Belum dua minggu (empat belas hari) sih, tapi udah gereget pengen publish chapter selanjutnya hehehe.
Aduh, iya ini Naru ketahuan. Gimana, ya? Hehehe. Mikoto bukan tahu dari suratnya Kushina, kok. Surat itu bener-bener cuma ngasih tahu soal alerginya Naru. Sakitnya Naru, ini nih dibahas di bawah. ^_^
Yang ga suka Naru di keluarga Uchiha cuma Itachi, kok. Dengan suatu alasan tentunya. Sasuke cuma ga nyimpen perasaan cinta cowo ke cewe aja, kan mereka udah temenan. Dan Fugaku itu cuek seperti biasa juga misterius.
Ga angst ini, aku lagi rehat dari angst. Lagi pengen coba genre lain walaupun entah ini berhasil apa engga, ya? Mudah-mudahan sih iya. Ga akan ada death chara, ya seenggaknya sekarang masih belum sanggup ngebunuh seseorang. Nanti dipikir-pikir dulu deh ya.
Chapter 3, on!
Naruto semakin terbelalak dengan pertanyaan Mikoto. Mata birunya menatap horor ke arah sang Ibu, lidahnya tercekat tidak bisa berkata. Melihat keresahan di wajah sang menantu, Mikoto mendekat untuk duduk di samping tempat tidur Naruto. Dia meraih tangan sang pemuda dan mengelusnya pelan.
"Kau tidak perlu takut, Naru. Ibu tidak marah padamu. Ibu hanya khawatir dengan keadaanmu dan ingin membantu sebisa Ibu. Jika kau tidak keberatan, Ibu ingin tahu yang sebenarnya." Suara lembut Mikoto dan juga elusan di tangannya menenangkan Naruto sedikit demi sedikit sampai akhirnya dia sepenuhnya tenang. Naruto menatap kedua mata onyx Mikoto yang sangat mirip dengan mata Sasuke itu dan berkata dengan penuh kebingungan.
"Tapi, bagaimana Ibu bisa tahu?"
Mikoto tersenyum kepadanya. "Sayang, Ibu membesarkan dua anak laki-laki selama bertahun-tahun. Kau pikir Ibu tidak bisa membedakan? Kau boleh menyebutnya sebagai insting seorang ibu."
Melihat situasi di ruangan pasien favoritnya Sakura meninggalkan kamar itu untuk memberikan kesempatan bagi Naruto dan Mikoto berbicara. Gaara tentu saja masih tinggal, tapi dia memberikan kesempatan kepada Naruto untuk memutuskan apakah dia akan memberitahu Mikoto atau tidak.
Setelah beberapa menit tanpa ada yang bicara, Naruto pun membuka mulut. "Sejak kecil jantungku sudah lemah." Mikoto sedikit meremas tangan Naruto saat mendengarnya. Naruto berhenti sejenak namun melihat senyuman di wajah Mikoto dia meneruskan bercerita. "Dulu aku masih bisa beraktifitas layaknya orang biasa, bahkan dulu aku anggota tim basket saat di SMU walaupun tidak bisa bermain satu game penuh. Apa Ibu percaya?" Naruto tertawa kecil mengingatnya.
"Lalu, apa yang terjadi?"
"Sesuatu terjadi dan kejadian itu hampir saja membuat jantungku berhenti. Sejak saat itu aku tidak bisa lagi bermain basket maupun kegiatan lainnya yang memberatkan fisikku. Aku tidak melanjutkan sekolah setelah lulus SMU karena Ibu takut terjadi apa-apa padaku. Karena mendengar kabar pengobatan di Konoha lebih hebat dari Suna, Ayah memutuskan untuk pindah kemari sekitar lima tahun yang lalu."
Di sini Gaara memutuskan untuk ikut dalam percakapan. "Sebenarnya Naruto bisa sembuh total dengan operasi, hanya saja dia tidak mau. Kami semua sudah membujuknya untuk itu, bahkan Sakura mengatakan kapan saja Naruto setuju dia tidak akan segan untuk menyelamatkannya. Walaupun bukan operasi yang mudah, kesempatannya untuk hidup cukup besar. Tapi Naruto menolak semua itu."
Mikoto menatap heran kepada Naruto namun sang pemuda hanya membalas dengan senyuman. "Mengapa kau tidak mau, nak Naru?"
"Karena di dunia ini tidak ada satu hal pun yang membuatku ingin tinggal." Mikoto merasa terpukul mendengar pernyataan Naruto. Tidak ada satu hal pun katanya? Bagaimana dengan kedua orang tuanya? Gaara? Dia?
"Anda bukan yang pertama," Gaara menjelaskan. "Aku, Bibi Kushina, Paman Minato dan juga yang lainnya juga telah menghadapi situasi ini sebelumnya. Tidak ada yang bisa mengubah keputusan Naruto kecuali dia sendiri."
"Aku mengerti kekecewaan Ibu. Karena itulah aku tidak ingin ada ikatan sejak awal karena tidak lama lagi pun aku akan pergi."
Mikoto tidak kuasa menanyakan pertanyaan satu ini tapi dia harus tahu. "Berapa lama lagi?"
"Entahlah, setiap tahun aku akan berjanji untuk hidup sampai tahun berikutnya tapi tidak ada yang tahu pasti. Bahkan Sakura pun tidak bisa memastikan, semuanya serba tergantung. Jika aku beruntung mungkin beberapa tahun lagi. Tapi bisa saja ternyata hanya sampai bulan depan."
Sekarang dia mengerti apa yang dikatakan dokter wanita itu tadi. Pemuda yang baru saja memasuki keluarganya dan sudah mulai disayanginya seperti anak sendiri ini akan meninggalkannya suatu saat nanti dan tidak ada yang tahu kepastiannya. Tiap hari bisa saja menjadi hari terakhir mereka bersama.
"Tapi kenapa?"
"Biar kuberi tahu juga alasanku menerima pernikahan ini jika Ibu berjanji akan merahasiakan semuanya." Mikoto mengangguk setuju. "Ini adalah taruhanku yang terakhir. Selama ini aku terus mencari sesuatu yang membuatku ingin tinggal tapi tidak pernah kutemukan. Aku sudah bosan dikecewakan. Banyak hal yang sudah kucoba tapi ternyata itu bukan yang kuinginkan. Karena itu saat Ayah Fugaku datang dengan lamaran itu aku berpikir mungkin aku akan menemukan sesuatu di sini. Jika sampai sebelum tahun depan aku menemukannya maka aku akan menyetujui untuk operasi. Tapi jika tidak maka aku akan pergi, begitulah."
"Naru."
"Aku tahu ini hanya keegoisanku. Hanya untuk diriku sendiri aku sampai mengorbankan kebahagiaan orang lain. Aku tidak tahu apa reaksi Sasuke jika tahu bahwa istrinya adalah seorang laki-laki. Terlebih lagi Kak Itachi dan juga Ayah. Karena itu aku bersyukur Ibu mau menerimanya dengan baik. Tapi dengan berat hati aku meminta Ibu tidak mengatakannya kepada siapapun."
Air mata telah membanjiri pipi Mikoto. Dia tidak ingin kehilangan menantunya secepat ini, dia sudah terlanjur menyayanginya. Tidak peduli dia laki-laki atau perempuan. Naruto mengusap air mata dari pipi Mikoto dengan lembut dan menawarkan senyum terindahnya.
"Ibu, jangan menangis. Maaf jika aku meminta sesuatu yang terlalu berat."
Mikoto berusaha mendapatkan suaranya di tengah isak tangisnya. "Apa kau benar-benar berjanji akan tinggal jika kau menemukan sesuatu itu?"
"Tentu saja. Aku tidak pernah menarik kata-kataku."
"Kalau begitu ijinkan Ibu membantumu mencari suatu hal itu. Ibu tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja." Selama ada yang bisa dia lakukan, apapun itu, Mikoto akan melakukannya. Sesulit apapun dia tidak akan mundur karena dia sudah begitu menyayangi Naruto dan tidak ingin kehilangannya.
"Kalau begitu aku mohon bantuannya." Gaara membungkuk ke arah Mikoto. Naruto hanya bisa menggaruk pipinya yang tidak gatal melihat kelakuan Gaara dan juga ibu mertuanya. Dia tidak ingin mengecewakan mereka tapi dia juga tidak ingin mengecewakan dirinya karena terlalu berharap. Sepertinya dia harus menyiapkan hatinya lebih kuat lagi.
Jam-jam di mana Naruto harus tinggal di rumah sakit Mikoto habiskan dengan mengobrol dengan Gaara. Naruto sendiri tertidur setelah obatnya bekerja dan terlihat begitu damai.
"Jadi karena itu dia memiliki begitu banyak pantangan?" Mikoto masih menggenggam tangan kanan Naruto selama pemuda itu tidur.
"Benar. Di rumah bahkan Bibi Kushina membuat daftar menu makan khusus untuk Naruto agar dia tidak bosan tapi kesehatannya tetap terjaga. Naruto memang tidak terlihat sakit dari luar tapi salah sedikit saja bisa fatal akibatnya. Karena itu setiap bulan dia harus check up ke rumah sakit."
"Jadi dia harus istirahat di rumah setiap hari?"
"Tidak sampai seperti itu. Dia masih bisa jalan-jalan dan main keluar. Aku kadang mengajaknya ke taman atau berbelanja kimono karena itu favoritnya. Hanya akan berbahaya ketika dia benar-benar dipaksa untuk melakukan sesuatu yang sangat berat seperti olahraga fisik atau stress yang berlebihan. Karena itulah Naruto bersikap seolah cuek karena dia mencoba menjauhkan dirinya dari stress."
Mikoto mengelus pelan rambut pirang Naruto. "Naru."
"Selain itu terkadang dia mengalami masalah dengan tidurnya, seperti yang terjadi sekarang. Karena tidak bagus terlalu banyak mengkonsumsi obat kimia, Sakura membuatkan obat dengan racikan khusus bagi Naru untuk mengatasi masalah tidurnya tapi aman untuk jantungnya. Karena tidak mau operasi, kami berusaha untuk membuatnya bertahan selama mungkin dengan cara lain. Memang repot, tapi jika itu membuatnya hidup kami tidak keberatan. Seperti yang dia katakan semuanya serba tergantung. Jika dia bisa menjaga kesehatannya dia bisa saja hidup cukup lama."
Tidak ada yang tahu apa sesuatu yang dicari Naruto selama ini bahkan dirinya sendiri sekalipun. Tapi mereka tidak akan menyerah. Bukan hanya karena mereka tidak ingin kehilangan Naruto yang mereka cintai, tapi juga karena mereka ingin melihat Naruto hidup dan bahagia bersama.
"Nyonya Mikoto."
"Bibi, panggil saja aku Bibi. Kau sudah seperti saudara bagi nak Naru dan itu berarti kau juga bagian dari keluarganya. Keluarga Naru adalah keluargaku juga. Jadi jangan sungkan."
"Baiklah, Bibi Mikoto. Sesekali ajaklah Naruto main keluar. Mungkin dia akan senang jika diajak berbelanja. Hal satu itu membuat dia semakin terlihat seperti perempuan, aku tidak mengerti kenapa." Mikoto tertawa geli mendengarnya. "Jika Bibi butuh bantuan, aku bersedia kapan saja. Jika ada yang ingin Bibi tanyakan juga jangan sungkan. Naruto adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki di Konoha dan aku sangat menyayanginya seperti adikku sendiri. Aku berjanji akan selalu menjaganya."
"Terima kasih, nak Gaara. Aku pun sama. Naruto sudah menjadi bagian dari hatiku, bukan saja keluargaku. Aku sudah sangat menyayangi anak ini. Aku berharap dia dapat menemukan sesuatu itu."
Setelah tujuh jam terlewati dan Naruto pun sudah terbangun dari lelapnya, Gaara pun mengantar Naruto dan Mikoto pulang. Tapi sebelum mereka menuju ke rumah Uchiha, Mikoto minta diantar ke kediaman Namikaze terlebih dahulu. Kushina dan Minato sangat kaget ketika melihat siapa yang datang berkunjung, apalagi setelah mendengar bahwa Mikoto sudah tahu segalanya. Tapi mereka juga senang karena dapat melihat wajah putra mereka.
Obrolan tidak terlalu lama karena hari sudah larut dan mereka harus segela pulang sebelum Fugaku mulai bertanya-tanya di mana mereka. Mikoto meminta menu makanan yang Kushina buat untuk Naruto dan membawanya pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore saat Mikoto dan Naruto mengucapkan sampai jumpa kepada Gaara dan memasuki rumah.
Fugaku terlihat sedang mengerjakan beberapa dokumen dan begitu serius saat membacanya. Mereka berdua menyapanya dan hanya dibalas singkat oleh sang ayah. Mikoto dibantu oleh Naruto menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga dan menyantapnya bersama.
"Kalian kemana saja seharian ini?" Fugaku bertanya diantara suapannya.
Naruto terlihat sedikit bingung karena itu Mikoto yang mengambil alih pembicaraan. "Tadi kami ke dokter untuk memeriksakan nak Naru. Sepertinya dia kelelahan dan butuh istirahat. Sebelum pulang aku mengajaknya untuk mengunjungi Kushina dan Minato. Aku yakin ketika sakit pasti nak Naru ingin bertemu kedua orang tuanya. Lagipula, aku juga belum pernah benar-benar mengobrol dengan mereka jadi kebetulan. Kami mengobrol cukup lama sampai tidak sadar hari sudah sore."
Tidak seluruh apa yang disampaikan olehnya adalah bohong. Mereka memang memeriksakan Naruto ke dokter dan mereka pun benar mengunjungi Kushina dan Minato. Naruto melemparkan wajah bersalah ke arah Mikoto karena harus berbohong pada Fugaku. Mikoto membalasnya dengan senyuman dan menggeleng pelan.
"Hm, begitukah? Lalu, bagaimana keadaan kedua orang tuamu, nak Naru?"
"Ayah dan Ibu baik-baik saja, Ayah. Aku dengar Ayah berencana untuk pergi ke luar kota untuk beberapa hari untuk urusan bisnis. Karena Ibu akan ditinggal sendirian mungkin Gaara akan menemaninya sesekali."
"Siapa Gaara?" Pertanyaan yang sama pun terulang.
"Gaara itu teman nak Naru sejak kecil dan sudah menjadi bagian dari keluarga mereka. Tadi juga aku bertemu dengannya saat berkunjung ke rumah Kushina. Dia sampai mengantar kami pulang kemari, dia anak yang baik."
Fugaku hanya mengangguk pelan dan meneruskan makan malamnya. Setelah selesai, Fugaku sendiri yang meminta Naruto untuk beristirahat saja dan membiarkan Mikoto yang membereskan semuanya. Saat akan menolak Naruto mendapatkan tatapan tajam dari kedua pasangan Uchiha itu dan dia pun mengalah.
Naruto merasa sedikit lega saat Mikoto mengetahui segalanya. Setidaknya dia memiliki seseorang yang dapat dia andalkan di rumah ini jika terjadi sesuatu. Gaara memang selalu mendukungnya tapi dia tidak dapat setiap saat berada di sampingnya. Naruto bersiap untuk tidur malam itu. Sedikit aneh karena sebulan belakangan ini dia sudah terbiasa tidur dengan seseorang di sampingnya. Karena itu Naruto merasa ada yang hilang saat dia berbaring sendirian di atas tempat itu yang berukuran besar untuk dia sendiri itu. Sasuke mengatakan tidak perlu menunggu dan Naruto sangat memerlukan istirahat. Setelah meminum obatnya tak lama dia pun terlelap.
Malam itu Sasuke benar-benar lelah saat dia sampai di rumah. Hari sudah benar-benar larut dan yang masih terjaga di dalam rumah hanyalah dirinya dan Itachi. Saat melangkah masuk ke kamarnya dia mendapati sang istri sedang tertidur lelap. Wajahnya terlihat tenang dan tidak pucat seperti saat dia tinggalkan tadi pagi. Sasuke lega melihatnya.
Dia melihat sesuatu yang tidak sempat Naruto bereskan sebelum tidur di atas meja tidurnya. Dia mengambilnya dan menyadari bahwa itu adalah pil. Sasuke tidak begitu mengerti untuk apa pil itu, belum pernah dia melihat nama itu sebelumnya. Dia menyimpulkan bahwa Naruto memang kurang sehat dan pergi ke dokter siang tadi.
Setelah mengganti baju dan membersihkan diri, Sasuke memutuskan untuk langsung pergi tidur. Sebelum menutup mata, Sasuke menatap wajah damai sang istri di sampingnya. Setelah diingat-ingat ini adalah pertama kalinya dia benar-benar memperhatikan wajah Naruto. Dia baru sadar bahwa istrinya itu memiliki wajah yang manis, ditambah dengan rambut pirang sebahunya dan mata birunya saat terbuka. Sasuke berpendapat bahwa pasti banyak pria yang mengejar-ngejarnya sebelumnya.
Pertanyaan pun timbul di benaknya. Pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah dia pedulikan. Mengapa gadis di sampingnya ini mau saja menyetujui pernikahan dan juga syarat yang Sasuke berikan padanya? Sangat disayangkan bagi seorang gadis semanis dan sebaik Naruto untuk sekedar menjadi istri statusnya. Tapi dia telah berjanji tidak akan mencampuri urusan pribadi masing-masing jadi dia tidak akan bertanya.
Tangan besar Sasuke menyentuh rambut halus Naruto dan membelainya pelan. Dia berharap semoga saja mereka berdua dapat hidup bahagia dengan cara mereka masing-masing. Sasuke menarik tangannya dan menyamankan posisinya di samping Naruto. Besok dia putuskan untuk tinggal di rumah.
Yang membuka mata pertama kali pagi itu adalah Naruto. Hal yang pertama dilihatnya adalah wajah tampan sang suami yang masih terlelap. Sedikit melamun Naruto tetap berbaring sambil menghadap ke arah Sasuke. Tiba-tiba dia teringat kata-kata Sasuke di malam pertama mereka. Sepertinya sang bungsu Uchiha tidak tertarik pada wanita atau setidaknya belum tertarik. Itu membuat Naruto bertanya-tanya mengapa Sasuke menerima pernikahan ini? Bagaimana jika suatu saat dia menemukan seseorang yang benar-benar dia cintai saat Naruto masih ada? Haruskah Naruto merelakan Sasuke untuk gadis itu?
Tanpa dia sadari sepasang mata onyx telah terjaga beberapa menit yang lalu dan sedang menatap wajah yang sedang melamun dihadapannya. Sasuke tersenyum saat menyadari hal tersebut dan membuka mulutnya. "Selamat pagi."
Naruto sedikit kaget mendengar suara Sasuke dan menemukan si pemilik mata onyx sedang tersenyum kepadanya. Dia membalasnya dengan senyuman pula. "Selamat pagi. Kau sudah bangun?"
"Beberapa menit yang lalu. Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Mm, tidak ada. Itu tidak penting." Naruto bangkit dari tempat tidur dan merapikan kimononya yang sedikit berantakan. "Hari ini kau pergi jam berapa?"
Sasuke pun ikut bangkit dan berusaha untuk merapikan rambut ravennya menggunakan kedua tangannya. "Tidak, hari ini aku akan tinggal di rumah."
"Apa hari ini kantor libur?"
"Tidak, aku hanya ingin di rumah saja. Sudah lama juga sejak aku mengambil libur. Aku rindu suasana di rumah. Lagipula, Ayah dan Kakak pasti bertahan sehari tanpa aku. Kecuali jika ada pertemuan dadakan atau sangat penting seperti kemarin aku akan pergi."
Naruto sedikit antusias saat mendengar Sasuke akan tinggal di rumah. Bisa dibilang ini pertama kalinya dia akan menghabiskan waktu seharian bersama suaminya itu selain di hari Minggu. Bahkan di hari Minggu pun terkadang Sasuke tidak da di rumah seperti kemarin. Namun Naruto sedikit bingung tentang apa yang seharusnya dilakukannya.
"Benarkah? Kalau begitu kau mau sarapan? Biar kusiapkan."
"Ayo kita ke dapur."
Pasangan suami istri itu pun pergi ke dapur bersama-sama. Saat Naruto akan bersiap-siap untuk membuat makanan, Sasuke menarik tangannya dan mendudukannya di kursi. Naruto menaikan kedua alisnya dan menatap wajah tampan suaminya. "Sasuke?"
"Kau duduk saja, biar aku yang buat."
Naruto tidak diberi kesempatan untuk protes maka ia pun duduk manis di sana sambil memandangi Sasuke yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka. Diperhatikan oleh sang istri Sasuke sedikit penasaran. "Ada apa?"
"Sasuke bisa memasak?"
"Hanya yang praktis dan mudah saja. Dulu Ibu pernah sakit beberapa hari jadi kami harus menyediakan makan sendiri. Sejak saat itu aku sedikit belajar untuk keadaan seperti itu atau ketika harus tinggal sendiri di rumah. Kakak lebih bisa memasak daripada aku."
"Kak Itachi? Benarkah?"
Sasuke tidak menjawab pertanyaan itu dan meneruskan kegiatan memasaknya. Setelah selesai, dia menaruh masakannya di meja dan mengambil beberapa piring. Tidak lama lagi yang lainnya akan segera bangun dan bergabung untuk sarapan, tapi sebelum terjadi itu dia ingin menghabiskan pagi ini bersama Naruto saja.
"Kita makan duluan saja, tidak perlu menunggu yang lain."
Naruto menuruti apa yang diperintahkan suaminya. Sasuke membuatkan mereka pancake dan terlihat sangat menggoda menurut Naruto. Dia mengambil coklat sirup dan menuangkannya di atas pancake miliknya. Bisa dikatakan Sasuke cukup ahli membuatnya karena rasanya sangat enak, Naruto baru sekali membuat pancake dan hasilnya tidak begitu bagus. Mungkin dia bisa meminta Sasuke untuk mengajarkannya nanti.
"Sasuke tidak terlalu suka manis, ya?"
Sasuke berhenti mengunyah sebentar untuk menjawab pertanyaan Naruto. "Benar."
"Sudah kuduga. Kau hanya mengoleskan mentega di pancakemu dan aku tidak pernah melihatmu makan makanan yang manis."
Sasuke tersenyum dengan pernyataan Naruto. Tidak menyangka bahwa gadis ini akan memperhatikan hal seperti itu. "Aku memang tidak terlalu suka manis tapi bukan berarti tidak pernah memakannya. Jika aku harus memakannya aku tidak keberatan."
"Hm, begitukah? Berarti saat valentine kau tidak pernah menerima coklat? Aku yakin pasti banyak gadis yang memberikanmu coklat, iya kan?"
"Aku tidak menyukai satupun dari mereka jadi aku tidak menerimanya. Tapi terkadang ada saja yang menyelipkannya di tasku atau malah mengirimnya ke rumah. Biasanya akan kuberikan pada Kakak karena dia lebih suka manis daripadaku."
"Wah, repot juga ya. Kalau aku sih akan memakan semuanya, itu pun jika Gaara tidak merebutnya dariku."
Dahi Sasuke sedikit mengerut mendengar jawaban Naruto. Apa maksudnya dia juga mendapat coklat saat valentine atau dia menyukai coklat? Dia kan perempuan, seharusnya dialah yang memberikan coklat bukan menerimanya. Lalu satu hal lagi, "Siapa Gaara?"
Pertanyaan yang sama pun lagi lagi terulang. "Oh, Gaara sahabatku sejak SMP. Dia yang kemarin kubilang akan kukunjungi. Walaupun teman satu sekolah tapi sebenarnya dia dua tahun lebih tua dariku, dengan kata lain dia seumuran denganmu."
"Hm."
Dengan suapan terakhir Sasuke menyelesaikan sarapannya. Dia merapikan piring kotornya dan di saat yang sama Mikoto dan Fugaku memasuki dapur. Mereka saling mengucapkan selamat pagi dan mengambil tempat duduk. Mikoto terlihat berbinar sat melihat menu sarapnnya.
"Wah, sudah lama tidak memakan pancake buatan Sasuke. Rindunya."
Tidak lama kemudian Itachi pun bergabung. Naruto menyelesaikan pancakenya dan mengikuti jejak Sasuke. Itachi sedikit bingung melihat penampilan Sasuke yang masih mengenakan pakaian rumah, karena itu dia menyuarakannya.
"Sasuke, kau belum bersiap-siap? Ini sudah siang, nanti kau terlambat."
"Hari ini aku memutuskan untuk tinggal di rumah," Sasuke menjawabnya dengan santai. "Sudah lama aku tidak mengambil libur. Lagipula aku ini kan masih belajar dan belum menjadi pegawai tetap. Selama aku menguasai perkerjaanku aku tidak perlu datang tiap hari, bukan? Selain itu Naru sepertinya kurang sehat jadi aku akan menemaninya."
Naruto menatap Sasuke yang tersenyum kepadanya dengan heran. Di sebrang mereka Itachi menatap Naruto tidak suka. Mikoto ikut tersenyum mendengar jawaban anak bungsunya sementara Fugaku dengan santai meneruskan makannya.
"Memang benar kau masih belajar tapi tidak lama lagi kau juga akan menjadi bagian dari perusahaan ini dan bekerja bersamaku. Lagipula kalau hanya menemani bukankah ada Ibu? Kau tidak perlu sampai ikut menemaninya."
"Tidak apa-apa, Kak. Sesekali aku juga ingin berada di rumah selain di hari Minggu."
Naruto merasa tidak enak dengan Itachi. Ternyata alasan Sasuke tinggal karena khawatir dengannya, Naruto tidak menyangka. "Sasuke, aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu tinggal hanya karena aku. Yang dikatakan Kak Itachi benar, masih ada Ibu yang menemaniku. Lagipula aku baik-baik saja, kok."
"Tidak perlu berbohong, Naru. Aku melihat botol obatmu." Naruto dan Mikoto mendadak tegang mendengar jawaban Sasuke. Apa Sasuke akhirnya tahu? "Aku tidak tahu obat apa itu tapi itu bukan obat yang pernah kulihat, pasti bukan sakit biasa. Jika kau tidak suka aku ada di rumah aku bisa pergi kapan saja. Aku hanya ingin memastikan keluargaku baik-baik saja."
Mikoto bernapas lega mendengar penjelasan putranya tapi tidak dengan Naruto. Penjelasan Sasuke justru membuatnya semakin bingung. Dia bukan tidak ingin Sasuke tinggal tapi dia juga tidak ingin Itachi semakin tidak suka kepadanya. Di saat itulah Fugaku memutuskan untuk angkat bicara.
"Sudah, nak Naru. Biar saja Sasuke menemanimu hari ini. Kau memang sudah pergi ke dokter kemarin tapi belum tentu kau langsung sembuh. Itachi, kita akan baik-baik saja tanpa Sasuke sehari seperti yang dia katakan. Biarkanlah adikmu menghabiskan waktunya bersama istrinya."
"Baik, Ayah," Itachi dan Naruto menjawab bersamaan.
Hari itu pun Itachi meninggalkan rumah dengan sedikit kesal. Dia memang sejak awal tidak suka melihat Naruto berdekatan dengan adiknya. Tapi situasi ini justru dimanfaatkan oleh Naruto untuk mengenal lebih jauh soal kakak iparnya itu. Siapa lagi yang tahu tentang Itachi jika bukan Sasuke?
Sasuke meminta Naruto untuk berbaring saja di kamar. Naruto yang sudah bosan berdiam diri saja mengusulkan untuk duduk bersama di sofa ruang tengah sambil menonton. Sasuke tidak keberatan selama Naruto masih mendapatkan istirahatnya. Mikoto yang senang melihat kedekatan mereka memutuskan untuk meninggalkan kedua pemuda itu sendiri.
"Sasuke, boleh aku bertanya?" Mereka menonton sebuah acara kuis yang Naruto tidak begitu mengerti. Sejak awal acara dia tidak begitu memperhatikan apa yang mereka lakukan karena otaknya sibuk berpikir tentang apa yang akan dia tanyakan mengenai Itachi kepada Sasuke. Sasuke terlihat menikmati acara tersebut dan dia menatap fokus ke layar televisi. Ketika mendengar suara Naruto yang bertanya dia hanya menoleh sebentar dan kembali menatap layar di hadapannya.
"Silahkan."
"Apa yang Kak Itachi sukai selain catur?"
Kali ini mata onyxnya benar-benar meninggalkan layar televisi dan beralih ke sosok gadis yang duduk di sampingnya. Sasuke berpikir sejenak sebelum menjawab. "Banyak, jika yang kau maksudkan bisa berupa apa saja. Kakak menyukai film horor, dia juga senang mendengarkan musik klasik, lalu dia suka warna hitam, kalau makanan Kakak suka seafood, dan masih banyak lagi."
"Hm, begitu ya." Naruto memikirkan semua informasi rentang Itachi yang baru didapatnya.
Mendengar Itachi menjadi topik pembicaraan, mau tidak mau Sasuke tertarik dengan apa yang dipikirkan oeh Naruto. "Memang kenapa?"
"Tidak, hanya ingin tahu saja," dengan santai Naruto menjawabnya. Sasuke menerima jawaban Naruto dan sejenak perhatian mereka berdua kembali ke arah televisi yang sekarang sedang menampilkan sebuah iklan produk makanan. "Bagaimana denganmu Sasuke?"
"Aku?" Sasuke kembali menatap Naruto yang kini sudah merubah posisi duduknya dan sepenuhnya menghadap kepadanya. Apapun program yang ada di layar kaca di depannya sudah tidak menarik lagi bagi gadis berambut pirang tersebut dan lebih ingin berbincang dengan Sasuke. Sasuke ikut mengubah posisi duduknya dan kini mereka berdua memberikan perhatiannya penuh kepada satu sama lain. "Tidak begitu jauh dengan Kakak, tapi aku tidak suka catur. Untuk makanan aku lebih menyukai sayuran, terutama tomat."
Naruto mengingatnya, Itachi pernah mengatakan bahwa Sasuke menyukai sketsa. Dia menjadi penasaran ingin melihat objek apa saja yang pernah Sasuke gambar. Dia akan mengingatnya untuk minta ditunjukkan suatu saat nanti.
Beberapa jam selanjutnya mereka lewatkan dengan mengobrol dan membahas banyak hal sepele, kebanyakan tentang apa yang mereka pikitkan tentang suatu hal dan lain-lain. Masing-masing menyadari bahwa pasangan mereka ternyata teman yang enak untuk diajak mengobrol. Televisi mereka biarkan menyala tapi tidak sedikit pun mereka lirik. Hanya suara dari mesin tersebut yang ikut menemai perbincangan mereka berdua. Sesekali obrolan mereka diselingi oleh pertanyaan dari Naruto mengenai Itachi dan Sasuke. Dengan senang hati Sasuke menjawab semuanya, tapi lama kelamaan dia menyadari sesuatu.
"Sejak tadi kita terus membahas tentang aku dan Kakak. Bagaimana denganmu, Naru?"
"Tidak banyak yang bisa diceritakan tentangku. Selain dari mempunyai alergi dengan beberapa makanan, kebalikan darimu aku sangat menyukai makanan manis. Oh, aku juga senang mengoleksi kimono."
"Kimono?" Benar juga. Sejak pertama kali mengenal Naruto sampai sekarang, gadis ini selalu mengenakan kimono kemana pun dia pergi. Bahkan di saat tidur sekalipun, Naruto lebih senang mengenakan kimono tidur dibandingkan piyama.
"Ya, terkadang Gaara akan mengomel saat aku memintanya menemaniku berbelanja karena aku begitu lama memilih dan selalu membeli banyak."
Naruto terlihat berbinar-binar saat membicarakan tentang pengalaman berbelanjanya. Baru pertama kali ini Sasuke melihat Naruto begitu antusias membicarakan sesuatu. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di benaknya. Meskipun dia tidak dapat memberikan hatinya, setidaknya dia bisa memberikan sedikit kebahagiaan kepada gadis ini.
"Jika kau sudah baikan, bagaimana jika besok aku mengajakmu berbelanja dan membeli kimono baru? Anggap saja hadiah dariku untuk pernikahan kita dan juga sebagai simbol pertemanan kita."
Wajah manis Naruto dipenuhi kebahagiaan saat mendengar tawaran Sasuke, tapi segera berubah murung ketika mengingat Itachi. Sasuke menyadari perubahan tersebut dan menunggu pertanyaan dari bibir manis Naruto yang tidak perlu lama dia tunggu. "Tapi kau harus masuk kerja besok. Bagaimana jika Kak Itachi marah lagi?"
Ah, Itachi. Sasuke mengerti mengapa Naruto mencemaskan Kakaknya itu, tapi dia sudah memutuskannya dan tidak akan mengubahnya. Jika Naruto terkenal keras kepala maka Sasuke tidak jauh berbeda. "Tidak apa-apa. Aku hanya akan meninggalkan kantor dua hari saja. Aku berjanji akan masuk lusa dan soal Kak Itachi aku akan membuatnya mengerti. Jadi bagaimana, kau mau atau tidak?"
Memang benar Sasuke memiliki sebuah keuntungan jika sudah mengenai Itachi. Walaupun Itachi lebih tua dan lebih memegang kendali, tapi Sasuke selalu memiliki cara untuk membuat kakanya mengikuti kemauannya. Naruto sangat senang mendengarnya dan mengangguk dengan cepat. "Tentu saja aku mau. Terima kasih, Sasuke. Sudah lama juga sejak terakhir kali aku membeli kimono baru."
"Kalau begitu hari ini kau harus menjaga kesehatanmu. Jika besok aku lihat sedikit saja kau sakit maka perjanjian dibatalkan."
"Oke."
