Tittle : Are? Anata wa…
Pairing : FemKurapikaXKuroro
Rated : T
Genre : Romance, Comedy
Chapter 2
WARNING! Newbie! OOC parah! typos, cerita nggak nyambung orz
.
.
.
"Hai, Kurapika. Apa kabar?" - Kuroro
Deretan huruf itu tertera di layar handphone Kurapika. Kurapika mengernyit, "Email dari Kuroro?" Tanpa berpikir panjang, Kurapika langsung membalas email Kuroro. Lalu ia menaruh handphonenya di sebelah bantalnya. Kurapika menghela nafas berat dan memeluk gulingnya, "Hari ini Killua sedang kencan dengan Alluka." Lirihnya. Ia menutup matanya rapat-rapat.
Ia menghela napas berat, "Ah sudahlah. Lagipula aku sudah terbiasa." Kurapika berusaha menghibur dirinya. Ia memejamkan matanya lagi, "Terbiasa untuk diambil saat dibutuhkan…" Gadis itu tersenyum miris.
Drrt… Drrt…
Layar handphone Kurapika menyala. Kurapika mengambil handphone nya dengan tangan kirinya, di layarnya muncul sebuah gambar amplop tertutup. Ia tak banyak berharap jika Killua akan mengiriminya email saat kencan dengan Alluka.
"Apa aku menganggumu?" - Kuroro
Kurapika tersenyum, "Sepertinya ada yang 'sedang berusaha', eh?" Pikirnya. Tertawa dalam hati. Oh, ayolah memang Kurapika tidak terlalu mengenal Kuroro dulu. Tapi apa secepat ini teman lamanya itu menghubunginya melalui email padahal baru saja kemarin mereka bertemu.
.
.
.
.[Kuroro's POV]
"Tidak. Ada apa? – Kurapika"
Aku tersenyum tipis melihat sebaris tulisan di layar handphoneku, "Singkat, padat, dan jelas, huh? Dasar perempuan." Aku segera membalas pesan singkat itu agar si penerima tak menunggu lama.
Kuletakkan handphone itu di atas meja di sebelah tempat tidurku. Lalu kembali berbaring dan menerawang. Kau tidak berubah, Kurapika. Ah tidak! Kau berubah banyak. Kau semakin cantik di mataku. Semakin memesona. Semakin banyak orang yang memuji kecantikanmu.
[FLASHBACK]
"Namaku Kurapika Kuruta. Senang bertemu dengan kalian semua." Ujar seorang gadis bersurai pirang dan tersenyum manis kepada semua orang yang ada di hadapannya.
Onyx Kuroro menatap lurus seseorang yang baru saja menyebutkan namanya dan tersenyum kepadanya, tidak, kepada dia dan teman-temannya yang ada disitu.
Kuroro bersumpah akan merekam dalam memori otaknya dengan baik apa saja yang dikatakan gadis itu selama pertemuan club yang dijadwalkan akan berlangsung satu kali setiap minggunya. Bagaimana cara gadis itu berjalan, berbicara, tertawa, tersenyum, atau bahkan marah karena digoda oleh temannya.
[END OF FLASHBACK]
.
.
[Normal POV]
Kuroro masih mengingat dengan baik bagaimana pertama kalinya ia bertemu dengan gadis Kuruta itu. Yang membuatnya tidak bisa lupa adalah bagaimana cara gadis itu menyebutkan namanya dulu dan sekarang. Sedikit berbeda, mungkin beberapa tahun tak bertemu membuat gadis itu sedikit sulit melafalkan namanya? Haha.
Sudah 3 atau 4 tahun tak bertemu, dan akhirnya takdir mempertemukan mereka lagi di tempat yang tak terduga sama sekali. Kuroro tersenyum tipis melihat balasan email dari gadis pirang itu yang terkesan cuek dan dingin.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Tidak sopan jika hanya mengobrol lewat email. Kutunggu kau di depan SMP kita dulu hari Minggu jam 2 siang. – Kuroro"
.
.
.
"Apa-apaan dia? Seenaknya saja membuat janji denganku." Pikir Kurapika saat membaca email yang baru saja diterimanya dari teman lamanya itu. Kurapika menghela napas. Mungkin tidak ada salahnya untuk berjalan-jalan sebentar. Tugas-tugasnya di kelas 3 SMA ini (sedikit) membuatnya tertekan. Gadis pirang itu mengirim email balasan persetujuan. Menunggu beberapa saat, tak ada balasan email lagi dan itu mengakhiri percakapan via email mereka malam ini.
"Apa aku harus mengatakan ini pada Killua?" Kurapika tiba-tiba teringat Pangeran Zoldyck itu. Masih dalam posisi berbaring, Kurapika menutup matanya dengan lengan kirinya. Menyembunyikan iris sapphirenya yang bisa membuat banyak orang jatuh ke dalam kejernihannya.
"Biar saja. Lagipula Killua mungkin tidak akan peduli sepenuhnya padaku," Gumam Kurapika getir. Ia tersenyum. Mungkin sedikit menyesali keputusannya untuk menerima Pangeran Zoldyck itu masuk semakin dalam ke dalam kehidupannya. Yah, seberapapun ia menyesalinya, sebenarnya Kurapika juga menikmati kebersamaannya dengan Pangeran Zoldyck itu. Sangat dingin di luar, namun siapa sangka Pangeran Zoldyck itu mempunyai sisi yang hangat kepada orang-orang tertentu? Kurapika tersenyum, "Hm, ternyata aku memang jatuh cinta padamu, Killua…"
.
.
.
Terlihat seorang gadis mungil dengan surai pirang pendek yang tertiup angin tengah berdiri bersandar di tembok. Kilauan antingnya yang terlihat dari helaian pirangnya terlihat menyilaukan dari kejauhan. Sesekali ia mengangkat tangan kirinya, melihat ke arah pergelangan tangannya yang dilingkari arloji berwarna biru muda. Dengan atasan navy lengan panjang dipadukan dengan rok berwarna putih sebatas lutut terlihat manis dengan kulitnya yang putih.
"Kemana dia? Ini sudah lebih dari 30 menit!" Gadis itu menghela napas. Alisnya bertaut menandakan ia sedang tidak dalam mood yang baik. "Awas saja nanti jika dia datang. Akan kumarahi habis-habisan!" Pikir Kurapika disusul dengan perempatan merah di dahi gadis itu. Sepertinya Kurapika benar-benar dalam mood yang buruk.
"Kurapika, maaf membuatmu menunggu."
Terdengar suara maskulin yang dikenalnya, Kurapika menoleh ke arah datangnya suara itu. Seorang pemuda tinggi dengan kemeja hitam dam celana panjang hitam terlihat kontras dengan kulitnya yang putih pucat.
Kurapika mendengus, "Darimana saja kau? Aku sudah menunggu daritadi!" Perempatan merah kembali muncul di pelipis gadis Kuruta itu. Alisnya masih bertaut, pipinya merah menahan marah. Tanpa diduga, Kuroro malah tertawa melihat Kurapika.
Kurapika berkedip beberapa kali. "A-apanya yang lucu?" Bertanya dengan nada tinggi. Sepertinya Kuroro (sedikit) tidak mengerti apa yang akan terjadi jika membuat mood Kurapika jelek. "Gomen ne. Tadi ada sedikit urusan mendadak. Maaf tidak segera mengabarimu," Jawab Kuroro tenang. "Nah, karena kau sudah menunggu lama, mari kita segera pergi." Kuroro berbalik dan diikuti Kurapika yang masih dengan setengah hati mengikuti Kuroro berjalan. Gadis Kuruta itu bersumpah, jika Kuroro membuat mood-nya jelek lagi, ia tak akan segan-segan untuk menghabisi teman lamanya itu.
.
.
.
Disinilah mereka sekarang, di sebuah café di tengah kota Yorkshin. Di atas meja, di hadapan masing-masing tersaji makanan dan minuman yang dipesannya. Gadis Kuruta itu menatap cheese cake yang ada di hadapannya dengan berbinar-binar.
"Makan saja," Ujar pemuda yang duduk di hadapannya.
"ITADAKIMASU!" Tanpa buang waktu, gadis itu langsung menyantap 'target'nya. Tak membutuhkan waktu lama, ia telah 'selesai' dengan cheese cake nya. Kuroro tak melepaskan pandangannya dari setiap inchi gerakan makhluk mungil yang ada di hadapannya sekarang. Seakan tak akan membiarkannya pergi menjauh darinya.
"Jadi," Kuroro berkata dengan nada tenang dan menatap lurus pada iris sapphire Kurapika yang ada di hadapannya. "Aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
"Apa? Katakan saja," Ujar Kurapika sambil menyeka mulutnya dengan tissue untuk menghilangkan bekas cream dari cake yang baru saja disantapnya. Ia beralih meminum jus melonnya. Penasaran Kuroro tak segera menjawab, Kurapika menatap Kuroro.
Kuroro terlihat sedikit gelisah. Kurapika mengangkat sebelah alisnya, "Apa?" Kurapika mengulangi pertanyaannya lagi. Kurapika menegakkan duduknya, membalas tatapan dari Kuroro.
"Aku suka padamu, Kurapika,"
Iris sapphire Kurapika membulat sempurna. Ucapan Kuroro terngiang di telinganya. Tertegun. Ia tak menjawab ataupun mengatakan sepatah katapun. Kurapika mencoba mencari unsur kejahilan Kuroro. Mungkin saja pemuda serba hitam itu tengah menggodanya. Tetapi iris onyx Kuroro tak memancarkan adanya kebohongan. Masih tetap menatap lurus ke dalam sapphire Kurapika.
Kurapika menunduk, "Aku tak pantas untukmu, Kuroro."
Sebelah alis Kuroro terangkat, "Tentu saja kau pantas. Apa yang membuatmu berkata seperti itu?" Kurapika semakin menunduk. Poni panjangnya menutupi wajahnya, "Tapi ada fakta yang tidak kau ketahui. Dan aku tahu benar apa yang aku katakan. Aku memang tak pantas untukmu, Kuroro." Kurapika mengulang kalimatnya. Nadanya terdengar bergetar.
"Ya sudah. Apapun itu, paling tidak aku telah mengatakannya padamu," Kuroro mengalihkan pandangannya ke luar jendela yang ada di sebelah mereka. Perkataan Kuroro membuat Kurapika mengangkat kepalanya, menatap pemuda yang baru saja menyatakan isi hatinya.
"Gomen ne," Ucap Kurapika. "Tapi untuk saat ini aku tidak bisa…"
Ya, Kurapika tidak bisa menerima Kuroro. Ia tak bisa melupakan Killua begitu saja dengan melarikan diri ke pelukan laki-laki lain dengan mudahnya. Ia tak ingin menyakiti hati orang lain lagi.
Ya, lagi.
Selama ini, Kurapika telah menyakiti orang yang menyayanginya karena kebodohannya. Merasa bosan dengan mereka, dan dia lari ke pelukan orang lain yang 'mengaku' selalu ada untuknya. Namun nyatanya ia tak pernah berbicara lagi dengan orang itu saat ia memutuskan mengakhiri hubungannya terdahulu. Dan ia benar-benar melepaskan seseorang yang tulus menyayanginya saat itu. Bodoh. Benar-benar bodoh.
Sedangkan sekarang, ia menjadi orang ketiga diantara hubungan Killua dan Alluka. Itu bukan hal baik. Sebagai seorang yang terpelajar tentu Kurapika paham betul akan hal itu. Tetapi, hatinya tak sanggup untuk menolak uluran tangan Killua. Kurapika tahu jika ia tetap berada di posisinya sekarang, lambat laun ia pasti akan semakin sakit. Semakin terbelenggu dalam cintanya yang salah. Tak seharusnya ia berada dalam posisinya sekarang.
Apa mungkin ini jalan yang dibukakan oleh Tuhan untuknya? Untuk lepas dari belenggu itu? Lepas dari kesendirian dan siksaan batin? Apa perlu ia menerima uluran tangan dari Kuroro? Kurapika tak bisa memikirkan hal itu sekarang. Ia butuh waktu. Tapi apa pantas baginya untuk membuat Kuroro menunggu? Apa ia yakin penantian Kuroro tak akan sia-sia hanya karena ia tak berani melangkah maju?
"Tak apa, Kurapika," Suara baritone itu membuat Kurapika kembali dari lamunannya. "Aku tak memaksamu. Aku hanya ingin kau tahu apa yang aku rasakan." Kuroro kembali menatap Kurapika. Kali ini dengan pandangan yang lembut disertai senyuman tipis dari pemuda itu. Kurapika ingin menangis, tetapi ditahannya sekuat tenaga. "Gomen ne, Kuroro. Maafkan aku. Untuk sekarang aku tidak bisa." Kurapika mengulanginya lagi. Tak ingin membeberkan semuanya pada pemuda itu. Namun akhirnya ia memutuskan untuk memberikan kesempatan bagi Kuroro untuk 'menunggunya' sebentar lagi.
"Jangan menangis. Aku tidak akan memakanmu hanya karena kau tidak menerimaku," Nada jahil Kuroro kembali terdengar. Hal itu sedikit membuat hatinya lega. Ia menatap Kuroro dan tersenyum, "Sebagai gantinya aku yang akan menggigitmu jika kau membuat mood-ku jelek lagi."
Kuroro mengangkat tangannya, seakan menandakan jika ia menyerah, "Tenang saja, Tuan Putri. Aku berjanji tidak akan membuatmu menangis lagi. Aku berjanji akan terus membuatmu tersenyum dan bahagia bagaimanapun caranya."
"Jangan banyak berjanji jika kau tidak sanggup menepatinya, Tuan." Ucap Kurapika sarkastik. Kuroro meminum kopinya yang sudah mulai dingin, "Jangan khawatir. Pria selalu memegang kata-katanya walau harus mati sekalipun. Aku tak akan mengingkarinya."
To be continue
Huwaaahhh akhirnya chap 2 selesai :3 padahal rencananya sih Cuma twoshoot aja XD tapi ternyata molor juga ._.
Gomen ne, minna-san
Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca fic yang amat sangat ga jelas ini XDa
Tefu Choi :
Terima kasih sudah bersedia review di fic ini fuki sangat senang dan terharu ada yang mereview :""") wah bagus deh kalo Killua dapet feelnya X'D iya tuh Kuroro lagi berusaha deketin Kurapika tuh XD semoga aja sih endingnya dapet ya :"( takut banget ntar kalo endingnya ternyata ngegantung ga jelas :"(
Nah, mungkin untuk chapter selanjutnya, bakal sedikit molor X'D dikarenakan fuki sudah mulai melakukan rutinitas baru hehehe XD tapi sebisa mungkin pasti fuki update kok QwQ)9 mohon dukungannya, minna-san~
Arigatou gozaimashita~~~~~~~~~~ w *bow*
