Good Boy vs Bad Boy

By Fan_dio

Cast : Do Kyungsoo, Kim Jongin, Exo member, Kpop, Kdrama and Kmovie

Genre : Drama and Friendship

Warning : This is Yaoi (BL) , Author Newbie, Maaf kalau Typo berserakan,

= Happy Reading =

o…o…o…o…o…o…o…o…o…o…o

Kyungsoo terkesiap kaget, dia tidak menyangka seorang Kim Jongin malam-malam begini datang ke kontrakannya untuk mengatakan cinta sekaligus mengajaknya kabur.

"apa..apa kamu tidak sedang bercanda Jongin ah?" Tanya Kyungsoo lagi, dia memperjelas pendengarannya, siapa tahu saja dia salah dengar karena hujan yang sangat deras

"apa aku terlihat bercanda?" Jongin bertanya balik, wajahnya serius, tidak ada sedikitpun kesan main-main dalam wajah tegasnya, dia sungguh-sungguh

Kyungsoo terdiam, dia masih menatap Jongin, dan dia baru sadar bahwa Jongin basah kuyup, dia tidak menggunakan jas hujan

"Jongin ah, masuk dulu, kamu basah, lebih baik kamu…"

"tidak Kyungsoo ya, tidak perlu.. aku hanya ingin membawamu bersamaku, sekarang juga" potong Jongin cepat, dia tidak sabar

"tapi ini sudah malam dan.." gagap kyungsoo

"tenang saja Kyungsoo ya, aku akan menjagamu, aku sudah berjanji dan aku tidak akan mengingkarinya" ungkap Jongin dengan bibir bergetar, dia kedinginan

Kyungsoo diam, tidak tahu harus berkata apa

"aku mohon.."

"baiklah Jongin ah, aku akan ikut bersamamu, selamanya" ucap Kyungsoo akhirnya, kyungsoo mengucapkan kata-kata itu dengan kesungguhan. Lagi pula dia sendiri, keluarganya tidak menganggapnya lagi, jadi bila terjadi apa-apa dengannya nanti, tidak akan ada keluarga yang akan menangisinya

Jongin tersenyum senang, dan memeluk singkat Kyungsoo. Ini senyuman pertamanya sejak dia bergalau ria dikamarnya kemarin dan tadi

Kyungsoo secepat kilat membenahi barang-barangnya, untung saja barang-barangnya tidak banyak. Dia mengambil semua baju-baju dan celana lamanya, pakaian yang normal, dia tidak menggubris pakaian barunya yang semuanya bergaya anak masa kini, dia tidak ingin memakai pakaian itu lagi, dia akan menanggalkan kesan Bad Boy yang aneh pada dirinya, semua demi Jongin

"tunggu sebentar" Kyungsoo berujar cepat, dia memandang jongin yang heran, karena dia mengambil kertas dan pena, lalu menuliskan sepatah kata. Kyungsoo mengeluarkan beberapa lembar uang won pemberian jongin tempo hari dan menempatkannya bersama kertas yang sudah di tulisnya

"itu apa?" Tanya Jongin tidak mengerti,

"ini uang sisa pembayaran kontrakanku, aku akan menyimpannya disini, bersama kunci kamar ini, dan besok ajuhsi pemilik kos bisa mengambilnya saat melihatku sudah tidak ada" jawab Kyungsoo pelan, dia bekerja cepat

Jongin tersenyum, ternyata orang yang dia sayangi memang orang yang baik dan tidak diragukan lagi, jongin menunggu kyungsoo yang masih berbenah

Kyungsoo dan jongin dengan cepat keluar dari kontrakan, kyungsoo lagi-lagi memberikan aba-aba sejenak, dia memasukkan pesan kertas di bawah pintu kamar tetangganya, Chanyeol, sebagai pesan bahwa dia pergi dan temannya itu tidak usah khawatir, dan dia meminta maaf karena harus meninggalkan pekerjaannya yang baru berjalan seumur tauge.

Kyungsoo menatap kontarakannya sejenak, mendadak dia sedih, tempat itu adalah tempat bernaungnya pasca di usir oleh ibunya, dan kini dia pergi, pergi menerobos derasnya hujan, pergi bersama seseorang yang bernama Jongin, orang yang dicintainya. Kyungsoo pergi bersama cintanya, dan entah siapa yang tahu akhir kisahnya kemudian, apakah berakhir suka atau tenggelam bersama duka? Kita lihat saja nanti

.

.

o…o…o…o…o…o…o…o…o…o

Luhan memandang layar ponselnya serius, dia membaca berulang kali pesan dari seorang namja yang tampan, kata namja itu ada sesuatu yang penting yang harus di bicarakan, Luhan agak sedikit ragu dengan kebenaran informasi itu, dia baru dua kali bertemu dengan si namja, dan pertemuan mereka tidak ada yang spesial.

Luhan ingin membalas pesan itu, namun ponselnya mendadak berdering, menampilkan nama Minzy dilayarnya,

"Halo oppa, oppa ada waktu? Aku ingin bertemu malam ini juga, bisa kan?" Tanya yeoja yang bernama Minzy itu diseberang telefon, nada suaranya sangat manja dan bitchy

"maaf, Minzy.. aku tidak ada waktu, lagi pula kita tidak ada hubungan lagi, kita sudah putus sejak lama, jadi jalani saja kehidupan sendiri-sendiri, jangan menggangguku" ketus Luhan,

"oppa bicara apa, aku tidak mengganggu oppa, aku hanya ingin bertemu, itu saja" ucap Minzy masih dengan nada manja

"tidak, aku sibuk" tutup Luhan, dia mematikan panggilan itu sepihak, dia muak dengan yeoja itu. Asal tahu saja, yeoja itu adalah mantan pacarnya, namun mereka berdua sudah lama putus, Luhan memergoki mantan kekasih yang lebih tua darinya itu selingkuh, Luhan sangat tidak terima, orang setampan dia diselingkuhi, dia sungguh-sungguh tidak terima

Luhan membalas cepat pesan dari namja tadi, dan dengan cepat pula dia menonaktifkan ponselnya, sebelum yeoja stress tadi menelfonnya kembali

.

.

Luhan datang ketempat yang dikatakan oleh si namja, entah mengapa dia menerima ajakan namja itu. Malam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dan jalanan di kota seoul sangat ramai.

Luhan melangkahkan kakinya di café yang disebutkan oleh si Namja, dia sudah pernah ke café itu sekali, ini adalah kunjugan keduanya.

Luhan duduk dikursi yang kosong, lumayan banyak kursi di café itu, maklum saja ruangannya sangat luas dan banyak kamar-kamar disamping-sampingnya.

Luhan menengok kesana kemari, dan dia belum melihat sosok namja yang ingin bertemu dengannya itu. Pelayan menghampirinya dan menanyakan pesanan, Luhan menolak secara halus dan mengatakan bahwa dia sedang menunggu seseorang.

Sepeninggal pelayan tadi, datang lagi seorang pelayan, dengan tubuh jangkung dan senyuman ala pepsodent, dia menghampiri Luhan,

"hei.. sepertinya kita pernah bertemu" sapa pelayan itu ceria,

Luhan menatap si pelayan, dan langsung sumringah, dia juga mengenal orang tersebut,

"ah, kalau tidak salah kamu adalah tetangga Kyungsoo, sepupuku. Dan namamu adalah Chanbeol" terang Luhan,

"bukan Chanbeol, tapi Chanyeol… oh iya, aku ingat sekarang, kamu yang tempo hari datang mencari penguin temanku itu, maksudku Kyungsoo" kata pelayan itu yang ternyata adalah Chanyeol, teman sekaligus tetangga kamar Kyungsoo

Mereka berdua saling tersenyum dan membungkuk, chanyeol sejenak melupakan tugasnya sebagai pegawai café dan bercakap-cakap dengan Luhan,

"kalau tidak salah namamu Luhan kan?" Tanya Chanyeol yang sedari tadi sudah mendudukkan dirinya didekat Luhan, Luhan mengangguk mengiyakan, dia tersenyum

"kebetulan sekali, kamu adalah tamu istimewa kami" gumam Chanyeol sedikit centil

"tamu istimewa?"

"iya, tamu istimewa. Kamu tunggu saja nanti, akan ada kejutan untukmu" chanyeol mengangguk-anggukkan kepalanya senang

Luhan secara otomatis mengedarkan pandangannya kesegala arah, mencari sesuatu yang mungkin tidak disadarinya, dia mencari kejutan itu, namun nihil dia tidak mempunyai bayangan kejutan seperti apa yang akan diterimanya

"kejutan apa?" Tanya Luhan penasaran,

"jika aku katakan sekarang, itu bukan kejutan lagi namanya. Tenang saja, yang pasti akan sangat menyenangkan" jelas Chanyeol lagi, dia beranjak dari kursinya, dan meminta izin untuk kembali bekerja, dia menginggalkan Luhan yang masih dipenuhi rasa penasaran dan kebingungan

30 menit berlalu, sudah banyak pengunjung di café itu dan entah mengapa didominasi oleh kaum namja, tapi tidak sedikit juga yeoja, dan kaum tante-tante yang hilir mudik tidak jelas

Luhan menatap jam di layar ponselnya, dia sedikit kesal. Sial, apakah dia dikerjai oleh namja itu. Dan yang pasti dia belum beranjak dari kursinya dan pulang, aneh memang

Beberapa saat kemudian, lampu café yang lumayan terang mendadak mati total dan digantikan dengan lampu bercahaya lembut dan terkesan romantis. Luhan merasa kikuk karena dia hanya duduk sendiri, tanpa ada teman

Luhan mengumpat dalam hati, kenapa dia begitu bodoh datang ke tempat ini, sangat tidak jelas. Umpatan dalam hati luhan terhenti, karena mendadak terdengar suara dari ujung depan café, ditempat itu memang tersedia sound system yang mumpuni, lengkap dengan bebagai alat musik juga perlengkapan penunjangnya

"baiklah, para pengunjung kami yang terhormat, perkenalkan namaku Junmeyon, tapi akrab di sapa Suho. Aku adalah pemandu acara penembakan kita malam ini. Acara singkat ini baru pertama kali dilakukan disini, café ini. Para pengunjung sekalian pasti bertanya penembakan seperti apa? apa menggunakan peluru? Iya, tapi bukan peluru sebuah senjata, tapi peluru cinta. Dan ada satu orang yang beruntung yang akan terkena peluru itu.." sang host dadakan yang bernama Suho itu menghentikan kalimatnya, dia berusaha menikmati wajah-wajah penasaran pengunjung café.

"orang itu sungguh beruntung, karena malam ini kita semua akan menjadi saksi keromantisan cinta yang sudah dianugrahkan tuhan kepada kita semua" lanjut Suho semangat,

Para pengunjung café banyak yang sangat penasaran dengan semua kalimat yang diucapkan oleh Suho, tak terkecuali Luhan yang sedari tadi juga memperhatikan semua yang disampaikan oleh host dadakan dihadapannya

"untuk mempersingkat waktu, akan aku panggilkan seseorang. Seseorang yang merupakan bagian inti dari acara ini, seseorang yang akan mengutarakan cintanya kepada seseorang malam ini juga, dan kita semua akan menjadi saksinya.." Suho menghentikan kalimatnya, dia mendesah singkat kemudian melanjutkan

"sambutlah Sehun.." seru Suho mantap, dia memperkenalkan sebuah nama yang sangat singkat, dan tepat saat itu, seorang namja tampan dengan kulit yang sangat putih muncul dari arah belakang, dia naik ke tempat dimana Suho saat ini berada

Sehun tersenyum singkat, dia mengambil alih microfon dari tangan Suho, dan suho dengan anggun turun dari tempatnya dan bergabung bersama pegawai café yang lain, Chanyeol menyambutnya dan menggumamkan sesuatu yang berarti dia suka pembukaan dari Suho tadi

Luhan menatap sehun yang menggantikan suho, entah mengapa dia kembali jengkel, sehun sudah berjanji dengannya akan bertemu disini, meja ini. Tapi nyatanya sehun malah asyik berlebay ria dengan muncul bagai seorang artis dan ditonton oleh semua tamu café. Yah, sedari tadi Luhan memang menunggu seorang namja, dan namja itu adalah Sehun.

"aku ingin menyatakan perasaan kepada seseorang. Seseorang yang sangat aku cintai, seseorang yang membuatku susah tidur, seseorang yang sudah menjadi matahari bagiku. Seseorang itu ada diantara kita semua malam ini" tukas Sehun lantang,

Bisik-bisik menggema diruangan café, para yeoja centil saling sikut dan cubit. Para namja feminim memegang wajah mereka dan meyakinkan bahwa makeupnya belum luntur, Tidak ketinggalan tante-tante lebay yang merapikan letak bra dan rambut palsunya, seakan akan merekalah yang akan ditembak oleh namja tampan didepan mereka

"aku sangat gugup, ini kali pertama aku akan menembak seseorang dan langsung dihadapan banyak orang. Aku ingin kalian semua menjadi saksi cintaku, apakah cintaku akan diterima atau ditolak.. aku akan menerima keputusannya nanti" ucap Sehun nervous, degup jantungnya tidak beraturan, dia akan mengutarakan cintanya sekarang juga

"dan tibalah saatnya… untuk seseorang diujung sana.."

Pengunjung café menahan nafas,

"seseorang yang bernama.."

Pengunjung café masih tetap menahan nafas dan ada yang beberapa pingsan mendadak, lebay

"seseorang yang bernama Luhan.. Luhan hyung, maukah kamu menerima cintaku..?" seru Sehun lantang,

Deg… Luhan yang sedari tadi ikut larut dalam suasana mendadak mematung, dia gemetar, namanya dipanggil oleh sehun, dia berharap ada seseorang lain yang bernama Luhan, tapi sepertinya tidak ada, dia satu-satunya yang bernama Luhan. Dia ditembak oleh sehun, didepan orang banyak, jadi ini kejutan yang dikatakan oleh Chanyeol tadi, sial

Bisik-bisik makin menjadi. Banyak yeoja menunjuk-nunjuk tidak jelas. Banyak yang mempertanyakan kenapa nama seorang namja yang disebut, bukan yeoja. Mereka mencari dan menebak-nebak dimana sosok yang bernama Luhan itu, bagaimana rupanya, dia sungguh beruntung pikir mereka

"Luhan, I Love You.." ucap sehun lagi,

Dan tepat saat ini sebuah kain besar, seperti spanduk terbentang lebar di atas sehun, dispanduk itu bertuliskan 'Luhan, I Love You' dengan bahasa korea, sangat jelas

Mendadak Luhan jadi malu, wajahnya merah, dia tidak menyangka akan ditembak oleh seorang namja di hadapan banyak orang. Ingin rasanya dia menghilang dan ditelan angin saja sekarang, mau disimpan dimana wajah imutnya, dia benar-benar malu

Dan tiba-tiba seberkas sorot sinar menerangi meja Luhan, sorot lampu yang seperti digunakan dalam pentas-pentas musik. Sorot lampu itu kontras dengan cahaya lembut ruangan café. Luhan semakin malu karena dia terlihat nyata sekarang, semua mata memandangnya. Dan jelas saja semua pengunjung kini mengetahui jika dia namja yang bernama Luhan itu, namja yang menjadi sasaran penembakan sesama namja.

Sehun turun dan mendekati meja Luhan, dia dengan perlahan berjalan menuju ke namja pujaan hatinya itu. Sedangkan luhan ingin sekali kabur, namun entah mengapa kakinya mendadak berat seperti batu, akhirnya dia menerima saja kedatangan sehun untuknya

"Luhan hyung, aku minta maaf jika hyung merasa dipermalukan… aku hanya ingin mengutarakan perasaanku selama ini, aku tidak bisa menyimpannya lagi. Dan malam ini adalah saat yang tepat, aku ingin tamu café ini menjadi saksi cintaku untukmu Luhan hyung…" kalimat sehun terhenti, dia menatap ekspresi wajah Luhan yang sulit diartikan

"jika hyung menerimaku, terima coklat bentuk hati ini dan jika hyung menolakku, ambil tepung ini dan siramkan dikepalaku… aku akan menerima apapun keputusan hyung" ucap Sehun pelan, dia memegang bungkusan coklat bentuk hati ditangan kanannya dan mengepit benda segi empat yang berisi tepung kira-kira 2 kilogram dilengan kirinya

Luhan yang masih memerah tidak berkata apa-apa. matanya mencuri pandang kearah tamu pengunjung café yang menatapnya penasaran. Bisikan-bisikan sudah mulai mereda, tergantikan oleh rasa penasaran dan bagaimana akhir pemembakan ini

Luhan menatap wajah sehun. Dia mengusap sedikit keringat yang ada didahinya, Luhan memang sedari tadi keringat dingin. Banyak rasa yang tercampur dalam hatinya, dia tidak tahu harus berbuat apa

"tolonglah hyung, hanya tinggal pilih saja dan selesai. Aku akan menerimanya.. please" kata sehun lagi, cadelnya yang sedikit kentara tidak menghilangkan nada memohon dalam kalimatnya,

"sialan kamu Sehun…" kata luhan untuk pertama kalinya, dia mengatakan itu sambil mengepalkan tangannya.

"please…" Sehun masih memohon dengan sangat, dia tidak memperdulikan reaksi Luhan yang mungkin sudah sangat marah padanya

"baiklah… aku akan memilih.." akhirnya Luhan mengatakannya juga, ekspresi sehun mendadak sumringah, Luhan menyetujui akan memilih

"aku memilih.." kata-kata luhan menggantung, dia melirik sekilas semua mata yang tertuju padanya, banyak yang menahan nafas. Tidak sedikit yeoja yang mencengkram lengan pasangannya dengan sangat kuat, mereka menunggu apa keputusan Luhan. Luhan menatap wajah putih sehun yang penuh harap

"aku…"

Hening,

"aku memilih…"

Masih hening, tangan sehun sedikit bergetar saat memegang coklat dan tepung. Dia masih dalam posisi menyodorkan kedua benda itu kepada Luhan

Luhan galau, dia tidak tahu apakah keputusannya nanti adalah yang terbaik untuknya. Dia mengusap kasar wajahnya. Dan beberapa detik kemudian akhirnya dia membuat keputusan

"aku… aku memilih coklat ini…" ujar Luhan akhirnya. Dia memilih untuk menerima coklat dari sehun, itu artinya secara otomatis dia menerima cinta Sehun

"be..benarkah.." gagap sehun, dia tidak menyangka akan diterima. Tangan Luhan sudah mengambil coklat dari tangan sehun

Tepuk tangan dan sorak sorai menghantarkan penembakan yang aneh itu. Beberapa yeoja saling berpelukan gemas. Para namja mengangguk-angguk senang, Tidak lupa tante-tante lebay yang mengepalkan kedua tangannya, beraegyo tanda mereka setuju dengan keputusan Luhan

Sehun serentak membuang tepung ditangan kirinya dan memeluk Luhan dengan cepat, luhan gelagapan karena pelukan sehun yang terlalu keras.

"se..sehun, aku tidak bisa bernafas" ucap luhan tersengal-sengal,

"maaf hyung, aku terlalu gembira" balas sehun melepaskan pelukannya.

Dan tidak lama, tanpa aba-aba terlebih dahulu, sehun mendaratkan ciuman mautnya ke bibir Luhan, luhan lagi-lagi terkaget atas serangan mendadak itu. Sehun mencium luhan penuh cinta, dia mencoba membenamkan bibirnya sedalam mungkin, mencoba menyatukan bibir merah mereka masing-masing. Sehun bertingkah berani dengan mencoba memasukkan lidahnya kedalam mulut luhan, dan entah mengapa Luhan menikmati itu, dia memberikan jalan kepada lidah sehun untuk menjelajahi setiap inci mulut dan bibirnya

Para tamu café kembali heboh, suit-suit dan sorakan membahana kembali menyapu bersih ruangan tersebut. Luhan dan sehun mendadak menjadi seleb satu malam.

"terima kasih hyung, hyung sudah menerimaku.." ucap sehun pelan, setelah dia melepaskan ciuman mautnya beberapa detik kemudian

"aku..aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku.. mungkin aku sudah kena peletmu Oh Sehun" balas Luhan salah tingkah, dia sudah tidak memperdulikan lagi tatapan dan sorakan tamu café. Yang dia tahu adalah saat ini hatinya menjadi tenang dan tentram. Mungkin inilah yang disebut cinta sejati, Love Actually…

.

.

o…o…o…o…o…o…o…o…o…o…o

Pagi-pagi sekali Jongin dan Kyungsoo terbangun. Mereka meneduhkan dirinya disebuah gubuk yang tidak terurus. Sejauh mata memandang hanya ada sawah. Jongin tidak tahu kemana arah dan tujuannya, dia hanya melajukan motornya sejauh mungkin dari rumahnya.

"kyungsoo ya, kamu sudah bangun..?" Tanya Jongin, dia menatap Kyungsoo yang masih memejamkan matanya. jongin memang sejak semalam tidak bisa tidur nyenyak. Dia belum terbiasa dengan suasana dan ketidaknyamanan gubuk tempatnya tidur, maklum saja sehari-hari jongin tidur di kasur empuk, tapi dengan tekadnya yang kuat, dia tidak akan menyerah, dia yakin sebentar lagi akan terbiasa

"Jongin ah.." gumam Kyungsoo lirih, dia memanggil nama Jongin sangat pelan, hampir tidak kedengaran, wajahnya pucat

Jongin memegang dahi Kyungsoo, dan ternyata dahinya sangat panas, jongin panik

"kyungsoo ya, kamu demam.." seru jongin khawatir, dia memandang sekelilingnya, siapa tahu saja ada apotik, tapi itu tidak mungkin

"tidak, aku hanya lelah saja.." ucap Kyungsoo pelan

"tidak kyungsoo ya, kamu demam.. sebentar aku akan mencari pertolongan.." ujar Jongin cepat, dia akan beranjak untuk turun dari gubuk, tapi tangannya dipegang oleh Kyungsoo,

"jangan pergi jongin ah, aku tidak ingin sendiri, aku.." lirih kyungsoo, dia tidak ingin ditinggalkan

"tapi kamu sakit dan harus mendapatkan pertolongan secepatnya…"

"sebentar lagi demam ini akan turun, aku tidak ingin terjadi sesuatu sepeninggalmu" kata Kyungsoo lagi, dia masih ingat kejadian waktu dia hampir dilecehkan oleh orang mabuk,

"oh iya, maaf kyungsoo ya, aku tidak akan meninggalkanmu.. tapi demammu…"

"peluk aku Jongin ah, aku hanya butuh itu saja.."

Segera setelah kyungsoo mengucapkan kalimat itu, jongin dengan cepat kembali membaringkan dirinya disamping kyungsoo. Dia memperbaiki posisinya dan memeluk lembut kyungsoo. Lengan kokohnya terasa pas di badan imut kyungsoo yang memang kecil untuk ukuran namja.

"maafkan aku kyungsoo ya, gara-gara aku memaksamu untuk ikut, kamu jadi menderita dan sakit begini" gumam jongin pelan, dia mengecup pundak dahi kyungsoo yang terjangkau olehnya

"bukan salahmu, aku senang bisa ikut denganmu, aku sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi yang peduli denganku selain kamu jongin ah" jawab Kyungsoo, dia dapat merasakan degup jantung jongin yang tepat dihadapannya. Kyungsoo tidak pernah bermimpi akan dipeluk seperti ini oleh Jongin, seseorang yang sangat dia cintai

Jongin mengeratkan pelukannya kepada Kyungsoo, berharap dia memberikan energi hangat yang bisa menurunkan demam tinggi kyungsoo

"sebenarnya kita mau kemana jongin ah?" kyungsoo bertanya dengan pelan dan ragu

"aku juga tidak tahu kyungsoo ya. Aku hanya mengikuti kemana jalan ini membawa kita saja"

Kyungsoo menghela nafas singkat, dia belum bertanya kenapa sampai jongin senekat ini, kabur bersamanya

"jongin ah, aku takut pemilik gubuk ini akan menemukan kita dan berpikiran yang tidak-tidak" ucap kyungsoo lagi, bukan tanpa alasan karena posisi mereka yang memang bisa menimbulkan komentar negatif

"aku rasa gubuk ini tidak terpakai lagi, kalaupun kita ditemukan oleh orang-orang dan mereka menghakimi kita, aku rela mati, asal bersamamu" kata Jongin, dia hanya bercanda. Dia tidak ingin benar-benar mati, dia belum merasakan manisnya cinta bersama kyungsoo, paling tidak dia memerlukan banyak waktu untuk menikmati masa-masa indah bersama namja imut dipelukannya

"jongin ah, kamu pernah menonton film yang berjudul 'Love of Siam' negeri gajah putih yang dibintangi oleh Mario maurer? Atau film Frozen Flower buatan korea yang dibintangi oleh Jo In sung?" Tanya Kyungsoo, dia bertanya hanya untuk mengalihkan rasa sakitnya saja

"tidak, ada apa dengan kedua film itu?" balas jongin, dia berbalik bertanya

"kedua film itu menceritakan cinta yang unik, cinta yang seperti saat ini kita jalani, dan akhir kisah kedua tokoh utamanya semuanya sad ending, mereka tidak bersatu dan malah salah satu film itu berakhir dengan kematian sang tokoh utama" kyungsoo menghentikan penuturannya, dia melihat ekspresi jongin yang serius memperhatikannya bercerita, wajah mereka kini saling berhadapan, wajah kyungsoo seketika semerah tomat matang

"aku suka dengan caramu berbicara kyungsoo ya, aku suka bentuk bibirmu yang seperti hati itu" ucap Jongin menggoda Kyungsoo, wajah kyungsoo semakin merah, kyungsoo ingin berbalik untuk menetralkan rona wajahnya, namun lengan Jongin tidak memberikannya kesempatan, jongin terus-menerus memeluknya

"apa inti dari film yang kamu ceritakan tadi kyungsoo ya..?" Tanya jongin kembali ketopik semula,

"sudah jelaskan, kisah cinta unik seperti ini akan selalu berakhir sedih. Pengakuan dan penerimaan tidak akan pernah ada" jawab kyungsoo setelah rona wajahnya berangsur normal

"itu hanya film kyungsoo ya, sudah disetting begitu"

"itu memang hanya film yang bisa dibuat-buat, namun dari situ kita bisa menarik sebuah pembelajaran. Entah mengapa aku takut jongin ah, aku tidak tahu kemana arah hubungan ini.." ungkap kyungsoo kalut, dia meminta maaf kepada ayah dan ibunya dalam hati, dia sudah memilih jalannya dan kedua orang tuanya itu pasti akan hancur setelah mengetahui anaknya sudah benar-benar jatuh dalam pelukan namja.

"aku takut kehilanganmu Jongin ah… sangat takut" gumam Kyungsoo mendadak sedih, matanya berkaca-kaca, dia membenamkan wajahnya di leher jongin, mencoba mencari kenyamanan

Jongin hanya menjawab dengan mengeratkan pelukannya, dia paham perasaan kyungsoo. Dia juga tidak ingin kehilangan namja kecilnya itu. Jongin sudah jujur dan menerima perasaannya selama ini

"jongin ah, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan, mungkin agak terlambat, tapi.."

"apa itu..?"

"kenapa tiba-tiba kamu berubah pikiran dan kemudian mengungkapkan bahwa kamu juga mencintaiku jongin ah?" kyungsoo sangat lancar menayakan hal itu, sudah sejak samalam dia ingin menanyakannya, tapi dia belum berani

"simpel saja, karena aku memang mencintaimu kyungsoo ya" jawan jongin diplomatis,

"sesingkat itu? Aku ingin jawaban yang khusus"

Jongin menarik nafas dan menghembuskannya cepat,

"intinya aku memang mencintaimu, awalnya aku mengingkari perasaan ini, dan aku menganggapmu hanya sebagai adikku, aku mensugestikan diri bahwa aku sayang kepadamu hanya sebagai seorang sahabat saja. Tapi ternyata aku salah, aku benar-benar mencintaimu, mencintaimu dengan sangat. Aku tahu perasaan ini salah, tapi aku tidak menyesalinya, aku senang karena hatiku ini akhirnya berlabuh kepadamu, namja yang baik" ungkap jongin panjang lebar, dia menceritakan isi hatinya yang beberapa hari ini selalu mengganggu tidurnya

Kyungsoo menampilkan ekspresi O_O andalannya, dia tidak menyangka bahwa seorang Kim Jongin akan berkata sejujur itu. Perasaannya menghangat, dia sangat gembira bahwa jongin memang mencintainya, bukan cinta yang terpaksa dan terdesak keadaan.

"tapi apakah kita harus mengambil jalan seperti ini? Maksudku kabur secara diam-diam. Ommamu hanya akan membawamu kejepang kan? Karena ommamu merasa pergaulanmu sudah salah arah sejak kejadian di hotel tempo hari, kamu seharusnya memberikan pengertian, aku yakin ommamu akan mengerti jika dijelaskan"

"masalahnya tidak sesimpel itu kyungsoo ya, ommaku tidak hanya mengawasiku sejak kejadian di hotel, omma sudah mengetahui sesuatu, dan sesuatu itu ada sangkut pautnya antara aku dan kamu Kyungsoo ya.." jelas jongin sendu

"denganku?" kyungsoo membelalak,

"iya, aku akan menjelaskannya nanti.."

"tapi Jongin ah, aku ingin tahu… aku…hmm" kalimat Kyungsoo terhenti,

Kalimat kyungsoo terhenti karena mendadak bibirnya dikunci oleh Jongin, ya… jongin mendaratkan ciuman mendadaknya kepada kyungsoo. Jongin mencuri start dan melepaskan keperjakaan bibir bentuk hati kyungsoo. Kyungsoo masih dengan ekpresi kagetnya tidak mampu berbuat apa-apa, tengkuknya dipegang oleh jongin dan akhirnya dia memejamkan matanya dan menikmati setiap sentuhan dan lumatan seksi bibir Jongin

Kedua insan itu saling terpagut intens, merasakan bagaimana bentuk dan tekstur bibir pasangannya. Jongin dan Kyungsoo larut dalam indahnya cinta, masing-masing sudah merasakan bagaimana hebatnya 'ciuman pertama' yang menggetarkan jiwa.

Ciuman hebat itu masih belum menemukan akhir, dan tiba-tiba ponsel Jongin berbunyi,

'Omma Calling…'

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued

o…o…o…o…o…o…o…o…o…o…o

Terima kasih untuk semua yang sudah memberikan Reviewnya disetiap Chapter, karena kalianlah FF ini update cepat...he…he… pembaca merupakan penyemangat sejati untuk melanjutkan. Maaf, untuk yang tidak punya akun FFn, aku tidak bisa balas Review kalian. Tapi Review kalian tetap terbaca walau perlu 2 hari untuk muncul dilist Review. Untuk Chapter 9 ini bagimana? Apakah masih layak diteruskan? Review… ya… salam

Thanks For Review :

me1214, aku adalah aku, Insooie baby, Maple fujoshi2309, Huang Zi Lien, Gyurievil, mrblackJ, bimbimbab, dyopororo, nisakaisa, Kyungra26, SognatoreL, damean, Daiirere, goeeesss, BangMinki, Guest, JonginDO, ZeeKai, and All Reader…