Tittle : Are? Anata wa…

Pairing : FemKurapikaXKuroro

Rated : T

Genre : Romance, Comedy

Disclaimer : Yoshihiro Togashi-sensei

Chapter 4

WARNING! Newbie! OOC parah! typos, cerita nggak nyambung orz

"Pika-chan?" Suara berat itu menyusup indra pendengaran gadis pirang yang tengah melamun. Gadis itu tersadar dan menoleh ke sumber suara. "Ada apa? Kau sakit?" Tanyanya lagi. Kurapika menggeleng cepat, "Tidak. Aku tidak apa-apa, Killua." Gadis itu tersenyum. Berusaha tersenyum. Iris sapphire yang sedaritadi melekatkan pandangannya padanya beralih menuju jalan di depan, "Kalau kau sakit kita bisa pulang sekarang. Aku tidak mau kau memaksakan diri."

"Tidak, tidak." Gadis itu mengibaskan tangannya di depan wajahnya. "Aku tidak apa-apa, Killua. Kita bisa lanjutkan. Kita sudah merencanakan ini dari awal bulan lalu." Killua menoleh, memandang Kurapika dengan cemas. Iris sapphire-nya menatap dalam-dalam iris sapphire Kurapika yang jernih. Menyelidik adakah kebohongan disana?

Ah, Killua menyerah. Seberapapun ia berusaha mengerti isi hati gadis Kuruta itu, ia tak sepenuhnya mengerti. Ia memang egois. Ya, Killua tahu benar akan hal itu. Dan Killua pun tahu jika Kurapika sering terluka akan sikapnya yang egois itu.

"Baiklah, jika ingin mengatakan sesuatu, katakan saja." Ucap Killua tersenyum lembut. Jemarinya menyusup disela-sela jari lentik Kurapika. Menggenggamnya dengan hangat. Mengisyaratkan jika sang Zoldyck menyayangi dan mengkhawatirkan gadis Kuruta ini. Gadis mungil itu tersenyum.

Mereka melanjutkan kencan mereka yang sempat tertunda. Kencan? Ya, kencan. Kencan seperti pasangan lainnya. Bermain di game centre, makan bersama, menonton film mungkin, atau sekedar berjalan-jalan sambil bercanda.

"Tunggu disini, ya," Ucap Killua sambil mengelus puncak kepala Kurapika. "Aku akan membeli makanan." Kurapika hanya tersenyum dan mengangguk. Pikirannya telah melayang jauh. Membayangkan apa yang akan dikatakan Killua jika ia mengatakan hal tentang Kuroro? Oh ayolah, bahkan Kurapika hingga kurang tidur untuk memikirkan kemungkinan terburuknya.

Tanpa disadari, Kurapika melamun. Ia menyentuh keningnya. Kepalanya terasa pening. Ia menutup matanya untuk menormalkan kembali pikirannya yang sempat melayang jauh.

"Pika-chan?" Sebuah suara mengintrupsi indra pendengarannya. Lalu ia merasakan pipinya disentuh oleh tangan yang hangat. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mengembalikan kesadarannya.

Saat ia tersadar, Killua tengah memandangnya khawatir. Oh ayolah, Kurapika tidak tahan dengan tatapan itu. Tatapan yang seakan mengkhawatirkannya seorang. Tatapan yang membuatnya merasa bahwa pemuda di hadapannya kini hanya menyayanginya seorang. Tatapan yang membuat Kurapika sangat nyaman. Sebuah kenyataan yang pahit jika Kurapika mengingat semuanya hanya fana.

"Ada apa, Pika-chan?" Killua duduk di sebelah Kurapika. Masih dengan tatapan khawatirnya itu. Beberapa saat Kurapika merasa terhipnotis akan pancaran kekhawatiran dari iris sapphire yang ada di depannya. Namun cepat-cepat ia mengalihkan pandangannya. "Aku tidak apa-apa, Killua." Melihat makanan yang sudah tersaji di atas meja, Kurapika langsung mengajak Killua untuk makan. Dengan enggan, Killua menuruti perkataan Kurapika.

.

.

.

.

Jemari besar Killua menyusup diantara jemari mungil Kurapika. Memberikan perlindungan dan kehangatan. Mereka telah selesai makan dan keluar dari café untuk melanjutkan 'kencan' mereka.

Kurapika menggigit kecil bibir bawahnya. Mengumpulkan keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya. "Killu…" Panggil Kurapika menggantung. Ia menunduk dalam dan menghentikan langkahnya. Ia melepaskan pegangan tangannya.

Killua menoleh pada gadis pirang itu. Melihat ada yang berbeda dari Kurapika, ia segera bertanya, "Ada apa, Pika-chan?"

Lagi-lagi, Kurapika menggigit bibir bawahnya. Mengumpulkan lebih banyak keberanian. "Aku.. Aku menyukai orang lain…" Kurapika memandang lurus pada iris sapphire Killua.

Killua berkedip beberapa kali. Jantung Kurapika masih berdetak cepat menunggu jawaban dari pemuda tampan itu.

"Ah, siapa?" Tanya Killua enteng. Tidak terdengar marah atau menahan apapun. Mimik mukanya pun datar-datar saja. Malah terkesan lega mendengar kalimat yang dilontarkan Kurapika. Kurapika menjadi bingung melihat mimic wajah Killua yang biasa-biasa saja.

"Uhm…" Kurapika ragu. "K-Kuroro…" Akhirnya ia mengatakannya! Kurapika berani bersumpah, apapun yang dikatakan Killua. 'Ya', atau 'tidak', ia tak akan peduli. Kurapika akan pergi memilih Kuroro.

"Aaaahh~" Killua menatap jahil. Kembali seperti tatapan Killua yang biasanya. "Dia menyukaimu juga?" Kurapika menunduk malu, ia merasakan pipinya memanas. Ia mengangguk pelan. Killua terkekeh kecil, "Ia sudah mengatakannya padamu?" Kurapika memandang Killua dalam-dalam dan mengangguk, "S-sudah…"

"Ya sudah."

Dua kata yang terlontar dari mulut Killua Zoldyck sukses membuat Kurapika terkejut. Terheran-heran dan bengong beberapa saat di tempat. Semudah itu ia mengatakan 'ya sudah'? Sedangkan Kurapika berhari-hari tidak bisa tidur memikirkan kemungkinan terburuk apa yang akan dikatakan Killua nantinya. Dan sekarang, Killua telah menjawabnya dengan dua kata yang ambigu, 'ya sudah'.

Kurapika memiringkan kepalanya, alisnya bertaut, dan mulutnya sedikit terbuka. Ia berkedip beberapa kali. Yap, Killua jelas tahu Kurapika bingung dengan jawabannya.

"Apanya?" Tanya Kurapika takut-takut.

"Ya sudah." Gantung Killua lagi. "Terima saja dia. Jika dia berani mengatakan 'suka' atau bahkan 'sayang' padamu, aku yakin dia tidak main-main, Kurapika.."

DEG

"Kurapika…" Ya, Killua kembali memanggilnya Kurapika. Bukan Pika-chan lagi. Kurapika merasa ada yang hilang. Tetapi ia yakin bahwa ia harus merelakan hal yang tak baik untuknya walau terasa menyenangkan, untuk kebahagiaan yang sejati.

Kurapika menunduk, ia mengangguk dan tersenyum. Killua mengelus puncak kepala Kurapika. "Mungkin ini yang terakhir kalinya." Pikir Kurapika saat merasakan tangan Killua mengelus puncak kepalanya dengan halus.

.

.

.

.

Saat perjalanan pulang, mereka telah berubah menjadi seperti pasangan sahabat atau bahkan kakak adik. Tidak lagi seperti pasangan kekasih. Terlihat dari tingkah laku dan kalimat-kalimat yang terlontar dari keduanya.

Kurapika memukul pundak Killua dengan keras, membuat Killua terkejut dan hampir tersungkur. Perempatan merah muncul di pelipis pemuda itu dan segera menoleh pada Kurapika, "Hei! Ada apa?"

"Bagaimana bisa kau mengatakan 'ya sudah' dengan begitu mudahnya? Padahal aku hingga sulit tidur takut akan jawabanmu nantinya! Ah, aku merasa sangat bodoh!" Ucap Kurapika tegas. Mimik wajahnya terlihat kesal. Hal itu membuat Killua tertawa lepas, "Dasar bodoh! Jika itu keinginanmu, aku tidak bisa menghalanginya!"

DEG

Kurapika tersadar. Tentu saja Killua tak akan menahannya, ia sadar jika Killua tak punya hak sepenuhnya untuk menahannya. Karena ia adalah bayang-bayang diantara Killua dan Alluka.

To Be Continue…

.

.

.

YEEEAAAYYY~~~ Sepertinya chapter selanjutnya adalah chapter terakhir X"D/ *tepuk tangan* /ngapain/ eits, tapi masih sepertinya loohh~ :p hihihi :p kebetulan aja ini fuki baru kedapetan wangsit(?) buat tambahan chapter selanjutnya :3 hihihi :3

Yooossshhh! Terima kasih yang masih dengan setia menunggu update'an fic fuki yang gaje ini :"D aduh terharu banget :"D makasih banyak yaa :"D maaf juga fuki baru bisa update, soalnya kemaren-kemaren lagi sibuk #eeaaa /plok/ ngga juga sih XD lagi ngga mood buat nulis :"D lagi banyak pikiran soalnya :"3 #eeaa

Balasan review :

VermieHans : hohoho mantan kurapika ya? Itu sih hanya Kurapika, mantannya, dan fuki yang tau XD /plak/ alias rahasia :"3 mungkin nanti ada saatnya fuki bikin fic tentang itu XD tapi ngga di fic yang ini :3 hehehehe XD iya nih fuki jadi semakin suka juga pairing KuroPika XD nanti kalo dapet ide lagi fuki bakal bikin fic KuroPika yang lain :3 hehehe belum tau sih selesainya fic ini kapan XD soalnya masih sebuah misteri~ jadi pantengin(?) aja terus yaaa XD terima kasih sudah bersedia membaca dan mereview! .

Tapi sekarang sudah di update! XD dan maaf kalo chapter kali ini mungkin termasuk pendek u,u

Akhir kata,

Mohon reviewnya seperti biasaaa :3

Arigachuuuuu :3