Chapter 7 : Forgotten Memories
.
.
.
Aku tidak tahu kenapa,
Yang aku tahu hanya satu;
Aku yang sangat membutuhkanmu…
.
.
.
.
.
.
Ruangan dengan penerangan remang itu terlihat sunyi dan damai. Sesosok pemuda tertidur nyaman dalam posisi tengkurap diatas sebuah ranjang berukuran besar. Kelopak matanya tertutup rapat. Wajah tampan yang biasa terlihat kaku tampak polos bagai anak kecil—sangat berbeda 180° saat ia terbangun. Irama napas yang teratur memberitahukan seberapa pulas ia tertidur. Dilihat dari keadaan, sepertinya ia tidak akan bangun dalam waktu dekat. —Sigh, padahal matahari sudah lama meninggalkan ufuk timur dan akan terbenam di barat kurang dari satu jam lagi.
Meski demikian nyaman dalam alam mimpi, pemuda tersebut tetap tak mengurangi kewaspadaan. Insting iblis yang dimilikinya terlalu peka untuk melewatkan sebuah gerakan halus yang mencurigakan dari sudut kamar. Hal itu memaksa dirinya membuka lebar kedua kelopak mata yang terasa lengket dan memperlihatkan sepasang onyx kelam yang menyorot tajam. Meski tidak menunjukan ekspresi berarti namun kilatan kekesalan terpancar jelas di sana.
Sambil mengumpat dalam hati pemuda itu berbalik perlahan, memperlihatkan dada putih berotot yang terekspos begitu saja. Pemuda itu memutuskan diam, tak berkata maupun bergerak, hanya membiarkan onyxnya mengawasi gerakan sekecil apapun yang tertangkap tanpa melepaskan pandangannya sedetik pun. Ia akan menunggu apa yang terjadi nanti dan hanya bertindak berdasarkan situasi saja.
Bayangan hitam muncul dari bawah di balik tirai jendela, perlahan bergerak membentuk sosok tak asing.
"Pergilah ke dunia manusia," tiba-tiba suara terdengar dari sosok hitam tersebut. "… dan kau akan menemukan sesuatu yang menarik. Sasuke." Merasa telah menyelesaikan urusannya bayangan hitam tersebut berubah transparan kemudian hilang menguap seperti asap.
Sasuke mendengus, matanya berputar menanggapi suara asing yang seenaknya muncul, memerintah lalu hilang dengan cepat.
Memangnya orang itu pikir mudah pergi ke dunia manusia? Nadanya seolah mengatakan ia mampu pulang pergi ke dunia manusia sesuka hati membuatnya kesal. Well, tekniksnya ya, Sasuke mampu. Meski sedikit penasaran, membayangkan berpergian ke tempat yang jauh dan menguras banyak chakra hanya untuk hal yang tidak pasti—dan tidak jelas—membuatnya sudah merasakan lelahnya terlebih dahulu sebelum bertindak. Tentunya Sasuke sekarang lebih memilih melanjutkan tidur dan kembali bermalas-malasan.
Namun sepertinya gangguan yang datang belum mau menjauh. Baru saja pemuda bermarga Uchiha itu memejamkan mata dan bersiap kembali ke alam mimpi yang sempat tertunda, sebuah ketukan pelan terdengar di pintu kembali menginterupsi waktu istirahatnya.
Geraman pelan disertai umpatan kekesalan tak pelak meluncur dari bibir tipis kissable tersebut. Sasuke dan waktu tidurnya yang terganggu bukanlah hal yang menyenangkan untuk dihadapi.
"Masuk." berucap datar nan dingin, Sasuke tidak repot-repot menyembunyikan kekesalan pada suaranya.
Niat suci memaki siapapun yang sudah berani menganggunya harus kembali tertelan ketika onyx kelamnya menangkap sosok mini dark elf melayang dibelakang pelayan yang menunduk gemetar.
"Nani ga?"
Tubuh sang pelayan langsung menegang mendengar pertanyaan tak suka dari tuannya, setelah mengumpulkan keberaniannya yang tidak seberapa untuk menjawab, sang pelayan dibuat heran mendapati tuannya menatap malas ke arah belakang. Dia baru menyadari tamu tuannya ternyata sudah berada di sini.
Dengan gesture malas minim ekspresi Sasuke bangkit perlahan mendudukan diri tanpa melepas tatapan. Mengacuhkan pelayannya yang kembali menundukan kepala dalam-dalam dengan tubuh gemetar sambil memohon ampun karena telah berani mengusik tidurnya, ia membiarkan tamunya masuk ke dalam ruang pribadinya.
"Tsunade-sama memanggil." Jawab Shizune—sosok dark elf itu singkat. Suara dan wajahnya terlihat datar seperti tidak ingin dibantah.
Bagus, rusak sudah rencana Sasuke untuk tidur seharian di akhir liburan berharganya yang sangat jarang didapatkan.
Meski kesal, melihat sikap tidak biasa dari tangan kanan pemimpin dunia iblis itu mau tak mau membuat Sasuke bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi hingga mereka memutuskan menganggu waktu liburnya.
'Apapun itu sepertinya mendesak sekali." Batinnya malas.
Sasuke mendesah pelan, "Aku mengerti."
Setelah mendengar respon Sasuke, Shizune langsung berbalik tanpa permisi. Sikapnya membuat sang pelayan yang mendampinginya terkejut, bermaksud mengantar keluar kediaman Uchiha sang pelayan kembali berbalik untuk undur diri namun kembali terkejut karena tidak mendapati kehadiran tuannya di sana.
Sejak kapan tuannya pergi?
.
.
.
NARUTO FANFICTION
Angel? No Devil!
Diclaimer : Naruto©Masashi Kishimoto
Angel? No Devil!©Hotaru
Genre : Romance, H/C, Fantasy
Rate : T+
Pairing : Naruto x Hinata
Warning : OOC, MissTypoo(s), Gaje
Bagi yang Anti NaruHina disarankan segera tekan tombol back!
Tidak menerima flame yang tidak bertanggungjawab dan tidak rasional
Sangat terbuka untuk kritik dan saran
Don't Like Don't Read!
.
.
.
.
Deal!
はじめ
.
.
BRUGH.
CRASSH
"UAARGH!"
"Naruto!" Pekik Ino tertahan, monster Gbahali raksasa yang ia lihat sebelumnya kembali menampakan diri dan langsung menyarangkan gigi-gigi tajamnya pada bahu Naruto. Terlihat jelas bagaimana gigi itu merobek lapisan kulit Naruto.
"—Tch, mendokusai." Shikamaru berdecih, bergerak cepat ia menghampiri Naruto yang gerakannya terkunci oleh tubuh raksasa pemimpin Gbahali. Segera saja ia menempatkan diri diantara mereka. Kedua tangannya mencengkram kasar leher besar penuh lendir di hadapannya sementara satu kaki bertumpu di perut Gbahali.
Shikamaru membuat bayangannya sendiri memipih dan bergerak ke seluruh tubuh Gabali. Dengan gerakan melingkar bayangannya terus naik ke atas. Ujung dari bayangannya menyusup ke dalam celah moncong dan melilitnya erat.
"Lepaskan Naruto, Dasar monster merepotkan!" umpat Shikamaru menyentak kasar kaki yang berada di perut Gbahali.
JLEB!
Tanpa peringatan ujung bayangan Shikamaru yang runcing menusuk dari bagian dalam moncong hingga tembus keluar.
"GRRAAGHH!"
Geraman kemarahan dan kesakitan terdengar memekakkan telinga Shikamaru. Ia menghentakan kembali kaki, kemudian seluruh bayangan yang sudah mengikat monster seketika meruncing , menusuk seluruh tubuh raksasa itu.
Shikamaru mengalihkan pandangannya ke arah jam satu. Di sana Ino terlihat diam dengan tubuh kaku. Mata kekasihnya tampak terbelalak lebar menatap nanar pada mereka. Kelihatannya Ino masih agak shock.
"Ino!"
Ino mengerjap cepat, kesadarannya kembali tertarik mendengar panggilan Shikamaru. Tatapan Shikamaru yang mengatakan jangan-diam-saja-cepat-lakukan-sesuatu membuat Ino mengangguk.
"Aa! Wakatte iru!" ucap Ino seakan mengerti apa yang harus dilakukan. Segera saja Ino meluncur ke arah altar.
Dari tempatnya berada Ino dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi. Sebuah symbol hexagram muncul dari aliran energy yang keluar dari tubuh manusia—diketahui Ino bernama Hinata— yang berada tepat di tengah.
Ino memperhatikan pergerakan energy, bagaimana tubuh Hinata terus mengejang dalam keadaan tidak sadar, sementara lendir menjijikan Gbahali terlihat memadat dan mengeras membentuk kepompong keras dari kristal.
Seulas seringai tertarik di sudut bibir Ino.
Begitu rupanya…
Ino menngerti apa yang akan para Gbahali lakukan pada tubuh Hinata. Ini sungguh menarik, tidak biasanya Gbahali menggunakan media tubuh manusia untuk berkembang biak. Shizune-senpai pasti senang mengetahui hal ini.
Ino menarik perlahan pisau tanto yang terselip di belakang pinggang. Sasaran pertamanya adalah enam Gbahali yang mengelilingi si gadis manusia yang tak lain adalah Hinata. Tidak ada jalan lain selain membunuh semua para Gbahali sebelum mereka sempat menyelesaikan ritual pengosongan energy kehidupan Hinata dan menggantinya dengan energy kehidupan mereka.
Kemungkinan besar, cairan yang dimuntahkan mereka adalah darah yang telah terkontaminasi oleh benih-benih mereka. Bisa berbahaya jika darah itu sampai sempurna meresap melalui pori-pori kulit dan bercampur dengan darah Hinata yang tengah dijadikan wadah perkembang biakan mereka. Ia harus segera bertindak.
Ino menukik cepat menuju Gbahali terdekat. Baru saja akan menusuk satu dari enam monster menjijikan itu pergerakannya terhenti. Mendadak tangan para Gbahali bergerak serempak membentuk segel. Tiba-tiba kejutan aliran chakra terasa menyengat tubuh Ino. Ia terlempar dan terhempas beberapa meter ke belakang menjauhi altar.
"Kyaa!"
Tidak begitu menyakitkan, tapi tidak bisa juga dibilang menyenangkan.
"Ino!" panggil Shikamaru memastikan keadaan kekasihnya ketika melihat tubuhnya terlempar dan tersungkur di tanah tak jauh dari posisi ia berdiri.
"Daijoubu. Chotto bikkurishimata." sahut Ino cepat, tidak ingin membuat khawatir dia segera bangkit. Kedua netranya terbelalak mendapati sebuah perubahan di sekitar altar.
'Cih, penghalang ya' batin Ino kesal. Setengah mengutuk kecerdikan Gbahali dalam upaya menghalau serangannya. "Mereka membuat penghalang di sekitar altar Shika." Ungkap Ino menjabarkan apa yang sedang terjadi. Terlihat sebuah kubah perlahan terbentuk di sana.
Dengan cepat Ino menerjang kembali, tak membuang waktu menyerang sebelum lingkaran pelindung yang dibuat para Gbahali utuh dengan ujung tantonya yang terhunus di depan. Namun seperti tadi, tubuh Ino kembali terlempar oleh dorongan kasat mata yang menghalangi tujuannya menggagalkan pembentukan kekkai. Sungguh daya dorong yang benar-benar merepotkan. Ino menggerutu kesal.
"Shika!" panggil Ino berharap Shikamaru memberi sedikit bantuan untuk menghancurkan kekkai menyebalkan di hadapannya.
"Hancurkan saja dan segera bawa pergi manusia itu menjauh! Secepatnya!" ujar Shikamaru cuek sontak membuat kedutan besar muncul di kepala Ino. Kalau saja bisa hancur dengan mudah Ino tidak akan meminta bantuan.
Diurungkan niat Ino mengandalkan bantuan kekasihnya mengingat Shikamaru yang terlalu sibuk mengerahkan chakra dan tenaganya untuk merenggang paksa rahang raksasa yang menjepit bahu Naruto agar lepas. Shikamaru terlihat kesulitan, tubuh Naruto yang terus meronta sama sekali tidak membantu. Bergerak ke kanan dan kiri sambil meraung kesakitan.
"Shikanshiro Naruto!" ujar Shikamaru berusaha menenangkan. "Ugokanai! " kata Shikamaru lagi, sedikit berharap Naruto masih memiliki kesadaran yang tersisa untuk mendengar suaranya meski kecil kemungkinan.
Detik berikutnya Shikamaru hampir berhasil membuat moncong Gbahali merenggang kalau saja gerakannya tidak tiba-tiba terhenti. Tubuhnya membeku. Tekanan hawa iblis yang sangat besar terasa di belakangnya. Tepat berasal dari tubuh Naruto. Hawa iblis itu semakin lama menekan semakin membesar hingga membuat udara di sekitarnya memberat.
Gawat! Naruto harus segera sadar. Firasat Shikamaru buruk kalau ia tidak secepatnya menyadarkan Naruto.
"Naruto… Oi! Sadarlah! NARUTO!" teriak Shikamaru untuk menarik kembali kesadaran Naruto sambil terus berusaha melepas cengkraman Gbahali. Berapa besar kekuatan Naruto yang akan terlepas Shikamaru benar-benar tidak ingin tahu dan memikirkannya. Yang ia tahu hanya keadaan akan semakin tak terkendali kalau hal ini dibiarkan terlalu lama.
Kening Shikamaru mengernyit dalam mendapati cengkraman gigitan Gbahali yang tiba-tiba ikut bertambah kuat. Apa yang terjadi? Dalam hati Shikamaru bertanya-tanya mengapa hal ini bisa terjadi dan kenapa kekuatan pemimpin Gbahali ini seakan tidak memiliki batas lemah.
.
Tanpa disadari Shikamaru gelembung chakra merah semakin banyak keluar dari tubuh Naruto. Ia baru menyadarinya saat kulit punggung yang bersinggungan langsung pada kulit Naruto terasa terbakar. Sontak pemuda berambut nanas itu langsung melepaskan diri dan menyingkir menjauhi posisinya. Bayangan yang melilit seluruh tubuh Gbahali pun otomatis terlepas.
Setengah merintih Shikamaru melihat pakaian yang dikenakannya sudah meleleh dan bolong di sekitar lengan atas sebelah kanan hingga punggung. Kulitnya terlihat sedikit menghitam dan mengelupas dengan darah mengalir deras dari lukanya. Sial! Shikamaru mengumpat pelan meruntukin kebodohannya. Bagaimana bisa dirinya tidak menyadari perubahan yang terjadi pada chakra Naruto. Shikamaru tak mengira betapa berbahayanya chakra merah itu, padahal dia langsung menyingkir secepat kilat sesaat setelah merasakan kulitnya terbakar.—Tch, untung saja dia sempat menyimpan sayapnya hingga tidak ikut terluka walau harus rela dirinya tidak bisa mengeluarkan sayapnya untuk sementara waktu hingga luka di punggungnya pulih.
Ditengah rintihannya, perhatian Shikamaru kembali focus melihat chakra merah yang menyelimuti tubuh Naruto mengalami perubahan yang cukup signifikan. Chakra itu semakin menebal. Di sana Naruto terlihat seperti mengenakan jubah chakra, tetapi mengapa di sekitar kepalanya cakra itu seperti membentuk sepasang telinga dan… ekor?
"Chakra apa itu…"
.
Tak jauh dari sana Ino kembali terpental saat memaksakan dirinya menerobos—lagi—kekkai yang baru saja terbentuk. Dia harus merelakan tubuhnya kembali kotor oleh tanah basah penuh lumpur untuk kesekian kalinya.
—oke cukup! Habis sudah kesabaran Ino.
Di ulurkan kedua tangannya ke depan, jemari lentiknya menyatu membentuk segitiga mengarah ke salah satu Gbahali yang berada di dalam altar.
"INO MENYINGKIR!" teriakan keras Shikamaru membuat Ino tersentak. Penasaran akan nada mendesak Shikamaru membuatnya segera menoleh. Kedua matanya terbelalak melihat kumparan besar chakra merah menyerupai gelombang ledakan bergerak cepat mengarah padanya. Dengan gesit Ino melompat tinggi menghindar langsung melesat ke atas menjauhi ledakan.
.
.
Raungan buas terdengar menggelegar keras bersamaan dengan ledakan besar yang berasal dari chakra murni milik Naruto.
"A-astaga…"Ino tersenggal, nafasnya memburu begitu menyadari apa yang baru saja dihindarinya.
Hampir… hampir saja Ino terpanggang hidup-hidup kalau ia telat sedetik saat menghindar.
Ledakan itu menghancurkan sebagian besar dataran—termasuk kekkai yang menutupi altar tempat Hinata berada. Altar itu terlihat mengalami kerusakan parah, enam Gbahali yang berada di sana terlihat tergeletak tak bernyawa dengan tubuh hangus mengeluarkan asap. Sedikit mengejutkan melihat batu tempat Hinata terbaring masih terlihat utuh—tubuh gadis itu tampak tak bergeser sedikitpun. Lendir hijau— darah Gbahali— yang menutupi tubuh Hinata tampak pecah dengan kepingan berhamburan.
Berkat ledakan tersebut tubuh Naruto terbebas dari cengkraman menyakitkan Gbahali raksasa. Tubuh besar itu terlihat terlempar jauh beberapa meter ke atas.
Tak menunggu tubuh raksasa Gbahali menghatam tanah terlebih dahulu sosok Naruto di tanah tiba-tiba saja menghilang. Dan entah bagaimana Naruto muncul di atas, mencabik tubuh yang berukuran tiga kali lipat lebih besar tanpa basa basi menjadi dua bagian.
Shikamaru yang melihatnya tampak terhenyak menyadari betapa cepatnya Naruto bergerak.
Berbahaya!
Naruto yang sekarang sangat berbahaya!
.
.
.
Keduanya tidak bisa berkata-kata. Lidah mereka terlalu kelu untuk melisankan apa yang mereka lihat.
Mereka tahu Naruto adalah salah satu iblis kelas atas yang masuk dalam golongan elit. Kekuatan yang di milikinya tidak bisa diremehkan. Meski tidak sejenius Sasuke, kekuatan Naruto hampir dikatakan seimbang dengan ketua pasukan elit minim ekspresi itu.
Meskipun pada kesehariannya Naruto tidak memiliki tugas rutin seperti melatih atau mengawasi anak buah—Naruto tidak memiliki bawahan seperti Sasuke, dan pembawaannya yang ceria serta konyol sangat tidak mencerminkan seberapa kuat dirinya, namun mereka berdua tahu betapa kuatnya Naruto.
Di luar misi, Naruto merupakan sesosok iblis jahil yang senang membuat masalah. Selalu bertindak bodoh sesuai dengan keinginannya sendiri tanpa peduli masalah yang akan ditimbulkannya—dalam hal ini Sasuke yang selalu ketiban sial untuk menyelesaikan masalah yang diperbuat Naruto. Walaupun terkesan liar, urakan dan ceroboh, Shikamaru dan Ino tidaklah menutup mata. Mereka mengakui ketajaman insting Naruto di atas rata-rata pada saat bertempur. Itu pun mereka ketahui setelah beberapa kali menjalankan misi bersama.
Naruto selalu ditugaskan menjadi pengawas mereka saat menjalani misi. Yah—meski pada kenyataannya justru mereka yang pada akhirnya berbalik mengawasi Naruto yang selalu tiba-tiba bertindak seenaknya tanpa memperdulikan misi akan berhasil atau gagal. Meskipun demikian Naruto adalah sosok yang selalu sigap melindungi rekannya yang mengalami kesulitan.
Dia adalah iblis nomor satu penuh kejutan yang mereka kenal. Semua tindak tanduknya selalu membuat orang di sekitarnya tercengang, terpana bahkan terkagum-kagum. Termasuk dengan apa yang diperbuatnya saat ini...
Sebuah tanah lapang—keberadaannya tersembunyi di daerah pegunungan; seharusnya tempat itu terlihat sunyi, damai, tentram dan tak terusik. Tapi kini tidak terlihat seperti itu lagi. Tanah lapang itu terlihat mengenaskan. Bukan— bukan mengenaskan karena ratusan Gbahali mendadak berimigrasi ke dunia manusia—walau hal itu juga ikut ambil andil dalam kerusakan, well— abaikan hal itu. Ini lebih mengenaskan dari pada itu, karena saat ini pemandangan yang terlihat hanyalah tumpukan ratusan mayat Gbahali.
Sebagian besar, mayat-mayat itu terlihat utuh, tapi tidak sedikit juga yang berupa potongan tubuh. Beberapa tubuh terlihat hangus, ada juga yang masih berkedut-kedut— entah masih menandakan kehidupan atau tidak. Hanya belasan yang terlihat masih hidup dan berdiri. Itu pun dalam keadaan mengenaskan; penuh luka bakar di sekujur tubuh.
Kejadian yang sangat mencekam sekaligus menggelikan disaat bersamaan. Entah harus merasa takut, heran atau bahkan takjub? Sekompi Gbahali yang terkenal kuat dan cerdik dibuat tidak berdaya oleh satu iblis—Naruto. Dalam situasi normal mungkin mereka akan menyangsikan atau mungkin tertawa mendengar hal itu, tetapi lain halnya jika melihat dengan mata kepalamu sendiri.
Entah dari mana kekuatan besar Naruto berasal.
Jelas mereka kagum—sangat. Tetapi mereka pun tidak menampik kalau kekuatan yang dikeluarkan Naruto tergolong tidak wajar. Seolah sesuatu terlepas dari segel, tubuh Naruto berada di luar kendali. Dia dikuasai oleh kekuatannya sendiri.
.
Iblis selalu bertarung mengandalkan insting; sebuah dorongan hati atau nafsu bawaan alami untuk melakukan pertarungan. Oleh karena itu tak jarang sesosok iblis sering terlihat lepas kendali di tengah pertarungan karena terlalu terlena oleh kenikmatan bertarung.
Namun perilaku seperti itu hanya ditemukan pada kalangan iblis kelas bawah. Kekuatan mereka pun tidak lebih dari iblis kelas atas. Iblis kelas atas memiliki insting mempertahankan diri yang mampu mengendalikan kekuatannya agar tidak lepas kendali ketika bertarung. Hal ini mencegah mereka untuk menyakiti tubuh mereka sendiri karena disaat iblis kehilangan kendali diri dia akan terus menghancurkan semuanya sampai puas tanpa memperdulikan tubuh mereka. Bisa dikategorikan, iblis kelas atas adalah iblis yang sempurna mengendalikan kekuatannya. Sangat mustahil mereka akan kehilangan control diri.
Sepertinya Shikamaru dan Ino harus menelan bulat-bulat anggapan itu sekarang. Tidak—mereka tidak sepenuhnya salah. Sepanjang pengetahuan mereka, Naruto sangat pandai mengendalikan kekuatannya. Dia mampu mengendalikan angin tanpa menggunakan chakra sedikitpun. Hal yang tidak dapat dilakukan bahkan oleh iblis elit sekelas Sasuke. Kondisi Naruto yang berada diambang kesadaran ini memaksa mereka berpikir ulang mengenai dasar pembagian kelas kekuatan pada iblis. Sepertinya kemampuan mereka mengendalikan diri tidak termasuk kedalamnya, mengingat insting alami mereka sebagai sosok penghancur dalam sebuah pertarungan.
.
Shikamaru dan Ino bersikap lebih siaga dan waspada. Kekuatan yang dipancarkan Naruto membuat tubuh mereka meremang, insting mempertahankan diri mereka refleks aktif memperingatkan bahaya yang mengancam. Terlebih lagi, kekuatan Naruto membesar semakin cepat. Gelembung chakra merah Naruto terasa membakar habis udara di sekitar. Efek panas itu juga dirasakan Naruto—walaupun dia terlihat tidak perduli, terlihat dari kulit tan miliknya perlahan mengelupas kemudian lepas memperlihatkan lapisan kulit dalam berwarna merah darah bak daging tanpa kulit. Lapisan kulit yang terlepas hangus dalam sekejap, terbakar habis ketika bersentuhan dengan chakra merah yang melapisi tubuhnya.
Ino membasahi tenggorokan susah payah melihat proses perubahan pada tubuh Naruto—pasti itu sangat sakit.
Kapasitas kepalanya memang tidak sejenius kekasihnya dalam mengamati sesuatu. Namun Ino tidak perlu memiliki kemampuan itu untuk tahu apa yang terjadi; gelembung Chakra merah Naruto bak pisau bermata dua, satu sisi memberi kekuatan dan di lain sisi menimbulkan luka. Tubuh Naruto seolah tak mampu menampung kekuatannya sendiri, ini berarti bahwa…
Kekuatan Naruto jauh lebih melebihi kapasitas daya tahan tubuhnya sendiri…
Dan yang lebih penting sekarang adalah bagaimana cara keduanya mencegah kekuatan Naruto menimbulkan kekacauan yang lebih besar tanpa terluka, atau lebih buruknya—mati.
.
.
"Shika itu…" merasa tak sanggup melanjutkan apa yang akan diutarakan, Ino menghentikan perkataannya sendiri. Aquamarinenya menatap nanar sosok Naruto yang mengamuk tak terkendali di bawah sana.
Setelah dengan kasar mencabik tubuh raksasa pemimpin Gbahali menjadi dua, Naruto mulai sibuk memburu sisa-sisa pasukan Gbahali yang masih hidup. Tak segan dia merobek tubuh mereka kasar atau menarik tulang-tulang mereka keluar dari tubuh. Naruto terlihat menjelma menjadi monster pembunuh yang tahunya hanya membunuh, membunuh, dan membunuh.
"Naruto…" tidak jauh berbeda dengan Ino, Shikamaru juga tak kuasa untuk berkata. Kedua matanya masih menunjukan keterkejutan besar. Ratusan tahun mengenal Naruto, tak pernah sekali pun ia mengira bahwa Naruto menyimpan kekuatan sebesar ini. Kekuatan yang sungguh mengerikan. Berani bertaruh Tsunade pun akan mengalami kesulitan besar jika menghadapi Naruto yang sekarang.
Lepas sedikit dari shock, Ino mengalihkan pandangan pada sosok kekasihnya yang melayang tak jauh darinya. Ino mengerutkan keningnya melihat Shikamaru melayang tanpa sayap, dia terperangah melihat luka parah yang dialami Shikamaru.
"Shika Punggungmu…" tanpa pikir panjang Ino bergerak melesat mendekati Shikamaru.
Shikamaru tersentak mendengar suara Ino, matanya melotot horror melihat kekasihnya sedang menuju ke arahnya.
"JANGAN BERGERAK, INO!" teriak Shikamaru berusaha membuat kekasihnya berhenti bergerak. Dia ingin meminimalisir kemungkinan Naruto mengetahui keberada—
DEG!
Jantung Shikamaru berdetak keras tak nyaman. Dia menajamkan indera, —sepi, dia tidak lagi merasakan pergerakan brutal Naruto. Tidak ada lagi suara geraman atau raungan kemarahan dari Naruto. Suasana di sekitar mendadak sunyi dan tenang. Keheningan yang melanda tidak serta merta membuat dirinya tenang. Instingnya mengatakan sebaliknya. Keadaan semakin berbahaya.
Berbeda dengan pikiran Shikamaru yang mengatakan untuk segera berpaling kepada Naruto, seluruh sel ditubuhnya menegang seolah menjeritkan untuk tidak menoleh dan segera berlari saja secepat mungkin dari sana. Baru kali pertama ini Shikamaru merasakan keengganan luar biasa untuk menoleh tapi rasa penasaran yang begitu besar mengalahkan peringatan alami yang dilakukan instingnya.
—Shit! Dan ia menyesal sudah menoleh.
Apa yang ditakutkannya terjadi juga. Naruto terdiam, bukan karena dia sudah tenang atau terkendali. Dia masih berbahaya, tidak terkendali, seolah sedang menunggu sesuatu, sebuah kesempatan… Kepala pirang itu menengadah ke atas dan pandangan mengarah pada... Ino
Buruk! Ini benar-benar buruk. Kehadiran Ino tertangkap mata Naruto. Ino dalam bahaya!
.
Bagai tersengat listrik bertegangan tinggi Shikamaru segera melihat Ino begitu Naruto hilang seketika. Dan benar dugaannya… Naruto telah berada tepat di belakang Ino. Tangan dengan kuku yang memanjang itu terayun perlahan ke atas, seolah siap mencabik tubuh mungil Ino yang terpampang di depan.
Shikamaru berteriak memperingati bahaya yang datang dari belakang. Refleks Shikamaru mengeluarkan sayap, tidak perduli bahwa itu dapat menyebabkan luka dipunggungnya semakin parah, yang dia pikirkan hanya bergerak secepat mungkin ke sana—sayap membuatnya dapat melesat lebih cepat. Berharap dirinya sempat menarik dan melindungi orang yang dicintainya dari serangan Naruto.
.
Grep.
.
ZRAAASSHH
.
.
.
.
.
.
GROSAK GROSAK!
BUK!
Keningnya berkerut tidak mengerti, tiba-tiba orang itu jatuh berdebam di bawah kakinya. Tubuh itu meluncur cepat dari ketinggian, menabrak pohon terlebih dahulu sebelum terjerembab di tumpukan salju tebal dengan wajah mendarat terlebih dahulu. Mengingat bagaimana posisi jatuh orang itu membuatnya sedikit meringis layaknya dia sendiri yang sedang terjatuh.
Tubuh besar di depannya tidak bergerak sedikitpun. Tidak tahu mengetahui apa orang itu baik-baik saja atau tidak membuatnya cemas. Hanya rambut dan punggungnya saja yang terlihat.
Berjongkok, dia mencoba mengintip ke balik helaian cerah milik orang di hadapannya hingga kepala mungilnya memiring lucu. Iris yang hampir serupa dengan salju sibuk bergerak menyusuri helaian cerah tersebut guna menemukan celah yang pas untuk mengintip keadaan orang itu.
Merasa waktu berjalan cukup lama namun belum juga ada pergerakan dari orang di depannya dia memutuskan untuk menegur.
Sedikit ragu mulut mungilnya terbuka perlahan, "Ji-chan, Daijou—"
Sraak!
"HEH! TEME! TIDAK MENENDANG BISA KAN?! MEMANGNYA KAU PIKIR TENDANGANMU ITU SEKUAT APA HAH! KUSO!" suara keras tiba-tiba terdengar membahana, memotong dan menenggelamkan suara pelan miliknya. Bersamaan dengan teriakan itu tubuh tak bergerak di depannya tiba-tiba saja bangkit berdiri. Wajahnya yang terlihat kesal menengadah ke langit dengan kedua tangan mengepal ke atas.
Matanya mengerjap, terlalu terkejut dengan suara yang membuat telinganya terasa tuli dalam sepersekian detik dan dipenuhi dengingan 'Nging' keras melebihi dengingan suara mesin pesawat jet.
Bisa-bisanya orang yang baru jatuh dari ketinggian langsung berteriak sekeras ini.
Lepas dari terkejutan, wajah mungilnya ikut menengadah menatap sosok tersebut. Baru saat itu sadarinya betapa tinggi tubuh yang menjulang di depannya. Karena terlalu terpaku, dirinya tidak mengerti mengapa lehernya terasa begitu pegal.
"Sialan!" Suara itu mengumpat kembali, kali ini tidak sekeras sebelumnya. "Dia tidak mengurangi kekuatannya sedikit pun! Baru digoda sedikit saja langsung ngamuk,—tch tidak punya selera humor…" Gerutu orang itu, entah ditujukan pada siapa. Sebelah tangannya terlihat bergerak menyapu ringan butiran-butiran salju yang menumpuk di surai cerah yang entah kenapa tetap berdiri tegak meski berkali-kali ditekan. "Dasar muka ra—…" gerutuannya terhenti ketika tanpa sengaja bola mata yang terlihat sangat indah itu menangkap atensi seseorang yang tengah menatap dirinya.
.
Keberadaan sesosok gadis kecil yang jongkok di bawah kakinya sedikit membuatnya terpaku. Bertanya-tanya mengapa dirinya tidak menyadari adanya seseorang. Kepala mungil yang menengadah sempurna ke atas, ekspresi polos dengan sorot mata penuh minat ketika menatapnya tampak lucu. —Oh! Jangan lupakan kilatan binar antusias yang menambah kesan imut nan menggemaskan hingga membuatnya tanpa sadar berkeinginan menggendong dan membawanya pulang.
Tidak! —Tidak! Apa yang dia pikirkan? Bisa jadi masalah besar kalau ia benar-benar membawa gadis kecil ini pulang. Bisa dipastikan dirinya akan dihajar kembali. Cukup rasanya hari ini ia membuat masalah.
"Err… Hai~" Ia memutuskan menyapa, kedua sudut bibirnya yang tertarik ke atas terlihat sedikit kikuk. Tangan yang sejak tadi mengusap pelan beralih pekerjaan menjadi menggaruk kepala yang tidak gatal. Entahlah, rasanya agak salah tingkah kedapatan ditatap intens seperti ini, padahal dirinya sudah biasa mendapati tatapan seseorang selama ini, tetapi entah mengapa tatapan yang dilemparkan padanya kali ini terasa sedikit berbeda. Padahal yang menatap cuma seorang anak kecil.
Mengabaikan perutnya yang bergetar aneh ia mengalihkan pandangan ke sekitar. Satu alisnya terangkat heran. Sepi, tidak ada seorangpun di sini—mengingat salju tengah turun deras dan letaknya agak tersembunyi; di belakang sebuah gedung berlantai enam rumah sakit.
Lalu… kenapa ada anak kecil sendirian di sini? Perempuan lagi.
.
Orang itu menurunkan tubuh. Membuat tingginya setara dengan gadis kecil di depannya tanpa memutus kontak mata mereka. "Kau sendirian?" tanya orang itu.
Gadis kecil yang terlihat seperti berumur empat tahun itu mengangguk mantap. "Ji-chan, Daijoubu?" tanyanya kemudian. Kedua iris lembut yang sempat terpaku pada indahnya bola mata bak permata milik orang itu kembali beralih menelusuri dada polos yang terlihat mulus, tidak tampak luka sedikitpun di sana. Bahkan diwajahnya pun tidak tampak goresan sedikitpun.
Keningnya kembali mengerut menyadari orang itu hanya memakai sebuah rompi putih yang terlihat sangat tipis. "Ji-chan bisa masuk angin." Ucapnya spontan, gadis kecil itu tidak mengerti mengapa orang di hadapannya nekat keluar rumah di tengah hujan salju ini tanpa memakai pakaian hangat. Tak ingin orang di depannya sakit kedua tangan mungilnya sontak melepas syal ungu yang terlihat hangat dari lehernya dan memakaikan ke leher orang itu setelah sebelumnya menyingkirkan serpihan salju yang berjatuhan di pundak tegap itu dengan tangan mungil.
Sedikit terbelalak mendapati perlakuan hangat, orang itu kembali tersenyum. Kali ini senyumnya terlihat sangat lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya yang berjejer rapi. Senyum yang begitu memukau hingga tanpa sadar rona merah di pipi gembil porselen itu terlihat semakin nyata.
Orang itu meraih kedua tangan mungil hangat milik gadis kecil di hadapannya. Tangan mungil itu terasa sedikit beku akibat udara dingin. "Kau sendiri kedinginan." Dikecup pelan punggung tangan mungil yang berada di genggamannya. "Kemana sarung tanganmu? Lihat tanganmu membeku seperti ini!" seru orang itu berlagak marah.
"Sedang kucari kok." Jawaban polos itu membuat kedua alis orang itu menyatu di tengah. Seakan mengerti gadis kecil itu melanjutkan, "Aku melepasnya di sekitar sini saat main tadi. Sepertinya sudah tertutup salju." Jelas gadis kecil itu dengan raut wajah sedih karena melupakan tempat dimana ia meletakan sarung tangannya.
"Kau mencarinya di tengah hujan salju begini?" tanyanya tak percaya yang hanya dijawab dengan anggukan pelan gadis itu. "Dimana orangtuamu?"
"Di sana." Gadis kecil itu menunjuk pada gedung rumah sakit.
"Orangtuamu sakit?"
"Tidak," kepala mungil itu menggeleng. "Ayah dan Ibu bilang sebentar lagi adikku lahir, aku akan menjadi seorang kakak!" Ceritanya semangat seakan melupakan kesusahannya barusan. "Aku tidak ingin merepotkan. Kalau hanya untuk mengambil sarung tangan, aku bisa melakukannya sendiri." Ungkapnya dengan senyum yang terlihat manis.
Orang itu terlihat gemas dengan sikap mandiri yang ditunjukan gadis kecil yang seharusnya belum sampai pada pemikiran itu. "Memangnya kau tidak takut?" tanyanya iseng.
"Aku akan menjadi seorang kakak. Kalau aku takut, aku tidak bisa melindungi adikku nanti." Sorot mata penuh tekad di wajahnya membuat orang itu tertawa kecil.
"Kau gadis kecil yang pemberani." Ucapnya gemas sambil mengacak-ngacak pelan surai pendek berwarna Indigo itu. "Aku bantu carikan ya?" tawar orang itu.
"Benarkah Ji-chan?"tanyanya memastikan, merasa senang dia tidak lagi sendirian menyusuri halaman luas ini.
"Hei~ apakah wajahku terlihat terlalu tua sampai-sampai kau memanggil dengan sebutan itu?" protes orang itu setengah bergurau dengan ekspresi pura-pura tersinggung yang membuat gadis kecil di depannya tertawa.
"Nara nii-chan ka?" ucap gadis itu dengan nada menawar yang lucu.
Orang itu mengerucutkan bibir, memainkan ekspresi wajahnya seperti orang yang sedang mempertimbangkan sebuah tawaran yang terdengar menggiurkan. "Deal!" sahutnya kemudian sambil menyalami tangan mungil di genggamannya dengan wajah tersenyum lebar.
Orang itu membantu gadis kecil di hadapannya berdiri. Dia menawarkan pundaknya untuk dinaiki agar gadis itu dapat melihat lebih jelas dari ketinggian yang dengan senang hati diterimanya.
.
.
"Oh iya, ngomong-ngomong namaku Hinata, Hyuuga Hinata. Siapa nama nii-chan?"
.
.
"Naruto. Salam kenal yah, Hinata-chan."
.
.
.
.
.
.
Semua terasa begitu cepat. Entah apa yang terjadi pada mereka, Ino tidak berani membuka mata maupun menarik nafas. Adakah yang terluka? Siapa diantara Shikamaru dan dirinya yang terluka? Oh tidak, membayangkannya saja rasanya dia tidak sanggup. Dia hanya ingat teriakan panic dan tarikan tangan Shikamaru sebelum menempatkan dirinya diantara ia dan Naruto yang terlihat akan menyerang mereka. Kemudian, kedua matanya refleks terpejam karena tak sanggup melihat apa yang terjadi selanjutnya.
.
ZRAAASSHH
Suara itu terdengar keras dan sangat dekat, seperti berada tepat di depan. Suara desiran itu seperti berasal dari gesekan banyak benda bertekstur kecil.
.
Rasa penasaran Ino tidak cukup besar untuk berani membuka mata. Ia tidak takut mati, lenyap menjadi butiran debu, atau menghilang tak berbentuk. Kehilangan orang yang ia cintai karena kecerobohannya menjadi momok yang lebih menakutkan daripada kematiannya sendiri.
Ino baru memberanikan diri membuka mata setelah melewati beberapa detik yang terlalu lama untuk sebuah serangan.
Gelap. Sesuatu yang besar terlihat menutupi cahaya.
.
Dinding pasir besar terlihat menghalangi tubuh Ino dan Shikamaru. Pasir itu menahan serangan Naruto sekaligus melindungi mereka. Pasir coklat sewarna gurun tampak kokoh walau terkoyak bagian lain karena menahan tebasan tajam dari cakaran tajam Naruto.
Tunggu!
Pa−pasir gurun?!
Kenapa bisa ada pasir gurun di daerah pegunungan seperti ini?!
.
"Sampai kapan kalian mau diam di sana?"
Suara yang terdengar datar itu seakan menjawab kebingungan mereka. Refleks Ino dan Shikamaru menoleh ke asal suara. Di atas sana terlihat seorang pemuda berambut merah dengan tattoo ai di keningnya berdiri di gumpalan pasir berbentuk awan sambil bersedekap.
Mereka terbelalak.
"Shukaku!/Gaara!" ucap Shikamaru dan Ino bersamaan.
.
.
.
.
.
.
.
. つづく
.
.
.
.
ISTILAH
Nani ga? : Ada apa
Aa! Wakatte iru! : Ya! Aku tahu!
Daijoubu. Chotto bikkurishimata : Tidak apa-apa. Hanya sedikit terkejut
Shikanshiro : Bertahanlah
Ugokanai : Jangan bergerak
Ji-chan, Daijoubu? : Paman, tidak apa-apa?
Nara nii-chan ka? : Bagaimana kalau kakak(laki-laki)?
.
.
.
Akhir kata Ho ucapkan
本当にありがとうございます。
Hotaru Out.
