Joanbabykyu present
Love for You
cast : Kyuhyun, Siwon, Yunho -perubahan marga untuk kepentingan cerita- and other.
Disclaimer : Hanya cerita gaje dan abal ini saja yang milik saya
Warning : Typo(es), Boys love. menimbulkan muntah-muntah dan pusing mendadak. tapi, segaje-gajenya cerita saya tetap saja NO COPAS, NO PLAGIAT! DLDR!
a/n : makasih untuk titik koma yang telah mengingatkan Jo akan typo dan beberapa kelalaian dalam titik dan koma. Semoga untuk ff ini dan seterusnya tidak ada typo lagi.
. . .
Sinar mentari menelusup masuk ke dalam sebuah kamar melalui celah-celah gorden. Mengusik seorang pria manis yang tengah tertidur lelap di atas dada bidang sang suami. Tak ingin tidurnya terganggu, pria manis itu semakin menelusupkan wajahnya pada dada bidang sang suami dan memeluk tubuh itu erat. Meresapi setiap kehangatan yang menjalar pada tubuh dan juga jiwanya.
Merasa terusik dengan gerakan Kyuhyun –sang pria manis-, Yunho –sang suami- mulai membuka matanya menyambut hari. Senyum merekah dibibirnya saat melihat kyuhyun yang tengah berusaha menghindari sinar mentari dengan bibir yang –entah sengaja atau tidak- mem-pout, menjadikan wajah adorable itu nampak semakin imut dan menggemaskan.
"Baby, ini sudah pagi." Yunho berkata sambil mengeratkan pelukannya. Seolah tak ingin kehangatan dan kenyamanan yang ia rasakan menghilang walau hanya sejenak.
"Ngg—" Kyuhyun mengerang manja semakin menelusupkan lagi wajahnya pada dada Yunho.
"Aigoo—manjanya istriku. Bagaimana kalau kita sudah punya anak nanti?" Tangannya terulur mengusap sayang kepala Kyuhyun.
"Aish—aku ini pria Yunnie—jadi tidak mungkin bisa hamil dan punya anak." Kyuhyun menggerutu kesal. Ia memang akan menjadi sensitif jika membicarakan masalah anak, meski ia tahu jika Yunho hanya menggodanya.
"Ahaha… aku hanya bercanda sayang. Sudah, cepat bangun! Aku harus bersiap-siap ke kantor."
"Akh—jangan!"
Mendengar larangan Kyuhyun, Yunho mengerutkan keningnya heran. "Memangnya kenapa?"
"Tidak ada apa-apa, Yunnie. Bolos saja, ne?"
"Tidak bisa, sayang. Ada banyak yang harus aku kerjakan hari ini."
Kyuhyun menggeleng dan semakin memeluk tubuh Yunho dengan erat. Ia bahkan menumpukan seluruh berat badannya pada tubuh Yunho. "Bolos sekali saja tidak akan apa-apakan, Yunnie?"
"Tidak bisa, sayang." Yunho menggeleng tegas, membuat Kyuhyun merengut. Kyuhyun bahkan melepaskan pelukannya dan berpindah pada sisi ranjang dan berbaring memunggungi Yunho. Yunho dibuat heran dengan tingkah Kyuhyun yang tiba-tiba seperti ini. "Sayang, ada apa? Tidak biasanya kau seperti ini?" Yunho beringsut mendekati Kyuhyun dan memeluk tubuh yang kini sedikit berisi itu dari belakang, tangannya ia letakkan di atas tangan Kyuhyun dan memainkan jari-jari lentik itu.
"A-aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu, hari ini." Kyuhyun berujar pelan. Entahlah, akhir-akhir ini perasaannya tak karuan. Hatinya selalu dilingkupi rasa gelisah yang berlebihan. Dan Kyuhyun mulai bisa tenang lagi saat ia sudah melihat atau mendengar suara Yunho.
Yunho menghela nafas. "Baiklah. Jadi hari ini kita akan kemana?" Tanya yunho.
Kyuhyun berbalik menatap Yunho dengan mata berbinarnya. "aku tidak ingin kemana-mana, yunnie. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu seharian ini di rumah." Mendengar jawaban Kyuhyun, otak pervert Yunho langsung bekerja.
"Jadi, kita akan menghabiskan waktu di rumah? Em, di dalam kamar ini?" Yunho menyeringai. Dan Kyuhyun mulai mengerti kemana arah pikiran Yunho.
"Ya! Pervert Choi!" Kyuhyun berteriak histeris saat Yunho mulai memenjara tubuhnya dengan kedua lengan kekar Yunho. Dan Kyuhyun hanya bisa pasrah saat Yunho mulai menciumnya dalam, liar dan basah. Kyuhyun tak mengerti. Namun setiap kali Yunho menciumnya, tubuhnya terasa ringan. Permainan lidah Yunho yang terus membelai seluruh permukaan bibir serta mulut Kyuhyun membuatnya mabuk. Kyuhyun tidak bisa untuk tidak mendesah. Menyerukan betapa ia menyukai setiap belaian lidah sang suami. Begitu paru-paru mereka membutuhkan oksigen Yunho melepaskan pagutannya. Membiarkan Kyuhyun meraup udara sebanyak yang ia mau. Tak berhenti disitu. Yunho melanjutkan aksi mengeksplor tubuh sang istri. Dimulai dari leher hingga titik-titik sensitif lainnya. Membuat Kyuhyun semakin melayang dalam balutan cinta, setiap kali Yunho berhasil membuatnya mengerang meminta lebih.
Tubuh mereka terhempas di atas ranjang, beberapa saat setelah mereka merasakan kenikmatan tak terkira. Kenikmatan yang mampu menjadi candu. Hingga mereka tak pernah bosan untuk dapat menikmatinya lagi dan lagi. Yunho bangkit dan memperhatikan Kyuhyun yang masih menstabilkan nafasnya. Tangan dan bibirnya kembali bergerak menjamah setiap inchi tubuh milik Kyuhyun itu. Yeah, Yunho memang tidak akan pernah puas hanya dengan sekali permainan.
. . .
Kyuhyun terdiam sambil menikmati coklat panas yang telah Yunho buatkan. Setelah lelah melakukan aktivitas yang menyenangkan tadi. Mereka keluar dari kamar dengan keadaan bersih dan harum. Berniat mengisi perut, mengganti semua kalori yang telah mereka keluarkan tadi. Yunho sengaja membuatkan Kyuhyun coklat panas sementara dirinya, menyibukkan diri di dapur membuat suatu olahan yang dapat mereka makan.
Selang tiga puluh menit, Yunho keluar dari dapur dengan membawa beberapa piring berisi makanan yang telah ia buat, yang kemudian ia letakkan di atas meja makan. Melihat itu, Kyuhyun bergegas menghampiri Yunho. "Woah, ini pasti akan sangat enak, Yunnie." Kyuhyun berujar sambil sesekali meneguk ludahnya. Rasanya ia sudah tak sabar untuk mencicipi ah bukan menyikat habis seluruh makanan yang ada dihadapannya kini.
"Kalau begitu, ayo kita makan! Jangan hanya dilihat saja!" Yunho menuntun Kyuhyun untuk duduk disebelahnya.
"Ne!" Kyuhyun berteriak semangat dan mulai menyumpit sepotong daging untuk kemudian dilahapnya. Matanya terpejam meresapi dan menikmati potongan daging yang kini berada dalam mulutnya.
"Bagaimana, sayang?" Tanya Yunho sesaat setelah Kyuhyun menelan semua makanan yang ada dalam mulutnya.
"Eum ini benar-benar enak, Yunnie. Boleh aku habiskan semuanya?" Kyuhyun bertanya dengan wajah polosnya membuat yunho gemas. "Eh tapi, kalau aku habiskan semuanya nanti Yunnie tidak dapat jatah makan. Kalau begitu kita makan bersama ne, Yunnie?"
Kali ini Yunho tertawa. "Aigoo—kenapa kau imut sekali, sih?" mencubit kedua pipi Kyuhyun sebagai tanda betapa ia gemas terhadap sosok yang berada disampingnya itu. "kau boleh menghabiskan semuanya. Aku bisa membuatnya lagi."
"Andwee—kita makan bersama saja." Kyuhyun berkata sambil mengusap-usap kedua pipinya yang memerah.
Yunho tersenyum. Betapa ia mencintai sosok ini. Sosok yang telah menemaninya selama 2 tahun ini. Dengan satu tahun sebagai masa perkenalan dan berpacaran, satu tahun sebagai pasangan suami istri. Yunho tidak bisa berpaling dari sosok ini. Meski ada berjuta-juta wanita cantik dan seksi disekitarnya. Namun, mereka tidak mampu mengalahkan pesona Kyuhyun. Seorang pria yatim piatu yang selama ini tinggal di salah satu panti asuhan.
. . .
"Hujannya deras sekali." Kyuhyun bergumam sambil menatap pemandangan yang tersaji dari atas balkon apartementnya dan Yunho. Malam ini hujan tiba-tiba turun dengan deras. Padahal sebelumnya langit terlihat cerah. Sampai dirasanya sebuah tangan memeluk bahunya dari belakang. Menyalurkan kehangatan ke seluruh tubuhnya.
"Sedang apa? Disini dingin. Kau bisa sakit." Ujar Yunho. Kyuhyun menoleh dan berbalik memeluk Yunho. Membiarkan tubuh rampingnya berada dalam dekapan hangat sang suami terkasih. Mengirup aroma menenangkan yang menguar dari tubuh Yunho.
"Hujannya deras sekali."
"Aku suka hujan."
Kyuhyun mendongak menatap Yunho. "Kenapa?" Memiringkan kepalanya bingung.
"Karena saat hujan, aku dipertemukan dengan seseorang yang kini menjadi bagian dari hidupku. Seseorang yang menjadi prioritas dalam hidupku, selain keluarga yang telah membesarkanku. Seseorang yang telah mengajarkanku tentang makna hidup yang sebenarnya. Seseorang yang sangat aku cintai." Yunho menatap lurus ke dalam lelehan caramel Kyuhyun membuat pria manis itu tak sanggup berpaling walau hanya untuk berkedip. "Seseorang yang akan menjadi ibu dari anak-anakku." Yunho tersenyum jahil diakhir kalimatnya.
"Ya! Kau mulai lagi." Bibir Kyuhyun merengut imut ditambah dengan pipi gembil yang digembungkan, membuat yunho tak tahan untuk mengecup plumy itu.
Yunho tersenyum melihat semburat merah yang kini mewarnai pipi gembil itu. Meski mereka telah melakukannya berkali-kali, namun Kyuhyun masih saja merona jika ia menyentuhnya secara tiba-tiba seperti itu. "Aku mencintaimu Cho Kyuhyun. Sangat mencintaimu." Memagut bibir kissable itu dengan lembut. Menyalurkan seluruh perasaan yang ia miliki yang tak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata.
Air mata Kyuhyun tiba-tiba saja menetes dari balik kedua kelopak matanya. Dadanya terasa sesak. Hatinya dicengkram sebuah perasaan takut yang amat sangat besar. Ia takut. Sangat takut kehilangan sosok yang tengah menciumnya itu.
"Baby, kenapa menganis?" Yunho kaget saat ditengah ciumannya ia merasakan cairan asin. Dan ia semakin kaget saat melihat Kyuhyun menangis. Tangannya terjulur menghapus air mata yang masih mengalir di pipi chubby itu.
Kyuhyun menggeleng. "Ja-jangan tinggalkan aku, Yunnie. Aku mohon jangan tinggalkan aku." Kyuhyun memeluk Yunho erat.
"Ssh, apa yang kau bicarakan, sayang?" Mengusap punggung Kyuhyun lembut berharap Kyuhyun bisa lebih tenang dari apa yang tengah ia rasakan. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Meskipun raga kita terpisah. Aku akan selalu ada dalam hatimu."
Kyuhun tidak menjawab. Ia hanya terus menangis dalam pelukan Yunho. Berharap semua kecemasan dan ketakutannya menghilang.
. . .
"Ne, Yunnie. Sebentar lagi aku sampai di rumah Eomma."
"Belajarlah dengan baik."
"Ne, aku akan belajar dengan baik, agar aku bisa membuatkan makanan enak untukmu."
"Aigoo—tapi aku jadi kasihan kepada Eomma. Dia pasti akan sangat kerepotan untuk mengajarkanmu memasak. Kau kan sangat 'pandai' dalam urusan dapur."
"Ya Yunnie! Jangan meledekku!"
"Ahahaha.. baiklah selamat belajar, sayang. Jaga dirimu selama aku tak ada disampingmu, Baby. Aku akan menjemputmu nanti."
"Ne, yunnie. Kau juga jangan terlalu keras bekerja. Aku akan menunggumu di rumah Eomma. Aku mencintaimu, yunnie."
"Aku juga."
Kyuhyun menutup sambungan panggilannya dengan yunho yang saat ini berada di kantor. Sementara itu, Kyuhyun sudah berjanji dengan Eomma mertuanya untuk belajar memasak. Ia memang sangat payah dalam urusan masak-memasak. Maka dari itu ia meminta bantuan sang Eomma untuk mengajarinya. Dan untunglah sang Eomma dengan senang hati menyambut niatnya.
Eomma dan Appa Yunho sudah bagaikan orang tua kandung Kyuhyun sendiri. Mereka memberikan kasih sayang yangtulus kepadanya. Membuat Kyuhyun ikut merasakan kehangatan keluarga yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya. Dan ia sangat bersyukur telah dipertemukan dengan keluarga itu.
. . .
"Aigoo—kau semakin pintar, sayang. Eomma yakin Yunho akan semakin jatuh cinta padamu." Nyonya Choi tersenyum melihat semburat merah yang menghiasi pipi menantunya. "jja! Sekarang kita siapkan semuanya di atas meja makan. Sebentar lagi pasti Yunho datang."
"Ne, Eomma." Kyuhyun tersenyum melihat hasil masakannya. Meskipun dibantu oleh Nyonya Choi tapi paling tidak ia juga ikut banyak andil dalam proses memasak tadi. Kyuhyun bergerak kesana kemari membawa beberapa piring berisi makanan, sementara Nyonya Choi menatanya di atas meja makan.
Semetara Kyuhyun dan Nyonya Choi sibuk dengan urusan dapur. Tuan Choi yang tengah menonton siaran berita tersentak kaget saat melihat liputan kecelakaan lalu lintas yang baru saja terjadi. Perasaannya tidak enak dan rasa cemas langsung meliputi hatinya. Bersamaan dengan suara benda pecah dari arah ruang makan, hatinya semakin tak karuan. Ia bergegas beranjak menuju dapur.
"Kyu, kau tidak apa-apa?" Samar-samar Tuan Choi mendengar suara sang istri yang bertanya kepada Kyuhyun dengan nada khawatir.
"Ada apa?" Tuan Choi bertanya begitu ia dapat menangkap sosok sang istri yang kini tengah bertanya khawatir kepada Kyuhyun yang tengah mencengkram dadanya. Sementara dilantai telah berserakkan beberapa serpihan kaca yang ia yakini itu adalah pecahan dari gelas. Ia segera membantu sang istri memapah Kyuhyun menuju kursi meja makan. Dan sepertinya ia tahu bahwa Kyuhyunlah yang telah memecahkan gelas itu.
Drrt drrt
Ponsel Kyuhyun yang tergeletak di atas meja makan, bergetar tanda satu panggilan. Tuan Choi yang melihat Kyuhyun masih mencengkram dadanya segera mengangkat panggilan atas nama Yunho itu.
"Yeoboseo…"
"…"
"Ne, saya orang tua dari Choi Yunho." Tuan Choi melirik istri dan juga menantunya yang kini tengah menatapnya intens.
" …"
"Astaga—ini pasti tidak mungkin. Kau pasti berbohong! Anakku tidak mungkin mengalami kecelakaan."
"…"
"Ba-baiklah, kami akan segera kesana."
"A-appa, si-siapa yang kecelakaan?" Kyuhyun bertanya dengan suara bergetar. Rasa takutnya terasa semakin nyata.
"Kyu, Yu-yunho kecelakaan. Kita harus segera ke rumah sakit."
Tubuh Kyuhyun hampir saja oleng saat mendengar penututran Tuan Choi. Namun ia masih dapat menahannya. Air matanya mengalir begitu saja tanpa dikomando. Nyonya Choi sendiri hanya dapat mematung.
. . .
Kyuhyun membuka matanya. Nafasnya memburu. Keringat juga membasahi seluruh tubuhnya. Ia mengedarkan pandangannya pada ruangan yang terasa asing. Ruangan serba putih dengan bau menyengat khas obat-obatan. Kyuhyun tahu ia berada di salah satu ruangan di rumah sakit. "Sayang, kau sudah sadar?" Kyuhyun menoleh pada asal suara lembut milik sang Eomma mertua yang terdengar parau. Bisa dilihatnya jika wajah cantik itu saat ini sedang bersedih. Mata indahnya tampak sembab dan memerah.
Kyuhyun tersentak. Dimana Yunho? Dimana Yunnie-nya? "E-eomma, dimana Yunnie?" Kyuhyun tidak tahu. Tapi rasanya terlalu berat untuknya untuk bertanya tentang keberadaan Yunho. Air matanya juga tiba-tiba saja meluncur meski ia tak ingin menangis.
"Sayang…." Nyonya Choi menarik nafasnya sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. "Yunnie- … kau harus kuat sayang." Air matanya tak dapat ia cegah untuk membasahi kedua pipinya. Meski ia telah berjanji untuk terlihat kuat dihadapan sang menantu. Namun tetap saja rasa kehilangannya jauh lebih besar dari pada janjinya saat ini.
Kyuhyun merasakan dunianya seperti berputar dengan cepat.
"Ban mobil korban kekurangan angin. Sepertinya korban juga tidak menyadari hal ini. Beberapa orang mengatakan bahwa mobil yang dinaiki korban sempat oleng hingga akhirnya menabrak pembatas jalan."
"Maafkan kami. Kami telah berusaha semaksimal mungkin. Namun sepertinya Tuhan jauh lebih menyayangi korban."
Kyuhyun ingat setelah ia melihat dokter yang menangani suaminya keluar dari UGD, ia mendengar penjelasan sang dokter yang tidak dapat ia terima itu. Sang Eomma telah menjerit histeris memanggil nama anaknya. Dan hal terakhir yang didengarnya adalah suara sang Appa yang berteriak memanggil namanya.
Nyonya Choi segera mendekap tubuh sang menantu yang saat ini tidak mengeluarkan reksi apa-apa. Hanya air mata yang terus mengalir deras dipipinya yang menandakan bahwa anak itu kini tengah mengalami kesedihan hyang amat sangat dalam.
. . .
Kyuhyun berbaring dengan posisi menyamping ke kanan di atas ranjang. Disisi itu, adalah tempat biasanya Yunho berbaring jika mereka menginap di rumah orang tua Yunho. Kyuhyun mengusap posisi kosong itu. Pandangan matanya kosong seolah tiada gairah di dalamnya. "Yunnie—ini seperti saat itu 'kan? Saat kau pergi ke luar kota selama tiga hari? Aku juga tidur sendirian saat itu. Lalu kau bilang agar aku cepat tidur. Agar besok pagi saat aku bangun, kau sudah ada disampingku. Iya kan, Yunnie? Jika seperti itu aku akan tidur sekarang. Agar besok aku akan segera bertemu denganmu. Yunnie—aku mencintaimu, Yunnie—" Kyuhyun bergumam lirih. Matanya terpejam dengan ditemani tetesan-tetesan air mata.
TBC
Terima kasih juga atas semua dukungan yang masuk lewat review di prolog kemarin. maaf belum bisa balas semua komenannya semoga chapter ini bisa menjawab semua pertanyaan teman-teman semua. disini Siwon belum muncul, dan akan muncul di chapter selanjutnya.
semoga chapter ini tidak mengecewakan. See you on the next chapter~
