Chapter 2 : 自由と結ばれる (Freedom and bind)


Hotaru In :

NARUTO FANFICTION

Angel? No Devil!

Diclaimer : Naruto ©Masashi Kishimoto

Angel? No Devil!©Hotaru

Genre : Romance, H/C, Fantasy

Rate : T+

Pairing : Naruto x Hinata

Warning : OOC, MISSTYPO(S), GAJE

Bagi yang anti NaruHina disarankan segera tekan tombol back!

Tidak menerima flame yang tidak bertanggungjawab dan tidak rasional

Sangat terbuka untuk kritik dan saran

Don't Like Don't Read!

.

.

.

.

Deal!

はじめ

.

'Mata biru itu… Rambut pirang itu… Dan senyum itu…

Hangat… Terasa hangat…

Tetapi dia mengaku iblis…

Apakah ada iblis yang memancarkan kehangatan seperti itu?

Benarkah dia iblis?'

.


.

Naruto mengulum senyum geli melihat gadis didepannya diam mematung. Tatapan horror jelas diarahkan padanya. Wajah manis sedikit tirus itu terlihat shock, mata besarnya kembali terbelalak dan mulut menganga lebar. Sudah pasti, gadis ini sangat terkejut dengan pernyataannya.

Jika diperhatikan dengan seksama gadis itu memiliki wajah yang cantik― sangat cantik― untuk ukuran manusia. Tubuhnya mungil—meski kini terlihat kurus, belum lagi setelan onepiece biru kusam khas rumah sakit yang melekat memang terlihat tidak enak dipandang. Meskipun penampilannya bak pesakitan yang telah kehilangan harapan hidup bukan berarti semua itu dapat menutupi aura kecantikan yang terpancar. Mungkin tidak terlalu buruk juga dirinya tertawan dengan gadis cantik seperti ini. Gadis ini pasti sangat memesona kalau ia juga berasal dari kalangan iblis seperti dia.

Ah andai saja seperti itu, Naruto tak akan membuat keputusan gila seperti sekarang. Iya kan?

Tetapi sayang sekali keadaannya tidak begitu bagus…

Naruto merasakannya, penyebab segala hal yang membuat tubuh mungil dihadapannya terlihat begitu rapuh dan tidak bersinar. Seekor makhluk parasit berbentuk tak jelas melekat erat, tepat pada jantung. Manusia tidak akan bisa melihatnya, karena makhluk itu berasal dari dunianya, dunia Iblis.

Senyum Naruto lenyap begitu menyadari jenis parasit mana yang tengah menggerogoti tubuh gadisnya… ―tunggu! Gadisnya? Sejak kapan ia merasa gadis ini sebagai miliknya? Dan entah mengapa, ia menyukai pemikiran ini. Hanya tinggal memasang tanda hak milik dan gadis itu akan menjadi miliknya. Naruto terkekeh samar menyukai apa yang baru saja terlintas dipikirannya.

Sekarang, tinggal mencari cara bagaimana memasang tanda itu tanpa terlihat mencolok. Lagi pula ia harus menyingkirkan makhluk parasit itu secepat mungkin, terlalu berbahaya jika dibiarkan lebih lama mengingat ukuran tubuhnya yang jauh lebih besar dari bentuk seharusnya.

Yang benar saja, sudah berapa lama makhluk parasit ini tumbuh dan menyerap energi kehidupan gadis mungil ini?

Perubahan mendadak yang mencolok pada ekspresi gadis itu menarik kembali perhatian Naruto. Alisnya berkerut, hampir menyatu ditengah. Pandangannya berubah menjadi meneliti dengan bibir mungil yang mengerucut. Dari ekspresinya seperti sedang memikirkan sesuatu. Terlihat serius dan…

'Kawaii…' batin Naruto, ingin rasanya—

"Kau pasti malaikat." Tukas gadis di depannya setengah sadar, lebih ditunjukan pada diri sendiri membuat Naruto sedikit tersentak dari imajinasi yang baru akan mulai berkembang. Berusaha focus Naruto mengerjap cepat beberapa kali.

Kelereng bulan miliknya bergulir perlahan menelusuri tubuh topless Naruto. Mulai dari atas… ke bawah… dan kembali lagi ke atas. Tatapannya sedikit berhenti pada punggung atau mungkin sayap mengerikan yang bertengger di punggungnya, bukan hal aneh kalau beberapa iblis memiliki sepasang sayap. Terutama iblis kelas atas seperti dirinya, memiliki sayap menurutnya hal yang normal. Ya, normal kalau dilihat di dunia iblis bukan dunia manusia.

Bentuk sayap seperti ini memang terlihat menakutkan untuk ukuran mata manusia. Ah―bukan. Bukan hanya bentuk sayap saja yang menakutkan. Sosok manusia yang terlihat memiliki sayap saja pasti sudah terlihat mengerikan bukan? Apalagi bentuk sayapnya masuk kategori horror. Maklum saja, Naruto itu iblis, mana ada iblis yang memiliki sayap seindah malaikat.

Suara lirih yang diucapkan gadis itu membuat perhatian Naruto kembali fokus. "A.. ano…" dia menatap Naruto ragu.

Naruto merasakan satu alisnya terangkat, menunggu kelanjutan kalimat yang akan dikeluarkan oleh gadis di depannya. Sungguh gadis ini terlihat sangat penasaran. Air mukanya terlihat sedang menimbang sesuatu antara bertanya atau tidak. Dan gesture gelisah seperti sedang mengalami dilema untuk memuaskan atau mengubur rasa penasarannya memperkuat dugaan Naruto.

Naruto menunggu dengan sabar, memperhatikan amethyst indah didepannya yang berkilat penuh antusiasme namun takut—ah bukan takut—tetapi ragu untuk mengutarakan apa yang ada dipikiran. Jari tangannya yang bergetar saling mengait di depan dada, Naruto juga memergoki gadisnya berberapa kali menggigit bibir menahan rasa gugup. Mungkin gadis ini berpikir sesuatu yang buruk akan terjadi jika ia menyuarakan rasa penasarannya.

Naruto mendengus menyamarkan tawa kecilnya.

"E… to… uhm… A-aku tahu ini bukan urusanku… ta-tapi…" akhirnya gadis ini berbicara walau tak lama ia terdiam kembali.

Perilaku yang membuat Naruto menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan perlahan lewat mulut. Menekan rasa gemas yang muncul ke titik terendah melihat sikap ragu—Naruto menganggapnya lucu—dan gugup manusia di depannya. Berusaha keras memperingatkan dirinya sendiri agar tidak segera lari mendekap erat tubuh tersebut lalu mencium ganas bibir mungil basah yang terlihat menantang untuk dipangut.

Itu akan membuatnya terluka—terjangan iblis tidak bisa diremehkan. Dan Naruto tidak ingin membuat gadisnya lari menjerit ketakutan.

"Walau kita iblis pertemuan pertama itu harus berkesan baik." Naruto akan berterima kasih pada ocehan iblis tua cerewet yang selalu menceramahinya setiap akan pergi menjalankan misi kalau mereka kembali bertemu nanti.

Well, itu juga kalau ia ingat.

"Ka-kau sudah melakukan apa hingga sayapmu terluka?" sebuah pertanyaan terucap juga dari mulut gadisnya yang terlihat takut-takut, sangat berbanding terbalik dengan kilatan rasa penasaran terpampang semakin jelas.

Naruto kembali mengerjapkan mata cepat

'Eh?Cuma itu?' kening Naruto berkerut. Kenapa gadis ini menanyakan hal yang jelas-jelas bertentangan dengan keadaannya yang sangat prima? Naruto tidak merasa sedang terluka.

'Tunggu… Ter...lu…ka?' Naruto berpikir sejenak.

Satu detik…

Dua detik…

Tiga detik…

Tawa Naruto meledak, suaranya terdengar keras menggelegar hingga penjuru ruangan setelah kepalanya berhasil memproses pertanyaan yang diajukan. Gadis di depannya terkejut dan langsung melempar pandangan pada satu-satunya pintu keluar―takut-takut beberapa orang tiba-tiba datang mendobrak ruangannya karena suara kerasnya.

Naruto berusaha keras membuat tawanya berhenti, otomatis tangan yang menggenggam gadis dihadapannya lepas untuk menekan perut yang mendadak terasa keram. Usahanya langsung gagal ketika Naruto memergoki gadis didepannya memandang dirinya dan pintu masuk berulang kali. Ekspresi cemas pada wajah itu terlihat sangat menggemaskan dimata Naruto.

Tidak tahukah gadisnya kalau hanya dirinya yang dapat melihat dan mendengar suara Naruto dengan wujudnya sekarang?

Oh sungguh… betapa lucunya gadis ini.

Naruto menutup mulut dengan kedua tangan supaya tawanya sedikit teredam mengingat gadis di hadapannya mengira dirinya sedang terluka. Apa ia juga mengira bentuk asli sayapnya seperti sayap milik malaikat? Sayap yang penuh ditumbuhi bulu-bulu berwarna putih lalu berpikir sesuatu hal buruk —entah apa dirinya juga tidak tahu, hingga membuat sayapnya luka sedemikian parah sampai tulangnya terlihat?

Naruto kembali tergelak, menertawakan betapa konyol bayangan yang terlintas di kepalanya. Memikirkan bentuk 'manis' sayapnya membuat ia kembali terkikik. Yang benar saja! Naruto adalah iblis! Bukan malaikat.

.

Berdeham pelan untuk menetralkan suaranya—setelah sangat puas tertawa. Naruto menegakkan tubuh tegapnya perlahan—berusaha tidak membuat takut— dan kembali menatap sang gadis.

"Sudah kukatakan, aku bukan malaikat." Berucap tegas Naruto menarik satu sudut bibirnya.

Naruto mengembangkan sayap sebelah kirinya ke atas, memperlihatkan kembali struktur menyeramkan tulang dari sayapnya kemudian melangkah mendekati gadis yang ikut melangkah mundur menjauhinya.

Tangan kanan mungil gadis itu mengepal, tegang ketika Naruto meraih pergelangan lengannya cepat. Ia membawa tangan itu mendekat dan mengarahkan pada sayap yang sengaja dibentangkan diantara mereka agar gadisnya dapat menyentuh dan merasakan sendiri struktur keras tulang yang terbingkai disana.

Naruto menyeringai puas melihat bagaimana kepalan gadis itu terbuka dengan gerakan ragu sampai benar-benar menyentuh sayapnya. Tak perlu menunggu lama, jemari kurus itu telah bergerak menelusuri tiap inci struktur tulang sayap Naruto.

Pemuda pirang itu kembali tersenyum geli melihat betapa antusiasnya gadis itu, terlihat pandangannya begitu focus melahap detail sayap yang ia suguhkan. Naruto berani bertaruh gadis itu pasti tidak menyadari kini sedang berjalan mengitari dirinya sambil terus mengamati sayap dipunggungnya. Naruto tertawa mendapati dua bola mata amethyst sang gadis tampak berbinar, ekspresi kekaguman terpancar jelas, terlebih lagi saat buku jari mungilnya merasakan struktur elastis sekaligus lembut selaput yang ada di sana dengan menekan beberapa kali dengan jari telunjuk.

Tidak adanya sorot takut maupun jijik dimata itu sedikit banyak membuat Naruto merasa... senang. Tidak ada manusia yang tidak takut pada sosok mengerikan seperti iblis. Tetapi sepertinya gadis ini sedikit berbeda. Naruto jadi penasaran, kira-kira bagaimana reaksi gadisnya kalau melihat wujud asli iblisnya?

.

Itu bisa ia pikirkan nanti.

"Aku adalah iblis." Naruto berkata penuh penekanan, "Dan aku tidak terluka."

.

.

.

.

"Masaka?"

Tuing.

Kepala Naruto jatuh merunduk mendengar respon polos yang spontan diucapkan gadis mungil yang masih menyibukan diri dengan sayapnya. Kepalanya yang dimiringkan karena rasa heran dan raut wajah innocent benar-benar membuat kepalanya seperti dihantam batu besar. Ingin rasanya Naruto membenturkan kepala berkali-kali ke tembok.

Menoleh dengan mata menyipit, Naruto membalas tatapan gadis itu. Ternyata ide membiarkannya menyentuh sayap untuk membuatnya percaya bahwa dirinya merupakan seorang iblis tidak bagus.

"Hai." Jawab Naruto singkat, tidak tahu harus berkata apa lagi melihat gadis itu mulai mengabaikannya dan kembali sibuk dengan lahan jajahan pada sayapnya. Astaga, entah terlalu kelewat polos atau bodoh gadisnya ini Naruto hanya bisa meng-iyakan saja.

"Hontou ka?" tanyanya lagi.

"Hontou da."

"Honki de?"

Ctak.

"Mochiron!" kesal, perempatan siku besar muncul di kepala Naruto.

Namun tak berapa lama sebuah ide jahil muncul. Seulas seringai kembali terukir di wajah iblis berkulit tan itu.

Naruto berbalik cepat menghadap gadis yang terkejut dengan gerakannya yang tiba-tiba.

"Nee…" Jeda sesaat, mata Naruto melirik sebuah nama yang tertulis pada gelang pasien yang dipakai di lengan kiri gadis itu.

'Kireina namae…' batin Naruto.

"…Hinata-hime." Panggil Naruto dengan suara sexy dan menggoda.

Gadis yang bernama Hinata tersentak mendengar namanya dipanggil.

"Ba-bagaimana kau tahu namaku?" tanya Hinata sedikit takut bercampur gugup mendapati tatapan yang—entah mengapa membuat instingya sebagai wanita memperingatkan akan adanya bahaya. Refleks Hinata melangkah mundur beberapa langkah hingga sisi jendela.

"Gelang."

Ucapan itu membuat Hinata mengalihkan perhatian pada lengan kiri mengikuti arah telunjuk Naruto. Bagaimana bisa Hinata melupakan benda itu.

"Pada dasarnya malaikat dan iblis memang serupa. Sosok kami menarik, menawan dan rupawan." Kata Naruto narsis. "Tidak aneh jika kau salah mengira."

Nafas Hinata kembali tercekat begitu menyadari keberadaan Naruto yang lagi-lagi tanpa disadarinya sudah berada tepat di hadapannya. "Perbedaan kami hanya ada dua." Naruto mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke arah Hinata.

"Yang pertama adalah bentuk sayap kami." Naruto membentang kedua sayapnya ke atas perlahan, kakinya mundur dua langkah bersamaan dengan sayapnya yang bergerak kedepan menutupi seluruh tubuhnya.

Hinata dapat melihat Naruto bersedekap tanpa melepas kontak mata mereka meski terhalang selaput sayap transparan.

"Seperti yang ada pada pikiranmu Hime, malaikat memiliki tekstur bulu pada sayap mereka, berlaku untuk malaikat kematian sekalipun. Sedangkan sayap kami, memiliki tekstur keras seperti tulang dan selaput tipis seperti sayap kekelawar." Jelas Naruto sambil menyentuh selaput yang membingkai sepanjang tekstur tulang sayapnya. "Yah, meski ada beberapa diantara kami yang memiliki tekstur bulu pada sayapnya tapi tetap saja rangka tulang pada sayap kami menjadi ciri khas utama." Naruto perlahan menyingkirkan dan menutup rapih sayap miliknya di balik punggung.

.

.

DEG

Hinata membeku, berbanding terbalik dengan jantungnya yang berdetak kencang menyadari tangan kiri Naruto sudah melingkari punggung dan mendekap erat hingga kedua tubuh mereka menempel tanpa jarak.

"Yang kedua adalah hal yang tidak dimiliki oleh malaikat yaitu…" sengaja menggantung kalimat, Naruto mendekatkan wajah kemudian berbisik di telinga kanan Hinata, "…Hasrat."

Sensasi hawa dingin berbeda yang berasal dari hembusan nafas Naruto membuat darah Hinata berdesir seketika. Bukan karena dingin, melainkan karena suara Naruto yang terdengar begitu dekat. Bisa dipastikan darah Hinata mengalir deras dalam pembuluh darah sehingga dengan cepat membakar pipi porselennya terlebih dahulu sebelum merambat ke seluruh wajah dan merubah kulit putihnya menjadi merah.

"Hasrat untuk memiliki…" bisik Naruto sekali lagi, kali ini dengan suara serak yang terdengar sexy dan menggoda.

Hinata tercekat, jantungnya yang sudah berdetak cepat menjadi semakin cepat merasakan sesuatu yang lembut dan basah menekan belakang telinga dan lehernya perlahan berkali-kali. Tanpa melihat pun, Hinata tau apa itu.

Bibir Naruto…

『印。』Sebuah mantra terucap tanpa disadari Hinata.

Symbol kecil merah berbentuk kumparan muncul di permukaan kulit Hinata tepat di belakang telinga. Senyum puas Naruto tersungging melihat symbol kepemilikannya sudah bertengger manis di sana. Dikecupnya lembut beberapa kali sambil menghirup dalam-dalam aroma menenangkan yang menguar dari kulit porselen Hinata. Sesekali leher Hinata dengan jahil ikut dijilat dengan gerakan menggoda.

.

Sedikit banyak, keadaan ini membuat Hinata khawatir penyakit jantungnya akan kambuh. Ia takut jantungnya mendadak berhenti berdetak.

Namun disisi lain, Hinata merasa asing dengan perasaan yang dirasakannya. Rasa dimana dirinya terbiasa berusaha keras mengosongkan pikiran untuk mengabaikan semua hal, kini berbalik. Tanpa perlu bersusah payah melakukan itu pikirannya mendadak kosong. Bukan jenis kekosongan hampa yang selama ini ia rasakan, melainkan lebih pada kekosongan yang membawa pikirannya terbang melayang entah kemana. Begitu ringan… begitu memabukan… Hinata tidak mengerti perasaan apa ini.

Belum lagi desakan kuat berasal dari tenggorokannya untuk meloloskan suara-suara aneh yang terdengar asing bahkan untuk telinga Hinata sendiri.

"Uukh.." Hinata mendesah tertahan.

Sesuatu yang nakal Hinata rasakan perlahan merambat naik ke atas tubuhnya tepat menuju dada bagian kiri. Tubuhnya seperti berubah menjadi jelly, terutama bagian kakinya yang lemas luar biasa dan perut bergetar seolah ribuan kupu-kupu berterbangan begitu merasakan sapuan yang disusul remasan lembut di sana.

Ini tidak baik.

Sebagian logikanya yang masih sadar berpikir untuk marah. Seseorang atau makhluk—Hinata tidak peduli apapun itu—yang baru ia temui—bahkan menyebut dirinya iblis—sudah berbuat kurang ajar. Menyentuh tubuhnya sebegitu intim. Sangat berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan hati dan tubuhnya. Gelombang euphoria membuat perasaannya semakin ringan dan kenikmatan yang mendera membuat tubuhnya menginginkan lebih.

Entah kenapa Hinata tidak keberatan sama sekali dengan keadaan ini. Selama dirinya merasa nyaman dan bebas dari segala hal yang selama ini membebaninya. ―Gila, Hinata merasa dirinya sudah gila.

"…Dan hasrat untuk melindungi."

Tepat Naruto menyelesaikan perkataannya amethyst Hinata yang semula terlihat sayu terbelalak.

"Kekkai." Guman Naruto saat melapisi seluruh ruangan dengan pelindung agar tidak ada seorangpun yang masuk mengganggu atau mendengar sesuatu yang pasti menarik perhatian.

"Aahh… AAAKKHH!"

Desahan merdu Hinata berubah menjadi jeritan tertahan saat Naruto menusuk tangan kanan yang berada pada dada kiri Hinata menembus masuk ke dalam tubuh Gadis itu.

Suara jeritan Hinata perlahan hilang. Tertahan begitu merasakan sesuatu masuk semakin dalam di rongga dada kirinya. Amethystnya mengerjap cepat. Tidak sakit, hanya perasaan aneh seperti ditekan sesuatu yang melesak masuk bergerak menuju jantungnya berada.

Apa yang akan dilakukan Naruto pada tubuh Hinata?

Dengan tangan kirinya yang bergetar Hinata mencoba mengusir rasa tidak nyaman dengan menggenggam erat tangan kanan Naruto. Berusaha menariknya keluar dari tubuh Hinata.

DEG

Jantung Hinata terasa berhenti denyut dan berdetak keras, nafasnya terhenti di tenggorokan begitu sensasi samar sebuah telapak tangan terhenti beberapa senti dari lokasi jantungnya yang mulai kembali berdenyut pelan dengan detakkan yang keras.

Sang pelaku Naruto, merasakan tangannya tengah mencengkram sesuatu yang tak lain adalah makhluk parasit yang menjadi sumber seluruh penyakit yang bersarang pada Hinata. Sesuatu yang terasa lembek, menjijikan dan berdenyut-denyut.

Dipandangnya wajah Hinata yang terlihat berkerut penuh peluh. Seluruh tubuh gadis dipelukannya bergetar dengan rintihan tak terucap keluar dari bibir mungilnya, tanda bahwa gadisnya tak nyaman dengan apa yang sedang ia lakukan. Sorot mata Hinata terlihat tak focus tetapi Naruto yakin Hinata masih terus memandanginya.

"Memang tak nyaman, tapi bertahanlah sebentar lagi Hime." Kata Naruto lembut berusaha menenangkan Hinata. "Aku akan mengeluarkan 'makhluk parasit' ini dari tubuhmu." Naruto berkata lagi saat mendapati tatapan bertanya yang Hinata layangkan.

DEG DEG

Tubuh mungil Hinata bergetar lebih hebat. Jantungnya yang semula memacu pelan tiba-tiba mulai berdenyut cepat. Hinata ingin bertanya apa yang sedang Naruto lakukan tetapi ia tidak bisa mengeluarkan suara seolah sesuatu menghalangi suaranya keluar.

"Ugh! KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHH!" Lengkingan jeritan Hinata akhirnya lolos juga ketika merasakan sakit luar biasa di area jantung. Rasanya seperti seseorang menarik paksa organ dalamnya hidup-hidup.

Ditengah dera rasa sakit yang membuat nafasnya tersenggal Hinata merasakan sesuatu yang ganjil. Sesuatu yang asing, berdenyut-denyut. Hinata yakin sesuatu itu bukan bagian dari organ dalamnya, karena benda itu melekat erat di jantungnya dan Hinata menyadari benda itulah yang sedang ditarik paksa oleh tangan Naruto.

'A-apa itu?' batin Hinata.

Hinata bisa merasakan semakin jelas, tubuhnya bergidik ngeri merasakan benda itu melingkar semakin erat dijantungnya, berusaha melawan tarikan tangan kasat mata yang mencoba mengambilnya, denyut benda itu semakin terasa dan menegaskan kalau 'itu' bukan berasal dari bagian tubuh Hinata. Kening Hinata mengernyit merasakan sebuah gerakan seperti dirambati oleh akar-akar kecil yang bergerak mengitari Jantungnya. Apa itu 'makhluk parasit' yang dikatakan Naruto?

Hinata terbelalak disusul jeritan yang kembali lolos saat akar-akar dari makhluk parasit itu menancap erat dijantungnya.

Sakit

DEG DEG! DEG DEG!

Rasanya sakit sekali

DEG! DEG!

Hinata merasakan tubuhnya menjadi berat beberapa kali karena kakinya sudah lemas tak bertenaga akibat rasa sakit. Kalau saja tidak ada lengan Naruto yang tetap setia mendekap erat pinggangnya bisa dipastikan Hinata sudah ambruk dan tersungkur membentur lantai.

"Heh! Mau main-main denganku rupanya!" Naruto menggeram melihat perlawanan makhluk yang berusaha dikeluarkannya mengambil tindakan yang menyakiti Hinata.

Di tengah kesadaran yang menipis Hinata melihat seulas seringai sinis nan mengerikan di wajah rupawan Naruto. Wajah rupawan itu terlihat mengabur beberapa kali dalam pandangannya.

Tak lama kemudian, makhluk parasit yang menempel dan berdenyut-denyut di jantung Hinata melemah dan dengan sekali sentakan benda itu tercabut cepat. Membebaskan Hinata dari rasa tidak menyenangkan dan menyakitkan.

Rasa plong yang dirasakan Hinata tidak serta merta membuat kondisi tubuhnya membaik, nafas yang masih memburu, jantung berdebar cepat, peluh yang masih mengucur membasahi rambut indigonya hingga lepek. Keadaannya tak jauh berbeda dengan orang yang habis berolahraga seharian. Lelah tetapi terlihat segar.

Bibirnya yang semula berwarna peach pucat berubah menjadi peach cerah perlahan, kulit putihnya yang terlihat redup kembali bersinar, rambutnya yang agak kusam pun kini bersinar kembali.

Perubahan signifikan yang terlihat sangat jelas di mata Naruto yang tajam. Sangat puas pada perubahan kondisi Hinata. Matanya memang tidak pernah salah, Hinata memang cantik, sangat cantik, tinggal menunggu beberapa hari saja untuk membuat berat badan gadisnya kembali seperti semula.

"Nah… sekarang tinggal menyingkirkan parasit ini." gumam Naruto menatap malas makhluk berdenyut di tangannya. "Cilliata ya…"

Cilliata−makhluk parasit pemilik rambut getar seperti akar yang berfungsi untuk bergerak dan menghisap makanan. Terbesit rasa heran dibenak Naruto saat menatap tajam makhluk parasit di tangannya. Bagaimana bisa makhluk ini bersarang pada tubuh manusia?

Kemudian Cilliata di tangan Naruto mengembung cepat seperti balon sebelum pada akhirnya pecah tercabik oleh sesuatu tak kasat mata bersamaan dengan datangnya angin entah darimana yang berhembus ke seluruh ruangan.

.

"A…pa i…tu?" Hinata berkata lirih, pandangannya yang sayu mengarah pada tangan kanan Naruto.

Ya,.. Hinata sempat melihat makhluk abu-abu yang berdenyut ditangan Naruto. Hinata enggan menyerah pada rasa kantuk yang menderanya sebelum mengetahui apa itu.

"Kau masih sadar Hime?" bukannya menjawab Naruto balik bertanya, diselipkan tangan kanannya bawah lipatan kaki Hinata, dengan gerakan ringan mengangkat tubuh lemas Hinata dan membawanya ke arah ranjang yang berada di tengah ruangan.

"A…pa i…tu…? Tanya Hinata berulang kali tak menghiraukan Naruto yang tengah meletakannya dengan lembut diranjang dan menyelimuti tubuhnya.

"Makhluk parasit." Akhirnya Naruto menjawab setelah ia merasakan tangan kecil menggenggam lengannya seakan menuntut sebuah jawaban.

"Makh…luk pa…ra…sit?" tanya Hinata lagi membuat Naruto mengernyitkan kening.

Jelas Hinata terlihat lelah karena tenaganya terkuras habis disamping rasa kantuk hebat yang menggelayuti kelopak mata. Mekanisme wajar yang otomatis dilakukan tubuh sebagai bentuk pertahanan diri untuk segera melakukan pemulihan dengan cara mengistirahatkan semua kinerja syaraf−baca:tidur, hanya saja Naruto tak menyangka Hinata akan sebegitu keras kepalanya melawan rasa kantuk hanya untuk memuaskan rasa penasaran yang sangat jelas terlihat pada sorot matanya.

Menarik kursi yang berada tak jauh darinya Naruto mendudukan diri tepat di sisi ranjang. Dengan santai ia menopang dagu di tangan kanannya yang diletakan di ranjang. Sapphire miliknya bergulir perlahan melihat lengan kirinya yang digenggam Hinata sebelum beralih pada Hinata yang menatap intens menuntut penjelasan.

"Bagaimana kalau aku jelaskan setelah kau bangun tidur nanti Hime?" tawar Naruto yang langsung disambut dengan kerutan di kening Hinata, tanda tak setuju. Setelah beberapa saat diam mengamati sikap Hinata yang masih kekeuh menuntut penjelasan dengan tatapannya Naruto kembali berkata, "Oh ayolah Hime. Kau butuh istirahat." Bujuknya sambil menyapu lembut helaian indigo yang terasa halus dengan tangan kirinya yang masih setia ditenggeri jemari mungil gadis itu. "Aku berjanji akan menjelaskan semuanya. Jadi kau tidur dulu saja yah, yah."

Melihat senyuman lima jari yang disunggingkan Naruto dan wajah menyakinkan yang diberikan Naruto serta belaian lembut pada kepalanya yang terasa nyaman membuat Hinata merasa semakin berat melawan kelopak matanya agar tidak tertutup. Akhirnya ia pun menyerah pada rasa lelah, membiarkan kantuk menutup kelopak matanya perlahan dan alam bawah sadarnya mengambil alih kendali untuk segera terbuai dalam mimpi. Sesaat sebelum Hinata benar-benar terlelap ia mendengar sayup-sayup sebuah suara...

"Oyasumi Hinata-hime."

.

.

.


.

Nun jauh di sebuah tempat yang kelam dan gelap terdapat dua sosok yang sedang mengawasi sesuatu dari dua tempat yang berbeda.

Satu sosok hanya duduk terdiam di singgasananya yang besar sambil memandangi sebuah peristiwa yang ada di dunia manusia dari sebuah cermin lebar yang terbuat dari es, sosok itu menarik satu sudut bibirnya hingga membentuk seringai menyeramkan bagi siapa saja yang melihat.

Satu sosok lainnya yang mencengkram erat sebuah bola kristal bening, di dalam bola kristal itu terdapat pantulan sesosok manusia yang selalu diawasinya tetapi langsung lenyap bergantikan kabut tebal berwarna kelabu…

"Menarik…" guman kedua sosok itu bersamaan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

つづく

.

.

.

Arti

"Masaka?" : masa

"Hai." : iya

"Hontou ka?" : Benarkah?

"Hontou da." : benar

"Honki de?" : Sungguh?

"Mochiron!" : tentu saja!

'Kireina namae…' : Nama yang indah

『印。』 : Shirushi (Tanda)

.


Akhir kata Ho ucapkan

本当にありがとうございます。

Hotaru Out.