Joanbabykyu present

Love for You

cast : Kyuhyun, Siwon, Yunho -perubahan marga untuk kepentingan cerita- and other.

Disclaimer : Hanya cerita gaje dan abal ini saja yang milik saya

Warning : Typo(es), Boys love. menimbulkan muntah-muntah dan pusing mendadak. tapi, segaje-gajenya cerita saya tetap saja NO COPAS, NO PLAGIAT! DLDR!

. . .

-3 months ago-

Hari ini keluarga Choi –tanpa Siwon dan Yunho- datang ke panti asuhan tempat biasa mereka memberikan sumbangannya. Sudah menjadi rutinitas keluarga Choi setiap sebulan sekali, untuk memberikan sedikit kebahagiaan kepada anak-anak kurang beruntung itu. Memberikan hiburan dengan membagikan mainan-mainan baru dan juga makanan-makanan kecil kesukaan anak-anak. Kebahagiaan bagi anak-anak kecil seperti mereka, bukanlah hal yang rumit. Cukup dengan sebuah permen dan coklat maka kebahagiaan ada ditangan mereka.

Kyuhyun melangkah dibelakang kedua mertuanya. Matanya sesekali melirik anak-anak kecil yang berlari riang bermain bersama dengan yang lain. Ada perasaan iri menelusup hatinya, seandainya ia tidak tumbuh menjadi dewasa dan tetap menjadi anak-anak, berlarian kesana kemari tanpa memikirkan hal lain. Tanpa perlu merasakan cinta yang selalu berakhir dengan kepedihan. Tanpa perlu merasakan kehilangan atas orang yang dicintainya.

Kyuhyun memang telah berubah. Semenjak malam itu Kyuhyun tidak lagi berdiam diri dengan memeluk sebuah boneka pikachu. Pria manis itu mulai melakukan beberapa hal. Meski kesedihan masih melingkupi hidupnya. Meski ia masih belum mau banyak bicara. Tapi paling tidak, pria manis itu sudah bisa diajak berkomunikasi dengan baik.

"Mommy—" Kyuhyun tersadar saat ada seseorang yang menarik celananya. Ia menundukan kepalanya melihat seorang bocah berusia 3 tahunan menatapnya dengan sendu. Kyuhyun melihat ke kanan dan ke kiri memastikan jika bocah itu benar-benar memanggil dirinya dengan sebutan... mommy? Kening Kyuhyun berkerut. Ia seorang pria dan kini ia dipanggil mommy oleh seorang bocah. Semua orang juga tahu jika panggilan mommy itu ditujukan kepada seorang wanita. Lantas kenapa bocah kecil itu menyebut dirinya mommy?

Kyuhyun menyamakan tingginya dengan tinggi bocah itu, saat bocah itu menyuruhnya menunduk dengan menggunakan isyarat tangan. "Mommy jangan cedih. Eomma bilang Tuhan cidak akan membialkan umatnya beljalan cendilian. Mommy jangan menangic lagi." Bocah itu mengusap lembut pipi Kyuhyun. Seolah tengah menghapus semua air mata yang selalu membasahi pipi tirus –yang dulunya chubby- itu.

Perasaan Kyuhyun menghangat saat jari-jari mungil itu menyentuh hamparan pipinya. Memberikan setitik kehangatan dalam hatinya yang telah membeku. Membeku karena kepergian Yunho. Air mata Kyuhyun tak bisa dicegah, kelopak mata itu memuntahkan kembali air matanya. Bukan. Bukan air mata kesedihan. Tapi sebuah kelegaan. Entah bagaimana caranya. Bocah kecil itu mampu membuatnya merasakan hidup kembali.

"Jangan menangic mommy—Henly ada dicini. Henly akan menemani mommy." Mata bocah yang menamai dirinya Henly –Henry- itu ikut memerah. Air matanya tumpah seiring dengan sebuah tarikan lembut yang membawanya pada sebuah dekapan hangat. Dekapan hangat yang sudah dua minggu ini tidak lagi dirasakan olehnya. Dekapan hangat dari tangan sang ibu yang telah meninggalkannya. Dekapan hangat yang selalu berhasil membuatnya terbuai dalam balutan hangat hingga mampu membuatnya tenggelam dalam alam bawah sadarnya.

"Henry—" panggilan salah satu pengasuh panti asuhan itu terhenti saat melihat bocah yang baru beberapa minggu ini hadir di panti asuhannya itu menangis terisak dalam pelukan seorang pria manis. bocah yang telah ditinggalkan pergi oleh kedua orang tuanya karena sebuah kecelakaan. Hanya bocah itu yang berhasil bertahan hidup dalam balutan tubuh tak bernyawa milik sang ibu.

Begitu pula dengan suami-istri Choi itu. Mereka dapat melihat pancaran kelegaan dari tangisan Kyuhyun. Seolah menantu mereka itu telah menemukan kebahagiaan yang baru. Menemukan teman hidupnya. Menemukan seseorang yang bisa diajaknya untuk berbagi kebersamaan.

. . .

"Henry baru saja kehilangan orang tuanya. Semenjak kami ajak kemari, anak itu menjadi seorang pendiam. Saya sangat khawatir, karena ia tidak mau berteman dengan siapapun. Saya sudah melakukan beberapa pendekatan. Namun, anak itu masih menutup diri. Bahkan ia tidak menangis. Tapi anda berhasil membuatnya berbicara, bahkan menangis. Terima kasih, Kyuhyun-shi. Tolong jaga ia baik-baik. Meski baru beberapa minggu, namun kami sangat menyayangi-nya."

Kyuhyun mengeratkan pelukannya pada Henry yang saat ini tengah tertidur dipangkuannya. Mereka masih berada dalam perjalanan menuju Mansion Choi. Kyuhyun amat sangat mengerti bagaimana perasaan Henry. Ia bahkan tidak pernah bertemu dengan orang tua kandungnya. Ia sudah tinggal di panti asuhan semenjak ia bayi hingga ia lulus Senior High School, ia keluar dari panti asuhan yang telah membesarkannya.

"Eomma, bolehkah aku membawa Henry pulang?" Tuan dan Nyonya Choi terkejut mendengar pertanyaan Kyuhyun. Mata yang biasanya menyendu itu, kini berubah cerah. Seolah ia telah siap untuk melangkah. Mengarungi kehidupan barunya dengan sosok kecil yang tidak pernah mau lepas dari kehangatan yang diberikan Kyuhyun. Bocah itu masih terus mendekap Kyuhyun, meski air mata tak lagi mengiringi keduanya.

"Kau yakin?" Tuan Choi bertanya membuat bocah berpipi chubby itu mengeratkan dekapannya pada Kyuhyun. Ia takut. Ia takut kehilangan sosok yang telah memberikannya kenyamanan dan kehangatan itu. Ia takut jika harus berpisah dengan sosok malaikat yang baru saja ia temui.

"Ne, Appa. Aku yakin." Kyuhyun menjawab mantap. Tidak ada keraguan disana. Ia sudah terlanjur jatuh hati pada bocah berlesung pipit itu.

"Arraseo. Kau boleh membawanya pulang."

. . .

JEPANG

Tidak banyak yang berubah memang semenjak kepulangan Siwon dari Korea beberapa hari yang lalu. Kampus masih tetap penuh dengan hysteria dari fans Siwon. Senyum menanwan milik pria tinggi itu tidak pernah lepas membingkai wajah tampannya. Hanya saja…

Lelaki jangkung itu nampak menyendiri di sudut Cafetaria kampus. Jemari panjangnya memutar-mutar sedotan di atas gelas bening berisi cairan berwarna merah. Terkadang bibir jokernya menempel pada benda plastik panjang itu, menyuruput sidikit demi sedikit cairan itu.

Uhukk

Siwon hampir saja tersedak minumannya saat tiba-tiba seseorang menepuk bahunya keras. "Ya!" Siwon menyentak pendek sebagai tanda protes. Ia masih disibukkan dengan rasa mengganjal dan gatal di tenggorokannya. Menjadikan sang pelaku penepukan itu menyodorkan sebotol air mineral yang sudah tersedia di atas meja kafetaria, setelah sebelumnya membuka penutup botol itu.

Siwon merampas botol itu dengan kasar. Segera meneguk cairan bening itu hingga setengahnya. "Ya! Kau ingin membunuhku?!" membentak manusia dihadapannya setelah dirasa tenggorokannya mulai nyaman. Obsidian itu terbuka lebar menandakan bahwa sang empunya tengah kesal. Apalagi ketika bentakkannya itu justru hanya ditanggapi dengan sebuah cengiran jahil.

"Ck!" Siwon hanya mampu berdecak kesal karenanya. Kembali menyamankan dirinya di kursi Kafetaria. Menggeser gelas yang masih berisi setengah itu menjauh darinya. Sedikit trauma mungkin.

Sang pria dihadapan Siwon hanya mampu mengernyit heran. Ada sesuatu yang tak biasa dari sikap Siwon akhir-akhir ini. Ia kemudian melarikan pandangannya ke seluruh penjuru Cafetaria. Memastikan jika pemikiran dan pandangannya tidak salah. "Ada apa denganmu?"

Siwon menoleh menatap Sho Jinnai –pria yang baru saja bertanya padanya-. "Apa maksudmu?" mengernyit heran karena mata milik pemuda kelahiran jepang itu tidak menatap matanya sama sekali. Mata itu masih berputar mencari sesuatu yang tidak ia ketahui.

"Dimana lebah-lebah berisik itu?"

Ah, Siwon mengerti sekarang. Tidak salah memang jika Sho Jinnai mempertanyakan hal itu. Selama 4 tahunan ini, dimanapun Siwon berada pasti akan ada minimal 2-4 orang gadis yang menempel pada Siwon. Seolah Siwon adalah madu manis, dan wanita-wanita itu adalah lebahnya. Siwon tersenyum "Mungkin mereka sudah bosan padaku."

Sho Jinnai berdecak kesal. Bagaimana mungkin wanita-wanita itu sudah bosan, sementara tadi pagi ia kembali harus menutup telinganya dengan musik yang keras karena jeritan-jeritan tak manusiawi dari para penggemar Siwon. "Kupikir justru kau yang bosan dengan mereka."

Siwon kembali tersenyum mendengar penuturan sahabat seperjuangannya. Mungkin pria yang lebih muda 2 tahun darinya itu memang benar. Ia sudah bosan dengan wanita, karena kini otaknya hanya dipenuhi oleh pria manis pencuri hatinya.

-end-

. . .

KOREA

"Mommy tendang bolanya!"

Kyuhyun yang sedang menyiram tanaman di halaman belakang bersama ibu mertua menoleh kebelakang. Tepat dimana henry bersama ayah mertuanya tengah bermain bola. Bola itu menggelinding tepat dibelakang kaki jenjang Kyuhyun. Kyuhyun mematikan air yang mengucur dari selang, menyimpannya di atas rerumputan hijau, kemudian memungut bola itu. Tersenyum dan berlari menuju Henry dan juga ayah mertuanya. Ia tersenyum menyimpan benda bundar bercorak hitam-putih itu di atas rumput kemudian menendangnya ke arah sang ayah mertua.

"Yak! Mommy culang!" henry berlari mencoba meraih sang bola yang menggelinding cepat ke arah sang kakek. Namun, tentu saja sang kakek akan jauh lebih cepat darinya. Begitu bola itu berada di tangannya, Tuan Cho segera melempar bola ke arah Kyuhyun.

"Huweee~ Mommy! Halabeoji!"

Kyuhyun dan Tuan Choi tidak memperdulikan Henry yang sudah merengek. Mereka sangat menyukai saat tubuh gempal milik Henry berlarian kesana kemari mencoba menangkap bola yang terus melayang di antara mereka.

Mata Henry memerah. Nafasnya semakin memburu. Ia sudah lelah mengejar bola yang terus melayang kepada Mommy ataupun Kakeknya. "Huweee~ halmonie—" Henry segera berlari kepada sang nenek yang sejak tadi tersenyum menyaksikan ulah jahil Kyuhyun dan suaminya. Memeluk kaki sang nenek dengan erat.

Nyonya Choi segera mengangkat anak itu ke dalam gendongannya. Matanya melotot marah pada suami dan menantunya, karena telah membuat cucu kesayangannya menangis.

Kyuhyun yang meyadari hal itu hanya tersenyum tipis. Melangkah mendekati mereka, mencoba membujuk si kecil dengan menggendongnya. "Chilleoo~ Henly mau cama halmonie!" Kyuhyun kaget mendengar penolakan Henry.

"Aigoo—maafkan Mommy ne? mommy tidak sengaja. Sini sama Mommy, kasihan Halmonie, Henry kan sekarang semakin berat."

"Chilleoo! Mommy jahat!" Henry semakin menyusupkan wajahnya pada ceruk leher sang nenek. Memeluk lehernya dengan erat.

"Jeongmal? Henry tidak mau sama Mommy? Kalau begitu mommy akan jalan-jalan bersama Haraboeji saja."

"Andwee—ne Henly mau cama Mommy." Bocah itu kemudian melepaskan pelukannya pada sang nenek. Menjulurkan tangannya ke arah Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum sambil menggendong Henry. Melangkah ke dalam rumah, menyghapus air mata yang ada di pipi Henry.

. . .

"Mommy! Daddy itu seperti apa?" malam itu Kyuhyun dan Henry berdiam diri di balkon kamar –bekas Yunho- menatap langit yang saat ini tengah ditaburi bintang. Dua orang berbeda usia itu menyandarkan diri mereka masing-masing di pagar balkon.

"Daddy? Tentu saja Daddy mu itu orang yang paling tampan di dunia." Kyuhyun tersenyum sambil menerawang. Mengingat setiap senyuman yang selalu pria tampan itu suguhkan padanya. Henry menatap wajah lembut Kyuhyun. Ia jadi ikut tersenyum melihat senyuman itu.

"Henly cudah celing melihat foto Daddy, Mommy. Tapi menulut Henly, tetap caja henly yang paling tampan."

Kyuhyun memutar bola matanya malas mendengar celotehan Henry. "Lalu kenapa masih bertanya, daddy itu seperti apa, huh?" dulu Kyuhyun sering menangis jika ada yang mengingatkannya tentang Yunho. Tapi semenjak kedatangan Henry sedikit demi sedikit ia mulai bisa menerima kepergian Yunho. Apalagi setelah sebelumnya ia mendapatkan sedikit pelukan hangat dari seseorang yang tiba-tiba menghilang, saat esok hari ia membuka mata. "Henry-ya! Kenapa Henry memanggilku Mommy? Kenapa bukan Appa, atau Daddy?"

Henry terdiam sebentar. "Kalena Mommy, cepelti Mommynya Henly. Tangan Mommy juga hangat cepelti tangannya Mommy henly. Wajah Mommy juga cangaaaatttt cantik!" bocah itu merentangkan tangannya lebar-lebar mencoba menunjukkan seberapa cantik pria manis yang ada dihadapannya itu.

Kyuhyun segera merengkuh bocah itu ke atas pangkuannya. "Aigoo sudah pintar menggombal, eoh?" menggelitik perut beuncit itu hingga menimbulkan suara tawa riang dari bibir mungil sewarna cherry milik Henry.

Kyuhyun amat sangat bersyukur telah dipertemukan dengan bocah itu.

. . .

Henry menggiring bolanya seorang diri di halaman depan rumahnya. Harabeoji sedang bekerja di kantor dengan ditemani Halmeoni. Sementara sang Mommy lebih memilih bermain game di laptopnya. Menendang bola itu, lalu kemudian ia kejar. Menendangnya lagi, mengejarnya lagi. Sampai akhirnya…

Duk

ARGHHH

"Ommo!" Henry menutup mulutnya saat tak sengaja bola yang ia tendang, melambung tinggi dan akhirnya mendarat di kepala seseorang. Ia segera berlari mendekat ke arah orang itu. "Ahjucci—gwenchana?"

Henry berjongkok dihadapan pria muda itu. Mencoba melihat wajah orang yang telah ia lukai itu. Begitu matanya dapat dengan jelas melihat wajah itu, bocah gembul itu berteriak. "Ommona! Mommyyyyyy- Daddy pulaaaanggggg~" berlari ke dalam rumah mencari keberadaan sosok sang Bunda.

"Mommy! Daddy pulang!"

Kyuhyun terdiam mendengar celotehan Henry. Hatinya seolah berhenti berdetak. Perasaan nyeri yang telah hilang itu kembali menyergapnya. Daddy? Yunho? Benarkah? Benarkah, lelaki yang paling ia cintai itu pulang? Lelehan caramel itu berkaca-kaca siap memuntahkan air yang menggenang di balik kelopak matanya. Tubuhnya terasa ringan saat, bahkan saat bocah itu menarik tangannya menuju keluar rumah.

Kyuhyun dan Henry terhenti di ruang tamu, saat mata mereka menangkap sosok yang Henry panggil daddy itu tengah melangkah memasuki pintu utama. Kyuhyun dapat melihat dengan jelas pria yang tengah mengayunkan kakinya itu sedanng memegang kening dan menahan kesakitan.

Merasa ada yang mem[erhatikan, lelaki itu menghentikan langkahnya sejenak dan menatap ke dalam. Saat obsidian itu kembali menangkap lelehan caramel milik pemilik hatinya. Jangtungnya berdebar kencang, ada sedikit perasaan lega karena ia dapat menatap lelehan caramel itu kembali.

"Baby—"

TBC

Hallo- masih ingat dengan ff ini? semoga masih ingat. kalau tidak silahkan baca lagi hehe

maaf atas keterlambatan update, ada beberapa kendala yang menghambat proses pengetikan.

semoga chapter ini juga menjawab semua pertanyaan teman-teman, jadi Henry anak siapa? ehe

pendek? iya. semoga kedepannya bisa lebih panjang lagi. typo? sudah mencoba meminimalisir, tapi jika masih ada yang nyempil salah kan jemari Jo yang masih belum terbiasa mengetik ehe.

terima kasih juga, untuk teman-teman yang selalu memberikan setitik semangat untuk Jo lewat review kalian. membaca review kalian adalah hiburan tersendiri untuk Jo.

see you on the next chapter ^^

Mind to review again? ^^