Chapter 8 :一尾の主格、Gaara (Shukaku One Tail, Gaara)
Yang kelam itu aku, bukan kamu.
Aku hanya ingin bersamamu
Apa itu salah?
.
.
.
.
.
.
Terkejut.
Mungkin itu yang dirasakan Ino dan Shikamaru ketika melihat sosok tak asing di dekatnya. Ya, tidak asing. Mereka tahu siapa pemuda itu—sangat tahu, justru karena itulah mereka terkejut. Kebimbangan melanda keduanya, mereka tidak tahu harus berekspresi bagaimana, percampuran antara shock, lega, sedikit kecemasan dan rasa takut yang diolah jadi satu dalam satu wadah, campur aduk. Selain itu ada juga sedikit keraguan, mengingat yang menyelamatkan mereka dari maut justru maut itu sendiri. Dialah Shukaku; salah satu dari sembilan legenda yokai terkuat sejak puluhan ribu tahun yang lalu. Entah ini suatu keberuntungan atau kesialan. Faktanya, sejenak mereka bisa bernafas lega telah lolos dari maut.
Haruskah mereka bersyukur? Ini seperti peralihan dari satu amukan iblis ke amukan iblis lain yang notabene sedang tidak dalam keadaan lepas kendali alias sangat terkendali.
Oke— pilih yang mana? Mati terbunuh tak sengaja atau mati dibunuh dengan sengaja? Yang jelas, keduanya bukan pilihan yang bagus untuk mengakhiri hidup.
.
.
.
NARUTO FANFICTION
Angel? No Devil!
Diclaimer : Naruto©Masashi Kishimoto
Angel? No Devil!©Hotaru
Genre : Romance, H/C, Fantasy
Rate : T+
Pairing : Naruto x Hinata
Warning : OOC, MissTypoo(s), Gaje
Bagi yang Anti NaruHina disarankan segera tekan tombol back!
Tidak menerima flame yang tidak bertanggungjawab dan tidak rasional
Sangat terbuka untuk kritik dan saran
Don't Like Don't Read!
.
.
.
.
Deal!
はじめ
.
.
.
"Menyingkir." Pemuda itu kembali berkata dengan nada mendesak setelah pasangan iblis di sana tak juga pergi ke tempat aman.
Tersadar dari keterkejutan, mereka segera beranjak. Shikamaru menjauh cepat dibantu oleh Ino. Otot punggungnya mati rasa setelah dipaksakan bergerak dalam keadaan terluka.
Mereka mendarat setelah dirasa tempat itu aman. Ino dengan sigap mengalirkan chakra mengobati luka bakar Shikamaru. Shikamaru sendiri menatap pemuda yang baru saja menolong mereka.
Pemuda itu sudah sibuk menghadapi Naruto. Dengan terampil dia mengendalikan pasir dan menghalau segala bentuk serangan Naruto yang tidak terkendali.
Di tengah pengamatannya Shikamaru sedikit terusik mengingat perkataan Ino sebelumnya. Tak menunggu lama ia memutuskan bertanya. "Gaara?" Shikamaru melayangkan tatapan kenapa-kau-memanggilnya-begitu pada kekasihnya.
"Memang Gaara kan?" tanya Ino balik, mengendikkan sebelah bahu tanda tidak mengerti maksud Shikamaru.
"Dia—" Shikamaru mengalihkan tatapannya kembali dan menunjuk pemuda yang sedang bertarung dengan dagu. "—Shukaku."
Ino mengikuti pandangan Shikamaru ke pertarungan sengit berlangsung. Pertarungan yang luar biasa, chakra yang digunakan mereka pasti tidak sedikit. Hawa iblis yang menguar dari keduanya pun tak kalah besar. Inikah cara bertarung sosok youkai legendaris? Lebih mengejutkan Naruto ternyata mampu menghadapi kekuatan tersebut tanpa terlihat kesulitan dengan jumlah chakra yang besar. Dalam hati Ino bersumpah akan memaksa Naruto menceritakan penyebab dia menyembunyikan kekuatan sebesar ini.
Dan Gaara—pemuda hebat, dia sangat lihai mengendalikan pasir. Serangan Naruto seakan tidak berpengaruh. Berkali-kali Naruto menembakkan bola api berkecepatan tinggi setelah menghindar dari jeratan pasir yang hendak menangkapnya namun pemuda itu juga tak kalah sigap, berkelit kemudian bertahan dengan dinding pasir hingga membuat ledakan-ledakan besar pada pasir.
Teringat perkataan Shikamaru kening Ino mengerut bingung, "Bukankah Gaara? Shizune-senpai juga memanggilnya dengan nama itu." Penjelasan Ino membuat kerutan keningnya menular pada Shikamaru.
Shikamaru menghela nafas malas, "Mendokusai, nama Gaara tidak ada dalam list tahanan dunia iblis Ino." Katanya yakin. Dan yang lebih membuatnya yakin pemuda itu bernama Shukaku adalah dikarenakan satu-satunya iblis pengendali pasir yang ia ketahui hanyalah Ichibi no Shukaku.
"Tapi dia sendiri yang memperkenalkan diri sebagai Gaara." Ucap Ino dengan bibir mengerucut sebal. Ino ingat pernah sempat mengajak ngobrol pemuda itu saat melakukan pemeriksaan tahanan rutin dengan Shizune senpai.
.
Tanpa Shikamaru dan Ino sadari, pemuda yang sejak tadi namanya diperdebatkan memutar iris jadenya pelan. Entah apa yang ada dipikiran mereka, sempat-sempatnya mereka asik mendebatkan hal tidak penting. Ia sudah berhasil memerangkap Naruto ke dalam bola pasir yang cukup besar mengingat kekuatan Naruto sedang tidak terkendali. Meskipun demikian ia yakin Naruto masih bisa lolos, oleh sebab itu ia harus sesegera mungkin membawa Naruto kembali ke dunia iblis untuk mengembalikan kesadaran Naruto.
"Kalau dalam wujud seperti ini, aku lebih suka dipanggil Gaara." Komentarnya menengahi membuat sepasang sejoli itu berhenti berdebat dan menatapnya. "Shukaku hanyalah nama lainku." Katanya lagi sambil beranjak mendekat.
Terlihat jelas air muka mereka memancarkan keterkejutan. Mungkin bertanya-tanya, bagaimana bisa dia berada di sini? Tidak aneh mengingat selama ini Gaara tinggal di penjara paling terkenal dengan system keamanannya di dunia iblis. Well, meskipun dia tidak tidak pernah merasa jadi seorang tahanan. Gaara hanya mencari tempat sepi dan tenang untuk beristirahat, dan di sanalah tempat yang cocok. Tidak terganggu oleh siapapun karena sesama tahanan dilarang keras saling berbicara. "Dan aku bukan tahanan seperti yang kalian maksud. Jadi aku bebas menentukan kapan aku keluar dari sana."
.
.
"Daripada meributkan namaku, lebih baik kita segera kembali." Usul Gaara. "Kau—" Gaara menunjuk Shikamaru. "Harus segera mendapat perawatan. Chakra miliknya bukanlah chakra biasa. Chakra itu seperti racun yang tetap membuat lukamu semakin melebar sekalipun sudah mendapat pertolongan pertama."
Ino terdiam. Benar apa yang dikatakan Gaara. Luka bakar dipunggung Shikamaru terus melebar meski dia sudah menghentikan aliran darahnya.
"Dan Naruto… harus segera di segel ulang."
.
.
"APA!" Perkataan Gaara sukses membuat Ino kembali tersentak untuk kesekian kalinya. Disegel? Naruto? "Kenapa Naruto harus di segel? Memangnya apa kesalahan Naruto?!" protes Ino tidak setuju.
Tidak kembali setelah melakukan misi dan memilih tinggal di dunia manusia bagi seorang iblis memang berat hukumannya tetapi tidak sampai iblis itu sendiri di segel. Hukuman itu hanya berlaku jika tindakannya membahayakan tiga dunia.
"Tunggu—Kau mengenal Naruto?" pekik Ino Histeris mengingat Naruto tidak pernah cerita dia memiliki kenalan seorang youkai.
Lain dengan Shikamaru yang tampak tenang, ia sudah menduga sebelumnya, ekspresinya tidak terkejut sama sekali. "Lalu apa kau akan kembali ke penjara?" tanya Shikamaru mengabaikan protes Ino.
"Sudah kubilang. Aku bukan tahanan." Gaara kembali memutar bola mata, harus berapa kali ia tegaskan dirinya bukan seorang tahanan. "Bisa dibilang aku mengenalnya tapi dia yang sekarang tidak mengenalku." Katanya lagi merespon pertanyaan iblis pirang yang tengah melotot galak, meminta pertanyaannya di jawab.
"Tapi kau kabur dari penjara." Ino mendelik pada Shikamaru yang terus berusaha mengalihkan perhatian Gaara dari pertanyaannya. "Tch,mendokusai. Kita bukan divisi interograsi Ino. Sepenasaran apapun kita, kalau belum waktunya kita tahu, kita tidak akan tahu. Kehidupan abadimu bisa berhenti sekarang juga kalau terlalu menuruti hasrat keingintahuanmu." Jelas Shikamaru mengabaikan tatapan kau-berisik yang dilayangkan Ino.
"Naruto itu teman kita! Apa kau hanya diam saja mendengar temanmu akan disegel?" tuntut Ino tidak mau kalah. "Bisa-bisanya kau tidak perduli seperti itu. Bagaimana kalau aku yang disegel? Apa kau tetap akan diam saja? Aku ragu kalau kau benar-benar mencintaiku Shika!" rentet Ino melantur membuat Shikamaru mendesah malas. Heran, bagaimana bisa ia mencintai iblis cerewet dan kepo seperti Ino.
Jade teduh Gaara menatap Ino. Teman… kata yang terdengar asing. Ia dan delapan youkai lain tidak mengenal kata itu. Yang mereka ketahui hanyalah memanfaatkan dan dimanfaatkan. Seperti halnya dirinya yang dimanfaatkan Kyuubi untuk mengawasi kekuatannya yang disegel hanya untuk dirinya bisa tertidur pulas sebagai balas jasa telah diselamatkan dari serangan Hachibi yang berusaha menghisap kekuatannya.
Segaris senyum tipis terukir di bibir Gaara. "Aku turut senang, salah satu dari kami akhirnya memiliki teman." Gumamnya lirih tak pelak tertangkap oleh telinga Ino dan Shikamaru yang memiliki pendengaran lebih tajam dari manusia.
"Apa maksudmu dengan kami?"
Belum sempat Gaara mengeluarkan suara kegiatan mereka kembali diinterupsi sebuah erangan lirih yang terdengar sangat lemah.
"Na… ru… to…"
Kening Gaara berkerut melihat sumber suara. Manusia yang ia sangka telah mati ternyata masih hidup, tetapi bukan itu yang membuatnya heran. Gaara merasa tak salah dengar, suara itu melafalkan nama Naruto. Gaara melayangkan tatapan bertanya pada sepasang iblis di dekatnya yang saling melempar pandangan seolah mereka tengah teringat sesuatu yang penting.
Ya, Shikamaru dan Ino saling melempar pandangan terkejut. Situasi menegangkan yang baru saja dialami membuat mereka hampir saja melupakan kehadirannya di sini…
Hinata…
.
.
.
.
.
"Aku tidak mengerti mengapa kau yang lebih dipercaya daripada aku." Kabuto berkata ketus pada sosok hitam yang berjalan mengekor di belakangnya tanpa menoleh.
Kabuto mendengus kecil, sedikit kesal karena perkataannya tidak ditanggapi sedikitpun. Sosok dengan wajah tanpa emosi yang selalu membuatnya waspada karena tidak dapat menebak apa yang ada di dipikirannya saat ini.
Mereka tengah berjalan menyusuri Goa bawah tanah dengan langkah tenang tak tergesa di lorong bebatuan yang basah dan lembab. Di ujung jalan mereka berbelok, terpampanglah sebuah ruangan besar yang letaknya jauh di dalam tanah. Di tengah ruangan yang hampir kosong itu terdapat seseorang tengah duduk bersandar di sebuah kursi tinggi dengan bola kristal di tangan kanan.
"Tuan." Kabuto menundukan badannya sebelum masuk lebih dalam ke dalam ruangan.
"Kabuto…" Suara serak itu terdengar bersamaan dengan api yang menyala pada obor di sisi ruangan menerangi ruangan besar yang semula gelap. "Kau membawanya?"
"Ya, Tuan." Jawab Kabuto masih menundukan badan.
"Pergilah, tinggalkan kami berdua."
"Ta-tapi tuan—" Hawa iblis menyeramkan menguar tiba-tiba dari sosok itu memaksa Kabuto diam dan menurut. "Baik. Tuan." Ucapnya kemudian mundur perlahan sambil menatap sinis sosok yang bersamanya sejak tadi sebelum keluar.
Suara kekehan dari seseorang yang duduk di tengah ruangan mengiringi langkah sosok yang sebelumnya datang bersama Kabuto. Hawa iblis yang pekat dan aura yang tidak menyenangkan begitu terasa di sekitar ruangan.
"Aku sedang senang." Kekeh Suara berat dan serak itu. "Kuharap kau membawa berita bagus. Itachi… "
.
.
.
.
.
.
"Na… ru… to…"
Tanpa disadarinya Hinata melenguh memanggil Naruto. Beberapa detik berselang kedua kelopak mata yang menyembunyikan keindahan iris amethyst di dalamnya perlahan terbuka.
Putih, hanya itu yang terlihat oleh Hinata. Pandangannya buram, kelopak matanya terasa lengket seakan digelayuti sesuatu yang berat. Hinata hanya bisa melihat kabut putih tebal menghalangi pandangannya.
Pikirannya kosong, sejenak Hinata tidak mengingat ataupun peduli dimana dirinya berada, dan apa yang terjadi sebelum kilasan-kilasan gambar bak lukisan bermunculan secara acak di depannya. Beberapa menit sudah dihabiskan Hinata untuk mengamati. Hinata merasa lukisan yang dilihatnya seperti mewakili sebuah kejadian yang terlupakan dari ingatannya. Semakin banyak momentum yang tergambar pada lukisan itu, semakin dirinya meyakini bahwa lukisan tersebut tak lain merupakan isi kepalanya yang hilang. Lukisan tersebut perlahan bergerak, berhamburan mengelilinginya seolah memerintah untuk mengingat kembali seluruh moment tersebut. Setelah beberapa saat merasa linglung, tak mengerti dimana dia berada, tiba-tiba saja Hinata merasa kepalanya terisi penuh oleh kilasan bayangan di masa kecil. Detik itu juga Hinata mengingat semua…
Kejadian manis, yang terasa baru saja ia alami beberapa saat yang lalu meskipun pada kenyataannya terjadi beberapa tahun yang lalu.
Ingatankah? Atau mimpikah? Hinata tidak tahu. Kesan nyata dan tidak nyata terasa begitu kuat hingga membuatnya tidak mengerti.
Sedikit banyak Hinata membenarkan kejadian yang sudah lama sekali berlangsung itu. Hinata ingat persis hari dimana hujan salju terakhir turun sepanjang hari hingga menumpuk di Konoha. Kejadian yang terjadi kurang lebih dua bulan sebelum adiknya lahir. Hari ketika ibunya yang tengah mengandung harus masuk rumah sakit karena daya tahan tubuh yang tiba-tiba melemah. Hari dimana dia kehilangan sarung tangan yang dirajut ibunya sebagai kado ulang tahun yang ke empat satu bulan lalu. Saat itu Hinata hanya bisa mengingat dia berhasil menemukannya, sekalipun dirinya tidak mengerti bagaimana cara dia menemukan sarung tangan itu meski berusaha keras mengingatnya, namun hasilnya tetap saja nihil. Hinata tidak bisa mengingatnya. Dan bayangan yang baru saja dilihatnya, seakan menjawab rasa penasarannya selama ini.
Naruto.
Bagaimana bisa dirinya memiliki ingatan masa kecil bersama… Naruto?
Hinata bimbang, sedikit menyangsikan sosok itu. Namun sebagian dirinya sangat yakin bahwa sosok tersebut adalah Naruto.
Hinata tidak mungkin salah mengenali warna cerah pada rambut jabrik yang ternyata sangat halus ketika di sentuh—Hinata sangat tahu betapa halusnya surai pirang tersebut ketika tanpa sadar tangannya meremas di tengah ciuman menghanyutkan mereka. Bagaimana bola mata bak sapphire itu menatap dengan kilatan jahil. Dan wajah yang selalu terlihat ceria dengan senyuman lebarnya yang terasa hangat di hati Hinata kala dia membutuhkannya. Sama. Semuanya sama.
Naruto… Naruto…
Entah kenapa, hanya dengan mengingat bagian kecil itu Hinata merasa begitu merindukan sosoknya…
Bayangan sosok Naruto terakhir kali yang dilihatnya sebelum Hinata merasakan tubuhnya seperti disambar petir terlihat seperti sedang kesakitan. Hal ini membuat hatinya dirundung rasa cemas.
Naruto…
.
.
"Begitu." Gaara bergumam pelan.
Shikamaru dan Ino memutuskan menceritakan semua yang telah terjadi. Bagaimana mereka bisa berada di sini dan kemunculan Naruto.
Mereka kini berada di sekitar altar yang sudah porak-poranda. Sesampainya di sana Ino segera menuju tempat Hinata terbaring. Dilihatnya kelopak mata Hinata setengah terbuka dengan amethyst kosong tanpa cahaya, bibir bawah hingga dagu dan sebagian lehernya ternoda darah yang belum sepenuhnya mengering, sementara kulit putih yang sepertinya mulus itu terlihat pucat dan banyak ruam-ruam kehijauan. Ino membersihkan darah yang terlihat, melepas long-coat tebal miliknya dan memakaikan ke tubuh Hinata, setelah membaca sebuah mantra singkat ia menempatkan kedua telapak tangannya yang menguarkan chakra di atas tubuh gadis itu. Walau Ino tidak dapat mengembalikan energy kehidupan yang telah di serap Gbahali tapi setidaknya dia tidak akan membiarkan tubuh di depannya rusak oleh ulah Gbahali.
"Naruto terus menggumamkan sebuah nama—'Hinata' dan terus berjalan lurus sambil menatap gadis itu." Shikamaru menggaruk kepalanya dengan gesture bosan, "Aku tidak tahu saat itu Naruto sudah kehilangan kesadaran atau belum." Lanjutnya.
Gaara mengangguk kecil tanda mengerti. Kedua tangannya bersedekap di dada. Tatapannya tak lepas dari bola pasir yang mengurung Naruto. "Lalu, apa hubungan Naruto dengan gadis itu?" tanyanya kemudian.
"Aku tidak tahu." Jawab Shikamaru jujur. "Tapi sepertinya mereka sudah saling mengenal sebelum gadis itu dibawa kemari dan Naruto terlihat sedang berusaha menyelamatkannya dari kepungan Gbahali."
"Naru…to…" Hinata yang kembali melirihkan nama Naruto terdengar lagi. Suaranya sangat pelan dan lemah.
Ino memperhatikan kulit porselen yang penuh dengan ruam kehijauan dari darah Gbahali yang berhasil masuk ke dalam pori-pori Hinata perlahan menipis, seharusnya dia merasa senang, namun keningnya justru tambah berkerut dalam ketika menangkap sesuatu perubahan tak biasa.
"Bagaimana, Ino?" Shikamaru yang ikut menoleh saat mendengar suara Hinata untuk kesekian kalinya menanyakan keadaan Gadis manusia itu, sedikit banyak Shikamaru berharap Hinata bisa selamat meskipun sebentar, Shikamaru tahu energy kehidupan Gadis ini terkuras cukup banyak tapi setidaknya jika hidup untuk beberapa hari saja sudah cukup untuk membuat dirinya mengorek informasi mengenai hubungan mereka.
Sedikit kejam mungkin, tetapi ini satu-satunya cara mendapatkan informasi tentang Naruto. Meskipun Naruto terkesan nyablak dan easy going, segala macam hal di bicarakan olehnya tetapi tidak jika itu menyangkut dengan kehidupan pribadinya. Untuk yang satu itu Naruto sedikit tertutup.
"Ino?" panggilnya heran mendapati kekasihnya mengabaikan pertanyaannya. Ino terlihat diam, kedua matanya menatap focus bergantian dari kedua tangannya yang masih mengalirkan chakra, wajah, hingga tubuh manusia itu.'Apa yang terjadi?' batinnya heran.
Tak juga mendapat jawaban, Shikamaru memutuskan menghampiri dan melihat apa yang sedang terjadi di sana. Tidak ada tanda-tanda keanehan pada gadis manusia itu seperti kejang-kejang atau berteriak tiba-tiba, bukankah itu menandakan dia baik-baik saja? Lalu kenapa—
Baru dua langkah Shikamaru berjalan, perkataan Gaara kembali membuatnya berbalik.
"Kita harus segera menyingkir dari sini." Gaara mundur perlahan, pandangannya masih terpaku ke atas. Hal ini memaksa Shikamaru mengurungkan niat menanyakan maksud dari perkataan Gaara dan ikut mengarahkan pandangan ke tempat yang sama.
"Kau apakan pasirmu?" Shikamaru terlihat bingung melihat bola pasir yang mengurung Naruto berguncang keras ke atas dan bawah seolah ada sesuatu yang sedang mengguncangnya.
"Itu bukan perbuatanku."
"Dia sadar." Perkataan Ino sontak membuat kepala beda warna itu berbalik.
Dilihatnya Hinata yang terus merancau, suaranya sangat pelan tetapi lebih dari cukup untuk di dengar oleh tiga iblis di dekatnya untuk tahu nama Naruto yang terucap. Tatapan matanya yang kosong perlahan terisi dan bersinar kembali. Ino menghentikan aliran chakra dan berjalan mundur perlahan ketika melihat tubuh Hinata mulai bergerak gelisah.
"Naruto-kun."
BLAAR!
Mereka bertiga tersentak mendengar suara ledakan dari bola pasir Gaara yang hancur. Celaka, Naruto lolos, dan mereka belum sempat menyingkir karena terlalu terpaku oleh respon Hinata.
"Jangan bersuara dan tetap di tempat kalian." desis Gaara pelan yang direspon anggukan oleh Shikamaru dan Ino.
Mereka tidak melihat sosok Naruto yang mereka kenal, mereka hanya melihat sesosok makhluk mirip seperti hewan berkaki empat dengan telinga dan ekor sedang celingukan seperti sedang mencari sesuatu.
"Empat ekor."
Tanpa harus menjelaskan Shikamaru dan Ino langsung mengerti apa maksud dari gumaman Gaara. Berbeda dengan Shikamaru dan Ino yang tampak terkejut, wajah Gaara tidak menampakan keterkejutan sama sekali, dia terlihat tetap tenang seakan sudah mengetahui dan pernah melihat perubahan wujud Naruto yang baru pertama kali dilihat oleh mereka berdua. Dan tentu saja, hal kecil itu tidak luput dari pengamatan Shikamaru.
"Kau tahu berapa banyak maksimal ekor yang dikeluarkan Naruto?" Berusaha memancing informasi, Shikamaru bertanya dengan nada yang diusahakan ringan layaknya menanyakan cuaca besok. Dia tidak bisa diam dan melihat apa yang terjadi saat ini. Setidaknya dia harus tahu apa yang terjadi pada Naruto dan Shikamaru yakin iblis di sebelahnya tahu sesuatu.
"Sembilan."
Suara 'klik' seperti terdengar di dalam kepala Shikamaru mendengar jawaban singkat Gaara. 'Sembilan' akhirnya Shikamaru mengerti apa maksud dari perkataan Gaara sebelumnya. 'Salah satu dari kami' tidak salah lagi, pasti hal itu yang dimaksud. —tch, ramalan ya. Mendokusai, batin Shikamaru setengah menggerutu. Dia tidak mempercayai ramalan, tetapi kalau sudah seperti ini mau tak mau Shikamaru harus percaya.
Shikamaru berdecak kesal, tidak menyangka akan mendapatkan apa yang ia mau secepat ini. Salahkan otak jeniusnya yang dengan sangat mudah menebak sesuatu hanya dari sedikit clue yang ada. Dalam hati ia membenarkan perkataan Gaara. Mereka harus segera pulang ke dunia iblis dan melaporkan semua ini ke Tsunade. Mereka harus segera bertindak, mencari dalang di balik semua kekacauan ini dan meminimalisir kekacauan, kalau beruntung mereka bisa menghentikan semua ini sebelum dunia ini hancur.
Hon no Kojiki. Awalnya Shikamaru tidak perduli dan mau mengakui buku yang diberikan Tsunade sebelum dirinya berangkat menjalankan misi sebagai buku terkutuk dan apa yang tertulis di sana akan terjadi di masa depan. Baginya itu hanyalah sebuah tumpukan kertas yang berisi tulisan-tulisan yang menceritakan kejadian sehari-hari. Tak jauh beda dengan sebuah diary. Namun setelah melihat fakta-fakta yang dia dapat selama menjalankan misi, mau tak mau membuatnya ikut mengutuk dan mengakui bahwa buku itu benar-benar terkutuk. Sungguh buku yang menyeramkan.
Melihat Naruto mendekat membuat tubuh mereka semua menegang. Shikamaru bisa merasakan seluruh bulu kuduknya meremang begitu Naruto berjalan melewatinya. Aura dan hawa iblis yang menguar sekarang empat kali jauh lebih besar dari sebelumnya. Shikamaru berusaha keras melawan keinginan untuk segera menghilang dari tempatnya berdiri. Bisa dipastikan kali ini dia tidak akan selamat jika menghadapi Naruto meskipun di bantuan Gaara— ujung mata Shikamaru tak sengaja menangkap gesture tubuh Gaara juga menegang sama sepertinya.
Lain dengan para lelaki, Ino sendiri heran dengan dirinya karena tidak merasakan takut. Justru dia merasa Deja-vu melihat sikap Naruto yang tatapannya terkunci pada tubuh lemah Hinata yang bergerak-gerak gelisah.
.
.
"Naruto-kun." Hinata kembali memanggil. Kali ini sedikit lebih keras dari sebelumnya. Selain dingin Hinata merasa seluruh tubuhnya sakit. Hinata mengerjap beberapa kali agar kabut putih yang menghalangi pengelihatannya hilang, kabut itu mencekam, membuat Hinata diselimuti rasa tak nyaman dan gelisah. Hinata butuh sesuatu yang bisa menyingkirkan kabut itu dan seorang yang selalu membuatnya merasa hangat dan nyaman seperti Naruto, ya hanya Naruto yang ia butuhkan.
Di tengah perasaan tidak menentu, sayup-sayup Hinata mendengar suara geraman. Geraman buas yang sangat menyeramkan. Tetapi anehnya Hinata tidak merasa takut sedikitpun. Hinata tidak tahu siapa sosok yang menggeram itu, tetapi suaranya terdengar tidak asing. Suara geraman rendah yang terdengar seolah sedang mencari dan memanggil dirinya. Suara geraman yang terasa familiar.
Naruto-kun, kau kah itu?
Suara geraman yang didengarnya semakin mendekat, seperti berada tepat di depannya dan seketika Hinata merasa aman luar biasa. Sesuatu yang hangat ada di dekatnya, sesuatu yang juga membuatnya nyaman.
Otomatis kedua tangan Hinata terangkat. Susah payah, Hinata ingin merengkuh kehangatan itu, mendekapnya erat untuk menggantikan semua rasa tak nyaman pada dirinya. Sesuatu yang menempel pada tubuhnya membuat kedua tangan Hinata melingkari lengannya dan memeluk erat-erat. Rasanya seperti memeluk Naruto.
"Naruto-kun."
"Hinata…"
Deg.
Jantung Hinata berdetak keras, menghentak-hentak dengan kecepatan tinggi secepat lenyapnya kabut yang menutupi pandangan Hinata dan mendapati helaian pirang halus yang sangat dia kenal menutupi hampir seluruh wajahnya.
"Hinata… Hinata…" tidak salah lagi, suara milik Naruto. Harum citrus khas Naruto yang menggelitik hidungnya tercium jelas. Ini Naruto. Yang Hinata dekap benar-benar Naruto.
"Naruto-kun. Naruto-kun." Hinata mendesah lega. Lengan yang melingkari leher Naruto di pererat tanpa perduli Naruto akan protes karena tidak bisa bernafas. Yang Hinata perdulikan hanyalah rasa syukur dirinya bisa kembali melihat dan menyentuh Naruto. Hinata merasa sangat bahagia hingga tanpa sadar airmata sebagai wujud rasa leganya sudah mengalir deras.
.
.
Tiga iblis mematung. Pertama kali mereka melihat peristiwa seorang manusia yang berhasil meredakan amukan iblis dan mengembalikannya ke wujud semula. Dan mereka berani bertaruh tidak pernah ada kejadian seperti ini di sepanjang kehidupan abadi yang mereka miliki.
Bagaimana mungkin seorang manusia bisa mengubah chakra merah milik Naruto hanya dengan menyentuhnya? Dalam hal ini Shikamaru yang paling terkejut. Dia tahu betul bagaimana panas chakra yang membakar kulitnya. Bahkan Naruto sendiri pun tidak luput dari panasnya gelembung chakra aneh tersebut. Tapi bagaimana bisa dalam sekejap chakra merah itu berubah normal ketika gadis itu menyentuhnya? Yang lebih mengherankan seakan punya pikiran sendiri, chakra merah itu menyembuhkan sendiri luka Naruto dengan sangat cepat hingga wujudnya kembali seperti semula.
Shikamaru yakin benar gadis itu hanya menyentuh dan tidak berbuat apa-apa. Shikamaru juga tidak merasakan pancaran chakra penyembuh seperti milik Ino atau pun pancaran tenaga mencurigakan. Dengan kata lain, gadis manusia itu tidak memiliki kekuatan apapun untuk mengubah Naruto ke wujud semula tanpa terluka sama sekali. Lalu bagaimana hal mustahil itu bisa terjadi?
"Apakah aku berhalusinasi?" cetus Ino shock.
Shikamaru dan Gaara bertukar pandang. Mereka berdua sangat mengerti bagaimana perasaan Ino jika melihat kejadian yang baru saja terjadi beberapa detik yang lalu.
.
.
.
.
.
Wajahnya tetap datar, meski begitu beberapa urat kekesalan sudah muncul dan berkedut di sana sini akibat dari pemandangan menyakitkan mata yang ia lihat. Rasa kesalnya semakin bertambah mengingat begitu banyak chakra yang dikeluarkannya untuk menempuh jarak yang tidak dekat ditambah dengan hari terakhir liburnya yang harus terganggu.
Ia cukup memaklumi sebuah adegan lovey-dovey salah satu pasangan, mengingat satu diantara mereka terluka cukup parah. Yang ia tidak mengerti adalah ketika melihat makhluk berkepala kuning —yang sudah beberapa bulan ini tidak ditemuinya— sedang tertidur nyenyak dipangkuan seorang gadis. Manusia.
"Tinggal menunggu Naruto bangun saja untuk kembali ke dunia manusia." Imbuh Gaara setelah dirinya selesai menggantikan tugas Shikamaru untuk menceritakan apa yang telah terjadi.
"Masalah itu biar aku yang urus. Akan kupastikan dia bangun dalam waktu satu detik." Ujar Sasuke menanggapi laporan yang Gaara berikan. Masih dengan wajah datarnya ia melangkahkan kakinya perlahan menuju tempat Naruto terbaring.
.
Hinata yang sejak tadi sibuk mengusap kepala Naruto yang tidur kelelahan setelah menolongnya mendadak berhenti ketika seseorang berdiri di dekatnya.
Seorang pemuda berambut raven dengan bola mata yang hitam legam. Wajahnya terlihat rupawan. Hampir sama rupawannya dengan tiga orang sebelumnya yang mengaku teman Naruto.
Tidak butuh kecerdasan khusus untuk mengenali siapa sebenarnya sosok orang-orang yang mengaku teman Naruto. Meski penampilan mereka terlihat cukup normal di mata Hinata, tetapi jelas ada sesuatu yang berbeda dirasakan Hinata saat pertama kali melihat mereka.
Hinata ingat bagaimana gadis dengan pony tail yang mengaku bernama Ino datang tepat ketika Naruto tiba-tiba tidak sadarkan diri menimpa tubuhnya tak lama berselang dia sadar. Kemudian baru disadarinya jika gadis itu tidak datang seorang diri.
"Aku ada perlu dengan dia." Ucap orang itu singkat.
Tidak begitu mengerti apa yang dimaksud, Hinata memutuskan hanya mengangguk.
DUAAAK!
"!"
BRUGH!
"Ukh!"
Kejadiannya begitu cepat. Hinata membeku melihat apa yang Sasuke lakukan pada Naruto. Mulutnya terbuka lebar dengan mata melotot horror melihat bagaimana tubuh Naruto terpental jauh setelah menerima tendangan telak pada pinggangnya, Naruto jatuh di tengah bebatuan kapur setelah menghantam tebing batu. Kecepatan gerak Sasuke membuat Hinata tidak sempat bereaksi ataupun menarik nafas.
"Sampai kapan kau mau tidur Dobe?" Sindir Sasuke, tahu betul Naruto sudah lama bangun dan hanya pura-pura tidur dipangkuan si Gadis. "Beberapa bulan tidak bertemu ternyata tidak cukup untuk membuatmu pintar." Lanjutnya dengan nada tajam menusuk menghiraukan manusia di belakangnya yang tengah menatap tak percaya pada dirinya.
"KUSO!" Raungan Naruto terdengar di kejauhan. "APA YANG KAU LAKUKAN! KAU PIKIR TENDANGANMU ITU SEKUAT APA HAH! TEME!" Protes Naruto dengan suara menggema di sepanjang pegunungan.
Bagai tersiram air dingin di tengah terik gurun pasir, Hinata menghembuskan nafas lega mendengar Naruto berteriak. Sedikit banyak merasa déjà-vu oleh kata Naruto. Tubuhnya yang beku perlahan mencair. Sepertinya Naruto baik-baik saja dan tidak terluka parah seperti yang dipikirkannya tadi. Terkadang Hinata merutuki dirinya yang melupakan kenyataan bahwa Naruto adalah iblis. Kelelahan seperti apapun yang di alami Naruto tentu tidak akan membuatnya mati meskipun kena sepakan kaki sadis yang Hinata yakin mampu untuk mementalkan sebuah mobil beberapa meter ke atas.
"Kalau itu bisa menyadarkanmu, aku tidak perduli." Sahut Sasuke watados membuat semua mata yang memandang mereka sweatdrop. Bisa-bisanya Sasuke tega mendepak tubuh Naruto yang masih terlihat kepayahan,—efek samping dari mengeluarkan kekuatan diluar batas daya tampung tubuh.
Naruto bangkit perlahan, berjalan terhuyung ia kembali menuju Sasuke yang masih memasang wajah stoic tanpa merasa bersalah. Shikamaru dan yang lainnya menatap gerakan Naruto yang tergolong lambat untuk manusia. Luka yang di alami Naruto ternyata cukup parah, meskipun tubuhnya kembali seperti semula tetapi dia terlihat sangat lemah. Baru kali ini Shikamaru melihat Naruto yang begitu tidak berdaya. Bahkan untuk berjalan Naruto terlihat susah payah.
"Ino tak bisakah kau pulihkan Naruto terlebih dahulu?" tanya Shikamaru pelan. Sementara Gaara melihat melalui ujung mata.
Ino menggeleng pelan. "Aku sudah melakukan semampuku. "Pemulihan yang kulakukan tidak berdampak apapun. Tubuh Naruto terluka cukup parah di dalam meskipun tubuhnya memulihkan sendiri dengan sangat cepat tetapi tetap butuh waktu untuknya kembali seperti semula." Jelas Ino.
"Tidak apa-apa. Dia akan pulih dalam beberapa hari." Komentar Gaara mendengar percakapan sepasang iblis di sampingnya.
.
"Ngajak ribut heh?!" Naruto langsung menantang Sasuke begitu sampai. Dia memberikan wajah garang dan deathglare terbaik yang dimilikinya untuk Uchiha bungsu.
"Memang apa yang bisa kau lakukan padaku dengan tubuh bobrok seperti itu sekarang?" tunjuk Sasuke mencemooh dan balik menantang Naruto.
"Aku cukup kuat untuk mematahkan lehermu!" Tukas Naruto tak terima.
"Aku ragu kau bisa melakukan itu." Ejek Sasuke.
Naruto diam, ia tidak menjawab maupun membalas. Ia hanya mendengus kasar sebagai tanda tak suka. Naruto membenarkan perkataan Sasuke. Dirinya bahkan tidak punya cukup kekuatan untuk melesat maupun terbang. Sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya? Naruto hanya ingat tubuhnya terasa sangat sakit kemudian dirinya dan Hinata batuk mengeluarkan darah bersamaan. Setelah itu dia hanya ingat sudah terbangun di pangkuan Hinata dengan tubuh lelah dan kehabisan tenaga. Ia butuh istirahat beberapa lama atau energy negative atau juga sedikit energy kehidupan manusia untuk mempercepat pemulihan chakra.
Tidak! Tidak! Naruto menggeleng pelan. Energy manusia adalah hal pertama yang paling di hindari Naruto. Dia tidak ingin mengambil energy kehidupan orang yang salah. Meskipun dia seorang iblis yang suka membuat onar, Naruto paling malas kalau sudah berurusan terlalu dalam dengan manusia. Tentunya Hinata pengecualian.
Naruto menggeleng dan tersenyum kikuk mendapati tatapan bertanya Hinata.
"Sebaiknya kita bergegas. Kita semua akan pulang." Sasuke berbicara kembali ketika melihat ketiadaan respon Naruto.
Naruto kembali memandang tajam Sasuke sementara Hinata terlihat terkejut.
.
"Tidak!" tolak Naruto cepat. "Aku tidak bisa meninggalkan Hinata." Naruto menatap Hinata yang juga sedang menatapnya. Naruto menyadari ketakutan yang terpancar pada manic yang selalu membuatnya merasa teduh. Naruto tidak akan meninggalkan Hinata. Dia sudah berjanji pada Hinata.
Sasuke mendengus melihat interaksi antara Naruto dan gadis manusia. "Aku tidak bilang kau harus meninggalkannya." bola mata hitam itu berputar pelan. "Aku bilang semua. Itu berarti semua yang berada di sini. Termasuk dia." Jelas Sasuke dengan penekanan di beberapa kata untuk memperjelas maksudnya dan telunjuk yang mengarah pada Hinata membuat semua yang ada di sana terkejut.
"Kau gila!" tukas Naruto. "Dia manusia!" lanjutnya berang. Tidak mungkin Naruto membiarkan Hinata datang ke dunia iblis. Itu sama saja dengan menjadikan Hinata sebagai makanan mereka.
"Lalu?" sebelah alis Sasuke terangkat malas dengan wajah tak perduli akan hal yang sudah pasti dia ketahui membuat Naruto ingin sekali menghancurkan wajah tampan di depannya dengan kepalan tangan. "Kau lebih memilih membunuh atau menghapus ingatannya?" ucap Sasuke datar mengabaikan geraman berbahaya yang muncul dari pangkal tenggorokan Naruto. "Aku juga berani bertaruh kau tidak akan membiarkan seorangpun menghapus ingatannya."
Hinata tertegun mendengar pernyataan Sasuke. Menghapus ingatan katanya? Apa ingatan masa kecil yang di lihat di dalam kepalanya tadi merupakan kenangan masa lalunya yang dihapus? Tapi mengapa?
"Manusia tidak dapat bertahan ketika memasuki portal dunia iblis, Sasuke." Ino angkat bicara mengenai keputusan Sasuke. "Dia bisa mati sebelum sampai ke dunia iblis."
"Ada cara untuk membuatnya bisa melewati portal itu." Sambung Gaara.
"Biar begitu kita tetap tidak bisa membawanya. Manusia di sana. Kalian tahu apa maksudku." Shikamaru
"Tunggu!" bagai kehilangan kecanggungan Hinata memotong perdebatan diantara mereka. Ini menyangkut dirinya. Mendengar mereka memutuskan suatu hal mengenai dirinya tanpa melibatkannya membuatnya tak suka. "Menghapus ingatanku, membawaku dan mem-" Naruto menghampiri Hinata yang susah payah melanjutkan perkataannya. "Mem- membunuhku…" Lanjutnya dengan suara lirih. "Apa maksud kalian! Memutuskan seenaknya nasibku? Ini hidupku!" Hinata bangkit dan menatap Sasuke penuh emosi, menghiraukan pancaran intimidasi yang terpancar dari tatapan dan tubuh Sasuke. Dia tidak suka ini. Ini hidupnya dan tidak ada seorangpun yang berhak menentukan nasibnya.
Naruto ikut bangkit dan membawa Hinata pada dekapannya, mengusap lembut kepala dan lengan Hinata yang bergetar hebat. Kalau saja Naruto tidak melihat sorot amarah yang dipancarkan amethyst dihadapannya, ia akan mengira Hinata gemetar karena rasa takut. Dalam hati Naruto sedikit kagum pada keberanian yang dimiliki gadisnya.
"Sampai mana dia tahu tentang kita?" Sasuke bertanya tanpa memutus kontak mata antara dirinya dan Hinata. Menarik, baru kali ini Sasuke melihat ada seorang manusia balik menatap dirinya tanpa rasa takut.
"Cukup untuk tahu siapa kita dan darimana kita berasal." Naruto menjawab dengan nada yang membuat setengah perhatian Hinata teralih karena begitu datar dan dingin, sangat bukan Naruto yang selama ini ia kenal.
"Peraturan." Sasuke melanjutkan perkataannya setelah diam beberapa saat.
Hinata mengerti perkataan itu ditujukan padanya.
"Manusia yang berhubungan dengan kami harus terikat kontrak. Tentu kau pernah dengar kontrak dengan iblis bukan?" imbuh Sasuke yang dijawab anggukan kepala Hinata. "Manusia yang berhubungan dengan iblis dan tidak terikat kontrak akan dibunuh atau dihapus ingatannya untuk menjaga kerahasiaan kami."
"Aku tidak akan membiarkan Hinata melaku—"
"Aku bersedia." Hinata memotong Naruto. suaranya terdengar mantap. Kedua mata Naruto terbelalak. "Kalau itu bisa membuatku terus bersama Naruto-kun akan kulakukan." ucapannya berhasil membuat Naruto dan empat iblis di sana menatap dirinya intens. Berbagai macam ekspresi bermunculan di wajah para iblis kecuali Sasuke yang tetap tidak terlihat emosi apapun di wajahnya yang datar.
"Aku menolak!" Naruto menggertakan gigi keras, menahan emosi asing yang baru pertama kali dirasakannya selain amarah. "Hinata. Tarik. Ucapanmu!" Naruto memutar bahu Hinata dan menatap tepat di manic amethyst yang terlihat keras. "Kau tidak tahu apa konsekuensinya. Kau tidak tau apa saja yang harus dilakukan manusia ketika sudah terikat kontrak dengan iblis! Kau. Bisa. Mati!" Geramnya penuh amarah.
Naruto tidak suka, rasa tidak rela membiarkan Hinata melakukan hal konyol bahkan untuk kepentingan dirinya. Membuang jiwanya ke kegelapan, menjadi makhluk terkutuk. Hell no! Meski Naruto selalu ingin bersama Hinata di sepanjang kehidupannya, dia tidak akan pernah membuat Hinata merasakan kehilangan arti hidup karena tidak bisa mati. Naruto juga tidak bisa membiarkan api kehidupan yang sudah kembali bersinar di mata Hinata kembali hilang karena rasa putus asa tiada akhir.
Hinata yang penuh dengan energy kehidupan adalah yang terbaik, meskipun dia tidak abadi, meskipun dia rapuh karena tidak memiliki kekuatan apapun. Itu jauh lebih baik daripada harus melihat dirinya yang penuh dengan kegelapan.
Kedua tangan Naruto menyentak pelan bahu Hinata. Mencoba menyadarkan apa yang akan dihadapi olehnya kalau tetap bersikeras mengikat kontrak.
"Dengarkan aku! Hinata!" Kedua mata mereka menyorot tajam. Tidak ada kilatan jahil maupun kelembutan yang biasanya terpancar dari dua pasang netra yang saling berhadapan. Di satu sisi memancarkan amarah dan ketidak relaan akan keputusan yang diambil Hinata. Di satu sisi memancarkan kebulatan tekat yang tidak tergoyahkan.
Sasuke yang merasakan nuansa ketegangan dari dua makhluk berbeda alam itu memilih berbalik dan pergi. Tidak perduli bagaimana hasil akhir ketegangan itu yang jelas dia sudah mengatakan maksud kedatangannya yang lain.
Sasuke merentangkan tangan kanannya kedepan. Sebuah petir besar berkilat menyilaukan di susul dengan suara hantaman menggelegar, memekakkan telinga siapapun. Sebuah robekan besar muncul di hadapan mereka membentuk sebuah terowongan yang menghubungkan ke tempat yang tandus, gelap dan suram.
"Siapa yang menyuruhmu membuka portal!" Bentak Naruto. Nada suara yang lebih dingin dari Sasuke sedikit membuat yang lain terkejut.
"Ini perintah—" Sasuke menoleh dan menatap lurus sapphire Naruto yang berkilat tajam. "Daimaou-sama."
Kali ini bukan hanya Naruto yang terkejut. Mereka semua terperangah, mengingat Daimaou-sama tidak pernah memberi perintah secara langsung selain Tsunade. Minus Gaara yang sudah mengira hal ini cepat atau lambat akan terjadi dan Hinata yang tidak mengerti seberapa kuat dan berkuasanya Daimaou.
Naruto menggeram rendah berbahaya. Dia memposisikan Hinata yang memandang bingung di balik punggung. Amarah Naruto tersulut kembali. Naruto tidak mengerti apa yang dipikirkan Daimaou. Raja iblis itu pasti tahu benar apa yang akan terjadi jika ada satu saja manusia yang masuk ke dalam dunia iblis. Lalu apa yang sedang direncanakannya? Menyeret Hinata yang manusia datang ke dunia penuh predator pemakan manusia?
"Jangan coba-coba melawan." Desis Sasuke berbahaya. Mata kelamnya langsung berubah merah dengan tiga koma pada irisnya ketika menangkap gelagat berontak dari Naruto.
Bruk.
Tubuh Naruto tiba-tiba ambruk, ia meringkuk di atas tanah, seluruh tubuh bergetar hebat.
"Naruto-kun!" pekik Hinata histeris langsung berlutut, merangkul pundak Naruto dan melihat keadaannya yang tidak bisa dibilang baik. "APA YANG KAU LAKUKAN!" jerit Hinata tak terima, menatap Sasuke dengan pandangan menuduh.
"Sasuke!" panggil Shikamaru memperingatkan.
"Jangan terlalu berlebihan." Ucap Gaara dingin. Pasir milik Gaara terlihat bergerak-gerak tak beraturan di sekitarnya seolah mencerminkan rasa tak suka dari pengendalinya.
Melihat suasana yang semakin tegang Ino berdiri dan berteriak, "Hentikan kalian semua!" dia menempatkan diri di depan Sasuke, memberikan tatapan memperingatkan. "Misimu membawa Naruto dan Hinata, bukan melukai salah satu diantara mereka, bukan?" Melihat perubahan kecil pada diri Sasuke meyakinkan Ino bahwa perkataannya tepat.
"Naruto-kun! Naruto-kun!" Hinata memanggil cemas. Airmata Hinata kembali mengalir melihat nafas Naruto tersenggal. Keringat dingin mengucur deras dari kening dengan bibir Naruto yang tertutup rapat seakan tak membiarkan sedikitpun udara keluar melewati mulut dan kedua sapphire-nya tampak tidak focus.
"Lepas jurusmu, Sasuke." Perintah Shikamaru.
"Sasuke!" Ino kembali memanggil, berusaha menarik perhatian agar perkataannya didengar. "Naruto lepas kendali, Hinata akan terluka, dan misimu gagal!" ungkapnya lambat-lambat.
Sasuke membenci Ino, perkataan iblis pirang itu selalu tepat sasaran. Sasuke memang tidak suka misinya gagal dan cenderung melakukan apa saja untuk membuatnya berhasil. Ia sadar ketidakbersamaan singkatnya dengan Naruto membuatnya kembali menjadi iblis dingin yang tidak perduli apapun demi kesuksesan misi. Tidak ada Naruto dengan kelakuan konyol yang secara tak langsung mengalihkan emosi Sasuke yang mudah terpancing.
Sasuke menutup mata merahnya tak rela. Matanya kembali berwarna hitam saat kembali membuka.
"Ugh…" erang Naruto pelan, nafasnya masih tersenggal tetapi kedua matanya sudah kembali focus.
"Na-naruto-kun? Kau tidak apa-apa? Hinata menatap cemas wajah Naruto yang terlihat pucat,disekanya bulir keringat yang kembali mengalir dipelipis pemuda tan itu.
Tidak yakin suaranya akan terdengar baik-baik saja Naruto memilih menarik seulas senyum untuk Hinata agar gadis itu tidak perlu khawatir, meski rasanya sia-sia karena raut cemas Hinata tidak juga berkurang.
Naruto mengumpat Sasuke dalam hati yang melepas jurus menyebalkan miliknya di depan Hinata. Untung saja Naruto berhasil menahan diri tidak berteriak dan membuat Hinata ketakutan.
Sasuke berjalan mendekati Naruto yang ambruk dan berlutut didepannya dengan tatapan tajam.
"Kau cukup diam dan ikuti perkataanku." Ucapnya dengan nada tak ingin dibantah.
.
.
.
.
.
つづく
.
.
.
Istilah
Ichibi no Shukaku : Shukaku si ekor satu
Hon no Kojiki : Kitab Kojiki (Buku sejarah jepang tertua yang di persembahkan oleh Oho no Asomiyasumaro tahun 712/tahun kelima jaman wadou(708-714) pada Oou no Yasumaro. Terdiri dari tiga jilid. Jilid 1 Kamitsumaki(berisi kata pengantar dan mitologi seputar kelahiran, kehidupan dan peperangan berbagai Kami), jilid 2 Nakatsumaki (kisah para Kaisar jaman dulu), jilid 3 Shimotsumaki (kisah para kaisar jaman mendatang). Kitab ini di simpan dan di segel di salah satu kuil di jepang. Tidak ada yang boleh membuka maupun membaca kitab ini karena terlarang.)
.
.
.
And there here is, MINNA DE OKAGEDE HONTOU NI ARIGATO^^ without you all I cant make a good story. ^^ love u all #peluk2 reviewer
Minat RnR lagi? :D #nyengir kuda
Makasih udah mampir di fict Ho.
Akhir kata Ho ucapkan
本当にありがとうございます。
Hotaru Out.
