Chapter 10 : Fear


.

.

.

Ketakutanku hanya satu: kehilanganmu.

.

.


Hyuuga Hinata tidak mengerti apa yang terjadi. Sepenuhnya ia yakin, tengah asik menelusuri susunan detail interior indah sebuah lorong kastil tak berujung yang sedang dilaluinya. Tapi kenapa… kenapa tiba-tiba…

Ia berada di sebuah ruangan berkabut?

.

Kurang pas jika tempat ini dikatakan sebuah ruangan, karena di sini terlalu besar… terlalu luas… dan terlalu… kacau?

Sebagian besar tiang penyangga hancur, dinding juga lantai retak. Dan sebuah kursi mewah dari emas bertahta ratusan permata tergeletak bagai potongan emas tua tidak terpakai…

Ada apa ini?

.

Seratus meter ke depan kabut terlihat menipis. Sesosok pemuda muncul dibaliknya. Siapa dia Hinata tidak dapat melihat jelas karena sebagian tubuhnya kabur tertutup bayangan.

Tubuhnya membungkuk, mirip posisi 'siap' dalam lomba lari. Lapisan tipis emas transparan berwarna mengelilingi hingga mengesankan tubuhnya terkurung.

Pemuda itu diam, meski begitu Hinata merasakan amarah dan kebencian yang memancar kuat di setiap sel tubuhnya.

Mengapa… sosok itu bisa terkurung di sana? bertanya-tanya dalam hati Hinata mendekat.

Langkahnya terhenti menyadari beberapa bayang lain muncul dan menyingkirkan kabut tebal yang berputar disini sedikit demi sedikit.

Ada tujuh bayangan baru, empat diantaranya terbaring menelungkup. Tubuh mereka juga berselimutkan lapisan tipis mirip pemuda sebelumnya namun berukuran lebih kecil. Dan Hinata dapat melihat dengan jelas siapa saja mereka. Cukup mengejutkan karena ia mengenali empat diantara mereka. Tiga sosok yang menelungkup dan satu sosok yang berdiri.

.

Hyuuga Hinata tidak mengenal siapa sosok wanita pirang berkuncir dua yang menelungkup, tetapi ia ingat persis pemuda berambut hitam mencuat di belakang yang mementalkan Naruto beberapa puluh meter dalam sekali tendang.

Sasuke, begitu Ino memanggil pemuda itu.

Sasuke terlihat tenang meski tubuhnya tidak bisa banyak bergerak dengan kedua siku menyangga tubuhnya yang menelungkup. Tak ada kepanikan pada gesture pemuda itu. Hanya saja, wajah yang selalu datar kini sedikit… tercengang?

Seperti tidak bisa menahan keterkejutan. Pandangan Sasuke tertuju lurus ke pemuda dibalik bayangan. Iris merah berhiaskan tiga tomoe hitam mengelilingi pupil —yang mengingatkan Hinata pada mitsudomoe design drum taiko— seperti terpaku permanen.

Iris aneh yang sama yang ditunjukan pemuda itu sewaktu menjatuhkan Naruto tanpa sempat melakukan perlawanan.

Sedikit ke belakang ada Ino yang berupaya bangkit dan menyangga tubuh seperti halnya yang dilakukan Sasuke.

Ino terbatuk kecil, matanya terpejam oleh gulungan tebal debu yang datang berhembus tiba-tiba. Setelahnya menatap bingung begitu aquamarinenya menangkap reaksi tak biasa Sasuke.

Di sebelah Ino, Shikamaru terbaring— dan meringis. Luka di punggungnya terlihat kembali berdarah dan semakin lebar, membuat Ino terhenyak kemudian histeris.

"Shikamaruuu!"

.

Apa yang terjadi?

Di tengah pekikan Ino terdengar letupan lirih. Suaranya mengingatkan Hinata pada buih air mendidih. Tanpa tahu sebab, Suara lemah itu berhasil mengalihkan seluruh atensi Hinata kembali ke pemuda pertama yang sekarang sedang menggeram.

Meski masih diam, Hinata melihat ada yang berubah dari tubuh yang entah bagaimana terasa familiar. Ia tidak tahu penyebab apa yang membuat dadanya bergemuruh tiba-tiba, terlebih setelah menangkap banyak gelembung merah yang merembes keluar dari tubuh tersebut.

Tak membutuhkan waktu lama, pemuda itu tertutup sempurna oleh gelembung yang perlahan membentuk suatu mahluk bertelinga panjang dengan empat ekor.

.

Seberkas sinar bulan masuk melalui celah retakan dinding atas, menerpa beberapa bagian tubuh pemuda yang langsung membuat bulu roma Hinata meremang. Netranya menangkap permukaan kulit yang familiar, beberapa mengelupas lepas kemudian menguap menjadi asap hitam dalam sekejap begitu hendak melewati lapisan luar gelembung yang melapisi tubuh sang pemuda. Gigi atas dan bawahnya berderak keras, sepasang taring memanjang perlahan. Iris merah berpupil kuning vertical terlihat begitu kelopak mata yang sejak tadi terpejam perlahan terbuka. Mata yang menyeramkan, tetapi rasanya tidak asing.

Siapa?

"Lepaskan…"

DEG!

Suara bernada rendah penuh ancaman terucap darinya. Tekanan udara luar biasa rendah meski angin yang berputar berhembus kencang. Hinata berdebar. Bukan karena takut. Melainkan karena hal lain. Suara ini… Hinata tahu suara ini… Hinata mengenal suara siapa ini…

"Apa harus dengan cara seperti ini?"

Suara lain yang lebih tenang membuat Hinata terkejut, terlebih mendapati siapa yang baru saja berbicara. Pemuda berambut merah yang memiliki tattoo nyentrik satu huruf kanji ai di kening— Gaara.

Gaara berdiri tepat disebelah sosok berjubah putih yang menutupi seluruh tubuh, kedua tangannya tampak memboyong sebuah tubuh lemas yang tak lain … dirinya?

Kenapa… kenapa dirinya bisa berada di sana…

DRAK!

"…Hinata!"

Sosok gelap di hadapan mereka menerjang keras, membuat lapisan yang tak lain merupakan kekkai sedikit berguncang. Keributan yang ditimbulkan kembali mengalihkan sisi tanya akan keberadaannya ke pemuda mendebarkan tersebut.

.

Sisi cahaya melebar. Sepertinya waktu yang terasa terhenti ini tetap berjalan sebagaimana mestinya karena pergerakan bulan. Yang menyebabkan sinarnya bergerak lebih luas untuk menerangi tubuh gelap tersebut, dan menampilkan sesosok pemuda pirang berkulit tan yang membuat dirinya terhenyak…

"Tidak…" mata Hinata membulat. Terbelalak karena rasa tidak percaya.

Ya… Hinata mengenal sosok itu…

.

Tubuh Hinata menggigil melihat tubuhnya yang penuh luka. Lapisan kulitnya hampir seluruhnya terkelupas. Bahkan dibeberapa bagian tampak parah, memperlihatkan bagian dalam yang berwarna merah bak daging segar. Hinata tersengal, meski terlihat terluka dia tidak mengurangi sorot tajam pada sosok berjubah, dari ekspresinya dia terlihat sangat marah.

DAAK!

Hinata kembali terbelalak melihat sosok itu menendang keras kekkai yang mengurungnya.

Ingin rasanya Hinata menjerit saat melihat kaki yang dipakai menendang justru yang terluka.

Hentikan!

DUAAK!

Tak berhasil dengan kaki, kepalanya ikut ambil bagian.

Berhenti!

CRAAASH!

Tak menyerah, dia melayangkan cabikan memanjang menggunakan kuku tangan yang telah memanjang dan meruncing.

Cukup!

Terus dan terus… tidak perduli hal yang dilakukannya hanya akan membuat dirinya semakin terluka oleh gelombang balik kekkai.

Hentikan! Tolong! Kau bisa mati!

.

.

Hentikan!

.

.

"Hinata…"

Diabaikannya suara kecil yang memanggil namanya.

.

Tidak!

.

"Hinata…"

Terlalu terpaku pada sosok brutal yang terluka dengan aliran darah semakin membanjiri tubuhnya di sana-sini membuat Hinata bertambah Histeris…

.

TIDAK!

.

.

"HINATA!"

Hinata mengerjap. Panggilan itu datang kembali. Lebih keras. Bersamaan sentakan kecil mengguncang bahu. Menghapus pemandangan mengerikan tersebut dalam sekejap bergantikan wajah serupa dengan air muka berbeda, cemas.

"Na…naruto-kun…"

.

.

.


NARUTO FANFICTION

Angel? No Devil!

Diclaimer : Naruto©Masashi Kishimoto

Angel? No Devil!©Hotaru

Genre : Romance, H/C, Fantasy

Rate : T+

Pairing : Naruto x Hinata

Warning : OOC, MissTypoo(s), Gaje

Bagi yang Anti NaruHina disarankan segera tekan tombol back!

Tidak menerima flame yang tidak bertanggungjawab dan tidak rasional

Sangat terbuka untuk kritik dan saran

Don't Like Don't Read!

.

.

.

.

Deal!

はじめ

.

.


"Katakan padaku, Apa yang kau sembunyikan, Naruto!"

Langkah Naruto terhenti setelah ia mendaratkan kaki di depan sebuah pohon baobab raksasa berpintu. Tuduhan yang dilontarkan Ino membuat keningnya berkerut, kesal. Kemampuan kekasih Shikamaru itu sepertinya sedikit tumpul karena tidak bisa dipakai membaca suasana hati Naruto.

Naruto mendesah dalam diam. Wajar Ino langsung menyemburkan pertanyaan yang sudah berputar sejak awal begitu mereka tiba di kediaman pribadi Naruto di dunia iblis. Tidak, bukan hanya Ino. Naruto merasakan tatapan penasaran serupa dari semua iblis—yang bersikeras mengikutinya—menghujam punggungnya tanpa ampun.

"Setidaknya, biarkan aku meletakan Hinata di dalam." Naruto merespon tanpa menoleh. Terlalu enggan membagi apa yang tidak diketahui mereka.

Naruto sadar, dirinya kembali mengeluarkan jarak seperti yang pernah dilakukannya dahulu. Terlihat dari nada datar yang ditunjukannya. Kali ini dengan alasan berbeda. Bukan karena Naruto tidak peduli, justru karena itulah Naruto kembali menjauh. Ia tidak ingin teman-temannya tenggelam terlalu jauh ke masalah yang ia timbulkan.

Menghiraukan panggilan Ino untuk kesekian kalinya, Naruto melangkah masuk.

Kediamannya masih sama seperti sewaktu ia tinggalkan. Tidak banyak barang di ruang terdepan. Barang terbanyaknya hanya ada di ruangan tempat dirinya beristirahat, itupun hanya sebuah ranjang sempit, nakas kecil dan kursi kayu.

Diletakan dengan lembut tubuh mungil tak sadarkan diri itu ke ranjang, menyelimutinya dengan selimut bersih sebelum menarik satu-satunya kursi kayu dan mendudukan diri menghadap ranjang.

"Hinata…" kesekian kalinya Naruto membuka link telepati ke dalam kepala Hinata, memanggil dan berharap gadisnya sadar dan membalas panggilannya dimanapun jiwanya berada saat ini.

Hinata dihadapannya terlihat terlalu tenang. Ekspresi wajah yang damai mengesankan gadis itu sedang tidur terlelap tanpa mimpi.

Kedua tangan Naruto mengepal erat, menyadari sekarang gadis itu tidak hanya sekedar sedang tidur nyenyak…

.

"Kau bisa saja menghindari mereka, tetapi tidak dariku, Dobe."

Naruto mendengus ke sosok menyebalkan yang sudah bersandar nyaman di pintu kamarnya yang telah tertutup. Pendar biru kehitaman yang terbias di pintu dan seluruh dinding membuatnya memahami sesuatu.

'Sempat-sempatmya memasang kekkai huh?' Naruto membatin Jengkel.

"Brengsek." Mengumpat pelan lebih diperuntukan dirinya sendiri karena melupakan mantan rekan yang satu ini berinsting bagus.

Tanpa Naruto mengeluarkan sepatah kata pun Uchiha prodigy satu ini pasti menyadari kejanggalan pada perubahan sikapnya. Menoleh tanpa minat Naruto menatap sepasang obsidian yang menuntut penjelasan.

"Aku tidak tahu kalau kau sebegitu inginnya ikut 'lenyap' bersamaku. Teme." Seringai sinis muncul mengiringi kalimat sarkastik Naruto. Ekspresi yang ditampilkan tak kalah dingin dengan Sasuke, membuat siapa pun yang baru mengenal Naruto tak akan menyangka iblis ceria yang selalu berisik itu bisa berubah menjadi pendiam dan irit kata.

"Itu kalau aku 'lenyap' idiot." Balas Sasuke tak kalah sarkastik.

"Lihat, siapa yang Idiot di sini sekarang." Sambil menggumamkan nada ironi yang berlebihan, iblis berhelai serupa matahari itu mengalihkan pandangan kembali ke wajah tentram Hinata. Menyembunyikan senyum tipis yang sama yang menghiasi wajah porselen di belakangnya. "Dasar brengsek bilang saja kau terlalu cinta padaku."

"Hn, bukankah sudah kubilang bahwa hanya aku yang tahan dengan ocehanmu." Senang mendapati Naruto yang dikenalinya membuat senyum tipis ikut terulas dibibir tipis sang prodigy, namun sedetik kemudian lenyap, berganti mimik serius dengan tatapan tajam. "Jadi jangan mengelak. Manusia itu… Gadis kecil yang dulu sering kau kunjungi diam-diam, bukan?"

Kedua mata Naruto membulat. Untuk beberapa detik dirinya terkejut dengan pernyataan yang ditanyakan Sasuke.

Senyum Naruto berubah kecut. Sasuke memang tidak bisa diremehkan. Iblis tampan yang identik dengan warna gelap itu menyadari siapa Hinata. Mendesah lelah Naruto beranjak dari kursi beringsut ke ranjang menyusul Hinata, memeluk dan memejamkan mata setelah menyamankan posisinya diranjang sempit itu tanpa menghimpitnya. Iblis tidak mengenal sakit kepala, tetapi Naruto merasakan kepalanya berdenyut pusing. Padahal ia tidak terluka.

"Tanpa kuberitahu pun kau sudah tahu." Menutup lebih erat kedua matanya Naruto berujar malas. Kejadian hari ini membuatnya lelah, meski tubuhnya telah dipulihkan kembali oleh Tsunade tetap tidak menghilangkan rasa letih pada pikirannya.

"Sebegitu menarikkah manusia itu?" Nada ambigu yang terdengar dari balik punggungnya membuat Naruto kembali memperlihatkan kedua bola mata sewarna langit biru musim panasnya, "… terlibat dengan manusia hanya menarik masalah untuk makhluk seperti kita." Meskipun hanya nada datar yang terdengar tanpa emosi, Naruto berhasil menangkap percikan kecil keingintahuan pada pernyataan yang keluarkan Sasuke.

Dalam hati Naruto membenarkan apa yang Sasuke katakan, berhubungan lebih jauh dengan seorang manusia hanya mendatangkan masalah. Sekalipun mereka—Naruto dan Sasuke— termasuk dalam kategori makhluk pendatang masalah namun bagi para iblis itu sendiri justru manusialah yang lebih mendatangkan masalah.

Bagaimana tidak?

Jika iblis merupakan makhluk berdaya tarik menghanyutkan, manusia adalah makhluk berdaya tarik memabukan. Layaknya Narkotika; mencandu dan merusak.

—Candu, karena para manusia dikuasai penuh emosi menggiurkan yang memancarkan energy positive yang membuat para iblis merasa kerasan tinggal berlama-lama di dekat manusia, dan energy negative yang mengenyangkan hasrat mereka. Belum ditambah dengan energy kehidupan yang membuat makhluk iblis sepertinya akan semakin kuat jika mengkonsumsinya.

—Merusak, karena makhluk iblis yang penuh dengan hasrat seperti mereka akan rela berbuat apapun, bahkan mempertaruhkan eksistensi mereka hanya untuk melindung makhluk yang terkenal paling lemah, mudah rusak, dan tidak abadi jika tanpa sengaja tertarik untuk terus memaksakan diri berhubungan dengan mereka.

.

"Sasuke… ingatkah kau dengan ucapanku mengenai arti eksistensi tiada akhir yang kita miliki?" Naruto memecahkan kesunyian yang berlangsung beberapa menit.

Sasuke tak langsung menjawab, teringat pembicaraan ketika mereka berdua sedang duduk duduk bersantai di sebuah bukit tinggi sambil memata-matai target tangkapan mereka beberapa ratus tahun yang lalu.

"Hn." Responnya beberapa detik kemudian.

"Kau akan mengerti jika suatu saat tertarik dengan manusia." Ucap Naruto sambil kembali memejamkan kedua matanya.

Mendengus meremehkan, pemuda berambut gelap itu menjawab segera, "Tidak akan."

Naruto terkekeh kecil.

Ya… tidak akan. Sasuke bukan iblis ceroboh seperti dirinya, tetapi Naruto yakin, andaikan kata hal itu terjadi, Sasuke pasti akan mengerti apa yang saat ini ia rasakan.

Manusia memang penarik masalah, Naruto tidak menampik kenyataan tersebut. Sedikit banyak dirinya sudah menduga sesuatu akan terjadi akibat ulah yang dilakukannya beberapa tahun lalu.

Tanpa sengaja bertemu manusia dan menemui kesulitan untuk menjauhkan diri. Tidak seperti dirinya yang biasa dengan mudah menjauhi manusia lain yang ia temui.

Kurungan, beberapa mantra menyebalkan,hingga segel sempat terpikirkan. Namun, tidak terbayang sedikitpun dalam bayangan terburuknya akan mendapati sesuatu yang lebih mengejutkan dari itu semua.

Ia memang sudah curiga, tetapi ini melebihi dengan apa yang dicurigainya….

Tawa kecil yang terdengar miris meluncur diri bibir Naruto ketika menyusupkan kepalanya lebih dalam ke ceruk leher gadis yang tengah ia peluk. Oh… betapa dirinya sangat menyukai aroma lavender yang menguar dari kulit sewarna susu ini.

Pikiran Naruto kembali melayang dimana mereka semua baru saja tiba hari ini.

"Hinata…" lagi… Naruto mencoba memanggil Gadisnya dari dalam kepala…

Mungkinkah memang gadis itu tidak seharusnya datang ke tempat ini?

.

.


.

.

Malam hari dunia iblis yang mencekam. Pemandangan yang sangat familiar. Ugh—setidaknya bagi penghuni di sini.

Well…—sebenarnya tidak hanya pada malam hari.

Pasalnya, suasana dunia ini tidak selalu tidak mencekam setiap detik— atau dengan kata lain; selalu mencekam di tiap detiknya.

Aura suram, keheningan menyiksa, dan berbagai jenis suara monster terdengar. Semua makhluk itu ada di sini —tentu saja termasuk para iblis.

Tetapi, malam ini ada yang berbeda. Terutama pada kastil besar yang berada di pusat dunia iblis. Kastil putih megah beraksitektur antic nan kuno, berdinding batu raksasa dengan atap berbentuk lancip, dan beberapa menara pertahanan kokoh yang berfungsi mengawasi maupun memata-matai keadaan luar. Kastil yang mirip dengan kastil-kastil kuno di Norwegia ini tampak lebih mencekam bila dibandingkan malam-malam sebelumnya.

Bangunan megah yang merangkap sebagai tempat pengatur kedisiplinan seluruh penghuni dunia iblis—selain tempat tinggal Daimaou tentu sajabiasanya selalu terlihat ramai oleh para goblin penjaga maupun para makhluk lain, namun kali ini terlihat kosong.

Dalam keadaan biasa disini akan terlihat ramai. Pemandangan hilir-mudik bermacam makhluk yang keluar masuk kastil hanya untuk melaporkan kejahatan diluar batas toleransi yang ditetapkan—sehubung makhluk penghuni dunia ini pasti melakukan tindak kejahatan, Daimaou membuat batas toleransi kejahatan agar keseimbangan dan rantai makanan dunia ini tidak terganggu— tidak terhindarkan.

Tak jauh dari gerbang terluar kastil terlihat enam sosok pemuda-pemudi. Lima diantaranya iblis, sedang satu manusia.

Beberapa menit yang lalu mereka baru saja keluar dari portal yang menghubungkan dunia ini dengan dunia manusia.

Keadaan tidak biasa yang mencolok dari kastil langsung disadari semua sosok iblis.

Naruto, mengeratkan tautan jemarinya yang terjalin dengan jemari mungil Hinata. Dirinya yang sudah bersiap merapal mantra penghalau bila ada beberapa makhluk menyerang, kembali mengurungkan niat. Ternyata tanpa perlu susah payah membuka jalan masuk, keadaan sekitar sudah terlebih dahulu steril.

Mudah menebak apa—siapa lebih tepatnya— yang menyebabkan suasana tempat ini bersih; Daimaou.

Hanya dia, satu-satunya iblis yang bisa membuat berbagai macam rutinitas makhluk buas penghuni dunia ini terhenti seketika. Tidak akan ada yang menentang iblis itu. Menentang-nya berarti akhir dari eksistensi tak berujung yang dianugerahkan pada sebagian besar makhluk penghuni dunia ini. Kehilangan kesempatan untuk berbuat kejahatan sesuka hati di dunia iblis? Tidak, terima kasih. Para makhluk disini masih terlalu sayang melepas kesenangan seperti itu.

Kendati demikian, bukan Naruto namanya jika ia merasa takut. Tidak ada yang ia takuti. Termasuk Daimaou. Hanya ialah satu-satunya iblis yang berani menentang dan mengatakan 'tidak' secara terang-terangan pada sang penguasa tertinggi di sini.

Naruto menyadari, betapa besar dan kuatnya kekuatan yang dimiliki Daimaou meski iblis itu tidak pernah menunjukannya secara terang-terangan. Walau demikian Naruto tidak merasa takut jika tiba-tiba saja eksistensi abadinya lenyap tanpa ia sadari. Justru Naruto penasaran, ia sangat menanti kapan hal tersebut akan terjadi. Oleh karena itulah dulu dirinya sering membuat bermacam keonaran.

Well, meski beberapa bulan belakangan pemuda itu meragukan penantian itu lagi.

Ada percikan rasa tidak rela saat memikirkan eksistansi yang lenyap begitu saja. Bukan,—bukan karena pemuda ini takut pada kematian. Menurutnya ada hal yang lebih buruk dibandingkan dengan kematiannya sendiri. Sesuatu yang membuatnya gelisah, sesuatu yang membuatnya merasa tidak akan sanggup menghadapinya jika hal itu terjadi.

Ada suatu hal yang membuatnya harus mengakui bahwa pada akhirnya ia mengenal bagaimana rasanya rasa takut itu.

Pemuda blonde itu meremas pelan jemari halus Hinata, berusaha meyakinkan diri akan keberadaan gadis itu disisinya meski terlihat jelas tubuh mungil yang berdiri di dekatnya. Sungguh, Naruto takut jikalau dirinya tidak bisa melindungi gadis yang tengah ia genggam. Tanpa Naruto sadari, dirinya selalu mengigil ketika membayangkan tubuh mungil Hinata meregang nyawa tepat di kedua matanya.

Jauh… akan jauh lebih baik jika dirinya yang terbunuh lebih dulu setelah memastikan gadis itu berada dalam keadaan aman. Ia tidak sanggup menghadapi hal mengerikan tersebut; kehilangan sosok Hinata.

Naruto tidak mengetahui bagaimana dan sejak kapan perasaan itu muncul. Yang pemuda pirang ini ketahui hanyalah perasaan itu bertambah kian hari. Dan semakin kuat semenjak kegagalannya dalam melindungi manusia yang selalu ada di sampingnya sejak beberapa bulan terakhir.

"Waaah…."

Gumaman halus yang terdengar menyingkirkan segera bayangan buruk yang baru saja mulai bermunculan di kepala Naruto. Tatapannya meneduh melihat makhluk lemah disisinya yang sialnya begitu berarti.

Hinata…

.

Berbanding terbalik dengan yang Naruto dirasakan, gadis cantik bertubuh mungil itu justru terlihat antusias. Matanya berbinar cerah tanpa ternoda rasa takut sedikitpun menyapu pandangan ke sekeliling, menjelajah dunia baru yang didatangi sejauh kedua amethystnya bisa bergulir.

Saking bersemangatnya, gadis berponi rata itu tak menyadari gesture waspada Naruto maupun bahaya yang akan mereka hadapi.

Pemandangan kastil megah di tanah tandus sepanjang mata memandang begitu menghipnotis hati dan pikiran Hinata. Terlalu hanyut, sehingga tanpa sadar melupakan rona merah yang sedikit menodai wajahnya yang manis akibat adegan semi panas yang baru saja mereka lakukan beberapa detik lalu.

Pandangannya menyapu setiap jengkal tanah retak sekitar kastil yang ditumbuhi deretan pohon kering berbatang hitam aneh dengan jarak satu pohon dengan pohon lainnya semakin jauh.

Di kejauhan tanah kering perlahan melebur bergradasi menjadi padang pasir di ujung sana. Seperti dilukis seorang maestro yang terbentuk alami oleh alam.

Menyadari keadaan yang terang meski langit sangat gelap membuat Hinata menoleh ke sumber cahaya. Matanya pun kembali berbinar begitu atensinya tertumbuk melihat bulan purnama sempurna yang berukuran sangat besar, lebih besar beberapa kali lipat dari yang pernah dilihatnya seumur hidup. Ini meperti menonton live fenomena supermoon dari setengah jarak bulan ke bumi. Hinata tidak tahu harus mengatakan apa untuk mengungkapkan indahnya pemandangan malam hari dunia ini.

Satu tangannya yang bebas tanpa sadar terangkat, seolah terundang agar menjangkau purnama raksasa dunia iblis yang tersaji begitu menawan.

Naruto tertawa geli.

Hatinya menghangat melihat betapa hidupnya ekspresi Hinata, sulit dipercaya bahwa dia gadis yang sama dengan gadis suram yang menunggu dewa kematian yang ditemuinya beberapa bulan lalu. Sedikit lega. Gadis kecil polosnya dahulu telah kembali.

Sudah terlalu lama Naruto menunggu saat-saat seperti ini. Dimana ia merasa lebih hidup. Penantian dan rasa sabar menunggu gadis kecilnya untuk bermetamorfosis dahulu terbayar sudah. Kini ia bebas berjalan bersama sambil bergandengan tangan kemudian mengukir banyak kenangan tanpa harus menghapus memorinya setiap dirinya akan pergi.

Tidak… Naruto tidak akan membiarkan semua ini terenggut. Ia akan melawan dan menghabisi siapapun yang berusaha mengambil satu-satu kehidupannya; Hinata. Meskipun itu Daimaou.

.

Sasuke melirik penuh arti Naruto yang merespon dengan anggukan kecil.

"Ayo jalan, Hime." Bisikan pelan disertai ayunan lembut dikedua tangan mereka yang bertaut mengakhiri acara 'mengagumi ' yang Hinata dilakukan.

Sasuke berjalan paling depan, terus melewati jeruji besi raksasa— gerbang kastil— yang sudah terangkat penuh ke atas.

Gaara menyusul, di belakang Ino mengikuti sambil memapah Shikamaru sementara Naruto menuntun Hinata di belakang mereka.

Semakin masuk ke dalam, lagi-lagi Hinata tidak bisa menahan antusiasmenya melihat betapa luas halaman kastil.

Dalam hati gadis itu mengerang keras—sadar tingkahnya ini sangat kampungan dan norak, seperti seseorang dari pedalaman terpencil yang tidak pernah melihat sesuatu yang sangat mewah, besar, meskipun sedari kecil dirinya terbiasa tinggal di rumah yang juga termasuk dalam kategori wah—tetapi ini melebihi ekspentasi yang ia bayangkan. Pemandangan langka yang tak pernah dilihatnya begitu mendorong rasa penasarannya ke titik maksimal hingga dirinya tak ingin ambil pusing jikalau suatu saat nanti salah satu dari mereka mengungkit dan mengolok sikapnya hari ini.

Benar, itu bisa Hinata pikirkan nanti.

Kami-sama, bagaimana bisa kastil kuno nan suram ini terlihat begitu indah sekaligus menakutkan disaat yang bersamaan? Pekik gadis itu dalam hati, diam-diam penasaran mana yang lebih luas, kastil ini atau Versailles.

Tak disangka, nuansa halaman kastil begitu hijau. Pepohonan rindang nan lebat tumbuh, beberapa tumbuhan lain yang dibentuk sedemikian rupa, juga hamparan bunga cantik yang berderet rapi.

Terkesan nyaman dan sejuk, sangat kontras dengan pemandangan luar kastil yang gersang dan tandus. Kembali Hinata bertanya, mengapa hal ini bisa terjadi?

.

Lepas dari halaman mereka sampai di teras istana yang elegan.

Ino mengernyit mendapati karpet merah tergelar di sepanjang jalan menuju lorong yang tidak terlihat jelas ujungnya. Kernyitan dahi Ino semakin dalam begitu menyadari bahwa karpet merah dibawahnya tidak terhenti sampai sana. Sepertinya iblis wanita itu bisa menebak dimana karpet ini berakhir.

"Sambutan yang mewah." Shikamaru berkomentar dengan suara yang hanya bisa di dengar oleh para iblis. Berusaha menahan tawa supaya tak menarik perhatian satu-satunya manusia antusias yang melihat ornament-ornament kuno yang tertata apik di ceruk dinding batu sepanjang jalan.

Naruto sendiri mendengus antara geli memperhatikan tingkah Hinata yang jauh dari kata takut sejak menginjakkan kaki di dunia iblis dan geram—tak menyukai apa yang tersaji. Pasti ada sesuatu yang iblis itu inginkan hingga menyambut mereka dengan kemewahan sia-sia seperti ini.

Memilih mengabaikan perasaan tidak enaknya, Naruto beralih kembali ke Hinata.

"Kalau jalan lihat ke depan, Hime." Telapak tangannya yang bebas menangkup pucuk kepala Hinata yang sejak tadi tidak bisa diam— mendongak ke sana-sini dan meluruskan ke depan. Naruto menyeringai kelakuannya disambut gembungan kedua pipi chabi yang merona. "Aku akan mengajakmu tour keliling dunia ini Hime, tenang saja." Tawar Naruto setengah menggoda menusuk kempes pipi gembung sebelah kanan Hinata jahil. Gadis yang semula cemberut itu langsung sumringah menatap Naruto yang langsung menampilkan wajah berpikir serius. Tentu saja itu pura-pura, "Tapi tidak gratis." Lanjutnya kembali, menyebabkan bibir mungil Hinata mengerucut lucu. Sebelah mata Naruto terbuka, mengintip ekspresi Hinata yang membuang muka, merajuk.

Memang lebih menyenangkan menggoda gadis itu dibandingkan memikirkan hal merepotkan yang otot-otot tubuhnya tegang. Merasa percuma berandai-andai, Naruto tidak ingin menambah beban pikiran.

.

.

Langkah Naruto terhenti merasakan lengan mungil yang ia genggam tak lagi mengikuti langkahnya. Hinata berhenti, padahal pintu aula utama sudah terlihat di depan mata.

Apa perjalanan terlalu jauh hingga Hinata lelah?

"Hinata?" panggilnya pelan.

Kening pemuda iblis itu mengerut mendapati tubuh gadisnya diam tidak merespon. Berdiri di depan Hinata, Naruto memicingkan mata meneliti.

Rasa cemas perlahan merayap begitu Naruto menyadari sinar amethyst sang gadis meredup dengan tatapan kosong. Matanya mengingatkan pemuda berambut jabrik itu akan malam dimana Hinata menjerit histeris memanggil namanya sambil menangis dalam keadaan tidur.

Naruto mencoba memanggil kembali beberapa kali namun tetap tidak ada reaksi. Hinata diam bagai orang yang tertidur dengan mata terbuka. Dia… seperti sedang mengalami transisi tapi apa? Hinata adalah manusia biasa, dia tidak memiliki kekuatan tertentu seperti makhluk-makhluk sejenis dirinya maupun penghuni dunia ini.

"Ada apa Naruto?" melihat Naruto yang tertinggal di belakang, Ino bertanya heran. Iblis berponytail itu berbalik meninggalkan Shikamaru sementara untuk menghampiri mereka.

"Entahlah…" Pemuda itu menjawab tidak yakin tanpa mengalihkan pandangan begitu Ino berada tepat disamping. Tangannya sibuk mengibas di wajah Hinata, berharap gadisnya sadar. "Hime… astaga… apa yang sebenarnya terja—" Naruto tercekat, airmata Hinata tiba-tiba mengalir membelah wajah manisnya melalui kedua pipi.

"HINATA!" Naruto mengeraskan panggilan dan menyentak bahu kiri Hinata. Berharap cara ini berhasil karena sebe—

Hinata mengerjap.

—nah, berhasil kan.

"Na…naruto-kun…"

"Hinata! Astaga, ada apa? Kau kenapa?" Naruto panik dan langsung memberondong pertanyaan sekaligus.

Hinata mencengkram lengan Naruto erat hingga kukunya terasa di kulit Naruto. Tidak sakit, justru ia mengkhawatirkan buku-buku jemari gadisnya terluka.

"A-aku… ti-tidak… ta… tadi itu… apa…?" Hinata tercekat, berucap terbata dengan suara mengecil di akhir. Gadis itu seperti ingin berkata tapi tertahan oleh sesuatu yang mengganjal ditenggorokan, dadanya naik turun cepat, nafas tersenggal dan isakan kecil mulai lolos.

Tangan—tidak— seluruh tubuh Hinata bergetar halus, seperti ketakutan di mata Naruto. Kedua amethystnya terus bergerak gelisah memandangnya, teman-temannya— yang ikut berhenti memperhatikan keduanya— dan sesuatu di belakang sana. Entah apa…

Naruto terheran-heran menatap Hinata.

Apa yang terjadi? Beberapa menit yang lalu Hinata masih terlihat biasa, lalu kenapa tiba-tiba ia berubah ketakutan seperti ini?

Naruto menangkup pipi Hinata ketika gadis itu tiba-tiba terkesirap kecil dengan mata melebar. Ia maju lebih dekat menutup akses pandang Hinata, mendekatkan wajah dan menatap lekat manik lavender Hinata agar fokus gadis itu hanya tertuju padanya.

Tubuh Hinata kembali menegang, hanya sesaat sebelum perlahan mencair. Entah apa yang ada di kepala gadis itu. Ingin rasanya Naruto membaca langsung memorinya tapi ia menahan diri. Tidak— Hinata tidak boleh pingsan saat ini, chakra kecil yang ikut terambil ketika Naruto membaca pikiran bisa membuatnya tak sadarkan diri. Dan itu tidak bagus.

"Shhh… daijoubu… bujidattebayo." Pandangan Naruto melembut begitu berhasil menarik fokus gadisnya, ibu jarinya menghapus aliran air mata dan mengusap perlahan pipi Hinata dengan gerakan memutar. Berusaha menegaskan bahwa dirinya baik-baik saja dan tidak ada hal yang perlu ditakuti.

Hinata menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Sapphire indah yang terus ditatapnya sedikit membantu menenangkan diri.

"Na-naruto-kun…" Naruto diam menunggu dengan sabar kelanjutan perkataan Hinata, manik indahnya kembali bergulir ke belakang punggung Naruto dan cengkraman jemari Hinata semakin kuat, "Pi-pintu..." lanjut Hinata terbata, "Jangan masuk ke dalam pintu itu."

Kelima iblis refleks menoleh ke satu-satunya pintu yang mereka tuju sebelum saling melempar pandang tidak mengerti.

Genggaman Hinata mengerat, gesture tubuhnya terlihat seperti ingin segera meninggalkan tempat ini

"Kita tidak bisa pergi sebelum menemui Daimaou." Seolah mengerti kegelisahan Hinata, Sasuke berjalan mendekat. "Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Tetapi kau bisa kemana saja yang kau mau jika Daimaou membebaskan kalian." Sambungnya membuat tubuh Hinata semakin gemetar.

"Sasuke." Naruto menghardik. Tidak suka Sasuke semakin mengintimidasi Hinata.

.

"Orang itu akan melukaimu."

Satu alis Naruto terangkat tak mengerti mendengar alasan yang diutarakan Hinata setelah beberapa kali menolak bujuk rayunya dengan gelengan kepala.

"Orang itu?"

Naruto kembali menghela nafas ketika mendapat gelengan kepala Hinata, lagi.

.

Saat ini Naruto berupaya mencari tahu yang terjadi pada Hinata. Gadis itu mengatakan dirinya tiba-tiba melihat kilasan sebuah kejadian. Berulang kali Naruto bertanya apa yang dilihatnya, namun hanya gelengan kecil yang didapatkan.

"Dengar Hinata, Aku akan baik-baik saja. Kita akan masuk bersama mereka." Naruto mengarahkan ibu jarinya ke balik punggung, mulai tak sabar.

Mengikuti arah ditunjukan Naruto membuat Hinata mengingat lagi kejadian aneh yang dilihatnya beberapa saat lalu. Wajah Hinata kembali memucat menatap Ino, Shikamaru, Sasuke… "Mereka juga akan terluka." gumamnya tanpa sadar membuat Hinata terkesirap menyadari perkataan barusan terdengar aneh baginya sendiri. "A-ano aku… ma-maksudku… en-entahlah, rasanya seperti itu…d-dan juga… dan juga…" tidak tahu harus berkata apa lagi suara Hinata mengecil dan akhirnya diam. Namun matanya menatap seseorang di belakang, tak lama dan langsung membuang muka gugup. Entah kenapa.

Kali ini kerutan dalam di dahi tidak hanya mampir pada Naruto, hampir semua iblis di sana melakukan hal yang sama. terkecuali Sasuke, yang terus mengawasi interaksi mereka berdua —terutama Hinata dalam diam. Gadis itu terlihat sangat gelisah, kedua alisnya hampir menyatu mirip seorang yang tengah berpikir keras. Kedua matanya beberapa kali kedapatan Sasuke mencuri pandang ke Gaara dengan sorot tak terbaca. Sepertinya Hinata ingin mengatakan sesuatu pada Naruto tetapi tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Dari gelagat, gadis yang terlampau kikuk itu tidak sedang mencoba untuk berbohong.

Naruto menoleh sejenak memandang empat iblis di belakang, terdiam saat pandangannya bersimborok dengan Sasuke yang menggeleng kepala sekali.

"Oleh orang itu?" Naruto kembali bertanya. Senyum kecil terulas begitu mendapatkan anggukan kepala gadis yang terlihat berusaha menahan airmatanya turun. "Kau mengenalnya?"

Gelengan kembali didapat Naruto.

"Seperti apa wajah, tubuh atau pakaian orang itu?" tak menyerah pemuda pirang itu terus bertanya.

"Tidak terlihat—" Helaan nafas panjang Naruto tercekat di tengah begitu mendengar kelanjutan kalimat Hinata, "—wajah dan seluruh tubuhnya tidak terlihat karena ditutupi jubah besar berwarna putih."

.

Hening.

Bukan hanya Naruto, —Ino, Shikamaru, Gaara dan Sasuke pun terkejut. Ya, tentu mereka semua tahu siapa orang yang dimaksud Hinata.

Yang menjadi pertanyaan adalah…

Bagaimana bisa Hinata mengetahui penampilan orang yang akan mereka temui nanti?

.

"Mau tak mau kau, dia dan semua yang di sini harus masuk." Sasuke membuka suara memecahkan keheningan pertama kali membuat semua perhatian beralih padanya, termasuk Hinata. "Karena orang itu yang memberi perintah untuk membawamu."

Tubuh Hinata kembali menegang.

"Tenanglah Hime… " Naruto mengusap airmata gadisnya yang tanpa sadar kembali mengalir. Gadis yang sibuk bergumam 'Kami-sama… nyata... Orang itu nyata….' membuatnya menyadari sesuatu.

Sama… Keadaan Hinata malam itu dan beberapa menit yang lalu sama… bahkan reaksinyapun sama. Kilasan bayangan… sepertinya ini bukanlah suatu kebetulan.

"Kau akan baik-baik saja… Aku akan melindungimu. Tenang Saja!" Naruto menepuk-nepuk pelan puncak kepala Hinata sebelum menariknya untuk berjalan kembali. Mau tidak mau, Hinata mengikuti meski melangkah setengah hati.

"Aku bersumpah..." Naruto berkata sangat lirih lebih ditujukan dirinya sendiri yang tanpa sengaja terdengar Hinata.

.


.

.

"Kalian berdua tidak usah tegang begitu. Aku tidak akan menyakiti kalian." Ujar Daimaou—sebutan yang diucapkan Ino, Shikamaru dan Sasuke pada sosok yang membuat Hyuuga Hinata langsung bergetar sejak memasuki aula kerajaan yang sangat luas.

Suaranya tidak menakutkan tetapi terdengar begitu jauh ditelinga karena gadis Hyuuga itu terlalu tenggelam dalam ketakutan.

"Apa maumu?" Tidak berniat basa-basi Naruto mendesis geram. Tidak seperti tiga iblis lain yang langsung berlutut dan mengucapkan salam, Pemuda yang memiliki tiga pasang garis dipipinya tetap berdiri kokoh mendampingi Hinata.

"Jaga mulutmu Naruto!" Tukas iblis cantik di sebelah Daimaou.

"Apa peduliku?"

"NARU—"

"Tsunade." Hardikan rendah yang terdengar langsung membungkam perdebatan yang akan dimulai. "Kau membuat tamuku semakin takut." Ucapnya kembali dengan nada biasa tanpa menyadari bahwa hardikannya justru membuat Hinata semakin takut hingga airmata kembali mengalir tanpa bisa ditahan.

"Maaf."

Naruto berdecih. Mengumpat dalam hati pada tekanan kekuatan besar yang Daimaou keluarkan melalui satu kata yang terucap. Lengan kokoh Naruto melingkari erat tubuh mungil disampingnya, berusaha mengurangi rasa takut juga menegaskan ia akan melindungi gadis itu.

Memang jauh… perbedaan kekuatan mereka sangat jauh.

.

"Tidak masalah." Perkataan datar tiba-tiba dari seorang iblis yang sempat terlupakan kehadirannya membuat Naruto tersentak.

Bukan hanya Naruto, Sasuke mengalami keterkejutan serupa meski tidak menampakan, kesamaan perasaan yang dirasakan membuat keduanya saling melempar pandangan tanya sebelum menoleh pada sosok yang ternyata tetap berdiri seperti Naruto dan Hinata.

Apa? Percakapan apa yang terlewatkan oleh mereka?

"Aku sungguh berterima kasih, meski salah satu tempat kebanggaanku hancur berantakan." Sahut Daimaou mengejutkan, suara yang terdengar ringan bak bertemu kawan lama membuat Naruto dan Sasuke kembali bertukar pandang.

"Saat itu darurat."

"Aku mengerti."

"Apa yang sebenarnya terjadi di sini?" Tak bisa menahan rasa penasaran dengan berdiam diri Naruto menyela pembicaraan keduanya.

Bisa dipahami apa yang dirasakan Naruto. Bagaimana bisa seorang tahanan yang kabur dapat bicara tenang dihadapan Daimaou tanpa rasa takut ataupun bersalah. Selain itu sikap yang ditunjukan Daimaou pun terasa aneh.

"Tidak ada, hanya—"

"Jangan sakiti Naruto-kun, Jangan sakiti Naruto-kun."

Lirihan kecil Hinata membuat perkataan Daimaou terhenti. Perhatiannya kembali pada sosok satu-satunya manusia yang begitu erat membalas dekapan Naruto. Terlihat jelas tubuhnya bergetar dengan pandangan kosong.

Set!

Naruto membeku.

Daimaou bergerak dan tiba-tiba berada di hadapan mereka, mengelus perlahan helaian indigo Hinata sambil berucap. "Tenang saja, Naruto akan baik-baik saja. Aku jamin itu."

Tubuh Naruto belum bereaksi, ia sangat terkejut. Bagaimana bisa Naruto tidak menyadari pergerakan Daimaou? Tak terlihat Naruto melonggarkan kewaspadaan sejak berhadapan dengan iblis penguasa di hadapannya itu, sebelum ini pun Naruto selalu bisa menyadari pergerakan iblis ini. Tapi kenapa sekarang...

Jangan-jangan…

PLAK!

Suara tangan tertepis terdengar bergema.

"Naruto! Jaga sikapmu!" bentak Tsunade melihat apa yang dilakukan Naruto.

"Jangan sentuh Hinata!" Naruto ikut membentak tak kalah keras dari Tsunade, hanya saja ditujukan pada makhluk berjubah di hadapannya.

"NARU—"

"Cukup!" mengangkat sebelah tangan kirinya Daimaou menengahi, lagi. Minus dengan nada rendah seperti sebelumnya. "Aku baik-baik saja Tsuna."

"Ha-Hai." Ucapnya setengah tidak rela.

"Kau… Sialan… kehadiranmu selama ini…" Sapphirenya menyalang dengan gigi berderak keras, Naruto mundur beberapa langkah mendekap Hinata sambil menggeram.

"Itu dibutuhkan."

"Kusotare…" Naruto memaki geram menyadari dirinya selama ini dipermainkan. Iblis di depannya benar-benar mengesalkan. Menyembunyikan kekuatan sebenarnya bahkan ketika menghadapi Naruto dahulu. Naruto merasa benar-benar ia lebih menyukai kalah dengan kekuatan yang sebenarnya daripada tetap kalah namun dengan kekuatan yang ditahan.

"Yang lebih penting saat ini adalah—"

.

"Gadis ini."

Naruto kembali tersentak menyadari Hinata telah hilang dari dekapannya dan sudah berada pada Daimaou yang entah kapan sudah berdiri di depan singgasananya.

"APA YANG KAU MAU!"

Teriakan Naruto yang membahana menyadarkan Hinata. Meski keras tapi suara itu terdengar dari sisi lain. Hinata menoleh dan baru menyadari dirinya telah berpindah posisi dalam kukungan Daimaou.

"Ti-tidak!" Hinata melepaskan dekapannya dan berontak, berusaha melepas lengan Daimaou yang melingkari pinggangnya. "Lepas!" pekiknya tidak suka. "Na-naruto-kun!" tangannya menjulur pada Naruto meminta bantuan.

『風のナイフ』

Naruto merapal mantra, mengubah angin di sekitarnya berhembus kencang menuju Daimaou membentuk tebasan-tebasan kecil tajam.

ZRET ZRET ZRET KRAK

Anginnya meleset—Daimaou sudah terlebih dahulu menghindar beberapa centi dari arah tiupannya dan menebas singgasana mewah dibelakangnya beberapa kali hingga roboh.

"Tebasan bagus." Komentar Daimaou menatap sejenak Singgasananya yang telah menjadi puing. "…daga, mada mada…"

BLAARRR

.

Tak ada satupun makhluk yang ingin mendekat. Awan hitam tiba-tiba muncul di atas kastil. Belum lagi pancaran chakra merah yang menjulang menembus awan hitam tersebut tepat di tengah membuat para monster memutuskan hal yang bijak, menjauh.

Sudah menjadi hukum alam tidak tertulis. Mereka yang lemah lebih baik menjauhi mereka yang kuat.

Namun itu tidak berlaku untuk dua sosok iblis yang tetap berdiri tak jauh dari sumber ledakan chakra.

Tak gentar, kedua sosok itu memandang sosok iblis kuat yang menatap tajam salah satu dari mereka. Tepatnya ke sosok yang sudah merebut miliknya yang berharga.

Dia terus menggeram, tubuhnya perlahan berbalut gelembung chakra merah yang lain. Dia tampak tidak bisa berbuat apapun karena gerakannya dibatasi kekkai kokoh keemasan yang tiba-tiba saja sudah terpasang.

"Lepaskan Hinata."

Suara berat itu menyadarkan keterpakuan Sasuke dari chakra tak biasa Naruto. Otomatis ia mengaktifkan sharingan di detik yang sama dengan ledakan chakra. Tidak mengherankan sekarang mengingat tempat yang dikunjunginya ketika menjemput Naruto terlihat mengenaskan.

Mengesankan.

Menyadari tubuhnya tidak bisa digerakan karena sebuah kekkai yang ia yakini dipasang Daimaou membuatnya memutuskan untuk menonton dan mengawasi keadaan sementara meski pemuda itu yakin dapat meloloskan diri untuk mengikuti instingnya menghindar sesegera mungkin dari bahaya. Kekkai ini tampak cukup kuat melindunginya dari chakra Naruto yang membakar udara di sekitar mereka.

"Shikamaruuu!"

Mata merah Sasuke melirik sekilas dimana jeritan Ino terdengar. Tanpa sadar seulas senyum miris terukir di satu sudut bibir membayangkan nasibnya akan serupa Shikamaru jika ia yang bersinggungan langsung dengan chakra aneh yang menguar dari tubuh Naruto, Karena tubuh Naruto sendiri tampak tidak mampu menahan efek dahsyat kekuatannya.

.

"Lepaskan…. "

Aura berat yang memancar dari Naruto semakin menekan.

"Apa harus dengan cara seperti ini?" itu bukanlah sebuah pertanyaan, melainkan pernyataan lirih yang diucapkan Gaara. Melihat keadaan Naruto membuatnya kembali bersuara.

"Hinata!"

"Hanya empat?" tak menanggapi Gaara, Daimaou justru berucap muram penuh kekecewaan melihat jumlah ekor yang terbentuk dari chakra merah Naruto. Matanya terpaku mengawasi Naruto sementara tubuhnya membungkuk sedikit untuk meraih tubuh terkulai Hinata yang kehilangan kesadaran akibat tekanan chakra.

"Tidak bisa langsung." Gaara melirik penuh arti Daimaou. Tidak dapat menebak apa yang ada dipikiran sang youkai. "Terlebih lagi setelah perubahan itu. Seperti ini saja sudah jauh lebih bagus daripada beberapa saat yang lalu." Jade teduhnya bergulir melihat bagaimana keempat iblis lain terpuruk kekkai pelumpuh yang berfungsi untuk melindungi sekaligus mencegah mereka bertindak sesuatu. "Kupikir, kau harus melakukan sesuatu pada iblis berambut nanas itu." Tambahnya begitu melihat keadaan luka bakar punggung Shikamaru yang semakin melebar.

Daimaou mengalihkan tatapannya sejenak dari sosok Naruto yang terus menggeram dan menatapnya tajam.

"Hal itu akan aku urus nanti." Berujar tenang tatapannya kembali beralih pada Naruto yang masih terkurung beberapa detik sebelum akhirnya menatap tubuh mungil yang ada di dekapannya. "Aku penasaran..." sambil bergumam pelan sang raja iblis menurunkan tubuh yang berada padanya ke lantai. Menyibak helaian halus Indigo Hinata perlahan dan tersenyum sangat tipis melihat sebuah symbol kumparan berwarna merah tepat dibalik daun telinga sebelah kiri.

Melihat apa yang akan dilakukan sang penguasa membuat Naruto mendelik berbahaya, "JANGAN SENTUH HINATA!" Bentaknya dengan suara semakin rendah.

Naruto bergerak kasar. Ia menendang, menghantam dan mencakar dinding kekkai yang semakin kokoh seiring dengan besarnya chakra yang di keluarkan.

"LEPASKAN KEKKAI INI! SIALAN! SIALAAN!" raungnya kesal.

"Kau tidak bisa melakukan hal itu." Gaara menatap tajam Daimaou yang semakin lama merendahkan kepala pada ceruk leher Hinata yang terekspos. "Ruangan ini bisa han—"

Kress

Semua mata terbelalak. Serempak mereka yang ada disana menoleh ke asal suara. Mereka tahu persis suara apa itu. Suara dimana seorang iblis mengigit kemudian menghisap sedikit darah sebagai ritual awal pengikatan kontrak.

Apa yang terjadi? Bukankah yang harus mengikat kontrak dengan Hinata adalah Naruto, bukannya Daimaou?

"Arghh… Nggh…" erangan kesakitan meluncur dari Hinata dalam ketidaksadaran. Tubuhnya menggeliat gelisah tanpa bisa melawan kukungan lengan kokoh Daimaou.

Deg, deg!

Deg, deg!

"Nghh… Na-naru…to-kun."

DEG!

"HINATA!"

.

Ledakan chakra merah yang dahsyat kembali terjadi. Lebih besar beberapa kali lipat dari yang Shikamaru dan Ino ketahui. Dan lebih besar puluhan kali lipat dari yang yang diketahui Sasuke.

Perpaduan antara chakra, hawa dan aura iblis yang sama besarnya keluar begitu saja dari tubuh Naruto bagai keran air yang dibiarkan terbuka tanpa takut kehabisan air.

Titik tomoe milik Sasuke langsung berputar cepat hingga membentuk bintang segi enam. Tubuhnya tidak lagi setenang awal, tubuhnya bergetar gelisah sambil terus mengamati pergerakan chakra besar yang keluar tidak terkendali dari tubuh Naruto.

DUAAK!

Suara hantaman demi hantaman terdengar semakin keras. Naruto menghantam dinding kekkai dengan tubuhnya dengan keras hingga bergetar akibat benturan yang sangat keras.

.

"Akhirnya dia kehilangan kesadarannya lagi." Keluhan terdengar dari mulut Gaara di tengah situasi tegang yang terjadi. Masih dengan ketenangan yang membuat para iblis lainnya bertanya-tanya darimana datangnya ketenangan yang ditunjukan.

Apakah karena Daimaou yang berada di dekatnya yang juga masih tenang tak terganggu.

Melihat bagaimana semakin banyak kulit Naruto kembali mengelupas dan hangus terbakar chakranya sendiri seiring dengan munculya ekor kelima membuat pemuda berambut merah itu kembali berkata,. "Aku pikir sudah cukup memaksanya sampai di sini kalau kau tidak ingin bunuh diri."

Daimaou tersenyum ditengah kegiatannya menghisap darah Hinata.

"Ukh…" Hinata merintih kecil. Rasa ngilu pada leher membuat kesadarannya kembali. "Naruto-kun." Panggilnya, kedua matanya menyinar kosong. Seakan memiliki kesadaran sendiri kedua tangan Hinata terangkat perlahan, kemudian memeluk erat tubuh berbalut jubah putih yang sejak tadi mendekapnya. Hanya sebentar dan kembali jatuh tekulai kembali ke sisi tubuh bersamaan dengan kesadaran yang kembali menghilang.

Sebuah symbol berbentuk deretan huruf muncul melingkar di sekitar mereka begitu Daimaou selesai menghisap darah Hinata.

『闇の力を来てください大魔王の名前の上で命令にしてくれる』

Sederet mantra yang terucap membuat huruf-huruf dalam lingkaran itu memanjang dan mengurai menjadi dua bagian dan bergerak menyusut ke dalam tubuh Hinata dan Daimaou.

"Daimaou-sama!"

.


.

Setelah beberapa menit terpejam, manic obsidian kembali terlihat dari balik kelopak alabaster Uchiha Sasuke.

"….Sasuke." suara itu menarik penuh pikirannya dari peristiwa yang sudah dua hari lalu terlewati dalam kepala sang Uchiha. Peristiwa yang memunculkan bermacam-macam spekulasi.

Iblis tampan yang tengah duduk santai di perpustakaan pribadi milik keluarga Uchiha melirik malas bayangan kecil seseorang di balik tirai.

"Kau tidak mendengarku?" suara itu terdengar lagi.

"Apa lagi kali ini?" Sasuke bertanya ketus.

"Kau tidak melupakan rencana kita kan?" Sosok bayangan dibalik tirai bergerak, membesar hingga seukuran orang dewasa lalu perlahan menebal membentuk sesosok pemuda tampan lain.

"Sudah kukatakan tidak. Berhenti menggangguku dan kerjakan bagianmu sendiri."

Menyadari mood buruk lawan bicaranya membuat pemuda asing itu terdiam sejenak.

"Apa ini menyangkut gadis manusia itu?"

Alis Sasuke terangkat, memandang sosok yang kini menarik segaris senyum tipis salah satu sudut bibirnya seolah mengatakan aku tahu semua lebih darimu yang menyebalkan.

"Sepertinya kau sudah mengetahui apa tujuan Daimaou sebenarnya ya… Itachi."

Itachi tertawa kecil melihat bagaimana wajah datar yang selalu ditampilkan sang adik telah rusak oleh rasa kesal. "Tentu saja…. "

.

.


.

.

Ia tengah berjalan saat itu. Malam ini salju kembali jatuh ke bumi. Tidak ada tujuan yang terlintas dikepala, dirinya hanya mengikuti kemana kaki membawanya hingga ia bertemu dengannya…

.

.

Sepasang mata itu memandang bingung ke sepasang iris indah lain yang menatapnya lembut dengan senyum hangat yang sangat menawan. Ia tidak mengenal siapa, namun mengapa dadanya terasa bergemuruh?

.

.

Mendongak, ia menatap kosong ke satu titik di atas.

Bingung

Mengapa akhir-akhir ini ia sering menatap langit?

Dan mengapa, dadanya terasa sesak dan pipinya menjadi basah?

Eh… ? Kenapa ia menangis?

.

.

Sore hari yang sepi…

Lagi dadanya bergemuruh, gemuruh yang sama yang tidak ia pahami… oh, mungkinkah ia gelisah? Ini pertama kalinya ia mendapati seseorang tiba-tiba muncul dari dalam semak taman belakang rumah. Ia tidak mengenal siapa orang ini.

Pencurikah?

Tetapi mengapa ia merasakan sebuah kerinduan saat menatap matanya?

.

.

Senyumnya langsung mengembang.

Ia baru saja kembali dari makan malam sepi di bawah begitu melihat seseorang sudah tidur terbaring di ranjangnya yang terlihat sempit untuk tubuhnya yang besar.

Seharusnya ia berteriak dan lari keluar kamar karena orang asing yang tak dikenal masuk ke sini. Tetapi kenapa kaki dan tubuhnya menghianatinya? Berlari mendekat kemudian langsung memeluk tubuh itu?

"Nii-chan!" pekiknya riang.

Nii-chan? Apa ia mengenalnya?

.

.

"Nii-chan."

Pemuda itu menoleh, mengalihkan pandangan dari langit untuk menatap makhluk mungil dipangkuannya yang memangil dengan nada merajuk. Sebelah alisnya terangkat mendapati sepasang manik indah yang tak pernah bosan ditatapnya sudah menggenang liquid bening yang hampir tumpah.

"Hei! Ada apa ini?" serunya langsung, merasa sedikit tak suka melihat liquid itu akhirnya tumpah membasahi sepasang pipi tembam kemerahan yang entah disebabkan oleh hawa dingin atau menahan tangis.

"Nii-chan akan pergi lagi?"

Seulas senyum kecil ia berikan, diulurkan tangannya untuk membantu lengan kecil yang berulang kali mengusap kasar setiap tetes yang jatuh tanpa suara. Padahal dirinya belum mengatakan apapun, tetapi makhluk lucu dipangkuannya ini sudah mengetahui maksud kepergiannya beberapa saat lagi.

"Memangnya kenapa kalau aku pergi?"

"Aku tidak suka." Jawabnya langsung.

Tawanya hampir saja terlepas melihat betapa lucu ekspresi keras kepala makhluk mungil yang menahan suara isakannya meski airmatanya semakin mengalir deras. Manik matanya terus menatap lekat wajah menggemaskan dipelukannya, merekam setiap detik perubahan yang akan ia rindukan beberapa tahun ke depan nanti.

Ada rasa tidak rela untuk meninggalkan makhluk mungil yang akhir-akhir ini rajin didatanginya, tetapi harus dilakukan.

"Nii-chan…"

Suara lucu itu menarik dirinya dari dunia lamunan.

"Mengapa aku tidak bisa mengingat wajah Nii-chan setiap kali Nii-chan pergi?"

Usapan lembut jemari pemuda itu langsung terhenti. Sejenak ia terdiam, ekspresi terkejut terlihat mendominasi wajahnya mendengar pertanyaan polos penuh rasa penasaran yang diiringi isakan kekesalan yang diungkapkan makhluk mungil dipangkuannya, sebelum pada akhirnya ia tertawa kecil setelah sebuah pemikiran terlintas dikepala.

Tak lama tawanya terhenti. Pemuda itu menatap tangan yang digunakannya mengusap pipi tembam itu kini telah digenggam erat oleh sepuluh jari jemari yang berukuran lebih kecil dari jemarinya. Tenggorokannya sedikit tercekat menatap sepasang manik indah yang menatapnya dengan pandangan memohon….

"Jangan pergi… Naruto nii-chan…"

.

.


.

.

.

"Hah!"

Hinata membuka mata dan langsung terduduk. Napasnya memburu, peluhnya mengalir deras, dan tenggorokan yang terasa kering membuatnya tersedak dan terbatuk beberapa kali.

Airmata mengalir deras. Kilasan-kilasan kejadian yang sama persis dengan apa yang dialami sebelumnya… Hyuuga Hinata tidak mengerti, sepenuhnya ia yakin tidak pernah mengalami kejadian-kejadian yang baru saja ia lihat sewaktu kecil. Tetapi mengapa dirinya mengingat kejadian-kejadian seolah ia pernah mengalami itu?

Andaikata ingatan Hinata tidak menghianatinya, itu berarti ia sudah mengenal sosok Naruto jauh sebelum mereka berdua bertemu di ruang rawat dan itu bukanlah pertama kalinya mereka bertemu. Tetapi perasaan tidak merasa pernah bertemu Naruto sebelumnya meski tidak dengan ingatannya tetap bercokol kuat. Ketidak sinkronan antara logika dan perasaan yang dialami Hinata membuat gadis itu mengerang memegangi kepalanya yang pusing. Ketidak mengertian membuatnya stress hingga perutnya bergolak mual.

.

"Ini minumlah."

Tubuh Hyuuga Hinata menegang mendengar sebuah suara yang sangat dikenalnya, ya Naruto. Pemuda tersebut terlihat duduk di sebuah kursi di samping tempatnya terbaring sedang menyodorkan segelas air putih ke arahnya.

"Naru—Uhuk! Uhuk!" Mengabaikan air jernih dalam gelas dan kebutuhan kerongkongannya yang kering kerontang Hinata mencengkram lengan yang terjulur. Banyak pertanyaan yang berputar dalam kepalanya yang minta dipuaskan dengan jawaban yang hanya bisa dilakukan Naruto. "A—aku—"

"Aku di sini. Minumlah dahulu, baru berbicara." Seakan mengerti apa yang dipikirkan gadis itu Naruto kembali menyuruh Hinata minum terlebih dahulu, namun karena tidak juga ada reaksi dari gadisnya menurut dengan sedikit paksaan Naruto mendekatkan gelas berisi air yang dipegangnya ke bibir pucat yang terlihat kering dan memaksa meminumkan. "Minum. Atau aku akan pergi."

Hinata segera membuka mulut, menenggak air dalam gelas cepat-cepat mendengar ancaman yang keluar dari mulut Naruto. Ia tidak akan membiarkan Naruto pergi sebelum menjawab seluruh pertanyaannya.

.

.


"Aku tidak suka bertele-tele! Siapa gadis yang bersama Naruto sebenarnya, Itachi!" Desak Sasuke pada Sang kakak yang terlihat sengaja mengulur waktu hanya untuk membuatnya kesal.

"Gadis itu… Gadis yang ditakdirkan sebagai pengedali Kyuubi, sang pemilik Hon no Kojiki."

Kedua Onyx Sasuke melebar tak bisa menahan keterkejutannya…

"Hon no Kojiki Mempunyai pemilik?" ungkapnya tidak percaya.

Bagaimana bisa buku tua berumur ratusan ribu tahun itu mempunyai seorang pemilik, terlebih lagi yang memiliki adalah manusia yang notabene berumur tidak lebih dari seratus tahun?

.

.

.

つづく

.

.

.

Istilah :

Mitsudomoe design: lambang tomoe serupa dengan tiga koma yang berputar atau kelopak bunga yang terdapat pada drum taiko.

Taiko: Sebutan drum besar dari jepang. Masa lalu Taiko digunakan untuk menyemangati para pasukan untuk berperang.

"….daijoubu… bujidattebayo" : "… tidak apa-apa… kau aman."

『風のナイフ』 : Pisau angin

"…daga, mada mada…" : ….tetapi, masih belum…"

『闇の力を来てください大魔王の名前の上で命令にしてくれる』 : Wahai kekuatan kegelapan datanglah atas nama Daimaou lakukan perintahku.

.

.

.

.

.


A/N :

Konnichiwa~ Ho datang lagi~

Ada yang rindu dengan ho? #Ditendang

Mohon maaf bagi yang mengikuti fic ini karena sangat lama updatenya. Banyak hal yang terjadi yang tidak memungkinkan untuk menulis dan melanjutkan dengan cepat. Bagi yang khawatir fic ini discontinue tenang saja, Ho tidak akan menghentikan fic ini, hanya saja maaf sekali lagi untuk yang meminta update cepat karena waktu yang tidak memungkinkan. #Ojigi

Ho merasa senang, Ho sangat dicintai~ senangnya ada yang perhatian hihihi.

Namun ada beberapa hal yang perlu diluruskan. Sejak awal saya mencantumkan DLDR karena beberapa alasan, diantaranya :

1. Banyak istilah dengan penggunaan bahasa dan tulisan asing, namun saya berani menjamin tidak akan mencapai 5% dari total bahasa Indonesia hingga mengharuskan saya untuk berpindah fandom.

2. Bahasa berbelit, alur maju mundur, tidak ada peringatan POV, lompatan setting, dan sebagainya tanpa peringatan.

Saya sadar, ada pro dan kontra di setiap tulisan. Dan saya tahu cirri khas saya ini akan menimbulkan beberapa perbedaan pendapat. Oleh karena itu semua saya meletakan DLDR dan warning yang diperuntukan para reader yang enggan membaca sebuah cerita dengan tulisan sedikit heavydengan alasan ribet, malas, ataupun tidak mengerti.

Bagi yang tidak menyukai dan tetap membaca, saya tidak akan memberikan komentar/ notice apapun karena itu adalah resiko yang ditanggung sendiri karena sejak awal saya sudah mencantumkan DLDR.

Untuk Kritik dan Saran saya menerima dengan sangat terbuka meski itu memakai bahasa yang sangat tidak sopan sekalipun *Memaklumi tidak semua orang mempunyai kesadaran untuk dapat/memiliki attitudes baik ketika bersosialisasi dengan orang lain* , akan tetapi saya tegaskan disini… menerima dan menampung bukan berarti mengikuti kan? Mohon bisa membedakan dua hal itu karena ada beberapa pertimbangan hingga ketahap diikuti. Karena ada beberapa hal yang tidak bisa direalisasikan terutama perombakan write style yang menjadikan cirri khas saya. Kalau tidak bisa menerima semua itu/ sudah merasa terganggu dalam beberapa bagian pada cerita yang saya tulis, dengan senang hati saya persilahkan untuk tekan tombol back atau beralih ke cerita yang lebih bagus ditulis oleh author yang lebih senior.

Dan satu lagi, saya rasa para pembaca cukup cerdas untuk membedakan apa itu saran, kritik dan flame yang concrete, tidak berdasarkan perasaan atau kekesalan pribadi. Oleh karena itu silahkan menulis apapun di kolom review saya sekalipun itu merupakan kata-kata tidak pantas dibaca oleh orang lain karena hanya orang lainlah yang menilai hal itu sebagai pendapat, opini, komentar, mempermalukan orang lain atau diri sendiri.

Special thanks untuk Gogatsu no Kaze yang sudah bersedia menjadi beta reader Ho #Hugbear

Salam rindu untuk Pidy-chan yang kini sudah sibuk dengan—ehem— ma…. Omiage wasurenaindayone. Take one for me if you find something handsome and western. Bwahahahha~

Dan terima kasih untuk cicikun yang sudah menyemangati menagih fict ini , jitan88 dengan kejahilannya yang tidak pernah berhenti, chichi yang berhasil menyita sebagian besar waktu saya di dunia nyata dengan perintah ajaibnya, Sepupu iblis yang merangkap sebagai editor pemalas dengan mood swing tak kalah ekstrim dengan ibu hamil, para reader yang sudah membaca dan mereview, kritik dan saran yang diberikan hingga semangat melanjutkan fict tidak jelas hasil imajinasi liar yang bersarang di kepala saya dengan meminjam tokoh MK sensei.

Terima kasih… sungguh sangat berterima kasih...


本当にありがとうございます。

Hotaru Out.