Joanbabykyu present

Love for You

cast : Kyuhyun, Siwon, Yunho -perubahan marga untuk kepentingan cerita- and other.

Disclaimer : Hanya cerita gaje dan abal ini saja yang milik saya

Warning : Typo(es), Boys love. menimbulkan muntah-muntah dan pusing mendadak. tapi, segaje-gajenya cerita saya tetap saja NO COPAS, NO PLAGIAT! DLDR!

"SIWON-SAN!"

"Kyaaa—Siwon-san!"

Siwon berjalan dengan senyum memukaunya. Menebar pesona pada setiap gadis yang kini tengah menjerit, menyerukan namanya. Sesekali matanya berkedip genit, menggoda siapa saja yang melihatnya untuk mendekat. Atau menebar flying Kiss pada gadis yang menurutnya sangat cantik hingga gadis itu merasa melayang di atas awang-awang. Jeritan masih memenuhi suasana kampus pagi itu. Suasana yang tak pernah berubah semenjak Siwon mulai memasuki Kampus terkenal di Jepang itu.

Tap tap tap

Suara riuh tadi sekejap terhenti saat terdengar suara gesekan sebuah hak dengan lantai. Suara langkah itu terdengar anggun dan konstan. Wangi parfum terkenal merebak disetiap helaian angin yang dilaluinya. Kini semua mata mulai tertuju pada seseorang yang telah menghasilkan suara gesekan itu. Oh yeah, para gadis yang sedari tadi menjeritkan nama Siwon kembali harus menelan pil pahit saat mereka sadar jika gadis yang memakai dress sewarna merah darah itu adalah sang pemilik pujaan hati.

"Hai cantik." Siwon menyeringai menatap gadis yang kini tengah melangkah ke arahnya. Tangannya sudah gatal ingin segera -menggerayangi - memeluk tubuh ramping sang primadona Kampus. Ia bahkan sudah membuka tangannya berharap sosok itu segera menjatuhkan dirinya dalam dekapan Siwon.

"Choi Siwon." Meski suara itu mengalun indah namun Siwon dapat menangkap nada kekesalan di dalamnya. Dan ia amat sangat tahu apa yang menyebabkan gadis itu menggeram kesal.

"Ya cantik?" Siwon tetap dengan nada menggodanya. "kau merindukanku?" matanya mengerling nakal.

"Berhentilah besikap seperti cassanova seperti itu Choi Siwon!" gadis itu berteriak kesal. Sangat kesal. Siwon yang sudah berpacaran dengannya semenjak beberapa bulan lalu itu tidak juga berubah. Lelaki itu masih saja selalu mempermainkan banyak hati wanita. Berkencan dengan gadis yang berbeda-beda setiap hari, demi kepuasan batinnya. Lalu, apa gunanya ia sebagai kekasih jika seperti itu?

"Aku hanya memberikan fans service kepada para penggemarku." Siwon menjawab santai sambil terus memberikan flying kiss kepada para penggemarnya. Toh ia sudah biasa melakukan hal itu dan gadis itu juga sudah tahu bahkan dari semenjak sebelum mereka memutuskan untuk berpacaran.

Nami, -nama gadis itu- hanya dapat menahan kekesalannya. Resiko. Tentu saja menjalin hubungan dengan seorang pria yang tidak pernah mau terikat oleh komitmen, harus menjadikan dirinya untuk memiliki kesabaran ekstra. "Kau! Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Aku ini kekasihmu! Seharusnya kau lebih memikirkan perasaanku dari pada perasaan orang-orang tidak berguna itu." Gadis itu akhirnya meledak. Ia sudah tidak tahan dengan kelakuan pria yang paling ia kagumi itu.

"Aigoo—sabar sayang. Jangan mengumpat seperti itu. Nanti kecantikanmu memudar." Siwon masih bertahan dengan nada menggoda menyebalkannya itu. Ia tidak akan pernah takut meskipun pada akhirnya gadis itu akan memutuskan hubungan dengannya. Lagi pula, ia sama sekali tidak tertarik dengan cinta. Ia hanya tertarik dengan ehemfisikehem. Siwon menarik tubuh ramping gadis itu kedalam pelukannya. Memberikan ciuman basah pada bibir yang dipoles lipstick berwarna pink itu. Itu satu-satunya cara agar sang gadis tidak lagi mengumpat dan memberikan ceramah panjang padanya.

Tindakan Siwon itu sontak membuat semua yang berada disana menahan nafas. Oh pagi-pagi sekali mereka sudah disuguhi adegan dewasa secara live. Dan pemeran utamanya adalah pria pujaan hati mereka. setelah beberapa detik mereka lalui, Siwon mulai melepaskan ciumannya. "Sudah aku ada kelas pagi ini. Sampai jumpa lagi, cantik." Lagi dan lagi Siwon mengerling nakal pada Nami yang kini memerah padam akibat ciuman tiba-tiba dari Siwon.

. . .

"Mwo? Yu-yunho Hyung…. I-ini tidak mungkin. Appa, kau pasti bercanda kan?" jantung Siwon berdetak sangat cepat. Lututnya terasa lemas ia bahkan sampai terduduk di atas lantai saking kagetnya mendengar berita dari sang Appa.

"Tidak Siwon-ah, cepatlah pulang." Suara dibalik speaker ponsel Siwon terdengar parau. Itu membuat Siwon sadar bahwa apa yang baru saja ia dengar itu adalah benar adanya. Air mata perlahan menetes membasahi pipinya. Tidak. Ia bukan pria cengEng. Tapi, jika sesuatu yang buruk terjadi pada orang yang kita sayangi, menangis hal yang wajar bukan?

"A-aku akan segera pulang, Appa." Siwon menghapus air mata yang sempat singgah dipipinya. Ia bergegas keluar dari appartement yang sudah 4 tahun ini ia tempati.

Semenjak ia memutuskan untuk kuliah di jepang, ia memang tidak pernah lagi pulang ke korea. Meski pada saat itu Yunho menikah. Bukan karna ia tidak menghargai Hyungnya. Namun pada saat itu Siwon tengah sibuk-sibuknya kuliah. Meski ia sering bermain-main dengan banyak wanita, tapi baginya pendidikan jauh lebih penting dari apapun.

. . .

"Eomma, dimana istri Yunho hyung?" Siwon bertanya pada sang Eomma. Sejak ia datang ke Korea beberapa jam lalu ia tidak pernah melihat istri dari Hyungnya. Ia bahkan tidak tahu bagaimana rupanya. Yang jelas Yunho pernah berkata jika istrinya itu sangat cantik dan menggemaskan.

Sang Eomma hanya terdiam mendengar pertanyaan dari Siwon. Ia sangat mengerti dengan keadaan Kyuhyun, mungkin untuk saat ini Kyuhyun masih belum dapat menerima kepergian Yunho. "Ia ada di appaertementnya. Kau ingin kesana untuk melihatnya?"

"Tsk… istri macam apa itu? Suaminya meninggal tapi ia malah berdiam diri di appartement. Bukannya mendoakan Hyung." Siwon menggeram kesal. Ia benarkan? Seharusnya seorang istri menghadiri acara pemakaman hingga selesai, mendoakan suaminya agar arwahnya diterima oleh Tuhan.

"kau tidak akan mengerti Siwon-ah, Kyunie hanya membutuhkan waktu untuk menerima kepergian Yunho yang mendadak ini."

"Tetap saja… tidak seharusnya ia bertingkah seperti itu."

Nyonya choi hanya tersenyum. Ia tahu siwon hanya terlalu menyayangi Yunho. "Sudah! Kau istirahat saja, Eomma akan ke appartement Hyung mu. Eomma khawatir jika membiarkan Kyunie terlalu lama sendirian."

Siwon hanya mengangkat bahunya dan mulai melangkah ke arah kamarnya yang berada di lantai dua.

. . .

Kyuhyun bediam diri di kamar appartementnya dan Yunho. Matanya terus berpusat pada foto pernikahannya yang tergantung di dinding kamar. Menatap wajah tampan Yunho yang tengah tersenyum lembut sambil menatap wajahnya, sementara Kyuhyun sendiri melihat kamera yang mengabadikan moment sakral itu.

"Aku tahu, kau pasti kembalikan?" Kyuhyun tersenyum getir. Hari ini keluarga Choi sedang berada di rumah duka. Ia sendiri tidak ingin menghadirinya, ia yakin jika Yunho akan segera kembali padanya. Kyuhyun memeluk boneka Pikachu pemberian Yunho dengan erat. Mulutnya bersenandung lirih. Kebiasaannya jika ia sedang gundah menanti sesuatu. Air matanya kembali mengalir di pipinya. Tidak ia tidak ingin menangis. Tapi air mata itu selalu jatuh tanpa ia minta. Kyuhyun menyandarkan kepalanya pada belakang boneka itu. "Yunnie…."

"Sayang—" Kyuhyun mendengar suara lembut milik Eomma mertuanya. Namun, ia tak bergeming. Masih tetap bertahan ditempatnya. "Sayang, kau sudah makan?" Kyuhyun bisa merasakan jika kini tangan sang Eomma tengah mengusap lembut kepalanya. Kyuhyun tidak mau menjawab. Ia masih tetap bersenandung lirih.

Nyonya Choi mendudukan dirinya disamping Kyuhyun. "Kyu—" Nyonya Choi hampir saja menjerit saat melihat tatapan kosong milik Kyuhyun dengan air mata yang tidak berhenti berurai dari balik kelopak matanya. Namun dengan cepat ia berhasil menguasai dirinya sendiri. Ia mendekap hangat tubuh ringkih milik menantu tersayangnya itu. "Kyuhyun-ah—" Nyonya Choi mencoba memanggilnya. Dan hatinya terasa semakin teriris saat mendengar Kyuhyun terus bersenandung seolah tidak mempedulikan kehadirannya.

. . .

Tuan dan Nyonya Choi terdiam di ruang tamu appartement Yunho. Mereka baru saja mengantar seorang psikolog –salah satu teman Tuan Choi- yang telah memeriksa keadaan Kyuhyun. Nyonya Choi yang tidak mendapatkan respon dari Kyuhyun setiap kali ia berusaha untuk mengajaknya bicara, menjadi khawatir. Dan ia segera menelpon suaminya agar segera datang kesana dengan membawa seorang psikolog. Nyonya Choi tahu Kyuhyun pasti terguncang. Ia tidak ingin Kyuhyun terlalu berlarut-larut dalam kesedihannya maka ia segera mendatangkan seorang psikolog untuk memeriksanya.

"Dugaan awal saya, sepertinya Kyuhyun-shi mengalami depresi berat dikarenakan perasaan kehilangan yang dialaminya. Ini sedikit sulit karena Kyuhyun-shi tidak mau berbicara ataupun melakukan hal-hal lain selain berdiam diri memikirkan suaminya yang telah meninggalkannya."

"Bagaimana ini Yeobo? Kyuhyunie—" Nyonya Choi akan selalu menjadi yang paling khawatir jika sudah menyangkut menantu tersayangnya.

"Tenanglah sayang, Kyuhyun pasti akan baik-baik saja." Tuan Choi segera memeluk tubuh sang istri yang kini mulai bergetar menahan tangis.

Entahlah Nyonya Choi hanya tak habis piker. Kenapa keluarganya tiba-tiba dilingkupi kepahitan-kepahitan tak terduga seperti ini. Setelah Yunho meninggal, kini Kyuhyun mengalami depresi berat. Kyuhyun pasti benar-benar terpukul dengan meninggalnya Yunho, hingga ia menjadi seperti itu.

. . .

Tuan dan Nyonya Choi memapah Kyuhyun menuju kamar Yunho dulu. Mereka akhirnya memutuskan untuk membawa Kyuhyun tinggal bersama mereka. merreka tidak akan bisa membiarkan Kyuhyun tinggal sendirian jika kondisi Kyuhyun masih seperti itu.

Kyuhyun masih tetap bertahan dengan diamnya, yang sudah ia lakukan semenjak kemarin. Tangannya masih memeluk erat boneka pikachunya dan mulutnya tidak berhenti bersenandung lirih. Menyanyikan sebuah lagu menyayat hati tentang rasa rindunya. Nyonya Choi berusaha mati-matian untuk tidak menangis saat mendengar senandung rindu itu.

"Eomma, Appa." Tuan Choi yang baru saja akan membuka pintu kamar yang akan ditempati kyuhyun terhenti saat mendengar suara Siwon.

"Ah Siwon-ah kau sudah bangun rupanya."

Siwon hanya bergumam menjawab pernyataan sang Appa. "Itu siapa Appa? Kenapa Appa membawanya ke kamar Yunho Hyung?" Siwon mengernyit heran menatap Kyuhyun yang masih menunduk menyembunyikan wajahnya di balik punggung boneka. Pria yang aneh. Pikir Siwon.

"Ah, kami lupa. Kau belum mengenal istri mendiang Hyungmu. Ini Kyuhyun." Tuan Choi menjelaskan. Sementara Siwon terus memperhatikan Kyuhyun intens. Ia amat sangat penasaran dengan wajah pria yang telah membuat Hyungnya itu berpindah orientasi seksualnya, lebih memilih untuk menikahi seorang pria dari pada wanita seksi sekalipun.

"Sayang—kenalkan. Ini Choi Siwon, adik dari Yunho." Nyonya Choi mencoba membujuk Kyuhyun yang masih enggan mengangkat wajahnya.

Namun begitu nama Yunho disebut Kyuhyun langsung mengangkat wajahnya. "Yunnie—" Lelehan caramel itu kembali meredup begitu ia disuguhkan seorang pria tinggi dan tampan mirip dengan Yunnie-nya. Tapi ia tahu pria itu bukan Yunnie-nya. Pria itu bukan kekasih hatinya. Kyuhyun kembali menyembunyikan wajahnya dibalik boneka Pikachu itu. Kembali bersenandung lirih menyerukan rindunya.

Siwon tidak mengerti saat obsidiannya menangkap lelehan caramel itu waktu terasa berhenti. Seolah lelehan caramel itu telah menyedotnya, membawanya ke dunia baru. Dunia yang bahkan tidak nyata namun mampu membuat hati dan jiwanya berdesir. Lelehan caramel itu nyatanya sanggup membuat dirinya berada di atas awang-awang menjelajahi sebuah rasa yang pernah padam dulu. Rasa cinta yang menggetarkan jiwa, memberikan setitik warna baru dalam hidupnya.

Siwon tersadar saat si pemilik lelehan caramel itu kembali menyembunyikan wajahnya. Astaga ia lupa siapa namanya. Ia tidak terlalu focus mendengar sang ayah menyebut nama itu karna ia lebih tertarik untuk melihat wajahnya. Dan kini ia tahu mengapa Yunho lebih memilih pria yang kini berada dihadapannya dari pada makhluk berdada besar itu.

Dan kini ia dilanda perasaan itu. Perasaan ingin melihat setiap perubahaan ekspresi dari pria itu. Perasaan ingin melihat setiap binaran cahaya yang akan dipancarkan lelehan caramel itu. Perasaan ingin memiliki yang amat besar. Perasaan yang belum pernah ia rasakan pada makhluk berdada besar yang sering ia mainkan. Perasaan ingin melindungi pria itu dari apapun.

TBC

maaf untuk keterlambatan update ini. Jo kehilangan mood menulis akhir-akhir ini. semoga chapter ini tidak mengecewakan.

makasih juga buat yang udah memberikan dukungan untuk Jo lewat review kalian di cahpter 1 kemarin. maaf masih belum bisa balas komenannya tapi semoga di chapter ini bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian. Dan yang pasti Jo seneng baca review dari temen-temen semua.

Jo juga ada niatan untuk pindah dari sini, soalnya sekarang FFn sulit untuk di akses, beberapa kali Jo juga sulit untuk log in. tapi jika rumah Jo nanti sudah selesai Jo bangun, Jo pasti kasih tau kalau-kalau temen-temen masih mau baca imajinasi-imajinasi Jo.

oya disini ada yang punya twitter kah? kalau ada boleh dong follow jo di at joanbabykyu, nanti pasti Jo follback ko :)

see you on the next chapter ^^