Chapter 9 : 本の古事記 (Books of Kojiki)


"Kepulangan para youkai, Sejarah terulang untuk sejarah baru."


.

.

.

Tsunade menutup buku kecil berwarna hitam lusuh termakan usia yang baru selesai ia baca. Diletakkannya benda berbentuk persegi itu di atas meja kerja yang tampak steril dari berkas-berkas perkamen yang selalu bertumpuk sambil memandanginya.

Tak ubah seperti buku pada umumnya, dari luar penampilan buku itu sama seperti buku tua lain yang berserakan di ruang perpustakaan milik kastil. Cover hitam tebal bersampul kusam nan lusuh, tak lupa halaman menguning di sana-sini. Tidak ada yang istimewa, kecuali satu hal;

Buku tersebut tidak dapat dihancurkan.

.

Tsunade ingat betul bagaimana ia mencoba menghancurkan buku tua dihadapannya sekarang. Memanfaatkan kekuatan fisik yang ia miliki, Tsunade meremas benda persegi itu dengan jari jemarinya yang saling bertaut.

Seolah memiliki radar pendeteksi kekuatan besar yang akan menghacurkannya, benda itu tiba-tiba mengeras hingga tidak satu halamanpun berkerut rusak.

Tak habis akal, Tsunade meletakan buku di atas sebuah batu granit besar di atas bukit belakang tak jauh dari kastil. Ditinjunya buku tersebut. Suara dentuman yang mengindikasikan kehancuran pun menyusul terdengar nyaring hingga ke dalam kastil.

Memang terjadi kehancuran di sana, tapi tidak dengan buku yang masih tampak utuh seakan tak pernah terjadi apa-apa meskipun buku tersebut terlihat sudah tergeletak di dalam cekungan tanah raksasa serupa kawah.

.

"Yakimasu!"

Tsunade melihat jelas bagaimana kening Sasuke berkedut kesal bercampur heran— meski wajahnya masih tampak stoic—ketika sekonyong-konyong ia muncul dan langsung memerintah untuk memanggang buku yang ia lempar ke atas meja yang dijadikan Sasuke alas tidur di tengah waktu istirahat.

"Gunakan amaterasu." Perintahnya lagi tanpa memperdulikan tatapan protes yang dilayangkan Sasuke.

Konyol, mungkin itu yang ada di kepala Uchiha prodigy—sangat. Bagaimana tidak? Memakai amaterasu hanya untuk membakar sebuah buku tua? Tsunade pasti sedang mabuk hingga tidak ingat seberapa besar chakra yang dibutuhkan untuk memanggil api hitam itu. Namun meski menggerutu Sasuke memilih diam dan menurut.

Baru beberapa detik amaterasu diaktifkan, Sasuke sudah tidak mampu menahan kedua matanya untuk tidak terbelalak. Tak habis pikir buku macam apa yang dibawa Tsunade. Buku tersebut tetap utuh meski amaterasu sudah melahap setiap bagian terkecil.

Berbeda reaksi, Tsunade lebih cenderung kesal. Suara gertakan giginya terdengar nyaring, melihatnya membuat Sasuke yakin bahwa Tsunade telah memprediksi hal ini hingga ia tak lagi terkejut.

.

Seperti halnya sebuah buku, lembaran kertas halaman buku tua itu bisa sobek. Tsunade hampir saja berlari ke segala penjuru kastil sambil menari dan berteriak kegirangan oleh rasa senang berlebihan ketika tanpa sengaja dirinya merobek satu halaman buku tersebut. Dengan tidak sabar Tsunade langsung menarik beberapa lembar kertas halaman buku tersebut dengan kasar dan— berhasil, buku itu sobek.

Maksud hati menyobek sampai habis tidak tersisa, dan ia tidak berniat berhenti sampai tiba-tiba Daimaou datang dan melihat apa yang sedang dilakukannya kemudian berkata bahwa ia melakukan hal yang sia-sia. Benar saja, kertas itu memang sobek, tetapi halaman pada buku itu tidak pernah berkurang satupun meski sebanyak apapun Tsunade sudah menyobeknya.

Tsunade mendegus lelah.

.

Ya, inilah yang membedakan Hon no Kojiki.

.

.

Sebenarnya, tidak ada yang perlu ditakuti dari buku tua yang masih tergeletak manis di meja kerja Tsunade hingga harus dihancurkan. Buku ini tidak berbahaya, mengingat sebuah buku biasa tidak dapat melukai siapapun, termasuk manusia. Well, lain halnya jika ada yang menghantamkan buku itu ke kepala seseorang.

Keistimewaan buku tersebut hanya terdapat pada kalimat yang terkadang muncul tanpa ada seorangpun yang menulis. Namun, justru karena itulah buku ini menakutkan.

Karena setiap kalimat yang muncul pasti akan menjadi kenyataan.

Yang lebih membuat Tsunade sakit kepala ialah: tak satupun kalimat yang menunjukan kejadian menyenangkan jika kalimat tersebut berasal dari Hon no Kojiki.

Ia benar-benar dibuat pusing. Kalimat terakhir yang muncul satu tahun yang lalu selalu menari-nari di kepala iblis pirang kuncir dua. Tercenung, ia menatap kosong Hon no Kojiki di atas meja ketika mengingat apa yang tertulis.

"Kepulangan para youkai, Sejarah terulang untuk sejarah baru."

Entah apa maksud dari kalimat itu.

Semula Tsunade mengira beberapa youkai buronan yang lari ke dunia manusia akan kembali dan sedikit membuat kekacauan, tetapi dirinya tidak mengerti dengan kalimat selanjutnya, sejarah terulang untuk sejarah baru. Apa maksud kalimat itu? Sejarah mana yang akan terulang?

.

'Hon no Kojiki tidak akan mengeluarkan ramalannya jika sesuatu yang besar tidak terjadi.' Perkataan Daimaou sewaktu mereka membahas kalimat itu membuat Tsunade berfikir ulang mengenai keterlibatan youkai yang dimaksud.

.

Dan kini, sepertinya Tsunade bisa menebak youkai dan sejarah mana yang dimaksud. Tsunade hanya berharap semoga ramalan Hon no Kojiki kali ini tidak akan pernah terjadi.

.

"Tsunade-sama." Shizune menginterupsi dari arah pintu, mencoba mengingatkan apa yang harus dilakukan sekarang.

Entah sejak kapan Shizune berada di sana tanpa Tsunade sadari, pikirannya terlalu disibukkan oleh buku yang masih tergeletak manis di meja hingga tidak menyadari kedatangan Shizune.

"Aku tahu." Tsunade merespon seraya bangkit kemudian berjalan keluar ruangan. "Tolong kau simpan kembali buku itu di tempat semula." Ujarnya lagi sebelum menutup pintu ruangan dan meninggalkan Shizune sendirian di dalam.

.

.

NARUTO FANFICTION

Angel? No Devil!

Diclaimer : Naruto©Masashi Kishimoto

Angel? No Devil!©Hotaru

Genre : Romance, H/C, Fantasy

Rate : T+

Pairing : Naruto x Hinata

Warning : OOC, MissTypoo(s), Gaje

Bagi yang Anti NaruHina disarankan segera tekan tombol back!

Tidak menerima flame yang tidak bertanggungjawab dan tidak rasional

Sangat terbuka untuk kritik dan saran

Don't Like Don't Read!

.

.

.

.

Deal!

はじめ

.

.

Ruangan besar tersebut gelap gulita. Satu-satunya cahaya berasal dari cermin kristal berukuran raksasa yang tengah merefleksikan sebuah kejadian bak drama populer yang biasa disukai manusia. Bedanya, kejadian tersebut nyata, dan sedang berlangsung di tempat yang terletak sangat jauh dari ruangan gelap ini.

Tidak jauh dari cermin, di depan persis, sebuah singgasana raksasa mewah bertabur intan dan permata berdiri kokoh. Sesosok laki-laki duduk nyaman dengan punggung bertumpu pada bantal empuk berlapis sutra. Sepasang mata familiar yang dimilikinya terpaku menatap cermin kristal. Air muka yang serius terlihat mendominasi, meskipun gesture tubuhnya tampak santai.

.

Ketukan pelan dari pintu sedikit menginterupsi kegiatan sosok tersebut.

"Daimaou-sama." Sebuah suara dari luar pintu memanggil.

"Masuklah Tsuna." Sahut sosok laki-laki yang dipanggil Daimaou tanpa mengalihkan perhatiannya pada cermin.

Seberkas sinar dari lorong di belakang double door raksasa menyorot masuk ke dalam ruangan gelap beberapa detik sebelum kembali hilang bersamaan dengan pintu yang menutup dan kembali pada satu-satunya cahaya yang dipancarkan cermin.

Gema hak pantofel mengiringi langkah Tsunade, kemudian terhenti beberapa meter di samping kanan sosok yang tidak juga merubah posisi. Tsunade menundukan kepala sejenak, "Aku sudah melakukan persiapan yang dibutuhkan." Diam sejenak, —Tsunade menghela nafas panjang seolah ingin menghempaskan seluruh beban yang menggelayut ditubuh.

"Daimaou-sama…" Tsunade berucap lirih, "Apa semua akan baik-baik saja jika tetap dilaksanakan?" sangsi Tsunade tak bisa menutupi nada cemas pada pertanyaannya.

Tsunade cemas. Tentu saja. Ia sama sekali tak bisa membaca apa yang direncanakan tuannya meski hampir seluruh eksistensinya telah dihabiskan untuk mengabdi pada iblis terkuat penguasa dunia.

"Bagaimana menurutmu?" akhirnya sosok tersebut menjawab setelah beberapa saat hening. Daimaou tampak tenang, ia menimpali pertanyaan Tsunade dengan sebuah pertanyaan lain bermakna ambigu. Gesturenya masih tampak santai seperti enggan melepas atensinya pada cermin kristal.

.

Tanpa harus dijelaskan Tsunade paham arah pembicaraan mereka. Tsunade terdiam, ikut memperhatikan hal apa yang sejak tadi begitu menyita perhatian atasan sekaligus Rajanya— Daimaou. Kedua matanya melebar sesaat begitu melihat apa yang ditampilkan cermin itu, sedetik kemudian keningnya berkerut dalam, berusaha memikirkan hal masuk akal yang bisa menjelaskan kejadian gila yang baru saja dilihat mereka.

Lama berpikir tak jua dirinya mendapat penjelasan. Tsunade kembali menghela nafas berat. Kepalanya kembali terasa berdenyut. Pikirannya pun mendadak buntu. Tsunade mengerang frustasi dalam hati, merasa sudah membuang waktu dan tenaga. Semua rencana dan persiapan yang sudah ia susun rapi mendadak tak terpakai. Sial.

.

Dengusan geli meluncur begitu saja dari Daimaou melihat salah satu orang kepercayaannya frustasi.

"Sumanakatta, Daimaou-sama…" desah Tsunade pasrah, tidak tahu harus mengatakan apa.

"Aku tahu." Daimaou menjentikkan jari, cermin kristal di depannya langsung hilang dengan tekstur meleleh seperti di siram sesuatu yang panas dari atas. Di detik yang sama ruangan gelap tempat mereka berada mendadak terang benderang oleh cahaya dari bebatuan kristal putih yang bersinar seperti lampu listrik hingga Tsunade dapat melihat jelas sosok Daimaou dengan jelas.

.

.

Ada yang berbeda dari sosok yang selalu terlihat menggunakan jubah panjang berwarna putih, jubah yang menutupi hampir seluruh tubuhnya mulai dari atas hingga bawah tidak melekat pada tubuhnya. Jubah putih yang biasa dikenakan tersampir manis di sisi singgasana. Sosok yang selalu misterius itu kini terpampang jelas di hadapan Tsunade,salah satu orang yang mengetahui sosok asli Daimaou.

Meskipun bukan untuk pertama kalinya Tsunade melihat wujud di balik jubah itu, namun Tsunade tidak bisa memungkiri rasa terperangah setiap kali menatap sosok familiar pemuda tampan bersurai seterang matahari itu.

"Aku memang tidak bisa mengatakan semua akan baik-baik saja, tetapi…" Jeda sejenak, "—Gadis manusia itu bisa dimanfaatkan." Imbuh Daimaou dengan nada tersirat.

Merasa diperhatikan, kedua netra Daimaou bergulir hingga sudut mata dan langsung bersimborok dengan kedua mata Tsunade.

"Masih belum terbiasa melihatku?" Daimaou berucap, kali ini disertai sebuah seringai lebar yang membuat Tsunade merasa ingin mengubur dirinya hidup-hidup karena tertangkap basah. Tsunade menundukan kepalanya dalam, tidak berani balik menatap sepasang mata yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam.

"Mau bagaimana lagi Tsuna, tanpa harus membaca pikiranmu aku tahu apa yang kau pikirkan." Daimaou tertawa kecil mengabaikan permintaan maaf yang dilirihkan Tsunade berkali-kali, "Daripada itu, ayo kita sambut kepulangan mereka dan satu tamu spesialku."

Kepala Tsunade terangkat dengan kening mengerut mendengar perkataan tuannya, "Tamu?" tanyanya heran.

Daimaou mengambil jubah putih miliknya, dengan satu gerakan luwes jubah itu kembali menutupi tubuhnya dengan sempurna. "Aku sempat meminta Sasuke membawanya ke sini sebelum dia pergi melewati portal. Gadis itu..."

Kedua mata Tsunade terbelalak mendengar apa yang dikatakan Daimaou.

"Ta-tapi Daimaou-sama dia—"

"Dia aman dibawah pengawasan diriku." Potong Daimaou cepat membuat Tsunade kehilangan kata-kata untuk memprotes. "Tenanglah Tsuna, dia bukan sembarang manusia. Dia tidak akan mati dengan mudah meski berada di sarang predator. Lagi pula, lebih mudah mengawasi mereka di sini daripada di dunia manusia." Senyumnya lenyap, Daimaou memakai tudung kepala jubah panjangnya hingga seluruh wajahnya tertutup oleh bayangan gelap, lalu berjalan melewati Tsunade yang masih diam mematung.

.

.


.

.

Lengkingan infrasonic dari Harpia disahuti oleh geraman penuh ancaman dari anjing merah raksasa berkepala tiga terdengar nyaring di satu sudut pinggiran hutan dunia iblis.

Hutan dengan pepohonan berukuran raksasa ini tampak gaduh oleh suara ribut dari kedua makhluk yang tengah bersitegang.

Kesan suram terasa kental begitu memasuki wilayah hutan bagian dalam. Besar pohon yang mencapai lima kali lipat dibandingkan pohon normal menyebabkan hutan terlihat renggang meski jarak dari masing-masing pohon berdekatan, sementara dedaunan lebar berukuran raksasa yang tumbuh sangat lebat menghalangi pancaran sinar sang surya, salah satu penyebab hutan tampak gelap meski hari masih terang.

.

Harpia bertubuh sintal itu terus menjerit, sosok mirip manusia berjenis kelamin wanita meronta dan menggeliat-geliat di bawah pijakan kaki sang anjing raksasa. Tangan yang menyerupai sayap burung mengepak liar di kedua sisi tubuhnya, sementara kaki yang menyerupai kaki burung mencakar-cakar tanah hingga menimbulkan tiga garis lurus berceruk dalam.

Seekor ular hitam datang menghampiri pergulatan kedua makhluk yang saling melempar ancaman itu. Melata dengan lincah menghindari cakaran Harpia lalu perlahan berpindah ke tubuh Harpia ketika melihat kesempatan. Ular kecil tersebut melata dari kaki menuju ke kepala, dan pada akhirnya membungkam rapat mulut monster manusia setengah burung itu.

Menyadari kehadiran ular yang membuat lengkingan memekakkan Harpia berhenti membuat salah satu dari tiga kepala anjing raksasa menoleh ke belakang.

"GRRRAAAGGHH!" Anjing menyalak galak, kedua matanya menyipit melihat sesosok pucat tanpa ekspresi yang sedang asik berkutat dengan kertas gulungan dan sebotol tinta. Seringai kekesalan tertarik dari mulutnya yang entah bagaimana terlihat seperti menyuarakan sebuah protes pada sosok tak terganggu di belakang.

Beberapa menit merasa diperhatikan, sosok pucat yang tak lain adalah Sai menghentikan kesibukannya sejenak. "Apa aku melakukan kesalahan?" tanyanya heran dengan wajah datar yang mengulas senyum ganjil.

Dengusan keras dilontarkan sang anjing sebagai jawaban.

Perlahan, bulu merah anjing itu memudar hingga berubah putih. Tubuh raksasanya juga ikut menyusut di saat yang sama. Dua dari tiga kepala miliknya menghilang ketika tubuhnya membelah menjadi dua bagian dengan satu bagian berubah bentuk menjadi kepala seorang pemuda berambut coklat dengan tattoo segitiga merah terbalik di kedua pipinya—Kiba.

"Kalau kau menutup mulutnya, bagaimana bisa makhluk itu berbicara Sai!" Kiba melayangkan protes keras begitu tubuhnya sudah terbentuk sempurna, telunjuk kanannya menunjuk tubuh Harpia yang terlihat telah di duduki oleh anjing kesayangannya—Akamaru.

"Telingaku sakit." Sai menjawab kalem. Ia kembali melanjutkan kegiatannya— menggambar— yang tertunda.

Kiba berdecak, kesal melihat sikap tak perduli sang patner. Ini adalah pertama kalinya mereka menjalankan misi bersama, Kiba mengerti rekannya kali ini memiliki kemampuan hebat yang tidak diragukan lagi—hanya orang bodoh yang meragukan kemampuan seorang iblis yang pernah menjabat sebagai prajurit hitam— namun justru karena itulah dia mengeluh. Bagaimana bisa dirinya dipasangkan dengan iblis minus emosi seperti ini oleh Tsunade? Tentu Kiba akan lebih memilih Sasuke dibandingkan dengan Sai meski sama-sama minim ekspresi. Well, setidaknya Sasuke memiliki emosi dan pandai mengaturnya dibandingkan Sai yang tak peka.

"Lalu, bagaimana kita mengorek informasi dari mereka?" ketus Kiba jengkel, "—Tch, hei! berhenti menggambar ratusan hewan pengerat itu dan bantu aku! Sai!" teriak Kiba jengkel melihat rekannya terus saja mengabaikan protes yang dilayangkannya dan lebih memilih untuk tetap sibuk menggambar hewan pengerat yang tak lain adalah tikus.

.

"Aku punya cara yang lebih baik." Sai menjawab di akhir sapuan kuas. Tangannya terangkat ke depan wajah, jari telunjuk dan tengahnya menempel sementara jemari yang lainnya terkepal. "Kai."

Tiba-tiba gambar dua dimensi di kertas gulungan panjang yang terurai di atas tanah menunjukan pergerakan. Seolah makhluk hidup, ratusan tikus yang digambar Sai satu per satu perlahan keluar dari gulungan kertas.

Seperti halnya hewan yang baru saja terbebas dari kurungan, tikus-tikus itu mencicit riang sambil berlarian berputar-putar di sekitar Sai. Beberapa tikus terlihat tanpa takut memanjat tubuh dan bertengger di pundak Sai sambil sesekali bermain.

Melihat pemandangan di hadapannya membuat Kiba mengernyit, dia bukan tipe yang termasuk dalam kategori pembenci hewan pengerat. Dia juga bukan orang yang takut pada hewan itu. Tapi lain halnya jika melihat langsung ratusan hewan-hewan pengerat sedang berkeliaran, terlebih lagi melihat rekan timnya—Sai, yang tampak tenang berada di tengah kerumunan hewan-hewan itu mau tak mau membuat Kiba bergidik.

Setelah semua tikus keluar, menjadikan kertas gulungan yang dibawa Sai kembali bersih tanpa noda, dia menjulurkan tangan ke depan.

Sai seolah menjelma menjadi pemuda peniup seruling dari kota Hamelyn—minus seruling ajaib—seketika tikus-tikus itu kompak berbaris rapi sebelum lari berpencar ke dalam hutan dengan gerakan teratur.

Sebelah alis Kiba terangkat tinggi begitu memahami apa yang sedang dilakukan oleh rekannya. 'Jadi itu maksudnya dia menggambar ratusan tikus-tikus,' Batinnya.

Setengah meringis Kiba melirik Harpia yang masih di duduki Akamaru dengan sudut matanya lalu mendesah pasrah. Mengakui bahwa rencana Sai jauh lebih cepat dan efektif dari rencana awalnya yang menangkap dan bertanya langsung pada Harpia.

.

Menunggu hasil kerja Sai membuat Kiba memutuskan merebahkan diri di bawah salah satu pohon tak jauh dari Sai berada bersama Akamaru—tentu setelah melepas Harpia. Suasana kembali sunyi dan tenang seperti sebelumnya. Pikiran Kiba melayang kembali pada kejadian sebelum Tsunade memberikan misi aneh bin ajaib padanya dan Sai.

.

"Yami Mori?" ungkap Kiba heran mendengar Tsunade menyebutkan kemana mereka harus menjalankan misi.

"Benar. Terdengar kabar bahwa para penghuni tengah dan dalam hutan itu bermigrasi ke wilayah pinggiran. Kalau hal ini dibiarkan terus menerus akan mengacaukan rantai makanan. Pergi dan selidiki apa penyebab kejadian itu dan laporkan padaku sebelum mengambil tindakan lebih lanjut." Tsunade menjelaskan misi yang akan mereka jalani.

.

Sampai saat ini Kiba masih tidak mengerti mengenai hubungan antara misi mereka dengan kaburnya Shukaku. Kaburnya salah satu penjahat kelas berat seperti Shukaku merupakan hal yang gawat, tetapi mengharapkan Tsunade memberi mereka misi mengejar dan menangkap kembali Shukaku agaknya terlalu berlebihan—meskipun menurut Kiba misi itu pasti akan sangat menyenangkan dan menantang bagi dirinya yang sangat menyukai tantangan.

Dari segi kekuatan Kiba cukup sadar—dirinya maupun Tsunade, tidak akan sanggup untuk menangkap Shukaku yang merupakan salah satu youkai legendaris di dunia iblis. Meski demikian, seharusnya Tsunade memerintah mereka untuk mengawasi atau memindahkan para tahanan dunia iblis terlebih dahulu ke tempat aman hingga penjara dunia iblis selesai diperbaiki.

Entah apa yang dipikirkan Tsunade. Shukaku kabur tapi mereka malah disuruh pergi mengecek hutan rimba yang berada di sebuah pulau terpencil yang membutuhkan waktu seminggu perjalanan—jika di tempuh manual seperti terbang atau lari sekuat tenaga— di dunia iblis. Yang lebih mengherankan lagi, iblis wanita itu sampai memakai kekuatannya sendiri agar mereka bisa langsung pindah ke hutan ini melalui portal.

Memikirkan Shukaku membuat Kiba teringat sesuatu hal yang selama ini sedikit banyak membuatnya penasaran. Kiba tidak pernah tahu mengapa dan siapa yang bisa menjebloskan Shukaku ke dalam penjara.

Dia tidak yakin Tsunade yang melakukannya, melihat kerusakan yang ditimbulkan Shukaku tanpa satupun tahanan yang kabur atau terluka sudah menjelaskan seberapa besar perbedaan kekuatan sang youkai. Meskipun Tsunade memiliki kekuatan penghancur dahsyat, tidak mungkin dia mau repot-repot melindungi semua tahanan yang akan terluka atau mati oleh dampak daya penghancurnya sekaligus. Hanya seseorang yang mampu menghadapi Shukaku, walaupun Kiba sendiri tidak pernah melihat iblis itu bertarung secara langsung. Ya hanya dia… Daimaou.

.

"Ketemu."

Perkataan Sai menyadarkan Kiba apa yang sedang mereka lakukan saat ini; Menyelidiki keanehan yang terjadi di hutan dunia iblis.

"Kau menemukan apa?" Tanya Kiba sembari bangkit dan menghampiri Sai.

"Ular." Jawaban Sai membuat kening Kiba berkerut. "Aku menemukan sebuah area jauh di dalam hutan. Area itu sangat sepi dan steril dari monster hutan. Salah satunya Harpia. Saat aku mencoba memeriksa lebih dalam, ratusan ular berwarna putih dengan jumlah yang sama dengan tikus-tikusku tiba-tiba keluar dari dalam tanah dan memangsa habis mereka semua." Penjelasan Sai membuat Kiba terbelalak.

Bagaimana bisa semua tikus Sai lenyap dalam waktu sesingkat ini?

.

.

.

.


.

.

.

Keberangkatan mereka ditunda akibat perbuatan Sasuke yang menguras habis sedikit tenaga yang tersisa pada Naruto. Sambil menunggu Ino menyelesaikan pemulihan terhadap Naruto, Hinata menggunakan kesempatan ini untuk memuaskan rasa penasaran yang sejak tadi menggerogoti.

Ya, Hinata penasaran melihat dari dekat bagaimana wujud portal yang menghubungkan dunia iblis dan manusia.

Remasan kedua jemari mungil Hinata yang saling bertaut mengerat saat menyadari bagaimana bentuk portal dunia iblis yang di buka Sasuke. Hinata tidak habis pikir, bagaimana bisa sebuah lubang berwarna ungu kehitaman dengan petir hitam yang menyambar-nyambar di dalamnya muncul dari balik langit yang terlihat—err… sobek?

Tak ada rasa takut. Ia sendiri dibuat heran mengapa dirinya tidak merasakan hal normal itu melihat secara nyata bagaimana portal mengerikan yang muncul dengan cara yang juga tak kalah menakutkan. Hinata hanya sedikit—coret—sangat—penasaran.

Gadis mungil ini menyadari bahwa dirinya mempunyai rasa penasaran yang sangat besar akan hal-hal baru. Rasa penasaran yang dimilikinya semakin hari semakin besar, terlebih lagi setelah bertemu Naruto. Seolah Naruto menarik semua rasa penasaran yang tersembunyi dalam diri Hinata keluar. Banyak hal baru yang ingin diketahui Hinata, terutama tentang sosok Naruto. Di dunia seperti apa Naruto berasal? Di tempat yang bagaimana Naruto biasa tidur?—selain di kamar Hinata. Dan, bagaimana interaksi Naruto pada makhluk-makhluk dengan wujud berbeda? Apakah para mahluk itu bisa berbicara sama seperti dirinya dan Naruto atau memiliki bahasa lain?

Hinata sangat penasaran.

Suara petir yang menggelegar keras terdengar untuk kesekian kalinya mengejutkan Hinata. Rasa aneh bercampur takjub dirasakan Hinata melihat tampilan mengerikan yang terpampang tepat di sepasang manik amethyst miliknya. Tanpa Hinata sadari dirinya telah menolerir segala macam hal aneh yang mulai bermunculan di sekitarnya entah sejak kapan.

.

Hinata teringat masa kecilnya, dahulu ia sempat bertanya-tanya; Apa yang ada di balik langit?

Saat itu Hinata membayangkan sebuah tempat indah dan damai, tempat dimana malaikat berwajah ramah nan rupawan tinggal. Saling bersenda gurau di padang bunga yang cantik dengan sungai kecil yang memiliki air jernih mengalir perlahan sambil memainkan beberapa alat music bersama.

Tapi sepertinya khayalan itu harus pupus begitu dihadapkan oleh pemandangan mengerikan yang ada di depan. Tak ada malaikat atau seorangpun yang terlihat melintas di ujung portal. Tak ada juga padang bunga, hanya lahan tandus yang terlihat gersang.

Hinata menghela nafas.

Sepertinya pepatah Hidup tidak seindah yang dibayangkan benar apa adanya.

.

"Kau takut?"

Hinata terlonjak, terkejut suara tak asing tiba-tiba terdengar di dalam kepala. Suara sama yang dikenalinya sewaktu ia berada dalam kukungan rasa sakit akibat ulah Gbahali—Hinata akhirnya mengetahui nama monster yang menculiknya setelah bertanya pada Ino.

"Na-naruto-kun." Hinata melihat Naruto sudah berdiri di belakang entah sejak kapan.

Naruto menatapnya intens dengan bibir tertutup rapat dan wajah yang terlihat serius.

"Belum terlambat untuk membatalkan kepergian dan menjalani kehidupan normalmu, Hime." Suara itu terdengar lagi bersamaan dengan Naruto yang menggenggam kedua tangan Hinata yang saling bertaut. Nadanya terdengar penuh harap.

Hinata tak bisa menahan rona merah yang kembali menodai pipinya, sedikit bersyukur kedua pipinya sudah memerah sedari tadi akibat udara dingin. Hinata menghembuskan nafas perlahan. Mencoba menahan degup jantungnya yang berdetak cepat akibat perlakuan lembut Naruto.

Meski Hinata tidak melihat gerak bibir Naruto tapi Hinata yakin suara itu memang milik Naruto. Sorot mata Naruto yang terlihat seolah ingin membawa pergi dirinya dari tempat ini terlihat sangat jelas.

Sebegitu tidak inginnyakah Naruto bersama dan terikat dengan dirinya? Tanpa sadar Hinata membatin miris.

"Demi seluruh eksistensi yang kupunya!" tukas Naruto dalam kepala Hinata," —well, aku tidak tahu apakah aku tergolong makhluk hidup berhubung aku tidak mempunyai batasan umur untuk mati— tapi percayalah, aku selalu ingin bersama dirimu. Sampai kapanpun! Bahkan setelah kau mati pun keinginan untuk bersamamu akan tetap ada hingga berapa kalipun kau terlahir kembali!" tegas Naruto membuat Hinata tidak bisa lagi menahan rasa panas yang membakar wajah karena pikirannya diketahui Naruto.

Naruto memutar mata, tentu saja Naruto tahu. Dia tengah membuka link pikiran Hinata agar mereka bisa berkomunikasi melalui telepati.

"Dengar Hinata," Naruto terlihat serius. "Kalau kau menyetujui kontrak itu, selain akan terikat selamanya, energy kehidupanmu otomatis terserap untuk memberi makan seorang iblis sebagai bayaran telah terhubung. Kau juga tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk terlahir kembali jika mati kehabisan energy. Jiwamu otomatis akan bersama iblis akibat ikatan tersebut, dan itu artinya kau bukan lagi seorang manusia meskipun wujudmu tidak ubahnya seperti manusia. Kau tidak akan pergi ke nirwana untuk reinkarnasi, dan kau tidak akan pernah bisa mati lagi untuk kedua kali. Kau akan menjadi roh terkutuk tanpa raga, dan kau akan terputus dengan dunia tempat kau dilahirkan, terputus dengan teman-temanmu bahkan dengan keluargamu. Ingatlah Hinata, kau. Masih. Punya. Keluarga." Tekan Naruto pada empat kata terakhir. Tangan yang menggenggam Hinata terasa semakin erat.

Keheningan melanda mereka berdua. Meski sejak awal hanya terdengar Hinata saja yang bersuara tapi keempat iblis di sekitar mereka tahu bahwa Naruto sedang berbicara sesuatu pada Hinata. Hanya Naruto satu-satunya iblis yang mereka ketahui mempunyai kemampuan berbicara dan mengajak seseorang untuk berbagi percakapan melalui pikiran.

Sasuke beranjak dari tempatnya semula, menjauh dengan malas dari tempat mereka berdiri untuk memberi sedikit privasi setelah dipelototi Ino. Shikamaru menguap bosan sedangkan Gaara terlihat santai menikmati hembusan angin dingin lembah.

Hinata memejamkan mata, mencoba meresapi apa yang dikatakan Naruto.

"Pikirkan baik-baik." Naruto berkata kembali dalam kepala Hinata. "Aku tidak ingin kau menyesali keputusanmu nanti."

.

Sejak awal membuat keputusan Hinata sadar dirinya akan menghadapi sesuatu yang beresiko tinggi. Sejak mendengar Naruto menolak keras dengan ketegasan mutlak Hinata semakin yakin kalau resiko yang dihadapinya bukan masalah sepele, mengingat sikap Naruto yang cenderung santai terhadap masalah yang selama ini ia pikir gawat.

Pancaran kemarahan dan ketidak sukaan yang terlihat sewaktu Naruto meminta ia menarik perkataannya sangat jelas. Tidak mengherankan Naruto bersikap sedemikian rupa jika efek yang ditimbulkan mengikat diri dengan sesosok iblis seperti yang telah ia jelaskan.

Mengerikan memang, tidak mempunyai kesempatan lagi untuk bereinkarnasi, juga kemungkinan berubah menjadi segumpalan roh tidak berbentuk tanpa batas waktu karena tak memiliki raga kasar.

Salahkah dirinya jika saat itu yang terpikirkan hanyalah keinginan bersama dengan Naruto? Dan salahkah dirinya jika pemikiran itu masih tetap kuat, tak perduli akan menjadi seperti apa nasibnya nanti?

Terputus dengan dunia tempat dirinya dilahirkan—Well, hingga saat ini Hinata tidak tahu untuk apa dirinya dilahirkan, baginya tidak masalah ia terputus dengan dunia tempatnya dilahirkan sekarang juga mengingat tidak ada hal yang dapat dilakukannya di sini.

Mengenai teman, Hinata mencoba mengingat siapa sajakah nama orang yang pernah menjadi temannya, tetapi tak satupun ia tahu—tentunya selain Naruto. Dirinya memang tidak pernah tahu apa itu yang namanya berteman, hingga Naruto datang menemani sosok kesepiannya kapanpun dan dimanapun ia berada. Sejak kehadiran Naruto, kehidupan sepi yang dijalaninya selama belasan tahun seketika berubah ramai hanya dengan mendengar celotehan maupun keluhan tak jelas yang sering ia lontarkan. Hinata memang tidak begitu suka dengan suasana ramai karena tidak terbiasa. Tetapi bukan berarti ia membencinya, karena Naruto membuatnya nyaman dalam keramaian yang ia ciptakan.

Sementara keluarga, Hinata termangu sejenak—lagi-lagi ia terkejut pada dirinya sendiri. Baru disadarinya bahwa banyak hal tidak ia pahami, termasuk dirinya sendiri. Hinata tidak mengerti apa yang seharusnya ia rasakan ketika bertanya mengenai arti dari kehadiran sebuah keluarga. Hinata hanya mendapati kekosongan hati ketika mengingat wajah Ayah dan adiknya, ini benar-benar mengerikan.

Kami-sama, sebegitu kurangnyakah kesan sebuah keluarga dalam kehidupannya?

Hinata sadar, meskipun dirinya masih bisa dikatakan tinggal dirumah keluarga, tetapi tidak sedikitpun dirinya menemui kehangatan sebuah keluarga. Rasanya kehangatan yang dulu pernah dirasakan sebelum kematian ibunya terasa bagaikan sebuah mimpi. Tidak berbekas sama sekali ketika terbangun di pagi hari.

Dan apakah Hinata akan kembali pada masa itu? Masa-masa dirinya dilanda kesepian dan keputusasaan di tengah kesendirian?

Tentu saja tidak! Hinata tidak akan sudi kembali pada masa-masa itu. Hinata lebih memilih menjalani kehidupan barunya, kehidupan yang penuh dengan hal-hal tak masuk akal dan ketidakpastian bersama dengan Naruto. Hinata tidak perduli meski dirinya akan menempuh banyak bahaya yang akan merugikan kehidupannya di dunia. Hinata akan menempuhnya seberat apapun itu selama masih ada Naruto. Ya, selama ada Naruto disisinya Hinata akan kuat dan bertahan, karena alasan Hinata bertahan hidup selama ini adalah karena Naruto.

Benar…

Itu dia! Untuk itu! Akhirnya Hinata menemukan jawaban untuk pertanyaannya selama ini. Benar, untuk itulah ia menjalani hidup selama ini! Untuk Naruto… untuk bertemu dan berada terus di sisi Naruto…

Hinata menarik nafas dalam, memenuhi paru-parunya oleh oksigen segar yang disajikan pegunungan meski tercampur udara dingin. Perasaannya terasa ringan, Hinata merasa keberadaannya saat ini adalah tepat. Hatinya melambung tiba-tiba oleh rasa syukur pada Kami-sama.

Hinata tersenyum dalam hati.

Nee… Bukan hanya Naruto yang bisa bersyukur karena dirinya dilahirkan menjadi iblis. Hinata pun merasa bersyukur karena dilahirkan menjadi manusia—meskipun sempat mengalami kekosongan jiwa—dirinya bisa bertemu dengan Naruto.

Seulas senyum penuh syukur merekah di kedua sudut bibir Hinata mengiringi keputusannya yang sudah bulat.

"Naruto-kun…" Hinata menampakkan amethyst yang bersinar mantap penuh keteguhan perlahan. Sedikit banyak membuat Naruto terkesima melihat betapa indah pancaran kehidupan yang menyorot langsung ke arahnya, "Terima kasih telah menyetujui keinginan egoisku malam itu." Tanpa diberitahupun Naruto mengerti malam mana yang Hinata maksud.

Naruto diam, dengan sabar menunggu Hinata menyelesaikan perkataannya tanpa memperdulikan tatapan dari empat pasang mata iblis yang sudah pasti mencuri dengar percakapan pelan mereka meskipun jarak diantara mereka semua tidak dalam jarak normal untuk manusia dapat mendengar pembicaraan.

Hinata memantapkan hati, memberanikan diri mengangkat sebelah tangan dan menyentuh wajah Naruto untuk pertama kalinya selama mereka bersama. Membuang jauh-jauh semua rasa malu, Hinata mengusap halus tiga goresan di pipi Naruto yang selalu ingin ia sentuh sejak pertama kali mereka bertemu. Halus, ternyata goresan itu bukan sebuah luka.

"Kali ini, biar aku yang menanggung resiko permintaanku sendiri. Asalkan iblis itu Naruto-kun, aku tidak keberatan sama sekali." Ucap Hinata lembut dengan senyuman termanis yang ia miliki.

Hening.

Kening Hinata mengerut dalam saat Naruto tiba-tiba menunduk hingga surai pirangnya menutupi sebagian mata biru yang menyimpan sejuta pesona.

Apa dirinya salah berbicara?

Di lain tempat Sasuke, Gaara, Shikamaru terdiam tanpa ekspresi meskipun dalam hati mereka mengagumi keberanian gadis yang mereka yakini berhati bersih karena tidak ada sedikitpun energy negative yang memancar dari sosok mungil itu, sementara Ino yang semula terpana oleh kata-kata Hinata perlahan menyungingkan senyum.

Ino bersyukur, akhirnya Naruto berhasil menemukan seseorang yang memikirkan dan menempatkan dirinya menjadi sosok spesial dalam hati. Ino hanya berharap tidak banyak rintangan yang akan mereka lewati mengingat mereka berbeda dunia.

.

.

"Sasuke." Masih dengan menyembuyikan wajah di balik surai pirangnya, Naruto bersuara pelan memecahkan keheningan. Saking pelannya sempat membuat Hinata—yang berada tepat di depan Naruto—mengira dirinya salah dengar ketika Naruto mengeluarkan suara dari mulut. Hal yang wajar mengingat suara Naruto yang didengarnya sejak mereka mengobrol berada di dalam kepala.

Mendengar namanya disebut Sasuke berdiri dari duduk, tanpa berucap apapun dia berjalan kembali ke arah mereka berdua, melewatinya kemudian berhenti tepat di depan portal dunia iblis. Tanpa penjelasan, Sasuke tahu apa yang Naruto maksud. Sasuke membaca sederet mantra yang menyebabkan portal membesar dua kali lipat lalu melemparkan tatapan penuh arti pada Gaara yang mengangguk.

Desiran halus pasir terdengar di sekeliling Naruto dan Hinata. Hinata mengalihkan tatapannya pada pusaran pasir yang tiba-tiba muncul di bawah kakinya, Hinata sedikit panic melihat pasir yang semakin lama semakin banyak dan bergulung naik hendak menutupi dirinya dan Naruto. Hinata benci gelap. Gelap membuat dirinya tidak nyaman dan gelisah.

Kegelisahan Hinata teralih begitu merasakan tangan yang berada di pipi Naruto kini digenggam erat Naruto, selain itu Hinata juga baru menyadari kalau lengan Naruto yang menganggur sejak tadi sudah melingkari di pinggang Hinata.

"Hibur aku."

"Eh?" kening Hinata kembali berkerut dalam, tanda dirinya tidak mengerti apa yang diucapkan Naruto.

"Aku tidak tahu harus senang atau kecewa." Aku Naruto jujur, perlahan dia semakin mempersempit jaraknya dengan Hinata yang masih terlihat kebingungan. "Di satu sisi aku membiarkanmu menempuh bahaya akibat keberadaanku." Jelas Naruto, terselip sedikit amarah dan kekesalan pada suaranya, "Tetapi di lain sisi, aku juga ingin bersamamu apapun yang terjadi. Karena itu…" Naruto mendekap erat tubuh Hinata, mempertemukan kening mereka hingga membuat wajah gadis itu memerah panik karena perlakuannya yang tiba-tiba. "Hibur aku selama perjalanan pulang ke dunia iblis." Tanpa menunggu respon lebih lanjut Naruto mencium bibir mungil yang tersaji di depannya, melumat penuh hasrat seakan itu adalah makanan terenak yang dikecapnya, memeluk erat hingga tubuh Hinata sedikit terangkat seolah ingin melebur menjadi satu tubuh dengan gadisnya—miliknya—hartanya yang paling berharga.

Tak perduli apa yang akan terjadi setelah ini, Naruto tidak takut. Persetan dengan perbedaan dunia mereka, kontrak iblis, kurungan, bahkan hal buruk apapun yang direncanakan Daimaou nanti akan Naruto hadapi. Naruto bersumpah akan selalu bersama dan melindungi gadisnya—Hinatanya meski eksitensi dirinya yang dipertaruhkan.

Hinata terlalu berharga. Lebih berharga dibandingkan dengan ribuan tahun eksistensi yang sudah ia lewati.

Ciuman Naruto secara tidak langsung membuat Hinata sedikit memahami apa yang dirasakan Naruto. Kesepian, kesendirian, dan kehampaan hidup yang sama yang juga mereka rasakan. Namun kesepian tetaplah kesepian, kehampaan tetaplah kehampaan dua keadaan yang tidak memberikan rasa nyaman maupun aman sama sekali. Memang yang Hinata rasakan tidaklah sebanding dengan apa yang Naruto rasakan, meski begitu dalam hati Hinata menyadari dirinya juga menginginkan Naruto tanpa tahu atau bahkan menyadari hal tersebut.

Seringai kecil Naruto tersungging ditengah ciuman panas keduanya begitu mendapati gerakan penuh keraguan dari bibir Hinata yang mulai membalas pangutannya. Apa pesonanya sebagai iblis terlalu kuat untuk ditolak manusia seperti Hinata?

Well, selama hal itu bisa membuat Hinata tetap berada di sisi Naruto, ia sama sekali tidak peduli.

Hinata adalah miliknya, karena iblis seperti Naruto selalu mendapatkan apapun yang mereka incar, terlebih lagi dirinya yang sudah lebih dari sabar menunggu hingga Hinata dewasa.

Iya kan?

.

.

"Baka-Dobe."

"Ano baka."

Ino tertawa kecil mendengar umpatan yang dilontarkan Sasuke dan Shikamaru setelah pasir Gaara membungkus sempurna tubuh Naruto dan Hinata. "Hei, kalian berdua! Jangan sirik melihat kemesraan mereka."

"Aku tidak sirik, si bodoh itu yang tak tahu tempat!" Bantah Shikamaru cepat. Kemudian mendengus. Sirik? Nah, yang benar saja! Gerutunya. Ia bisa mendapatkan lebih daripada ciuman seperti itu kapanpun ia mau dengan Ino.

"Aku cukup senang melihat dia mempunyai kekasih meski… manusia." Sedikit ragu Gaara berkomentar sambil menggiring bola pasirnya masuk ke dalam portal dunia iblis, wajahnya tidak sedatar Sasuke meski tidak menunjukan ekspresi yang berarti.

Sasuke memutar matanya imajinatif yang tertangkap oleh mata Ino.

"Hei Sasuke, kapan kau menyusul? Lihat, Kau keduluan Naruto! Padahal kau yang lebih populer di dunia iblis." Ino menyeletuk usil dan langsung mendapat delikan tajam dari Sasuke.

Tanpa membalas ledekan Ino, Sasuke melesat masuk ke dalam portal disusul oleh Gaara.

"Mendokusai, Ayo pulang Ino." Gerutu Shikamaru sambil menarik tangan kekasihnya dan ikut masuk menyusul ke dalam portal.

"Tidak heran jika Naruto sampai hilang kendali seperti itu." Gumam Ino pelan.

"Ya itu menjelaskan semua tindakan Naruto dari awal." Shikamaru menimpali.

"Semoga tidak terjadi apa-apa pada mereka nanti." Ino menatap sayu bola pasir yang berisi sepasang kekasih.

"Ya semoga…" sahut Shikamaru tak yakin, di kepalanya sudah terbayang beberapa masalah yang akan datang jika terjadi sesuatu pada Hinata.

Dan portal dunia iblis pun seketika menutup bersamaan terhentinya percakapan Ino dan Shikamaru.

.

.

.

.


.

.

Nun jauh di dunia manusia. Tepat di utara salah satu pulau paling ujung di Jepang, portal lain terbuka di kedalaman sebuah danau kecil yang membeku. Dua sosok tampak muncul dari sana, mereka berenang ke atas lalu memecah es tebal yang menutupi permukaan dengan mudah seakan tidak berarti hanya dengan pukulan ringan yang dilayangkan keduanya.

Seolah tidak asing dengan rasa dingin yang mengigit tubuh, kedua sosok itu bergegas berjalan masuk ke dalam kegelapan malam hutan yang dikenal sebagai hutan kematian.

Tanpa peduli bertemu hewan buas, kedua sosok itu terus masuk semakin dalam. Tak ada rasa takut yang dirasakan.

Beberapa puluh menit terlewati, keduanya berhenti di depan pohon terbesar yang dipasangi shimenawa dengan shide yang tertempel di sana-sini.

"Jadi… di sini Nibi di segel." Salah satu dari dua sosok berucap. Kakinya maju beberapa langkah mendekati pohon yang ternyata batangnya di dominasi oleh warna hitam seperti sudah menghisap sesuatu yang buruk hingga berubah warna. "Aku tidak tahu apa rencanamu mengingat kau adalah salah satu dari sedikit iblis kepercayaan Daimaou." Sosok itu berbalik, menghadap tepat di depan sosok lain yang sejak tadi bersamanya.

Angin dingin berhembus menggerakan awan yang sejak tadi menghalangi sinar bulan, memperjelas kedua sosok yang saling berhadapan di tengah kesunyian malam. terlihat dua pemuda berambut panjang yang sama-sama diikat di belakang. Perbedaan mereka terlihat dari warna dan panjang rambut yang dimiliki. Keduanya memiliki paras sama tampan meski yang berambut perak memakai kacamata dan yang berambut hitam memiliki dua gurat garis cekung dekat hidung pada wajah yang terlihat datar.

"Itachi…"

Tanpa menjawab pertanyaan yang ditujukan Itachi berbalik pergi menjauh.

"Jadi benar kau merencanakan sesuatu?" desak Kabuto berusaha memancing emosi Itachi. "Aku anggap ya karena ketiadaan responmu." Seringai Kabuto terbit melihat langkah Itachi terhenti.

Itachi menoleh tanpa membalikan tubuh, menatap sosok menyebalkan yang tengah tersenyum sinis dengan tatapan penuh selidik melalui sudut mata. Tidak ada perubahan ekspresi pada wajah tampan Itachi membuat Kabuto berdecak kesal dalam hati karena tidak bisa membaca pikiran iblis di depannya. Andai saja Kabuto memiliki kemampuan membaca pikiran seperti Daimaou pasti tidak akan sulit menebak apa yang direncanakan Itachi.

Mengapa Itachi mematuhi perintah yang diberikan Tuannya yang notabene berkeinginan menjatuhkan Daimaou yang selalu menghalangi keinginan terbesarnya untuk bangkit? Itachi juga dengan sukarela memberi tahu letak youkai legendaris yang tersegel di dunia manusia. Apapun itu Kabuto tidak akan pernah mau mengakui kesetiaan Itachi pada tuannya. Kabuto harus waspada pada Itachi agar tidak membocorkan rencana besar tuannya pada Daimaou.

"Aku diperintah tidak untuk menjawab pertanyaanmu." Perkataan tanpa intonasi Itachi menyadarkan Kabuto dari pikirannya. "Tugasku hanya mengantarmu ke tempat enam youkai disegel sebelum purnama malam ini selesai. Kau yang paling tahu mengapa dia memberi perintah malam ini juga, Kabuto."

Kabuto terdiam. Benar memang ia diperintah untuk memindahkan segel yang membelenggu enam youkai legendaris yang kabur ke dunia manusia setelah mengalami kekalahan dalam peperangan dahsyat yang melibatkan sembilan youkai terkuat, dan memindahkannya ke sebuah wadah segel lain untuk dibangkitkan nanti.

Mereka harus menyelesaikan pekerjaan ini sebelum bulan purnama berakhir, karena waktu yang tepat memindahkan sebuah segel kuat adalah ketika kekuatan segel itu melemah dan saat itu terjadi hanya terjadi dalam waktu seratus tahun sekali pada saat bulan purnama sempurna terakhir yang bersinar di masa revolusi bumi, yaitu malam ini.

Sambil menggeram Kabuto kembali berbalik ke pohon besar, dia harus cepat, tak ingin menunda rencana Tuannya seratus tahun lagi.

Membentangkan tangan ke depan, sengatan kuat dirasakan Kabuto saat hendak menarik shimenawa dengan lima buah shide menggantung.

Shimenawa dan shide dipasang untuk menahan dan menghalau kekuatan setan ataupun iblis dari dalam maupun luar yang hendak merusak segel. Baru kali ini Itachi melihat kebodohan seorang iblis yang berupaya menyentuh kedua benda suci itu dengan tangan kosong.

"Pintar." Sindir Itachi membuat tawa kecil lolos dari Kabuto.

"Hanya memastikan barang ini asli atau palsu sebelum memotongnya." Elak Kabuto yang terdengar konyol.

"Kita tidak punya waktu untuk bermain-main." Itachi kembali berbalik memutuskan tidak lagi memperdulikan ocehan Kabuto. Ia menjauh, bermaksud untuk membuka portal yang akan menghubungkan mereka ke tempat selanjutnya.

Sebuah lingkaran hitam berukuran tak lebih besar dari lubang masuk gorong-gorong muncul di atas salju setelah Itachi menggumamkan sebait mantra singkat.

"Kita belum selesai di sini! Kau mau melarikan diri?" desis Kabuto tajam.

"Aku menunggumu di tempat berikutnya, ikuti saja hawa iblisku, kau akan menemukanku." Itachi berkata sebelum lompat dan menghilang ke dalam lubang.

.

.

.


.

.

Aula tengah kastil dunia iblis yang besar kini tampak lebih luas. Hal itu dikarenakan tidak adanya goblin penjaga yang biasa berjaga di setiap sudut ruangan. Hanya dua sosok yang terlihat menghuni di sana. Satu sosok duduk di singgasana kebesaran dengan jubah putih menutupi hampir seluruh tubuh, sementara satu sosok lain berdiri tepat di samping kanan.

Tak ada yang membuka pembicaraan. Kedua sosok itu tampak tenang menunggu kedatangan sesuatu.

"Daimaou-sama." Tsunade berucap pelan merasakan sebuah pancaran portal dua dunia yang terbuka. Sedikit terkejut sesaat menyadari sebuah pancaran energy kehidupan kecil manusia yang berputar-putar berhasil menggelitik nafsu makan. "A…astaga... energy kehidupan apa itu."

"Sudah kubilang dia special." Seringai Daimaou tercetak lebar dibalik bayangan tudung jubah. Kedua matanya focus menatap double door raksasa yang menghubungkan lorong dengan ruangan dimana dia berada seiring terdengarnya langkah-langkah kecil mendekat.

Lain Daimaou yang antusias, di sebelahnya Tsunade terlihat tidak fokus. Tubuh iblis pemilik dada besar itu bergetar hebat seolah sedang menahan sesuatu yang akan keluar dari tubuh.

"Tsuna."

Tubuh Tsunade mengejang sesaat mendengar hardikan rendah sang raja. Kedua bola matanya kembali fokus dalam sekejap dan getaran tubuhnya menghilang saat itu juga.

"Kendalikan dirimu."

Tsunade tertunduk mendengar gumaman sarat dengan ancaman tersirat. "Sumanakatta, Daimaou-sama." Ucapnya penuh penyesalan.

Suara deritan pelan pintu tanda seseorang akan masuk terdengar, mengakhiri suasana tegang diantara mereka. Tak lama berselang terlihat beberapa iblis rupawan masuk dengan seorang gadis manusia yang terlihat bersembunyi di balik lengan sesosok pemuda berkulit tan yang mengenggam erat pemilik tangan mungil berkulit putih sang manusia yang bergetar hebat.

Seringai lebar kembali tempampang pada wajah Daimaou.

"Okaeri. Naruto, Hinata." Sapanya mengabaikan pemilik kedua tubuh yang langsung membeku begitu namanya disebut.

.

.

.

.

.

.

.

つづく

.

.

.

Istilah :

Yakimasu! : Bakar!

Sumanakatta : Maaf (bentuk sopan dari gomennasai)

Yami Mori : Rimba gelap

Shimenawa : Tali besar terbuat dari serat rotan yang biasa di temukan di jinja atau di sebuah pohon keramat atau batu keramat di jepang. Biasanya digunakan bersamaan dengan shide.

shide : kertas putih berbentuk zig-zag, biasa digunakan di kuil-kuil atau digunakan bersamaan dengan Shimenawa.

.

.

A/N :

"Review like vitamin C for me. " Jitan88 quote and I feel same with him. Without review I can't get spirit booster. RnR?


本当にありがとうございます。

Hotaru Out.