Makasih buat kalian semua yang udah review! Maaf nih ga bisa bales satu per satu, jadi aku gabungin aja ya.

Ni MC kok, tombol completed nya kan belum aku klik dan kubikin plotnya agak lambat. Chapter pertama memang sengaja aku bikin pendek tapi chapter-chapter selanjutnya bakal lebih panjang. Sasuke gay? Iya gak ya? Nanti dibahas di suatu chapter ke depan. Masalah kenapa setahun nanti dijelasin sama Naruto sendiri di chapter selanjutnya, bukan yang ini ya jadi tungguin aja.

Naruto itu jadi istrinya Sasuke, cuma Sasuke loh ya. Itachi mah jomblo, maunya sih sama aku tapi ga mungkin ya -_-. Naik rate? Ahaha, ga ah. Aku ceritanya mau tobat nih, tapi.. ya pokoknya rate ga akan berubah. #mungkin

Khusus buat adik seperguruanku yang cerewet, kan pernikahannya nanti ada di fic kamu. Makanya aku skip #ngeyel.

Update bakal kira-kira dua minggu sekali. Masih ada kemungkinan bakal lebih cepat, tergantung, yang pasti ga akan lebih lama dari dua minggu.

Nah, silahkan dinikmati chapter 2.

Gaara (27 tahun)


"Ibu, aku lupa memberikannya kemarin. Ini surat dari Ibuku untuk Ibu." Naruto menyerahkan sebuah amplop putih kecil kepada Mikoto. Entah apa yang Kushina tuliskan di sana. Mungkin saja obrolan sesama wanita? Naruto baru saja bangun dari tidurnya dan sedikit tidak terbiasa saat melihat ada orang lain yang berbaring bersamanya. Tapi Sasuke memegang kata-katanya dan dia tidak berbuat yang aneh-aneh.

Setelah Naruto membersihkan diri, dia pun membantu menyiapkan pakaian Sasuke untuk pergi ke kantor sementara Uchiha bungsu itu pergi mandi. Di saat itulah dia mengingat pesan yang disampaikan Kushina untuk Mikoto. Dia meraih sepucuk surat dari tasnya dan pergi mencari ibu mertuanya yang ternyata baru saja turun dari kamarnya di lantai dua saat Naruto hendak mencarinya.

"Terima kasih, sayang." Mikoto membuka amplop itu dan membaca suratnya. Beberapa kali dia mengerutkan dahi saat membacanya tapi setelah itu dia mengangguk tanda mengerti. Wajah bingungnya menarik perhatian Naruto yang memang tidak tahu apa isi surat tersebut.

"Apa ada yang salah, Bu?"

Mikoto melipat secarik kertas itu, memasukkannya kembali ke dalam amplop dan menyimpannya di dalam saku bajunya "Tidak ada, Naru. Sebaiknya kita segera ke dapur, sebentar lagi waktunya sarapan. Apa kau mau membantu Ibu menyiapkan makanan?"

"Tentu saja."

Mereka berdua pun beranjak ke dapur. Ini bukan pertama kalinya bagi Naruto untuk memasak. Karena sering menghabiskan waktu di rumah, sesekali dia membantu Kushina di dapur. Setelah sekian lama dia pun terbiasa dengan kegiatan tersebut dan cukup menikmatinya. Walau demikian, Naruto belum terlalu mahir dan masih perlu banyak belajar.

Meskipun memasak belum menjadi hobinya, tapi Naruto memiliki buku catatan resep sendiri. Kebanyakan adalah masakan yang Kushina ajarkan padanya. Dia selalu mengingat semua masakan yang pernah dia buat dan rasanya lumayan enak. Bagi Naruto memasak hanyalah kegiatan untuk mengisi waktu luang dan belum menjadi suatu keharusan karena masih ada Kushina di rumah yang selalu memasak untuk mereka bertiga. Sepertinya kebiasaannya itu akan membantunya di rumah ini.

"Kalau begitu, mulai sekarang biar Ibu yang mengajarimu. Sesekali kau juga harus terbiasa menghidangkan makanan untuk suamimu."

"Iya, aku akan berusaha."

Dalam waktu setengah jam saja mereka sudah selesai. Mikoto meminta Naruto untuk memanggil para pria di saat dia menyiapkan meja makan. Ketiga pria sudah terlihat rapi dengan jas mereka. Hari ini akan ada rapat dengan perusahaan lain dan Sasuke ikut di dalamnya untuk belajar lebih banyak. Saat akan mulai menyantap, Itachi menyipitkan matanya dan bertanya dengan nada dingin kepada ibunya.

"Mengapa menu dia sedikit berbeda dengan kita semua?" Itachi menunjuk piring makan Naruto. Terlihat wajahnya sedikit tidak suka dengan hal itu. Baginya ibunya terlalu bersikap baik kepada Naruto.

"Oh, itu karena nak Naru alergi dengan beberapa macam makanan. Karena itu sedikit berbeda." Mikoto menjawabnya dengan santai. Naruto mengartikannya bahwa isi surat dari Ibunya itulah yang memberitahu Mikoto tentang alerginya.

Itachi mendecak dan mulai menyantap makan paginya. "Merepotkan saja."

Sasuke hanya menatap sang istri yang saat ini terlihat duduk tidak nyaman di sampingnya. Mereka semua menyantap sarapan pagi itu dalam diam. Setelah ketiga pria pergi, para istri ditinggalkan untuk membereskan sisanya. Naruto ikut membantu tapi dia masih belum mengatakan apa-apa.

Mikoto merasakan kegelisahan Naruto dan menepuk pundaknya pelan. "Tidak perlu khawatir. Itachi memang sedikit ketus tapi dia bukan orang yang buruk."

"Tidak apa-apa, Bu. Aku percaya kak Itachi hanya belum terbiasa denganku." Sejujurnya Naruto sedikit lega dengan hal itu. Setidaknya mereka tidak akan kecewa ketika dia pergi setelah satu tahun nanti. Jika sejak awal tidak ada ikatan maka tidak akan terlalu sulit untuk meninggalkan semuanya. Itu yang dia pikirkan.

Mikoto tersenyum pada menantunya itu. Sungguh anak yang baik dia pikir. Dia tidak tahu bahwa sebenarnya Naruto menyimpan sesuatu yang lebih besar dibalik kata-katanya. "Hari ini kau ada rencana apa, Naru?"

Naruto meletakkan piring terakhir dan memikirkan pertanyaan tersebut. "Aku tidak tahu. Biasanya aku hanya diam di rumah ketika Ayah dan Ibu bekerja. Karena pos dari Gaara belum datang, jadi aku tidak ada kerjaan. Sesekali Gaara juga datang mengunjungi dan menemaniku mengobrol. Terkadang dia pun mengajakku main ke luar atau mengunjungi kafe, tapi tidak terlalu sering."

"Siapa Gaara?"

"Ah, dia temanku sejak SMP. Sewaktu aku tinggal di Suna kami pergi ke sekolah yang sama sampai SMU. Ketika Ayah memutuskan pindah ke Konoha, kami sempat berpisah beberapa lama karena Gaara meneruskan kuliah di sana. Setelah lulus dia pun datang kemari dan membuka kafe kecil-kecilan. Sudah dua tahun sejak itu, kafenya memang belum besar tapi sudah semakin maju. Bahkan sekarang sudah ada beberapa pegawai."

"Jadi kau dulu tinggal di Suna? Ah, sebentar. Ibu akan menyiapkan dua gelas cokelat panas dan kita bisa mendengarkan ceritamu saat di Suna."

Hari itu pun Naruto lewatkan dengan bercerita tentang masa lalunya. Dimulai dari bagaimana dia bertemu dengan Gaara dan menjadi sahabat. Gaara adalah satu-satunya teman yang dia miliki dari dulu sampai sekarang. Sepi memang, tapi bagi Naruto Gaara saja sudah cukup.

Kafe yang Gaara miliki sekarang ini sebenarnya adalah impian mereka berdua. Karena Naruto tidak bisa ikut mengelola secara langsung maka Gaara yang melakukannya untuk mereka berdua. Sesekali Gaara datang ke kediaman Namikaze dengan konsep baru atau menu baru dan mendiskusikannya dengan Naruto. Jika mereka berdua setuju maka menu pun akan segera diluncurkan.

Walau jarang sekali bagi Naruto untuk mengunjungi kafenya, dia terus memantau bisnis tersebut dari rumah. Pos yang dia maksudkan adalah berkas laporan yang harus dia kerjakan setiap bulannya. Karena belum memiliki pegawai yang cukup maka Naruto sendiri yang mengurus segala administrasi kafe. Dia juga yang mengurus anggaran kafe dan lain-lain yang tidak berhubungan langsung dengan pelanggan. Naruto sangat menikmati pekerjaannya meskipun sebenarnya dia ingin terjun langsung bersama sahabatnya itu.

"Kau harus mengenalkan Gaara ini pada Ibu nanti, ya. Dia sepertinya teman yang sangat baik."

"Gaara sudah seperti saudara buatku. Kita bisa mengunjungi kafenya bersama nanti jika Ibu mau."

"Tentu saja."

Obrolan pun berlangsung sampai mereka tidak sadar kalau hari sudah sudah semakin gelap. Naruto berbicara cukup banyak dan itu menguras tenaganya. Dia mengatakan bahwa dia sedikit lelah dan perlu berbaring untuk beberapa menit. Mikoto menatapnya khawatir tapi Naruto meyakinkan bahwa dia baik-baik saja dan hanya butuh istirahat sebentar.

"Kalau begitu makan malam hari ini biar Ibu menyiapkannya sendiri. Kau istirahat saja ya, nak Naru."

Naruto sejujurnya merasa tidak enak tapi dia tidak membantah. Saat tiba di kamarnya, Naruto segera membuka tasnya dan mengambil beberapa pil dari kantung obatnya. Setelah meminumnya dan menyembunyikan kembali tas tersebut, dia membaringkan diri di tempat tidur dan menutup mata. Baru satu hari dia lewatkan di rumah ini, dia tidak boleh membiarkan semua terbongkar begitu cepat. Mulai dari sekarang dia harus berhati-hati dengan apa yang dilakukannya.

Tidak mudah memang terutama dengan Mikoto yang selalu bertanya tentang dirinya. Setiap kali mereka berdua di rumah, Mikoto selalu menariknya ke dalam pembicaraan mengenai keluarga dan masa lalunya. Naruto bersyukur karena Mikoto begitu baik dan peduli padanya, tapi dia sedikit sedih jika mengingat apa yang akan dia lakukan nanti. Pernah dia mencoba menutup diri tapi ternyata Mikoto adalah seorang wanita yang sabar dan juga keras kepala. Dia selalu memiliki cara agar Naruto dapat terbuka padanya. Setelah beberapa lama Naruto pun menyerah dan membiarkan ibu mertuanya itu mendekat.

Bukan hanya Mikoto yang menjadi masalah, ada juga Itachi yang selalu mengawasinya. Entah mengapa tapi Itachi selalu terlihat tidak suka kepadanya dan benar-benar mengawasi setiap gerak-geriknya. Satu hal saja yang dia temukan tidak dia sukai Itachi akan mempermasalahkannya. Terutama jika ada sangkut pautnya dengan Sasuke, kakak iparnya yang memiliki rambut panjang dan berwajah mirip dengan adiknya itu akan menghujam Naruto dengan kata-kata sinis ditambah dengan tatapan matanya yang selalu menusuk.

Mikoto tentu saja akan membelanya dan Naruto sedikit bersyukur akan hal itu. Sasuke sendiri tidak pernah mempermasalahkan ketidaksukaan Itachi terhadap istrinya. Menurutnya semua itu adalah hal yang biasa. Dari semua hubungan yang ada di rumah ini yang bisa Naruto simpulkan adalah kedua kakak-beradik Uchiha ini sangat sensitif jika mengenai satu sama lain. Itachi yang sangat protektif terhadap Sasuke dan Sasuke yang sangat mengagumi Itachi, keduanya sangat sulit dipisahkan. Fugaku tidak berkomentar apa-apa, tapi Naruto tahu kalau ayah mertuanya itu memperhatikan segalanya.

"Aku tidak begitu keberatan dengan sikapnya. Begini lebih baik, bukan?"

Saat ini Naruto sedang berbaring terlentang di tempat tidurnya dengan telepon menempel di telinga kirinya. Seperti biasa dia akan menelepon Gaara sesekali dan menceritakan pengalamanya kepada sahabatnya itu. Naruto sedang menceritakan perihal Itachi dan juga perlakuan kakak iparnya itu. Gaara tahu apa yang dipikirkan sahabatnya walaupun dia tidak selalu setuju dengannya.

"Tapi bukankah lebih baik jika kau bisa hidup di sana dengan tenang? Apa kau yakin bisa bertahan seperti ini selama satu tahun kedepan?"

"Aku tidak ingin mengecewakan lebih banyak lagi orang, Gaara. Baru satu bulan aku tinggal di sini tapi Ibu Mikoto sudah terlalu dekat denganku. Lambat laun aku akan pergi juga."

"Bukankah kau memutuskan untuk menikah karena ada kemungkinan untuk tinggal? Bagaimana kau bisa menemukan sesuatu yang kau cari itu jika kau tidak membuka hatimu, Naru? Atau kau memang tidak ingin tinggal?"

Naruto berputar dan berbaring dengan bagian samping tubuhnya. "Gaara, kau masih ingin aku tinggal?"

"Tentu saja aku ingin kau tinggal! Aku ini sahabatmu sejak kecil, bagaimana aku merelakanmu pergi begitu saja ketika ada pilihan kau bisa tinggal?" Suara Gaara meninggi dan terdengar kesal, Naruto harus sedikit menjauhkan telinganya dari telepon. Bukan pertama kalinya mereka membicarakan tentang hal ini dan Gaara selalu berharap sahabatnya itu akan berubah pikiran. Terdengar Gaara menghela napas di ujung sana dan kembali bicara. "Aku mengerti keputusanmu, Naru. Aku pun berjanji akan menghargai apapun itu, bukan? Tapi tak bisakah kau mencobanya untuk dirimu sendiri?"

Naruto sangat mengerti akan hal itu, tapi dia tidak bisa melakukannya. "Aku takut, Gaara. Aku takut mengecewakan mereka dan juga diriku sendiri."

Gaara mengela napas lagi. "Naru, kau tahu kau tidak akan menemukan apa-apa jika kau tidak mencarinya. Pikirkan ini untuk dirimu sendiri, bukan untukku, bukan untuk Bibi Kushina dan Paman Minato, bukan juga untuk suamimu dan keluarganya, hanya untukmu saja. Jika pada akhirnya kau tidak menemukannya, kau tahu aku akan mendukungmu apapun yang terjadi."

Naruto memikirkan kembali kata-kata sahabatnya itu. "Kau benar, Gaara. Jika pada akhirnya aku tidak menemukannya aku bisa mengandalkanmu untuk menjelaskan semuanya, kan?"

"Tentu. Mulailah dengan kakak iparmu itu. Kau tidak perlu membuatnya langsung menyukaimu, setidaknya buatlah dia tidak membencimu dulu. Selebihnya kita bicarakan lagi nanti."

"Aku mengerti. Terima kasih, Gaara. Aku tahu aku selalu bisa mengandalkanmu."

"Aku harus pergi, sudah waktunya makan siang dan aku harus bersiap-siap untuk pengunjung. Beritahu aku jika ada apa-apa dan jangan lupa jaga kesehatanmu."

"Iya, aku tahu. Dah, Gaara."

"Dah."

Naruto melemparkan teleponnya ke sisi lain tempat tidur dan menutup wajahnya dengan lengannya. Apa yang Gaara katakan memang benar. Bukan untuk orang lain tapi untuk dirinya sendiri dia harus melakukannya. Sekali lagi dia akan bertindak egois demi pencariannya. Naruto tidak begitu peduli dengan hasilnya, tapi jika dengan menemukannya dia dapat membahagiakan bukan hanya dirinya tapi juga orang di sekitarnya maka dia harus mengambil resiko.

Malam itu saat Sasuke pulang, Naruto mendapatkan kesempatan. Sasuke hendak pergi berendam untuk melepas lelah ketika dia teringat beberapa dokumen yang harus dia serahkan kepada kakanya.

"Biar aku saja yang memberikannya kepada Kak Itachi. Sudah pergi berendam saja, kau pasti lelah kan?"

"Jika begitu, terima kasih. Katakan juga pada Kakak kalau aku sudah merevisi semuanya jadi dia tinggal menandatanganinya saja."

"Oke, akan kusampaikan."

Naruto melangkah menuju kamar Itachi yang terletak di lantai dua. Kamar Naruto dan Sasuke adalah satu-satunya yang terletak di lantai satu, permintaan dari Kushina tanpa sepengetahuan putranya. Pintu kamarnya tertutup tapi terdengar suara ketikan keyboard dari dalam kamar. Naruto mengetuknya dan terdengar suara Itachi yang menyuruhnya masuk.

Itachi mengira itu adalah sang adik karenanya saat mendengar suara yang memanggil namanya dia berhenti mengetik dan menatap tajam ke arah adik iparnya.

"Mau apa kau kemari?"

"Sasuke memintaku menyerahkan dokumen ini kepada Kakak. Sasuke juga bilang kalau Kakak tinggal menandatanganinya saja."

Itachi beranjak dari kursinya dan mengambil dokumen itu dari tangan Naruto. Saat Itachi mengeceknya ulang, Naruto menikmati pemandangan di kamar sang kakak ipar. Ini pertama kalinya dia masuk kemari dan begitu banyak benda yang menarik perhatiannya. Ketika matanya melihat benda yang terletak rapi di atas meja kecil di kamar itu, matanya pun berbinar-binar.

Itachi mengangguk pelan ke arah dokumen di tangannya dan sekali lagi mengagumi hasil kerja adik tercintanya. Meskipun belum lama belajar mengenai bisnis tetapi adiknya selalu cepat mengerti semua tugas yang Itachi atau Fugaku berikan. Benar-benar seorang Uchiha. Ketika matanya lepas dari berkas di tangannya dan jatuh ke sosok perempuan di hadapannya dia sedikit merasa kesal dan terganggu. Dia pikir iparnya itu sudah pergi setelah menyerahkan dokumen tadi. "Apa yang kau lihat?"

"Kakak suka main catur?" Naruto menjawab tanpa melihat Itachi, matanya masih tertuju ke arah set catur yang berada di atas meja kecil di sana. "Apa Kakak suka main sendiri? Sasuke tidak bisa main, ya?"

Itachi mengangkat kedua alisnya tidak percaya. Mengapa perempuan di hadapannya ini bisa tahu mengenai hal ini? "Dari mana kau tahu?"

"Jadi benar? Sudah kuduga. Ayah sepertinya lebih menyukai Shogi daripada catur Eropa. Kakak pun lebih senang menghabiskan waktu dengan Sasuke tapi hanya ada satu kursi di sini jadi besar kemungkinan Kakak bermain sendiri sebagai dua orang. Lagipula Sasuke tidak terlihat tertarik dengan catur. Selain itu aku pun sering melakukannya di rumah ketika tidak ada orang. Memang kurang asik bermain sendiri tapi lumayan bisa mengalihkan pikiran ketika ada masalah. Apa Kakak juga begitu?" Naruto pun akhirnya menatap kakak iparnya. Itachi terlihat kaget dan bingung tapi dia tetap bersikap tenang.

"Benar Sasuke tidak suka catur. Dia lebih tertarik dengan sketsa. Aku bisa saja mengajarkannya tapi aku senang bermain sebagai dua orang, membuatku berpikir lebih keras."

"Tapi bukankah akan lebih menyenangkan jika bermain dengan dua orang? Bagaimana jika sekali-kali kita bermain bersama? Jika Kakak tidak keberatan."

Naruto menunjukkan senyum manisnya dan Itachi hanya menatapnya. Tak lama dia berpaling dan melihat ke arah jam di tangannya. "Sudah malam, sebaiknya kau pergi. Besok aku harus pergi pagi sekali jadi aku akan pergi tidur sekarang. Lagipula Sasuke pasti sudah menunggumu untuk tidur."

Mengerti akan maksud sang kakak, Naruto pun melangkah keluar. Dia mengucapkan selamat malam dan dibalas dengan dingin oleh Itachi. Saat tiba di kamar, Sasuke sedang membaca sebuah novel dan mengenakan kacamata. Naruto melihatnya pertama kali seperti ini dan menurutnya suaminya itu terlihat lebih tampan mengenakan kacamata.

"Kau belum tidur?"

Sasuke mengangkat wajahnya dan melihat ke arah istrinya. "Aku ingin menyelesaikan membaca ini sebelum tidur. Kau sudah menyerahkan dokumen tadi ke Kak Itachi?"

"Sudah. Kau masih lama membacanya? Kalau begitu aku tidur duluan, ya."

"Hn, ya."

Setelah berbaring sekitar lima belas menit Naruto masih terjaga. Suara kertas saat Sasuke membalik halaman novel dapat terdengar jelas olehnya. Di saat seperti ini biasanya Naruto akan mengambil beberapa pil agar dia bisa tertidur, tapi dengan Sasuke ada di sampingnya dia tidak bisa melakukannya. Dua puluh menit lainnya berlalu dan Naruto masih tidak bisa terlelap. Sasuke masih terdengar membaca dari suara halaman yang dibalik, Naruto pun memutuskan untuk membuka mulut.

"Sasuke, boleh aku bertanya?"

Mendengar suara Naruto yang tiba-tiba, membuat Sasuke sedikit kaget. "Kau belum tidur?" Dia pikir Naruto sudah terlelap sejak tadi. "Apa yang ingin kau tanyakan?"

"Aku tidak bisa tidur." Naruto berbalik dan menghadap ke arah Sasuke. "Besok hari Minggu, apa kau punya rencana?" Si bungsu Uchiha menutup novelnya dan meletakkan kacamatanya di atas meja kecil di samping tempat tidur mereka. Naruto sedikit menyayangkan karena dia suka melihat Sasuke memakai kacamata.

"Tidak ada, kecuali jika Kakak ingin aku menemaninya untuk menemui klien. Memang kenapa?"

"Aku berniat untuk mengunjungi sahabatku. Sejak menikah aku belum melihatnya lagi. Apa tidak apa-apa jika aku pergi?"

"Bukankah sudah kubilang kau boleh melakukan apa saja asal tidak mencoreng nama Uchiha?"

"Ah, benar juga."

Sasuke menatap bingung istrinya itu. Naruto bersikap sedikit aneh menurutnya. Sasuke merebahkan diri dan mematikan lampu tidurnya. "Tidurlah, ini sudah larut. Aku pun akan tidur."

"Akan kucoba. Selamat malam, Sasuke."

"Selamat malam."

Namun bagaimanapun mencoba, malam itu Naruto tidak bisa tidur. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya terjadi, sudah dua malam dia tidak bisa tidur. Sewaktu dia masih tinggal bersama kedua orang tuanya biasanya saat hal seperti ini terjadi Naruto akan meminum beberapa pil yang ada di tasnya untuk membantunya terlelap. Ketakutan jika sampai Sasuke mengetahuinyalah yang membuat Naruto tidak mengambil pil tersebut. Hanya dua hari, Naruto berpikir masih bisa bertahan hanya dua hari tanpa obatnya. Saat jam menunjukkan pukul tiga malam barulah dia terlelap. Tapi usahanya hanya bertahan dua jam karena Itachi mengetuk pintu kamar mereka cukup keras dan membangunkan mereka berdua.

"Sasuke, kau ikut aku hari ini. Bersiap-siaplah karena dalam satu jam kita harus segera berangkat."

Sasuke mendecak pelan tapi tetap melakukan apa yang kakaknya perintahkan. Sejak terbangun Naruto tidak bisa lagi memejamkan mata. Akhirnya dia memutuskan untuk turun dari tempat tidur dan membantu Sasuke untuk bersiap-siap. Sasuke menyadari bahwa Naruto terlihat kurang sehat dan sedikit khawatir. Sesaat sebelum pergi dia mengelus pelan pipi Naruto membuat si pemuda yang manis itu sedikit merona.

"Tidak usah mengunjungi sahabatmu hari ini, kau istirahat saja di rumah. Tadi malam kau pasti tidak tidur, kan? Jangan sampai kau jatuh sakit. Apa perlu aku meminta Ibu untuk membawamu ke dokter?"

Dia senang Sasuke perhatian padanya. Seperti yang dikatakannya dulu, mereka memulai hubungan ini sebagai teman dan Sasuke sudah menjadi teman yang baik selama satu bulan ini. Dari satu bulan itu Naruto paham akan kepedulian Sasuke terhadap keluarganya dan itu sudah termasuk dirinya. Walau belum menjadi seorang pasangan tapi Naruto sudah menjadi keluarga bagi Sasuke. Naruto mengerti kekhawatiran Sasuke tapi dia menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak perlu."

"Begitukah? Kalau begitu beristirahatlah. Kami akan pulang sedikit larut jadi kau tidak perlu menungguku."

Naruto mengangguk dan mengucapkan selamat jalan. Setelah mereka pergi perlahan Naruto menyentuh pipinya yang baru saja disentuh Sasuke. Dia masih bisa merasakan kehangatan tangan Sasuke saat mengelusnya. Ini pertama kalinya dia menerima sikap yang begitu lembut dari pemuda berambut raven yang telah menjadi suaminya selama satu bulan itu. Ada sesuatu yang berbeda dari sentuhan Sasuke, tapi dia menggeleng kepala dan melupakan hal itu.

Mikoto melihat wajah Naruto yang memang sedikit tidak sehat memintanya berbaring saja. Naruto menuruti saran tersebut dan menuju ke kamar. Setelah beberapa lama mencoba untuk beristirahat tapi tidak berhasil, Naruto memutuskan untuk menelepon Gaara. Sepertinya dia harus mengingkari janji pada Sasuke dan tetap pergi. Lagipula hari ini adalah hari di mana dia memang harus pergi ke suatu tempat.

"Gaara, bisakah kau menjemputku di kediaman Uchiha? Aku tidak bisa pergi ke tempat biasa."

Setelah memberitahu alamat lengkapnya Naruto pun bersiap-siap untuk dijemput Gaara pergi. Saat suara bel pintu terdengar Naruto bergegas pergi melewati Mikoto dan Fugaku yang sedang bersantai di ruang tengah.

"Ibu, aku pergi dulu."

"Kau mau kemana? Bukankah kau sedang sakit? Naru?"

Mikoto mengikuti Naruto ke pintu depan dan sempat melihat seorang pemuda berambut merah mengajaknya naik ke dalam sebuah mobil. Mikoto segera ke kamarnya untuk mengambil tas dan bergegas pergi untuk menyusul.

"Sayang, aku pergi dulu dengan nak Naru. Kami akan kembali secepatnya."

Fugaku hanya melihat ke arah istrinya dan menantunya baru saja menghilang sambil menggelengkan kepala. Dia meneruskan membaca koran pagi itu sambil meminum kopinya. Mikoto memberhentikan taksi dan masuk ke dalamnya. Untung saja dia masih bisa melihat mobil yang dimasuki menantunya itu dan segera meminta supir taksi untuk mengikutinya.

Selama kurang lebih setengah jam Mikoto membuntuti mobil di depannya akhirnya mereka tiba di tujuan. Mikoto memberhentikan taksi saat mobil Gaara memasuki area parkir. Dia mengerutkan dahi saat melihat tempat dia berada. Mengapa Naruto perlu bersembunyi-sembunyi hanya untuk pergi ke rumah sakit? Bukankah Sasuke sudah menawarkannya untuk mengantarnya ke sini tadi pagi?

Insting seorang ibu memang kuat tapi Mikoto tetap harus memastikannya. Dia memasuki gedung yang sibuk itu dan mencoba mencari keberadaan sang menantu. Tidak mudah karena ini adalah rumah sakit kota dan gedungnya begitu luas. Dengan sedikit keberuntungan, setelah mencari kurang lebih satu jam akhirnya dia menemukan Naruto di dalam ruang pasien sedang berbicara dengan seorang dokter wanita ditemani oleh pemuda berambut merah yang dia lihat tadi.

"Naruto, jika seperti ini terus jangankan tahun depan, aku tidak yakin kau bisa bertahan tahun ini. Apa kau mengerti? Apa gunanya aku memberimu obat jika kau tidak meminumnya?" Dokter wanita itu bertolak pinggang dan menatap pasiennya kesal. Sepertinya mereka sudah saling mengenal cukup lama dilihat dari cara mereka berinteraksi. Mikoto memperhatikan semuanya dalam diam, dia belum memberitahukan keberadaanya pada ketiga orang yang ada di dalam ruangan.

"Aku sudah memberitahunya dalam perjalanan kemari."

"Maaf Sakura, tapi saat itu ada Sasuke jadi aku tidak bisa. Aku berjanji tidak akan mengulanginya." Naruto menundukkan kepalanya tapi tidak terlihat di wajahnya dia menyesali perbuatannya. Sakura yang sudah mengenal tabiat pasiennya itu bertambah kesal melihatnya. Meskipun sudah terbiasa tapi dia tetap tidak suka dengan sifat cuek Naruto.

"Apa kau sungguh-sungguh berkata begitu? Apa kau tidak bisa berkata kalau itu hanya suplemen jika dia bertanya?"

"Ah, aku tidak berpikir sampai ke situ."

Sakura menyerah dan berhenti memojokkan Naruto. "Sudahlah, sekarang kau istirahat saja. Pemeriksaan sudah selesai, kau boleh pulang dalam tujuh jam."

Mata Naruto terbelalak mendengar perkataan Sakura. "Tujuh jam?! Kau gila? Apa yang harus aku katakan pada Ibu Mikoto dan Ayah Fugaku saat pulang nanti?"

Sebelum siapa pun dapat menjawab pertanyaan itu suara ketukan di pintu menyita perhatian mereka semua. Pintu terbuka dan terlihat wajah Mikoto yang bercampur bingung dan khawatir. Naruto sangat kaget melihat wajah yang sangat dikenalnya sebulan terakhir ini. Dengan terbata-bata dia bertanya kepada sang Ibu.

"I-I-Ibu? Ba-bagaimana Ibu bisa di sini?"

Mikoto mempersilahkan diri dan memasuki ruangan itu. "Ibu mengikutimu dengan taksi karena khawatir. Sebenarnya beberapa hari ini Ibu mencurigai sesuatu tapi Ibu tidak yakin. Saat melihatmu pergi dengan pemuda ini Ibu tahu Ibu harus melakukannya." Mikoto melihat ke arah Gaara dan kembali ke Naruto.

"Ibu, aku.."

"Nak Naru, bukankah ada hal yang harus kau jelaskan pada Ibu selain bahwa sebenarnya kau ini adalah seorang laki-laki?"