MAAF NGEUPDATENYA TELAT. SIBUK SOALNYA DAN TERIMA KASIH SUDAH BACA CERITAKU.


Chapter 3

Pooja POV

Dengan perasaan terluka, aku membanting pintu kamarku dan langsung membenamkan wajahku dibantal.

"Bodoh sekali kau Pooja." Gerutuku, mengingat apa yang baru saja terjadi. "Dia sangat tampan dan keren. Mana mau dia bersama dengan gadis naïf seperti kamu. Kamu hanya mempermalukan dirimu sendiri" aku memukul kepalaku dan bicara sendiri dengan diriku.

Yang tadi sangatlah memalukan. Aku yakin sebenarnya dia menolakku karena dia tidak suka denganku. Dia pasti sudah punya pacar, makanya dia menghindariku seperti itu. Dia hanya berusaha menolakku secara halus. Makanya Ayahku dijadikan alasan. Tapi tetap saja itu sangat menyakitkan.

Padahal pertama kali melihat wajahnya tadi sore, aku sangat yakin kalau dia bisa menjadi lebih dari bodyguard denganku. Tapi ternyata aku salah. Aku memang terlalu bodoh. Aku terlalu terpesona dengan ketampanannya sampai aku mau melakukan hal yang membuatku malu dan terlihat menyedihkan didepannya.

Tapi jujur, dia sangatlah sempurna. Aku masih ingat jelas apa yang terjadi tadi sore di ruang tamu. Saat pertama kali aku melihatnya. Pada saat dia berbalik dan menatapku untuk yang pertama kalinya.

Astaga, wajahnya sangatlah tampan. Bibirnya, hidungnya, alisnya, semuanya sangatlah sempurna. Tapi dari semua kesempurnaan itu, matanya yang menjadi bagian favoriteku. Aku tidak akan pernah bosan untuk melihat dan menatap mata indahnya.

Dan ketika kami bersentuhan, aku merasakan seperti aliran listrik dan darahku mengalir sangat kencang. Aku tahu dia juga bisa merasakannya, makanya dia menarik tangannya dari genggamanku.

Uhhhh.. sudah Pooja, berhentilah memikir seseorang yang bahkan tidak tertarik padamu. Ucapku dalam hati. Dia jelas-jelas memilih untuk tidak berhubungan denganmu. bahkan dia tidak mau berteman denganmu.

Dengan perasaan masih kesal dan terluka, aku berusaha untuk tidur. Dan berhenti memikirkannya.

Keesokan harinya…

Aku bangun dengan perasaan yang sudah mulai membaik.

Hari ini aku memilih untuk memakai tank top berwarna merah, jacket Balenciaga, jeans dan sneakers. Setelah merasa puas dengan penampilanku, aku turun kebawa buat sarapan.

"Dimana Shaheer?" tanyaku kepada Laksmi saat tiba didapur. "aku harap dia tidak lupa kalau hari ini dia sudah bisa menjadi bodyguardku" aku memandang sekeliling dapur, mencarinya tapi dia tidak tampak.

"Dia sudah berada di samping mobilmu, dia sudah siap dari 30 menit yang lalu. Sekarang tinggal menunggumu selesai sarapan" jawab Laksmi sambil menumpahkan susu kegelasku.

"Apakah dia sudah sarapan?" tanyaku dengan suara pelan.

"Iya nona, aku sudah membuatkannya sarapan tadi". Laksmi tersenyum menatapku. tatapan dan senyumnya sangatlah aneh. tidak seperti biasanya.

"Apa?" tanyaku tidak suka melihat senyumnya. "kenapa kau melihatku seperti itu?" aku melirik pakaianku, takut terlihat konyol dan bahkan mencondongkan wajahku kesamping untuk dapat bercermin di pintu lemari es. hanya untuk memastikan kalau tidak ada yang salah.

"kau terlihat sangat cantik nona Poo." Laksmi memegangi wajahku. "tidak ada yang salah" ucapnya masih tersenyum.

"terus kenapa kau memandangku seperti itu?" tanyaku masih penasaran. Aku menatap Laksmi menunggu jawaban yang sejujurnya.

"aku hanya terkejut dengan sikapmu. Tidak biasanya kau menanyakan tentang bodyguardmu seperti ini". Jawabnya sambil mengelus-elus rambutku.

aku berdiri, dan menarik tangan Laksmi dari rambutku.

"yang benar saja, aku hanya berusaha bersikap baik. Itu tidak berarti apa-apa bibi" jawabku, sedikit berbohong. Tapi kuliat Laksmi hendak membantah tapi aku tidak membiarkannya bicara.

"sudahlah bibi, aku mau ke kampus sekarang. Tasmeen dan Meenama pasti menungguku di tempat parkir kampus sekarang" aku merapikan kembali bajuku dan hendak keluar dari dapur tapi kemudian teringat sesuatu. aku berbalik kembali ke arah Laksmi.

"Oh iya bibi, apa Ayahku pulang semalam.?" Tanyaku, karena dari semalam belum melihat Ayah. Kulihat juga kunci mobilnya tidak ada tergantung di samping lemari es.

"Belum Nona. Mungkin siang ini dia akan pulang." Jawab Laksmi, membereskan meja makan.

Aku hanya mengangguk dan meninggalkan dapur.

Sampai di pintu depan aku mendapati Shaheer sedang mengobrol dengan tukang kebun ayahku. Mereka tampak asik sampai tidak menyadari kedatanganku.

Aku berjalan dan berdiri tepat dibelakangnya. Dari tempatku berdiri, aku bisa mencium bau parfumenya. Dan sialnya, aku malah suka dengan bau itu. Wanginya membuat moodku membaik.

"Oh Maaf nona Poo. Aku tidak bermaksud menahan bodyguardmu dan membuatmu menunggu". Kata tukang kebun ayah yang bernama Jesin, ia menjadi orang pertama menyadari kehadiranku.

Shaheer berbalik dan menatapku dengan ekspresi sama persis seperti Jesin. Mungkin dia juga merasa bersalah telah membuatku menunggu.

"sudahlah tidak apa-apa. Aku baru saja selesai sarapan" sahutku kepada Jesin dengan nada ramah dan senyum hangat. Aku kemudian menengok ke arah Shaheer "Okay, sekarang aku siap ke kampus."

Aku menunggu Shaheer membukakan pintu untukku. Aku sebenarnya bisa membuka pintu mobil untukku sendiri.

Tapi, Ini kan yang dia minta? Tidak ada pertemanan hanya hubungan antar bodyguard dan bosnya. Aku melakukan apa yang dia mau.

"Silahkan masuk." Katanya sambil memegangi pintu mobil untukku.

Aku memandangnya sesaat dan dia sama sekali tidak mau menatapku. Laki-laki ini memang membuatku gila. Aku harusnya tidak terpengaruh dengan tampangnya.

"Come on, Pooja… be a true lady!" ucapku pelan menyemangati diriku sendiri.

"Apa kau bilang sesuatu?" Tanya Shaheer tiba-tiba. Shit! Ternyata dia dengar. Bodohnya aku!

"Tidak." Jawabku datar dan langsung masuk kedalam mobil.

Shaheer duduk didepan bersama dengan supirku dan aku sendiri di belakang. Aku memandang keluar jendela. Dan berusaha menjernihkan pikiranku.

Tak lama kemudian kami tiba dikampus. Aku melihat Tasmeen dan Meenama di tempat parkir samping mobil merka. Dan langsung berlari menuju kesana. Aku bahkan tidak menunggu sampai Shaheer membukakan pintu untukku. Mesin mobilpun belum berhenti saat aku keluar.

"Oh, look who's coming..!" sahut Tasmeen sambil memelukku.

Aku tertawa, karena mereka selalu mengejekku bahwa aku celebrity dikampus ini. Mereka benar-benar konyol.

"Eh kau liat yang disana?" aku menoleh ke arah yang dikatakan Meenama "Damn, what happens?. Whats with the crowd?" aku memperhatikan dengan seksama. Dan melihat…

"OH SHIT!" ucapku dan aku langsung berlari kearah kerumunan orang.

"Whats wrong Poo?" Aku bisa mendengar teriakan Tasmeen dan Meenama yang juga ikut lari dibelakangku.

"Move along girls… give me some space please". Teriakku berusaha menerobos kerumunan cewek-cewek kampus.

Tapi bukannya diberi jalan, hidungku malah terkena siku seseorang. Dan sumpah rasanya sakit sekali. Aku memegangi hidungku yang terluka dan shock melihat darah ditanganku. Aku memandang lurus kedepan dan melihat Shaheer menatapku dengan ekspresi marah

Dan kemudian...

"Freaking Enough guys." Bentaknya dengan emosi yang tidak dapat dibendung lagi. "Look, what have you done." Shaheer menunjuk kearahku. Matanya penuh dengan kegeraman.

Dan semua cewek yang disekitarnya terdiam dan memandangiku. Shaheer, mendorong beberapa gadis dengan lembut agar bisa menghampiriku.

"Are you okay?" tanyanya. ekspresinya kini berubah menjadi ekspresi cemas. . Tangannya yang satu memegang pundakku dan yang satunya lagi memegang wajahku. matanya bertanya-tanya. memastikan bahwa aku baik baik saja atau tidak. kami saling memandang.

Pada saat yang sama, Tasmeen dan Meenama juga tiba berada disampingku.

"OMG POO, you're bleeding. Who did this too you?" Mereka berdua sangat cemas. Dan melihat ke Shaheer.

"Siapa kamu?" Tanya Tasmeen, memandangi Shaheer. Tapi Shaheer tidak peduli sama apa yang terjadi disekitarnya. dia terus menatapku dan memperhatikan hidungku yang berdarah.

"Nona Poo, ayo kita kerumah sakit." Kata supirku yang tiba-tiba juga ikut muncul.

"No. I'm okay. Pendarahannya sebentar lagi akan berhenti kok" jawabku berusaha menahan darah yang keluar menggunakan tanganku. Tapi Shaheer menahan tanganku dan malah menggunakan tangannya untuk menahan darahku.

"Tidak Pooja, kita harus kerumah sakit." Sahut Shaheer membantah keinginanku. Aku memandangnya dengan ekspresi tidak suka. Tapi dia terus melihat kehidungku yang berdarah.

"sudahlah. Its nothing serious. I don't want to miss the class today. I will be fine later." Kataku keras kepala.

"At least let me check up it first. Okay?" bentaknya yang sekarang memandangku. Dia terlihat sangat khawatir.

Semua orang disekitar kami hanya terdiam melihat kami yang sedang berargumen seperti itu. aku tahu Shaheer khawatir karena ini mengenai keselamatanku. Tapi aku tidak mau ini dibesar-besarkan, sampai harus kerumah sakit segala. Ayah nanti akan sangat khawatir kalau mendapat telfon dari pihak rumah sakit. Dan ujung-ujungnya Shaheer akan dipecat karena tidak sigap menjagaku. Aku tidak mau itu. dia bahkan baru saja menjadi bodyguardku.

"Okay." Aku menyerah berargumen dengannya "but please, don't take me to the hospital. Aku punya kotak P3K di mobil. Kau bisa mengobatiku didalam mobil." Pintaku, dengan ekspresi memohon.

Shaheer mengangguk "Ok. Lets go to the car."

Shaheer berjalan disampingku sambil memegangi bahu dan hidungku. Disisi lain, Tasmeen dan Meenama ikut bersama kami. Sedangkan mahasiswa yang lain memberikan kami jalan.

"aku masih tidak mengerti, siapa sebenarnya laki-laki hot yang ada disamping Pooja." Aku mendengar ucapan Meenama kepada Tasmeen. Aku hanya tersenyum. Tapi mereka tidak bisa liat karena tangan Shaheer yang besar menutupi mulutku juga.

Sesampainya dimobil, Shaheer langsung menempatkanku dikursi belakang dan duduk disampingku. Sedangkan Tasmeen dan Meenama berdiri disamping pintu mobil yang terbuka. Aku bisa melihat beberapa cewek berusaha untuk melihat apa yang terjadi didalam mobil, tapi Tasmeen sadar, dan mulai menghalangi pandangan mereka dengan berdiri tepat di depan pintu yang terbuka.

Supirku memberikan kotak P3K-nya kepada Shaheer dan dia meletakkannya di pangkuannya. Setelah itu mengambil kapas dari kotak dan mulai membersihkan hidungku.

"awww…." Rintihku kesakitan saat dia mengusapkan kapasnya.

"Maaf." Sahutnya terdiam sejenak. "apakah sakit sekali?" tanyanya memastikan. Ia memandangku. Dan aku membalas tatapannya.

Wajah kami hanya berjarak beberapa centi. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya diwajahku. Tanpa bicara, aku hanya menggeleng. Sebenarnya memang tidak terlalu sakit. Aku hanya kaget waktu pertama kali kapasnya menyentuk kulitku.

Tangannya yang satu memegang wajahku, menahan supaya aku tidak bergerak dan yang satunya terus membersihkan. Wajahnya sangat serius dan itu terlihat lucu bagiku. Tanpa sadar aku tersenyum.

"apanya yang lucu?" tanyanya tiba-tiba, berhenti dan memandangku penasaran.

"tidak ada." Bohongku.

Dia melanjutkan mengusap wajahku.

"Okay sudah selesai. Sekarang kau sudah terlihat cantik seperti sebelumnya." Katanya menunduk untuk membereskan kapas-kapas bekas darahku yang ada di pangkuannya.

"menurutmu aku cantik?" Tanyaku dengan perasaan senang. Aku menatapnya dan menunggu jawabannya

"Iya Pooja. Tentu saja kau sangat cantik. Aku yakin semua laki-laki dikampus ini menyukaimu. Makanya Ayahmu sangat melindungi sampai menyewakanmu seorang bodyguard." Jawabnya sambil menatapku dan meletakan tangannya di rambutnya. Dia terlihat malu. Apa maksud dari sikapnya ini. Entahlah.

"katamu seperti itu, tapi liat apa yang baru saja terjadi. Kau malah yang di kerumuni cewek-cewek kampus ini." Sahutku dengan nada menggodanya. "ngomong-ngomong, kenapa ini bisa terjadi? Apa yang kau lakukan sampai membuat mereka liar seperti itu." tanyaku penasaran.

"aku sendiri tidak tau. Saat aku mengejarmu yang turun tiba-tiba dari mobil, seketika itu juga mereka datang menghampiriku. Aku sendiri sangat kaget." Jawabnya dengan ekspresi terkejut "apakah aku seganteng itu sampai mereka tidak bisa membedakan mana yang bintang bollywood dan mana yang bodyguard." Lanjutnya dengan nada bercanda.

"kau memang tampan." Sahutku malu-malu dan memalingkan wajahku supaya dia tidak tau kalau aku mengaguminya.

Setelah lama tidak berkata apa-apa, aku menatap kembali Shaheer dan dia hendak ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi karena Meenama keburu menyela.

"Kau siapa sebenarnya? Apa yang kau lakukan dikampus kami dan kepada Pooja kami?" mereka menatap Shaheer dengan sangat serius.

"Aku bodyguard baru Pooja kalian" Jawabnya jujur, dan kemudian mengulurkan tangannya kepada mereka untuk berjabat tangan. "aku Shaheer. Senang bertemu kalian berdua." Tambahnya.

Meenama terdiam dan Tasmeen menjabat tangan Shaheer.

"Kami adalah sahabat Poo, aku Tasmeen dan ini adalah…." Dia menyiku Meenama yang terdiam seperti idiot.

"Oh aku Meenama. Senang bertemu denganmu juga Shaheer." Jawabnya masih syok.

Shaheer hendak mau keluar dari mobil dan aku melihat jamku.

"Oh Shit!" sahutku dan mereka memandangku. "guys, the class will be start in 2 minutes. Sekarang sebaiknya kita segera ke kelas." Aku turun dari mobil. Sedangkan Tasmeen dan Meenama sudah lari menuju kelas.

Aku juga ikut lari, tapi tiba-tiba berhenti dan berbalik ke Shaheer.

"kamu stay disini saja dulu. Don't ruin the college and classes. I will be out on the break time." Kataku dan kemudian tanpa menunggu respon dari Shaheer aku langsung berlari ke kelasku. menyusul Tasmeen dan Meenama.


NEXT CHAPTER SHAHEER POV.

Sekali lagi, kalau ada saran atau ide buat ceritaku silahkan komen atau review disini atau kalau susah. Di IGku juga boleh komen. Follow ShapooFanfiction