Chapter 5 : Nightmare


"Aku bahagia, karena aku iblis, aku bisa bertemu denganmu."

.

.

Untuk kesekian kalinya Hinata membenamkan wajah ke bantal sofa berukuran 40x40 cm yang ia dekap. dialihkannya pandangan dari sosok Naruto yang sedang asik dengan dunianya sendiri—menembaki bebek-bebek yang berterbangan di layar televisi menggunakan salah satu konsol game berbentuk pistol sambil meniru gaya koboy. Wajahnya terasa terbakar, rona merah di kedua pipinya tidak juga menghilang. Bahkan ia bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri yang otomatis berdebar terlalu cepat tiap kali teringat ucapan Naruto di malam itu.

'Kami-sama, apa yang terjadi padaku.' Gerutunya dalam hati.

Tiga hari berlalu sudah sejak kalimat manis tersebut terucap dari mulut Naruto. Hinata ingat betul bagaimana sapphire Naruto terlihat begitu menawan hingga mendapati dirinya tidak dapat berpaling. Sikapnya yang lembut juga nada yang terucap begitu tulus dan penuh akan rasa syukur begitu tepatri di kepala Hinata.

Perasaan asing yang baru pertama kali Hinata rasakan benar-benar membuatnya gila. Gadis berambut lurus itu tidak suka dengan luapan perasaan yang begitu membuncah seakan tak tertampung tubuh sehingga ia merasa kacau, ini bukan dirinya… ia tidak mengetahui sisi dirinya ini.

Selama ini Hinata selalu bisa meredam segala macam emosi yang datang menghampiri, tidak peduli seberapa besar emosi tidak menyenangkan tersebut menghantam Hinata, hati dan tubuhnya pasti selalu dapat meredam itu semua. Kali ini berbeda… Kendati tidak suka— karena terlalu menggebu, gadis pemilik pipi cubby ini tak menampik menyukai rasa hangat yang turut hadir bersamaan dengan perasaan menggebu tersebut.

Ia menghela nafas pelahan, berupaya meredam debaran gila pada jantungnya.

.

Bagaimana bisa sesosok iblis begitu senang hanya karena bertemu dengan seorang gadis manusia biasa?

Sungguh, Hinata tidak habis pikir. Berapa kali dan dari sudut manapun ia tetap tidak mengerti apa yang mendasari Naruto berkata seperti itu.

Sisi logikanya berteriak untuk tidak percaya begitu saja perkataan seseorang—terutama iblis. Segala hal yang berkaitan dengan iblis adalah buruk. Mereka sosok egois, penuh hasrat duniawi, dan gemar melakukan sesuatu yang tidak baik. Sosok yang akan melakukan apapun untuk mendapat apa yang diinginkan. —Setidaknya itulah beberapa hal informasi tentang iblis yang diketahui Hinata dari buku maupun internet, belum lagi dengan pengakuan iblis berwujud pemuda tampan itu sendiri… mengatakan bahwa dia bukanlah sosok iblis baik, gemar menghasut untuk menambah kekuatan, berbuat kekacauan demi kesenangan, hingga membunuh sesama. Dan tidak ada satupun yang baik dari tiga hal yang disebutkan Naruto.

Mengingat hal itu membuat sesuatu terlintas dikepalanya; Jikalau sesama iblis saja dia tak segan membunuh, bagaimana dengan manusia? Pernahkah Naruto membunuh manusia?

Hinata tidak tahu jawabannya.

Helaan nafas rendah kembali terdengar. Gadis berponi rata ini kecewa pada dirinya yang bisa mempunyai pikiran menyeramkan seperti itu.

Kendati kepalanya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan negative, di lain sisi hati kecil Hinata seolah berkata bahwa ia harus percaya pada Naruto. Samar… sesuatu dalam dirinya percaya bahwa Naruto tidaklah sama dengan iblis lain.

Di dunia ini, mana ada seorang maling mengakui dirinya adalah seorang maling kan? Setidaknya itulah yang menjadi pegangan Hinata.

Dan kalaupun benar dia bukan sosok yang baik, lalu mengapa… mengapa Naruto begitu baik pada dirinya?

.

Sejak Naruto mengeluarkan sesuatu yang dia sebut Cilliata dari dalam tubuh Hinata, ia tidak pernah lagi merasakan nyeri di jantung. Tubuhnya kini terasa ringan, dia juga tidak pernah merasakan demam atau sakit kepala tiba-tiba yang tak jarang membuatnya jatuh tidak sadarkan diri. Tim dokter yang menangani Hinata pun dibuat bingung dengan perubahan pesat fisik Hinata yang semakin membaik. Oleh karena itu ia diperbolehkan keluar lebih cepat dari rumah sakit disaat berat badannya sudah kembali ideal.

Berpikiran mengenai dokter, ada hal yang kembali menganjal.

Sebelum keluar dari rumah sakit, Hinata diwajibkan menjalani medical cek up. Saat itu berlangsung ada satu dokter yang absen menemani dirinya. Padahal sebelumnya dokter itu selalu ada di setiap jadwal pemeriksaan.

"Yakushi Kabuto." Tanpa sadar Hinata menyuarakan nama tersebut.

Bagaimana bisa ia melupakan dokter yang selalu merawat dirinya sejak kecil?

.

"Ada apa memangnya?"

Hinata terlonjak, terkejut mendengar suara baritone tak asing Naruto tepat disamping. Hinata menoleh, didapatinya Naruto tengah duduk bersila di sebelahnya.

"Na-Naruto-kun! Kau membuatku terkejut." Hinata berkata gugup, refleks bergeser menjauh mengingat jarak mereka yang lagi-lagi terlalu dekat. Bukan karena tidak suka kalau Naruto dekat-dekat dengannya, hanya saja gadis itu tidak sanggup menahan debaran jantung yang semakin menggila dan rona merah yang bisa dipastikan kembali bertengger.

Alis Naruto terangkat sebelah, heran melihat bagaimana gadis itu beringsut perlahan menjauhinya,"Aku sudah berada di sini sejak tadi, kau saja yang sibuk melamun Hime." Naruto membela diri. "Ada apa memang dengan iblis itu?"

Tu-tunggu, iblis katanya? Dokter Yakushi-san itu iblis?

Tanpa sadar Hinata melotot pada Naruto, ia tidak salah dengar kan?

"I-iblis?" Hinata tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

'Dokter baik hati itu iblis?' sangsinya dalam hati, kepala Hinata menggeleng tak percaya… konyol, kenapa Naruto bisa berkata seperti itu?

"Ba-bagaimana bisa… ti-tidak mungkin dia-"

"Kau lupa aku siapa Hime?" Naruto memotong santai, menekan ucapannya pada kata 'siapa' yang membuat Hinata terhenyak shock.

Benar… Hinata melupakan hal itu

"Kami bisa membedakan semua makhluk astral, hanya dari pancaran chakra dan hawa keberadaan." Serta aura mereka, tambah Naruto dalam hati.

"Ta-tapi kenapa Naruto-kun tahu? Mak-maksudku kenapa−tidak bukan, Apa Naruto-kun kenal?" Hinata gusar, rasa ketidak percayaan besar masih bercokol dalam hatinya. Seingatnya Naruto memang datang di hari yang sama dengan jadwal pemeriksaan dokter itu, tetapi mereka tidak bertemu. Naruto datang menjelang tengah malam.

"Dia langsung menyerang begitu melihatku."

"A-apa!" Hinata tersentak, "Ka-kapan? Ke-kenapa kau tidak memberitahuku Naruto-kun." Tanyanya dengan kening berkerut cemas. Cemas pada Naruto dan ketidak percayaan bahwa dokter itu adalah iblis bercampur menjadi satu.

"Saat itu kau tidur Hime, aku juga sedang membuka kiriman game konsol milikmu, tahu-tahu dia datang, bertanya dirimu dan langsung menyerang." Jelas Naruto Innocent. Dia tidak bohong memang itulah yang terjadi… hanya melewatkan detail kronologis.

"A-Apa! i-itu sudah sebulan yang lalu Naruto-kun! Kenapa kau baru cerita sekarang?" protes Hinata gusar. "Dan dia menyerangmu? Ke- kenapa?" lanjutnya setengah bergumam, Hinata shock mendengar cerita Naruto. "Apakah… apakah dia… maksudku... e… to… apa dia…" mati? Hinata tidak sanggup melanjutkan pertanyaannya, gadis di depan Naruto menggelengkan kepalanya mengusir bayangan menyeramkan Naruto yang sedang menghabisi dokter baik hati itu.

"Kupikir tidak penting kau tahu mengenai kejadian itu dan Aku tidak tahu penyebabnya." Jawab Naruto jujur, dia memang benar-benar tidak tahu kenapa dirinya diserang, "Oh! Dia kabur, aku tidak sempat membunuhnya." Sambung Naruto seakan bisa membaca pikiran Hinata. Tidak sulit menebaknya, pasti Hinata berpikir seperti itu setelah sebelumnya Naruto pernah mengaku suka membunuh sesama iblis. Hinata pasti takut padanya.

Hinata menghela nafas lega, sesaat Hinata melirik Naruto tapi langsung membuang wajah dan menggeser duduknya lagi sedikit lebih menjauh.

Naruto mengernyit, tak suka melihat sikap Hinata yang selalu menjauhinya beberapa hari belakangan.

"Apa kau masih tidak suka padaku?" tanya Naruto masih dengan kerutan dalam di kening,

Ha? Apa maksud Naruto?

"Atau takut padaku…" lanjutnya pelan. Hatinya terasa sedikit tercubit melihat Hinata yang terus-terusan menjauh.

Takut pada Naruto? Yang benar saja? Hinata mengerjap,— tidak pernah sedikitpun ia merasakan takut sejak pertama kali mereka bertemu.

"A-Apa? ti-tidak! Bu-bukan begitu!" jawaban cepat Hinata membuat Naruto kembali menatap Hinata. "Ma-ma-ma-maksudku ti-tidak seperti itu. A-aku tidak takut padamu." Jelas Hinata salah tingkah karena tatapan intens Naruto yang terlihat begitu menuntut. Hinata tidak mengerti mengapa Naruto bisa sampai mengira dirinya mempunyai rasa takut padanya, Kami-sama… Hinata tidak pernah merasakan itu, justru sebaliknya.

"Su-sungguh!" Bantahnya gugup berusaha meyakinkan Naruto yang melemparkan ekspresi penuh keraguan, telapak tangannya bergoyang ke kanan-kiri dan warna pipi yang kembali merona merah justru membuat Naruto semakin bingung.

Sebegitu takutkah Hinata hingga pipinya berubah semakin merah karena menahan takutannya?

Ah, bodoh sekali Naruto.

"Lalu, kenapa selalu menjauhiku?" tanya Naruto lagi, tidak tahan melihat Hinata selalu menghindar ketika ditanya atau menolak diajak bermain game seperti sebelumnya. "Kau selalu menjauh setiap kali aku berada di dekatmu, Hime."

Hinata kembali tersentak mendengar pertanyaan penuh dengan nada menuntut untuk segera dijawab. Jadi begitu, kini Hinata paham kenapa Naruto mengira ia takut karena sikapnya yang refleks menjaga jarak.

"I-i-i-i-i-i-itu… Bu bu-bukan apa-apa." Elak Hinata bertambah gugup, bingung harus memberi jawaban apa. Kepalanya berfikir keras mencari alasan logis untuk menjawab pertanyaan Naruto.

Tidak mungkin kan Hinata mengatakan jantungnya selalu berdebar setiap berada di dekat Naruto, tidak mungkin juga kan Hinata mengatakan perutnya terasa bergetar aneh setiap kali indera penciumannya menangkap harum citrus menyegarkan yang menguar dari tubuh Naruto dikarenakan menahan godaan untuk tidak terus menerus menghirupnya, dan tidak akan mungkin kan Hinata mengatakan betapa darahnya berdesir begitu cepat saat kulit mereka tanpa sengaja bersentuhan, oh dan demi kami-sama! Yang lebih membuat Hinata merasa lebih gila adalah dirinya menikmati itu semua! Tidak! Tidak akan! Sampai matipun Hinata tidak akan pernah punya keberanian mengatakan hal se-erotis itu. Memikirkannya saja membuat Hinata ingin lari dan bersembunyi dari Naruto, apalagi kalau sampai dia mengatakannya, Hinata bisa nekat mengubur dirinya hidup-hidup karena tak tahan menahan malu.

"Aku tidak akan tahu kalau kau tidak mengatakannya." Tukas Naruto, matanya menyipit curiga menatap Hinata yang masih saja terdiam. "Apa susahnya mengatakan apa yang kau rasakan, Hime?" cecar Naruto.

'Susah! Sangat. Susah!' jerit Hinata dalam hati.

"T t te-terlalu memalukan. A-aku tidak sanggup mengatakannya." Jawab Hinata sedikit histeris mendapati desakan dan tatapan tajam Naruto. Dibenamkan kembali wajahnya pada bantal sofa yang sejak tadi berada dalam dekapan sambil meruntuki dirinya sendiri. Tidak sanggup membalas tatapan Naruto yang menatap bagaikan seorang aparat keamanan yang sedang mengintrograsi seorang penjahat, dia tidak akan bisa tidak bicara gugup di depan Naruto. Bukan karena dia seorang penjahat tapi lebih karena Naruto itu sendiri.

"Apa?" Kata Naruto tak percaya mendengar jawaban Hinata yang diluar dugaannya, "Memalukan maksudmu… Kau… sedang malu? Benar begitu Hime?" tanyanya lagi untuk memastikan dirinya tidak salah dengar Hinata berkata 'memalukan'. Benarkah gadis didepannya sedang merasa malu? Serius?

Anggukan kecil kepala Hinata menjawab pertanyaan Naruto.

"Sungguh? Kau sedang tidak takut padaku melainkan malu padaku?" tanya Naruto lagi-lagi merasa kurang yakin.

Geez Naruto. Tidak perlu bertanya sampai dua kali. Sasuke pasti sudah mengataimu dobe kalau dia berada di sini.

Hinata kembali menganggukan kepalanya lebih tegas membuat Naruto sejenak terdiam.

"Oh ya ampun!" Naruto mendesah lega, menertawakan diri sendiri karena ketakutan yang tidak seharusnya dirasakan. Bagaimana bisa kecemasan mengambil alih dirinya hingga melupakan sorot mata Hinata saat mereka pertama kali bertemu.

Ya, hanya sorot mata terkejut tanpa ada kilatan rasa takut sedikitpun.

Hinata menjerit kecil, terkejut karena Naruto tiba-tiba saja menarik kedua lengannya hingga tubuhnya jatuh menabrak dada bidang di depannya. Naruto, langsung memeluk tubuh Hinata erat begitu berada dalam dekapan. Sangat erat. Hingga membuat Hinata tidak bisa bernafas. Namun sedetik kemudian justru dia yang menahan nafas begitu menyadari jarak wajah mereka yang—lagi-lagi—terlalu dekat.

Permata sapphire didepan Hinata menatap lurus tepat pada sepasang amethyst miliknya, menyorot tajam secara intens tapi terasa lembut dan hangat. Tatapan yang membuat Hinata tanpa sadar terhanyut dan melebur ke dalam lautan netra hangat Naruto. Dia benar-benar membuat kesadaran Hinata kian menipis.

"Terima kasih."

Perkataan Naruto menarik kembali kesadaran Hinata ke dunia nyata.

'Eh?' kedua mata Hinata melebar. 'Terima kasih untuk apa? Kenapa Naruto berterima kasih?'

Naruto kembali memeluk, kali ini tidak terlalu erat seperti sebelumnya. Ia merebahkan kepala di perpotongan bahu dan leher Hinata yang memandang bingung. Hinata sedikit bergidik merasakan hembusan angin sejuk yang Naruto hembuskan dilehernya saat bernafas.

"Aku benar-benar bersyukur telah bertemu denganmu."

Hinata tersentak.

Lagi-lagi… Naruto membuat Hinata tidak mengerti jalan pikirannya sendiri. Mengapa Naruto bisa berbicara seperti itu tanpa beban. Bukankah dia adalah iblis? Seorang iblis merasa bersyukur telah bertemu dengan manusia, terlebih lagi manusia itu adalah dirinya, dirinya yang bahkan tidak mengerti untuk apa dia hidup.

Dan kenapa hatinya terasa hangat setiap kali mendengar perkataan Naruto. Hinata benar-benar tidak mengerti, bahkan saat kedua lengannya terulur memeluk punggung dengan tangan mengait vertical pada bahu tegap Naruto pun Hinata masih tidak mengerti juga kenapa dia melakukan hal ini.

Entahlah… Hinata tidak tahu. Yang dia tahu kini hanyalah rasa nyaman pada hatinya, rasa hangat membuatnya memejamkan kedua mata dan ikut menyenderkan kepalanya pada kepala Naruto. Mencoba meresapi rasa nyaman yang semakin menghangatkan hatinya yang begitu dingin. Dipatrikan semua hal yang dirasakannya saat ini.

Dan Hinata tidak ingin kenyamanan ini cepat berakhir.

.

.

.NARUTO FANFICTION

Angel? No Devil!

Diclaimer : Naruto©Masashi Kishimoto

Angel? No Devil!©Hotaru

Genre : Romance, H/C, Fantasy

Rate : T+

Pairing : Naruto x Hinata

Warning : OOC, MissTypoo(s), Gaje

Bagi yang Anti NaruHina disarankan segera tekan tombol back!

Tidak menerima flame yang tidak bertanggungjawab dan tidak rasional

Sangat terbuka untuk kritik dan saran

Don't Like Don't Read!

.

.

.

.

Deal!

はじめ

.

.

.


.

.

Gelap….

Dingin…

Licin…

Basah?

Dimana ini?

Batu?

Apa aku sedang meraba sebuah batu?

Tempat apa ini?

.

Tetesan air terdengar bergema di sekitarku. Aku bisa merasakan dinginnya genangan air yang mengiringi setiap kakiku melangkah.

Tempat ini sangat gelap, uap panas mengepul dari hembusan nafas memburu yang kukeluarkan.

Jantungku berdebar tak karuan sementara seluruh tubuh gemetar menahan hantaman rasa takut dan gelisah yang tidak kupahami sebabnya.

Apa karena kegelapan ini?

Tidak, kurasa bukan karena itu…

Aku tahu aku takut tempat gelap, tetapi aku merasa bukan karena itu aku takut. Rasa takut ini melebihi ketakutanku pada tempat gelap.

Apa karena aku tidak tahu dimana ini atau bagaimana bisa berada di tempat ini?

Kurasa tidak juga, buktinya aku tetap berjalan. Melangkah pasti dengan tangan masih tetap setia berpegangan pada sesuatu yang terasa keras seperti batu, tapi licin dan basah.

Sebenarnya aku mau kemana? Dan mengapa dadaku terasa sesak tidak karuan seperti ini?

Takut. Aku sungguh takut, gelisah… dan cemas…

.

Sekelebat senyuman hangat wajah seseorang tiba-tiba terlintas di kepala.

"Naruto-kun." Gumamku tanpa sadar. Suaraku terdengar keras dan bergaung beberapa kali.

Ah! Aku ingat!

Aku ke sini karena Naruto. Aku di sini karena Naruto.

'Naruto-kun… Naruto-kun… kau dimana?' batinku gelisah.

Tanpa sadar langkahku semakin cepat, semakin lebar, dan akhirnya aku berlari.

Aku tidak peduli lagi betapa gelap dan dinginnya gemericik air yang semakin membuat tubuhku basah, tidak peduli bagaimana bisa aku berada di tempat ini. Yang aku inginkan hanya satu.

Naruto.

"Naruto-kun! Naruto-kun! NARUTO-KUUUN!" jeritku kalut memanggil berulang-ulang.

Semakin banyak aku memanggil semakin besar rasa takut yang aku rasakan. Aku takut tidak bisa bertemu denganmu lagi, tidak bisa melihatmu lagi, dan tidak bisa bersamamu lagi. Aku benar-benar takut.

Rasanya gelisah. Rasanya cemas. Aku… "Naruto-kun, kau di mana?"

"NARUTOOOOOOOOOOO!" jeritku putus asa.

.

Semakin lama mataku terbiasa dengan kegelapan, samar aku melihat dimana aku berada.

Ini… lorong gua? Dan itu… cahaya?

Kupercepat langkah begitu menangkap setitik cahaya di ujung gua. Aku tidak mempedulikan sakit pada paru-paru dan tenggorokan yang protes karena terus berlari dan berteriak, aku tidak mempedulikan telapak kakiku yang semakin terasa perih karena batu-batu tajam yang terhampar di sepanjang jalan.

Sreeet..

"Ah!"

Byuur.

Sesuatu yang licin membuatku terjatuh ke genangan air di bawah.

Tanpa mempedulikan tubuh yang basah aku kembali bangkit dan berlari. Aku ingin secepat mungkin bertemu Naruto, tidak ada waktu untuk merintih, tidak ada waktu untuk mengeluh dan tidak ada waktu untuk mengeringkan air yang mengalir deras dari kedua mataku.

Lariku semakin cepat melihat sinar yang perlahan semakin mendekat, hingga seberkas sinar terang langsung menyambut begitu kakiku menjejak di sana, membutakan pandanganku sesaat sebelum kembali membuka mata…

Dan menemukan sosoknya…

.

Aku melihatnya…

Pemuda berambut pirang yang selalu tegak bersinar itu kini lepek menggelap dan basah.

Pemuda bermata biru yang sering kali berkilat jahil itu kini redup.

Pemuda dengan sudut bibir yang selalu tertarik ke atas kini berhiaskan liquid segar berwarna merah.

Tidak ada lagi senyuman pada bibir tipis itu…

Airmata kembali mengalir deras tanpa diperintah mendahului tubuhku yang masih membeku. Jantungku terasa berhenti, dadaku bagai terjepit, dan mataku terbelalak seakan keluar dari rongganya.

Ya, akhirnya aku melihat dan bertemu dengannya…

Tetapi… tidak pernah sekalipun aku berharap akan menemukan sosoknya dalam keadaan seperti ini…

"Nigero… Hinata…"

Gerakan lemah bibir Naruto yang terbaca bagai petir yang menyentakkan kembali kesadaranku ke tempat asal.

"Naruto-kun." Panggilku lemah setelah berhasil menemukan kembali suara yang sebelumnya sempat hilang akibat shock.

Melihat bagaimana tubuh Naruto diangkat perlahan oleh seekor ular besar berkepala delapan dengan salah satu kepalanya.

"Tidak…" kataku bersamaan dengan kaki yang melangkah semakin dekat melihat kepala ular yang mengangkat Naruto perlahan akan menelannya. "Tidaak! Tidaaaaak!" jeritku sambil berlari menghampiri ke arah Naruto.

Aku takut… Aku takut… ular itu akan menelan Naruto! Tidak! Jangan!

"Nigero…"

"TIDAAAAAAK!"

.

.

.


.

.

.

"….ta."

.

.

"Hinata…"

.

.

.

.

"Hinata!"

Sentakan tegas tidak terlalu kuat dilakukan di kedua bahu Hinata oleh Naruto yang melihat gadis itu bangun terduduk dari tidurnya. Hal itu dilakukan setelah berulang kali dirinya gagal membangunkan Hinata. Jelas sekali Hinata mengalami mimpi buruk. Tidak mungkin dia menjerit histeris tengah malam begini menyerukan namanya sambil menangis dalam keadaan tidur.

Ini kedua kalinya Naruto melihat Hinata terbangun dari mimpi buruk. Berbeda dengan sebelumnya ketika dirumah sakit saat mereka pertama kali bertemu, kali ini Naruto melihat Hinata seakan masih berada di dalam mimpi meski kedua mata gadis ini sudah terbuka penuh−baca : melotot− dan menatap langsung tepat pada mata Naruto. Naruto menatap cemas amethyst di depannya yang kosong dengan airmata yang mengalir deras, bibir tipis Hinata juga masih terus memanggil-manggil namanya.

"Hinata!" Naruto mengeraskan suaranya dan menyentakkan Hinata sekali lagi agar pandangan gadisnya kembali focus ke dunia nyata.

Naruto merasakan bahu Hinata menegang sebentar dan perlahan sorot mata Hinata kembali terisi cahaya dan tangisnya terhenti, tanda kalau usahanya menarik Hinata kembali ke alam nyata berhasil.

"Hinata…" panggil Naruto lagi lebih lembut tanpa memutus tatapanya pada Hinata. Dihapusnya jejak air mata Hinata dengan ibu jarinya. "Aku di sini. Aku di sini Hinata." Lanjutnya.

"Astaga… Na-naruto-kun! Naruto-kun!"Naruto sedikit terkejut Hinata tiba-tiba menangkup wajahnya dengan tangannya yang mungil."Kami-sama… Kami-sama… kau baik-baik saja?" tanya Hinata, matanya menjelajah seluruh wajah Naruto seakan mencari sesuatu yang hilang, "Tubuhmu bagaimana? Kau terluka? Ada yang sakit?" Hinata masih menjelajah sambil terus merancau, menghujaninya dengan berbagai pertanyaan yang membuat Naruto mengerutkan kening.

Naruto melepaskan tangan Hinata yang mencengkram bahunya. "Aku baik-baik saja. Tenanglah Hime, tenanglah." Kata Naruto sambil menarik Hinata ke dalam pelukannya dan mengusap perlahan punggung Hinata dengan gerakan menenangkan.

Hinata memeluk Naruto dan kembali terisak sambil terus menggumamkan kata syukur, otot-otot tubuhnya perlahan merileks. Naruto penasaran apa yang dialami Hinata di dunia mimpi hingga sulit sekali membuatnya bangun meski berkali-kali memanggil dan mengguncang tubuh Hinata yang menggeliat gelisah. Dan sikap tidak biasa Hinata kali ini semakin membuat Naruto penasaran. Naruto tidak menampik rasa senang mengetahui Hinata memimpikannya sampai merancaukan namanya berkali-kali, tetapi kalau sampai menjerit histeris sambil menangis ketakutan seperti ini Naruto merasa tidak senang. Rasa khawatir dan sorot mata cemas serta ketakutan yang terpancar dari amethyst Hinata seakan menjelaskan kalau terjadi sesuatu pada dirinya pada mimpi gadisnya.

Naruto harus mencari tahu apa yang baru saja dimimpikan oleh Hinata.

.

"Jadi?"

"A-apanya?"

Naruto memutar kembali kedua bola matanya mendapati respon minim Hinata.

Saat ini mereka tengah duduk berhadapan di sebuah sofa yang berada tepat di samping jendela kamar Hinata. Naruto bersedekap, gemas menatap Hinata yang terus-terusan menghindari interogasi mengenai mimpi yang dialaminya semalam. Hinata selalu mengelak dengan mengatakan lupa atau tidak ingat saat ditanyai.

"Apakah merancau menyebut namaku sambil menangis menjerit-jerit sepanjang malam hal yang wajar? Oh, setelah bangun pun masih juga terus-terusan menangis dan menyebut-nyebut na-"

"A-aku tidak terus-terusan menangis dan menyebut-nyebut na-namamu." Bantah Hinata memotong, cemberut karena Naruto terlalu melebih-lebihkan ceritanya. Pipinya sedikit merona mendengar Naruto menyinggung kejadian setelah dia tersadar dari mimpinya.

"Iya kok terus-terusan." Kekeuh Naruto.

"Ti-tidak, hanya pertama saja aku memanggilmu. Lagi pula saat sadar aku sudah tidak menangis." Bantah Hinata dan langsung menyesal melihat senyum lebar Naruto. Hinata mengerucutkan bibir, kesal menyadari dirinya terpancing perkataan Naruto.

"Tidak usah mengelak lagi. Ceritakan!" kata Naruto bersikeras agar Hinata menceritakan mimpi yang dialaminya. "Atau… " Naruto menggeser duduknya mendekati Hinata, "Mau kucium lagi seperti kemarin malam?" bisik Naruto ditelinga Hinata dengan suara menggoda.

.

Buuk.

"Me-mesum!" pekik Hinata dengan pipi berwarna merah memukul guling sofa yang dipeluknya ke wajah Naruto. Sempat-sempatnya Naruto menggoda ditengah interogasinya.

Hinata berbalik membelakangi Naruto yang mentertawai sikap kikuknya. Ingatan Hinata kembali melayang pada malam dirinya terbangun dari mimpi. Tidak mungkin Hinata melupakan kejadian malam tadi. Hinata tidak menyesal hal itu terjadi, ia hanya meruntuki dirinya yang bersikap begitu berlebihan dihadapan Naruto. Bagaimana bisa ia berubah menjadi semanja itu hanya karena mimpi?

Ketakutan akan mimpi itu membuat Hinata hilang kendali sampai dirinya enggan melepas pelukan dan memaksa Naruto berjanji sesuatu terlebih dahulu sebelum melepaskannya.

Malam itu Naruto bersikap sangat lembut, tangannya tak henti-hentinya mengusap punggung Hinata yang masih terus menangis, hatinya lega, bersyukur menyadari semua kejadian yang dilihatnya adalah mimpi. Mimpi yang membuatnya takut untuk kembali memejamkan mata walau dirinya lelah sehabis menangis.

.

"Jangan tinggal kan aku. Apapun yang terjadi. Berjanjilah padaku Naruto-kun!" kata Hinata setengah memaksa Naruto yang memandang heran.

"Aku tidak akan pergi kemana pun malam ini, tidak perlu khawatir Hime." Kata Naruto berusaha meyakinkan Hinata yang masih saja gelisah.

"Tidak hanya malam ini." Gusar Hinata makin mendekap erat punggung yang terasa nyaman dan meringsut semakin dekat ke pangkuan Naruto, kegelisahan dalam hatinya melenyapkan kegugupan dan rasa malu yang dimilikinya ketika berhadapan dengan Naruto.

Mimpi buruk itu memang dirasa terlalu nyata bagi Hinata, bahkan sampai dirinya telah sepenuhnya sadar seperti sekarang mimpi buruk itu masih saja terasa menghantui. Mimpi itu berbeda dengan mimpi buruk Hinata yang lain, biasanya Hinata langsung lupa begitu bangun tetapi tidak dengan sekarang. Dirinya justru merasa gelisah mendapati dirinya ternyata masih mengingat mimpi yang baru dialaminya dengan sangat jelas hingga detail terkecil.

"Aku tidak ingin kau meninggalkanku kemanapun ke tempat jauh yang tidak aku ketahui, ke tempat yang tidak bisa aku datangi. Aku mohon. Berjanjilah padaku. Berjanjilah kau tidak akan pergi kemanapun dan terus berada di sisiku selamanya." Pinta Hinata dengan suara memelas seakan dirinya tidak bisa hidup tanpa Naruto.

Hampir saja Naruto tidak bisa menutup mulutnya yang terbuka mendengar permintaan Hinata. Naruto memang tidak akan membiarkan pergi dari sisinya dan Naruto selalu menginginkan Hinata berada di sisinya tidak perduli walau gadis itu suka atau tidak. Namun mendengar permintaan Hinata barusan terasa bagai mimpi.

Sadarkah Hinata dengan ucapannya?

Oh atau dirinya sendiri sedang mimpi sekarang.

"Aku mohon. Aku mohon Naruto-kun. Berjanjilah padaku."

Rengekan pelan Hinata kembali terdengar. Naruto mengurai paksa pelukan erat Hinata perlahan dan selembut mungkin agar tidak melukainya, dia dapat merasakan keengganan Hinata melepaskan kaitan lengan miliknya pada punggung Naruto. Ya memang Hinata tidak mau dan tidak berniat melepas dekapannya.

Ditangkupnya kembali wajah Hinata yang tertunduk kecewa tidak bisa melawan tenaga Naruto untuk tetap bertahan. Kegelisahan dan kecemasan terus saja membayang pada sorot mata Hinata saat tatapan mereka kembali bertemu.

"Kau sadar dengan apa yang kau minta?" tanya Naruto serius, ekspresi wajahnya menegaskan ia tidak main-main. Tak tampak kilatan jahil pada mata yang masih terus mengawasi Hinata untuk memastikan kesungguhan gadis dihadapannya.

Hinata langsung mengangguk mantap tanpa ragu menjawab pertanyaan Naruto.

"Kau sadar siapa aku sebenarnya? Resiko permintaanmu terlalu besar. Hidupmu akan berubah dan Aku bukan seorang manu-"

"Aku tidak peduli." Potong Hinata. "Aku tidak peduli siapapun dirimu dan apapun yang akan terjadi padaku dan bagaimana kehidupanku nanti." Tegas Hinata dengan suara mantap yang mengejutkan Naruto. "Aku takut. Benar-benar takut." Hinata balas menatap Naruto. "Aku takut Ibuku akan meninggalkanku ketika melihat beliau koma setelah melahirkan adikku, aku takut sewaktu Ayah pertama kali meninggalkanku sendirian dirumah yang luas ini, aku takut pertama kali mendengar vonis dokter yang mengatakan batas umurku, tapi kini… aku lebih takut kalau kau pergi meninggalkanku, membayangkan aku tidak bisa lagi bertemu denganmu aku tak sanggup rasanya… menakutkan. Melebihi rasa takut pada kematianku sediri."jelas Hinata frustasi, air matanya kembali mengalir tanpa ijin teringat bagaimana perasaannya ketika melihat Naruto yang masih saja menyuruhnya pergi melarikan diri tanpa peduli dirinya ditelan monster ular yang memiliki delapan kepala dalam mimpinya.

Dan Hinata menyadari, hal itu bisa saja benar-benar terjadi mengingat Naruto sendiri bukanlah seorang manusia. Hinata tidak akan sanggup melihat Naruto terluka parah seperti itu, tidak akan pernah sanggup.

Sesuatu yang kenyal dan basah menekan dan memangut lembut bibirnya kembali menarik Hinata dari lamunan. Pangutan yang dirasakannya sedikit banyak membantu Hinata menyingkirkan paranoid yang sejak tadi tidak juga mereda.

Hinata baru menyadari apa yang terjadi ketika Naruto menghentikan pangutannya, menjauhkan wajahnya dengan senyum lembut tersungging di bibir. Ia juga baru menyadari nafasnya sedikit terengah.

"Aku berjanji." Ucap Naruto sebelum kembali menyatukan bibir mereka dan memanggutnya sedikit lebih kuat.

Kecupan-kecupan kecil Naruto semakin cepat begitu merasakan Hinata membalas ciumannya penuh hasrat. Sebelah tangan Naruto bergeser ke tengkuk Hinata, menekan untuk memperdalam ciuman mereka. Memiringkan kepalanya Naruto menjilati bibir bawah Hinata antusias dan menyesapi bibir yang terasa manis sesekali menghisap hingga bibir itu tampak bengkak. Lenguhan kecil Hinata tidak disia-siakan lidah Naruto untuk masuk menjelajah, mengecap rasa lebih di dalam mulut gadisnya, menyapu dinding epitel atas dan membujuk lidah Hinata agar saling mengait sambil sesekali menghisapnya. Semakin panas Naruto menciumnya, semakin kencang telinganya mendengar lenguhan menggairahkan dari Hinata…

Tidak perlu ada kata cinta untuk menggambarkan bagaimana perasaan mereka berdua saat ini. Karena bahasa tubuh terkadang lebih tepat dalam menyampaikan perasaan.

.

.

"Memikirkanku?" Pertanyaan narsis Naruto membuyarkan lamunan Hinata. Dengan sengaja Naruto mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata yang langsung menunduk sia-sia karena Naruto sudah melihat dengan jelas rona merah pekat hadir dipipi porselen gadis itu.

"A-aku ma-mau mandi dulu." Hinata tergugu, langsung saja ia berdiri dan beranjak menuju kamar mandi.

Seringai lebar menghiasi wajah Naruto, puas melihat Hinata yang kikuk salah tingkah.

"Mau kutemani?" Teriak Naruto jahil menawarkan diri.

Tawa Naruto langsung meledak mendengar suara debam keras pintu kamar mandi yang menjawab pertanyaannya.

Menyenangkan menganggu Hinata nee Naruto…

.

Hinata menghembuskan nafas lega setelah memastikan pintu kamar mandinya terkunci rapat. Rona merah belum sepenuhnya hilang dari pipinya saat dirinya berkaca pada lemari besar penuh berisi handuk dan peralatan lengkap untuk mandi.

Sensasi ciuman pertama yang dirasakan Hinata semalam benar-benar meracuni pikirannya. Matanya beberapa kali diam-diam mencuri pandang ke bibir Naruto ketika mereka berbicara. Belum lagi ulah Naruto yang terus saja menggodanya sejak pagi.

"Baka Hinataa…" Hinata meruntuki dirinya sendiri.

Bagaimana tidak habis digoda jika ia mendapati dirinya bangun pada posisi memeluk erat Naruto yang juga tertidur dibawahnya. Bisa-bisanya ia masih tidak melepaskan pelukannya padahal Naruto sudah meng-iya-kan permohonannya.

Hinata melepas pakaian yang melekat dan menggantinya dengan handuk kimono sambil terus menggerutui kebodohannya. Disumbatnya aliran air dasar bathtub sebelum membuka keran untuk diisi. Diraihnya sisir yang terletak di atas wastafel, ia duduk pada toilet yang tertutup tak jauh dari sana.

Saat itu Hinata yang panic langsung bangun dan membuat Naruto juga ikut terbangun.

"Akhirnya bangun juga, pelukanmu erat sekali sampai aku tidak bisa kemana-mana." Kata Naruto dengan suara serak khas orang bangun tidur, tidak menyadari perkataanya sukses membuat wajah Hinata terbakar. "Ohayou~" ucapnya lagi sambil mengecup lembut kening Hinata.

Hinata menghela nafas panjang ditengah kegiatannya menunggu bathtub penuh sambil menyisir,

Argh ini seperti bukan dirinya saja. Batinnya menjerit.

Tetapi…

Kelebatan bayangan Naruto di mimpinya…

Bagaimana ekspresinya…

Bagaimana keadaannya…

Bagaimana dengan Naruto andai kata dia benar ditelan ular besar itu…

Bagaimana dengan dirinya sendiri kalau hal itu nyata…

Hanya dengan mengingatnya saja membuat Hinata bergidik dan kembali resah.

Ular itu, apakah ada ular yang memiliki delapan kepala di suatu tempat di dunia ini? Lorong gua itu seperti juga berada jauh di bawah tanah. Air yang mengaliri stalaktit dan menetes pada stalagmit dibawahnya, dinding batu yang basah dan licin oleh lumut, juga dasarnya yang terendam air berbatu kerikil menunjukan bahwa tempat itu berada di dalam sebuah gua bawah tanah.

Tetapi gua itu berada dimana? Bagaimana bisa Hinata berada di sana dan mengapa dia bisa mengingat detail tempat di mimpinya?

.

Terlalu sibuk dengan pikirannya membuat Hinata tidak menyadari pergerakan sebuah gelembung aneh muncul dari dasar bathtub. Sesosok makhluk muncul dari dalam bathtub yang hampir penuh dengan air, melangkahkan kakinya keluar bathub dan berjalan perlahan mendekati Hinata yang duduk membelakanginya tak jauh dari sana.

Hinata menjerit, kaget juga takut melihat manusia mirip buaya tiba-tiba berdiri di depannya. Hinata bangkit kemudian mundur beberapa langkah sebelum berkelit menuju pintu saat makhuk itu berusaha menangkap tubuhnya. Baru saja Hinata akan meraih gagang pintu makhluk itu berhasil menangkap lengannya dan langsung mengangkat tubuhnya menjauhkan jangkauan Hinata pada pintu.

Kulit licin penuh lendir milik makhluk itu membuat Hinata kembali menjerit lebih keras. Tubuhnya gemetar, ketakutannya semakin menjadi saat dirinya dibawa masuk ke dalam bathtub yang entah mengapa Hinata tidak bisa lagi melihat dasarnya.

"NARUTO-KUN!" jerit Hinata sesaat sebelum dirinya tenggelam sepenuhnya ke dalam bathtub.

Rasa takutnya semakin besar melihat pemandangan kamar mandinya perlahan mengabur oleh air karena kini dirinya sudah sepenuhnya tenggelam…

.

.

.

.

"Naruto-kun! Naruto-kun!"

.

.

.

.

.

つづく

.

.

.

.

.

Istilah :

Nigero : Lari

Ohayou : Pagi

.

.

Without you I can't make this story.

Makasih udah mampir di fict Ho, berminat RnR? *Nyengir kuda


Akhir kata Ho ucapkan

本当にありがとうございます。

Hotaru Out.

.