NOTE :

PENTING!

CERITA INI ADALAH FIKSI MURNI KARANGAN AUTHOR, TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN CERITA NARUTO ASLI KARENA SAYA HANYA MEMINJAM KARAKTER MILIK KISHIMOTO SENSEI DAN TIDAK MENDAPATKAN IMBALAN APAPUN. HAL INI SAYA BERITAHUKAN AGAR TIDAK ADA KESALAHPAHAMAN DALAM PENENPATAN KARAKTER YANG DIANGGAP GANJIL. DI SINI SAYA JELASKAN SEKALI LAGI. CERITA INI TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN CERITA NARUTO ASLI KARANGAN MASASHI KISHIMOTO SENSEI.


Chapter 6 : Link


.

.

.

Langit sore hari yang terlihat dari atas deretan pegunungan yang tertutup salju di sepanjang mata memandang selalu memiliki daya tarik tersendiri bagi para pecinta hiking. Namun ada yang berbeda dari yang tertangkap hikers di langit sore ini.

Langit yang dipenuhi gradasi warna orange kemerahan tiba-tiba muncul sebuah titik seperti noda hitam kecil. Mulanya warna hitam itu terlihat layaknya titik kecil yang dibuat oleh seseorang menggunakan pulpen hitam di atas kertas putih. Sebuah titik yang kecil dan tipis. Tetapi semakin lama keanehan semakin nampak. Titik tipis itu perlahan menebal kemudian bergeser melebar seperti goresan memanjang ke bawah. Melihat kejadian itu membuat mereka teringat dengan seorang yang merusak lukisan alam yang terpampang indah dengan cara sengaja membuat garis lurus menggunakan spidol hitam tebal.

Saking anehnya beberapa hikers terlihat sengaja menghentikan sementara kegiatan memanjat mereka dan menunda pendakian ke puncak yang lebih tinggi sementara waktu hanya untuk melihat fenomena tak lazim pada langit sore kala itu.

Keanehan semakin menjadi.

Goresan hitam disana semakin lama semakin melebar. Langit yang terlihat bagaikan lukisan senja mempesona tiba-tiba tersobek paksa oleh sesuatu yang tidak terlihat dari dalam. Menampilkan sebuah lubang menganga berwarna ungu kehitaman dengan kilatan petir hitam menyambar-nyambar dari dalam. Tak lama kemudian sekumpulan pasir gurun dengan jumlah tidak sedikit berterbangan keluar dari dalam tempat seram itu. Setelah semua pasir-pasir itu keluar dan menyebar kesegala penjuru arah tiba-tiba robekan menyeramkan yang terlihat di langit segera menutup cepat dan langsung menghilang begitu saja dalam beberapa detik seakan menegaskan kalau yang dilihat para hikers adalah mimpi.

Akibat fenomena aneh ini beberapa hikers tampak shock dengan mata terbelalak lebar..

.

.

.

.

.

NARUTO FANFICTION

Angel? No Devil!

Diclaimer : Naruto©Masashi Kishimoto

Angel? No Devil!©Hotaru

Genre : Romance, H/C, Fantasy

Rate : T+

Pairing : Naruto x Hinata

Warning : OOC, MissTypoo(s), Gaje

Bagi yang Anti NaruHina disarankan segera tekan tombol back!

Tidak menerima flame yang tidak bertanggungjawab dan tidak rasional

Sangat terbuka untuk kritik dan saran

Don't Like Don't Read!

.

.

.

.

Deal!

はじめ

.

.

.

BRAK

"APA?!" Tsunade menggebrak meja kerja yang baru saja diganti Shizune beberapa bulan yang lalu. Matanya menatap horror kedua anak buah yang berdiri di depannya.

Bukan, bukan karena penampilan mereka yang menakutkan−mereka berdua cukup tampan− atau karena mereka melakukan kesalahan saat misi, melainkan karena berita yang baru saja mereka sampaikan.

"DOU SUREBA!" bentak Tsunade membahana, tangannya kembali mengepal dan memukul meja hingga permukaannya sedikit bergetar.

"O-ochitsuke Tsunade-samaOchitsuke." Ujar Shizune dengan suara dilembutkan guna menenangkan Tsunade. Bisa gawat jika Tsunade mengamuk, tentu ia tidak ingin kembali merapihkan ruangan.

"Kami tidak mengetahui kronologisnya tetapi dilihat dari keadaan penjara sepertinya ia merusak segel penahan chakra terlebih dahulu sebelum menghancurkan seluruh bangunan." Sai menjelaskan dengan suara flat tanpa emosi, mirip host entertainment yang bosan membawakan gossip artis yang sama sebulan berturut-turut.

"Aku dan Akamaru tidak berhasil melacak keberadaannya di dunia Iblis. Kemungkinan besar dia pergi ke dunia manusia." Kiba memberikan laporannya dan gongongan Akamaru setelahnya seakan membenarkan berita yang disampaikan.

Tsunade menghempaskan bokongnya kembali ke kursi. Memijat kecil kepalanya yang terasa berdenyut-denyut. Informasi yang baru saja didengar membuatnya sakit kepala. Masalah sebelumnya saja belum selesai sudah ada lagi masalah lain.

Masalah di dunia iblis memang tidak akan pernah habis. Mengingat sebagian besar para penghuni dunia iblis tidak pernah ada yang tidak bermasalah, tidak mengherankan kalau beberapa dari mereka berbuat keonaran. Tetapi kali ini rasanya berbeda, firasat Tsunade mengatakan akan terjadi sesuatu yang buruk.

Lolosnya monster ke dunia manusia. Oke, itu masalah klasik yang sering ditangani Tsunade, tetapi sesuatu yang tidak terbiasa terjadi. Mereka tidak menemukan satupun portal dimensi dunia manusia yang terbuka. Kejadian ini sempat membuat Tsunade melampiaskan kemurkaannya pada iblis yang bertugas menjadi pengawas portal dimensi. Bagaimana bisa mereka lolos ke dunia manusia tanpa portal?

Selain kasus ganjil tersebut, ada kasus lain yang membuat Tsunade lebih sakit kepala. Keberadaan Naruto di dunia manusia. Daimaou memang mengatakan Naruto akan baik-baik saja, namun bukan itu masalahnya. Bocah itu sangat berbahaya, terlebih lagi jika emosinya terpancing. Bukan suatu hal yang tidak mungkin melihat dunia manusia mengalami kerusakan parah kalau hal itu sampai terjadi. Tsunade berharap tidak akan ada yang memancing keluar emosi tak stabil yang terkunci ditubuh bocah berisik itu.

Tsunade menghela nafas panjang.

Kini laporan mengenai dia yang kabur dari penjara dan indikasi kepergiannya ke dunia manusia. Kembali membuat kepalanya sakit. Hanya dunia itu yang memungkinkan. Dia tidak akan pergi ke dunia malaikat. Harga dirinya sebagai legenda hidup para iblis terlalu tinggi untuk sekadar menginjakkan kaki di sana barang sedetik.

Dari semua masalah yang terjadi Tsunade sedikit mengendus keterkaitan erat antara masalah satu dengan masalah lain. Tsunade sendiri tidak yakin, ini hanya intuisinya dan belum memiliki bukti.

.

"Para tahanan?" Tsunade memecahkan keheningan yang terjadi selama dirinya berfikir.

"Tidak ada yang melarikan diri ataupun terluka. Hanya lumpuh sementara oleh pasir yang membungkus tubuh mereka. Pasir itu otomatis luruh saat kami kembali memenjarakan mereka." Ucap Sai lagi.

Sejenak keheningan kembali melanda.

Segaris senyum tertarik di satu sudut bibir Tsunade. "Shukakurashi teba…" dia berkata miris seakan sudah menebak cepat atau lambat hal ini akan terjadi.

"Tidak salah lagi… Shukaku pasti pergi karena merasakan chakra itu bangkit." Sebuah suara tak asing menggema di kepala Tsunade. "Sekarang aku berada di depan portal tempat Shukaku menghilang. Hanya dia yang dapat mendeteksi kapan dan dimana chakra itu bangkit."

"Apakah 'dia'bangkit?" tanya Tsunade sangsi.

"Entahlah. Aku tidak sempat bertanya. Yang pasti, hanya Shukaku yang bisa menahan agar 'dia' tidak mengamuk." Suara itu mendesah pasrah. "Kau mengerti kan apa yang harus dilakukan."

"Wakaru, Daimao-sama."

Tanpa aba-aba Tsunade membenturkan kepalanya ke meja hingga membuat tiga iblis di sekitarnya terkejut. Jarang-jarang Tsunade terlihat stress. Sepertinya masalah yang terjadi akhir-akhir ini begitu pelik.

Mengabaikan tiga pasang mata yang menatap dengan pandangan bertanya Tsunade memberi perintah, "Ada misi baru untuk kalian berdua."

.

Setelah menerangkan semua detail misi dan menunggu mereka pergi Tsunade kembali tercenung.

"Shizune, panggil Sasuke." Pinta Tsunade

"Baik." Tak butuh perintah dua kali Shizune meninggalkan Tsunade sendiri di ruangannya.

Begitu pintu tertutup Tsunade kembali menghela nafas lelah. Dilemparkannya pandangan keluar jendela yang memperlihatkan pemandangan langit biru.

'Naruto…'

.

.


"Mattaku, nande wareware wa futatabi konna tokoro de kita no? shimettashi, nuretashi, ikiguruhiishi, soshite shuki, hoka no tokoro de nani ga okonatta dekiru no shikamaru!" Ino memekik. Iblis pirang bermodel pony tail ini terlihat frustasi ketika mengetahui tempat yang didatangi sedetik setelah keluar dari sebuah portal dimensi kecil yang di buka Shikamaru.

Di sepanjang jalan yang dilaluinya Ino terus saja menggerutu tanpa henti. Ia meruntuki keadaan sekitar yang lembab dan pengap padahal ini adalah musim dingin. Belum lagi lumpur basah setengah beku beraroma busuk yang mengiringi disetiap kaki melangkah.

Ino tidak suka datang ke tempat yang menurutnya menjijikan. Baginya cukup sekali ia menjejakkan kaki di sini, namun—berterima kasihlah pada Shikamaru—berkat kekasih pelupanya yang mengatakan ada sesuatu yang terlewat oleh mereka ketika memeriksa pertama kali membuatnya harus rela kembali tempat yang bau ini.

Ino ingin sekali menjerit, mengatakan 'tidak' dengan lantang begitu mengingat dirinya akan berjalan cukup jauh memasuki terowongan gelap berawa di ujung tebing curam hadapannya. Dia tidak sanggup membayangkan berjalan menelusuri tempat yang sempit berbau busuk dengan tanah becek hanya untuk mencapai sebuah tempat luas yang dikelilingi deretan pegunungan.

"Buzubuzushitejannero Ino." Ujar Shikamaru tanpa melirik, sedikit jengah mendengar ocehan Ino yang tidak juga berhenti, "Are wa, konna mendokusei tokoro de soko ni atta." Lanjut pria berambut mirip nanas ini sembari menyiapkan telinga untuk menerima rentetan keluhan yang lebih panjang lagi. Hapal betul bagaimana Ino yang mengomel.

"Bagaimana bisa hal itu luput darimu baka Shikamaru!" —see, benarkan Ino langsung mengumpat.

Shikamaru menghela nafas pasrah menghadapi mood buruk Ino. Menjalankan misi bersama kekasih itu bagai pisau bermata dua, disatu sisi mendapat keuntungan— bisa selalu bersama tanpa rasa cemas karena meninggalkannya berhari-hari, di sisi lain mendapat resiko terhambat jalannya misi akibat rekan misimu yang tidak kondusif.

"Kenapa kita tidak datang dari atas saja?" tuntut Ino. "Bau lumpur di rawa ini membuatku mual." Lanjutnya dengan Keluhan. "Aku tidak menyangka ada tempat mengerikan seperti ini di dunia manusia. Tempat ini lebih mirip Gbahali Swamp. Belum lagi rawa ini lebih bau dari kita datang pertama kali." Ocehnya panjang kali lebar. "Astagaaa aku benci tem—"

"Kau juga menyadarinya kan Ino?" Shikamaru memotong cepat rentetan keluhan yang sejak tadi dimuntahkan Ino ketika mereka telah berada di depan pintu masuk terowongan. "Bau rawa ini semakin pekat dan semakin mirip dengan sarang Gbahali di dunia iblis." Lanjutnya yang membuat Ino sontak membelalakan mata.

Kenapa dirinya baru menyadarinya setelah Shikamaru berkata seperti itu?

Kalau dipikir baik-baik tempat ini memang mempunyai kemiripan dengan sarang Gbahali. Ino menggelengkan kepalanya. Tidak… tidak mungkin. Gbahali terlalu berbahaya bagi manusia.

"… Jangan bilang kalau—" perkataan Ino berhenti, tenggorokannya terasa kering tiba-tiba akibat ketegangan mendadak yang mengitari mereka.

Gbahali−monster berpostur seperti manusia hanya kepalanya berbentuk buaya beserta ekor tajam bergerigi, kulit mereka keras dan kasar sekaligus licin akibat lendir yang mereka keluarkan dari pori-pori kulit. Mereka tinggal berkelompok di sebuah tempat bernama Gbahali Swamp.

Gbahali Swamp terkenal sangat bau di dunia iblis, bau itu berasal dari lendir yang juga berfungsi untuk menandai wilayah, oleh karena itu sangat mudah mengenali rawa yang kau lewati terdapat sarang Gbahali atau tidak.

Dan yang menjadi masalah disini adalah bukan karena kehadiran Gbahali di dunia manusia−Ino dan Shikamaru tidak terkejut mengenai lolosnya makhluk dunia iblis− tetapi karena mereka tergolong cukup cerdik dan kuat. Bisa gawat kalau mereka bertemu dengan manusia, monster itu cukup liar dan agresif.

"Saa na… sepertinya mereka bersarang di suatu tempat dekat sini. Entah kenapa aku merasakan mereka sedang merencanakan sesuatu."

.


.

DUAAAK

Bathtub marble kotak berdesign mewah dengan ukuran yang cukup besar untuk diisi dua orang dewasa milik Hinata mendadak hancur dihantam tinju Naruto sebagai bentuk pelampiasan kekesalannya. Gertakan kedua sisi giginya dengan geraman terus terdengar bergema di ruangan putih tempatnya berada sekarang. Tubuh berkulit tan dalam posisi setengah membungkuk itu terlihat bergetar oleh luapan amarah.

Pria tampan bertubuh ideal bak atlet beladiri itu meruntuki dirinya yang tidak cukup cepat menolong Hinata. Dengan bodohnya dia mengabaikan jeritan kencang Hinata. Mengira gadis itu sedikit ceroboh ditengah kegiatan mandi seperti tak sengaja menjatuhkan botol sabun cair, tergelincir saat memasuki bathtub atau sederet hal ceroboh lain.

Mengingat sikap mendadak kikuk Hinata sebelum gadis itu memasuki kamar mandi membuat Naruto tidak akan terkejut jika mendapati hal itu benar terjadi. Sangat tidak lucu kalau dirinya tiba-tiba menerobos masuk, kemudian menemukan tubuh polos gadisnya tanpa sehelai benang pun.

Well, sedikit banyak Naruto mengharapkan hal itu, tapi tetap saja dia tidak ingin membuat gadisnya tidak merasa nyaman. Setidaknya dengan memberi sedikit privasi saat mandi tidaklah masalah.

Astaga! Naruto menggelengkan kepalanya, merasa begitu bodoh. Bisa-bisanya pikiran seperti itu terlintas padahal Hinata tengah dalam bahaya!

"Kuso!" Naruto mengumpat kesal mengingat sedikit lagi tangannya meraih jemari Hinata sebelum dasar bathtub yang gelap tiba-tiba menutup dan kembali seperti semula.

Makhluk mana yang berani membawa gadisnya? Yang pasti sosok ataupun makhluk−Naruto tidak perduli yang mana− salah sudah mencari masalah dengannya. Naruto bersumpah akan menghabisi siapapun yang tiba-tiba memisahkan mereka.

Dengusan kasar terdengar, Naruto menjambak kasar surai pirangnya sementara tubuhnya kembali tegak berdiri. Kepalanya terasa ingin pecah, amarah yang dirasakannya belum juga mereda. Ini gawat, sebenci-benci dirinya pada orang-orang yang menjauhinya dulu, sekesalnya dia saat bertengkar dengan Sasuke, tidak pernah sekalipun ia sampai merasa kehilangan kendali dan kalap seperti ini. Ia harus segera mencari cara meredakan amarahnya sesegera mungkin sebelum lupa diri dan menghancurkan seluruh bangunan di sekitarnya termasuk rumah Hinata. Mau tinggal dimana mereka kalau rumah yang terasa dingin namun nyaman−terutama kamar milik gadisnya−hancur.

Dengan gerakan kasar Naruto mencubit cuping hidung beberapa kali dan memijit kening yang terasa kaku oleh kedutan yang tidak juga berkurang. Berusaha keras menenangkan diri dan tidak terpancing emosi Naruto kembali menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, meyakinkan diri akan lebih sulit melacak Hinata jika dirinya masih dikuasai amarah.

'Ochitsuke Naruto, dekiruttebayo.' Ucapnya berulang kali dalam hati bak mantra seolah berfungsi menyemangati sekaligus meningkatkan usahanya menenangkan diri sendiri agar lebih tenang.

Begitu sibuk Naruto dengan kegiatan menenangkan diri, mengabaikan air yang mengucur deras dari saluran pipa dan keran yang patah akibat ulahnya dan tidak mempedulikan percikan dingin air yang mulai menggenangi lantai kamar mandi, pakaian yang juga basah bahkan bau tidak sedap tak asing yang terus menerus berputar di sekelilingnya. Bau amis memualkan, bau yang mengingatkannya akan suatu tempat di dunia tempatnya berasal, bau yang hanya berasal dari dunia iblis…

Tunggu. Dunia iblis katanya?

Bau ini dari dunia iblis…

"..."

Kelopak mata Naruto terbuka cepat saat−telat− menyadari sesuatu yang hampir saja luput dari pengamatannya. Mempertajam indera penciumannya sapphire Naruto menyapu cepat seluruh kamar mandi yang terlihat kacau−terutama pada bagian bathtub−mencari bau itu berasal. Tatapannya terhenti pada sebuah liquid bening agak kuning kehijauan yang berceceran pada tutup toilet dan lantai marmer kamar mandi.

Tanpa pikir panjang Naruto menghampiri liquid yang dimaksud. Menyentuh liquid kental yang sedikit menjijikan dengan tangan kemudian membauinya sebentar.

Penciuman hidungnya memang tidak setajam Kiba, tetapi tak butuh penciuman setajam itu dengan bau menusuk seperti ini. Naruto mengenali bau ini.

Seketika tubuhnya membeku. Hinata harus segera secepatnya ditemukan. Tidak salah lagi. Bau ini…

Gbahali…

.

Suara derapan beberapa pasang langkah dari lantai bawah menginterupsi kegiatan Naruto. Langkah yang berasal dari pembantu Hinata semakin terdengar jelas ketika menaiki tangga. Sepertinya mereka bermaksud mengecek keributan di kamar Hinata yang tak lain dan tak bukan disebabkan Naruto.

Sosok Naruto sendiri langsung menghilang sedetik sebelum pintu kamar mandi Hinata terbuka dari luar.

Lengkingan shock para pembantu Hinata terdengar Naruto yang kini berada di atap rumah kediaman Hyuuga−pasti mereka sudah melihat keadaan bathtub Hinata yang hancur lebur. Sapphire Naruto bergulir memeriksa kekkai yang dipasang disekeliling rumah Hinata. Tidak ada sedikitpun ia mendapati kerusakan. Ternyata memang ulah Gbahali. Naruto tak menyangka kalau bisa kecolongan melalui perpindahan dimensi.

.

Naruto memejamkan mata berusaha melacak keberadaan Hinata melalui pancaran chakra miliknya yang berada pada symbol kepemilikannya di tubuh Hinata.

Tidak terasa apapun. Sepertinya keberadaan Hinata dilindungi sebuah kekkai khusus. Atau mungkin juga Hinata tidak berada di dunia manusia.

Dilema melanda Naruto. Haruskah ia kembali ke dunia iblis untuk mencari Hinata?

.

Tidak.

Resikonya terlalu besar.

Ia akan langsung ketahuan begitu menginjakkan kaki di dunia iblis oleh Daimaou. Saat ini keadaan dunia iblis sedang kacau. Monster-monster berbahaya dari dunia iblis menghilang dan bermunculan di dunia manusia tanpa penyebab yang jelas. Para iblis kelas atas yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan antar tiga dunia disibukan oleh peristiwa ini. Memang kekuatan para monster yang keluar tidak akan sebanding dengan kekuatan para iblis, tetapi lain halnya kalau jumlah mereka puluhan, atau bahkan ratusan. Sekuat apapun iblis pasti kekuatannya akan terkuras habis jika dipakai terus menerus.

Di tengah kekacauan Daimaou pasti sibuk. Akan sangat sulit untuk bernegosiasi dengannya sekarang.

Karena tidak mau berurusan dengan Daimaou sebelum bertemu dengan Hinata terlebih dahulu Naruto memutuskan mencari keberadaan gadis itu di dunia manusia terlebih dahulu. Ia meyakinkan diri Gbahali tidak mempunyai cukup kekuatan untuk membuka portal ke dunia iblis. Jika tidak menemukannya, baru ia akan mencari Hinata di dunia iblis.

Naruto menghela nafas berat. Ia tidak bisa melacak Hinata melalui pancaran chakra. Dan hari masih cukup terang walau tertutup mendung, tidak mengherankan ini masih tengah hari. Tidak ada jalan lain selain mencarinya menggunakan itu.

.

Seberkas sinar putih muncul di tattoo sayap punggung Naruto. Tak lama berselang sepasang sayap tulang miliknya keluar perlahan menggantikan guratan tattoo di sana. Setelah sayapnya muncul sepenuhnya ia membentangkan lebar-lebar. Sudah lama Naruto tidak merasakan sensasi melegakan pada otot sayapnya. Ini pertama kali Naruto menyimpan sayapnya begitu lama.

Tubuh Naruto perlahan melayang tinggi ke atas hingga menembus kekkai yang dibuatnya, ia menghentikan pergerakan setelah dirasa cukup tinggi hingga tidak akan ada manusia yang menyadari keberadaannya. Kedua matanya menutup sementara tangannya menyatu membentuk segel.

"Kai!"

Kekkai yang mengelilingi rumah Hinata perlahan luruh dan menghilang. Pada detik yang sama hawa dan aura iblis Naruto terlepas membentuk gelombang energy besar yang membuat awan di sekitarnya menjauh hingga tampak seperti berlubang kalau di lihat dari bawah.

『悪魔の世界に生息する風の精霊は、来て、オレの命令に従う』

Angin kencang seketika datang berhembus menghampiri Naruto setelah pria ini membaca sebuah matra pemanggil roh angin. Angin itu berputar mengelilingi tubuh Naruto beberapa saat kemudian berhenti di depannya. Sesosok makhluk berwujud gadis kecil bertubuh transparan memakai kimono muncul dari kumparan angin tadi, makhluk tersebut membungkuk hormat.

『代わりに私の目のひろがり、あんたたちが行くすべての場所を示す』

Perintah Naruto pada sosok anak kecil yang ditanggapi dengan anggukan kecil, sosok itu langsung mengubah dirinya kembali menjadi pusaran angin dan pergi menyebar entah kemana dengan kecepatan luar biasa.

Pemuda itu masih memejamkan mata dan berusaha focus mengatur aliran chakra untuk mengontrol roh angin. Tidak lama berselang sekelebatan tempat yang dikirimi roh tersebut terlihat.

Kedua tangan Naruto bergerak membentuk segel yang lain, mengeluarkan chakra lebih banyak guna memperluas jangkauan pencarian.

Naruto terus mempertahankan posisinya, chakra yang dimilikinya terus terpakai dalam jumlah yang tidak sedikit. Detik pencarian berubah menjadi menit, menit pun berubah menjadi jam. Naruto kembali tidak tenang karena belum juga menemukan Hinata.

"Hinata!" Panggilnya berusaha berkomunikasi melalui telepati yang biasa dilakukannya bersama Sasuke.

Tidak ada jawaban.

"Hinata, kau bisa mendengarku?" ia terus mencoba memanggil Hinata. "Hinata kau dimana? Jawablah Hinata…"

.

.


Shikamaru memberi tanda berhenti pada Ino yang mengekor di belakang tepat di ujung pintu keluar terowongan yang mereka lalui. Ia terbelalak melihat pemandangan mengenaskan yang terpampang di depan.

Pemuda berambut nanas itu masih ingat, begitu keluar dari terowongan mereka akan menemukan tanah lapang berselimut putih salju dan danau kecil berair jernih untuk membersihkan diri dari lumpur yang menghiasi sepanjang jalan kemari. Ingatannya tidak mungkin berbohong karena wajah Ino pun terlihat tidak kalah terkejut dengan Shikamaru.

Air danau berubah hitam penuh lumpur hingga mengotori hampir seluruh tanah lapang di sekitarnya, yang lebih mengejutkan; tempat ini sudah dipenuhi oleh Gbahali —berjumlah ratusan. Bagaimana bisa Gbahali sebanyak ini lolos dari dunia iblis?

"Shi-Shikamaru…" Ino tercekat, terpaku pada ratusan Gbahali yang terlihat sibuk, hilir mudik entah melakukan apa. Ia terlalu shock hingga tak tahu harus berkomentar apa.

"Ini benar-benar tidak lucu." Setitik keringat dingin mengalir di kening Shikamaru.

Benar-benar gawat. Bagaimana bisa pengawas portal dunia iblis tidak mengetahui imigrasi besar-besaran yang dilakukan Gbahali. Kasus besar pertama adalah Cyclops, kali ini disusul Gbahali, dan jumlahnya tiga kali lipat lebih banyak daripada Cyclops. Apa yang telah terjadi sebenarnya. Masih adakah monster ganas lain dari dunia iblis berjumlah ratusan lolos dari dunia iblis.

Tentu saja, mereka tidak memiliki cukup keahlian untuk membuka gerbang dimensi. Bahkan iblis kuat sekalipun tidak akan punya cukup chakra untuk berpindah secara bebas keluar masuk tanpa bantuan chakra dari Daimaou. Pancaran chakra besar yang digunakan juga pasti dengan mudah terdeteksi oleh pengawas portal. Seharusnya hal ini tidak akan pernah bisa terjadi.

Sementara Shikamaru sibuk terpekur dengan pemikiran siapa yang bertanggung jawab dibalik imigrasi besar-besaran yang dilakukan Gbahali, Ino menangkap suatu gerakan dari tengah danau.

Sesosok Gbahali berukuran dua kali lebih besar daripada Gbahali lainnya muncul. Dia membawa sesuatu berwarna putih dipundak sebelah kanan. Mata Ino kembali terbeliak menyadari apa yang dibawa Gbahali.

"Shi-Shika!" Ino mengguncang-guncang bahu Shikamaru agar iblis laki-laki itu sadar dari alam pikirannya. "Ma-manusia. Gadis manusia." Bola mata Shikamaru bergulir mengikuti arah telunjuk lentik Ino.

Gbahali itu berjalan di tengah kerumunan Gbahali lain yang berukuran kecil. Para Gbahali langsung menghentikan kesibukannya dan berlutut, sepertinya Gbahali raksasa tersebut merupakan pemimpin mereka.

Mereka berdua bergerak, menyelinap lebih dekat seraya merunduk lalu bersembunyi di antara bongkahan besar batu, tubuh mereka merapat pada sisi terowongan, memutuskan untuk sementara mengawasi apa yang akan dilakukan para Gbahali.

Gadis yang tidak sadarkan diri dengan tubuh basah kuyup itu diletakkan di tengah batu besar bersymbol. Seperti sebuah altar yang biasa digunakan menaruh korban persembahan.

Gbahali itu terlihat sedang melakukan sebuah ritual entah apa. Setelah menunggu lama, Gbahali besar selesai melakukan kegiatannya dan pergi.

Selepas kepergian Gbahali besar, enam makhluk Gbahali lain yang lebih kecil mendekati altar dan berhenti beberapa meter dari batu tempat tubuh tak sadarkan diri itu terbaring. Satu Gbahali dekat kepala empat lainnya berdiri di kanan kiri tubuh itu, sedangkan yang sisanya berada di ujung kaki. Keberadaan mereka sedikit menutupi tubuh tak berdaya sang Gadis.

Ino berjengit tak nyaman melihat salah satu Gbahali melucuti kimono handuk yang melekat dan bergidik jijik melihat satu per satu makhluk itu memuntahkan cairan hijau pekat kental berlendir ke tubuh putih yang tergolek di sana. Berani bertaruh cairan hijau itu lebih menjijikan dari liur Akamaru yang mengotori lantainya setiap Kiba datang berkunjung. Shikamaru sendiri yang berada di sampingnya pun terlihat menggertakkan gigi, kening pria itu berkerut. Tengah menahan mual yang tiba-tiba melanda, perasaan sama juga dirasakan Ino.

"Shika, apa tidak kita tolong saja manusia itu?" tanya Ino, wajahnya sudah sepenuhnya putih pias karena jijik.

"Maa... kasihan memang manusia itu…" Ujar Shikamaru, matanya menangkap gerakan kecil dari sosok terbaring di sana. Menandakan kesadaran gadis itu telah pulih. "…tetapi ini bukan kewajiban kita untuk menolongnya Ino. lagipula mengingat jumlah mereka… Aku tidak yakin kita bisa lolos jika memaksakan diri berkonfrontasi langsung —Tch, mereka benar-benar menjijikan. " Gerutu Shikamaru dengan wajah tak kalah pucat dengan Kekasihnya saat melihat usaha sia-sia yang dilakukan sosok manusia didepannya agar lepas dari jerat cairan yang melekat.

"Aku paham, tetapi kalau aku berada diposi—"

"Kau iblis, bukan manusia. Kau tidak akan mudah ditangkap oleh mereka." Potong Shikamaru tajam, tidak menyukai pemikiran konyol kekasih pirangnya. Dia paham apa yang mengganjal dipikirkan Ino, iblis cantik itu memang paling tidak tahan dengan sesuatu yang menjijikan. Dan kini pandangan menjijikan terpampang jelas di depan matanya, terlebih lagi korbannya seorang wanita.

"Tidak bisakah kita pergi seka—"

"KYAAAAAAAAAAAAAAA!"

Perdebatan mereka terpotong oleh lengkingan kesakitan milik korban Gbahali.


.

.

"…nata!"

.

.

"…ta!"

.

"Hinata!"

Siapa…

.

"Hinata!"

Siapa yang memanggil?

.

"Kau bisa mendengarku?"

Suara ini…

Mengapa terdengar begitu cemas.

.

"Hinata kau dimana?"

Dan kenapa… terasa begitu kurindukan.

.

"Jawablah Hinata…"

Naruto-kun… kau kah itu?

.

.

"HINATA!"

Teriakan kencang yang terdengar dari dalam kepalanya berhasil membuat gadis berambut indigo itu membuka mata. Kepalanya pusing, bau amis aneh yang menyeruak indera penciuman membuatnya bertambah pusing. Isi perutnya bergejolak seakan minta dikeluarkan.

Bau apa ini?

Amethyst gadis bersurai indigo itu membesar. Ia terbelalak kaget begitu melihat kembali makhluk aneh menjijikan yang menculiknya, tidak hanya satu melainkan beberapa kini sedang menatapnya dari atas. Tidak—tidak dari atas— melainkan dia sendiri yang sedang terbaring di tengah-tengah mereka.

Refleks Hinata bangkit, namun sesuatu yang berat dan lengket menahan tubuhnya hingga ia kesulitan bergerak. Hampir saja gadis itu menjerit mendapati kimono mandi di tubuhnya hilang entah kemana. Sedikit bersyukur tubuhnya masih terbalut dalaman yang belum ia lepas. Disamping itu lendir hijau yang menutupi hampir seluruh tubuh membuatnya jijik. Hinata bukanlah gadis yang mudah mual karena suatu yang menjijikan, tetapi bau lendir ini sangat menyengat hidung. Menahan rasa mual yang menyerang Hinata meronta, ia berusaha bangkit dari kumbangan menjijikan yang dijadikan alas tempatnya terbaring.

Tubuh Hinata bergetar hebat mendapati dirinya mengalami kesulitan bergerak lebih dari yang ia kira. Teksturnya lebih lengket dari yang dibayangkan. Dan lebih elastic seperti karet lem yang merekat kuat. Hinata berulang kali bangkit tapi lendir ini sulit untuk meregang seolah menarik kembali tubuhnya agar kembali melekat ke pembaringan.

Setelah susah payah bangkit, akhirnya Hinata berhasil mengubah posisi. Ia menggunakan kedua lutut dan tangannya sebagai tumpuan agar tidak tertarik kembali. Tubuhnya lelah, ia tidak sanggup lagi bergerak lebih jauh selain menahan tubuhnya seperti ini. Amethystnya bergerak panik menyapu pemandangan sekitar hanya untuk kembali tersentak. Hinata mendapati dirinya berada di atas sebuah batu cekung memanjang tepat ditengah dataran luas yang dikelilingi pegunungan penuh dengan makhluk aneh berupa sama dengan makhluk yang menculiknya. Hinata tidak bisa menahan diri untuk tidak terperangah melihat betapa banyak jumlah makhluk aneh itu. Pantas saja enam makhluk terdekat dengan Hinata hanya diam mengawasi gerakannya karena yakin dirinya tidak bisa lolos dari kepungan mereka.

Susah payah Hinata membersihkan tenggorokannya yang kering. Pertanyaan tempat apa dan dimana dirinya berada sekarang beserta alasan kenapa makhluk-makhluk ini menculiknya berputar di kepala.

"Naruto-kun!" jeritnya dalam hati.

.

"Kau sadar dengan apa yang kau minta?" tanya Naruto serius, ekspresi wajahnya menegaskan ia tidak main-main. Tak tampak kilatan jahil pada mata yang masih terus mengawasi Hinata untuk memastikan kesungguhan gadis dihadapannya.

Hinata langsung mengangguk mantap tanpa ragu menjawab pertanyaan Naruto.

"Kau sadar siapa aku sebenarnya? Resiko permintaanmu terlalu besar. Hidupmu akan berubah dan Aku bukan seorang manu-"

Kesadaran baru menghujam memorinya di tengah rasa takut, inikah maksud Naruto dengan resiko besar dan kehidupannya akan berubah? Inikah peringatan yang coba dijelaskan Naruto malam itu sebelum akhirnya ia memotong apa yang akan di jelaskan pemuda itu? Bahwa dirinya akan bersinggungan dengan dunianya. Yang berarti ia akan sering menemui berbagai macam makhluk aneh—berbahaya—seperti dihadapannya sekarang.

Jadi… inikah dunia Naruto? Penuh monster menyeramkan berbentuk aneh.

Hinata menarik nafas dalam-dalam berusaha menenangkan diri. Menakutkan memang. Sangat. Tetapi, ini merupakan salah satu rintangan dalam jalan hidup yang dipilihnya. Hinata tidak akan mau menyesali pertemuannya dengan Naruto. Ia tidak boleh gentar maupun takut jika berhadapan dengan makhluk aneh dari dunia Naruto. Ia harus menghadapi ini semua dan tidak akan pernah melarikan diri.

Getaran hebat di tubuh Hinata perlahan mereda dan Hilang seiring dengan tekadnya yang sudah bulat.

Hinata gagal memberitahu Naruto dan membiarkan dirinya dengan mudah dibawa ke tempat yang tidak ia kenal. Kini yang dapat ia lakukan sekarang adalah bertahan hidup sampai Naruto menyadari ketidak beradaannya dan menemukannya secepat mungkin.

Hinata yakin Naruto pasti mencari dan datang menolongnya karena mereka sudah berjanji akan selalu bersama. Hinata mempercayai Naruto.

Demi Naruto yang sudah memberinya keajaiban kecil berupa kesembuhan dari sakit yang menyiksa, demi Naruto yang sudah banyak berkorban waktu−yang mungkin tidak seberapa bagi Naruto sendiri—selalu menemani kapanpun dan dimanapun Hinata berada, demi Naruto yang membuatnya kembali merasakan emosi yang lama tidak ia rasakan, dan demi Naruto yang mengajari sebuah rasa asing yang membuat hati dan logikanya selalu bersitegang namun aneh hinata menyukainya. Dan demi bertemu kembali dengan Naruto ia harus bertahan.

Ya harus…

Walau dia sendiri harus merelakan tubuhnya membeku akibat merasakan sakit seperti tersengat listrik yang tiba-tiba datang setelah matanya menangkap seberkas sinar muncul dari lendir hijau yang melumuri tubuhnya.

"KYAAAAAAAAAAAAAAA!" lengkingan kesakitan lolos begitu saja tanpa ijin dari mulut Hinata. Kedua tangan yang sejak tadi menahan tubuhnya mendadak kehilangan tenaga hingga membuat Hinata jatuh terjerembab dan meringkuk kembali di pembaringannya semula.

"Naruto-kun!" tanpa sadar Hinata mengerang sakit memanggil sosok Naruto.

.

Sakit

Ini sakit sekali.

Kulitnya terasa perih menggigit, seluruh ototnya menegang bagai ditarik paksa oleh kekuatan kasat mata, sungguh berbanding terbalik dengan seluruh tubuhnya yang mendadak lemas. Hinata merasa seluruh energinya terhisap. Rasa sakit yang dirasakan membuat Hinata lupa akan rasa jijik saat pertama kali melihat lendir hijau di tubuhnya.

Astaga, apalagi ini?

Hinata tidak mengerti apa yang terjadi. Dia memejamkan mata menahan keluarnya air di sudut matanya. Ia tidak boleh menangis! Airmata hanya akan membuat tekad yang dibangunnya tadi goyah dan Hinata tidak menginginkan itu. Gigi atas dan bawah Hinata bergetak keras, berusaha menahan rasa sakit yang tidak juga berkurang sekaligus berkonsentrasi agar dirinya berhenti berteriak. Hinata tidak ingin menambah sakit pada tenggorokannya karena sadar teriakan tidak akan mengurangi rasa sakit yang mendera seluruh tubuhnya.

Hinata membuka mata merasakan tekstur lendir di tubuhnya mengeras dan menebal. Mata Hinata menyipit melihat lendir itu kini bersinar sangat terang.

Apa yang terjadi? Kenapa semakin terang lendir ini bersinar tubuh Hinata terasa lemas.

"HINATA!"

Kedua mata Hinata sontak terbuka begitu mendengar suara yang meneriakan namanya dari dalam kepala. Suara yang sangat dikenalnya. Suara yang membuatnya sejenak melupakan rasa sakit tiada henti yang mendera tubuhnya. Suara yang membuat rasa panic dan takut hilang bergantikan dengan rasa aman luar biasa meskipun keadaan tidak berubah sama sekali. Suara Naruto yang membuat Hinata dibanjiri perasaan lega.

Ternyata suara yang membangunkan Hinata sebelumnya bukanlah mimpi… Hinata sungguh bersyukur sudah mempercayai Naruto.

Hinata merasakan kehadiran Naruto perlahan mendekatinya. Naruto datang! Dia datang untuknya!

"Na…ru…to…kun." Lirihnya dengan nafas tersenggal berusaha melafalkan nama seseorang yang sejak tadi ditunggunya.


.

.

.

Dari kejauhan sapphire Naruto menangkap seberkas kumparan chakra ungu gelap, sebuah kekkai berbentuk kubah raksasa yang melindungi lembah tersembunyi di antara pegunungan. Naruto menggerakan sayapnya lebih cepat mempercepat lajunya.

Tidak salah lagi…

Naruto merasakan hawa keberadaan Hinata semakin kuat. Segera saja ia menukik tajam dengan kecepatan tinggi ke arah kekkai bermaksud menerobos langsung. Tidak peduli seberapa kuatnya kekkai itu, yang ada dipikirannya hanyalah Hinata. Ia harus segera mendapatkan Hinata kembali. Gadisnya pasti ketakutan berada di bawah sana.

BZZZ….

"Tch." Decih Naruto merasakan gelombang balik yang dilontarkan kekkai dari benturan kekuatan yang dikeluarkannya.

Sial! Naruto tidak menyangka kalau kekkai milik Gbahali sekuat ini.

Gesekan kedua kekuatan yang terjadi membuat keadaan di sekitarnya dipenuhi kilatan selama beberapa saat. Naruto mengerjap, ini bukan saatnya bermain-main. Ia kerahkan seluruh chakra yang dimiliki, tidak mempedulikan kemungkinan chakranya habis karena sudah terkuras banyak saat mengerahkan roh angin dunia iblis untuk mencari keberadaan Hinata. Naruto tidak bisa melacak pancaran chakranya pada Hinata ternyata memang disebabkan kekkai sialan ini. Yang terpenting adalah Hinata. Naruto harus mendapatkan Hinata kembali. Harus.

Naruto menggertakkan giginya kuat seraya mengeluarkan chakra yang lebih besar. Tanpa disadari tubuhnya mulai mengeluarkan gelembung chakra merah. Chakra tersebut membuat kedua taringnya memanjang, bibirnya menghitam dengan seringai mengerikan, tiga garis kembar di wajahnya menebal, kukunya juga memanjang dan meruncing tajam. Dan kedua iris biru di mata indah miliknya pun tak luput berubah menjadi merah dengan pupil yang memanjang.

Tidak ada lagi yang dia pikirkan selain Hinata, dia butuh Hinata, dan akan mendapatkan Hinata kembali.

"HINATAAAA!"

BLAARR!

.

.

Shikamaru dan Ino terpaku menatap ke atas arah jam sebelas. Kedua iblis itu menganga lebar melihat siapa yang nekat menghancurkan barikade pertahanan milik Gbahali. Mereka tidak menyangka akan bertemu dengan Naruto di tempat seperti ini.

Ino hampir saja memekik senang. Memanggil Naruto karena rindu pada bocah yang selalu berisik tiap kali mereka bertemu kalau saja tidak di tahan Shikamaru. Bukan karena cemburu. Shikamaru percaya penuh pada Ino. Bukan juga karena ia takut Ino akan menarik perhatian Gbahali. Semua Gbahali kini telah focus pada sosok Naruto yang mulai membantai ratusan Gbahali yang serempak menyerang tanpa ampun—minus enam Gbahali yang mengelilingi Hinata.

"Dia berbahaya Ino!" desis Shikamaru memperingatkan.

Ino mengerutkan keningnya, menggeleng tidak setuju. "Apa maksudmu Shika? Kau tidak lihat itu Naruto?" tukas Ino kesal karena Shikamaru menahan tangannya kuat.

"Lihat wujudnya."

"Apa mak-"

Perkataan Ino terpotong oleh seongok tubuh Gbahali yang melayang ke arah mereka. Sigap, mereka terbang menghindar. Baru pada saat itulah Ino melihat sosok Naruto yang lain.

Chakra dan Aura iblis Naruto berbeda, tubuh Naruto juga berubah walau Ino yakin yang sedang dilihatnya adalah Naruto. Ino melihat kerusakan parah yang berhasil dilakukan Naruto dalam waktu singkat. Sedikit banyak Ino kagum pada kekuatan Naruto yang tidak terlihat menunjukan tanda-tanda berkurang.

Inikah kekuatan sebenarnya Naruto. Tapi ada yang aneh.

"Dia tidak normal." Celetuk Shikamaru yang berada tak jauh dari Ino tanpa mengalihkan pandangannya pada sosok Naruto. Sama seperti Ino yang terpaku pada kekuatan besar Naruto.

Ino menganggukan kepalanya membenarkan perkataan Shikamaru. Benar ada yang tidak beres dari Naruto. Dia terus maju menerobos ratusan Gbahali tanpa sedikitpun memandang mereka. Wajahnya datar, bibirnya mengucapkan sesuatu berulang-ulang, serta tatapan kosong dan mengarah pada satu titik…

"….Gadis manusia itu." Seru Ino dan Shikamaru bersamaan saat menatap arah tujuan Naruto pada Hinata yang masih meringkuk bertahan dengan rasa sakit.

.

"Hinata… Hinata… Hinata…" Naruto terus menggeram memanggil nama Hinata.

Semakin dekat Naruto pada Hinata semakin dirinya merasakan keanehan di tubuhnya. Ia tidak terluka, tetapi kepalanya terasa sakit. Focus pandangannya mengabur, nafasnya pun terasa berat hingga rasa sakit mengigit di sekujur tubuh. Ia sendiri tidak mengerti kenapa tubuhnya terasa menyakitkan, sangat berbanding terbalik dengan luapan chakra besar yang dikeluarkan tubuhnya.

Hinata… apa kau kesakitan? Hinata… Hinata…

Beberapa meter lagi Naruto akan tiba di tempat Hinata, matanya berhasil menangkap sosok yang begitu dirindukannya. Kekalutan yang menggerogoti karena tak melihat sosok mungil tersebut membuatnya kacau, waktu terasa berjalan lambat, rasanya dia sudah menunggu terlalu lama melebihi lama masa hidupnya yang sudah ribuan tahun. Padahal ia menyadari belum genap empat jam mereka terpisah, tetapi Naruto benar-benar merasa tak nyaman.

Naruto melihat Hinata meringkuk di sebuah altar dikelilingi enam Gbahali di setiap sisi. Tubuhnya terlihat hampir polos berlumur cairan hijau bersinar yang sepertinya sangat lengket.

Darah Gbahali?

Tidak mengherankan kekkai yang diterobosnya sangat kuat. Energy kehidupan manusia yang diserap Gbahali membantu mereka mendapatkan kekuatan lebih.

"Bertahanlah Hinata… Tunggu sebentar lagi…" Naruto berkata di dalam kepala Hinata sambil terus merangsek maju. Tangan dan kakinya masih terus sibuk menyingkirkan puluhan Gbahali yang menghalangi jalannya menuju tempat Hinata. Dia tidak memperdulikan nasib para penghadangnya, yang ia tahu hanya secepatnya sampai ke tempat Hinata.

Seulas senyum kecil yang manis terukir untuk Naruto dihadiahkan wajah cantik yang sedikit berkerut seperti menahan rasa sakit.

Ya… Naruto mengerti sekarang… rasa sakit pada tubuhnya berasal dari Hinata. Chakra kecil milik Hinata terserap oleh symbol kumparan yang Naruto bubuhkan. Symbol yang tidak hanya membuat Naruto mengetahui keberadaan Hinata tetapi juga mengetahui kondisi tubuh gadisnya.

Sibuk menatap Naruto tidak menyadari ke enam Gbahali di sekeliling Hinata bergerak serempak membuat sebuah segel.

Tubuh Naruto mendadak berhenti bergerak, kedua matanya terbelalak, dia melihat senyum Hinata menghilang, kedua bola matanya terlihat melebar dengan sorot mata kosong.

Ada yang tidak beres.

Setengah detik kemudian terdengar jeritan Hinata.

Tidak seperti jeritan kesakitan pada umumnya. Jeritan ini membuat bulu kuduk Naruto berdiri tegak. Jeritan panjang melengking yang datang bersamaan dengan rasa sakit di tubuh yang semakin menjadi.

'Apa yang−'

"OHOK!"

Naruto dan Hinata memuntahkan darah. Naruto jatuh bersimpuh tepat beberapa langkah dari altar tempat Hinata terbaring sedangkan Hinata mengejang tak tentu arah. Dia menggeram penuh amarah, akal sehatnya semakin menipis melihat tubuh milik gadisnya terlonjak-lonjak tidak sadarkan diri tepat di depan mata.

Amarah kembali menguasai, keinginan Naruto yang begitu kuat untuk menyelamatkan Hinata membutakan mata dan akal sehatnya. Hingga tidak mempedulikan apapun disekelilingnya kecuali menghancurkan dan mendapatkan Hinata yang sudah tidak sadarkan diri.

Bahkan dia tidak mempedulikan Ino dan Shikamaru yang tengah berteriak memanggil Namanya.

"NARUTO AWAS!"

.

BRUGH.

CRASSH

"UAARGH!" Naruto berteriak kesakitan merasakan punggungnya mendapat hantaman keras yang menahan pergerakannya, sebuah gigitan dalam terasa menancap di pundak kanan, dia melihat kulitnya terkoyak sebuah moncong besar penuh gigi besar dan tajam.


Sosok itu tertawa membahana, senyum mengerikan tertarik lebar dari bibirnya memperlihatkan kedua taringnya yang runcing. Kedua mata berbinar tajam menatap sebuah adegan dramatis yang disajikan oleh bola kristal di tangan putih pucatnya. Dewi fortuna sepertinya senang berpihak padanya kali ini.

" Kau milikku… Kyuubi."

.

.

.

.

.

つづく

.

.

.

.

ISTILAH

DOU SUREBA! : Bagaimana bisa!

Ochitsuke : Tenanglah

Shukakurashi teba : Benar-benar khas Shukaku

Wakaru : Mengerti

Mattaku, nande wareware wa futatabi konna tokoro de kita no? shimettashi, nuretashi, ikiguruhiishi, soshite shuki, hoka no tokoro de nani ga okonatta dekiru no shikamaru! : Geez, kenapa kita berdua datang ke tempat ini lagi? sudah lembab, basah, pengap, bau lagi! Hei Shikamaru, Tidak adakah tempat lain yang bisa di datangi?

Buzubuzushitejannero Ino : Ino jangan mengeluh sendiri terus

Are wa, konna mendokusei tokoro de soko ni atta : Hal itu, hanya ada di tempat merepotkan seperti ini.

Saa na… : Siapa tahu…

Ochitsuke Naruto, dekiruttebayo : ayo tenanglah Naruto, kau pasti bisa.

『悪魔の世界に生息する風の精霊は、来て、オレの命令に従う』 akuma no sekai ni seizokusuru kaze no seirei wa, kite, ore no meirei ni shitagau : wahai roh angin penghuni dunia iblis, datanglah, turuti perintahku.

『代わりに私の目のひろがり、あんたたちが行くすべての場所を示す』 Kawari ni watashi no me no hirogari, antatachi ga iku subete no basho wo shimesu : menyebarlah sebagai ganti mataku, tunjukkan setiap tempat yang kalian lewati.

.

.

.

And there here is, MINNA DE OKAGEDE HONTOU NI ARIGATO^^ without you all I cant make a good story. ^^ love u all #peluk2 reviewer


Akhir kata Ho ucapkan

本当にありがとうございます。

Hotaru Out.