Good Boy vs Bad Boy
By Fan_dio
Cast : Do Kyungsoo, Kim Jongin, Exo member, Kpop, Kdrama and Kmovie
Genre : Drama and Friendship
Warning : This is Yaoi (BL) , Author Newbie, Maaf kalau Typo berserakan,
= Happy Reading =
o…o…o…o…o…o…o…o…o…o…o
Minah beranjak pergi, dia melewati kyungsoo yang mematung. Air matanya menetes, dia benar-benar tidak menyangka bahwa kyungsoo menyukai orang lain, dan itu sesama namja. minah galau, stress dan sakit hati.
Minah yang sudah berjalan menjauh berpapasan dengan Jongin. dia melihat Jongin didekat pohon samping ruangan perpustakaan, minah menatap Jongin dengan tatapan yang sulit diartikan, minah tahu bahwa orang yang ada dihadapannya adalah Jongin. minah merasa tersaingi oleh Jongin, aneh memang, seorang yeoja tersaingi oleh namja. minah berlalu dengan cepat dan tidak mengucapkan sepatah katapun.
Kyungsoo masih mematung, dia mengusap kasar wajah imutnya. Ini kali pertamanya mengungkapkan siapa orang yang dia cintai. Dia tadi mengatakannya refleks dan otomatis, karena desakan yang bertubi-tubi dari Minah. Kyungsoo menunduk, nasi sudah menjadi bubur, minah sudah tahu dan dia tidak peduli jika yeoja itu akan membocorkan rahasianya kepada seluruh kampus
Kyungsoo tersadar dari lamunannya. Dia menghela nafas singkat, berusaha kembali tenang dan mengucapkan kalimat-kalimat sugesti yang positif . kyungsoo mendongakkan wajahnya, dia kembali melangkah, dan…
Kyungsoo melihat Jongin, dia memicingkan matanya, dia merasa sedang berhalusinasi. Tapi perasaannya mengatakan bahwa dia memang melihat Jongin, jongin yang nyata.
Dengan sigap Kyungsoo menghamburkan dirinya kearah Jongin, dia memeluk erat jongin. jongin sedikit terkaget, namun dia kembali menguasai dirinya yang tadi sedikit oleng karena tubrukan badan Kyungsoo. Kyungsoo tidak peduli jika anak-anak kampus akan melihatnya memeluk Jongin, tidak peduli
"jongin ah, syukurlah kamu bebas" seru Kyungsoo girang, ingin rasanya dia menangis saking senangnya
"aku kan sudah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja" kata Jongin pelan, dia perlahan membalas pelukan Kyungsoo, dia mengusap-usap lembut punggung kyungsoo
Kyungsoo melepaskan pelukannya, dia menatap wajah orang yang dirindukannya itu. Rasa lapar yang dirasakannya mendadak hilang saat melihat wajah Jongin, aneh memang, tapi itulah cinta, cinta yang tidak memandang jenis kelamin
Jongin menatap balik Kyungsoo, dia sudah mendengar semua percakapan antara Kyungsoo dan Minah tadi, semuanya. Jongin akan membuka mulutnya untuk berbicara, namun kyungsoo mendahuluinya,
"ba..bagaimana?" kata Kyungsoo terbata-bata, mungkin ini efek dari rasa senangnya. Dia ingin bertanya mengenai kenapa jongin bisa bebas dengan cepat, walau itu semua tidak penting, yang penting sekarang adalah Jongin tidak ditahan, itu saja
"aku tahu, kamu pasti ingin penjelasan dariku, baiklah.. akan aku jelaskan…"
"… aku bebas karena memang aku tidak bersalah, kamu juga tidak" jongin melanjutkan
"semudah itu?" Tanya Kyungsoo,
"kira-kira begitu, appaku adalah seorang polisi. Maaf, bukannya aku memanfaatkan posisi appaku, tapi dalam hal ini aku tidak bersalah jadi wajar saja jika appaku turun tangan untuk menolong anaknya" ungkap Jongin bernada kalem,
Kyungsoo terkesiap, rupanya ayah jongin adalah seorang polisi, dia tidak pernah tahu hal itu. Seharusnya dia bisa lebih peka dengan menyelidiki siapa dan bagaimana keluarga Jongin
"terlepas dari itu, semua baik-baik saja Kyungsoo ya" ucap Jongin lagi, namun ada kesan sendu dan sedih dalam kalimatnya, kyungsoo bisa menangkap itu,
"tapi sepertinya semua tidak baik-baik saja Jongin ah, tolong katakan semuanya" pinta Kyungsoo pelan,
Jongin menghela nafasnya, dia kembali berucap
"ommaku sangat marah, dia mengira pergaulanku sudah salah arah. Dan omma memutuskan untuk membawaku ke Jepang, secepatnya. Dia sudah mendaftarkanku di kampus yang baru di Jepang. Aku tidak bisa menolaknya, aku..." jelas Jongin sedih, dia tidak melanjutkan kalimatnya, dia tidak ingin pergi
"ke..kenapa ommamu sampai bersikap demikian?" Tanya Kyungsoo, dia kaget, dia tidak ingin jongin pergi jauh, sangat tidak ingin
"aku adalah anak satu-satunya appa dan omma sekarang, Adikku sudah lama meninggal. Jadi kedua orangtua, terutama ommaku sangat protective terhadapku. Kamu mungkin sudah pernah melihat sikap ommaku kan" ujar jongin, kyungsoo mengangguk, dia masih ingat sikap omma ibu Jongin yang memaksa anaknya tempo hari untuk segera pulang
"aku tidak ingin pindah, aku tetap ingin disini" gumam Jongin pelan,
"aku juga tidak ingin kamu pergi jongin ah" ujar Kyungsoo otomatis, ya tuhan bagaimana hari-hari kyungsoo tanpa melihat Jongin lagi
Mereka berdua masih saling tatap, jongin kembali teringat perkataan Kyungsoo beberapa waktu yang lalu, bahwa Kyungsoo mencintainya, dia akan memastikan itu sekarang,
"maaf Kyungsoo ya, aku.. aku tadi tidak sengaja mendengar percakapanmu dengan seorang yeoja" kata Jongin hati-hati,
Deg… kyungsoo menegapkan badannya, mendadak tangannya kembali gemetar. Apakah Jongin mendengar kalimat terakhirnya saat bersama Minah tadi, kyungsoo mendadak gugup. Dia belum sanggup jujur secara langsung, dia merutuk dirinya yang begitu bodoh mengungkapkan isi hatinya tadi
"jongin ah.."
"apakah..apakah benar kamu mencintaiku?" kalimat Tanya itu meluncur bagai ular,
"a..aku..aku.."
"apakah benar demikian?"
Kyungsoo semakin gugup, dia salah tingkah. Ingin rasanya dia menenggelamkan saja badan kecilnya kedalam tanah dan tidak pernah muncul lagi selama-lamanya, kyungsoo meremas celana jins robeknya
"iya, jongin ah.. aku.. aku mencintaimu, sangat mencintaimu"
Kyungsoo mengucapkan kalimat pamungkas itu yang sudah 6 bulan lamanya dia simpan untuk Jongin, kalimat cinta dari namja untuk namja, cinta yang unik
"ma..maaf jongin ah, seharusnya aku tidak mengatakan ini, lupakan saja kata-kataku barusan, anggap saja semuanya hanya main-main" gumam Kyungsoo lirih, dia menunduk, tidak mampu menatap wajah jongin
"ah.." hanya kata itu yang terucap dibibir seksi jongin, dia tidak tahu harus berkata apa
Kyungsoo masih tetap menunduk, dia malu. Namja yang mengatakan cinta kepada namja juga bukanlah hal yang lumrah pada zaman ini, perlu keberanian ekstra untuk melakukannya, kyungsoo sudah melakukannya walau memang dia terdesak oleh keadaan,
"Kyungsoo ya, aku harus mengatakan ini, mungkin kamu merasakan hal lain, mungkin rasa cintamu itu hanya rasa sayang sebagai seorang sahabat, rasa sayang kepada seorang teman, hanya itu. Aku harap kamu bisa mendalami lagi defenisi cinta yang kamu ungkapkan tadi. Cinta itu universal" ucap jongin
Kyungsoo menggeleng, dia bukan menyayangi jongin sebagai seorang sahabat, namun murni cinta yang tulus dan sejati, cinta seperti Adam dan Hawa, Romeo dan Juliet, Rama dan Shinta. Namun esensi cinta kyungsoo yang berbeda, dia mencintai orang yang berkelamin sama dengannya
"tidak Jongin ah, aku betul-betul mencintaimu, cinta seperti namja dan yeoja" kata Kyungsoo meyakinkan
"mungkin kamu salah menafsirkan perhatianku selama ini Kyungsoo ya.."
"…"
"kamu mengingatkanku kepada adikku, dia meninggal 8 tahun yang lalu. Sifat dan tingkah lakunya persis sepertimu. Aku selalu merindukannya, dan saat melihatmu aku teringat dengan adikku itu, jadi aku bertekad akan menganggapmu sebagai dia, adikku. Adikku yang sangat kusayangi"
Kyungsoo menunduk lesu, dia memperhatikan semua kalimat jongin barusan. Ternyata perhatian jongin selama ini lebih dikarenakan bahwa sifatnya mirip adik Jongin yang telah meninggal. Kyungsoo sudah berharap banyak selama ini, tapi dia juga sedikit lega, paling tidak dia sudah tidak penasaran lagi arti semua perhatian jongin kepadanya
"terima kasih jongin ah, kamu sudah menganggapku sebagai adikmu" ucap Kyungsoo tersenyum kecut, dia menampilkan love lipsnya, mencoba membesarkan hatinya sendiri, namun masih jelas tampak kekecewaan dalam senyumannya
"jangan cemberut begitu, kamu terlihat jelek jika merengut begitu" canda Jongin, kyungsoo mencoba tersenyum secara alami, dan dia sedikit berhasil
"maaf jongin ah, tolong lupakan semua kalimatku tadi, aku tidak ingin merusak persahabatan kita dengan kata-kataku yang tidak wajar" gumam kyungsoo tiba-tiba
"tidak Kyungsoo ya, pengakuanmu tidak akan merusak persahabatan kita. Aku sudah pernah mengatakan bahwa kamu adalah pemuda yang baik, jadi aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan bersahabat dengan orang yang baik sepertimu"
"…"
"aku hanya minta beberapa hal darimu Kyungsoo ya"
"apa itu?"
"aku ingin melihatmu kembali seperti Kyungsoo yang dulu, kyungsoo yang kukenal"
"aku tidak mengerti Jongin ah"
Jongin menghela nafasnya singkat, dan kembali berujar,
"aku tidak ingin melihatmu berpenampilan seperti ini" kata jongin sambil menatap pakaian yang dikenakan oleh Kyungsoo, kaos hitam bergambar serigala mengaum, jins yang robek dibagian lutut sebelah kanannya dan sepatu yang terlalu gaul. kyungsoo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia salah tingkah dipandang sedemikian rupa oleh jongin
"aku tidak ingin mendengarmu memaki orang dan berkata tidak pantas…"
"…"
"aku tidak ingin melihatmu membolos dari mata kuliah"
"…"
"aku tidak ingin melihatmu merokok"
"…'
"aku tidak ingin melihatmu membawa DVD porno"
"…"
"aku tidak ingin melihatmu membawa kondom"
"…"
"dan aku tidak ingin melihatmu terbujuk rayuan yeoja-jeoja haus seks…"
"…"
"Kyungsoo ya, your Good Boy, not Bad Boy…"
Jongin memaparkan banyak list permintaannya kepada kyungsoo. Sedangkan kyungsoo sendiri tidak bisa berkata apa-apa, dia kembali tertunduk malu. Kyungsoo sadar bahwa perubahan yang dipilihnya sangat tidak disukai oleh Jongin
"baiklah Jongin ah, aku akan melakukan permintaanmu" ucap Kyungsoo tulus, dia berjanji kepada dirinya akan kembali seperti dulu, dia juga merasa aneh dengan dirinya yang sekarang, terlihat tidak alami dan dipaksakan
"tapi kyungsoo ya, aku tetap ingin melihatmu menjadi pemuda yang 'kuat dan tegar', jangan hilangkan itu. Jangan kalah oleh keadaan. Ada kalanya kita harus mengeluarkan sisi lain dari diri kita, tapi ingat jangan sampai berlebihan" jelas Jongin mengingatkan, dia tersenyum
"terima kasih Jongin ah" kyungsoo balas tersenyum, senyum hati yang lembut
Kyungsoo dan jongin saling pandang, dan tiba-tiba sesuatu mengenai lengan kanan Kyungsoo, benda itu mengenai kyungsoo dengan lumayan keras, seperti sengaja dilemparkan. Kyungsoo mengusap-usap lengannya yang sakit, lengan baju kaosnya kotor
"sial… fucking bitch.." umpat Kyungsoo geram, dia ingin melanjutkan kalimat caciannya, namun tangannya dipegang oleh jongin dan mendadak perasaannya kembali menghangat, dia batal mencaci
"ma..aaf, kata itu keluar begitu saja" ucap Kyungsoo otomatis, dia memandang tangan jongin yang masih memegangnya, untuk menenangkannya, kyungsoo baru saja melanggar janjinya untuk tidak memaki
Dilain pihak orang yang melempar sesuatu kearah kyungsoo tertawa penuh kemenangan, lemparannya tepat sasaran,
"sorry baby boy… tidak sengaja, lanjutkan adegan love dovey kalian" seru orang itu sambil terus tertawa senang. Dia mengambil bola yang tadi dilemparkannya kepada Kyungsoo, bola itu sudah dicelupkan ke comberan terlebih dahulu
"Kris.." gumam jongin, ternyata yang melempar bola itu adalah kris, si senior arogan yang selalu ingin menyiksa Kyungsoo
Jongin dan kyungsoo memandang punggung kris yang sudah menjauh, dikejauhan masih terdengar tawa keras kris yang lebay.
"sebentar lagi tawamu akan hilang sunbae" gumam Jongin lagi, dia tersenyum
Kyungsoo terheran dengan kalimat Jongin barusan, kyungsoo menggesek-gesekkan kakinya
"maafkan aku Jongin ah, tadi kata-kataku tidak sengaja" kyungsoo masih mempermasalahkan umpatan refleksnya tadi, padahal Jongin sudah melupakannya
"tidak mengapa Kyungsoo ya" jongin tersenyum kepada kyungsoo
"ada apa dengan senior itu? Katamu barusan…" kalimat kyungsoo terhenti, jongin menarik tangan Kyungsoo,
Mereka berdua menuju ke gedung Rektorat, ditempat itu sudah ada anggota kepolisian yang berkumpul dan beberapa dosen serta mahasiswa.
"ini ada apa?" Tanya Kyungsoo heran,
"kamu lihat saja nanti"
Dan beberapa saat kemudian, seorang mahasiswa jangkung meronta-ronta, yang di apit oleh dua polisi yang memegangnya,
"ajuhsi, itu bukan milikku, aku tidak merasa membawanya, lepaskan aku" seru pemuda itu stress,
"tidak usah banyak bicara, nanti kamu diberi waktu untuk menjelaskan" ucap salah seorang polisi
"tapi aku tidak merasa membawa bungkusan heroin itu, ajuhsi tolong percaya" erang pemuda itu lagi, nadanya memohon
Polisi itu tidak ambil pusing, dia tetap menggelandang pemuda itu kemobil untuk selanjutnya diproses dan orang tuanya dipanggil
"Kris sunbae.." kata kyungsoo kaget, ternyata orang yang digelandang itu adalah Kris yang beberapa menit yang lalu mengerjainya
"lihatkan, tawanya sudah menghilang" gumam jongin pelan, dia menatap kris yang sudah dibawa menjauh, banyak mahasiswa dan dosen yang menonton adegan tersebut
"ini maksudnya? Apa kamu tahu sesuatu?" Tanya Kyungsoo kepada Jongin, dia penasaran
"kyungsoo ya, sunbae kita yang terhormat itu dibawa oleh pihak polisi karena kedapatan membawa heroin, hari ini adalah jadwal razia dikampus ini"
"heroin?"
"iya, heroin yang sama dengan yang ditemukan disaku sweatermu kyungsoo ya, itu milik kris dan harus dikembalikan kepadanya"
"ka..kamu mengembalikan barang itu?"
"bisa dikatakan demikian, aku menyimpan benda itu di tasnya, tanpa sepengetahuan dia tentunya" jongin tersenyum simpul, rencananya berhasil
Kyungsoo tidak tahu harus berkata apa lagi, dia cukup senang dengan ide jongin yang mengembalikan barang haram itu, dan sekarang Kris mendapat batunya. Semua perbuatan jahat tentu akan mendapatkan ganjaran bukan?
Ponsel yang digunakan Jongin berdering, jongin mengangkatnya dengan malas. Dia bercakap-cakap singkat dan menyimpan kembali ponsel itu di sakunya,
"maaf Kyungsoo ya, aku harus pulang. Ommaku sudah menunggu di luar kampus. Omma sendiri yang turun tangan sejak masalah yang terjadi di hotel kemarin, omma terus mengawasiku"
Kyungsoo kecewa, dia ingin berlama-lama dengan Jongin, karena bukan tidak mungkin saat-saat inilah masa-masa dia menikmati pertemuannya dengan Jongin, sebelum jongin dibawa oleh orang tuanya ke jepang. Entah mengapa mata kyungsoo berkaca-kaca, seakan-akan ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Jongin. kyungsoo mencoba bersikap biasa, dia sudah berjanji kepada jongin akan selalu kuat dan tegar dalam menjalani hidup, kyungsoo tidak akan lupa itu.
"aku sudah tahu alamat kontrakanmu kyungsoo ya, aku akan mengunjungimu untuk mengucapkan perpisahan untuk terakhir kalinya. Tapi aku tidak janji kapan, tapi yang pasti kita pasti akan bertemu lagi, percaya padaku" ujar Jongin pelan, dia meraih tangan Kyungsoo, menggenggamnya dan melepaskannya kembali
Hati Kyungsoo bergetar, dia ingin sekali menangis dan menumpahkan kesedihannya. Semua ini gara-gara dia, seharusnya masalah dihotel tempo hari adalah tanggung-jawabnya, bukan Jongin. dan karena masalah itu, akhirnya kemungkinan mereka akan berpisah, berpisah sebagai sahabat
"aku percaya padamu Jongin ah" kata Kyungsoo tidak kalah pelan
Jongin berbalik menuju pintu gerbang kampus, langkahnya sangat pelan, seakan-akan dia tidak ingin meninggalkan tempat itu sekarang. Jongin mendadak menghentikan langkahnya, dia berbalik untuk menatap Kyungsoo, pandangannya sulit diartikan,
"kyungsoo ya, aku…" gumam Jongin lirih, dia bimbang
"…" kyungsoo diam, dia hanya memberikan isyarat ada apa,
Jongin menggeleng pelan, dia kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya kepintu gerbang, menuju tempat parkir depan dimana ibunya sudah menunggu
Kyungsoo seketika dilanda kesunyian hebat, suara disekitar kampus tidak dia rasakan, seakan-akan dunianya gersang dan tak berpenghuni
'jongin ah..'
.
.
o…o…o…o…o…o…o…o…o…o…o
Di Kediaman Paman Kyungsoo,
Paman kyungsoo yang bernama lengkap Park Jin Young sedang duduk santai di ruang keluarga dirumahnya. Dia tidak sendiri, dia bersama anaknya, anak yang bukan darah dagingnya, Luhan
"Luhan, lusa appa sudah akan berangkat ke China, kampung halaman ommamu" terang paman Kyungsoo sembari menghisap rokoknya dalam,
Luhan tidak menggubris informasi dari ayahnya itu, dia asyik memainkan gadgetnya,
"Luhan,kamu dengar yang appa katakan?" bentak Paman Kyungsoo keras
"iya, aku dengar ajuhsi" jawab Luhan malas,
"jangan panggil appa dengan sebutan ajuhsi, aku ini sudah menjadi appamu, jadi panggil aku dengan sebutan appa" tukas paman Kyungsoo dengan nada tinggi
"iya.. appa.." kata Luhan sembari memutar bola matanya malas
"baiklah, kamu sudah tahu jika kamu akan tinggal bersama keluarga saudara appa, mereka akan menjadi orang tuamu disini"
"…"
"dan ingat, rebut perhatian mereka, kalau bisa tempatkan dirimu seolah-olah kamu anak kandung mereka, gantikan posisi anak mereka yang bernama Kyungsoo. Anak itu sudah tidak mempunyai tempat lagi dikeluarganya" senyum licik terukir di wajah tua paman Kyungsoo itu,
Luhan hanya menggeleng-geleng pelan, dia mendengarkan semua kalimat ayahnya, namun dia juga tetap asyik dengan gadgetnya, memandang wajah putih seorang namja di layar ponselnya
"jadi appa harap kamu bisa bekerjasama, bermanis-manis didepan mereka bukan masalah, asalkan kamu bisa diterima baik dan kelak menjadi bagian dari keluarga itu. Asal kamu tahu saja, orang tua appa kyungsoo mempunyai jaringan hotel yang banyak, aku heran dengan keputusan Min Joon yang hanya menjadi manager salah satu hotelnya, dia pria yang bodoh, sebodoh anaknya" terang paman Kyungsoo, dia kembali mengisap rokoknya dan menghembuskannya pelan
"jadi appa sudah akan pergi lusakan? Mudah-mudahan tidak ada pembatalan" ujar Luhan datar, dari nada bicaranya dia sangat berharap ayahnya itu cepat pergi
"kamu terkesan tidak mengharapkan kehadiran appa disini, appa tahu ini rumah ommamu, tapi sebagai anak kamu seharusnya menghargai appa sebagai appa barumu" tukas paman Kyungsoo merasa terlecehkan, dia memang gampang tersinggung
"terserah pendapat appa" balas Luhan enteng
Ayah Luhan alias paman Kyungsoo beranjak dari duduknya, dia mematikan puntung rokoknya dan bergegas berlalu menuju kamarnya, dia tidak mengucapkan sepatah katapun lagi
Luhan yang ditinggalkan sendirian di ruang keluarga, secepat kilat beranjak juga, dia berlalu keluar rumah dan menuju bagasi motornya,
'kyungsoo, aku tahu kamu selalu disakiti oleh si Jin Young sialan itu, aku akan menyingkirkannya demi kebaikan kita semua' batin Luhan,
Dia menaiki motornya dan melajukannya dijalanan Kota Seoul
.
.
o…o…o…o…o…o…o…o…o…o…o
Kyungsoo bermalas-malasan di kontrakannya, maklum saja karena nanti malam dia akan kembali bekerja sebagai pegawai café, kyungsoo mendapatkan shift malam.
Kyungsoo menatap tumpukan bukunya yang tidak seberapa, diatasnya tertera daftar nilainya semester lalu, rata-rata nilainya bagus dan mendapatkan A. dan untuk semester ini, dia tidak yakin akan mendapatkan nilai bagus setengah mata kuliahnya. Kyungsoo banyak melewatkan mata kuliahnya, terlebih lagi dia sudah bekerja dan itu butuh waktu dan tenaga ekstra. Tapi kyungsoo sudah berjanji kepada jongin akan memperbaiki dirinya, dia menyanggupi semua list permintaan Jongin untuknya
Entah mengapa Kyungsoo teringat ayah dan ibunya, terutama ibunya, sudah sebulan lebih dia tidak pernah memandang wajah orang yang telah melahirkannya itu, kyungsoo sangat rindu. Andai saja tempo hari dia tidak terkena masalah di hotel, mungkin dia sudah bercakap-cakap dengan ayahnya, menanyakan tentang ibunya. Walau kyungsoo diusir, namun kyungsoo sama sekali tidak dendam terhadap ibunya, dia paham perasaan ibunya itu, tidak ada seorangpun ibu yang bercita-cita anaknya akan 'menyimpang', semua ibu pasti menginginkan anaknya normal, menikah dan mempunyai keturunan secara wajar.
Wajah ibunya masih terbayang, dan setelah itu digantikan dengan wajah Jongin. kyungsoo mendadak galau lagi, jika benar jongin akan dipindahkan ke jepang, maka pupuslah sudah harapan kyungsoo kepada orang yang dicintainya itu. walaupun dia sudah mengutarakan perasaannya kemarin, dan secara tidak langsung jongin menolaknya, namun kyungsoo selalu teringat dengan kalimat favorit yang pernah dia baca 'selama engkau masih mempunyai cinta, harapan itu masih tetap ada…'
Kyungsoo masih larut dalam kegalauannya, secara tiba-tiba dia mendadak terkaget karena mendengar suara ketukan dipintu kontrakannya, kyungsoo dengan cepat beranjak dan membuka pintu kontrakannya,
"Lu..Luhan.." gagap Kyungsoo tidak percaya,
"iya, ini aku Kyungsoo" jawab Luhan sembil tersenyum imut, dia memakai topi merah yang depan topinya diarahkan dibelakang kepalanya
Kyungsoo yang masih terkejut, mempersilahkan Luhan masuk dengan isyarat tangannya, Luhan masuk dan mendudukkan dirinya di karpet kamar kyungsoo
"kamu pasti sudah tahu jika aku mau datang kesini lagi kan?" Tanya Luhan tenang,
"kesini lagi? Kamu pernah kesini?" belalak Kyungsoo,
"tetangga kamarmu tidak memberi tahu?" Luhan balas bertanya
"oh, Chanyeol.. mungkin dia lupa" jawab Kyungsoo singkat, selain tukang tidur, temannya itu juga memang pelupa. Kyungsoo juga tidak bertanya kenapa luhan bisa tahu alamat kontrakannya
Luhan memandang isi kontrakan Kyungsoo, tidak ada yang istimewa, hanya terdapat lemari dan meja usang, sangat berbanding terbalik dengan isi rumah keluarga Kyungsoo. Semuanya serba mewah dan lengkap, luhan menggeleng pelan, dia miris dengan nasib Kyungsoo
"aku ingin minta maaf.." kata Luhan memecah kebisuan,
"maaf untuk apa?"
"maaf untuk banyak hal"
"aku tidak mengerti.."
"pertama-tama aku minta maaf karena tidak bisa menolongmu saat di kerjai oleh Kris, kamu masih ingat kan?" ucap Luhan sendu, dia tulus meminta maaf
Kyungsoo tidak akan mungkin lupa dengan perlakuan Kris tempo hari, gara-gara orang China itu Kyungsoo menegak minuman keras yang dia tidak pernah bayangkan, kyungsoo bergidik sendiri
"itu bukan salahmu"
"memang tidak secara langsung, tapi aku tidak menolongmu, aku tidak berbuat sesuatu"
"tidak juga, kamu sudah berbuat sesuatu dengan tidak membantu Kris mengerjaiku, dan akhirnya dia bosan sendiri dan melepaskanku" kata Kyungsoo bijak, dia tersenyum
"itu mungkin kebetulan" desah Luhanpelan,
"yang kedua aku minta maaf, karena mengambil tempatmu dikeluargamu, maksudku aku di titipkan oleh Jin Young di rumah appa dan ommamu, tidak tahu sampai kapan. Aku sangat tidak enak denganmu Kyungsoo" tambah Luhan kemudian, dia tertunduk
"ah, itu bukan masalah Luhan, aku malah senang kamu bisa tinggal dirumahku. Paling tidak kamu bisa menjaga ommaku" balas Kyungsoo seraya tersenyum cerah
"tapi tidak sesederhana itu, ada maksud tertentu yang direncanakan oleh Jin Young"
"panggil dia dengan sebutan appa, dia sudah menjadi appamu" ralat Kyungsoo,
"dia memang sudah menjadi appaku, tapi aku tidak akan pernah menganggapnya sebagai appa, tidak sampai kapanpun"
Kyungsoo mendesah pelan, kyungsoo juga kurang suka dengan tabiat pamannya itu. Namun pamannya tetap saudara kandung ibunya, fakta itu tidak bisa dibantah
"appamu punya rencana apa? tidak akan membahayakan appa dan ommaku kan?" Kyungsoo bertanya dengan hati-hati, dia was-was
"entahlah, aku belum bisa menyimpulkan. Kamu tenang saja, aku adalah orang terdepan yang akan menyingkirkannya. Aku janji" tutup Luhan mantap,
Kyungsoo diam, dia hanya ingin yang terbaik untuk keluarganya
.
.
o…o…o…o…o…o…o…o…o…o…o
Jongin gelisah dikamarnya, hujan mengguyur kota tinggalnya dengan curahan hujan yang seperti batu. Jongin tidak bisa memejamkan matanya, dia menyingkap selimutnya dan mendudukkan dirinya di ranjang besarnya. Dahinya sedikit berkeringat, walau udara sedang dingin-dinginnya. Jongin tidak tahu dia kenapa, ada apa dengannya, dia merasa aneh
Jongin mengusap wajahnya kasar. Dia menatap tumpukan barangnya yang tertata rapi, ibunya sudah merapikan dan membenahi barang-barangnya. Keberangkatannya ke Jepang sudah tidak bisa di cegah atau di batalkan,
Jongin masih mengusap wajahnya, satu-satunya kunci adalah dirinya sendiri, dia harus menentukan pilihannya, dia harus memilih sendiri takdirnya, sebelum semua terlambat
.
.
.
Hujan dan kilat menggelegar hebat, bunyi fenomena alam itu membangunkan Kyungsoo dari mimpi buruknya. Dia terbangun dengan berkeringat dingin. Mimpinya benar-benar buruk dan terlihat nyata. Dia baru beberapa menit tertidur, karena dia beberapa jam yang lalu baru kembali dari café tempat dia bekerja dan hujan mengguyur kemudian
Kyungsoo beranjak dari pembaringannya yang tanpa kasur itu. Dia menuju jendela kamarnya dan menatap guyuran hujan yang tiada hentinya. Entah mengapa degup jantungnya berdetak dengan cepat, dia merasakan sesuatu, namun dia tidak tahu apa 'sesuatu' itu
Dan tiba-tiba terdengar ketukan dan gendoran keras di pintu kontrakan Kyungsoo, kyungsoo memperjelas pendengarannya karena efek suara hujan. Dan dia yakin bahwa pintunya memang di gendor oleh seseorang,
Kyungsoo bimbang, ragu sekaligus takut. Untuk apa tengah malam-malam dan hujan begini orang bertamu, sangat kurang kerjaan. Namun Kyungsoo tetap menuju pintunya, dia penasaran siapa yang ingin bertamu malam-malam begini, siapa tahu saja ada hal penting
Dengan perlahan, kyungsoo mengaraahkan tangannya di gagang pintu, membukanya dan seketika itu juga matanya membelalak kaget,
"kyungsoo ya, kamu benar-benar mencintaiku..?" kata orang itu tepat saat pintu kontrakan Kyungsoo terbuka, kalimatnya sangat cepat
"ap..apa?"
"katakan, apa kamu serius mencintaiku..?" kata orang itu lagi,
"i.. iya.. aku sangat mencintaimu, tapi ada apa ini.. kenapa.." ucap Kyungsoo gagap, dia masih shock dan otomatis menjawab pertanyaan sensitif itu
"kalau begitu, ikut denganku… kita akan pergi jauh, malam ini juga"
"ta..tapi.."
"aku mohon Kyungsoo ya, ikut denganku, kita akan bersama dan aku akan menjagamu"
"tapi Jongin ah, kenapa tiba-tiba ..."
"aku tahu ini salah, tapi aku… aku juga mencintaimu Kyungsoo ya.."
"…"
Hujan seakan berubah menjadi salju dimusim dingin.
.
.
.
.
.
To Be Continued
o…o…o…o…o…o…o…o…o…o…o
Datang lagi, mudah-mudahan update ini sudah cepat ya (seperti biasa), dan aku mohon maaf jika ada yang menunggu ChanBaek atau HunHan. Di FF ini kemungkinan hanya Kaisoo dan HunHan saja supaya bisa lebih fokus. Dan di chap ini lagi-lagi aku minta maaf karena belum bisa menghadirkan HunHan moment, mungkin di chap depan ya, mohon reader mengerti, he..he.… terima kasih untuk reader yang selalu memberikan komentar dan tanggapan di setiap Chap, sangat membuat semangat untuk update cepat… Review untuk chap 8 ini ya… apa sudah mulai membosankan? s
