Joanbabykyu present

Love for You

cast : Kyuhyun, Siwon, Yunho -perubahan marga untuk kepentingan cerita- and other.

Disclaimer : Hanya cerita gaje dan abal ini saja yang milik saya

Warning : Typo(es), Boys love. menimbulkan muntah-muntah dan pusing mendadak. tapi, segaje-gajenya cerita saya tetap saja NO COPAS, NO PLAGIAT! DLDR!

Sudah beberapa malam ini, Siwon terserang insomnia mendadak. Semenjak ia menatap lelehan caramel milik sang kakak ipar yang berhasil menyedotnya pada sebuah lingkarang ketertarikkan tiada henti. Semakin ia memejamkan mata semakin ia melihat jelas bayangan si pemilik lelehan caramel itu. Bagaimana mata sendu itu berbinar cerah saat menatapnya meski hanya dalam hitungan detik.

Pikirannya kalut. Ia tahu ini masih terlalu cepat untuk ia mengatakan bahwa ia telah jatuh hati. Jatuh hati pada seorang pria bermata sewarna lelehan caramel dengan kulit putih pucat. Pria yang adalah kakak iparnya sendiri, istri dari Hyung yang paling ia hormati dan sayangi.

Siwon mengubah posisinya. Ia yang tadinya tengah berbaring kini mulai mendudukan dirinya di atas ranjang. Ia melirik ke arah nakas dimana ia meletakkan sebuah jam digital disana. 23.49 .

"Sudah larut ternyata." Siwon bergumam lirih. Ia beranjak turun dari ranjangnya. Melangkah keluar kamar. Suasana terasa hening, hanya ada suara detakkan jarum jam yang terus menerus berputar menunjukkan keangkuhan sang waktu yang tidak akan pernah bisa dihentikan perputarannya oleh siapapun. Kakinya melangkah menuju ruangan yang terletak disebelah kamarnya. Ruangan dengan pintu kayu mahoni bercat-kan warna coklat. Ruangan dimana sang kakak menyimpan semua suka maupun dukanya. Ruangan dimana sang kakak menyimpan semua rahasianya. Ruangan yang menjadi saksi bisu dengan apa yang telah sang kakak lakukan saat malam telah tiba selama ia dalam masa pertumbuhan.

Siwon berhenti tepat di depan pintu berwarna coklat itu. Tangannya terjulur menyentuh gagang pintu. Dengan hati-hati ia menekan gagang itu ke bawah hingga menimbulkan geseran pelan pintu itu. Menampakkan isi di dalamnya. Mata Siwon terpaku pada sosok sang pencuri hati. Sosok itu tengah berbaring dengan mata terpejam, dengan boneka Pikachu dalam pelukannya. Ia bisa melihat dada itu naik turun tanda bahwa masih ada kehidupan dalam raga pria manis itu. Melangkah mendekat pada sosok itu. Memperhatikan dengan intens setiap inchi wajah manis yang Tuhan ciptakan dengan sempurna.

Bulu mata lentik menghiasi kelopak matanya, setiap kali mata itu terpejam menyembunyikan bola mata sewarna lelehan caramelnya. Pipi gembilnya dengan tulang pipi menonjol menciptakan keimutan yang mutlak. Dan yang paling menarik perhatiannya adalah sang plumy berwarna pink ke-orange-an. Hasratnya menginginkan bibir jokernya untuk terpaut dengan sang plumy, menyesap, melumat, menjilat membuatnya terlihat membengkak dan memerah merekah. Siwon menggelengkan kepalanya, saat lagi-lagi ia tersedot dengan pesona sang plumy. Tidak. Ia tidak berhak melakukan hal itu. Pemilik plumy itu adalah milik sang kakak dan ia tak ingin mengkhianati sang kakak yang telah tiada itu.

Siwon semakin intens menatap wajah manis itu. Ia hanya ingin memuaskan hasratnya menikmati karya Tuhan paling sempurna yan pernah ia temui, sebelum ia harus kembali kepada rutinitasnya di Jepang sana minggu depan.

Ya. Sudah beberapa malam ini Siwon datang berkunjung ke kamar Yunho yang kini dihuni oleh Kyuhyun. Ia hanya ingin terus merekam potret Kyuhyun sebanyak yang ia bisa sebelum ia harus pergi meninggalkannya untuk 3 bukan ke depan. Ia masih harus menyelesaikan kuliahnya di negeri terbit matahari sana. Ia bertekad untuk membawa Kyuhyun keluar dari jurang kepedihan yang tidak ingin Kyuhyun bagi dengan siapapun itu.

Setelah kurang lebih 2 jam Siwon berdiri memusatkan atensinya pada sosok sang pujaan hati. Siwon akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Melanjutkan istirahat yang mutlak diperlukan oleh semua manusia di malam hari. Gerakan Siwon terhenti saat dirasanya sebuah tangan lembut menahan tangan kekarnya. Ia menoleh dan mendapati tangan lembut Kyuhyun kini menggenggam tangannya. Obsidiannya beranjak menelusuri tangan itu ke atas sampai ia menangkap lelehan caramel itu kini terbuka dan menatapnya dengan pandangan sendu. Siwon bisa melihat plumy yang selalu menggodanya untuk membenamkan jokernya disana itu bergerak tanpa suara. Satu hal yang ia yakini, plumy itu menyerukan nama sang Kakak.

Beberapa detik kemudian tangan lembut itu melepas genggamannya. Kembali memeluk erat boneka Pikachu yang tidak pernah lepas dari dekapannya. Dan Siwon kembali menyaksikan bagaimana lelehan caramel itu berubah. Mengosongkan segalanya. Plumynya kembali bergerak-gerak bersenandung lirih. Siwon bisa merasakannya. Perasaan kehilangan yang amat sangat besar.

. . .

"Sayang, ayo buka mulutmu." Nyonya Choi berseru lembut menyuruh menantunya untuk membuka mulut. Ia saat ini tengah menyuapi Kyuhyun. Kyuhyun tidak mungkin makan sendiri, maka ia berinisiatif untuk menyuapinya. Nyonya Choi tersenyum saat Kyuhyun membuka mulutnya dengan perlahan, ia segera menyuapkan satu sendok bubur sebelum mulut itu tertutup lagi. Senyumnya semakin terkembang saat melihat Kyuhyun mengunyah buburnya sedikit lalu kemudian menelannya.

"Kyu, sudah lama rasanya kita tidak pergi jalan-jalan berdua. Kau ingat? Saat Eomma sakit kau selalu menjaga Eomma. Mengajak Eomma berjalan-jalan ke taman. Kau bilang udara segar akan segera menyembuhkan penyakit. Maka dari itu, Eomma akan mengajakmu ke taman hari ini. Kau mau 'kan?" Nyonya Choi tersenyum meski ia tidak mendapat respon yang diharapkan. Kyuhyun masih dengan diamnya. Tidak ada yang ia lakukan selain membuka mulut, mengunyah lalu menelan. Nyonya Choi tidak menyangka jika menantu kesayangannya itu ternyata amat sangat mencintai putranya. Hingga kini sang menantu masih belum mau membuka diri. Masih memeluk boneka Pikachu yang ia yakini itu adalah pemberian dari putranya

Drtt Drtt

Nyonya Choi menatap layar ponselnya sebentar sebelum akhirnya ia menjawab panggilan atas nama suaminya itu. "Yeoboseo."

"…"

"Haruskah? Aku masih menyuapi Kyunie, yeobo."

"…"

"Ah, baiklah setelah ini aku akan segera kesana."

Pip

Panggilan berakhir. Nyonya Choi kembali menyimpan ponselnya di atas meja makan. Berniat untuk menyuapi Kyuhyun lagi sebelum suara Siwon menghentikannya.

"Ada apa Eomma?"

"Eo, Siwon-ah. Tidak ada apa-apa. Appa mu menyuruh Eomma untuk membantunya di kantor. Kau tahukan semenjak kakakmu meninggal kantor sedikit kacau. Kalau saja kau mau segera masuk ke kantor. Pasti Appamu tidak akan menyuruh Eomma. Lagi pula Eomma tidak mau membiarkan Kyunie sendiri."

"Aku sudah bilangkan Eomma, jika aku akan mulai masuk kantor setelah aku menyelesaikan kuliahku? Aku hanya tidak ingin Appa di cap buruk oleh para pegawai karna memperkerjakan aku yang bahkan belum mendapat gelar sarjana. Tapi sudah menduduki posisi penting. Tunggulah sampai 3 bulan lagi. Aku akan segera menyelesaikan kuliahku dan membantu Appa disini." Siwon memang keras kepala. Apapun yang telah ia rencanakan harus ia capai sesuai dengan apa yang telah ia rancang. Siwon hanya ingin memberikan yang terbaik kepada perusahaan sang Appa agar ia bisa mengembangkan perusahaan dengan baik, seperti Appa dan juga Hyungnya.

"Ya, eomma mengerti." Nyonya Choi tersenyum mendapati keteguhan Siwon. Siwon memang berbeda dengan Yunho. Yunho sangat penurut dan juga tidak terlalu banyak main-main, sementara Siwon sangat berpendirian teguh dan terkenal dengan sifat cassanovanya. Tapi Nyonya Choi tidak pernah meragukan hati kedua anaknya. Mereka sama-sama mencintai keluarga yang telah membesarkan mereka. Nyonya Choi amat sangat bersyukur dengan hal itu.

Siwon memperhatikan sang Eomma yang kini menyuapkan kembali sesendok bubur kepada Kyuhyun. Ia menyaksikan bagaimana bibir itu terbuka dan bergerak-gerak, namun mata dan organ tubuh lainnya tak ada yang bergerak, membuatnya kembali tergoda dengan pesona Kyuhyun. "Eomma, biar aku saja yang menyuapinya. Bukankah Appa sekarang lebih membutuhkan Eomma?" Siwon menawarkan dirinya.

"Eo, kau yakin?"

Siwon mengangguk pasti. Ia hanya ingin mencoba untuk lebih dekat dengan sosok sang pujaan hati.

"Baiklah kalau begitu." Nyonya Choi menyerahkan mangkuk bubur yang isinya tinggal separuh itu kepada Siwon. "Ah ya. Jika sudah selesai bisakah kau membawanya berjalan-jalan keluar? Eomma rasa itu bisa membuat Kyunie lebih segar."

"Ne, Eomma."

Setelah kepergian sang Eomma, suasana meja makan kembali hening. Melihat Kyuhyun yang sudah menelan makanannya, ia mulai menyendok satu suap bubur untuk kemudian di asongkannya pada Kyuhyun. Hatinya menghangat saat Kyuhyun membuka mulutnya. "Sebenarnya aku tidak tahu siapa namamu. Aku hanya sering mendengar Eomma dan Appa memanggilmu Kyu atau Kyunie. Tapi aku tidak begitu peduli, karna aku memiliki panggilan khusus untukmu. Baby. Aku akan memanggilmu begitu." Siwon kaget saat Kyuhyun tiba-tiba saja menoleh dengan air mata yang mengalir di pipinya.

Hatinya terasa ngilu saat ia melihat bagaimana cara pria itu menangis. Betapa lelehan caramel itu penuh dengan rasa kecewa dan kepedihan. Ingin sekali ia merengkuh sosok itu ke dalam pelukannya. Mengusap punggung rapuh itu lembut. Menghapus cairan bening yang menodai hamparan pipi putih Kyuhyun. Mengatakan padanya bahwa semua akan baik-baik saja. Membisikkan cintanya, menjanjikan cintanya. Namun, apalah daya. Ia bahkan tidak sanggup menggerakkan tubuhnya. Walau hanya mengambil nafaspun ia tak sanggup. Dan Siwon semakin membeku saat Kyuhyun memeluk erat boneka pikachunya dan menangis keras. Membenamkan wajahnya di punggung boneka Pikachu.

. . .

Kyuhyun baru saja tertidur. Siwon dengan setianya menemani pria berkulit pucat itu. Tangannya mengusap peluh yang membasahi dahi Kyuhyun. Mengambil handuk kecil lalu dicelupkannya pada air hangat, kemudian diperasnya hingga menyisakan lembab pada handuk tersebut. Menyingkap poni Kyuhyun, dan menempelkan handuk tersebut. Cara yang telah dilakukan oleh ribuan orang jika seseorang tengah dilanda demam.

Siwon terpaku menatap sosok yang kini tengah tertidur pulas itu. Ia kaget. Saat Kyuhyun sudah tak menangis lagi. Badannya tiba-tiba menggigil dan suhu tubuhnya meningkat. Ia tidak habis pikir jika seseorang telah lelah menangis bisa sampai terserang demam seperti itu. Setelah lepas dari masa kagetnya Siwon tersadar dan membopong Kyuhyun ke kamarnya. Menyuruh seorang maid untuk membawakannya air hangat dan juga handuk kecil bersih.

Kyuhyun sendiri hanya bisa memeluk tubuhnya dengan erat. Memeluk lututnya berharap rasa hangat bisa segera menyergap tubuhnya. Membayangkan bahwa tangan itu adalah tangan milik sang kekasih hati. Cintanya. Namun, seerat apapun ia mendekap tubuhnya, rasanya tetap tidak sama. Sampai dirasanya seseorang menyelimutinya dengan dua lembar selimut hangat. Sedikit demi sedikit rasa kantuk mulai menyergapnya. Sedetik kemudian ia tertidur pulas.

. . .

Duk Duk Duk

Siwon yang sudah terbiasa bangun di tengah malam, mengernyit heran saat ia mendengar suara gesekan keras yang disengaja. Dari arah suaranya Siwon tahu jika itu berasal dari kamar sebelah. Kamar yang kini ditempati oleh Kyuhyun. Merasa penasaran, Siwon akhirnya beranjak dari posisinya. Melangkah menuju kamar yang sudah beberapa malam ini ia kunjungi. Samar-samar ia bisa mendengar sebuah senandung lagu. Suaranya terdengar sangat merdu.

KRIET

Begitu pintu terbuka Siwon langsung disuguhkan dengan sebuah pemandangan. Matanya menangkap sosok sang pria manis tengah duduk ditepi ranjang dengan boneka Pikachu yang tidak pernah lepas dari pelukannya. Kakinya mengayun maju-mundur bergesekan dengan kaki ranjang sehingga menimbulkan bunyi 'duk duk duk' yang konstan.

Siwon terpaku saat sadar jika suara merdu yang menyenandungkan sebuah lagu itu adalah suara milik pria manis si pencuri hatinya. Suara lembut yang menggetarkan hati. Suara itu bagaikan suara kicauan burung dipagi hari. Memberikan setitik rasa hangat pada hatinya. Meski Kyuhyun selalu bersenandung tapi baru kali ini ia mendengar dengan jelas suara merdu Kyuhyun. Kyuhyun yang memang tidak pernah mengeluarkan suaranya dari semenjak pertemuan pertama mereka.

Siwon tidak tahu. Tapi lagi dan lagi pria berlesung pipi itu terperosok kedalam lubang cinta yang tidak pernah Kyuhyun buat. Membuatnya semakin menginginkan sosok itu. Sosok yang masih membentengi dirinya dari dunia luar dengan diamnya. Sosok rapuh yang tengah meratapi kepergian kekasih hatinya.

Suara merdu itu semakin jelas terdengar. Membuatnya berusaha menahan keinginannya untuk membawa sosok itu ke dalam dekapannya dengan sekuat tenaga. Tidak. Ia buka seorang pria lancing yang akan mengambil kesempatan di dalam kesempitan. Meski ia sering bermain dengan banyak wanita. Tapi, ia tidak pernah memaksa kepada wanita yang tidak ingin diajaknya kencan.

Kyuhyun semakin mengeratkan pelukannya pada boneka pikachunya, sebelum akhirnya ia kembali menangis. Menumpahkan segala kegundahan yang ia rasakan selama ia berdiam diri. Ia meraung. Menjerit. Menginginkan sang penawar rindu hadir disampingnya. Memeluknya. Memanjanya. Menciumnya. Mengatakan padanya bahwa ia masih bernafas. Ia masih akan bertemu dengan Kyuhyun. Ia masih akan menemani tidur Kyuhyun. Ia masih akan menemani hidup Kyuhyun hingga ajal menjemput keduanya secara bersamaan. Kyuhyun tidak mau hidup tanpa ada ia disampingnya. Ia ingin mati.

Mati.

Ya. Benar. Satu-satunya cara agar ia bisa bertemu dengan Yunho adalah ia harus pergi dari dunia fana ini. Ia harus meninggalkan kehidupan yang seperti roda berputar ini. Ia harus menyusul Yunho menuju alam keabadian sana.

Siwon tersentak saat dilihatnya Kyuhyun berdiri lalu kemudian berlai ke arah laci nakas. Menghambur-hamburkan semua barang yang ada disana. Obsidian Siwon seolah akan melompat keluar dari tempatnya saat dilihatnya Kyuhyun menggenggam sebuah gunting. Tidak. Baby, aku tahu kau tidak mungkin melakukan hal itu. Batin Siwon kalut.

Kyuhyun masih menatap gunting tajam itu dengan intens. Sedetik kemudian tangannya bergerak melebarkan gunting itu. Membuka bagian tajamnya untuk kemudian diarahkannya ke nadi kecil yang berada pada pergelangan tangan kirinya. Sebentar lagi. Yunnie kita akan bertemu sebentar lagi tunggu aku. Kyuhyun memejamkan matanya sambil tersenyum. Tangan kanannya semakin mendekatkan gunting itu pada lengan kirinya. Yunnie aku datang.

SRET

PRANG

Kyuhyun kembali membuka matanya saat gunting yang sedari tadi ia genggam tiba-tiba terlepas dari tangannya. Punggungnya terasa dilingkupi oleh sebuah kehangatan. Jantung Kyuhyun berdetak cepat saat sadar bahwa kehangatan itu berasal dari sosok lain.

"Tidak. Kau tidak boleh melakukan itu. Aku mohon jangan bertindak bodoh. Yunho Hyung pasti tidak ingin melihatmu seperti ini. Kau harus bangkit. Yunho Hyung pasti menginginkanmu untuk kembali menjalani kehidupan seperti biasanya."

Hening. Hanya menyisakan sebuah isakan menyayat hati yang tercipta dari plumy itu. Sementara Siwon semakin mengeratkan pelukannya. Biarlah. Untuk kali ini ia ingin memeluk tubuh ringkih itu sebelum ia harus pergi esok hari. Menjalani hari-harinya di negeri matahari terbit sana.

. . .

Tiga bulan kemudian

Kyuhyun terdiam di ruang keluarga. Tangannya sedari tadi membuka-buka sebuah majalah pakaian anak-anak. Ia akan tersenyum kecil saat ada satu barang yang menarik hatinya.

"Mommy~ Mommy."

Kyuhyun tersentak saat suara nyaring seorang anak berusia 3 tahun setengah itu menggelegar di ruang keluarga. Ia tersenyum saat matanya menangkap sosok kecil yang kini tengah berlari ke arahnya.

"Aigoo~ anak mommy habis dari mana hm?" Kyuhyun membawa sosok itu kepangkuannya. Mencium pipi gembil berlesung pipi itu dengan gemas.

"Henly cadi habic bermain dengan, Wookie Hyung dan Yecung Hyung. Meleka punya kula-kula Mommy. lucuuu cekali." Bocah yang menamai dirinya Henly itu berceloteh panjang lebar pada sang Eomma. Sambil sesekali tangannya bergerak-gerak menunjukkan keantusiasannya dalam bercerita. Kyuhyun hanya sesekali membalas celotehan bocah itu. Terkekeh geli saat bocah itu meunjukkan raut imut yang menggemaskan.

TBC

this is for you guys. maaf jika chapter ini terasa datar. semoga tidak mengecewakan. jika teman-teman mempunyai kritik dan saran teman-teman bisa menuliskannya di kotak review dibawah ini.

jo juga mau mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada teman-teman yang masih mau membaca fict gaje buatan jo dan juga memberikan setitik semangat kepada jo untuk tetap meneruskan cerita ini.

ohya sebenarnya cerita ini terinspirasi dari tetangga yang memang turun ranjang. suaminya meninggal karena kecelakaan kemudian dia menikah dengan adik dari almarhum suaminya.

salam hangat untuk teman-teman semua

see you on the next chapter~ *kecup basah*