia memang tidak menyangka bahwa akan ada ditemukan barang-barang seperti itu dikamar ini

"baiklah kami pergi dulu, ini kamar terakhir. Kami akan membawa pemuda ini untuk dimintai keterangan" tukas salah satu polisi mewakili, mereka berdua mengapit Jongin untuk di bawa keluar

Kyungsoo menahan dengan menarik tangan Jongin, tapi jongin menenangkannya dengan berbisik bahwa dia akan baik-baik saja, jongin mengatakan dan menyuruh kyungsoo lekas pulang dan uang yang diamplop tadi jangan lupa dibawa, jongin mengingatkan semua itu dengan nada lirih. Jongin menampilkan ekspresi bahwa semua akan baik-baik saja

"tapi.. anak ini tidak dibawa serta" protes paman kyungsoo cepat, dia menunjuk kyungsoo yang tidak digelandang

"tidak, dia hanya saksi. Mungkin dilain waktu dia akan kami panggil juga" jawab polisi itu, mereka akhirnya membawa jongin keluar kamar. Jongin menoleh dan tersenyum sekilas kepada Kyungsoo

Kyungsoo tidak memperdulikan kalimat pamannya, yang ada dipikirannya saat ini adalah jongin. jongin rela membuat dirinya bermasalah demi menyelamatkannya. Matanya berkaca-kaca, ingin rasanya dia berteriak dengan kencang

"appa kecewa" gumam ayah kyungsoo pelan, dia memandang sekilas anaknya dan berbalik menuju pintu, dia keluar mengikuti kedua polisi yang membawa Jongin. ayah kyungsoo tidak memperdulikan lagi ucapan-ucapan Jin Young yang selalu menyudutkan anaknya, dia tidak mau tahu

Kyungsoo membisu. Jiwa rapuhnya kembali menguasainya. Padahal dia selama ini berusaha untuk tetap tegar dan melawan terhadap setiap masalah yang menghampirinya. Namun kali ini semua usahanya untuk terlihat tegar dan baik-baik saja gagal.

Kyungsoo sudah sering melatih mengucapkan kalimat-kalimat makian dan cacian untuk orang yang memandang rendah padanya. Namun kali ini itu bukan saat yang tepat, ayahnya ada dan tidak mungkin dia menunjukkan sisi lainnya itu

"kamu lihatkan bocah kurang ajar, ini balasan karena kamu sudah melawanku" bisik paman Kyungsoo kelam, dia tersenyum penuh kemenangan, Kyungsoo tidak menanggapinya, yang ada dipikirannya saat ini hanyalah Jongin dan perubahan sikap ayahnya.

Paman Kyungsoo masih menampilkan senyum licik, dia melangkah keluar kamar dengan santai, mengikuti para polisi dan ayah Kyungsoo yang sudah sampai di lift.

Kyungsoo yang sendirian, mendesah pelan

.

.

Di Grand Piece Hotel,

Jiyoon dan salah seorang rekannya sudah 14 jam menunggu Kyungsoo. Jiyoon menggerutu kesal karena tawarannya tidak digubris oleh Kyungsoo. Baju seksi transparan dan G-string yang dia gunakan seakan sia-sia saja, rencananya gagal untuk melakukan hubungan seks dengan Kyungsoo. Minuman yang sudah diberikan obat perangsang teronggok sia-sia dimeja dekat ranjang

"sial, rupanya pemuda itu tidak datang" umpat Jiyoon kesal, dia menatap keluar jendela kamar hotel 101 itu,

"ternyata dugaanmu salah Jiyoon, pemuda itu tidak selemah dan serapuh yang kamu duga, buktinya dia tidak tertarik dengan tawaranmu ini" kata seorang rekan Jiyoon itu,

"Hyuna, aku sangat yakin bahwa pemuda itu tertarik dengan tawaranku. Aku sudah sering melakukan ini dan selalu berhasil" ungkap Jiyoon sembari memelintir genit rambutnya

"atau mungkin ada orang lain yang ikut campur?" tebak seseorang yang bernama Hyuna itu, dia memakai baju yang tidak kalah seksinya dengan Jiyoon.

"mungkin saja, aku tidak yakin" jiyoon mengingat-ingat, dia merasa bahwa Kyungsoo menerima pesannya dan tidak ada orang lain yang tahu, jiyoon memastikan itu semua.

"setahuku pemuda yang bernama Kyungsoo itu anak orang kaya, ayahnya manager hotel dan ibunya seorang guru. Jadi kemungkinan uang tidak akan jadi masalah buatnya" kata hyuna lagi,

Jiyoon mengernyit, dan kemudian tertawa pelan,

"pemuda itu pergi dari rumahnya, aku tidak tahu penyebab dia pergi. Menurut informasi yang aku dapat pemuda itu menyewa kontrakan, tapi aku tidak tahu letak kontrakannya, mungkin ada masalah keluarga" jelas jiyoon, dia mendudukkan dirinya di tepi ranjang, mengusap-usap ranjang itu, berharap bahwa kyungsoo ada disana

"apa yang membuatmu menyukai pemuda itu? Apa kamu hanya ingin main-main saja?" hyuna kembali bertanya, dia melangkahkan kakinya menuju jendela, melihat pemandangan yang terhampar diluar

"entahlah… pada awalnya aku belum memperhatikan pesona pemuda itu, tapi akhir-akhir ini aku merasa bahwa dialah pemuda tipe idealku" jiyoon berkata sambil tersenyum girang

"apa kamu yakin, pemuda itu memang tampan, aku akui itu, tapi apa kamu tidak memperhatikan bahwa dia kurang jantan, maksudku dia tidak manly, bahunya kecil, dia juga tergolong pemuda yang pendek dan setahuku kegiatan favoritnya adalah memasak dan bersih-bersih, itu hobi yang terlalu girly" ungkap hyuna santai

"wah, kamu memperhatikan sampai sedetail begitu, aku tidak menyangka" kata jiyoon

"aku tahu dari adik kelasku, sejak kamu memberitahu bahwa kamu mengincarnya, aku juga mencari tahu. Dan biasanya pemuda yang bertingkah girly seperti itu yahh… tahu sendirilah"

"tapi, aku lihat penampilan pemuda itu berubah, dia kelihatan lebih manly"

"itu hanya kelihatan, aku rasa dia hanya berkamufalse saja, supaya tidak ada yang mengganggunya" ujar Hyuna

"terserah, aku tidak peduli. Aku suka padanya dan aku tidak akan menyerah" gumam Jiyoon semangat, dia mengepalkan tangannya secara berlebihan

"aku akan membantumu" Hyuna menutup percakapan tersebut

Mereka berdua saling tersenyum, dua yeoja yang bahu membahu untuk menaklukkan seorang namja, namja yang sudah memberikan hatinya untuk orang lain. Mereka berdua harus siap-siap kecewa tentunya.

15 menit kemudian mereka beranjak untuk check out dari hotel

.

.

o…o…o…o…o…o…o…o…o…o

Kyungsoo pulang dengan lesu, pikirannya masih dibayangi oleh nasib jongin dan kekecewaan ayahnya. Dia tidak bersemangat, hari sudah menjelang sore dan dia yang menggunakan bus untuk pulang, membayarnya menggunakan uang pemberian Jongin, jumlahnya lebih dari cukup, bahkan bisa untuk membayar sewa kontrakan selama setahun

Kyungsoo sampai di kontrakannya sore, dia menatap kamar tetangganya, Chanyeol yang terkunci dari luar dan seketika itu Kyungsoo sadar, sadar bahwa dia melewatkan setengah hari pertamanya untuk bekerja, chanyeol pastilah sudah pergi. Kyungsoo bergegas masuk ke kamarnya, membersihkan diri, berpakaian dengan cepat, dan langsung menuju Yoshi café, semua itu dilakukannya dalam tempo 15 menit saja

Kyungsoo sampai di yoshi café beberapa menit kemudian, nafasnya tersengal-sengal. Dia tidak ingin mengecewakan chanyeol, karena chanyeol yang merekomendasikannya kepada pemilik café untuk diterima bekerja

Chanyeol yang melihat kyungsoo muncul di balik pintu café bergegas menghampirinya. Dia tersenyum senang,

"dari mana saja? Aku menunggumu sejak semalam" kata chanyeol sedikit khawatir,

"maaf, aku ada sedikit urusan" jawab Kyungsoo singkat, dia tersenyum tidak enak

"baiklah, ayo kita keruangan bos, dia menunggumu sejak tadi, aku memberikan alasan macam-macam untuk mengulur waktu"

"terima kasih Chanyeol ah, kamu mau membantuku lagi"

"tidak masalah, kamu temanku"

Mereka berdua bergegas masuk keruangan pemilik café.

.

.

Setelah nasihat dan wejangan panjang lebar, akhirnya Kyungsoo bisa bernafas lega, dia resmi menjadi pegawai baru di café itu. Kyungsoo menggunakan pakaian kemeja putih sebagai tanda bahwa dia adalah pekerja baru. Kyungsoo deg-degan sendiri. Ini kali pertamanya dia bekerja, dia memperhatikan interior ruangan café, sangat elegan dan bergaya campuran Eropa, Jepang dan Korea. Ruangan itu sangat luas, begitu banyak meja dan kursi. Ada pula ruangan-ruangan yang tertutup rapat, tapi kyungsoo belum melihat satu orangpun keluar dari ruangan itu

Kyungsoo memperhatikan apa yang dilakukan oleh Chanyeol, dia mengamati dan membantunya. Sebagai tahap awal kyungsoo hanya sebagai asisten saja, dia masih baru dan perlu banyak belajar.

"ini dicampur seperti ini, sehingga rasa kopinya terasa" ujar chanyeol menerangkan, dia tertawa melihat ekspresi O_O kyungsoo yang imut.

"dan bawa ke meja nomor 11 disana" kata chanyeol,

Kyungsoo menerima seduhan kopi itu, dia sedikit mengernyit, ini hanya café, tapi kenapa pekerjanya disebut bartender

"maaf chanyeol ah, tempat ini hanya café, café yang ruangannya sangat luas, tapi kenapa para pekerja disini menyebut dirinya bartender?" Tanya Kyungsoo ingin tahu,

"ah, itu.. begini kyungsoo ya.." chanyeol menghentikan aktifitasnya me-mix kopi dan caramel, dia memandang wajah kyungsoo, dia langsung menjelaskan

"di tempat ini, jika pagi hingga sore atau menjelang malam disebut café. Tapi jika hari sudah benar-benar malam, maka tempat ini berubah menjadi Bar. Kurasa aku pernah menyinggungnya dulu, mungkin kamu lupa kyungsoo ya. Aku harap kamu mengerti" terang Chanyeol menjelaskan lagi,

Kyungsoo mengangguk mengerti, dia tersenyum dan kembali mengambil nampan berisi kopi pesanan pelanggan yoshi café.

4 jam berlalu, kyungsoo sudah mulai paham bagaimana dan apa yang harus dia lakukan sebagai pekerja baru. Disini ada banyak pekerja, mungkin sekitar 20 orang yang mondar mandir melayani pelanggan,

Kyungsoo merapikan tatanan hiasan di meja panjang didepannya, dan salah seorang menghampirinya, yeoja,

Yeoja itu memandang intens kyungsoo tanpa berkedip, dia merogoh ponselnya dan menjepret wajah kyungsoo dihadapannya, kyungsoo otomatis terkejut, karena kilatan blits ponsel itu

"oppa pegawai baru disini?" Tanya yeoja itu genit, dia memainkan ponselnya setelah menjepret tadi,

Kyungsoo mengangguk singkat,

"ini nomor ponselku, aku harap kita bisa berkenalan lebih jauh" gumam yeoja itu sedikit nakal, menyodorkan ponselnya tepat dihadapan Kyungsoo

Kyungsoo hanya menatap ponsel itu, tidak menggubrisnya. Dia memandang wajah yeoja tersebut, lumayan cantik juga, tapi jelas kyungsoo tidak akan mungkin terpesona, yah tahu sendirilah.

Yeoja yang tidak mendapatkan respon dari kyungsoo mendadak kesal, dia mengambil kembali ponselnya dan pergi menuju mejanya lagi, dia gusar

"selalu begitu, pegawai baru pasti akan selalu menemukan pelanggan centil seperti itu" ujar chanyeol tiba-tiba, dia mengagetkan Kyungsoo

"oh, jadi tiap hari seperti ini?" Tanya Kyungsoo ingin tahu

"tidak juga, hanya di awal-awal saja. Dan jika kamu tergoda, kemungkinan kamu akan berakhir di kamar sana, bersama pelanggan yang akan membayarmu" kata chanyeol, sembari menunjuk deretan kamar yang semuanya masih tertutup rapat

"jadi kamu sering melakukan itu?" Tanya kyungsoo sedikit privasi,

"ha..ha.. kamu mau jawaban yang seperti apa?"

"jawaban yang jujur"

"baiklah, di awal-awal aku sempat tergoda, namun aku tidak sampai terjerumus. Di tempat ini ada banyak pegawai yang tampan, jadi hanya mereka-mereka saja yang tertarik, aku sama sekali tidak tertarik, gajiku disini sudah lebih dari cukup" ungkap chanyeol jujur, tulus dari hatinya

"jadi para pelanggan bisa memilih pekerja yang ada disini seenaknya begitu?"

"bisa dikatakan demikian, seperti yang aku katakan kepadamu sejak awal, tempat ini hanya menerima pegawai yang tampan alias good looking saja. Karena mereka ingin menambah pundi-pundi uang dengan adanya pelanggan yang tertarik kepada pekerja mereka"

"jadi dengan kata lain, tempat ini bisa dikatakan tempat prostitusi juga?" Tanya kyungsoo semakin ingin tahu,

"lagi-lagi bisa dikatakan demikian kyungsoo ya, tapi yang jelas itu kembali kepada pribadi para pekerja saja, apa dia tertarik atau tidak. Jika tidak tertarik, yaa lakukan saja pekerjaan seperti biasa, melayani pesanan kopi atau mocca dari pelanggan dan jangan pedulikan pelanggan yang mencoba berkencan atau menggodamu" jelas chanyeol lagi, dia berharap kyungsoo akan semakin paham

Kyungsoo untuk kesekian kalinya mengangguk paham, dia juga sadar segala konsekunsi pekerjaannya saat ini dan entah mengapa dia langsung teringat jongin, apa pendapat jongin apabila tahu jika kyungsoo bekerja ditempat yang penuh dengan godaan. Ah itu tidak penting, yang dia pentingkan adalah bagaimana nasib jongin pasca dibawa oleh pihak polisi. Kyungsoo merasa bersalah, mudah-mudahan semua baik-baik saja

Dalam beberapa jam saja sudah banyak yeoja yang menggoda kyungsoo, dari yang secara halus sampai yang ekstrim dan vulgar. Kyungsoo mencoba tersenyum dan menanggapi dingin semua godaan yang ditujukan kepadanya. Tidak mungkin dia mengeluarkan kata-kata makian yang akhir-akhir ini menjadi andalannya

Jam kerja Kyungsoo berakhir jam 12 malam, dia bersama Chanyeol pulang ke kontrakan dan mengistirahatkan diri mereka masing-masing

.

.

o…o…o…o…o…o…o…o…o…o

Kyungsoo pagi-pagi sekali berangkat menuju kampusnya. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan hanya untuk mencari Jongin, apakah jongin sudah terbebas dan kembali masuk kuliah, kyungsoo tidak ingin memikirkan kemungkinan terburuk. Dia menyalahkan dirinya sendiri, dan tidak lupa kyungsoo mengumpat kepada pamannya, pamannya adalah dalang dari masalah yang menimpa Jongin saat ini. Dia geram dan akan membuat perhitungan suatu saat nanti, kyungsoo bersumpah

Tiba-tiba seorang yeoja menghampirinya, yeoja itu secara mengejutkan menarik lengan Kyungsoo, kyungsoo kaget, tapi dia membiarkan saja tubuhnya ditarik, dia ingin tahu yeoja itu menginginkan apa darinya,

Setelah sampai di samping ruangan perpustakaan, yeoja itu melepaskan genggamannya ditangan kyungsoo, dia tersenyum senang karena kyungsoo tidak berontak

"maaf oppa, akhir-akhir ini aku jarang melihat oppa masuk kuliah? Ada apa? apa oppa sakit?" Tanya yeoja itu basa-basi, matanya berbinar

"ah, Minah.. aku tidak sakit, hanya banyak urusan saja" jawab kyungsoo singkat, ternyata yeoja itu adalah minah, teman kelas perkuliahannya yang sekarang menempati rumah keluarganya dulu

"oppa harus jaga kesehatan, aku tidak ingin oppa sakit" kata minah, mencoba memberikan perhatiannya kepada kyungsoo.

"maaf Minah, ada apa kamu membawaku kesini?" ketus Kyungsoo to the point, dia tidak ingin membuang-buang waktunya

Minah mendadak memasang wajah serius, dia berpikir keras. Dia akan mengatakan sesuatu yang sudah lama dia pendam,

"maaf oppa, jika aku tidak sopan. Tapi aku rasa sekaranglah waktu yang tepat, sebelum yeoja yang lain mendahuluiku.." ucap minah hati-hati, kalimatnya terhenti

"…"

"ehm… emm… maukah… maukah oppa menjadi pacarku?" minah mengucapkan kata pemungkas itu dengan bergetar, sorot matanya mengandung banyak harapan untuk diterima oleh Kyungsoo

Kyungsoo terdiam membisu, baru kali ini dalam sejarah kehidupannya dia ditembak oleh seorang yeoja. Kyungsoo sungguh-sungguh tidak percaya. Dia yang sedari tadi menampilkan ekspresi cool dan datar, tiba-tiba menjadi salah tingkah dan memutar-mutar bola matanya, dia tidak tahu harus berkata apa,

"maaf Minah, tapi.. aku.."

"aku mau jawaban oppa sekarang" ujar Minah mantap

Kyungsoo berpikir keras, dia tidak mungkin menerima cinta Minah, dia tidak ingin berpura-pura mencintai dan berkencan dengannya. Kyungsoo merasa menjadi orang yang munafik bila sampai melakukan hal itu. Menjadi orang yang 'unik dan beda' memang sangat menyengsarakan,

"begini Minah, maaf… tapi aku tidak bisa menerimamu sebagai pacar, aku hanya menganggapmu teman, tidak lebih. Kamu cantik dan baik, masih banyak namja diluar sana yang lebih pantas untukmu Minah" ujar Kyungsoo, dia menolak cinta Minah

"tapi aku hanya ingin oppa, bukan yang lain" teriak Minah, dia terkejut karena telah ditolak mentah-mentah, dandanannya yang sudah cantik tidak menarik bagi Kyungsoo

"aku tidak bisa menerimamu Minah"

"tidak oppa, oppa harus menerimaku" nada minah semakin meninggi, dia putus asa

Kyungsoo perlahan menjadi gusar juga, dia memandang serius minah yang tampak sangat kecewa dan tidak terima. Dia mencari kalimat yang akan menghentikan minah mengejarnya,

"aku tahu, kamu pasti hanya menginginkan ini kan?" kata kyungsoo sambil menunjuk selangkangannya yang tertutup celanan jins robek. Dia menunjuk tonjolan dicelananya dengan ekstrim

"kalau begitu, cari tempat, buka rokmu dan kita selesaikan. Dan setelah itu kamu pergi dan jangan berharap apa-apa lagi dariku" ujar Kyungsoo sadis, ekspersinya serius dan menusuk

Minah membelalakkan mata sipitnya, dia tidak menyangka Kyungsoo akan mengucapkan kalimat yang vulgar barusan, dia spontan mengangangkat tangannya, dia ingin menampar Kyungsoo, tapi dia juga tidak tega, dia tidak ingin wajah tampan Kyungsoo yang disukainya itu menjadi merah akibat bekas tamparannya

"oppa sangat keterlaluan. Aku… aku memang menginginkan itu, tapi tidak sekarang namun nanti setelah ada ikatan pernikahan. Oppa sangat tidak peka dengan perasaan wanita" erang Minah, tangannya otomatis diturunkan, dia menunduk

Kyungsoo mengusap wajahnya kasar. Dia menyesal sudah mengucapkan kata itu, terlebih lagi kepada seorang gadis. Apa ini efek dari perubahan yang dia lakukan selama ini? Entahlah, kyungsoo juga bingung

Kyungsoo ingin berbalik untuk pergi, tapi minah kembali menghentikannya,

"oppa, aku mau tahu alasan oppa menolakku" ucap Minah sendu,

Kyungsoo yang langkahnya sudah terhenti, kembali bergulat dengan pikirannya. Apakah dia harus jujur kepada Minah, ataukah menjawab dengan jawaban yang lain, lagi-lagi Kyungsoo galau.

"aku mencintai orang lain" jawab kyungsoo singkat, dia harap jawaban itu akan memuaskan Minah,

"siapa dia oppa? Apa lebih cantik dariku?"

Kyungsoo bimbang,

"dia adalah malaikatku, yang selalu ada untukku"

"siapa namanya?" Minah kembali mendesak, dia tidak puas dengan jawaban singkat Kyungsoo

"dia…."

"dia siapa oppa?" desak Minah lagi,

"dia bernama Jongin.. Kim Jongin"

Deg…. Minah lagi-lagi terbelalak dan shock. Kyungsoo menyebutkan nama namja, bukan yeoja. Minah berharap kyungsoo cuma bercanda, tapi setelah melihat mimik serius di wajahnya, dia sadar bahwa Kyungsoo tidak sedang bermain-main. Dan beberapa detik kemudian Minah langsung paham bahwa orientasi kyungsoo berbeda, Minah patah hati

Minah menunduk lesu, ternyata sang pujaan hati sudah melabuhkan hatinya untuk orang lain, dan itu adalah namja, namja yang bernama Kim Jongin.

Hening,

Ditempat tidak jauh dari Kyungsoo dan Minah, berdiri seseorang yang sedari tadi melihat dan mendengar pembicaraan Minah dan Kyungsoo, sejak awal hingga akhir tidak ada yang terlewat olehnya,

"Ya Tuhan… Kyungsoo ya, apa aku tidak salah dengar, kamu mencintaiku…" batin orang itu, orang yang sangat dirindukan oleh Kyungsoo

.

.

.

.

.

To Be Continued

o…o…o…o…o…o…o…o…o…o…o….o

Terima kasih kepada reader yang sudah memFavorite, Follow dan terlebih lagi memberikan Review di FF sederhana ini. FF ini kemungkinan berakhir di Chap 10 atau 11 (mungkin ya.. he..he..) dan untuk chapter 7 bagaimana? Reviewnya lagi ya… supaya aku bisa tahu jika masih ada Reader yang menantikan FF singkat ini… salam…