My Bodyguard. Happy Reading guys. ini versinya lebih panjang. sesuai permintaan kalian.
Chapter 4
Shaheer POV
Aku terus memandangi Pooja yang sedang berlari menuju kekelas pertamanya hari ini. Aku baru perpaling saat Pooja sudah berbelok kearah yang lain dan tidak kelihatan lagi.
Dengan perasaan mulai membaik, aku menghela nafasku. Kemudian memandang kesekitar. Sekarang tempat parkir kampus sudah sepi. Tidak ada kerumunan gadis-gadis atau mahasiswa lainnya. Mereka semua sudah masuk ke kelas mereka masing-masing.
"syukurlah" ucapku pelan kepada diriku sendiri.
Aku kemudian, masuk kembali kedalam mobil.
"Apa yang baru saja terjadi?" Tanya Shivam, supir Pooja yang juga hari ini sama terkejutnya denganku.
"Entahlah. Aku sendiri masih belum sepenuhnya sadar. Mereka semua tiba-tiba saja muncul dan mengerumuniku seperti aku ini adalah daging fresh" jawabku sambil menyandarkan kepalaku ke kursi mobil dan menutupi wajahku dengan kedua telapak tanganku.
Didalam hati aku berjanji, apapun yang terjadi hari ini tidak akan terulang lagi. Keselamatan Pooja adalah proritas utamaku. Takkan ku biarkan sesuatu terjadi kepada Pooja. Tidak peduli seberapa besar bahaya ancaman yang akan datang menggangu keselamatan Pooja.
"sudahlah" sahut Shiwam tiba-tiba dan meletakan tangannya di pundakku. Seakan memberikan semangat buatku "apapun yang terjadi hari ini, kita jadikan pelajaran saja. Harus lebih hati-hati lagi dan selalu sigap melindungi Pooja. Memang harus sedikit bersabar dalam menghadapi Pooja. Dia memang keras kepala, tapi aku tidak heran. Semenjak kematian ibunya, dia sedikit lebih nakal dari yang sebelumnya. Tapi walaupun begitu, jika kau sudah mengenalnya lebih baik, kau akan sadar betapa baik hati Pooja itu." sambungnya menjelaskan dan sekali lagi member semangat.
"Terima Kasih." Ucapku kepada Shivam.
4 jam kemudian, Pooja dan teman-temannya menghampiri kami di tempat parkir. Aku langsung turun dari mobil saat Pooja dan teman-temannya berada disamping mobil.
"bagaimana keadaanmu?" tanyaku sambil terus memerhatikan wajah Pooja. Memastikan dia sudah membaik atau tidak.
"I'm fine. Don't need to be worry that much." Jawabnya santai.
"syukurlah." Balasku kembali lega.
"kami mau makan diluar kampus." sahut tasmeen tiba-tiba kepadaku
aku menoleh kearah Tasmeen.
"okay. Silahkan masuk kemobil dan kami akan antar kalian." Jawabku sambil membukakan pintu buat mereka
Kami sampai disebuah Café bertuliskan Careto didepannya.
Aku turun dan segera membukakan pintu untuk Pooja dan teman-temannya.
"wah kau baik sekali" kata Meenama, saat sudah keluar dari mobil.
Aku hanya tersenyum.
"Oh sudahlah Meenama, itukan memang tugasnya untuk membukakan pintu buat Pooja." Ucap Tasmeen, yang kemudian merangkul Pooja. Dan berjalan menuju pintu kafe.
Aku mengikuti mereka dari belakang.
Setelah menemukan meja yang mereka inginkan. Mereka langsung memesan. Aku berdiri beberapa langkah dari tempat mereka duduk. Orang-orang yang lewat terus memperhatikanku. Beberapa gadis juga tersenyum menggodaku. Tapi aku memasang ekspresi datar dan terus menatap kearah Pooja dan teman-temannya.
Aku melihat Pooja saling berbisik dengan teman-temannya. Dan tak lama kemudian Pooja menengok ke arahku. Tatapannya seperti ingin memberitahukanku sesuatu. Tanpa basa-basi aku mendekati mereka dan berdiri tepat disamping Pooja yang sedang duduk.
"Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanyaku sedikit membungkuk supaya dia bisa mendengarkanku.
Pooja mengangguk
"Apa yang kau inginkan?" tanyaku lagi. Dari sudut mataku, kulihat Meenama dan Tasmeen kembali saling berbisik.
Pooja lalu berkata "Bisakah kau duduk dimeja kami? Karena kau berdiri disana sangatlah membuatku tidak nyaman"
Aku mengangkat alisku, tidak mengerti maksudnya apa. Kenapa bisa aku membuatnya tidak nyaman hanya dengan berdiri disana. Bukan kah semua bodyguard melakukan itu? dan aku tau, aku bukan bodyguard pertama Pooja. Jadi pasti dia sudah terbiasa dengan ini. Ini adalah sikap yang bodyguard tunjukan dalam mengerjakan tugasnya sebagai safe keeper right?
"Kau tidak sadar?" tanyanya lagi, dan aku hanya menggelengkan kepala masih belum mengerti.
"Kau berdiri disana hanya akan menimbulkan masalah lagi. Kau tidak liat gadis-gadis yang dari tadi memperhatikanmu. Dan karena kau terus menatap kea rah kami, beberapa dari mereka juga ikut menatap kami dan mulai membicarakan tentangmu dan aku sebagai orang yang dari tadi kau pandang terus. Jadi akan lebih baik kau duduk saja disini. Supaya kau tidak terlalu mencolok berdiri disana dengan pakaianmu dan ekspresi wajahmu yang datar dan kaku." Pooja menjelaskan. Tapi entah kenapa aku menangkap ekspresi tidak suka di wajahnya. Apa kah dia iri dengan gadis-gadis yang menggodaku? Entahlah. Yang jelas aku tidak boleh ke ge-eran.
"Baiklah" jawabku sambil menarik kursi yang ada didepan Pooja dan samping Tasmeen.
"Kau mau pesan apa?" Tanya Pooja sambil memperhatikan daftar menu makanannya.
"ehmmm.. aku…" ucapku terbata, ini tidak benar. Aku adalah bodyguardnya bukan teman atau keluarganya. Tidak berhak bodyguard ikut makan bersama bossnya dan teman-teman bossnya.
Pooja mengangkat kepalanya dari daftar menu dan memandangku. Alisnya terangkat untuk menunggu jawabanku.
"Pooja, kau saja yang makan bersama teman-temanmu." Jawabku akhirnya.
"Apa kau tidak lapar?" Tanya Meenama "Atau kau malu makan bersama kami? Oh Come on!"
"Tidak, bukan seperti itu… hanya saja…" sebelum aku menyelesaikan perkataanku. Pooja sudah diluan mengintrupsiku.
"Sudahlah. Kau adalah bodyguardku. Aku berhak memberimu makan. Lagian ayahku juga tidak pernah memberitahuku untuk tidak makan bersama dengan bodyguardku. Dan aku tau kau juga pasti butuh makan siang. Jadi apa lagi sekarang?" Tanya Pooja, kembali menatapku dengan tatapan keras kepalanya.
"anggap saja aku meneraktirmu makan karena kau mengobati lukaku tadi. Jadi impaskan?" sahutnya lagi, mengangkat bahunya.
Aku memandangnya. Berpikir, percuma saja membantahnya. Dia lebih keras kepala daripada aku. Dan lebih baik setuju kalau tidak, bisa sampai sore kami akan berargument seperti ini.
"Baiklah. Terserah kau saja. Aku akan makan makanan apapun yang kau pesankan." Jawabku menyerah.
Pooja tersenyum. Dan lagi-lagi hatiku berdebar kencang melihatnya tersenyum seperti itu. dia sangat mempesona dan cantik. Aku jadi teringat kejadian dimobil tadi saat aku mengobati lukanya.
Pada saat itu, aku sangat ingin menciumnya. Aku bisa merasakan nafasnya dibibirku. Wajah kami sangatlah dekat. Kalau bukan karena luka dan orang-orang disekitar kami, aku pasti sudah hilang kendali.
Astaga apa yang aku lakukan? Aku memikirkan tentang anak bosku sendiri. Aku benar-benar sudah gila. Dan hanya gadis polos dan cantik yang sedang duduk didepanku ini yang membuatku seperti ini.
Aku terus memandang Pooja. Dia tertawa lepas, memperlihatkan deretan gigi putihnya karena mendengar gurauan dari Meenama. Aku tidak tau apa yang mereka bicarakan. Tapi tawa Pooja membuatku tanpa sadar tersenyum kecil sambil terus menatapnya.
"Beritahu kami tentang keluargamu Shaheer" sahut Tasmeen tiba-tibadan menyadarkanku. Aku melepaskan pandanganku dari Pooja dan menunduk sejenak menjernihkan pikiran.
"Excuse me?" tanyaku kembali meminta dia mnegulang pertanyaannya.
Mereka bertiga menatapku dengan ekspresi heran. Tasmeen tiba-tiba tersenyum sambil melirikku. Aku tidak tau maksud dari senyumnya itu. dan ini mungkin menjadi yang pertama kali dia tersenyum kepadaku. Karena sejauh yang aku lihat, Tasmeen sedikit judes beda dengan Meenama yang periang dan selalu terlihat bahagia.
"Kata Tasmeen, ceritakan kepada kami tentang keluargamu." Kata Meenama mengulang kata-kata Tasmeen. Mereka bertiga masih menatapku. Kulihat Pooja, bersemangat. Seakan-akan keluarga penting buatnya.
"Apakah itu penting?" tanyaku, sambil meletakan kedua tanganku diatas meja. Aku memerhatikan setiap wajah mereka.
"Tentu itu penting. Kau adalah bodyguard Pooja. Itu berarti kau akan bersama Pooja setiap saat. Kami mau tau apakah kau berasal dari keluarga baik atau tidak. Dan apa kau bisa dipercaya menangani keselamatan Pooja?" Jawab Tasmeen dengan serius. Kulihat Pooja sedikit keberatan.
"Guys.. its.." tapi Pooja tiba-tiba dipotong perkataannya oleh Meenama
"Oh Come on Poo. Apa yang dikatakan oleh Tasmeen benar. Kita perlu tahu semuanya tentang dia. Bahkan tentang hubungan asmara dan siapa yang sedang dia pacari sekarang."
Meenama dan Tasmeen kembali menatapku.
"Tapi kalian tidak perlu mengintrogasi Shaheer seperti ini. Kalau dia tidak ingin menceritakan tentang keluarganya tidak apa-apa. Kita tidak boleh mememaksanya." Pooja masih merasa keberatan. Teman-temannya menatapnya dengan ekspresi tidak percaya.
Pooja mengangkat bahunya dan kemudian menyandarkan dirinya ke sandaran kursi. Kedua tangannya menutupi wajahnya. Dia mengusap wajahnya kemudian kembali menatapku.
"Tidak apa-apa Pooja. Aku akan menjawab pertanyaan mereka dengan senang hati kok." Kataku. Aku tidak suka melihat Pooja merasa tidak enak seperti itu.
Aku memberitahukan mereka tentang Keluargaku yang di Delhi. Aku menceritakan tentang Ayahku yang telah meninggal, ibuku, dan keluargaku yang lainya. Aku katakana kepada mereka kalau ibuku sangat senang memasak dan merupakan ibu terbaik didunia ini. Aku juga bilang kalau ibuku pasti akan sangat senang bertemu dengan mereka. Aku memberitahukan juga tentang kenapa aku menjadi bodyguard. Dan itu semua karena ingin meneruskan Ayahku.
Pooja dan teman-temannya sangat serius mendengarkanku. Dan beberapa kali kulihat Pooja tersenyum seakan-akan dia membayangkan langsung bertemu dengan ibuku dan orang-orang yang ku katakan
Tak lama setelah bercerita, makanan kami datang.
Pooja memesankanku spaggeti dan orange jus. Makanan kami sama. Sedangkan Tasmeen dan Meenama memesan burger dan pizza. Kami makan dengan lahap. Sampai-sampai Pooja tidak sadar ada saus spaggeti dipinggir bibirknya. Dan aku dengan bodohnya mengambil serbet milikku dan langsung melapkannya. Pooja terdiam dan menatapku kaget. Aku langsung menarik tanganku kembali.
"Maaf. That was rude." Jawabku sambil menunduk.
Pooja tidak mengatakan apa-apa. Tapi Tasmeen dan Meenama mengeluarkan suara batuk yang terdengar seperti menggoda. Shit! Betapa bodohnya aku.
Aku menangkat kepalaku dan melihat Pooja hanya tersenyum malu sambil memelototi teman-temannya. Teman-temannya hanya membalas dengan tertawa. Aku karena merasa awkward, langsung berdiri dari kursiku.
"Kau mau kemana?" Tanya Pooja.
"Toilet" jawabku singkat tanpa menatap Pooja dan langsung menuju Toilet.
Sampai ditoilet aku langsung mencuci mukaku yang terasa panas karena malu dengan apa yang tadi aku lakukan.
"Lets make a bet." Ucap seorang cowok yang berpostur tinggi dan memiliki brewok sepertiku. Dia bersama ke tiga teman-temannya sedang membicarakan seseorang. Kayanya seorang gadis.
Aku langsung keluar dari toilet karena mereka tertawa keras sekali dan itu sangat tidak enak didengar. Aku kembali ke meja yang tadi.
Saat duduk kembali, kelihatannya semuanya sudah kembali normal. Tidak ada godaan-godaan dari Tasmeen maupun Meenama. Dan Pooja juga sudah kembali bersikap seperti biasanya. Mereka bahkan asik membicarakan tentang film yang akan keluar 2 hari lagi.
"Hey Pooja." Sahut cowok yang tadi aku temui di Toilet. Dia dan bersama teman-temannya berdiri disamping meja kami. Semuanya tersenyum manis seakan mau mengoda ketiga cewek yang sedang duduk bersamaku.
"Hey Sam" jawab Pooja sambil tersenyum dan mengulurkan tangan. Si Sam mengengam tangan Pooja dengan erat dan lama sekali sambil masih tersenyum menggoda.
Dan entah kenapa aku sangat cemburu melihat ini semua. Aku terus menatap ke tangan mereka yang masih saling bertaut.
"Pooja, aku mau mengajakmu dan kedua teman-temanmu yang cantik ini untuk datang kepesta yang diadakan oleh kami malam ini. Kau bisa datangkan?" ucapnya sambil menatap Pooja, seakan-akan aku tidak dianggap.
Pooja, yang baik hati tentu saja menerima ajakan mereka. "Oh tentu. What time?" tanyanya
"perfect. Jam 8 di Breaking Club makam ini." Jawabnya "kau beneran akan datangkan?" tanyanya lagi berusaha memastikan.
Dan jujur, aku benar-benar tidak suka dengan semua ini. Mereka terlihat nakal dan berantakan. Pooja tidak seharusnya bergaul dengan mereka.
"yes, we will come." Jawab Meenama antusias.
"Okay ladies. See you there."
"Bye" sahut Pooja dan teman-temannya bersamaan. Dan setelah itu mereka pergi.
Aku memandangi kepergian mereka. Aku merasakan sesuatu yang tidak enak. Tapi apa ya? Perasaan apa ini? Aku bertanya-tanya dalam hati.
Dan berbalik ke Pooja dan teman-temannya lagi. Tapi mereka sudah sibuk membicarakan tentang pesta malam ini.
Aku hanya terdiam dan mendengarkan mereka saja. Menunggu sampai kapan baru mereka siap untuk pulang kerumah.
Tepat setelah makan malam. Aku berada di dapur bersama laksmi. Kemudian Pooja turun dari kamarnya menggunakan dress berwarna biru yang terlihat sangat indah ditubuhnya. Dress itu sampai di atas lututnya. Dengan leher bentuk V dan berlengan panjang. Rambutnya di urai dan blow bagian bawahnya. Dia juga menggunakan high heels warna hitam dengan tas seukuran buku tulis. Aku memandanginya kagum dan terpesona.
"kau mau kemana Nona? Kau terlihat sangat cantik." Sahut Laksmi sambil menghampiri Pooja. Aku yang masih terpesona tidak bergerak sama sekali dari tempatku berdiri.
"Ke pesta bibi. Katakana pada ayah, kalau aku mungkin akan pulang terlambat malam ini." Ucap Pooja. Dia kemudian, memendang ke arahku. "kau mau ikut atau mau stay disini?" tanyanya kepadaku.
"aku akan ikut denganmu." jawabku tersadar. "ayo, silahkan ke mobil." Aku melewati Pooja. Dan damn, aku mencium bau parfumenya yang sangat harum.
Aku membukakan pintu untuk Pooja. Dan kemudian langsung duduk dikursi driver.
"Mana Shivam?" Tanya Pooja. Aku memandangnya dari kaca yang ada dimobil.
"hari ini ulangtahun anaknya. Dan dia bersama keluarganya berencana makan malam bersama. Dan karena kau tiba-tiba mau kepestannya jadi dia tidak bisa mengantarkanmu mala mini. Tapi tenang saja, aku juga bisa mengemudi kok. Serahkan saja padaku." Jawabku. Dan menjalankan mesin mobil.
"Okay" jawab Pooja.
"kita tidak menjemput teman-temanmu?" tanyaku saat kita keluar dari gerbang kediaman Sharma.
"tidak. Mereka baru saja mengirimkan pesan kalau mereka sudah ada di sana." Jawab Pooja dengan perhatian tertuju ke handphonenya.
Aku terus meliriknya melalui cermin.
"kau tau dimana Breaking club kan?" Tanya Pooja.
"Yes. Aku sudah temukan melalu GPS alamatnya." Jawabku dan memandang lurus.
Setelahnya Pooja sudah tidak menyahut. Sampai kami sampai di Club yang di maksud.
Aku turun dan membukakan pintu untuk Pooja. Dari tempat parkir, aku bisa mendengarkan suara music yang sangat keras dari dalam Club. Pooja berjalan duluan dan aku mengikuti dari belakang. Tapi kemudian dia berbalik
"Please, don't stay too close to me tonight. I just want to enjoy the party." Ucapnya.
"Boleh aku Tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Berapa umurmu? Apa kau boleh masuk ke Club dan minum?" tanyaku penasaran. Disetiap negara pasti ada batasan legal atau tidak legalnya seseorang buat mencoba alkohol.
"22 tahun. Dan ya, aku sudah legal untuk minum kok. Aku juga punya ID card. Jadi tentu sudah bisa masuk ke Club." Jawabnya sedikit kesal.
"Bukan bermaksud meremehkanmu. Hanya mau memastikan saja Pooja." Ucapku membujuknya.
"Tidak apa-apa. Ayo masuk dan ingat ucapanku tadi."
Saat berada didalam Club. Keadaannya sudah sama persis yang aku dengan orang-orang yang bergoyang, minum, dan making out. Aku melihat Pooja dipeluk oleh Sam. Dan mereka saling tersenyum.
Hatiku benar-benar panas.
Dan kemudian aku teringat sesuatu.
Shit! Aku tau maksud dari bet (taruhan) dan orang yang mereka bicarakan tadi. Pasti ini mengenai Pooja.
Pooja dan Sam berdansa bersama di bawah lampu disko. Meenama dan Tasmeen juga tidak jauh dari Pooja. Mereka bersama teman-teman Sam.
Aku langsung menghampiri Pooja dan menarik tangannya.
"Apa yang kau lakukan?" ucapnya heran.
"Yes, apa yang kau lakukan? Kami sedang berdansa. Kau pergilah." Sahut sam sambil mendorongku. Tapi aku masih belum melepaskan tangan Pooja. Aku menoleh ke Pooja
"Pooja, Please. Ikut denganku. Mereka hanya mempermainkanmu." Ucapku terus menatapnya.
"Apa maksudmu? Shaheer, tinggalkan kami." Pooja berusaha menarik tangannya dari gengamanku.
"dude, who ar you and what do you want? Go find another woman please" Sam kembali mendorongku. Dan emosiku benar-benar sudah tidak bisa dibendung lagi. Aku melepaskan kedua tangan Pooja dan merengkuh kerah baju Sam dengan kedua tanganku.
"APA KAU PIKIR AKU TIDAK MENDENGARKAN UCAPANMU TADI SIANG DIA TOILET?" bentakku didepan wajah Sam. Dan dia terlihat ketakutan. Tapi aku tidak peduli.
"SHAHEER!" teriak Pooja disampingku. Dia berusaha untuk melepaskan gengamanku dari kerah baju Sam.
"aku tidak mengerti apa yang kau maksud." Ucap Sam. Berusaha terlihat tidak berdosa.
"SHAHEER! Please lepaskan dia. Kau liat semua orang sedang melihat kita. Please jangan berbuat yang tidak-tidak." Pooja masih terus memintaku. Aku melihat sekeliling dan benar saja, orang-orang sedang menonton kami.
"Tida Pooja, tidak sampai dia mengakui rencananya." Jawabku. Aku kembali menatap Sam. Dan mempererat gengamanku.
"FUCKING SAY IT DUDE OR YOU WILL REGRET" Bentakku lagi. Aku sudah tidak tahan lagi karena dia masih saja berpura-pura polos dimata Pooja. Aku kemudian hendak ingin memukulnya. Tapi kemudian
"OKAY!" teriaknya ketakutan. "aku akan mengaku kalau sebenarnya saya dan teman-teman saya telah membuat taruhan siapa yang akan bisa memacari Pooja Sharma, anak dari kepala kepolisian Surinder Sharma." Ucap Sam, akhirnya mau mengaku.
Aku melihat kea rah Pooja. Dan ekspresinya campur aduk. Antara marah, terluka dan merasa terhina.
Dan tiba-tiba
PLAAAAK….
Pooja menampar Sam. Dan kemudian langsung pergi. Aku melepaskan Sam dan ikut mengejar Pooja. Kulihat Tasmeen dan Meenama juga ikut menampar Sam dan teman-temannya. Mereka sangat marah. Aku tidak peduli, aku hanya peduli dengan Pooja sekarang ini.
Aku melihat Pooja sekitar 10 meter dariku. Dan dia berbelok kesebelah kanan. Aku berlari untuk mencapainya.
Saat sudah dekat, aku menangkap tangannya. Dan memutar balik badan Pooja agar bisa berhadapan denganku.
"Pooja, kau mau kemana?" tanyaku lembut. aku melihat matanya yang penuh dengan airmata. Dan hatiku sakit melihatnya.
"tinggalkan aku sendiri please.." Pooja berusaha menarik tangannya. Sedangkan tangannya yang satu mendorongku.
"tidak Pooja. Ayo kita kembali kemobil dan akan ku antar kau pulang." Aku berusaha membujuknya.
"Tidak." Ucapnya dengan bercampur tangisan.
"Pooja, jangan buat aku harus memaksamu. Aku akan menggendongmu kalau kau masih keras kepala seperti ini. Memangnya kau mau kemana? Jalan kaki? Apa kau sebodoh itu Pooja? Dan kenapa kau menangis? Laki-laki seperti dia tidak berhak mendapatkanmu." Bentakku. Pooja menatapku dengan kesal. Airmatanya sudah berhenti dan aku senang. Karena memang Sam tidak berhak untuk ditangisi.
"Aku memang bodoh. Tidak ada satupun laki-laki yang mau bersamaku karena kebodohanku. Aku tidak berhak mendapatkan pacar. Karena aku bodoh, tolol, naïf, ceroboh…." Gerutunya. Sambil terus menjelek-jelekan dirinya sendiri. Aku tidak mau dia menjelek-jelekan perempuan yang aku kagumi dan mulai aku sayangi.
Dan aku tidak peduli dengan ucapannya, aku membungkuk ketanah saat dia masih terus bicara dan langsung menempatkannya di bahuku. Tanganku yang satu memeluk bagian bawah dressnya sedangkan yang satunya memeluk betisnya. Kepalanya berada dibelakangku.
"AHHHH APA YANG KAU LAKUKAN" teriaknya, sambil memukul-mukul belakangku. "turunkan aku!"
"Tidak" Jawabku. Dan mulai berjalan menuju mobil.
Baru beberapa langkah, Pooja berhenti memukulku tapi tangannya malah memeriksa kantong celana belakangku dan mengambil handphoneku kemudian menjatuhkannya ke trotoar. Aku kesal dengan sikapnya dan melihat gang kecil disamping tempat penyewaan DVD. Aku menuju ke gank tersebut. Dan memastikan tidak ada yang melihat kami. Gangnya gelap, tapi ada cahaya lampu yang berasal dari penyewaan DVD tersebut.
Menurunkan Pooja, dan mendorongnya dengan lembut ke dinding gang. Kedua tanganku berada samping kepalanya. Dan aku memajukan kepalaku ke kepalanya. Pooja shock dan memandangiku. Kami saling memandang dan aku meletakan dahiku kedahi Pooja.
"Apa .. yang … kau .. lakukan?" tanyanya. Nafasnya berat tapi tidak ada rasa takut dimatanya.
Dan itu membuatku berani untuk melakukan ini…
Aku mencium bibir Pooja. Tapi dia diam dan matanya terpejam. Aku juga memejamkan mataku dan terus menciumnya. Sampai aku merasakan bibirnya ikut bergerak dan dia membalas ciumanku. Kedua tangannya memeluk leherku. Dan aku memeluk pinggangnya. Aku mendekapnya. Tangan Pooja menjambak rambutku. Dan aku mendorong tubuh kami yang saling menempel ke dinding. Kami terus berciuman sampai kami susah bernafas dan aku menarik bibirku dari bibir Pooja. Pooja masih memejamkan matanya. Dan bibir yang baru saja aku rasakan, terangkat dan Pooja tersenyum. Tidak tahan melihat senyumannya, aku mengecup bibirnya beberapa kali dan kembali menempelkan dahiku ke dahinya.
"Pooja, kau benar-benar bodoh dan naïf. Kau mau tau siapa laki-laki yang sangat ingin bersamamu?" tanyaku. Pooja mengangguk dan menatapku dengan wajah penuh kelembutan.
"Aku Pooja." Jawabku, jujur. Aku memandanginya. Takut kalau misalnya dia tidak menyukaiku seperti aku menyukainya. Tapi yang kulihat hanyalah kasih sayang. Mudah-mudahan aku tidak salah.
"aku seharusnya tidak boleh menginginkanmu. Tapi sejak kemarin, saat kita pertama kali bertemu. Kau selalu saja ada dipikiranku. Aku tau ini mungkin kedengarannya konyol atau apa. Tapi jujur, aku merasakan seakan-akan aku sudah mengenalmu lama. Dan hatiku selalu berdebar setiap kali melihatmu dan juga merasakan rasa sakit didadaku kalau melihatmu bersama laki-laki lain." Kataku jujur. Mengutarakan yang aku rasakan. Tidak peduli kalau aku melanggar atau baru saja kenal dengannya. Kami akan menghadapinya bersama-sama.
"aku juga Shaheer. Aku merasakan apa yang kau raakan. Aku sangat cemburu kalau melihat para gadis-gadis melirikmu. Karena aku mau memiliki untukku sendiri. Aku tidak mau membagimu dengan orang lain. Dan aku kira sikapmu yang dingin Karena kau membenciku atau kau sudah punya pacar" ucap Pooja. Sambil terus mengelus-elus pipiku dengan lembut. matanya menatapku dan aku tidak percaya ini terjadi.
"Pooja, kau tahu kan kalau aku telah melanggar semuanya. Kau anak dari bosku. Aku harusnya tidak boleh berhubungan denganmu. tapi aku masih keras kepala."
"kita berdua sama-sama keras kepala." Sahut Pooja mencela.
"apa kau tidak keberatan dengan semua ini?" tanyaku
"Tentu tidak. Kita akan menghadapinya bersama-sama. Aku akan bilang ke ayah tentang kita." Ucap Pooja. Terus memandangku.
"tidak sekarang Pooja. Biarkan dulu aku membuktikan kepada orang-orang kalau aku berhak memilikimu. Kalau aku bisa menjagamu dan membahagiakanmu. Jadi untuk sekarang biarkan ini menjadi hubungan kita berdua. Tidak usah diberi tahu siapapu. Hanya kau dan aku." Saranku. Aku bukannya takut atau apa. Tapi aku benar-benar ingin membuktikan kalau aku berhak bersama Pooja. Aku ingin memperlihatkan kepada Pak Surinder dan yang lain kalau Pooja akan terus aman dan bahagia bersamaku.
Pooja mengerti maksudku. "kau benar. Aku setuju." Jawabnya.
"baiklah, ayo kita kembali." Ajakku, dan mengulurkan tangan ke Pooja.
"tunggu dulu." Katanya
"Apa Pooja? Apa kau mau menarik ucapanmu?" tanyaku takut. Aku tidak mau kehilangan gadis cantik dan polos serta baik hati ini.
"Tidak. Aku hanya mau bilang, kita pacaran sekarangkan?" tanyanya. Aku mengangguk, mengiyakan. "kalau begitu, aku juga boleh memegang tanganmu, memeluk dan menciummu kapanpun aku maukan?" tanyanya lagi dengan senyum ini memang kelemahanku.
"Iya Pooja. Kau pacarku. Dan aku juga akan mengajakmu kencan, nonton, dan melakukan hal-hal yang menyenangkan denganmu." jawabku. Sambil membelai-belai rambutnya.
"Okay. Ayo kita pergi." Sahutnya antusias.
Kami berdua meninggalkan gang yang menjadi saksi penyatuan kami.
Kami terus bergandengan tangan dengan Pooja sampai tempat parkir.
Dan kami melihat Meenama dan Tasmeen. Pooja sadar dan melepaskan tangannya dari genggamanku.
Aku berjalan dibelakang Pooja dan dia menghampiri teman-temannya.
Mereka pasti hanya ingin memastikan kalau Pooja baik-baik saja.
Setelah mereka tahu Pooja tidak kenapa-kenapa. Kami pamit pulang dan meninggalkan mereka.
NEXT POOJA POV YA.
Jangan lupa follow dan kasih tanggapan atau saran untuk ceritaku ke ShapooFanfiction.
Bagi yang sudah baca makasih ya, maaf updatenya selalu telat. Terus jangan lupa kasih tau yang lain juga. Supaya makin banyak yang baca. Aku makin semangat menulis. Terima kasih. #muchlove #shapoovers
