Dua minggu lainnya! Terima kasih dah nunggu, ya! ^^

Kayaknya ada yang sedikit bingung gara-gara gaya narasi aku. Naru itu cowo kok, asli. Cuma kalau lagi bareng sama orang-orang yang ga tau jati diri dia aku pake sudut pandang mereka dan nyebut dia itu seorang 'gadis', begitulah.

No incest! Itachi cuma over protective aja. Banyak yang nyangka kesitu ya? Ahaha. Hubungan Itachi dan Naru emang mengkhawatirkan, tapi silahkan simak chapter ini. Untuk alasan Itachi ga suka Naruto bakal terungkap sedikit demi sedikit, sabar aja ya.

Suka sama Gaara, ya? Aku juga suka kalo ada dia. Hihihi. Ini muncul lagi kok di bawah, walaupun cuma sebentar. Hubungan Sasuke dan Naru itu memang bikin gereget. Dukung aja Sasuke semoga bisa bikin Naru berubah pikiran, ya. (itu tugas aku, ya?)

Ada yang aku sadari. Dalam cerita ini banyak banget hari Minggu disebut-sebut. Bukan apa-apa, tapi kan memang itu waktu dimana semuanya kumpul. Kalau hari-hari biasanya cuma ada Mikoto sama Naruto di rumah. Makanya, cerita aku banyak yang fokus di hari Minggu, walaupun ga semuanya sih. Misalnya aja acara belanja ini malah di hari Sasuke harusnya kerja. Jadi kalau di cerita-cerita ke depan banyak hari Minggu nya mohon dimaklumi ya.

Yosh, chapter 4 datang!


"Bagaimana dengan yang ini? Kurasa cocok dengan warna matamu."

Naruto tidak menjawab pertanyaan Sasuke karena dia sedang sibuk menahan emosinya. Seperti yang dijanjikan kemarin, hari ini pun Sasuke mengambil libur dan membawa Naruto pergi berbelanja kimono. Saat ini mereka berada di satu toko dimana Naruto biasa membeli kimono. Dia menyukai buatan mereka karena memiliki bahan yang bagus, motif yang sesuai dengan keinginannya dan juga kualitas yang baik. Tapi satu yang tidak disukainya adalah para pengunjung lain dan juga pegawainya.

Mengapa begitu? Karena mereka sering sekali bergosip.

Naruto selalu datang bersama Gaara dan mereka selalu mengira bahwa dia dan sahabatnya itu adalah pasangan walau berapa kalipun mereka mengatakan bukan begitu keadaanya. Naruto dan Gaara tidak pernah repot menjelaskan tentang gender asli sang pemuda pirang meskipun selalu menyangkal hal lainnya. Lama kelamaan mereka sudah terbiasa dengan obrolan itu. Tapi sekarang setelah cukup lama Naruto tidak kemari, bisikan mereka terasa cukup mengganggu. Terlebih lagi ini pertama kalinya dia datang bersama Sasuke dan suaminya itu cukup menarik perhatian para gadis di sana.

Sasuke memperhatikan wajah Naruto lekat-lekat dan menyadari ekspresi sang istri yang tidak senang. Dia tidak mengerti apa yang terjadi karena sampai mereka memasuki toko ini Naruto masih terlihat begitu senang. "Naru, ada apa? Apa ada yang mengganggumu?" Nada suaranya terdengar sedikit khawatir.

Naruto pun mengalihkan pandangannya dari para pengunjung ke Sasuke. Dia menghela napas sebelum menjawab. "Tidak ada apa-apa, hanya hal biasa." Sasuke tidak begitu mengerti apa yang dimaksudkan Naruto dengan hal biasa. "Sudahlah, lebih baik kita segera ke kasir saja. Aku ambil yang itu dan juga yang satunya lagi, tidak apa-apa kan?" Naruto mengangkat kimono yang dia maksud agar Sasuke dapat melihatnya.

"Baiklah."

Mereka berjalan ke kasir dan Naruto tahu sebentar lagi masalah lainnya akan segera dimulai. Sang gadis penjaga kasir tersenyum saat melihatnya dan Naruto tidak pernah menyukai senyuman itu. "Selamat siang, Nona. Sudah lama tidak kemari. Kemana pacar Anda? Hari ini tidak datang bersama seperti biasanya?"

Naruto hanya memutar mata bosan mendengar pertanyaan tersebut, sedangkan di sampingnya Sasuke hanya terdiam semakin tidak mengerti. Naruto menyerahkan dua kimono yang akan dibelinya kepada si gadis. "Sudah kubilang berkali-kali dia bukan pacarku. Lagipula aku tidak perlu memberi tahumu apa yang kami lakukan, bukan?" Naruto menjawab dengan senyum di bibirnya tapi siapapun tahu bahwa senyum itu hanya dipaksakan.

"Begitukah? Sayang sekali. Lalu siapa pemuda tampan yang bersama Anda ini? Jika saya boleh tahu."

"Sudah kubilang aku tidak perlu memberitahumu apapun, bukan?" Senyum masih tersungging di bibir Naruto.

Melihat interaksi diantara keduanya, akhirnya sedikit banyak Sasuke mengerti apa yang terjadi di sini. Orang-orang tidak menyebut Uchiha jenius tanpa suatu alasan, bukan? Dia pun merangkul pinggang Naruto dan menarik sang istri mendekat ke arahnya. "Aku adalah suaminya. Apakah jawaban itu cukup?" Sasuke mengatakannya dengan nada yang sedikit posesif.

Keduanya, Naruto dan si gadis, menatap Sasuke seketika. Wajah Sasuke ikut tersenyum seperti Naruto tapi sekaligus mengatakan pada si gaids bahwa dia tidak senang dengan perlakuannya. Si gadis mendapatkan pesan itu dengan jelas dan meminta maaf. "Oh, maafkan saya. Saya pikir Anda hanya bercanda saat mengatakan pria berambut merah itu bukan pacar Anda. Maaf atas kelancangan saya."

Si gadis menyerahkan barang belanjaan Naruto setelah Sasuke membayarnya. "Ah, tidak apa-apa. Syukurlah kesalahpahaman ini akhirnya berakhir, ya?" ucap Naruto sinis.

"Ahaha." Si gadis tidak dapat menjawab dan hanya tertawa getir. "Kalau begitu selamat atas penikahan Anda. Silahkan datang lagi ke toko kami lain waktu." Dia membungkuk memberi salam.

"Terima kasih. Aku pasti akan datang lagi. Ayo, Sasuke."

Mereka berjalan keluar toko dengan Sasuke masih merangkul pinggang Naruto. Naruto berharap mulai saat ini mereka akan berhenti menggosipkan dirinya. Dia sangat senang dengan reaksi yang Sasuke berikan tadi. Setelah cukup jauh dari sana barulah Sasuke melepaskan rangkulannya.

"Kurasa kau harus mencari toko baru untuk berbelanja kimono. Aku tidak suka dengan pelayanan mereka."

"Tidak, aku yakin ini hari terakhir mereka mengganguku. Terima kasih atas pengakuanmu tadi. Lagipula aku suka dengan kimono mereka, aku sudah nyaman memakainya selama bertahun-tahun."

Sasuke hampir tidak percaya dengan jawaban Naruto tapi tidak memaksakannya. "Baiklah jika itu maumu. Tapi, jika mereka mangganggumu lagi kau harus mengatakannya padaku. Aku akan mendatangi atasan mereka. Lalu, siapa yang dia maksudkan pemuda berambut merah yang dia pikir pacarmu itu?"

Naruto tertawa geli mendengarnya. "Kau terdengar seperti suami yang posesif, apa kau sadar itu? Itu Gaara. Aku memang selalu memintanya menemaniku berbelanja."

"Aku hanya tidak suka dengan kelakuan mereka, lagipula kau memang istriku. Selain itu, aku tidak suka orang-orang berbicara jelek tentang keluargaku siapapun itu. Kau mengerti maksudku, bukan?"

"Iya, iya, aku tahu. Kau ini, tidak bisa bercanda sedikit?" Naruto masih saja terkikik geli. Sasuke melihatnya hanya bisa tersenyum. Gadis yang bersamanya ini terlihat sangat manis saat tertawa. "Oh iya, setelah ini kita mau kemana?"

"Aku berniat menemanimu keluar hari ini jadi aku tidak begitu memiliki tempat yang ingin kukunjungi. Terserah kau saja."

"Hm, begitukah?" Naruto berpikir sejenak. Dia melirik ke arah jam di tangan Sasuke, karena dia sendiri tidak membawa jam, dan waktu baru menunjukkan pukul sebelas. Naruto mendapatkan ide yang bagus dan tersenyum saat memikirkannya. "Sasuke, apa kau lapar? Ada tempat yang ingin kukunjungi."

"Sebentar lagi memang waktunya makan siang. Boleh saja."

"Kalau begitu, ayo! Tempatnya tidak begitu jauh, kita hanya perlu naik bis satu kali ke sana."

Mereka hanya memiliki satu mobil dan itu dipakai oleh Fugaku dan Itachi ke kantor, karenanya mereka naik kendaraan umum. Sasuke tidak keberatan karena dia tidak perlu menyetir dan banyak tempat yang bisa dia lihat di saat mereka berjalan kaki.

Seperti yang dikatakan Naruto, tempatnya tidak begitu jauh. Tempat itu mereka capai hanya dalam sepuluh menit dengan bis. Itu adalah sebuah kafe dan sepertinya terlihat sedang jam istirahat. Sasuke memastikannya dengan membaca jadwal kafe tersebut yang terpasang di jendela. Naruto sepertinya tidak peduli dengan jam istirahat dan masuk begitu saja.

Bel pintu berbunyi menandakan ada pelanggan yang masuk. Sang pengurus sekaligus pemilik kafe sedang merapikan beberapa hal di belakang meja dan dengan tidak melihat siapa yang masuk berkata, "Maaf, kami sedang istirahat. Kafe akan dibuka lagi pukul dua belas siang."

"Meskipun untukku?"

Mendengar suara yang dia kenal, sang pemilik pun mengangkat wajahnya dari pekerjaannya dan mendapati wajah seseorang yang sangat dikenalnya sedang tersenyum ke arahnya. "Naru?"

"Hai, Gaara. Kejutan."

Kedua sahabat itu pun mendekat dan Gaara mengelus kepala Naruto seperti biasanya setiap kali mereka bertemu. "Mengapa tidak bilang mau kemari?"

"Kan sudang kubilang, kejutan."

Gaara menghembuskan napas kecil dari hidungnya dan tersenyum singkat. Mata hijaunya melirik sesuatu yang sahabatnya genggam di kedua tanganya. "Kau membeli kimono baru?" Gaara mengenal jelas tas yang dibawa sahabatnya itu berasal dari toko mana karena dia sendiri bukan sekali dua kali pergi ke sana.

Naruto menyeringai sebelum menjawab sambil mengangkat kantung di tangannya agar Gaara dapat melihatnya lebih jelas. "Sasuke membelikannya untukku."

Di saat itulah Gaara menyadari ada orang lain bersama mereka. Onxy dan jade bertemu, Sasuke yang pertama kali mengambil inisiatif untuk mendekat dan mengulurkan tangannya. "Aku Sasuke, suami Naru. Senang berkenalan."

Gaara menyambut tangan itu dan menjabatnya. "Aku Gaara, sahabat Naru. Maaf tidak bisa datang ke pernikahan kalian waktu itu dan baru dapat memperkenalkan diri di situasi seperti ini."

"Tidak apa-apa, setidaknya kita bisa bertemu." Pernikahan mereka memang hanya dihadiri oleh keluarga. Walau Gaara sudah seperti keluarga tapi di hari tersebut dia sudah memiliki janji karena semuanya serba mendadak. Naruto tidak keberatan sahabatnya tidak bisa hadir karena semuanya memang diluar rencana.

Dengan kedatangan Naruto, Gaara tahu apa yang harus dilakukan. Naruto sangat menyukai manis dan Gaara cukup ahli dalam membuat kue. Karena itu di setiap kesempatan Naruto selalu meminta Gaara membuatkan kue untuknya. Untuk Sasuke, Naruto memesankan sandwich dan teh. Gaara mengerutkan dahi mendengar pesanannya itu.

"Sasuke tidak suka manis, jadi buatkan saja itu."

Setelah pesanan mereka jadi, Gaara ikut duduk bersama dan berbincang sebentar. Mereka hanya membahas hal-hal kecil tapi cukup bagi mereka untuk mengetahui bahwa satu sama lain mengakui sebagai teman. Sasuke diberi tahu bahwa Gaara mengetahui semuanya mengenai hubungan dan perjanjian mereka, karena itu dia menghormati Gaara dan lebih leluasa mengobrol dengannya dan tidak perlu ada yang ditutup-tutupi.

Naruto juga menceritakan tentang pengalaman mereka pagi ini di toko kimono. Gaara sedikit kaget mendengar apa yang dilakukan Sasuke tapi juga senang mendengarnya. "Dengan begini berikutnya kau bisa berbelanja kimono dengan tenang, Naru." Naruto hanya tersenyum-senyum atas pernyataan Gaara.

Saat waktu menunjukkan pukul dua belas Gaara meninggalkan meja karena dia harus bersiap untuk membuka kafe kembali. Sasuke berterima kasih atas keramahan sang pemuda dan Naruto hanya melambaikan tangannya karena mulutnya sedang sibuk menikmati kue buatan sahabatnya itu.

Setelah selesai, kedua pasangan itu pun meninggalkan kafe. Naruto sangat senang dapat mengenalkan mereka berdua.

"Gaara sahabat yang baik. Aku senang dapat berkenalan dengannya."

"Tentu saja, dia sudah seperti saudaraku sendiri."

Mereka memutuskan untuk mengakhiri perburuan hari itu dan langsung menuju ke rumah. Mikoto baru saja selesai merapikan makan siangnya saat mereka berdua tiba. Sasuke meninggalkan kedua wanita itu berbincang untuk memeriksa beberapa hal selagi dia ada waktu.

Naruto menceritakan tentang apa saja yang mereka alami pagi ini dan Mikoto begitu senang mendengarnya. Naruto bahkan menunjukkan kimono yang dibelikan Sasuke untuknya. Satu berwarna biru yang selaras dengan warna matanya dan yang satu lagi berwarna biru gelap, hampir sama dengan warna rambut Sasuke.

"Ibu bisa mengajarkanku menyulam? Aku ingin membuat lambang keluarga Uchiha di kimonoku."

"Tentu saja. Ibu akan mengajarimu apa saja, nak Naru."

"Kalau begitu ada satu hal lagi yang aku ingin Ibu ajarkan padaku."

"Apa itu?"

Sejak saat itu Naruto sering sekali menghabiskan waktu di dapur atau di kamar. Tentu saja dia akan menunggu saat di mana para pria pergi bekerja dan meninggalkan dia berdua dengan ibu mertuanya. Sasuke sedikit curiga dengan apa yang mereka lakukan sembunyi-sembunyi karena terkadang dia melihat jari Naruto yang dibalut dengan plester.

"Hanya tergores saat memasak, kecelakaan kecil." Itulah jawaban Naruto ketika Sasuke menanyakan perihal lukanya.

Meskipun tidak begitu percaya dengan apa yang dikatakan Naruto tapi Sasuke tidak bertanya lebih jauh. Dia sudah berjanji tidak akan melakukannya dan selama Naruto bisa menjaga diri dia tidak perlu khawatir. Tidak perlu lama sampai kekhawatiran itu berakhir karena hanya dalam waktu beberapa hari saja Naruto sudah menguasai apa yang dia pelajari. Yang harus dia lakukan sekarang hanyalah mempraktekannya dan tujuannya adalah agar dapat lebih dekat dengan sang kakak ipar.

Hari itu adalah Minggu dan Naruto menjadi salah satu orang yang bangun lebih awal. Dibantu oleh Mikoto sebelum akhirnya ditinggal untuk membangunkan para pria, dia yang menyiapkan sarapan pagi itu. Itachi terbangun oleh bau masakan Naruto dan langsung menuju ke dapur sebelum Mikoto sempat membangunkannya. Yang disadarinya saat sampai di sana adalah ternyata Naruto yang sedang memasak dan juga lambang Uchiha yang tersulam rapi di bagian belakang kimononya. Dua hal yang tidak disangkanya akan dilakukan sang gadis.

Naruto menyadari kehadiran orang lain di sana dan mendapati Itachi yang sedang menatap ke arahnya. "Ah, pagi Kak. Makanannya sebentar lagi siap. Kakak tunggu sebentar lagi, ya."

"Hm."

Itachi duduk di kursinya dan menunggu sambil masih menatap punggung sang gadis dalam diam. Tak lama Sasuke masuk dan bergabung bersama Itachi di meja makan. Itachi masih saja menatap Naruto dan Sasuke penasaran dengan gelagat sang kakak.

"Apa ada yang salah dengan Naru, Kak?"

Itachi tidak menjawab pertanyaan adiknya dan justru melempar pertanyaan kepada Naruto yang baru saja selesai memasak dan menata makanannya di atas meja. "Dari mana lambang itu berasal?"

Naruto menjawab tanpa melihat Itachi dan fokus dengan pekerjaannya menata meja makan. "Maksud Kakak lambang Uchiha di punggungku? Aku meminta Ibu mengajarkanku dan membuatnya. Menurut Kakak bagus tidak?"

"Bukankah itu kimono yang kubelikan minggu kemarin?" Yang dipakai Naruto saat ini adalah kimono yang berwarna biru gelap. Naruto mengangguk atas pertanyaan Sasuke.

Naruto ikut bergabung dan duduk di kursi di samping Sasuke. Fugaku dan Mikoto akhirnya bergabung dan santapan pagi itu pun dimulai. Itachi tidak mengatakan apa-apa lagi tentang sulaman lambang Uchiha dan beralih ke sarapannya. Menu pagi ini adalah tempura dan miso. Sederhana memang, tapi itu adalah cita rasa keluarga.

Melihat makanan kesukaannya terhidang Itachi merasa senang, tapi sesuatu membuatnya menyipitkan mata. "Mengapa bentuk tempuranya seperti ini?"

Semua mata beralih kepadanya. Mereka tidak begitu memperhatikan soal bentuk tapi Itachi memang yang paling perfectionist di antara anggota keluarga Uchiha dan sangat memperhatikan kesempurnaan. Naruto tersenyum bersalah dan meminta maaf.

"Aku sudah berusaha sebaik mungkin tapi masih saja tidak bisa sebaik Ibu. Aku memang belum pernah membuat tempura sebelumnya, meskipun bentuknya seperti itu aku yakin rasanya enak, kok. Ibu juga bilang begitu," Naruto mencoba meyakinkan sang kakak.

Sasuke menyadari sesuatu mendengar pernyataan Naruto. "Jadi itu sebabnya beberapa hari ini jarimu selalu saja terluka? Belajar menyulam dan berlatih membuat tempura?" Naruto mengangguk pelan lalu menunduk menyembunyikan wajahnya karena sedikit malu. Sasuke meraih kepala sang istri dan mengelusnya. "Kau sudah bekerja keras, aku suka dengan hasilnya. Tapi lain kali kau harus lebih berhati-hati, ya."

Naruto hanya mengangguk lagi. Dia senang mendapat pujian dari Sasuke tapi yang sebenarnya dia inginkan saat ini adalah pengakuan dari Itachi. Masih tidak mengatakan apa-apa, Itachi melahap tempura yang sejak tadi hanya ditatapnya. Rasanya ternyata memang enak seperti yang dikatakan Naruto.

"Lain kali perbaiki bentuknya. Bukan tempura namanya jika tidak terlihat seperti tempura." Itachi mengatakannya dengan sinis.

Naruto mengangkat wajahnya dan memperhatikan Itachi yang sedang menatapnya dengan mata dinginnya. Itachi hanya mempersoalkan soal bentuk tapi tidak dengan rasa, bahkan kakak iparnya yang berambut panjang itu mengambil beberapa tempura lagi dan memakanya dengan lahap. Dengan ini berarti dia mengakui setidaknya setengah dari jerih payahnya. "Iya," dengan riang Naruto menjawab.

Setidaknya Naruto sudah satu langkah lebih dekat dengan kakak iparnya itu. Masih banyak yang harus dia lakukan untuk memenangkan hati pria tersebut. Tapi hari ini masih panjang dan ini masih pagi. Naruto masih memiliki banyak kesempatan untuk mendekati Itachi.

Berhubung tidak ada yang memiliki rencana untuk pergi keluar, semua anggota keluarga tinggal di rumah hari ini. Setelah selesai sarapan semuanya beralih ke kegiatan masing-masing yang mereka sukai. Sasuke sepertinya sedang membuat sketsa baru karena sejak tadi dia tidak lepas dari buku sketsanya dan beranjak ke tempat favoritnya di teras belakang. Fugaku membaca koran seperti biasa di kursi kesayangannya dan Mikoto sedang mencuci sambil bersenandung. Itachi sedari tadi berdiam diri di kamar dan Naruto memutuskan untuk menonton sendirian di ruang tengah.

Yang dipilihnya adalah sebuah film drama. Dia menontonnya bukan karena menyukainya tapi lebih kepada latihan mental. Yang namanya drama biasanya akan membuat penontonnya meneteskan air mata atau setidaknya berkaca-kaca. Naruto menonton semua itu dengan wajah datar seperti bosan walau sebenarnya dia cukup menghayati jalan ceritanya.

"Apa yang sedang kau tonton?"

Suara Itachi yang tiba-tiba muncul di belakangnya membuatnya sedikit terkejut. Naruto berpaling dari arah layar televisi ke Itachi dan mendapati Itachi justru sedang menatap ke arah layar.

"Film drama. Kakak mau ikut menonton?"

"Aku tidak suka drama." Walaupun menjawab begitu, Itachi mengambil tempat dan duduk di samping Naruto di sofa. "Apa ceritanya?"

"Tentang seorang mafia yang jatuh cinta kepada tawanannya tapi berakhir tragis karena dia harus membunuh si tawanan pada akhirnya. Padahal mereka saling mencintai dan sempat berencana untuk kabur tapi pada akhirnya si mafia memutuskan untuk lebih memilih komplotannya dibanding kekasihnya. Ini kedua kalinya aku menonton."

Itachi memperhatikan adegan drama tersebut di mana si mafia yang dibicarakan sedang mati-matian berusaha untuk menyelamatkan sang kekasih yang terluka parah. Bodoh menurutnya jika pada akhirnya akan dia bunuh juga, mengapa harus diselamatkan? Hanya membuang-buang waktu saja. Bagi para pecinta drama, Itachi tahu ini adalah salah satu adegan yang akan membuat mereka dibanjiri air mata. Melihat ke arah iparnya yang masih berwajah datar itu, Itachi memutuskan untuk meninggalkannya menonton sendirian lagi.

Tindakan Itachi justru menimbulkan pertanyaan pada Naruto dan segera menyuarakannya sebelum Itachi dapat pergi jauh. "Kakak mau kemana?"

Itachi menghentikan langkahnya dan berpaling ke arah Naruto menatap mata birunya. "Kupikir kau tidak akan suka jika aku melihatmu menangis, jadi aku akan kembali ke kamar saja."

Naruto mengerutkan dahi ke arah Itachi. "Mengapa Kakak pikir aku akan menangis?"

"Bukankah sudah biasa wanita menangis saat menonton film drama. Apalagi adegan yang sekarang sedang sedih-sedihnya, bukan?"

"Hm." Naruto kembali menatap ke arah televisi. "Kakak tidak perlu pergi, aku tidak akan menangis."

"Tidak apa-apa. Kau tidak perlu bersikap tegar di depanku. Menangis itu wajar, apalagi bagi seorang wanita."

"Kakak tidak mengerti. Aku sudah lupa bagaimana caranya menangis."

Keheningan menyelimuti Itachi. Selama beberapa menit yang terdengar olehnya adalah suara si mafia dari televisi yang berteriak-teriak memanggil nama kekasihnya dan juga suara hatinya sendiri. Dia tidak mengerti apa yang dimaksudkan Naruto dengan sudah lupa cara menangis. Memang ada hal seperti itu?

Karena tidak ada suara Itachi lagi, Naruto pun menengok untuk memastikan apakah kakak iparnya itu memang sudah pergi atau belum. Ketika didapati Itachi masih berdiri di sampingnya dan terlihat melamun, Naruto bertanya pada iparnya itu dengan nada heran.

"Kakak kenapa?"

Tersadar oleh pertanyaan Naruto, Itachi menatap iparnya lagi. "Kau bercanda, kan? Kau pasti pernah menangis."

"Pernah, tapi itu sudah lama sekali dan aku tidak ingat kapan. Karena suatu hal, aku berjanji pada Ayah dan Ibu untuk tidak akan pernah menangis lagi seumur hidupku apapun yang terjadi. Karena itulah, sekarang aku sudah benar-benar lupa caranya." Naruto mengatakan semua itu dengan ringan dan bahkan sambil tersenyum.

Mata onyx Itachi menatap lekat-lekat wajah manis iparnya itu dan berpikir. Tak lama dia berputar dan meninggalkan Naruto sendirian dengan film dramanya. Naruto pikir Itachi marah atau tidak suka dengan pernyataannya tadi. Tapi saat beberapa menit berselang Itachi kembali dengan membawa sebuah kotak, Naruto sedikit bingung.

Itachi meletakkan kotak itu di atas meja yang berada di antara televisi dan sofa. Dia membuka kotaknya dan Naruto bisa melihat apa isi kotak itu. Naruto hampir saja berteriak seperti perempuan saking senangnya. "Daripada kau menonton drama yang bahkan tidak bisa membuatmu menangis, lebih baik kau bermain denganku. Aku menantangmu."

Naruto sangat senang dengan ajakan tersebut. Dia menghentikan film dan mematikan televisi lalu duduk di sisi lain meja. Akhirnya keinginannya untuk bermain catur bersama Itachi terwujud. Itachi mengambil bidak hitam sedangkan Naruto bermain bidak putih. Mereka berdua menikmati pertarungan pertama mereka. Permainan berlangsung cukup lama sampai mereka tidak sadar bahwa sudah waktunya makan siang.

"Itachi, Naru, ayo kita makan dulu," tegur Mikoto.

Naruto sedikit merengek karena sekarang sedang seru-serunya. Itachi berdecak pelan dan berkata dengan nada dinginnya seperti biasa. "Kita masih bisa teruskan setelah makan nanti. Ayo, aku tidak ingin Sasuke menghabiskan semua makanan."

"Sasuke tidak rakus. Bukankah Kakak yang biasanya mengambil jatah Sasuke? Sasuke bilang begitu."

"Kapan? Sasuke itu hanya membual. Aku tidak pernah melakukan hal seperti itu."

Naruto terkikik geli dan Itachi hanya memutar matanya bosan. Setelah menyelesaikan makanannya, semua kembali ke kesibukkan masing-masing. Begitu juga dengan Itachi dan Naruto yang melanjutkan pertempuran mereka sebelumnya. Saat ini posisi Naruto sedang genting dan Itachi hanya butuh sedikit lagi saja untuk menang. Dia yakin dia akan menang hanya saja Naruto tidak akan membiarkannya menang dengan mudah.

"Kalau aku menang, kau harus berhenti menonton film drama," tiba-tiba Itachi berkata membuat Naruto mengangkat wajahnya dari papan catur.

"Kenapa? Aku tidak mau," Naruto menolak dengan tegas.

"Karena menurutku itu bodoh dan aku tidak suka."

"Kalau Kakak tidak suka ya tidak perlu menonton. Kenapa jadi aku yang harus berhenti? Tidak adil." Naruto memajukan bidaknya dan berusaha mencari jalan agar dia tidak kalah, setidaknya untuk bertahan lebih lama.

"Yang kalah diam saja."

"Aku belum kalah! Oke, kalau begitu jika aku menang Kakak berjanji akan memenuhi satu permintaanku. Bagaimana? Adil kan?"

"Oke, setuju." Mereka berdua saling menatap tajam dan seperti ada aura persaingan di sana. Naruto tidak mau diperintah begitu saja dan Itachi tidak mau diperalat begitu saja. Permainan terus berlangsung sampai dua puluh menit berikutnya di mana Naruto akhirnya terpaksa mengaku kalah. "Dengan ini tidak ada lagi film drama di rumah ini."

"Aargh, sebal! Lain kali aku pasti menang, lihat saja."

"Ya, berlatihlah lagi. Lain kali pun aku pasti tetap akan menang."

Itachi membereskan papan caturnya dan membawanya kembali ke kamarnya. Naruto kesal dengan kekalahannya tapi dia senang saat mendengar kata 'lain kali' dari Itachi. Itu artinya dia bisa bermain kapan saja dengan kakak iparnya itu dan bisa menjadi lebih dekat.

Tidak disangka semua kejadian hari ini dimulai dari saat sarapan, Itachi mengakui usaha memasaknya, dan pertarungan pertama mereka dalam catur membuat kecanggungan di antara mereka sedikit berkurang. Itachi masih berbicara padanya dengan nada sinis, tapi Naruto tidak lagi merasakan aura kebencian di sana. Dia harus memberitahu Gaara soal perkembangan ini nanti. Naruto sekarnag sedikit mengerti mengapa Sasuke sangat mengagumi kakaknya. Itachi memang orang yang hebat.

Bermain catur memang hobinya tapi tetap saja menguras tenaga. Itachi sungguh lawan yang tangguh. Naruto beranjak dari ruang tengah dan menuju ke kamar. Sasuke tidak ada di sana, sepertinya suaminya itu masih asik dengan sketsanya. Dia mengeluarkan pil dari tas obatnya dan meminumnya. Setelah beberapa saat dia merasa lebih baik. Bermain dengan Itachi memang menyenangkan tapi dia harus ingat untuk meminum obatnya terlebih dahulu sebelum menantang bermain lain kali.

Wajah Itachi tiba-tiba muncul di kamarnya. Pria yang cukup tinggi itu masuk begitu saja dan saat sudah dekat dengan Naruto mengulurkan tangannya seperti menagih sesuatu. Naruto mengerutkan dahi tanda tidak mengerti dan Itachi menunjukan seringainya kepada sang ipar. "Aku tahu kau mengoleksi film bodoh itu. Serahkan semuanya padaku, aku akan menyingkirkannya."

Naruto hampir tidak percaya apa yang baru saja dia dengar dari mulut kakak iparnya. Itachi sampai bertindak sejauh ini? "Tidak mau! Kakak hanya meminta untuk tidak menontonnya, aku tidak akan menyerahkannya pada Kakak."

"Kau pasti akan menonton diam-diam saat aku tidak ada. Aku hanya ingin memastikan kau memenuhi janjimu."

"Aku selalu memenuhi janjiku, Kakak tidak perlu khawatir."

"Kata-katamu saja tidak cukup untukku."

Mereka kembali saling menatap tajam satu sama lain. Di saat itu Sasuke memutuskan untuk kembali ke kamar. Dia kaget melihat adegan perseteruaan antara kakak dan istrinya itu. Sejak tadi pagi dia menghabiskan waktunya dengan buku sketsanya dan tidak memperhatikan sekitar.

"Ada apa ini?" Sayangnya pertanyaan itu tidak ada yang menggubris.

"Kalau Kakak bersikeras, aku akan menyebarkan pada orang-orang bahwa Itachi Uchiha adalah seorang sadist."

"Oh, sudah berani sekarang? Coba saja kau lakukan, akan kupastikan kau akan ingat lagi bagaimana caranya menangis sampai kau tidak bisa lupa lagi."

"Kakak, ada apa ini?" Sasuke semakin dibuat bingung dengan ancaman yang saling mereka lemparkan.

"Diam!" Itachi dan Naruto berteriak bersamaan membuat Sasuke sontak kaget. Beberapa detik setelahnya, kedua orang yang sedang berseteru akhirnya menyadari kehadiran orang ketiga di sana. Mereka menyeringai padanya dan Sasuke merasa kedua orang di hadapannya sekarang ini tidak dia kenal.

"Halo, Sasuke. Kau sayang Kakak, bukan? Coba katakan pada perempuan ini agar menuruti kata-kataku dan menyerahkan semua film bodohnya itu agar bisa kusingkirkan." Itachi mulai mendekati adiknya.

"Sasuke, aku tahu kalau kau tidak menganggapku siapa-siapa. Tapi kita ini teman, kan? Bisakah kau mengendalikan Kakakmu ini? Aku tidak kuasa kalau harus sampai menelepon kantor polisi untuk menghentikan aksi penganiyaannya." Naruto pun ikut mendekat.

Ini memang bukan cerita horor, tapi Sasuke merasakan aura yang sangat gelap datang dari kakak dan istrinya. Instingnya mengatakan bahwa dia harus lari dari tempat itu jika ingin selamat. Tidak perlu menunggu lebih lama lagi, kakinya yang lumayan jenjang itu pun membawanya lari dari tempat yang seharusnya dia sebut kamar itu.

"Sasuke, tunggu!" Itachi dan Naruto berteriak bersamaan, tapi Sasuke sudah hilang dari pandangan mereka.