Chapter 4 : Docter Attack
Seorang pria berkacamata menatap gusar bola kristal di depannya. Bola kristal berbantal kecil putih tersebut sudah kembali berubah transparan.
Pria itu tercenung, pikirannya melayang ke beberapa hal yang mengganjal. Rencana yang dijalankannya selama ini sudah sempurna. Seharusnya hanya menunggu waktu saja hingga semuanya tercapai.
Dengan kedua tangan yang menumpu dagu, ingatannya kembali berputar ke percakapan yang terjadi beberapa menit yang lalu.
.
"Apa yang kau lakukan pada sumber energiku, Kabuto!" Suara bergetar penuh amarah terdengar dari laci meja tempat Kabuto bekerja.
Pria yang dipanggil Kabuto segera menghentikan kegiatannya. Tergesa, ia mengeluarkan sebuah bola kristal yang disembunyikan di kotak kecil laci meja. Sesosok bayangan hitam berlatar belakang suram tercermin sana.
Kedua sudut bibir Kabuto tertarik ke atas mengetahui siapa sosok tersebut, "Suatu kehormatan bagi hamba Tuan menghu-"
"Hentikan basa-basimu!" bentak sosok hitam memotong sapaan Kabuto. "Kenapa kau menghentikan pengiriman sumber energy kebangkitanku?" tuntutnya kemudian.
Kening Kabuto berkerut. Sejenak tak mengerti arah pembicaraan tersebut, namun setelah sosok itu menyinggung 'Cilliata' Kabuto langsung paham.
"Aku memerintahkanmu mengawasi, bukan menghentikan!" bentaknya lagi. Kabuto mengangguk dan mengatakan segera memeriksa situasi.
.
Kabuto tak mengira jika sosok yang ia panggil Tuan tidak bisa mengetahui maupun melihat apa yang mengganggu rencana mereka. Sepanjang pengetahuan Kabuto, Tuan-nya selalu dapat menemukan cara untuk mengetahui segala tindak tanduk pekerjaan seluruh bawahannya termasuk dirinya sendiri.
Mungkin memang tidak semua hal bisa diawasi Tuan-nya mengingat butuh cakra tidak sedikit untuk melihat ke dunia manusia. Tapi Kabuto menyangsikan kekuatan Tuan-nya. Tuan-nya sangatlah hebat, meskipun belum sepenuhya bangkit.
Kabuto menimang, satu-satunya makhluk yang bisa menghentikan rencana Tuan-nya saat ini hanyalah Daimaou, tetapi Kabuto meragukan sang penguasa dunia iblis itu mengetahui rencana besar mereka.
Rencana ini sudah berjalan selama lima puluh tahun dan baru saja mengalami perkembangan signifikan dua belas belas tahun yang lalu. Kalaupun Daimaou tahu, rencana ini pasti sudah gagal tak lama setelah mereka jalankan.
Kabuto beranjak perlahan dari duduknya. Tidak ada jalan lain, dia harus memastikan sendiri apa yang sebenarnya terjadi.
.
.
.
NARUTO FANFICTION
Angel? No Devil!
Diclaimer : Naruto©Masashi Kishimoto
Angel? No Devil!©Hotaru
Genre : Romance, H/C, Fantasy
Rate : T+
Pairing : Naruto x Hinata
Warning : OOC, MissTypoo(s), Gaje
Bagi yang Anti NaruHina disarankan segera tekan tombol back!
Tidak menerima flame yang tidak bertanggungjawab dan tidak rasional
Sangat terbuka untuk kritik dan saran
Don't Like Don't Read!
.
.
.
.
Deal!
はじめ
.
.
.
Berbaur dengan manusia tidak terlalu sulit bagi Kabuto. Hanya perlu menekan chakra dan hawa membunuh iblis miliknya setipis mungkin. Ah… tidak lupa dengan sedikit manipulasi ia bisa berjalan bebas berkeliaran di tempat yang diinginkan tanpa menarik perhatian ataupun kecurigaan manusia.
Seperti saat ini, ia melenggang santai di koridor sebuah rumah sakit meski jam besuk sudah lewat beberapa jam yang lalu. Penyamarannya sebagai dokter akan memuluskan tujuannya tanpa mendapat halangan berarti.
Kabuto bergegas menuju ruangan pasien kelas VIP di lantai enam yang biasa dikunjunginya sesuai jadwal control, pengecualian untuk hari ini. Keadaan mendesaknya untuk mengecek ulang seseorang meski dia ingat jelas Cilliata tuannya dalam keadaan baik.
Seorang yang menjadi sumber energy Tuan-nya dengan Cilliata sebagai media penyerapan sekaligus pengirimannya. Seseorang yang mempunyai energy kehidupan yang tidak terbatas.
Umumnya, semua manusia memiliki energy kehidupan. Energy kehidupan yang dihisap secara otomatis akan berkurang dan tidak akan pernah bertambah seperti semula. Tetapi orang yang akan Kabuto dikunjungi sekarang berbeda dengan manusia kebanyakan. Ya… orang ini memiliki kemampuan istimewa, dia dapat memulihkan energy kehidupannya yang hilang setelah dihisap.
Asalkan energy kehidupannya tidak dihisap sekaligus sampai habis, tubuhnya mampu memproduksi dan mengembalikan energy kehidupan yang hilang sama banyaknya seperti sebelum dihisap dengan cepat.
Manusia terpilih yang hanya ada satu orang dalam seribu tahun. Tuan-nya berhasil menemukan manusia terpilih itu.
.
Hyuuga Hinata,
Kabuto tersenyum membaca nama pasien yang tertera di pintu ruang rawat. Kamar yang ditempati seorang gadis cantik, sang pemilik energy kehidupan tidak terbatas.
Tanpa pikir panjang ia memutar handle dan membukanya tanpa suara.
Tubuhnya membeku, betapa terkejutnya Kabuto mendapati keberadaan seorang pemuda pirang yang sedang asik membuka bungkusan kotak berukuran sedang.
"Hoaa! Akhirnya game ini datang juga!" pekik pemuda pirang di depannya ketika mendapati sebuah konsol game terbaru didalamnya. "Hina-chan harus melihat ini!" ucapnya terdengar antusias.
Siapa pemuda ini? Terlebih lagi bagaimana bisa pemuda ini mengenal Hyuuga Hinata?
Dua pertanyaan itu ingin sekali diucapkan Kabuto, ia tahu Hyuuga Hinata tidak pernah dikunjungi siapapun termasuk keluarganya selama berada dirumah sakit. Pria itu juga berani bersumpah pasiennya tidak pernah memiliki seorang teman pun selama ini. Karena ia sudah mengawasi Hyuuga Hinata semenjak Tuan-nya menanamkan Cilliata—media yang digunakan untuk menghisap energy kehidupan manusia dari dunia Iblis—pada jantungnya.
Kabuto menatap pemuda di depannya dengan pandangan menyelidik. Tidak ada hal aneh, penampilan pemuda ini sama seperti manusia pada umum. Sweater khaki berbahan wol tebal melekat pas di tubuhnya hingga leher, bagian lengannya dia gulung setengah. Dipadu celana broken white berbahan polyester tebal khas musim dingin pemuda itu terlihat sporty dan casual. Benar-benar tidak ada keanehan pada penampilannya yang wajar. Tetapi entah mengapa Kabuto merasakan firasat buruk ketika melihatnya.
"Bisa kubantu?"
Suara pemuda itu menyadarkan Kabuto dari rasa kejut. Sial, Kabuto tertangkap basah sedang memandanginya. Kabuto bisa melihat keheranan pada bola mata sapphire milik pemuda itu.
Gawat, pemuda itu pasti curiga karena Kabuto masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Oh maaf kupikir tidak ada orang lain disini selain Hyuuga-san." Kabuto berbasa-basi. Ia masuk dan menutup pintu perlahan. "Setahu saya Hyuuga-san tidak pernah mau menerima kunjungan selama ini." Pancing Kabuto, mencoba mengorek informasi siapa pemuda di depannya ini.
Satu alis pemuda itu terangkat tinggi, "Hina-chan bukannya tidak pernah mau menerima kunjungan, tapi tidak pernah menerima kunjungan bahkan oleh Hiashi-ji." Balasan pemuda pirang didepannya terdengar ringan tapi penuh rasa heran, cukup membuat Kabuto menelan ludah gugup.
Pemuda ini mengenal orangtua Hyuuga Hinata,
'bagaimana bisa?' pikirnya tak mengerti.
Kabuto berusaha menampilkan sikap ramah guna menutupi kegugupannya.
"Ah, maksud saya begitu," elak Kabuto halus dengan senyum permohonan maaf. "Maaf, Hyuuga-san kemana? Saya harus memeriksa keadaannya." Ucap Kabuto menyampaikan maksud kedatangannya.
Pemuda tersebut terdiam sebentar tanpa melepaskan tatapannya pada Kabuto, sikap ceria yang dirasakan Kabuto perlahan menghilang seiring perubahan gesture pemuda didepannya. Tatapan bingungnya berganti menelisik curiga. Rasa dingin langsung menjalar pada Kabuto begitu kedua sapphire menatap langsung matanya tanpa ragu. Firasat buruk yang dirasakannya tadi semakin menguat.
"Bukankah jadwal pemeriksaan anda kemarin? Yakushi-san." Suara pemuda itu terdengar dingin,
Deg.
Tubuh Kabuto kembali menegang. Tidak ada jalan lain. Insting Kabuto mengatakan pemuda ini harus dilenyapkan.
.
BRUGH
"Ukh…" rintih Naruto.
Kabuto menduduki tubuh Naruto yang tergeletak di lantai. Kabuto tiba-tiba menerjang tubuhnya. Tangan kiri Kabuto menahan tangan kanan Naruto sementara satunya ia gunakan untuk mencekik leher Naruto. Kekkai kecil terlihat berpendar di sekitar mereka. Sepertinya Kabuto sempat memasangnya untuk menghalangi keributan yang akan ditimbulkan selain mencegah kemungkinan Naruto kabur dari cengkramannya.
Kekkai yang tampak sangat menyedihkan bagi Naruto. Kekkai tipis yang mudah ia hancurkan dalam sekejab. Walau demikian cekikannya cukup terasa menyakitkan, sepertinya memang tidak mungkin kalau melawan hanya dengan menggunakan otot.
『突風。』gumam Naruto lirih.
Seketika angin bertiup kencang menghantam keras tubuh Kabuto. Cekikannya di leher Naruto terlepas dan tubuh Kabuto terhempas ke belakang membentur dinding kekkai yang dibuatnya hingga retak sebelum jatuh merosot ke lantai.
'Oopss.' Sepertinya Naruto terlalu banyak menggunakan kekuatan.
Naruto bangun perlahan mengusap darah yang mengalir di sudut bibir yang tidak sengaja tergigit saat Kabuto menerjang. Diusap lehernya yang sedikit sakit dengan gesture santai tanpa menurunkan kesiagaannya sedikipun.
Ternyata benar, orang dihadapinya adalah sesosok iblis. Hawa dan cakra yang kini memancar dari tubuh Kabuto menjelaskan jati diri sebenarnya. Iblis kelas atas yang sama dengan Naruto.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Kabuto tajam matanya menatap dingin, hilang sudah sikap ramah yang diperlihatkannya tadi. "Aku tidak merasakan cakra dan hawa keberadaanmu. Yang pasti kau bukanlah manusia karena mereka tidak bisa mengendalikan Angin."
Naruto menyunggingkan senyum iblisnya yang mengerikan. Iblis di depannya pintar. Naruto memang masih menyembunyikan chakra dan menghilangkan hawa keberadaannya. Di dunia mereka, hanya Naruto iblis yang dapat mengendalikan elemen angin sesuka hati tanpa menggunakan cakra sedikitpun. Rahasianya ada pada kemampuannya membuat segel unik. Hanya dia sendiri yang dapat membuka segel yang dibuatnya. Daimaou bahkan mengakui keunikan dan kerumitan segel buatannya.
Hanya saja untuk membuka segel Naruto harus melepaskan aura iblis. Harusnya Kabuto mampu merasakan aura iblis yang menguar dari tubuhnya, tetapi sepertinya Kabuto tidak bisa merasakan pancaran aura seorang iblis. Memang tidak semua iblis bisa merasakan pancaran aura bangsa mereka sendiri.
"Harusnya aku yang bertanya." Balas Naruto mengabaikan pertanyaan Kabuto. "Siapa kau sebenarnya? Tidak seharusnya iblis berada di sini. Apalagi dengan manusia yang dihinggapi Cilliata berukuran tidak wajar." perkataan to the point Naruto membuat Kabuto terkejut.
Melihat perubahan kecil yang terjadi pada tubuh Kabuto membuat Naruto bertambah yakin pada kecurigaannya. "Aku benar he? Ternyata parasit itu milikmu."
Naruto mengernyit mendapati Kabuto tiba-tiba tertawa keras. "Sepertinya aku akan dapat masalah kalau memaksakan diri melawanmu." Kabuto berkata disela tawa menyeramkan.
Naruto tersentak menyadari tubuh Kabuto perlahan transparan. Ia melemparkan hembusan angin yang cukup kuat agar Kabuto tidak lari tetapi anginnya menembus melewati tubuh Kabuto beserta kekkainya.
"Kuso!" umpat Naruto saat menyadari tubuh didepannya sudah berganti dengan ilusi. Kabuto berhasil kabur.
"Tidak kusangka akan bertemu sosok sepertimu." Kata Kabuto dengan tubuh yang semakin menipis kemudian lenyap. "Aku tidak akan menang melawanmu, karena itulah aku benci malaikat." Katanya lagi sesaat sebelum kehadirannya benar-benar hilang.
Naruto mendengus kasar mendengar perkataan terakhir Kabuto. "Ore wa akuma da. Tenshi janai. Baka yaro." Umpat Naruto kesal.
Kami-sama. Bahkan dirinya disangka malaikat oleh bangsanya sendiri. Padahal Naruto tidak merasa salah dengan penampilannya. Iblis dan malaikat kan memang sama-sama rupawan, dan menarik. Lalu apa yang salah?
Naruto mengacak-acak rambut pirangnya sambil mengerang frustasi. Dia benar-benar penasaran mengapa belakangan ini dirinya selalu disangka malaikat.
Kalau Hinata yang menganggapnya seperti itu wajar. Dia manusia, dan manusia tidak bisa membedakan iblis atau malaikat karena kemungkinan mereka bertemupun kecil. Itupun kalau manusia sadar mereka bertemu dengan iblis atau malaikat. Tapi kalau iblispun sampai salah sangka mengira dia seorang malaikat Naruto benar-benar tidak mengerti.
"Tch! mungkin iblis itu buta." Batinnya kesal.
.
.
.
.
.
"Yareyare, tempat ini berantakan sekali." Komentar sesosok iblis cantik. Mata aquamarinenya bergulir menjelajah ruangan yang baru saja ia datangi.
Ia berjalan memasuki ruangan tempat Tsunade bekerja, merasa heran tidak mendapati keberadaan siapapun. Tidak biasanya Tsunade meninggalkan ruangan ini dalam keadaan berantakan. Setahu dia bosnya itu tidak pernah sekalipun meninggalkan tempat kecuali pada jam istirahat, dan sekarang belum terlalu siang untuk istirahat. Mungkin ada sesuatu diluar sana yang harus di cek.
"Hora mita! Sepertinya ada yang baru kena amukan Tsunade-sama nee Shikamaru." Sedikit terkekeh geli ia berkata pada sosok di belakang yang mengikutinya dengan telunjuk mengarah pada meja yang berbelah jadi dua. "Aku penasaran, Naruto atau Sasuke ya yang menjadi korbannya kali ini? Kedua iblis itu selalu berbuat konyol di depan Tsunade-sama." Gumamnya sendiri. "Ah… sayang sekali aku tidak melihat langsung. Pasti seru melihat perdebatan konyol mereka dan ekspresi kesal Tsunade-sama." ocehnya tanpa mempedulikan tatapan bosan yang dilemparkan sosok iblis lainnya.
Shikamaru mengalihkan mata setengah ngantuk ke arah yang dimaksud. "Pasti sakit." komentarnya malas. "Tidak ada orang disini, kita pulang saja Ino." Shikamaru berbalik dan melangkah keluar ruangan meninggalkan Ino.
"Hee?! kita harus melapor dulu Shikamaru!" panggil Ino saat melihat Shikamaru sudah lenyap dibalik tembok.
"Nanti sore saja kita kembali. Percuma kita menunggu di sana. Misi itu membuatku lelah, setidaknya biarkan aku istirahat terlebih dahulu." Gerutuan Shikamaru terdengar kecil, menandakan keberadaannya sudah jauh dari tempat Ino berdiri.
"Mattaku, matta tooitte aitsu ga." Gerutu Ino yang langsung melesat menyusul kekasih iblisnya yang ternyata keberadaannya sudah di luar kastil.
'Untuk urusan menjauh saja dia paling cepat.' batin Ino sebal.
.
Shikamaru baru saja akan memasuki kediamannya bersama Ino kalau saja tidak merasakan tatapan tajam menusuk mengarah pada mereka yang membuat langkahnya terhenti.
"Nande?" Tanya Ino heran.
Alih-alih menjawab Shikamaru malah berbalik ke belakang Ino. "Ada perlu apa dengan kami?" seru Shikamaru pada seseorang yang tidak terlihat membuat Ino langsung waspada.
"Sudah kukatakan kalau dia akan merasakan kehadiranku." Sebuah suara datar terdengar bersamaan dengan munculnya cairan tinta yang bergerak berputar dihadapan Shikamaru. Munculah sesosok pemuda berkulit pucat dengan wajah tersenyum yang terlihat palsu.
"Itu karena ada Ino bersamanya. Pandanganmu selalu menusuk setiap melihat mereka bersama." Sosok lain tak jauh dari pemuda itu muncul dari atas pohon menampakkan seorang pemuda lain dengan tattoo segitiga merah terbalik di kedua pipi dan seekor anjing besar berwarna putih.
Shikamaru memutar bosan bola matanya mendapati dua sosok yang ia dikenal. Ia berbalik masuk ke dalam kediamannya yang tak lama diikuti mereka semua.
"Sai! Kiba!" sapa Ino begitu mengetahui siapa kedua sosok iblis yang datang menghampiri.
"Benarkah?" Pemuda berkulit pucat memegang dagunya sendiri mencoba menganalisa pengintaiannya tadi.
"Sampai kapan kau tidak sadar dengan perasaanmu sendiri, Sai." Kiba malas, pemuda bertattoo di kedua pipinya itu menatap datar Sai yang sedang dalam posisi berpikir.
Sudah bukan rahasia lagi kalau Sai menyimpan perasaan khusus pada Ino, kekasih Shikamaru. Hanya saja Sai sesosok iblis yang paling tidak peka situasi. Tingkat pengendalian emosi pun diragukan, itu sebab hanya dia sendiri yang tidak menyadari perasaannya. Shikamaru sendiri tidak ambil pusing dengan perasaan khusus Sai pada Ino karena Sai tidak pernah melakukan hal yang aneh-aneh pada kekasihnya—ketidakpekaan Sai terkadang membuat Shikamaru turut menggelengkan kepala.
Bukan tanpa sebab Sai seperti itu, Sai merupakan mantan prajruit hitam dunia iblis yang bertugas menjaga Daimaou. Salah satu menu latihan disana dengan menekan hasrat dan emosi ketingkat seminimal mungkin untuk menguatkan insting dan naluri bertarung saat melindungi Daimaou dan efek samping jangka panjang pelatihan itu adalah kehilangan hasrat dan emosi yang tidak berhubungan dengan melindungi Daimaou.
"Ada apa kalian ke sini?" tanya Shikamaru menatap malas kedua tamu tak diundangnya setelah mereka berada di dalam.
"Kau sudah dengar kabar terbaru tentang Naruto?" Tanya Kiba yang langsung menghempaskan bokongnya ke kursi sementara Sai memilih diam di sudut ruangan dengan wajah tanpa ekspresi.
Shikamaru merasa satu alisnya terangkat, "Naruto? Bukankah seharusnya dia sudah menyelesaikan misi bersama Sasuke."
Sunyi sesaat. Kiba dan Sai saling melepar pandang sesaat kemudian Kiba mengangguk pelan.
"Ya mereka sudah menyelesaikan." Ganti Sai yang berbicara tanpa posisi dan ekspresi yang berubah, "Tetapi… hanya Sasuke yang kembali."
Shikamaru dan Ino tersentak.
"Sasuke saja? Bagaimana bisa?" tukas Ino tak bisa menahan keterkejutannya. Dia kembali teringat dengan ruangan Tsunade yang berantakan. "Hah! Jangan-jangan ruangan yang separuh rusak itu karena Tsunade-sama yang…"
"Ya, karena Sasuke tidak bisa menjelaskan alasan Naruto tidak kembali." Potong Kiba.
"Lalu, bagaimana keadaan Sasuke sekarang?" tanya Ino cemas, dia tahu benar bagaimana bahayanya amukan Tsunade.
"Dia baik-baik saja. Daimaou-sama datang menghentikannya." Jawab Sai.
Kening Shikamaru berkerut dalam.
"D-Daimaou-sama?. Na-Naze?"
"Sepertinya ada hubungannya dengan misiku dan Ino." Shikamaru yang sejak tadi diam mendengarkan angkat bicara. "Dan sepertinya misi kita masih akan berlanjut, Ino." Imbuhnya pada Ino.
"Lanjut? Tapi kenapa? Harusnya itu sudah selesai. Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan Shikamaru." Kata Ino heran
"Tidak, masih ada yang harus kita lakukan. Untung saja tadi kita belum melapor." Kata Shikamaru pelan.
Kiba dan Sai menanggapinya dengan anggukan.
.
.
.
.
.
『暗闇の中で蓄積された電力、長い眠るから上昇、勤く見る。』
Sebuah mantra tengah diucapkan suara yang terdengar berat dan menyeramkan. Suara itu berasal dari ruangan yang cukup besar jauh di dalam gua bawah tanah. Sinar ungu kehitaman terlihat menguar dari seseorang bertudung hitam yang berdiri di tengah, ruangan itu tampak terang beberapa saat sebelum kembali gelap bersamaan dengan hilangnya sinar yang membungkus sosok berjubah hitam.
Senyap sesaat sebelum pada akhirnya sosok tersebut menggeram, "Kurang ajar… seluruh kekuatanku belum sepenuhnya pulih. Ini semua karena pasokan energy kehidupan gadis itu tiba-tiba terhenti."
"Tuan." Suara lain datang menginterupsi.
"Kau kembali, Kabuto." Tiba-tiba api kecil muncul dari obor yang berada di empat sisi ruangan, menerangi sosok bertudung hitam yang masih berdiri ditempatnya. "Bagaimana dengan Cilliata?" sosok itu kembali bersuara.
"Buruk. Ada seseorang yang menjaganya tapi hamba tidak mengenali mahluk apa dia." Kabuto muncul dari salah satu sudut ruangan, mendekati sosok bertudung kemudian menunduk rendah.
"Maksudmu?"
"Di sana hamba bertemu dengan seorang pemuda. Dia bukan manusia. Hamba juga tidak merasakan chakra dan hawa iblis pada pemuda itu. Dugaan sementara dia seorang malaikat." Jelas Kabuto.
Sosok bertudung hitam memicing tak suka, "Bagaimana bisa kau mengatakan dia malaikat?" tanyanya sinis.
"Iblis tidak akan mau berurusan dengan manusia kecua—" teringat sesuatu, Kabuto menghentikan kalimatnya. "Tu-tuan." Kabuto berkata gugup. Ia menundukan kepala semakin dalam menyadari kesalahan yang diperbuat.
Ya Kabuto melupakan satu hal, iblis tidak akan mau berurusan dengan manusia kecuali mereka mempunyai tujuan tertentu.
"Apa kau yakin tidak merasakan sedikitpun chakra dan hawanya?"
"Ya, dia memukul mundur sekaligus menghancurkan kekkai hamba hanya dengan angin."
"Angin?"
"Ya, dia mengendalikan angin tanpa mengeluar chakra."
"Daimaou kah? Ah tidak, bukan… kau tidak akan hidup kalau berhadapan dengannya." Guman sosok tersebut pelan, tapi cukup membuat tenggorokan Kabuto tercekat.
Terjadi keheningan yang cukup lama di sana. Kabuto tetap pada posisi, tidak berani membuka suara terlebih dahulu sekedar untuk memecahkan keheningan yang terjadi.
"Kabuto, lakukan rencana cadangan."
Kabuto tersentak, kepalanya terangkat cepat menatap langsung sosok didepannya. "Ta-tapi Tuan! Untuk memanggil mereka butuh cakra yang ba-"
"Karena itu, panggil dia."
.
.
.
.
"Aaah… Hime..." desah Naruto melihat sosok yang diam sejak tadi mulai menunjukan beberapa gerakan.
"…"
"Tu-tunggu… Hime!" Kedua sapphire Naruto terbelalak, terkejut bercampur gugup. Ia menatap horror mendapati sosok tersebut tanpa aba-aba bergerak mendekatinya.
"…"
"Akh! Pelan-pelan! Ugh…" pekikan kecil lolos dari mulut Naruto karena tiba-tiba diserang brutal. Manic birunya menatap horror jemari mungil putih Hinata yang bergerak semakin cepat dengan pola tekanan teratur.
"Sedikit lagi." Kata Hinata masih terus berkonsentrasi mengabaikan rancauan tak jelas Naruto.
Mata Naruto mendelik galak pada Hinata yang masih mengabaikannya.
"Arrgh! Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi!" pekik Naruto panic menyadari dirinya tidak bisa membendung semua serangan bertubi-tubi yang dilancarkan padanya.
.
"Huwaaaaaaaaarrgghh!"
Tubuh Naruto terhempas lemas di sandaran sofa yang terasa empuk di punggungnya setelah menegang beberapa saat, kedua lengannya ia biarkan terkulai di tangan sofa.
.
.
.
.
KLOTAK
.
.
"Berapa kali kubilang jangan jatuhkan stick PS milikku Naruto-kun!" protes Hinata dengan suara yang terdengar halus, wajahnya tertekuk kesal melihat Naruto kembali menjatuhkan salah satu bagian game konsol yang baru saja ia beli.
Meringis, Naruto menatap datar televisi di depannya yang bertuliskan YOU LOSE dengan latar sosok karakter berdobok putih yang ia pilih jatuh dalam posisi terjengkang mencium tanah beberapa saat lalu, dia menggerutu kecil.
"Kejam." Lirih Naruto dengan bibir yang dikerucutkan. "Ayolah mengalah sekali saja padaku Hime, sudah lima kali kau membantaiku habis-habisan." Rajuk Naruto mengenggam tangan Hinata dengan kedua tangannya mengabaikan protes yang dilayangkan gadis itu sebelumnya.
Hinata segera mengalihkan pandangan kemana saja asal tidak menatap kedua mata Naruto yang berkaca-kaca meminta belas kasih sebagai tindakan pencegahan agar wajahnya tidak berubah lebih merah lagi oleh kehadiran Naruto yang lagi-lagi terlalu dekat.
"A-aku ss-sudah membiarkanmu menyerang dulu HP bar-ku setengah." Hinata berusaha mengabaikan degup jantungnya mendapati wajah Naruto yang semakin menekuk lucu.
Naruto melepas genggaman Hinata kemudian memungut dan menatap tajam stick yang dijatuhkan dengan kening berkerut. "Pasti stick ini rusak. Semua kombo yang kau ajarkan tidak keluar saat ku tekan."
"Ma-makannya jangan dijatuhkan tiap kali kau kalah Naruto-kun." Hinata gemas menghadapi kelakuan Naruto yang seperti anak kecil tak mau kalah.
'Dia ini beneran iblis atau bukan sih.' Batinnya heran.
"Tukar!" tukas Naruto dengan wajah Innocent, mengulurkan stick ke Hinata yang langsung sweatdrop melihat tingkah ajaib pemuda yang mengaku-aku dirinya seorang iblis.
.
Kurang lebih seminggu sudah Hinata keluar dari rumah sakit. Kini ia kembali ke kediaman keluarganya yang besar bersama Naruto. Sebenarnya Hinata enggan kembali ke rumahnya yang sepi—tidak bisa dibilang sepi juga karena banyak pelayan berkeliaran, hanya saja Hinata tidak dekat dengan mereka. Bahkan adiknya jarang sekali pulang.
Oleh karena itu kehadiran Naruto yang berpembawaan ceria sedikit membuatnya terhibur. Terlebih lagi Naruto selalu mempunyai bahan pembicaraan yang membuat Hinata tidak pernah merasa bosan.
"Aku lapar." Keluh Naruto setelah—lagi-lagi—menderita kekalahan meski sudah bertukar stick.
Kekalahan yang dialaminya sejak pagi membuat perut Naruto meraung lapar.
"Naruto-kun." Teringat sesuatu Hinata memanggil. "A-aku tidak pernah melihatmu menyerap energy negative manusia. Apa… apa tidak apa-apa?" tanyanya penasaran. Ia ingat betul Naruto mengatakan hanya energy itu yang membuat kekuatannya pulih dengan cepat.
"Tenang saja, itu hanya kegiatan iseng Hime, tidak akan begitu berpengaruh padaku." Dengan Naruto santai mengibaskan tangan seakan menegaskan hal tersebut benar-benar tidak mengganggu. "Sungguh aku tidak bohong." Imbuhnya kemudian berusaha meyakinkan Hinata yang menatap dengan pandangan cemas.
"Lalu Naruto-kun ingin makan apa sekarang?" tanya Hinata setelah diam beberapa detik.
Naruto berpikir sejenak.
"Ada sebuah tempat ramai yang ingin aku datangi." Naruto berguman pelan mengingat sebuah tempat yang belakangan ini menarik perhatiannya beberapa kali.
Kepala Hinata memiring bingung, ia memutuskan menunggu ucapan Naruto selanjutnya.
"Aroma makanan yang dijual tercium sangat lezat." Jelas Naruto lagi begitu mengingat bau harum yang menggelitik perutnya setiap melintas di atas tempat itu.
"Naruto-kun mau makan disana?" tawar Hinata.
"Ayo!" Sahut Naruto cepat dan langsung menyambar jaket tebal miliknya yang disampirkan pada sofa.
.
.
Naruto berdiri didepan sebuah kedai makanan bernama Ichiraku Ramen dengan cengiran lebar diwajah karena sudah tidak sabar ingin masuk ke dalam. Ia menoleh pada Hinata dibelakangnya yang masih berdiri bersandar pada tiang listrik dengan wajah pucat.
"Masih takut?" tanya Naruto dengan wajah innocent.
"Te-tentu saja! A a a-pa-apaan kecepatan seperti itu." Hinata memprotes keras. Wajahnya terlihat putih sambil menatap horror pada Naruto yang berdiri tak jauh tanpa rasa bersalah.
Getaran ditubuh Hinata tidak berkurang juga sejak tadi. Hinata mengutuk Naruto yang seenak jidat membawa terbang dirinya tanpa persetujuan terlebih dahulu. Sungguh bukan karena dirinya takut dengan ketinggian, Hinata bahkan pernah berdiri di tepi helicap gedung Hyuuga Crop yang memiliki ketinggian 48 lantai. Hanya saja Naruto terbang melesat sangat cepat, tubuhnya seperti berubah menjadi kerikil yang dilontarkan seseorang menggunakan ketapel. Belum lagi ketika Naruto mendadak menukik tajam sebelum mendarat. Hinata merasa dirinya menaiki pesawat jet yang akan jatuh menghantam tanah.
"Itu karena kau pertama kali terbang Hime, selanjutnya pas-"
"Ti-tidak mau." Tolak Hinata memotong perkataan Naruto. Ia kapok terbang, apalagi jika bersama Naruto.
Naruto berbalik mendekati Hinata kemudian bertolak pinggang. "Lalu bagaimana pulang nanti?" tantangnya.
"Naik bus."
"Tahu rute?" tanya Naruto lagi, tubuhnya membungkuk sedikit menyamakan tinggi badan dengan Hinata yang menunduk.
Glek. Hinata lupa kalau dirinya tidak pernah berkeliling kota seorang diri.
Seringai penuh kemenangan terukir dibibir Naruto melihat Hinata mematung.
"Sudahlah tidak perlu cemas begitu. Pulang nanti aku akan terbang pelan-pelan." Bujuk Naruto sambil menarik tangan Hinata menuju kedai ramen tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Tu-tunggu.. te-tetap saja aku tidak mau terbang lagi. Na-naruto-kun!" Hinata berjalan terseok, berusaha menyuarakan protes kembali pada Naruto yang mengabaikannya.
.
Hening. Suasana ramai kedai yang hampir penuh dengan pelanggan mendadak sunyi. Mulut mereka seolah terkunci melihat bagaimana sepasang manusia rupawan berjalan bergandeng tangan menuju konter untuk memesan. Mata mereka terpaku mengikuti kemana sepasang pemuda pemudi itu bergerak.
Pakaian mereka tidak mencolok, sama sederhananya dengan pakaian musim dingin umum. Yang membedakan adalah wajah dan pembawaan mereka. Yang pria sangat tampan dengan rambut pirang menawan dan mata biru memikat serta kulit tan yang berkesan eksotis. Hampir semua wanita yang berada didalam—tidak perduli berapapun usianya—menahan nafas tanpa sadar begitu pria itu melewatinya. Sedangkan yang wanita terlihat bagai boneka hidup, meski tengah menunduk hingga poninya menutupi mata. Garis rahang sang gadis yang halus dengan bibir mungil berwarna peach cerah dibalut kulit seputih salju tidak dapat menutupi kecantikan yang terpancar.
Dalam benak mereka bertanya, bagaimana bisa kedua orang yang terlihat bak pangeran dan putri kerajaan berada di sini? Apa mereka tidak merasa risih memilih makan di kedai sederhana seperti Ichiraku? Keduanya pasti mampu untuk makan di restoran mewah yang lebih layak dengan level mereka.
.
"Na-naruto-kun." Hinata berbisik pelan pada Naruto duduk di sampingnya.
Tanpa menjawab Naruto menoleh tanda dirinya mendengar panggilan pelan Hinata.
"Ti-tidak bisakah kau melakukan sesuatu pada mereka agar tidak menatap kita seperti ini." Bisiknya pelan merasa tak nyaman. Ia beberapa kali mendapati beberapa pasang mata yang terus menatap ke arah mereka tanpa berkedip.
Mereka berdua terpaksa duduk bergabung dengan orang lain karena semua kursi untuk dua orang sudah penuh.
"Aku sudah berusaha sejak tadi tetapi pesonamu terlalu kuat, usahaku jadi sia-sia." Keluh Naruto pelan. Pura-pura tentu saja. "Kau terlalu cantik sih Hime." Bisik Naruto tepat pada telinga Hinata dengan suara rendah yang terdengar menggoda.
Refleks Hinata segera menjauhkan telinga. Gadis itu berusaha menatap galak Naruto. Wajah cantik yang terlihat cemberut dengan pipi menggembung menunjukan ia tidak menyukai sikap Naruto di tempat umum seperti ini, namun demikian ia juga tidak bisa mengenyahkan semburat merah yang muncul.
Naruto tertawa, gemas melihat wajah ngambek Hinata ia mencubit pipi chubby itu tanpa memperdulikan jika sikapnya membuat orang semejanya terpaku antara terpesona oleh senyum dan iri dengan sikapnya.
.
.
"Waaaa…"
Decakan kekaguman, takjub, dan sedikit rasa heran—anggap saja begitu—melanda kedai ramen Ichiraku. Mata para pelanggan lagi-lagi menatap sepasang—ralat—sesosok pemuda yang sudah menarik perhatian mereka sejak pertama kali memasuki kedai.
Tatapan yang semula menganggap dirinya berasal dari sebuah negeri dongeng antah berantah pun berubah.
.
Belasan tumpuk mangkuk ramen kosong terpajang di atas meja depan Naruto. Semua mata tertuju padanya, termasuk Hinata.
Hinata tahu Naruto bukan manusia. Ia tidak mempedulikan kemana ramen-ramen itu pergi, ia juga tidak khawatir Naruto akan mengalami sakit perut atau menderita gangguan pencernaan bahkan usus buntu akibat terlalu banyak mengkonsumsi mie. Tetapi menatap langsung proses pengosongan semua belasan mangkuk tepat di depan mata cukup membuat nafsu makannya menghilang.
Entah mengapa perutnya mendadak kenyang. Padahal ramennya masih tersisa setengah.
Mata besar Hinata masih mengawasi Naruto yang menyumpit lahap mie dimangkuk yang hampir tandas.
"Fuuaah~ nikmat sekali." Serunya riang setelah mangkuk ditangannya habis. "Ng? Ramenmu tidak dimakan lagi Hime?" tanya Naruto saat matanya menatap mangkuk ramen Hinata.
Hinata menggeleng pelan tanpa melepas tatapannya.
"Untukku saja, sayang kalau makanan seenak ini disisakan." Ujarnya langsung melahap ramen Hinata.
—Duk.
Dalam sekejap isi mangkuk Hinata juga telah bersih.
"Gochisousamadeshita!" Naruto menyatukan kedua telapak tangannya.
Riuh nyaring terdengar kembali melihat Naruto telah mengakhiri sesi makan.
"Du-dua puluh lima setengah mangkuk." Gumam Hinata tak percaya.
.
Sepanjang jalan pulang Hinata tidak bisa menahan tawa mengingat kembali bagaimana ekspresi Naruto yang ingin memesan kembali tetapi sudah keburu habis dan bagaimana orang-orang yang menatap horror mangkuk-mangkuk kosong bekas makannya. Tidak aneh mengingat bagaimana Naruto masih tampak kelaparan meski telah menandaskan puluhan porsi, saking anehnya semua orang masih terus menatap dan mengikuti hingga keluar kedai ketika mereka beranjak pulang.
"Aku tidak bisa menahan diri untuk berhenti makan hehehe…" cengir Naruto kikuk melihat Hinata yang terus menerus mentertawakannya. "Habis rasanya enak sekali."
"Aku tahu." Hinata berucap masih dengan senyum diwajah.
"Setidaknya mereka berhenti menatapmu kan?"
"Ah…Be-betul juga." Jawab Hinata, pipinya sontak memerah.
Mereka berdua memutuskan jalan-jalan sebentar sebelum pulang. Hinata masih bersikeras tidak ingin terbang walau Naruto sudah membujuknya berulang kali. Meskipun pengalaman pertamanya dengan Naruto cukup buruk, dia tidak menampik rasa senang yang menghadirkan rasa hangat dihatinya.
Hinata memang selalu merasa senang tiap kali bersama Naruto. Terutama hari ini. Ini pertama kalinya Hinata keluar rumah tanpa dikawal pelayan. Pertama kali pergi makan malam bersama seseorang yang dikenalnya. Pertama kali juga berinteraksi dengan banyak orang selagi menonton acara makan Naruto, serta pertama kali mengalami kejadian mengesankan dalam hidupnya.
Langkah Naruto terhenti ketika mereka melewati sebuah taman, punggungnya terasa ditabrak oleh sesuatu tak lama kemudian.
"I… itte."
Naruto terkekeh melihat Hinata mengaduh dengan tangan mengusap hidung. Sepertinya ia mengerti apa yang menabraknya barusan.
"Mau main itu Hime?" tawar Naruto sambil menunjuk sebuah ayunan kosong di sudut taman kecil. Ditarik tangan yang lebih kecil darinya begitu mendapatkan anggukan kecil Hinata.
Tidak ada siapapun di sana. Malam telah larut ditambah udara dingin musim dingin yang membuat orang enggan keluar rumah.
Hinata melihat Naruto melompat ringan ke ayunan, kedua tangannya berpegangan erat pada rantai dengan kaki berpijak di papan yang seharusnya digunakan untuk duduk. Dia menggerakan tubuh dan langsung berayun tinggi tanpa rasa takut.
"Ha-hati-hati Naruto-kun. Kau bisa jatuh." Kening Hinata berkerut melihat Naruto yang bertingkah seperti anak kecil.
Naruto menertawai ekspresi Hinata. Apa dia lupa kalau Naruto iblis? Berayun seperti ini tidak akan membuatnya jatuh.
"Tidak apa-apa, tenang saja." Kata Naruto santai. "Sudah lama aku tidak main ini."
"Benarkah?" tanya Hinata tertarik, ia mendekat dan duduk di ayunan lain samping Naruto.
Naruto mengangguk, "Terkadang di sela misi, aku suka bermain dan berbaur dengan manusia untuk menghibur diri."
"Misi?"
"Ya, aku bukan iblis bebas seperti iblis lainnya." Naruto bercerita pelan. "Ribuan tahun lalu aku adalah sesosok iblis jahat yang sering mengacau di dunia iblis. Aku suka bertarung, membunuh sesama iblis, dan banyak melanggar peraturan dunia iblis." Naruto berhenti sebentar untuk melihat reaksi Hinata.
Melihat Hinata diam hanya menatapnya Naruto memutuskan melanjutkan, "Di kurung dan di hukum puluhan tahun tidak membuatku jera, hingga suatu hari Daimaou menawarkan suatu hal yang menarik kalau aku mau bekerja padanya untuk dunia iblis."
Hinata melihat Naruto terkekeh sebentar. Ia tetap diam menunggu, baru kali ini Hinata mendengar Naruto menceritakan tentang dirinya tanpa di tanya terlebih dahulu.
"Tetapi setelah ribuan tahun terlewati akhirnya aku kembali melanggar peraturan." Naruto melirik Hinata kemudian tertawa melihat Hinata yang mengerutkan kening tanda tidak mengerti. "Iblis dilarang tinggal di dunia manusia..." Naruto sengaja menggantung penjelasannya sambil menatap intens lavender pucat milik gadis yang tengah menatap penasaran. "… Sejak mendengar nyanyianmu, aku memutuskan untuk meninggalkan dunia iblis dan tinggal di dunia manusia."
Hinata tidak bisa menahan diri untuk tidak terkejut.
"Sudah kubilang, Nyanyianmu memanggilku, Hime." Kata Naruto dengan seringai menawan seperti pertama kali mereka bertemu.
.
"Naruto-kun." Panggil Hinata setelah beberapa saat mereka berdua terdiam karena pengakuan mengejutkan Naruto.
"Ya?"
Hinata masih menundukan kepala, menutupi wajah yang memerah sejak tadi entah karena udara malam yang semakin dingin atau efek senyuman Naruto sebelumnya. Kakinya menyentak pasir membawa tubuhnya berayun perlahan. "Ba-bagaimana rasanya menjadi seorang iblis?" tanya Hinata gugup, dia merasa tidak sopan bertanya seperti ini dan meruntuki dirinya yang tidak bisa menahan rasa penasaran.
"Maksudmu?"
"Apa… apa kau bahagia?" tanya Hinata dengan suara lirih. "Aku…" suara Hinata mengecil dan akhirnya menghilang, seperti menimbang akan bercerita atau tidak.
Melihat Hinata seperti itu membuat Naruto memutuskan untuk diam menunggu.
"Saat kecil sebelum ibuku meninggal, aku sangat bahagia." Hinata akhirnya memulai perlahan sementara Naruto mendengarkan. Dia tahu bagian itu karena membaca ingatan Hinata. "Saat beliau meninggalkan kami setelah melahirkan adikku, Ayah yang penuh perhatian berubah menjadi dingin. Adik perempuan yang kumiliki tumbuh tanpa pernah merasakan kasih sayang orangtua."
"Aku berusaha menjadi kakak sebagaimana seharusnya. Setidaknya aku ingin dia tahu kalau aku menyayanginya, tetapi kami jarang bertemu. Itu disebabkan karena aku terlalu sering opname di rumah sakit. Kami juga jarang mengobrol." Hinata menarik nafas panjang sesaat dan menghembuskannya perlahan sebelum melanjutkan, "Aku sering pingsan jika terlalu memaksakan diri menemaninya bermain. Kelakuanku akhirnya diketahui Ayah yang curiga seringnya aku pingsan. Ayahku murka pada adikku, dan dia jadi membenciku." Amethyst Hinata terlihat meredup.
"Sungguh tidak pernah sedikitpun aku menyalahkannya, itu semua karena kecerobohanku yang selalu pingsan saat kelelahan." Ucap Hinata lagi dengan sorot mata semakin menggelap. "Puncaknya adalah saat dia mengetahui perubahan sikap Ayah dikarenakan oleh kepergian Ibu setelah melahirkannya.
"Tiga belas tahun yang lalu, awal semua hancurnya kebahagiaan keluargaku dan Sepuluh tahun yang lalu aku mulai mempertanyakan sesuatu…"
"…sebenarnya untuk apa aku hidup."
Hinata menengadahkan kepalanya menatap bulan purnama yang bersinar terang di langit malam musim dingin dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Sampai detik inipun aku masih mempertanyakan hal itu." Hinata menyentakan kakinya kembali saat ayunannya terhenti. "Saat aku mendengar vonis dokter yang mengatakan aku mengalami kelainan jantung bawaan dan tidak akan bertahan hingga berusia dua puluh tahun kuputuskan untuk berhenti meratap. Aku tidak ingin merasa menyesal ketika mati nanti. Aku ingin menikmati sisa hidupku meskipun seorang diri. Dan aku masih ingin mencari jawaban atas pertanyaanku sendiri."
Angin musim dingin berhembus pelan. Hinata menutup mata, menikmati dinginnya hembusan angin musim kelahirannya yang menerbangkan helaian lembut rambut Indigonya yang terurai halus.
Klang.
Mata Hinata langsung terbuka merasakan sesuatu berpijak di sisi kiri kanan ayunan yang ia duduki.
"Naruto-kun?" Dilihatnya Naruto tengah berdiri di atas ayunan yang sama dengan yang ia tempati.
Senyum Naruto terukir begitu Hinata mendongak ke atas menatapnya. "Aku akan mendorong." Kata Naruto dengan senyuman yang bertansformasi menjadi cengiran lebar. "Pegangan!" serunya mengingatkan.
"Kyaaaa." Hinata menjerit saat tiba-tiba dirinya dan Naruto berayun tinggi.
Semakin tinggi mereka berayun semakin menyadarkan Hinata kalau berayun seperti ini rasanya begitu bebas, ringan dan menyenangkan, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Untuk beberapa saat yang terdengar hanya deritan besi yang terayun cepat.
"Hinata."
Deg.
Jantung Hinata terasa berdegup dan darah di nadinya berdesir mendengar Naruto menyebut namanya tanpa suffix-Hime dengan nada yang juga pertama kali didengarnya.
"Kau sudah sehat." Kata Naruto tanpa menghentikan ayunan. "Aku sudah menyingkirkan Cilliata dan kau akan hidup lebih dari dua puluh tahun." Tambahnya dengan nada yakin.
Hinata merasakan pijakan kaki Naruto menghilang, tak lama kemudian Naruto muncul di hadapan Hinata dengan sayap menawannya yang terkembang lebar di punggung. Kedua tangannya terulur menghentikan laju ayunan. Naruto membungkukkan badan agar matanya menatap sejajar amethyst indah yang dapat menyaingi sinar bulan milik Hinata, setelah sempurna berhenti kedua tangannya langsung menangkup lembut rahang mungil Hinata.
Sadar apa yang terjadi Hinata membeku karena mendapati tatapannya tidak bisa dialihkan dari lautan sapphire yang memerangkapnya.
"Jawabanmu, hanya kau sendiri yang bisa menjawabnya, tapi kalau jawaban pertanyaan yang kau berikan padaku, aku akan menjawab…" Naruto mendekatkan wajahnya ke telinga Hinata dan berbisik lembut.
.
.
.
"Aku bahagia, karena aku iblis, aku bisa bertemu denganmu."
.
.
.
.
つづく
.
.
.
.
Istilah :
『突風。』 : "Tiupan"
Ore wa akuma da. Tenshi janai. Baka yaro. : Aku adalah iblis. Bukan malaikat. Dasar bodoh.
Yareyare : Ya ampun
Hora mita! : hei lihat itu!
Mattaku, matta tooitte aitsu ga : Astaga, sudah jauh saja dia.
Nande : Ada apa?
Naze : kenapa
『暗闇の中で蓄積された電力、長い眠るから上昇、勤く見る。』 : "Wahai kekuatan yang tersimpan dalam kegelapan, bangkitlah dari tidur panjangmu, tunjukanlah padaku."
Gochisousamadeshita : ungkapan rasa terima kasih atas jamuan yang diberikan, diucapkan setelah makan.
.
.
Akhir kata Ho ucapkan
本当にありがとうございます。
Hotaru Out.
