Chapter 2
Sinopsis: Pooja adalah anak dari kepala kepolisian India, Surinder Sharma. Keselamatannya terancam setelah Ayahnya menangani kasus besar yang mengakibatkan Ayahnya terbunuh oleh kelompok Mafia terbesar di India. Tapi berkat seorang bodyguard, hidupnya terselamatkan. Apakah setelah itu hidup Pooja bahagia? Atau aka nada lagi bahaya yang akan datang?
Shaheer POV
"Ibu akan sangat merindukanmu Nak. Jangan lupa untuk memberi kabar ya?" kata ibu yang dari tadi masih terus saja menangis.
"Iya ibu. Aku tidak akan lupa menelfon ibu." Jawabku, menenangkan ibu. Aku tidak mau dia khawatir.
Aku pergi karena ini pekerjaan yang sangat bagus. Gajinya juga cukup untuk membiayai Ibu dan adikku. Walaupun aku harus pindah dan tinggal di Mumbai.
Sebenarnya aku tidak ingin pindah, tapi mau bagaimana lagi. Setelah Ayah meninggal. Aku jadi tulang punggung keluargaku. Aku meneruskan pekerjaan Ayahku, sebagai seorang bodyguard. Aku sudah sangat terbiasa dengan ini. Aku sudah menjadi bodyguard buat beberapa orang penting di New Delhi. Sekarang saatnya meluaskan pekerjaanku dan mulai bekerja di tempat baru.
Kali ini, aku tidak akan menjadi bodyguard buat oarng-orang penting seperti pejabat atau selebritis. Aku hanya di tawarkan untuk menjaga anak dari seorang kepala kepolisian di Mumbai. Tapi dengan gaji sebesar itu, aku tidak keberatan. Bukan berarti jadi bodyguard anak kecil akan menurunkan keahlianku dalam melindungi klienku. Yang aku lakukan juga pasti hanya menemaninya kesekolah dan setelah itu aku bisa menjaganya dirumah. Anak kecil pasti jarang keluar rumah. Jadi gampanglah.
Tak lama kemudian terdengar suara pemberitahuan. Pesawatku akan segera berangkat.
Aku memeluk ibuku dan adikku. Setelah itu dengan mata yang berkaca aku meninggalkan mereka. Aku yakin paman dan sepupuku juga pasti akan menjaga ibu dan adikku. Mereka telah berjanji padaku bahkan pada Ayah sebelum dia meninggal.
Tidak terasa aku telah sampai di Mumbai. Orang suruhan Pak Surinder menjemputku dari bandara dan membawaku langsung kerumah Pak Surinder.
"Wow" kataku pelan saat tiba dirumah beliau. Aku kagum dengan besarnya dan indahnya rumah mereka. Pak Surinder juga punya banyak bodyguard yang menjaga rumahnya. Dia benar-benar orang kaya.
Aku turun dari mobil dan langsung di tuntun ke ruang tamu untuk menemui Pak Surinder. Pasti dia sedang manghabiskan waktu bersama putrid kecilnya. Sekalian supaya aku juga bisa bertemu dan setelah itu bisa membereskan kamarku.
"Selamat datang Shaheer" sabut Pak Surinder saat aku berdiri dihadapannya.
"Terima Kasih, sir" jawabku menggulurkan tangan. Dia kemudian menjabat tanganku. Dan tersenyum hangat.
"Bagaimana perjalananmu? Aku harap kau tidak menyesal menerima pekerjaan Ini yang mengharuskanmu meninggalkan keluargamu di New delhi." Nada suaranya seperti tidak enak.
"Tidak apa-apa sir. Perjalananku baik-baik saja. Dan aku sama sekali tidak menyesal. Aku justru merasa terhormat bisa menerima pekerjaan ini. Tapi ngomong-ngomong dimana putrimu?" aku ingin segera bertemu putrinya. Supaya bisa secepatnya beres-beres mengeluarkan barangku dikamar.
"Tunggu sebentar lagi. Mereka sedang dalam perjalanan. Kelasnya berakhir 30 menit yang lalu." Jawab Pak Surinder. Tapi kemudian terdengar suara mobil berhenti dipintu depan.
Aku melihat jamku. Dan ini sudah pukul 3 sore. Aku heran kenapa anak kecil kelasnya berakhir di jam seperti ini. Di New Delhi, anak-anak biasanya kelasnya berakhir jam 12 siang. Aku tau semua itu karena anak pamanku masih berumur 9 tahun dan biasanya aku yang menjemputnya.
Well, mungkin memang di Mumbai peraturannya berbeda. Pikirku dalam hati.
"Pooja, kesini nak. Temui bodyguard barumu. Namanya Shaheer dan akan menjadi bodyguard pribadimu mulai sekarang." Pak Surinder menyahut tiba-tiba. Dan itu berarti anaknya sudah ada diruangan ini.
Aku kemudian berbalik dan…
Shit! Ucapku dalam hati.
Aku harus mengecek dua kali untuk memastikan aku tidak salah liat.
Yang berdiri dihadapanku bukanlah anak kecil seperti yang aku bayangkan. Tapi malah seorang gadis yang terlihat sangat cantik. Bibirnya berwarna pink dan berbentuk seperti hati. Aku yakin senyum pasti sangat manis dengan bibir seperti itu. Rambutnya hitam dan panjang. Tapi satu yang membuatku tidak bisa berpaling adalah matanya yang berwarne kecoklatan dan sangatlah indah.
Kami saling memandang, dan dia masih belum juga mengatakan apa-apa.
Mungkinkah dia sama terkejutnya denganku? Entahlah. Yang jelas aku harus berusaha keras untuk tidak terlibat apa-apa dengan dia. Ini akan jadi sangat rumit kalau sampai aku jatuh cinta dengan anak bosku sendiri.
Dari sudut mataku, kulihat ayahnya memperhatikan kami. Dan aku merasa tidak enak karena dengan lancing memandangi anaknya seperti itu.
Dengan keberanian, aku mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan dengan gadis cantik yang didepanku. Tapi lama sekali baru kemudian dia mengambil tanganku dan menjabatnya. Tangannya sangatlah lembut. Aku merasakan sesuatu yang berbeda dan aku tau dia juga mersakannya. Karena ekspresinya sama terkejutnya denganku. Aku melepaskan tanganku darinya. Dan kemudian untuk pertama kali aku melihat dia tersenyum.
Shit shit shit! Gerutuku dalam hati. Aku benar-benar dalam masalah besar.
"Senang bertemu denganmu Pooja." Kataku dengan suara bergetar.
"Aku juga Shaheer." Balasnya. Dan damn, suaranya juga sangatlah merdu.
Ini akan menjadi pekerjaan yang sangat berat bagiku. Aku harus cari cara untuk menghindari perasaan ini supaya tidak menyusahkanku nanti.
"Sir, bisa saya permisi? Saya ingin menempatkan barang-barangku dikamar." Aku memandang Pak Surinder menunggu jawabannya dan dari sudut mataku, kuliat Pooja juga memandang ayahnya.
"Tentu Shaheer. Laksmi akan mengantarmu ke kamarmu". Aku tidak tau siapa Laksmi
"Oh, Laksmi adalah pembantu rumah tangga kami. Dia ada didapur sekarang. Temui dia disana. Dari sini kau terus dan belok kanan. Disana kau akan melihat tulisan "dapur" di pintu," sahut Pooja tiba-tiba menjawab kebingunganku.
"Terima Kasih Pooja". Aku tersenyum kepadanya.
"Sama-Sama Shaheer". Jawabnya singkat sebelum kemudian berbalik dan memeluk Ayahnya.
Tidak ingin mengganggu mereka. Saya langsung menuju keruangan yang diberitahukan Pooja untuk bertemu dengan Laksmi.
Setelah menemukan tulisan "Dapur" saya langsung masuk dan mendapati seorang perempuan yang seumuran dengan ibuku.
"Maaf, saya Shaheer. Bodyguard baru dirumah ini. Saya mau mencari kamar saya." Dan nada ramah saya bertanya.
"Oh tentu. Bodyguard baru nona Pooja. Saya tidak menyangka ternyata kali ini tuan memilihkan Bodyguard mudah kepada Pooja. Baguslah supaya Pooja juga bisa berteman dengan saya antar kamu ke kamar kamu". Katanya sambil berjalan keluar dapur dan saya dari belakang mengikuti Laksmi.
Ternyata kamarku bukan di dalam rumah itu, tapi di Penthouse yang ada dibelakang rumah besar milik Pak Surinder. Walaupun begitu, rumahnya sangatlah nyaman. Terdapat kamar, ruang nonton dan kamar mandi. Ini seperti apartement kecil.
"Kau bisa pegang kuncinya sendiri. Pekerja yang lain juga tinggal di penthouse seperti ini. Tapi mereka tinggal di lokasi yang berbeda. Tuan, selain memberikan gaji, juga memberikan rumah buat ditinggali kepada setiap pekerjanya. Tapi karena kau bodyguard pribadi nona Poo, jadi kau tinggal tepat dibelakang rumah tuan. Kalau kau mau sarapan atau apa. Kau bisa memberitahuku dan aku akan melayanimu."
"Terima Kasih"
Laksmi tersenyum sebelum kemudian meninggalkanku untuk membereskan barang-barangku dirumah baruku.
Hari sudah malam ketika aku selesai merapikan semua barang-barangku ditempat baruku.
Aku hendak mau mandi ketika ada yang mengetuk pintu rumahku.
Ketika kubuka, aku lagi-lagi terkejut.
"Hai!" sapa Pooja dengan senyumnya yang manis. Ditangannya ada sebuah piring.
"Hai. Apa yang kau lakukan disini?" tanyaku
"Mengantarkan makanan buatmu." Jawabnya sambil menyodorkan makanan yang ditangannya kepadaku.
"Terima Kasih Pooja. Tapi kau tidak perlu repot-repot sampai mengantarnya kesini. Apa nanti yang dikatakan ayahmu?" aku khawatir. Ayahnya pasti tidak suka semua ini. Anaknya bukanlah pembantuku. Justru aku yang harusnya melayani Pooja.
"Sudahlah. Tidak apa2. Ayahku baru saja pergi. Katanya ada panggilan dari kantor. Dan aku hanya ingin mengobrol denganmu. Apa itu tidak diizinkan? Atau kau terganggu dengan kedatanganku?" Tanya Pooja dengan raut wajah kecewa.
Aku tidak enak melihatnya seperti itu. Gadis cantik seperti dia tidak boleh terluka seperti itu. Jujur aku sangat ingin bicara dengan Pooja. Tapi aku harus sadar, aku hanyalah bodyguardnya. Aku bukan temannya. Dan lebih baik seperti ini. Jangan sampai ada muncul perasaan antar kami berdua. Karena itu hanya akan menyakiti kami satu sama lain.
"Pooja, begini kau taukan aku hanyalah bodyguardmu?" Pooja mengangguk.
"kau tau aku tidak bisa berteman denganmu. Aku yakin kau juga tidak dizinkan bicara sama bodyguardmu oleh ayahmu. Aku bahkan belum mulai bekerja. Pikirkan apa kata pekerja ayahmu yang lain nanti. Kau tidak seharusnya disini saat jam segini. Jadi akan lebih baik kau masuk saja kerumahmu dan melakukan sesuatu yang lebih baik daripada disini bersamaku." Aku menjelaskan kepada Pooja dan memerhatikan wajahnya.
Ini sangatlah sulit, aku sama sekali tidak ingin melihat kesedihan dimatanya. Tapi ini merupakan hal terbaik buat kami berdua.
"Baiklah. Maaf sudah menganggumu. Selamat malam." Nada suaranya terdengar sangat terluka. Ia menatapku lama sebelum akhirnya berbalik dan masuk kerumahnya.
Aku terus memandangi kepergiannya.
Tuhan, apa yang kau rencanakan padaku? Aku baru saja mau memulai kehidupanku disini. tapi kenapa sudah serumit ini. Ucapku dalam hati.
Dengan rasa bersalah, aku masuk kembali kerumahku.
Next Chapter Pooja POV.
Follow Instagramku : ShapooFanfiction. Untuk tau kapan update chapter berikutnya. Kalian juga bisa kasih saran atau apapun tanggapan kalian mengenai ceritaku dengan komen disini atau komen di akun IGku.
Terima Kasih.
