ROOKIE

Summary:

Ruangan itu terlihat seperti ruang berkumpul bersama teman – teman menurutnya. Ada yang sedang bermain PS, memasak, bahkan yang tertidur di situ pun ada. Tapi dia tau sekarang. Mereka bukan orang – orang sembarangan. Mereka menyebut diri mereka ROOKIE.

Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Putri Yapa

Chapter 2

Mata Sakura meneliti teman- teman ROOKIE nya. Oh, sungguh dia sangat merindukan teman – temannya yang sudah lebih dari 3 bulan tak di temuinya itu. . Biasanya juga mereka mengadakan pertemuan sebulan sekali. Tapi karena masing – masing mereka sibuk dengan urusannya masing-masing, jadilah, baru 3 bulan setelah pertemuan terakhir mereka, meraka mengadakan pertemuan ini.

Sepertinya tak ada yang menyadari kehadiran mereka sampai..

"SAKURA-CHAN, aku merindukanmu.." kata seorang pria berambut jabrik kuning yang tadi sibuk bermain PS dengan temannya yang berambut coklat.

Brakk. Suara itu terdengar nyaring diikuti dengan tawa yang membahana di seisi ruangan. Mau tau apa yang terjadi?

Pria jabrik bernama naruto tadi jatuh tersungkur setelah usahanya untuk memeluk gadis yang dia panggil 'Sakura-chan' itu gagal karena tubuh sang gadis ditarik oleh kekasih gadis tersebut.

"Dasar kau jahat sekali, aku kan ingin memeluk sakura-chan ku, masak kau menariknya begitu saja." Ucap naruto sambil mengerucutkan bibirnya lucu.

"Mati saja sana," ucap pria yang dirajuk oleh pemuda berambut jabrik itu.

Sakura tersenyum tipis, tipis sekali. Jika kau tak mengenalnya, itu akan terlihat seperti garis lurus. Tapi jika kau mengenalnya dengan amat sangat baik sekali, kau akan melihat senyum tulus yang sangat manis di sana. Huh, sakura sangat merindukan saat-saat seperti ini. Tidak ada kepura-puraan di sekitarnya. Karena terkadang hal yang tepat untuk menyimpan identitasmu adalah memamerkan identitasmu yang lain. Makanya dia jadi artis.

"Tapi Sakura, kenapa rambutmu jadi coklat begitu?" Tanya seorang gadis bercepol, tenten, yang baru datang membawa segelas jus dan sepiring muffin.

"Ya, biasa," Jawab Sakura ambigu.

"Oh, dia siapa?" tanya Tenten lagi. Semua lalu melirik Ino, sedangkan yang dilirik, menampakkan ekspresi bingung yang sangat lucu.

"Um..Um.." Ucap ino sambil menunduk dan menggigit bibirnya.

"Mendokusai~" Ucap seorang pria berambut nanas lalu pergi entah kemana dengan membawa jacketnya.

"Dia Ino, perkenalkan dirimu, Ino," Ucap Sakura lembut.

"Perkenalkan, aku Yamanaka Ino, umur 23 tahun-"

"Cukup." Suara baritone itu menghentikan Ino untuk melanjutkan acara perkenalan dirinya. "Sebaiknya kau pergi ke kamarmu," Lanjut suara baritone tadi. Sebenarnya pria berbadan tegap itu ingin melanjutkan bicaranya, tapi sebuah tangan kecil menarik lengan bajunya, membuatnya urung melanjutkan membuka mulutnya.

"Biar aku saja yang mengantarnya," Ucap Sakura lembut, yang disambut oleh helaan nafas kekasihnya itu.

"Baiklah," Sahut pria itu, membiarkan kekasih tercintanya mengantarkan anak baru berambut pirang itu. "Jangan lupa kembalikan warna rambutmu, hime," Ucap pria itu lalu mendudukkan dirinya ke sofa dihadapan seorang pria berambut panjang. Sedangkan sakura, dia hanya menampakkan semburat merah yang sangat tipis di pipinya.

"Kau benar-benar mencarikannya seorang teman?" Tanya pria bernama Hyuuga Neji itu pada pria di hadapannya.

"Ya. Apapun yang dia minta akan ku berikan," Ucap kekasih sakura itu.

"Ya. Aku tau. Ngomong-ngomong kau sudah dengar berita terbaru?" Ucap Neji yang hanya ditanggapi tatapan tak berminat dari lawan bicaranya.

"Ya ak-" Suara baritone itu terputus oleh sebuah suara cempreng yang menggema di dalam markas.

"Kurasa kau harus memeriksanya, Neji," Ucap pria itu lalu bangkit meninggalkan Neji. Sedangkan Neji hanya mendengus. Dia sudah tau apa yang akan terjadi bila mendengar teriakan cempreng semacam itu. Siapa lagi kalau bukan si pria jabrik?

…..

Naruto sedang duduk di pojokkan ruangan dengan wajah yang ditekuk. Bagaimana tidak,dia baru bertemu gadisnya setelah 3 bulan ini. Tapi apa yang terjadi? Saat ia ingin memeluk gadisnya tanda melepas rindu, kerah bajunya malah ditarik oleh kakak sang gadis yang mengidap sister complex. Hyuuga Neji.

"Kau sudah datang hinata?" tanya Sakura sambil duduk di dalam rengkuhan kekasihnya.

"Ya.. Sakura-chan.." Jawab hinata. Hinata sekarang ada di samping kakaknya, Neji. Dia tak diizinkan mendekati Naruto. Itulah yang dari tadi membuat naruto pundung di pojokan.

Hinata lalu melirik Neji lagi, lalu melihat ke arah Tenten. Memohon bantuan eh? Tenten yang dilirik seperti itu hanya tersenyum tipis, lalu bangkit dan menggenggam tangan neji.

"Neji, aku dengar ada resto yang baru buka dekat sini, ayo kita coba," Ucap tenten, ya. Dia tak bisa berbicara manja, tapi bagi neji yang sudah tau betul sifat tenten, bagi neji, tenten terlihat sangat manis.

Neji sedikit tersenyum, lalu kembali ke wajah datarnya. "Kau tak perlu menolong mereka. Si jabrik itu selalu memberi pengaruh buruk bagi adikku," Ucap Neji tegas, dan membuat Hinata serta naruto semakin masam. Tapi tenang, tenten belum menyerah.

Tenten mendekatkan wajahnya ke telinga neji. "Aku akan memberikan apapun yang kau inginkan," Ucap tenten sambil berbisik, membuat neji mendengus.

"Baiklah nona, kau menang," Ucap Neji lalu berdiri dari sofa yang didudukinya.

"Kau, jangan macam-macam dengan hinata, kau juga hinata, jangan mendekati pria itu," Ucap neji seduktif, lalu dia pergi dengan menarik tangan tenten. Sedangkan hinata memberi senyum termanisnya pada tenten tanda berterima kasih.

….

Sakura mematut pemandangan konoha dari jendela besar di markas rookie. Dia sedikit tersenyum saat merasakan ada yang mencium pundaknya.

"Ada apa?" tanya Sakura, masih memegang secangkir kopi di tangannya.

"Hum. Tak apa," Ucap pria itu lagi sambil menarik tangan sakura, lalu mendudukkan gadisnya itu di sofa yang ada di kamar itu.

"Ada apa?" Sakura yakin, pasti ada yang disembunyikan oleh kekasihnya.

Pria itu lalu berlutut di depan Sakura, menyamakan tinggi mereka, lalu..

CUP. Sebuah ciuman singkat sakura rasakan, membuatnya mau tak mau tersenyum. Pria itu lalu bangkit dan mendudukkan dirinya di samping Sakura. Setiddaknya hanya beberapa saat, karena setelah itu, dia meletakkan kepalanya di pangkuan gadis yang sangat dicintainya itu.

Sakura lagi-lagi tersenyum, lalu keduanya terbuai di alam mimpi dalam posisi seperti itu.

New York….

"Tuan, ada pesan dari kakak anda," Seorang pria bertuxedo hitam berbicara pada seorang pria muda yang tengah sibuk mendribble bola basketnya dan memasukannya ke dalam ring itu.

"Hn, dengan apa?" Tanya pria muda itu lagi pada ajudannya.

"Seorang wanita." Jawabnya seadanya.

"Suruh masuk," Perintah pria itu, lalu dia kembali mendribble bola basketnya dan memasukannya ke ring.

Tak lama kemudian masuklah seorang wanita berambut merah dan berkacamata. Tampak seperti gadis yang teramat polos, tapi tidak. Dia informan berharga yang tugasnya menyampaikan pesan rahasia, yang rela terbunuh untuk tetap menjaga kerahasiaan pesannya.

"Katakan," Ucap pria muda tadi menghentikan permainan basket solonya dan meletakkan bola itu di lantai lalu duduk di kursi yang memang di sediakan untuknya.

"Saya membawa pesan dari konoha tuan," ucap gadis itu.

"Hn," kata pria tadi, kali ini sambil bersandar dan memejamkan matanya.

"Anda …

….

Konoha…

Sakura membuka matanya saat merasakan ada udara yang menerpa wajahnya. Hm, udara yang masuk melalui jendela besar di samping kanannnya.

Sakura langsung menegakkan punggungnya menyadari jendela itu di buka. Ya, tak pernah ada ceritannya ada yang membuka jendela di markas rookie, karena itu berbahaya. Apalagi dia menyadari tak ada beban di pangkuannya yang menandakan kekasihnya yang tadi berada di pangkuannya sudah tak ada lagi.

KRIETT.. mendengar suara pintu di buka membuat sakura langsung menengokkan kepalanya ke arah pintu, dan langsung berdiri saat menyadari kekasihnya sudah memakai baju rapi.

"Um, kau mau kemana?" tak menjawab pertanyaan sang gadis, pria itu malah memeluk gadis pink nya itu.

"Tunggulah, aku akan bergantu baju," Ucap Sakura sambil melepaskan pelukannya dan hendak menuju ke lemari. Tapi, langkahnya berhenti saat disadarinya ada tubuh yang mendekapnya dari belakang dan meletakkan dagunya di pundak Sakura.

"Sudah ku duga, ada yang tak beres. Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya sakura, meminta penjelasan.

"Sejak kapan gadisku secerewet ini?" Ucap pria itu lalu terkekeh pelan dan sakura yang manyun, sungguh, jangan harap mendapati ekspresi keduanya seperti ini bila di luar kamar mereka berdua. Berdua? Ya. Hubungan mereka sudah melebihi sepasang kekasih, dan tentu saja yang lain juga.

Sakura memutar badannya dan merasakan kecupan ringan di bibirnya yang lama kelamaan menjadi lumatan. Sadar sakura tak bisa hidup tanpa oksigen, kekasihnya melepaskan lumatannya itu dan memeluk Sakura cukup lama lalu pergi.

Sakura merasa ada sesuatu yang hilang, dan firasat buruk mulai menyelimuti hatinya.

Sakura lalu memutar langkahnya ke jandela besar di ruangan itu, lalu mendudukkan dirinya di kusennya yang cukup untuk gadis itu duduk.

Sakura mengamati orang-orang yang sedang berlalu lalang di bawah sana dan tentunya mobil juga kendaraan lain. Ah, seandainya bisa hidup tanpa bebean seperti mereka, bukan menjadi seorang yang bersembunyi di balik identitas palsu sepertinya.

Sakura masih berkecamuk dengan pikirannya sendiri sampai dia melihat kekasihnya itu berdiri tepat di pinggir jalan raya dan membalikkan tubuhnya, serta melepas kaca mata non-minusnya. Lalu dia mendongakkan kepalanya dan menatap sakura, lalu tersenyum. Dan entah kenapa, senyum itu membuat sakura tak ingin mengalihkan pandangannya. Itu senyum yang berbeda dari biasannya, ah, sudahlah. Sakura menyingkirkan semua fikiran buruk yang berkecamuk di otaknya dan memandang kembali ke mata kekasihnya itu.

Sakura lalu melihat sebuah pergerakan di mulut kekasihnya itu yang seolah berkata 'Selamat tinggal Saku' lalu tersenyum, yang dibalas senyum manis Sakura.

Tak lama sebuah mobil ditam berhenti di belakang kekasih sakura itu, lalu pria itu berbalik dan masuk ke dalam mobil itu.

Sakura belum mengalihkan pandangannya, sampai batas pengelihatannya tak lagi melihat mobil itu.

Sentum sakura pudar, lalu tak lama dia kembali tersenyum dan mengucapkan salam perpisahan untuk kekasihya.

"Sampai Jumpa…

.

.

.

.

.

.

..Katsuki-kun,"

TBC…

NOTE :

Hai minna-san... Chapter 2 nih? Gimana? Maaf ya, kalo belum puas dengan hasilnya. Putri juga masih belajar soalnya. Putri juga nambah karakter nih. Nggak papa kali ya? Nggak tau juga sih *didamprat*

Maaf juga buat yang nunggu kelanjutannya *kayakadaaja-_-* Putri lagi sibuk nih *soksibuk*. Nggak. Beneran sibuk, soalnya ini udah di akhir tahun ajaran jadi banyak tryout dan les-les. Mohon doanya ya, biar Putri bisa lulus dengan nilai yang memuankan. *Amin*

Dan saatnya bales Review dari senpai-senpai yang sudah sudi membaca fict yang banyak kekurangan ini.

Akasuna No Sandara : Makasih..*bungkuk-bungkuk* review Sandara-san sangat membangkitkan semangat *alay* nggak. Beneran makasih. Ini lanjutannya, semoga suka yaa.

Naruhina Sri Alwas : makasih reviewnya. Ini udah lanjut.

Hanazono Yuri : Makasih reviewnya yaa. Ini lanjutannya Chapter 2.

Riya-Hime : Waah.. makasih pujiannya *senyamsenyum* Ini chapter 2 nya.

Cherryharuno39 : Makasih. Iya. Saki anggota Rookie. Ini lanjutannya.

mii-chanchan2 : Ini .. penasaran ya? Ini kejutan buat Putri loh. *ojigi* Maaf nggak bisa update kilat maklum sibuk. *dilempartoamasjid* bercanda. Ini updatannya. Moga suka.

Makasih banyak Reviewnya, dan Jangan lupa Review lagi ya. Mohon maaf juga bila ada kesalahan penulisan nama. Makasih juga buat yang udah sangat amat sudi sekali memfollow fict ini dan memfavoritkan. Saya terharu hiks.. hiks.. *lempartempatsampah*

Dan akhir kata Review yaa… Jangan lupa. Review kalian sangat berarti bagiku. Dan nambah semangat buat ngelanjutin fict ini.