Two years later

"Mommy~~ Henly tidak bica memacang tali cepatunya!" Henry berteriak kesal karna sejak 10 menit yang lalu ia tak kunjung berhasil mengikat tali sepatunya. Melipat tangan di dada sambil memandang sengit tali sepatu yang terjuntai tak berdaya di samping sepatunya.

"Sebentar sayang, mommy sedang menyiapkan bekalmu." Kyuhyun ikut berteriak dari arah dapur. Ia tahu pasti Henry sudah tidak sabar untuk hari ini. Pagi-pagi sekali bocah itu sudah bangun dan pergi mandi. Padahal biasanya Henry akan sulit untuk dibangunkan di pagi hari.

Ting Tong

"Henly-ya, tolong bukakan dulu pintunya."

"Ne mommy!" Henry bergegas menanggalkan sepatunya lalu segera meraih gagang pintu guna membukakan pembatas itu.

"Daddy!" Henry berjingkrak senang mendapati seorang tamu yang tak asing baginya.

Seseorang yang dipanggil daddy itu tersenyum menawan seperti biasa, mengusak rambut Henry dengan sayang.

"Sudah siap?"

Henry menggeleng sambil mengerucutkan bibir pink-nya. "Henly tidak bica mengikat tali cepatunya daddy, tapi mommy macih cibuk di dapul."

"Sudah tau belum bisa mengiikat tali sepatu, kenapa kemarin merengek meminta sepatu bertali hmm?" Siwon mencubit gemas pipi Henry, membuat bocah itu meringis malu. "Ya sudah, sini daddy ajarkan."

Kyuhyun meraih kotak bekal dan juga botol air mineral untuk bekal Henry. Kyuhyun dapat mendengar suara tawa renyah Henry. Kalau Siwon-shi datang pasti aku dilupakan.

"Yeayyy~~ gomawo daddy." Henry memeluk untuk kemudian mencium pipi Siwon, hal kecil yang telah Kyuhyun ajarkan padanya untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada keluarga dan orang-orang yang disayanginya.

Henry menatap garang seseorang yang berada dihadapannya. Keadaannya tak jauh berbeda dengan dirinya yang sama-sama berada dalam cekalan orang lain. Api amarah masih menyulut ubun-ubunnya. Lengan yang kini berada pada cekalan seorang guru itupun terkepal erat. Tak sanggup lagi bersabar pada waktu.

Namun, begitu pintu ruangan itu terbuka menampakkan sosok cantik yang sangat ia kasihi, seolah sebongkahan salju menimpa hatinya. Rasa panas yang sedari tadi menderanya berubah sejuk. Menyirnakan semua rasa kesal yang telah melandanya.

"Mommy tidak pernah mengajarkanmu untuk memukul orang lain, ataupun terlibat perkelahian dengan orang lain."

Henry terdiam. Ia tahu ia telah bersalah, iapun sudah memmprediksi hal ini akan terjadi. Kyuhyun kecewa dengan apa yang telah dilakukannya.

"Maaf, mommy." Henry berucap lirih.

"Minta maaflah kepada temanmu. Maka mommy juga memaafkanmu." Tegas Kyuhyun bernada final.

Henry menatap punggung Kyuhyun yang kini telah menghilang dibalik pintu kamarnya. Tangannya terkepal erat. Tidak. Ia tidak akan pernah meminta maaf kepada orang yang telah menghina orang tuanya.

Kyuhyun merasakan pipinya memanas begitu sadar ia berada di atas punggung tegap milik siwon. Jantungnya seakan-akan ingin meloncat saking ia tak sanggup mengendalikan deguban hebat yang melandanya berbanding terbalik dengan perasaan tentram dan nyaman yang hinggap dihatinya.

Punggung itu terasa hangat dan nyaman nembuat siapapun enggan beranjak dari kehangatan yang disajikannya.

Coming soon Love for You Chapter