Chapter 3 : 鬱積した感情(Emosi Terpendam)
Hotaru In :
NARUTO FANFICTION
Angel? No Devil!
Diclaimer : Naruto©Masashi Kishimoto
Angel? No Devil!©Hotaru
Genre : Romance, H/C, Fantasy
Rate : T+
Pairing : Naruto x Hinata
Warning : OOC, MissTypoo(s), Gaje
Bagi yang Anti NaruHina disarankan segera tekan tombol back!
Tidak menerima flame yang tidak bertanggungjawab dan tidak rasional
Sangat terbuka untuk kritik dan saran
Don't Like Don't Read!
.
.
.
.
Deal!
はじめ
.
.
Lorong dengan dinding koral bersusun rapih sepanjang mata memandang selalu terlihat membosankan bagi Sasuke yang sedang melangkah santai menelusuri jalan yang ada. Dia mengabaikan sapaan para Goblin penjaga setiap melewati beberapa persimpangan. Dia juga mengabaikan beberapa lirikan atau rayuan menggoda dari iblis wanita kelas rendah sampai kelas atas setiap kali melewati mereka.
Tidak heran jika mereka begitu mengagumi sosok rupawan berbalut rompi kulit hitam tanpa kancing yang mengekspos dada bidang putih mulus bak porselen. Aura sex appeal yang menguar pun tak kalah kuat bagai magnet yang menarik mata beserta hasrat mereka hanya sekedar memandang maupun menyentuh tubuh sexy bergesture tenang tersebut. Sorot lapar yang terlihat pun sudah menjadi pemandangan lazim ketika sosok Uchiha Sasuke tertangkap mata melintasi keramaian.
Hanya saja pembawaan dingin dan aura berbahaya yang dikeluarkan Sasuke membuat ciut nyali para iblis wanita yang ingin mendekat maupun menggoda. Bagi mereka sosok Sasuke begitu jauh dan sulit untuk didekati, terlebih lagi jika ingin menyentuh, mereka masih cukup sayang menukarkan nyawa untuk sebuah sentuhan kecil di kulit Sasuke.
Sasuke masih terus memasang wajah stoic. Tidak ada siapapun yang mengetahui ataupun menebak isi kepala iblis tampan bermata Onyx dan rambut raven ini. Siapa yang akan menyangka Sasuke berulang kali mengumpat Mendokusai—kalimat pertama yang pasti dilontarkan Shikamaru kalau saja iblis itu berada diposisi Sasuke— dalam hati, atau tengah memikirkan betapa beruntungnya Kiba yang bisa menggunakan henge pada Akamaru untuk menggantikan dirinya menemui iblis cerewet nan galak dibalik pintu besi yang mulai terlihat di ujung lorong—tidak—Sasuke tidak bisa melakukan itu, ia tidak memiliki hewan peliharaan.
Semakin dekat pintu, semakin banyak bayangan muncul di kepala Sasuke. Mulai dari beberapa pukulan, tendangan—atau keduanya— menghantam tubuhnya nanti. Bisa jadi beberapa mantra kutukan, bonus dari apa yang akan ia laporkan.
Well, setidaknya Sasuke berharap itu terjadi. Itu lebih baik daripada menghadapi omelan dari iblis galak yang tidak akan pernah berhenti sampai dia merasa puas.
Bagi Sasuke, semua kekerasan fisik iblis tempramen yang akan ditemuinya bukan apa-apa jika dibandingkan dengan setiap kata cacian yang sering dimuntahkannya. Sasuke yang memiliki harga diri yang disertai ego selangit lebih memilih babak belur dibandingkan membuat hatinya panas terbakar kata-kata yang menginjak dan melukai kebanggaan dirinya.
.
Tok Tok…
Perintah masuk tak lama terdengar sesudah Sasuke mengetuk pintu di hadapannya—setengah hati—perlahan.
Kesan berantakan di dalam ruangan langsung terpatri di mata begitu pintu dibuka.
"Para Cyclops yang lolos ke dunia manusia sudah dieleminasi. Jumlah korban manusia belum bisa dipastikan. Tidak ada portal dunia iblis yang terbuka. Butuh investigasi lebih lanjut untuk menyelidiki bagaimana dan darimana para Cyclops bisa datang ke dunia manusia." Ucapnya tanpa basa-basi melaporkan misi yang sudah ia dan Naruto selesaikan. Langkahnya berhenti tepat di depan meja bertumpukan berbagai macam kertas dan gulungan perkamen lusuh. Bahkan menyapa untuk sekadar memastikan ada kehidupan disana pun tidak.
Ia terlalu malas berbasa-basi.
.
Hening.
Sepintas keadaan ruangan tampak seperti tidak ada kehidupan, tetapi Sasuke tahu iblis itu ada di balik tumpukan kertas—yang entah apa isinya Sasuke tidak tahu ataupun mau tahu. Ia tidak peduli dengan hal tidak penting yang bukan urusannya.
—Dan benar saja, tak lama berselang seonggok kepala seorang wanita muda cantik berambut pirang dengan kunciran dua dibelakang punggung serta sebuah tanda berbentuk diamond berwarna biru pada keningnya menyembul dari balik tumpukan dokumen.
Wanita itu menatap sekilas sosok Sasuke kemudian berkata, "Gokurousamadeshita." Lalu kepala tersebut kembali tenggelam, tersembunyi di balik tumpukan kertas dan gulungan perkamen.
Sepertinya dia sibuk, kesempatan bagus untuk kabur dari sini setelah melapor nee Sasuke!
Tetapi…
Baru akan pamit, suara sosok itu kembali terdengar, membuat Sasuke mau tak mau mengurungkan niat sucinya untuk kabur, "Tokorode, Naruto wa doko ni iru?"
Tch! Pertanyaan yang enggan Sasuke jawab akhirnya keluar juga.
Meruntuk dalam hati Sasuke bersumpah akan menghajar kepala pirang rekannya yang selalu merepotkan jika mereka kembali bertemu lagi nanti−entah kapan. Si bodoh itu memang paling gemar menempatkannya dalam posisi sulit. Bahkan disaat ketiadaannya sekalipun, Naruto tetap merepotkan.
Kening Sasuke berkerut dalam tanpa sadar. Berpikir , mempertimbangkan untuk berkata atau tidak yang sebenarnya, atau menjabarkan alasan yang sudah ia katakan pada Naruto sesaat sebelum berpisah.
Hei, benarkah kau akan mengatakan alasan konyol itu, Sasuke?
Sasuke mendengus diam-diam. Sepertinya ia akan membawa pulang beberapa luka serius.
.
Lama tak mendapat jawaban kepala kuning berkuncir kembali muncul, kali ini dengan tatapan tajam dan aura membunuh yang semakin membesar.
.
DUAK! BRAAK!
Tubuh Sasuke mental dengan punggung sukses terlebih dahulu menghantam dinding setelah sebuah tinju keras melemparkan meja penuh tumpukan tinggi kertas padanya. Tidak masalah sebenarnya kalau saja meja tersebut terbuat dari kayu, bisa dipastikan meja tersebut akan hancur begitu mengenai Sasuke. Yang jadi masalah adalah meja tersebut terbuat dari batu. Batu coral tepatnya―batu yang terkenal cukup keras meski bukan yang terkeras—bahan yang sama dengan bahan yang mengelilingi sebagian besar bangunan ini dalam bentung dinding.
Sasuke meringis dalam hati.
.
Sasuke mendarat dalam posisi tidak elit. Terlentang dengan tubuh tertimpa meja yang terbelah dua. Cekungan dalam pada dinding belakang Sasuke menunjukan betapa kerasnya benturan yang ia alami.
Sakit? Tentu. Keinginan Sasuke bertukar tempat dengan seseorang begitu besar, terlebih melihat bagaimana posisi sang pelaku yang duduk dengan angkuh di atas kursi membuat ia merasa sedang diremehkan.
Sasuke menahan diri untuk tidak membalas. Iris kelamnya yang berkilat menunjukan penurunan mood dalam dirinya.
Kekuatan mengerikan, membuat sesosok iblis kuat seperti Sasuke jatuh terjengkang hanya dengan satu kali tinjuan. Itu pun tidak langsung.
Bayangan bagaimana sakitnya jika serangan tersebut langsung mengenai tubuhnya membuat Sasuke bergidik. Meski sebuah tinjuan tetap tidak cukup untuk membuat sesosok iblis mati, tetap saja Sasuke tidak bisa membayangkan seberapa parah luka yang akan ia derita.
Sasuke menyadari tindakan barusan menunjukan betapa buruk suasana hati wanita itu begitu mengetahui fakta bahwa Naruto tidak ikut pulang. Meski bisa menghindari 'sapaan ramah' yang diterimanya―Sasuke sempat melihat gerakannya― namun ia memilih tetap bungkam. Bisa panjang urusan kalau melawan.
Bukan takut, tapi lebih karena merepotkan, Sasuke benar-benar tidak ingin membuang waktu banyak. Waktu luangnya lebih berharga daripada mengurusi masalah tidak penting.
"SHIZUNE!" Teriakan iblis pirang itu menggelegar, menghantarkan gelombang suara yang sedikit banyak membuat dinding ruangan retak di beberapa tempat.
Tidak lama sesosok dark Elf mini—mirip peri bersayap hitam yang mungil datang menjeblak pintu. Menunggangi Tonton, babi pink lucu berkalung mutiara dileher.
Jangan terkecoh dengan ukuran tubuhnya yang lucu berkesan imut. Shizune dapat mempereteli tubuh seseorang tanpa disadari korbannya. Tanpa belas kasih, Shizune sanggup melakukan hal kejam itu hanya dengan dalih bahan penelitian untuk membuat grafik data besar kekuatan maksimal yang bisa dikeluarkan sang korban. Untungnya, Shizune termasuk iblis pemilih yang mematok kriteria tinggi pada bahan penelitiannya sehingga tidak sembarang memutilasi sesuatu.
"Hai, Tsunade-sama." Merespon panggilan dari wanita blonde berkuncir dua dibalik punggung di depannya tubuh mini Shizune melayang rendah menyamakan tinggi agar lebih mudah berbicara. "Ada ap— Astaga Sasuke-kun!" pekiknya histeris mendapati Sasuke tergeletak tak bergerak di bawah reruntuhan dinding dan meja yang terbelah dua. Diam-diam Shizune membasahi kerongkongan yang kering mendadak, paham siapa pelaku penghancuran itu.
"Lacak keberadaan Naruto di dunia manusia!" Tsunade menggeram kesal tanpa melepaskan pandangan menusuknya pada Sasuke.
"Baik." —baru saja Shizune akan pergi, iblis tempramen itu kembali bersuara.
"Rapihkan ruangan ini terlebih dahulu." Perintahnya lagi. Kali ini sambil menunjuk ceceran kertas dan gulungan perkamen yang berceceran tidak beraturan di seluruh ruangan.
"EEEEEEH!" Shizune memekik. Keberatan dengan perintah kedua Tsunade. Yang benar saja! Ia seorang asisten bukan pesuruh!
"Bersihkan. Semua!" untuk pertama kalinya setelah melayangkan tinju wania itu beralih melotot pada Shizune. Nada final yang menegaskan perintahnya tidak bisa diprotes membuat Shizune kembali meneguk saliva disusul helaan nafas panjang tanda tidak bisa melawan.
Melihat Shizune mulai menjalankan perintah meski gesture ogah-ogahan terlihat sedikit menyinggung, Tsunade kembali melayangkan pandangan menuduh ke Sasuke yang masih tergolek tak bergerak.
"Seharusnya kau menyeret Naruto pulang daripada membiarkannya bermain dengan Cyclops." Cerca Tsunade. Telunjuk kanannya yang berkedut di arahkan pada Sasuke. "Jangan pura-pura mati heh! Uchiha bodoh!"
Mattaku! Keluar sudah cacian menyebalkannya.
Sekuat tenaga Sasuke menahan diri tidak bangkit lalu membakar sosok menyebalkan dihadapannya dengan amaterasu.
Lama Tsunade menunggu jawaban Sasuke—yang tampak tidak akan mengeluarkan kata-kata lagi—membuat amarahnya kembali tersulut. Tsunade baru saja akan menerjang Sasuke— tinjunya gatal untuk menghajar sosok cuek yang tergeletak tak bergerak―kalau saja tidak ada tangan yang menahan tiba-tiba. Menghentikan serangan disusul dengan munculnya sosok tegap yang berdiri kokoh menghadang jalur terjangan Tsunade tanpa takut.
Tsunade langsung bersimpuh menyadari sosok berani yang menghentikannya. Reaksi yang sama juga dilakukan Sasuke, pemuda itu bangkit kemudian bersimpuh mengabaikan rasa sakit begitu menangkap pemilik pancaran chakra terkuat di dunia iblis. Shizune yang sedikit telat menyadari beberapa detik pun langsung meninggalkan pekerjaannya dan melakukan hal yang sama.
"Sasuke sudah melakukan semampu yang dia bisa Tsuna. Aku mengetahuinya." Sosok asing itu berbicara, "Sasuke! Shizune! Pergilah " Perintahnya.
"Baik!" Sahut Shizune dan Sasuke bersamaan.
Dengan senang hati Sasuke melenggang keluar dan pergi tanpa pamit pada Shizune yang mendengus. Masa bodoh! Yang penting Sasuke sudah melakukan tugasnya untuk melapor.
.
.
.
Baru selangkah meninggalkan gerbang kastil sesosok bayangan muncul dari balik pohon Momiji kering. Kehadirannya menahan Sasuke untuk melangkah.
"Sepertinya sudah dimulai ya." Sosok itu berbicara santai. "Sampai Yang mulia repot-repot keluar dari ruangannya." Mendapat respon negative dari Sasuke yang lebih memilih diam kembali membuat sosok itu membuka pembicaraan. "Tidak kusangka legenda ramalan itu akan terjadi dalam waktu dekat ini." senyum tipis penuh arti tersungging pada sosok misterius itu melihat sedikit respon samar Sasuke yang sedikit terkejut seolah menyadari sesuatu.
Kembali tanpa merespon, Sasuke melanjutkan langkahnya tanpa memandang maupun menanggapi sosok yang bersembunyi dibalik pohon meski beberapa pertanyaan sempat terlintas.
.
.
.
"Maaf membuatmu repot, Tsuna. Biarkan saja dulu dia untuk sementara waktu." Kata sosok dihadapan Tsunade yang masih berlutut saat kehadiran Shizune dan Sasuke tidak terasa lagi. Tanda mereka berdua sudah pergi jauh.
"Tapi…"
"Dia akan baik-baik saja." Sosok itu memotong perkataan Tsunade. "Lebih baik kita focus pada masalah yang ada. Tolong selidiki kekacauan di dunia manusia yang disebabkan lolosnya mahkluk sini. Aku punya firasat buruk mengenai hal ini."
"Baik. Daimao-sama."
.
.
.
Sepi…
Tenang…
Seperti biasanya…
Perasaan ini, keadaan ini, sama persis ketika sedang melirihkan beberapa nyanyian yang terhapal diluar kepala. Alunan nada yang sering kunyanyikan bersama ibu, dulu…
Akhir-akhir ini aku kembali menyanyikannya setelah sekian lama. Bukan nyanyian bernada riang seperti seharusnya, hanya senandung lirih. Tempatnya pun bukan di teras taman belakang rumah, melainkan ranjang rumah sakit yang sudah kutempati selama setengah tahun.
Nyanyian yang membuatku kembali terbang ke masa lalu, masa dimana kami—sekeluarga bahagia…
Angin tiba-tiba datang hingga menyibakkan tirai jendela yang sengaja kututup. Sosok banyangan gelap bersayap datang, bertengger di sisi jendela tepat angin berhenti berhembus. Sosok yang membuatku berhenti bernyanyi.
Sosok pemuda tinggi berambut jabrik, sepasang sayap bertengger dipunggungnya. Sosok itu berjalan perlahan kearahku.
Mataku menyipit, berusaha melihat wajah dibalik sosok gelap yang terlihat terlalu menyilaukan akibat sorotan cahaya menyilaukan di belakangnya.
"Namaku Naruto. Nyanyianmu memanggilku, Hime." Suara baritone berkata lembut seraya meraih punggung tanganku dan mengecupnya.
"Naruto kah?" gumanku bertanya-tanya pada diri sendiri pada sosok yang membuatku linglung.
Sosok bernama Naruto itu perlahan bergerak lebih mendekat—sangat dekat, hingga kurasakan wajahnya berhenti di telingaku, "Aku ingin memilikimu dan melindungimu, Hime." Bisiknya dengan suara lembut.
Aku masih duduk terdiam tak merespon, berusaha mencerna perkataannya. Melihat siluetnya yang bersayap mengingatkanku pada sesosok makhluk yang sangat ingin kutemui sejak dahulu. Sosok yang selalu menjaga, melindungi dan membahagiakanku, sosok yang diceritakan ibu saat aku kecil…
"Malaikat?" cetusku, langsung bertanya padanya.
Tawa kecil Naruto terdengar jelas. Kecupan ringan di belakang telinga membuatku refles menoleh.
"Aku bukan malaikat." Suaranya selembut beledu.
Deg.
Aku terbelalak dengan teriakan tertahan merasakan sesuatu menusuk dada tepat di jantung.
Tangan tan Naruto menembus dada kiriku tanpa ampun. Liquid merah mengalir deras mengaliri tangan besar itu, menetes membasahi pakaian dan seprai putih ranjang yang kududuki.
Dengan tangan yang bergetar hebat aku memberontak, berupaya menarik keluar tangannya. Kembali aku menatap sosok yang kini menyeringai kejam menatap perlawanan tak berarti dari tenaga lemah kedua tanganku.
Seringainya begitu dingin dan menusuk, tubuhku bergetar hebat.
Apakah aku takut pada sosoknya yang menyeramkan?
Tetapi… anggaplah aku gila karena sisi lain diriku begitu terpesona…
"Aku adalah iblis!" Sosok itu berkata kembali, menarik keluar tangan yang menusuk tadi beserta sesuatu berdenyut-denyut di telapak tangannya.
Tubuhku terhempas, jatuh ke ranjang yang sudah berubah merah. Cahaya putih terang yang sejak tadi menyorot dari balik sosok bernama Naruto perlahan meredup, memperjelas bagaimana rupa sosok asli siluet hitam yang sesungguhnya.
Aku diam tanpa mengeluh. Menunggu Shinigami datang mencabut jiwa dari tubuh yang tidak bisa kugerakan untuk dibawa ke tepi sungai sanzu.
Kupandangi benda berdenyut di tangannya selama menunggu.
'Apa itu jantungku?' aku membatin lemah.
Sosok bernama Naruto terlihat semakin jelas, begitu pula dengan benda abu-abu pucat yang berdenyut di telapak tangannya.
Tunggu!
Aku tersentak. Jantung tidak berwarna abu-abu! Dan baru kusadari bahwa tangan kekar itu tidak terdapat noda darah sedikitpun. Refleks tanganku terangkat memegang dada bagian kiri yang berlubang
dan—
Aku terbangun dengan tangan masih mencengkram dada.
.
.
Hinata bangun terduduk dengan tangan meremas gaun rumah sakitnya tepat pada dada sebelah kiri. Nafasnya memburu, menatap hampa tirai tergantung yang berfungsi sebagai pembatas ruang antara ranjang dan ruang tunggu.
'Tadi itu apa?' Hinata berpikir keras. Memaksa kepalanya mengingat kejadian sebelum bayangan benda abu-abu aneh yang berdenyut melintas di sana. 'Mimpikah?' Hinata tidak mengerti, yang ia pahami hanya perasaan tidak nyaman mendapati benda tersebut hidup dan bergerak digenggaman seseorang. Entah apa yang ada dipikirkan orang yang sanggup memegang benda menjijikan—
Deg.
Jantung Hinata kembali berdebar, teringat akan sosok bersayap. Selintas bayangan dimimpinya yang terasa terlalu nyata berputar kembali.
Sosok pemuda bertengger di jendela, wajahnya rupawan dengan tiga garis kembar dipipi, rambut blonde lembut bergerak mengikuti arah angin bertiup, mata biru bak lautan, senyum hangat sekaligus menggoda, tubuh topless berperut six pack dan otot bisep serta trisepnya yang terbentuk sempurna dalam balutan kulit tan eksotis, rengkuhan kokoh yang memberi rasa nyaman disaat yang bersamaan, sosok dengan hembusan nafas yang terasa sejuk di leher, dan juga…
Menutup rapat kedua matanya, Hinata menggeleng berkali-kali berusaha menepis keras bayangan yang selanjutnya akan muncul.
'Tidak, tidak, tidak! Cukup Hinata! Wajahmu sudah merah dan kau bisa gila jika membayangkan lebih dari itu!' batinnya membentak. 'Kami-sama! Apa yang telah terjadi sebenarnya? Bisa-bisanya pikiran nakal seperti itu terlintas.' Menggerutu, Hinata menangkup wajah sambil menggelengkan kepala kuat-kuat ke kanan kiri sambil menepuk-tepuk pipinya hingga merah guna mengusir bayangan tak perlu yang terus memaksa masuk.
Gadis itu mencoba berpikir realitis. Tidak mungkin manusia memiliki sayap. Tidak mungkin ada malaikat di planet bumi ini—apalagi iblis. Hinata merasa puas dengan pemikiran itu. Ini jaman modern dimana teknologi dan ilmu pengetahuan berkembang pesat. Hal-hal semacam itu hanyalah legenda pengantar tidur yang dilakukan para orang tua jaman dahulu untuk anak-anak mereka yang masih kecil. Jelas sekali. Sangat. Tidak. Mungkin.
Lagipula Hinata merasa baik-baik saja. Kalau ingatan tidak menipunya mustahil Hinata masih hidup setelah dadanya ditikam benda sebesar tangan.
'Itu semua pasti mimpi. Ya mimpi!' tekannya berusaha meyakinkan diri.
Butuh waktu kurang lebih lima menit bagi Hinata untuk menenangkan diri. Menormalkan debaran jantung, menyingkirkan warna merah di wajah dan mengembalikan irama nafas yang tidak teratur.
Tarik nafas panjang melalui hidung dan buang melalui mulut perlahan. Ya, lakukanlah itu beberapa kali Hinata sampai kau tenang.
"Apa kau selalu berekspresi manis begini saat bangun tidur Hime?"
.
DEG.
Hinata membeku, terlalu terkejut mendengar baritone tak asing yang menginterupsi. Terheran-heran, bagaimana suara itu bisa sama persis dengan yang terekam diotaknya? Suara sosok yang baru akan dia anggap sebagai bunga tidur.
Memberanikan diri Hinata menoleh ke asal suara datang dan tercekat ketika pandangannya bersimborok dengan Naruto.
Naruto duduk di kursi dengan siku kanan bertumpu pada ranjang. Punggung tangannya menutup mulut, menahan kekehan geli yang lolos sementara tangan kirinya menahan perut yang terasa mulai kaku.
Penampilannya juga masih sama dengan yang tergambar pada ingatan Hinata, — minus sayap dipunggung yang hilang entah kemana.
"Eh?" Hinata mengerjap.
Satu detik
Dua detik
"Kyaaaaaaaaa~" jeritnya sambil menutup seluruh kepala dengan selimut. Rasa malu menyergapnya seketika.
Jadi semua yang ada di ingatannya itu nyata?
Nyata?!
Benar-benar nyata!
Hinata menjerit dalam hati.
Oh Kami-sama Hinata ingin sekali pingsan mengingat tingkah konyolnya saat bangun tadi. Dan untuk kedua kalinya suara tawa Naruto kembali terdengar membahana ke seluruh ruangan. Membuat Hinata kembali meruntuki dirinya yang bisa bersikap begitu memalukan.
.
Naruto melayang menaiki ranjang. Memposisikan diri tepat diatas tubuh Hinata, ia menyibak selimut yang menutupi.
"Memikirkanku?" tanya Naruto Narsis —lagi— mendapati wajah ranum Hinata. Manis sekali.
Tubuh Hinata kembali menegang menyadari posisi Naruto yang lagi-lagi terlalu dekat.
"I.. itu, Bu-bu-bukan!" Elak Hinata gugup mundur perlahan kebelakang. Tangannya meraba, mencari-cari sesuatu yang bisa digunakan menutupi wajah yang dipastikan kembali merah. Karena selimut yang ia andalkan telah dilempar jauh kebelakang oleh Naruto.
Begitu jari Hinata menyentuh bantal tanpa ragu ia mundur, merapat pada kepala ranjang sambil menutupi wajahnya kembali. Kali ini dia memegang erat bantalnya dan memastikan tidak bisa diambil Naruto.
"Oh ayolah Hime, jangan takut begitu. Aku tidak akan memakanmu. Aku hanya ingin melihat wajahmu." Gerutu Naruto melihat Hinata terus menerus menjauh dengan tubuh gemetar.
Naruto merangkak kembali di atas tubuh Hinata, mencoba menyingkirkan bantal dari dekapan tapi Hinata bersikeras mempertahankan posisi membuat Naruto menyerah.
Tidak ingin memaksakan kehendak pada Hinata. Dengan berat hati Naruto menyingkir, memilih duduk di tepi ranjang memunggungi Hinata sambil mendengus keras.
Mungkin Hinata butuh waktu untuk menerima keberadaan Naruto. Mengingat keadaan Hinata tadi menjelaskan bahwa gadis itu terbangun akibat mimpi buruk. Terlebih Hinata sempat melihat Cilliata, begitu pula saat ia melenyapkan dengan menggembungkan sampai meledakan kemudian memotong serpihannya kecil-kecil sampai tidak berbentuk. Mungkin hal itu menakuti Hinata.
Akhirnya dengan pemikiran tersebut Naruto memutuskan menunggu hingga Hinata sendiri yang mengajaknya berbicara lebih dahulu.
.
Lama tidak ada gerakan membuat Hinata sedikit mempunyai keberanian mengangkat wajah perlahan. Pipinya masih ternoda merah ketika menatap Naruto yang membelakanginya.
Tidak ada lagi sayap di punggung itu. Sebuah tattoo putih mirip dengan sayap sebelumnya terlihat menggantikannya. Hinata bingung, kemana sayap Naruto menghilang?
Atau sayap Naruto hanya hayalan Hinata belaka? Dilihat dari sisi manapun Naruto seperti manusia berjenis kelamin laki-laki. Benarkah ia adalah iblis?
Penasaran, Hinata memutuskan untuk bertanya pada Naruto.
"Ano…" Hinata bersuara ragu.
"Naruto." Naruto memotong tanpa menoleh pada Hinata. "Namaku Naruto, bukan Ano… eto… dan sejenisnya."
"I-iya maaf. Um.. Na-Naruto-kun."
Naruto diam mendengarkan.
"Apa Naruto-kun benar-benar iblis?"
"Aku harus meng-iyakan berapa kali, Hime?" Naruto menoleh perlahan, matanya berputar malas. Dilihatnya Hinata masih menutupi setengah wajahnya dengan bantal.
"Ma-maaf bukan begitu maksudku. Ha-hanya saja… sayapmu kemana?" pertanyaan tak lazim terdengar aneh bahkan ditelinga gadis itu sendiri. Mana ada orang bertanya perihal sayap? Hinata benar-benar merasa bodoh.
"Oh itu, aku menyimpannya." Naruto menjawab casual sambil memutar posisi duduknya menghadap Hinata. "Aku tidak bisa bergerak bebas di ruangan ini kalau tidak menghilangkannya." Jelasnya kemudian.
Hinata mengangguk, bersyukur Naruto tidak menganggap aneh pertanyaannya.
"Kenapa… Kenapa iblis seperti Naruto-kun datang padaku?" Hinata membuka suara. "Apa… apa kau ingin mengambil jiwaku? A-atau membuat kontrak untuk ditukar dengan jiwaku. Atau aku terlalu banyak melakukan dosa sehingga didatangi oleh sesosok iblis? atau…" kehidupanku yang kelam begitu kuat menarik sesosok iblis hingga datang padaku? Suara Hinata memelan dan menghilang perlahan. Pertanyaan terakhirnya hanya bisa diungkapkan dalam hati. Berbagai macam pertanyaan berkecamuk. Serpihan kenangan masa lalu kembali berputar.
Begitu menyedihkankah hidupnya hingga iblis mendatanginya?
Naruto memandang wajah Hinata yang perlahan berubah sendu. Naruto sendiri tidak mengerti mengapa dirinya begitu terpikat penuh pada sosok Hinata. Tanpa sadar Naruto menjulurkan tangan lalu mengusap lembut surai halus indigo Hinata.
"Aku sudah bilang kemarin. Nyanyianmu memanggilku Hime." Naruto menjawab pertanyaan Hinata. Menarik seulas senyum ketika kedua mata mereka kembali bertemu. "Tenang saja Hime, Aku tidak akan melakukan hal konyol mengambil jiwa orang lain seperti iblis-iblis rendahan." Naruto memutar bola mata jenaka. "Kurang kerjaan, buang waktu. Lebih asik menghasut, praktis, tidak mengeluarkan kekuatan dan cepat kenyang." Celetuknya tanpa sadar menggerutu.
Menghasut? Bukankah itu kerjaan setan? Hinata melongo mendengar pengakuan Naruto. Tanpa diminta Naruto menjelaskan bagaimana mereka membangkitkan sifat tamak dan serakah pada manusia yang menguarkan energy negative untuk mereka santap sebagai tambahan energy. Walau mereka tergolong bisa memakan apa saja—termasuk makanan manusia—tetap saja energy negative yang dipancarkan dari para manusia ambisius lebih cepat memulihkan kekuatan mereka.
Hinata menyimak dengan baik semua yang Naruto ceritakan. Perlahan atmosfer kecanggungan diantara mereka berdua mencair. Kesan ramai dalam sosok Naruto tanpa sadar menjadi hiburan tersendiri bagi Hinata. Tingkah Naruto yang lucu dan wajahnya yang sangat ekspresif dalam menjelaskan sesuatu tak pelak membuat seulas senyum yang telah lama tak hadir kembali menghiasi wajah Hinata. Nuansa ceria yang dihadirkan Naruto perlahan memberi rasa hangat di hati Hinata. Membuat Hinata mengingat kembali bagaimana cara untuk tersenyum dari lubuk hati paling dalam.
Sebuah senyuman yang terlihat sangat manis.
.
Naruto tertegun, sedikit terpaku melihat senyuman Hinata. Pandangannya melembut, tanpa sadar bibir juga menyungging senyum. Detik itu Naruto merasa bahwa keberadaannya di sini sangat tepat. Keputusan yang diambilnya tidaklah salah. Senyuman itu, Naruto akan menjaganya. Apapun yang terjadi Naruto tidak peduli, dia akan melindungi Hinata.
Ya apapun itu.
Firasat buruk yang dirasakan Naruto mengingat bentuk tidak normal Cilliata yang berdiam di tubuh Hinata. Pasti ada sesuatu pada gadis ini. Cilliata bukanlah jenis parasit yang akan menempel dengan sendirinya pada manusia maupun iblis. Naruto kini berharap firasat buruk tadi tidak akan pernah terjadi.
.
.
.
"Ngomong-ngomong, sudah berapa lama kau sakit, Hime?" Naruto bertanya tanpa menghentikan kegiatan membongkar bungkusan persegi panjang berukuran sedang.
Naruto selesai menjelaskan apa yang diperbuatya kemarin ketika sebuah ketukan pintu menginterupsi mereka. Tentu saja dia melewatkan bagian penandaan—cukup Naruto saja yang tahu.
Hinata menutup pintu setelah membubuhkan stempel keluarga Hyuuga pada tanda penerima yang disodorkan padanya. "Sejak kecil." Ucapnya singkat, "Tepatnya setelah Adikku lahir." Hinata menambahkan.
Sesaat Naruto tertegun. "Kau punya adik?" tanyanya heran.
Senyum kecil tak menyentuh mata terlihat Naruto. Ada yang tidak beres dengan Hinata. Apa ia salah ucap? Biasanya seorang kakak akan menceritakan dengan senang tentang adiknya kan?
Menghentikan kegiatannya, Naruto mengabaikan kotak yang sudah setengah terbuka itu di atas meja. Tanpa beranjak dari sofa Naruto menjulurkan satu tangannya ke depan membentuk gerakan memanggil agar gadis itu mendekat.
Tubuh mungil Hinata merosot jatuh ke pelukan Naruto begitu telapaknya menyentuh keningnya. Naruto sedikit meringis mendapati salinan memori milik Hinata, bukan karena melihat tiap kejadian tidak menyenangkan yang terlintas di kepalanya, tetapi bagaimana sikap Hinata yang menghadapinya tanpa mengeluh sedikitpun.
"Untuk ukuran manusia kau sangat sabar Hime." Gumam Naruto mengusap lembut punggung Hinata.
Naruto mengerti. Sangat mengerti dengan kesepian yang Hinata alami. Tak jauh berbeda dengannya, di dunia iblis pun Naruto merupakan sosok yang dijauhi dan ditakuti sesama iblis. Beratus tahun Naruto mengalami kesepian. Ia tidak ingat darimana dirinya berasal. Ingatan pertamanya ialah saat dimana ia berada ditengah kerumunan iblis yang memandang sinis dan menghina. Mereka seolah ingin melenyapkan eksistensinya tetapi entah kenapa mereka juga tidak berani berbuat sesuatu ataupun menyentuhnya. Sejak saat itu Naruto menyadari dirinya dikucilkan. Naruto tidak tahu alasan apa yang mendasari para iblis bersikap seperti itu, bahkan sampai detik ini pun Naruto masih tidak mengerti.
Keadaan itu membuat Naruto menjadi sesosok iblis dingin yang tidak mempunyai hati ataupun keinginan untuk hidup bersama iblis lain. Ia banyak melakukan kejahatan, berbuat onar bahkan membunuh sesama iblis yang dianggapnya mengganggu. Kurungan penjara bawah tanah hingga ruang isolasi khusus pun tidak asing lagi bagi Naruto. Apapun ia lakukan untuk menikmati eksistensi di dunia keabadian yang begitu membosankan hanya agar merasa lebih hidup dan berarti. Salah satunya adalah dengan tidak pernah menarik kembali keputusan yang ia ambil.
Saat itulah Daimao datang dan menawarkan sesuatu yang menurut Naruto menarik. Naruto bebas melakukan apapun yang diinginkan dengan syarat tidak membuat keonaran di dunia iblis. Awalnya Naruto tidak tertarik, baginya tidak seru jika tidak bertarung melawan sesama iblis, membunuh dan melanggar beberapa aturan yang memicu adrenalin. Tetapi perkataan Daimao bahwa dirinya masih dapat melakukan hal itu, bahkan membasmi beberapa monster pengganggu di sana tanpa dihukum membuat Naruto tertarik.
Benar saja, sejak saat itu Naruto selalu menerima daftar misi membunuh atau memusnahkan kelompok penganggu dari berbagai golongan yang mengganggu keseimbangan tiga dunia−Dunia malaikat, Dunia manusia, dan Dunia Iblis. Terkadang Naruto merasa jenuh dan kecewa jika mendapati lawan yang lemah, tetapi Naruto juga tidak menampik rasa senang bertemu lawan yang benar-benar kuat.
Lagi pula berkat itu ia bertemu dengan Sasuke. Sosok lawan yang sangat tangguh.
Mereka hampir saja mati karena kesalahpahaman konyol yang menyebabkan keduanya bertarung dan terluka parah. Andai saja Naruto tidak ceroboh menjatuhkan lempeng emas yang menandakan dirinya merupakan utusan Daimao langsung, salah satu dari mereka pasti sudah mati.
Naruto terkekeh teringat betapa konyolnya mereka dulu. Melakukan pertarungan hidup-mati sia-sia hingga lupa diri dan membuat target buruan mereka kabur. Membuat misi mereka gagal. Naruto ingat bagaimana iblis tua cerewet yang tak lain Tsunade mengamuk. Iblis tua itu menyumpah serapah sambil menghajar mereka habis-habisan saat melaporkan perkembangan misi. Mereka tidak bisa melawan tentu saja. Ini bukan karena mereka takut, tetapi lebih karena cedera berat akibat pertarungan konyol yang semakin membuat Tsunade murka.
Setelah peristiwa itu mereka berdua akhirnya dijadikan satu tim dalam menjalankan misi demi mencegah pertikaian kembali. Tentu awalnya mereka menolak keras, tetapi ancaman Tsunade yang akan menjahit tubuh mereka menjadi satu jika menolak berhasil membungkam keduanya. Tsunade tidak pernah main-main dengan ucapannya. Naruto dan Sasuke sangat paham akan hal tersebut.
Sejak itulah mereka berdua selalu bersama-sama menyelesaikan misi sulit cenderung mustahil. Persentase keberhasilan mereka selalu seratus persen dalam hal kekompakkan―walau kalimat makian tidak pernah terlepas dari keduanya dimanapun mereka berada. Hal ini juga yang menyebabkan mereka dijuluki tim paling mesra di dunia iblis oleh tim lain.
Dari situ Naruto dapat menyadari kabut tebal kesepiannya perlahan mengikis dan akhirnya hilang sama sekali.
Berkat kehadiran komplotan pembuat onar yang tanpa sengaja terbentuk ketika mereka berkumpul. Para iblis yang sangat suka mencampuri urusan iblis lain. Para iblis keras kepala yang tidak takut kehilangan nyawa demi mengejek, memarahi, atau memaki dirinya dan Sasuke saat berbuat kesalahan. Para iblis yang selalu menunggu kepulangan misi mereka berdua dan menyambutnya dengan pesta meriah.
Kira-kira bagaimana ya keadaan mereka sekarang?
Naruto mendengus, merasa konyol karena merindukan komplotan itu padahal baru seharian ia memutuskan meninggalkan dunianya untuk menetap di sini. Disisi Hinata.
"Kali ini aku yang akan menghapuskan rasa sepimu, Hime." Naruto berbisik lembut. Mengeratkan pelukannya pada tubuh Hinata.
.
.
Naruto berhenti mengusap punggung Hinata sambil sesekali menyesap aroma menenangkan milik gadis yang jatuh tertidur seketika. Kedua matanya terbuka siaga merasakan suatu pergerakan chakra dan hawa keberadaan tipis sejenis dengan bangsanya. Sosok tersebut berjalan perlahan mendekati ruangan Hinata. Naruto tidak akan salah mengenali hawa keberadaan yang merupakan milik sesosok iblis, iblis asing yang tidak dikenal. Iblis yang cukup ahli menyamar. Keberadaannya sebagai iblis terasa sangat tipis dan baru disadari Naruto ketika kehadirannya sudah berada dalam satu lantai.
'Apa yang dilakukan iblis di sini?'
Well, seharusnya pertanyaan itu berlaku juga pada Naruto. Awalnya ia pasti akan mengatakan bahwa dirinya ditarik oleh suara nyanyian Hinata. Tetapi setelah bertemu gadis dipelukannya ini Naruto tidak akan ragu untuk menjawab jika dirinya akan selalu bersama dengan Hinata dan tidak akan pergi begitu saja. Mungkin sejak pandangan mereka bertemu pertama kali, atau ketika Naruto melihat senyum pertama Hinata padanya, atau setelah mengetahui ingatan gadis yang dilihatnya. Entah yang mana Naruto tidak ambil pusing. Hanya satu keinginannya sekarang. Kehadiran Hinata disisinya suka maupun tidak, Naruto tidak perduli.
Naruto menghilangkan seluruh hawa keberadaannya sebagai iblis secara sempurna, ia juga menyembunyikan chakra agar dikenali sebagai manusia biasa yang tidak mempunyai kekuatan. Naruto bukan iblis amatir seperti iblis lain yang menyamar sebagai manusia. Dirinya sudah terlalu sering menjalankan misi menangkap iblis buronan kelas atas yang lari ke dunia manusia dengan menyamar dan berbaur bersama manusia.
Naruto meletakan dengan lembut tubuh Hinata diatas ranjang sebelum merubah penampilan. Ia menghilangkan kekkai penghalang tepat sebelum iblis itu melangkah melewatinya.
Mendudukan diri kembali ke sofa, Naruto meneruskan membongkar paket kiriman milik Hinata.
Tak lama pintu ruangan dibuka tanpa diketuk. Naruto mengetahuinya tapi tetap berpura-pura dan terus sibuk merobek kertas yang membungkus paket itu.
"Hoaa! Akhirnya game ini datang juga! Hina-chan harus melihat ini!" Naruto memekik senang berakting antusias. Beberapa detik kemudian ia berbalik, berlagak seolah dirinya baru menyadari ada seseorang yang sedang memperhatikannya.
Seorang pria berambut abu-abu dikuncir, berkacamata dan memakai jubah putih yang biasa dipakai dokter. Pria itu tampak tak bisa mengatasi keterkejutan mendapati kehadiran Naruto dalam ruangan Hinata. Jelas pria ini tahu kalau Hinata tidak pernah sekalipun dijenguk orang selain keluarganya, dan itupun sangat jarang.
"Bisa kubantu?" tanya Naruto.
Tidak salah lagi, pria ini adalah Iblis dan berbahaya.
.
.
.
.
.
.
.
つづく
.
Istilah :
Mendokusai :menyusahkan, merepotkan
"Tokorode, Naruto wa doko ni iru?" : "By the way, dimana Naruto?"
"Gokurousamadeshita." : (kata yang sering diucapkan sebagai bentuk rasa terimakasih setelah melakukan kerja keras.)
Daimao : raja iblis
Mattaku! : Ya ampun! (banyak arti dari kata ini, secara hafifah tidak ada arti pasti untuk kata ini. kata ini digunakan sebagai bentuk keluhan sama seperti Shimatta!, yareyare, dsb, ditempatkan sesuai situasi dan kondisi kalimat.)
.
Akhir kata Ho ucapkan
本当にありがとうございます。
Hotaru Out.
.
