Maaf ngepostnya telat. habis ujian dan liburan. jadi menulisnya sempat berhenti.
hope you enjoy the new chapter.
POOJA POV
Aku masuk naik ke kamarku dengan perasaan sangat bahagia. Aku tidak tau kapan aku pernah sebahagia ini. Dan ini semua karena Shaheer. Dia ternyata juga menyukaiku. Walaupun kami baru bertemu kemarin. Tapi aku sudah menyukainya sejak itu. aku tau ini gila, karena aku berpacaran dengan orang yang baru saja aku kenal. Tapi who cares? It's Shaheer. Dan aku sudah yakin kalau dia adalah orang baik. Dia juga berasal dari keluarga yang baik. Sama seperti ayahnya yang juga menjadi bodyguard untuk melindungi orang lain.
Aku kira sikapnya yang pertama dingin, karena dia tidak menyukai. Tapi itu semua karena dia juga berusaha mengendalikan perasaannya terhadapku. kami berdua adalah pasangan paling aneh didunia ini. Tapi kami tidak peduli. Yang terpenting sekarang adalah kami telah saling memiliki.
Dan ini untuk pertama kalinya aku berpacaran dengan seorang bodyguard. But Shaheer is not just a bodyguard to me. He's my happiness and my life safer
Aku bangkit dan langsung membersihkan wajahku di kamar mandi. Aku melihat gambar diriku dicermin. Pooja yang sekarang terlihat lebih hidup dan sangat bahagia dari Pooja yang tiga hari lalu. Dan lagi-lagi aku memikirkan Shaheer.
"OMG, he's my boyfriend now. I have a hot boyfriend. Thanks so much God." Ucapku sambil terus menatap kecermin. Senyum merekah lebar dan hatiku berasa mau meledak saking bahagianya. Aku kembali membayangkan ciuman pertama kami. Walaupun aku sudah pernah berciuman sebelumnya dengan orang lain. Tapi ciuman tadi sangatlah berbeda.
Shaheer memperlakukanku dengan sangat baik. Ciumannya juga sangat lembut. aku masih bisa merasakan bekas bibirnya di bibirku. Dan sebelum aku naik kekamar tadi, dia memelukku erat dan mencium kening kemudian mengucapkan selamat malam untukku.
"YESSSSS" Teriakku bahagia.
Aku mulai menari-menari di kamar mandiku. Aku benar-benar terlihat bodoh, siapapun yang melihat tingkahku sekarang akan berpendapat kalau aku memang sudah gila.
"HAHAHAHAHA" tawaku, menertawakan diriku sendiri.
Setelah puas menari-menari tidak karuan , aku membersihkan wajahku dan mengganti bajuku kemudian naik ke tempat tidur.
Aku mengambil handphoneku dan mengirimi Shaheer pesan. Tadi saat diperjalanan pulang, kami saling bertukaran nomor hape. No Shaheer tersimpan di hapeku atas nama My Boyguard. Sedangkan nomorku di hapenya tersimpan dengan nama my beautiful girl. Haha
Good night. Sleep tight and see you tomorrow. - P
Tak lama kemudian, aku mendapatkan balasan
I just thought about you. Good night. Sweet dreams and see you tomorrow. - S
Aku hanya tersenyum membacanya. Dia bilang dia baru saja memikirkanku. Aww ! betapa beruntungnya aku. Teman-temanku, akan sangat cemburu kalau mereka tahu. Hihi
Aku mengecup layar iPhoneku, yang menampilkan pesan Shaheer.
Dan kemudian, mulai tertidur.
Hari-hariku bersama Shaheer sangatlah membahagiakan. Hari ini tepat sebulan kami jadian. Dan masih belum ada yang tahu. Termaksud teman-temanku. Kami berusaha sebisa mungkin menutupinya walaupun itu sangat susah Karena aku selalu ingin bersama Shaheer setiap saat. Aku tidak tahan untuk tidak mengengam tangannya kalau kami sedang berada di tempat ramai atau didepan ayah dan teman-temanku serta bawahan ayah juga.
Selama sebulan itu, kami telah melakukan banyak hal. Pergi nonton, bermain kreket, mengunjungi tempat-tempat indah di Mumbai, bahkan dinner bersama.
Dan untuk merayakan 1 bulannya hubungan kami, kami akan keluar untuk menghabiskan waktu bersama. Ayah sedang berada diluar kota. Jadi kami Aman. Laksmi juga tidak pernah melarangku keluar. Asalkan aku bersama dengan bodyguard dan yang ini yang mereka tidak tau. Kalau bodyguardku sendiri adalah pacarku.
Aku menatap bayangan diriku dicermin. Malam ini aku menggunakan jeans berwarna hitam, tanktop putih dan bleaser berwarna sama dengan celanaku. Aku mengikat rambutku dan menggunakan makeup yang tidak terlalu mencolok. Setelah merasa puas dengan tampilanku, aku mengambil sepatu sneakersku dan duduk di tempat tidur untuk bisa menggenakannya dikakiku.
Setelah itu, aku langsung turun kebawah. Aku bertemu laksmi di dapur dan berpamitan dengannya.
Saat berada dipintu depan, aku melihat Shaheer berdiri disamping mobil. Dan seakan dia mengetahui kehadiranku, dia langsung berbalik dan tersenyum manis. Aku membalas senyumnya dan menghampirinya. Saat kulihat dari dekat penampilannya, kami berdua saling tertawa.
Aku memerhatikan keadaan sekitar dan tidak melihat satupun bawahan ayah. Mungkin mereka sedang makan malam karena ini sudah waktunya. Aku mengambil kesempatan itu dengan menjinjit dan berbisik ketelinga Shaheer
"kita menggunakan pakaian yang matching. Bukankah ini luar biasa" ucapku ditelinganya. Dan Shaheer membalasnya dengan meletakkan tangannya dipinggangku dan menarik tubuhku sehingga bagian depan tubuh kami saling bersentuhan.
Kemudia Shaheer berbisik "hati kita satu." Jawabnya singat dan kemudian mengecup keningku. Dia melepaskan tangannya dari pinggangku dan aku menatapnya dengan senyum bahagiaku.
"Ayo berangkat." Ucapnya sambil membukakan pintu untukku. Tapi kalau kami sedang jalan berdua begini, bukan pintu belakang yang dia buka tapi pintu depan samping driver. Aku masuk dan dia juga segera masuk.
"kemana kita akan pergi?" tanyaku waktu dia menyalahkan mesin mobilnya.
"kau liat saja nanti." Jawabnya sambil menggengam tanganku dan mengecup tanganku. Hes being so sweet again.
Tak lama kemudian kami sampai disebuah tempat yang terlihat seperti taman atau hutan. Karena terlalu banyak pohon dan rumput-rumput.
"apa yang kita lakukan disini?" tanyaku sambil memperhatikan situasi diluar mobil.
"ayo turun. Kita sampai ditempat tujuan." Jawabnya
Aku melepaskan seatbeltku, dan Shaheer sudah berada disamping mobil dan memegangi pintu mobil untukku.
"thankyou" ucapku dan ketika kakiku menpaki tanah, Shaheer mengenggam tanganku dan kami berjalan memasuki hutan bersama.
"are you sure, nones gonna catch us?" tanyaku memeluk lengan Shaheer.
"it's okay. I've been prepared everything for us. Tonight is gonna be all about us. Me and you. So don't worry. I'm here and whenever you're with me, you will always safe." Jawabnya sambil memcium rambutku.
Kami terus berjalan selama 10 menit kedalam hutan dan ketika kami sampai ditempat yang telah shaheer siapkan. Aku merasa sangat terharu. Karena dia telah melakukan ini semua untukku.
Tepat didepanku sekarang, telah tersedia sebuah meja makan dan lengkap dengan makanannya. Lilin-lilin diatas meja membuat ini semua terlihat romantic dan indah. Bukan hanya itu saja, tapi ada juga danau yang membentang luas didepan kami. Cahaya bulan memancar terang mengenai air danau dan itu membuatnya semakin berkilau.
"kau suka?" tanya Shaheer, sambil memperhatikanku.
Aku menoleh ke arahnya "Yeah, aku suka. Suka sekali malah. Thanks somuch. Its so damn beautiful." Jawabaku sambil memeluknya.
Aku merasakan Shaheer membenamkan kepalanya di pundakku. Dan kemudian dia mencium leherku yang tidak tertutupi rambut karena aku mengikat rambutku.
"well, you are more beautiful than any of this." Shaheer menatap mataku dan aku melihat kebahagian dimatanya.
Aku mendekatkan wajahku dan Shaheer memperhatikan bibirku, aku kemudian menempalkan bibirku kebibirnya dan dengan mata tertutup aku bisa merasakan Shaheer tersenyum.
Shaheer mejauhkan kepalanya dari kepalaku
"Let's start eating the foods before it gets cold" sahut Shaheer. Ia menarik kursiku dan mempersilahkanku duduk. Setelah itu dia mengambil posisi tepat didepanku. Kami saling tersenyum dan Shaheer mengecup tanganku yang diatas meja.
"Thankyou again for all of this" sahutku, menatap mata indah Shaheer.
"You're welcome baby." Jawabnya tersenyum.
Aku mulai memakan makanan yang ada dipiringku. Dan rasanya benar-benar enak, aku tidak tahu darimana dia mendapat makanan selezat ini. Dia sendiri belum lama tinggal disini.
"dari mana kau mendapatkan makanan ini?" tanyaku, yang sambil meletakan gelasku kembali di meja.
"it's a secret." Jawab Shaheer dengan nada menggoda. Aku tahu, dia hanya ingin membuatku penasaran.
"Oh come on…!"
"kau tidak akan percaya kalau aku memberitahumu."
"Really?. Just tell me Shaheer." Pintaku. Dengan memasang wajah polos. Aku tahu dia paling tidak bisa menolak permintaanku dengan wajah puppy eyesku. Dia selalu bilang kalau itu kelemahannya.
"kau benar-benar wanita yang berbahaya. kau selalu tahu bagaimana cara untuk membujukku." Shaheer menggeleng-gelengkan kepalanya kepadaku, tapi aku tahu aku menang. Haha
"aku meminta Laksmi untuk membuatkan makanan ini." Jawabnya, dengan senyum lebar.
"OMG! Did you tell her that we're dating now?" Tanyaku, kaget dan kesal. Aku membuang mukaku, aku tidak ingin melihatnya sekarang. Bagaimana bisa dia memberitahukan Laksmi tanpa memberitahukanku lebih dahulu. Dia sendiri yang meminta agar hubungan kami dirahasiakan dulu untuk sementara waktu.
Tiba-tiba suara tawanya yang khas membuatku melihat kearahnya.
What now? Ucapku dalam hati. Apa dia sudah gila?
Aku terus memandanginya. Tapi dia masih tetap saja tertawa.
"stop it Shaheer." Aku makin kesal. Aku menyilangkan kedua lenganku didadaku dan berlagak seperti anak kecil yang sedang ngambek.
"Im sorry Pooja, you're face just too funny right now." Jawabnya masih tertawa.
"whatever" desahku sambil menyandarkan belakangku di kursi dan kembali menatap danau. Aku benar-benar sedang tidak ingin melihatnya. Dia konyol sekali. Lama-lama aku bisa menangis kalau begini. Seakan-akan dia menertawakan kebodohanku.
Aku tersentak kaget saat tangan Shaheer menggengam tanganku. Aku menegok ke samping tempat dudukku, dan melihat Shaheer berlutut sambil terus memegangi tanganku. Ekspresinya sangat lembu dan ini membuatku tidak kesal lagi dengannya. Walaupun kadang-kadang dia membuatku kesal, tapi dia juga tahu bagaimana cara untuk membuatku kembali tenang.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menertawakanmu. Tapi serius, aku hanya tidak bisa melihat terkejut seperti itu." katanya sambil mengelus-elus tanganku "lagian, aku juga tidak memberitahu Laksmi tentang kita. Yang dia tahu aku menyiapkan sesuatu untuk seseorang. Tapi tidak tahu kalau ini semua untukmu. Tenang saja Pooja, aku tidak akan pernah memberitahukan orang lain sebelum mengatakannya dulu denganmu." sambungnya.
Shaheer menatapku dengan ekspresi cinta.
Oh shit! Apa yang aku katakana tadi? Cinta? Ini tidak mungkin. Aku yakin dia belum mencintaiku. Dia sendiri bahkan belum mengatakan I love you padaku. Dan aku tahu ini terlalu cepat untuk mengikrarkan cinta kami. Walaupun sebenarnya aku tahu kalau aku sudah mencintainya bahkan sejak pertama kali bertemu di ruang tamu bersama Ayah.
Kami harus fokus menjalani saja dulu, masa depan tidak ada yang tahu. Kami akan mengikrarkan cinta kami kalau waktunya tepat.
"maafkan aku juga. Karena masih terus bersikap seperti anak kecil. Ini pasti membuatmu merasa geli kan?" tanyaku, menyesal dan malu. Karena malu aku lagi-lagi memalingkan wajahku darinya.
"Pooja, liat aku." Pintanya. Tapi aku terlanjur malu sekali. Aku merasakan Shaheer melepaskan genggamannya dan berdiri.
Tiba-tiba tangannya yang tadinya mengenggam tanganku, kita telah berganti mengenggam kedua pipiku. Dia memalingkan wajahku untuk menatapnya.
"aku sudah bilang padamu Pooja, aku menyukaimu apa adanya. Aku tidak perduli kalau kau bertingkah seperti anak-anak. Malahan itu yang justru membuatku sangat menyukaimu. Dan itu yang selalu dan akan membuatku merindukanmu kalau kau tidak sedang bersamaku." Kata Shaheer, dan kata-katanya membuatku sangat bahagia. Aku tersenyum kepadanya.
Shaheer mendekatkan wajahnya kewajahku, aku melihatnya menutup mata dan akupun menutup mataku. Aku merasakan nafasnya yang hangat menerpa wajahku. Dan tak lama kemudian, bibirnya menempel dengan bibirku. Aku memperdalam ciuman kami dan tanganku yang semula di pangkuan sekarang berada di rambutnya. Aku membenangkan jemariku di rambutnya. Tangan Shaheer yang satunya pindah ke belakang leherku. Setelah beberapa lama kemudian, Shaheer melepaskan bibirnya dari bibirku. Tapi jidat kami masih saling menempel. Shaheer membuka matanya dan kami saling menatap dan berusaha mengatur nafas. Shaheer kemudian tersenyum. Dan lagi-lagi memperlihatkan senyum favoriteku. Aku membalasnya.
Shaheer membuatku berdiri dari tempat dudukku, dan entah dari mana terdengar lagu Fligtless bird, American Mouth by Iron & Wine.
Kami kemudian mulai menari bersama. Shaheer memeluk pinggangku dan aku meletakan tanganku di pundaknya sedangkan tangan kami yang satunya saling bertaut dan berdansa mengikuti irama.
Aku merasakan air mataku mau keluar. Belum pernah aku diperlakukan seperti ini oleh seseorang. Aku membenamkan wajahku di dada Shaheer.
Terima Kasih Tuhan, karena telah menghadirkan Shaheer dalam hidupku. Ucapku dalam hati.
Setelah lagunya berhenti, tiba-tiba dilangit terlihat percikan kembang api. Dan Shaheer membisikan ditelingaku "Happy one month anniversary Pooja."
"Happy one month anniversary Shaheer. And thankyou for everything that you've done to me so far. Im so happy to be with you and want to always with you." Kataku, sambil menatapnya. Tanpa sadar airmataku menetes dan Shaheer mengusapnya. Dia tahu kalau itu adalah air mata bahagia.
"always baby" desahnya kemudian mengecup keningku.
###
Keesokan harinya, aku sedang berada dikoridor kampus. Tasneem dan Meenama berjalan bersamaku menuju kelas pertama kami.
Aku mendengar beberapa student membicarakan tentang Shaheer. Ugh seriously? It's been a month but orang-orang terutama cewek-cewek dikampus kami masih terus saja membicarakannya. Bahkan ada yang sangat jelas tepat didepanku berusaha menggoda Shaheer. Aku tahu ini bukan salah Shaheer atau mereka-mereka itu. Shaheer memiliki charisma yang sangat kuat dan itu membuat kebanyakan wanita jatuh hati padanya. Hell, even Im fall so deep to him.
Ya sudahlah, pada akhirnya dia juga sudah jadi milikku. Aku ingin sekali naik keatap gedung kampus dan meneriakan kalau Shaheer adalah pacarku. Tapi itu mustahil untuk dilakukan. Teman dekatku saja belum tahu sama sekali. Aku selalu merasa bersalah karena harus berbohong kepada mereka tapi ini adalah kesepakatanku dan Shaheer. Dan kalau waktunya sudah tepat kami pasti juga tidak akan sembunyi-sembunyi seperti ini.
"POO!" teriak Meenama ditelingaku. "Aduh, apa yang kau lakukan?" tanyaku. Sambil memegang telingaku. Suaranya benar-benar sanagat keras. Aku merasa sampai tuli sesaat karenanya.
"Kami yang harus bertanya, apa yang sedang kau lakukan. Kau menghayal sepanjang perjalanan sampai tidak sadar kita sudah tiba didepan kelas. Apa yang sedang kau pikirkan?" tanyanya. Aku memandang kesekelilingku dan benar saja, kami sekarang berada tepat didepan kelas untuk jam pertama hari ini.
"hmmmm nothing." Jawabku berbohong. Aku melihat Tasneem memandangi dengan curiga. Dan shits. Dia pasti tahu kalau aku sedang menyembunyikan sesuatu. Diantara kami bertiga, cumin dia yang paling tidak bisa dibohongi. Dia terlalu pintar dan selalu teliti dalam berbagai hal.
"terserahlah" desah Meenama, menyerah. "ayo kita masuk dan menunggu dosen didalam." Sambungnya sambil masuk kedalam kelas. Sementara Tasneem masih terus menatapku.
"What?" tanyaku padanya, mulai risih.
"we will talk later. Cause the professor is coming." Jawabnya. Dan benar saja, dosennya berdiri tepat di belakangku. Kami berdua langsung masuk dan mengambil tempat duduk.
Kelas berlalu dengan sangat lambat.
Sekarang kami berada di kafetaria. Kami sedang antri untuk mengambil makanan yang telah disediakan.
Beberapa menit kemudian giliran kami yang mengambil makanan. Aku meletakan apel, pizza, dan jus diatas nampanku. Dan menunggu Tasneem dan Meenama.
Kami kemudian mengambil tempat dekat pintu keluar. Dari jendela kaca aku melihat Shaheer sedang mengobrol dengan supirku. Mereka berdiri tepat didepan mobil dan beberapa kali aku perhatikan Shaheer tertawa dan berusaha tidak memperdulikan gadis-gadis yang berdiri dekatnya.
Menyebalkan sekali. Kenapa mereka masih belum menyerah untuk mendekatinya. Shaheer sudah sangat jelas tidak mengharapkan bahkan tidak menghiraukan mereka. Mereka sama sekali tidak tahu malu.
"kau lagi-lagi melamun Pooja." Sahut Meenama disampingku. Aku memalingkan wajahku dari pandangan luar kampus dan menatap Meenama.
"akhir-akhir ini memang Pooja sering melamun. Dia juga selalu mau kita untuk duduk di dekat pintu dan ujung-ujungnya dia akan melihat keluar jendela kaca" ucap Tasneem dengan lagi-lagi nada curiga.
"apa yang kalian katakana. Aku hanya terus memikirkan ayahku. Dia sedang menangani kasus besar akhir-akhir ini. Dan itu menyebabkan dia keluar kota terus. Aku jarang melihatnya sekarang. Itu saja kok." Jawabku, lagi-lagi berbohong. Tapi mengenai ayahku, aku mengatakan yang sebenarnya. Ayah memang makin jarang ada dirumah sekarang.
"baiklah." Balas mereka. Menyerah mengintrogasiku. Dan lebih memilih melanjutkan makan.
Aku mengeluarkan hapeku dari tasku dan mengirim pesan ke Shaheer.
Meet me at the back of the building – Pooja.
Dan taklama aku mendapat balasan.
Ok baby – Shaheer.
Aku tersenyum membaca pesannya dan saat aku melihat keluar jendela, Shaheer sudah tidak berdiri bersama supirku. Aku yakin dia sudah menuju ke belakang kampus.
"um guys, I need to go to toilet now. I will back soon." Kataku sambil berdiri dan memasukan jus serta appleku yang belum sempat kumakan ke tasku.
"kau mau kami antar?" tanya Meenama
"Tidak usah. Kalian selesaikan saja dulu makannya. Aku akan segera kembali." Jawabku. Tanpa menunggu respon dari mereka dan langsung keluar dari kafetaria.
Kami selalu bertemu di belakang kampus saat ada waktu yang tepat. Tempat itu seperti tempat persembunyian kami dari semua orang dikampus ini.
Saat tiba di belakang gedung, aku berjalan lagi memasuki hutan. Well, lebih tepatnya tanah kosong yang ditumbuhi pohon-pohon. Kampus ini sangat luas. Sampai-sampai masih ada yang kosong dibelakang gedung.
Aku melihat Shaheer bersandar di salah satu pohon. Dan langsung segera menghampirinya.
"hey" sapaku dan Shaheer menarik tanganku dan memelukku.
"Hey juga." Sapanya balik dirambutku. Aku tersenyum dan memeluknya makin erat. Tak lama kemudian dia melepaskan pelukannya.
"Apa kau sudah makan?" tanyaku dan Shaheer mengelengkan kepalanya. Dan langsung duduk ditanah yang dipenihu daun-daun yang berguguran. Dia menepuk tepat kosong disampingnya dan aku juga duduk.
"aku membawakanmu apel dan jus. Kuharap ini cukup sebagai penggajal perut sebelum kita pulang kerumah." Kataku, mengeluarkan apel dan jus dari tasku kemudian menyerahkannya ke Shaheer.
"Terima Kasih Pooja. Tapi kau sudah makan kan?" tanyanya memastikan.
Aku mengangguk dan tersenyum.
Shaheer, mulai memakan apelnya dan aku menyandarkan kepalaku ke bahunya. Memperhatikannya makan.
Apelnya terlihat sangat enak dan segar.
Shaheer melihatku dan meletakan apel yang telah digigitnya dipahaku. Dia lalu membuka jus dan meminumnya.
Aku mengambil apelnya dan mengigitnya sekali kemudian memberikan lagi padanya.
Setelah itu dia menghabiskan semuanya. Dan berdiri. Shaheer membantuku berdiri. Dan membersihkan belakang bajuku yang ada bekas dari pohon yang kami sandari.
"kau jalan duluan saja. 5 menit kemudian aku akan menyusul." Ucap Shaheer. Dan aku mengangguk. Tapi sebelum pergi dia mengecup rambutku.
Aku secepatnya beranjak dan langsung menuju ke kafetaria. Tapi saat melewati Toilet, tiba-tiba aku ditarik dan dan dibawa masuk ketoilet.
"Apa-apaan" teriakku dan saat mengangkat kepalaku aku kaget.
"kau mau bohong apa lagi sama kami?"
Tasneem dan Meenama memandangiku dengan sangat serius. Ada ekspresi marah diwajah mereka. Mereka menyilangkan kedua tangan mereka didada dan terus menatapku. Menungguku untuk bicara. Dan jujur, aku merasa tegang dan tidak tahu mau bilang apa. Kedua orang yang berdiri depanku sekarang seperti bukan kedua sahabatku. Tentu saja, mereka pasti sangat kecewa karena aku membohongi mereka selama ini.
"hmmmm… aku… hmmm aku ti…" ucapku terbata-bata.
"Oh Come on Pooja. Stop lying and tell us the truth." Teriak Tasneem. Dan aku makin merasa tertekan.
"Pooja, apa yang kau sembunyikan? We are best friends right?" tanya Meenama.
"ofcourse we are." Jawabku tanpa ragu-ragu. Karena mereka memang adalah sahabatku.
"kalau begitu jujur saja. Karena kami sudah muak dengan kebohonganmu." Kata Tasneem, aku merasa air mataku sudah berada diujung mata dan siap untuk menetes.
"Pooja, semalam aku menelfon kerumahmu dan Laksmi mengangkat telfonku. Saat aku menanyakanmu. Laksmi malah heran dan mengatakan kalau kau sedang berada diluar dan Laksmi mengira kau sedang bersama dengan kami. Jadi kau kemana semalam?" mereka berdua terus mendesakku. Dan aku bodoh sekali. Kenapa tidak kepikiran kalau mereka bisa saja menelfon kerumahku.
Mungkin ini saatnya untuk jujur. Lagian pasti mereka tidak akan menentang hubunganku dengan Shaheer. Aku belum bicara dengan Shaheer. Tapi aku juga tidak bisa selamanya menyembunyikan ini dari sahabatku.
"aku… aku.. keluar bersama Shaheer." Jawabku, mengakui.
"What? Shaheer? Kita tahu kau selalu bersama Shaheer karena dia adalah bodyguardmu. Yang kami tanyakan kemana kau semalam?" Tasneem sudah mulai hilang kesabaran.
"guys, aku keluar bersama Shaheer kesuatu tempat untuk merayakan…" aku terdiam sesaat "satubulanhubungankami" sambungku dengan cepat tapi pelan.
"Apa Pooja? Kami tidak paham kau bilang apa. Pelan-pelan saja dan beritahu kami." Ucap Meenama.
Aku menatap mereka. Dan mendesah..
"aku keluar untuk merayakan satu bulan hubunganku bersama Shaheer." Jawabku, tenang dan mengakui semuanya.
"Kau dan Shaheer?" tanya Meenama tidak percaya, dan aku menangguk. Meenama sangat syok dan saat aku melihat Tasneem, aku heran karena dia bukannya syok seperti Meenama tapi malah tersenyum lebar.
"YES AKU MENANG!" teriak Tasneem sambil mengangkat tangannya keudara. "aku sudah tahu ini akan terjadi. aku sudah tahu sejak lama. Mulai besok selama sebulan, kau Meenama akan membelikanku starbucks setiap paginya." Sambungnya masih senang.
Wait? Menang? Starbucks? Wtf?
"shits! Aku kalah." Desah Meenama kecewa.
"wait, kalian berdua bertarung menggunakanku? Demi sebuah starbucks?" tanyaku tidak percaya. Mereka bukannya marah malah taruhan.
"oh Pooja, you know girl loves starbucks. Lagipula, aku sudah yakin kau dan Shaheer akan berakhir menjadi couple. So whats the big deal?" kata Tasmeen sambil mengangkat bahunya. Seperti tidak ada yang terjadi barusan.
"What? Jadi marah tadi itu acting? Kalian hanya mau menjebakku supaya mengaku?" tanyaku lagi dengan ekspresi masih tidak percaya.
"YES! Buat apa kita marah kalau Shaheer membuatmu bahagia. Kau tau Pooja, kau terlihat lebih hidup dan bahagia akhir-akhir ini." Jawab Tasneem "Meenama saja yang tidak peka, dan malah bertaruh kalau kau tidak ada apa-apa dengan bodyguardmu." Sambungnya.
"aku memang bodoh. Masa aku tidak peka sih." Gerutu Meenama pada dirinya sendiri.
"jadi kalian setuju kalau aku sama Shaheer?" tanyaku
"Ofcourse girl. Tapi kenapa kau menyembunyikannya?"
"Shaheer dan aku sepakat untuk tidak memberitahukan siapapun sampai waktu yang tepat. Lagian, dia mau membuktikan kepada ayahku kalau dia berhak denganku. Sebelum kami memberitahukan semua orang." Jawabku. Berterus terang.
"Oh begitu." Kata Meenama dan Tasmeen sambil mengangguk-angguk."well, kami akan selalu mendukungmu." Sambung mereka
"thanakyou guys." Ucapku sambil memeluk kedua sahabatku.
"Boleh aku jujur denganmu?" sahut Meenama, dan aku melepaskan pelukanku lalu menatapnya
"yes, sure." Jawabku, menunggu dia mau jujur tentang apa.
"you are the luckiest girl on the planet. Cause Shaheer is so damn Hot and bahkan saya mengaguminya." Ucap Meenama, dan aku hanya menatapnya terdiam. Tasneem lalu tertawa dan aku ikut tertawa.
"ugh terus saja tertawa. Sekarang aku terlihat sangat idiot karena mengagumi pacar dari sahabatku sendiri." Meenama kesal.
"Oh Honey, don't worry. Kamu bukan satu-satunya yang kagum dengan pacarku. Dan Shaheer memang pantas untuk dikagumi. Dia laki-laki yang sangat perfect." Ucapku. Dengan perasaan bangga.
"Really? Apa kau sudah pernah berciuman dengannya?" tanyanya penasaran aku mengangguk "fucking lucky. Bagaimana rasanya?" tanya Meenama makin penasaran.
Kulihat Tasneem menatap ke pintu. Dan dia memberikanku kode. Aku tersenyum, mengerti maksudnya.
"well, rasanya…." Meenama makin serius dan menunggu jawabanku. "I WONT TELL YOU.!" Teriakku dan menyusul Tasneem yang sudah duluan lari.
"SHITS GUYS!" teriak Meenama dibelakang kami yang berusaha mengejar.
Aku melihat jamku sambil berlari dan mengetahui bahwa kami punya waktu 5 menit sebelum kelas kedua dimulai. Kami langsung berlari kekelas selanjutnya.
###
Kelas selesai untuk hari ini.
Dan sekarang aku dalam perjalanan pulang. Shaheer duduk dikursi depan bersama supirku dan di tempat parkir tadi aku sudah memberitahukannya kalau sahabatku sudah tahu tentang hubungan kami dan dia tidak merasa terganggu sama sekali.
Aku mengirimi pesan untuk Shaheer
Apa yang akan kita lakukan malam ini? – Pooja
Dan aku melihat Shaheer meraba kantong celananya tapi dia tidak membuka pesannya. Dia melihatku dikaca yang berada dalam mobil dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Aku tahu maksudnya. Kami sedang bersama supirku. Tidak boleh ada kelakuan yang mencurigakan atau supirku akan memberitahukan ke ayah.
Aku memilih untuk menatap keluar jendela mobil selama sisa perjalanan.
Saat sampai dirumah, Shaheer membukakan pintu mobil untukku.
"Thankyou." Sahutku. Dan dia mengangguk.
Aku tersadar ada mobil ayah terparkir dan satunya mobil baru.
"kau tahu mobil siapa itu?" tanyaku kepada Shaheer saat kita berdiri tepat di teras rumahku.
"aku tidak tahu. Mungkin ada tamu ayahmu." Jawabnya. Aku mengangguk dan kami berdua sama-sama masuk kerumahku.
Terdengar suara percakapan diruang tamu. Berarti Ayah benar-benar kedatangan tamu. Sahutku dalam hati.
Dan benar saja, didepanku sekarang berdiri seorang laki-laki yang poster tubuhnya sama persis seperti Shaheer. Rambutnya lebih cepak dari Shaheer. Tapi aku tidak bisa melihat wajahnya karena dia membelakangiku.
Dan entah kenapa aku merasa dejavu. Seakan-akan kejadian ini pernah terjadi sebelumnya.
Aku merasakan tatapan Shaheer yang berdiri tepat disampingku. Tapi aku hanya terdiam memandangi situasi saat ini.
Ayahku menyadari kehadiran kami dan dia berdiri dari kursinya.
"Pooja, kau sudah pulang. Kesini nak, temui bodyguard barumu." Kata Ayah. Dan sosok didepanku berbalik menatapku.
Dan aku terdiam. Shit!
"Namanya Vin Rana. Dan dia akan menjadi Bodyguard pribadimu mulai hari ini." Sambung ayah.
What the fuck? Bodyguard baru? Bodyguard pribadi? WHAT?
Vin tersenyum padaku Dan aku merasakan Shaheer tegang disampingku.
Double shit! Ucapku dalam hati.
kenapa ada Vin? dia jadi penganggu hubungan mereka atau enggak ya? sekali lagi ini cuman cerita. lagian selain Shaheer, Vin juga kaya dekat sama Pooja. dan moment mereka banyak. jadi kaya cinta segitiga gitu kalau di tv haha.
Note: aku udah jarang di IG. jadi kalau mau kasih saran, langsung aja review terus koment disini saja. log in juga gampang. pakai gmail atau twitter. aku bakalan liat disini tanggapan kalian.
Next Chapter POV SHAHEER. makasih sudah membaca dan tunggu selanjutnya ya.
