Aku kayaknya lagi semangat ga ketulungan jadi kali ini baru seminggu tapi dah update! :D
Masih ada yang nanya soal kecenderungan Sasuke nih. Gay apa gak? Gimana ya, sebenernya pengen jawab tapi ntar spoiler hehe. *terlalu membesar-besarkan*
Padahal udah aku tambahin words nya tiap chapter, tapi masih kurang panjang? Hahaha. Kalau yang ini gimana? Masih kurang panjang kah? Chapter ini masih seputaran hubungan ItaNaru, tapi ada SasuNaru nya juga kok. Mungkin ceritanya sedikit klise tapi aku ga nahan pengen bikin adegan ini.
Soal Naru bakal mati atau ga udah aku bilang di chapter sebelumnya kalau ga akan ada death chara. Tapi kalau soal sekarat sih ya liat aja nanti. Bisa iya bisa enggak. Reaksi yang lainnya kalo tahu jati diri Naru bisa bermacam-macam dan itu tergantung aku si author hehehe.
Buat Shi-chan, adik seperguruanku yang selalu protes kalo ga aku bales reviewnya, kamu tahu sampai kapan kan. Cuma ga tau ada di chapter berapa khekeke. Nih aku update sesuai janji, jangan teror aku lagi ya.
Selamat baca chapter 5 di bawah ini!
"Bagaimana ceritanya bisa sampai seperti ini?" Sasuke tidak jelas bertanya pada siapa.
"Mungkin salah satunya karena kau tidak bisa menjadi partner kakakmu dalam catur." Fugaku membalik halaman buku yang sedang dipegangnya dan meneruskan membaca.
"Tapi aku jadi merasa sedikit tersingkir."
Di sampingnya, Mikoto tersenyum jahil. Bisa dia rasakan bahwa anak bungsunya ini sedang merasa sedikit cemburu. Walaupun tidak bisa dipastikan cemburu kepada siapa lebih tepatnya. Semua karena persaingan bodoh antara Itachi dan Naruto.
Sejak pertandingan mereka yang lalu, Naruto akan menantang kembali Itachi untuk membalas dendam di setiap kesempatan. Itachi tentu saja tidak akan membiarkan iparnya itu menang darinya begitu saja. Pertandingan antara Itachi dan Naruto sudah menjadi rutinitas baru di rumah Uchiha di hari Minggu atau ketika Itachi pulang lebih awal. Setiap kali bertanding, keduanya akan mempertaruhkan sesuatu seperti yang mereka lakukan pertama kali. Sampai saat ini Naruto telah kehilangan koleksi dramanya, jatah makanan manisnya selama seminggu, dia pun sempat harus mewarnai rambutnya menjadi ungu dan hijau. Itachi tertawa sangat keras saat melihatnya. Sedangkan lawannya belum kehilangan apapun.
Tapi hari ini Naruto bertekad untuk menang.
Sasuke senang melihat kakak dan istrinya itu sudah menjadi lebih dekat dan leluasa satu sama lain. Namun dia merasa sedikit dilupakan karena perhatian keduanya sekarang tertuju pada satu sama lain. Permainan sudah mendekati akhir. Mata onyx dan biru begitu serius menatap papan catur di hadapan mereka. Naruto mencari-cari titik di mana dia bisa menyerang. Ketika dia mendapatkannya dia menyeringai dalam hati dan memajukan bidaknya. Hanya dalam tiga langkah saja akhirnya Naruto mendapatkan kemenangan pertamanya.
"Yay, aku menang! Hahaha, sudah kubilang aku akan mengalahkan Kakak." Naruto bersorak begitu riang dan Itachi mendengus kesal di tempat duduknya. Mikoto tersenyum, Fugaku masih sibuk dengan korannya dan Sasuke hanya menatap datar.
"Hanya kali ini saja kubiarkan kau menang. Tidak ada lain kali."
"Tapi walaupun begitu Kakak tetap harus mengabulkan permintaanku karena kali ini aku yang menang."
Naruto menunjukkan senyum jahilnya ke Itachi dan Itachi tidak suka melihatnya. "Jangan katakan kalau kau akan membuatku menonton drama bodohmu itu seharian penuh."
"Tenang saja, aku tidak sadist seperti Kakak." Naruto bangkit dari tempat duduknya dan mendekati si Uchiha bungsu. "Sasuke, besok kau tidak ada acara kan?"
"Tidak ada." Besok adalah hari Minggu. Hari ini semuanya pulang lebih awal karena tidak begitu banyak pekerjaan di kantor. Karena itulah yang pertama kali Naruto lakukan setelah makan malam tentunya menantang Itachi ke dalam pertandingan catur yang entah sudah keberapa kali. Dia sudah merencanakan hadiah apa yang dia inginkan untuk kemenangan pertamanya sejak lama.
"Kalian semua tidak ada acara, kan?" Semua menggeleng. "Kalau begitu besok aku ingin mengajak kalian semua jalan-jalan bersama sebagai keluarga, bagaimana?"
Fugaku yang sedari tadi sibuk dengan bukunya menatap menantunya yang memiliki wajah manis itu. Mereka semua berpikir bersamaan kapan terakhir kali mereka keluar bersama sebagai keluarga? Sudah lama sekali tentunya, mungkin saat Sasuke masih SMP? Fugaku pikir ini bukan ide yang buruk.
"Kurasa besok tidak akan bisa, nak Naru. Meskipun tidak ada acara tapi di hari Senin kami ada rapat dengan klien penting dan harus menyiapkan segala sesuatunya. Setelah itu akan ada rapat lainnya sampai hari Jum'at nanti." Raut Naruto yang sedari tadi terlihat gembira berubah murung. Fugaku hanya tersenyum melihatnya. "Tapi setelahnya kami akan libur selama satu minggu. Bagaimana jika jalan-jalannya ditunda sampai minggu depan? Kita bisa pergi ke pemandian air panas mungkin?"
Keceriaan kembali ke wajah manis Naruto. Mata birunya berbinar-binar dan dia pun berlari ke arah Fugaku untuk memeluk ayah mertuanya. "Terima kasih, Ayah! Aku senang sekali." Fugaku hanya memberikan 'hm' nya sebagai jawaban.
"Kalau begitu, nanti Ibu dan nak Naru yang akan menyiapkan semua perlengkapan kita."
Naruto mengangguk ke arah Mikoto dan melepaskan pelukannya pada Fugaku. "Pokoknya semua harus ikut, ya. Dan Kak Itachi yang akan menanggung semua biayanya."
Itachi yang sedari tadi hanya mendengarkan mendadak hidup. "Hah? Kenapa aku?"
"Karena Kakak kalah hari ini dan Kakak harus menuruti kata-kataku. Dan setahuku seorang Uchiha selalu menepati janjinya."
Itachi menghela napas. Iparnya ini memang pintar sekali bicara. "Aku mengerti. Lakukan saja sesukamu." Walaupun berkata begitu sebenarnya dia ikut senang dengan adanya rencana ini.
"Yay!"
"Ayo semuanya! Sebentar lagi kita sampai." Hari mereka berwisata sekeluarga akhirnya datang.
"Berisik sekali kau ini. Ayo semua apanya? Kita ini sedang di dalam mobil." Sungguh Itachi berpikir bahwa iparnya ini terlalu bersemangat.
Fugaku yang sedang menyetir hanya tersenyum dan Mikoto yang duduk di sampingnya terkikik geli. Itachi dengan santai bersandar di kursi paling belakang bersama dengan Sasuke. Naruto duduk di kursi tengah bersama dengan sahabatnya Gaara yang saat ini juga ikut senang untuknya.
Sasuke yang berinisiatif untuk mengajak Gaara. Karena Gaara sudah seperti keluarga bagi Naruto dan ini adalah acara keluarga. Sebenarnya mereka juga mengajak Minato dan Kushina tapi kedua Namikaze itu menolak. Mereka harus pergi ke Suna untuk mengunjungi sepupu Naruto dan meminta Gaara untuk mengisi kekosongan mereka. Naruto sangat senang saat tahu bahwa sahabatnya itu akan ikut dan ini juga pertama kalinya bagi Itachi dan Fugaku bertemu Gaara. Kafenya diserahkan kepada rekan dan pegawainya dan dia akan terus memantau dari jauh.
"Tapi Kak, bukankah ini menyenangkan? Kita semua pergi sebagai keluarga. Hangat rasanya, bukan?"
"Kau terlalu mengada-ada. Menurutku biasa saja."
Naruto berbalik ke belakang dan melihat langsung ke arah Itachi yang masih dengan santainya bersandar. "Kakak ini, kalau terlalu dingin seperti ini nanti tidak akan pernah punya pacar lho."
Itachi melotot ke arah gadis di depannya dan Sasuke yang sedari tadi diam sedikit tertawa mendengar penyataan Naruto. Itachi memukul kepala Naruto pelan dan sang gadis pun meringis. "Bicara seenaknya. Aku bisa mendapatkan siapa saja yang kumau." Naruto hanya cemberut atas perlakuan Itachi sementara yang lainnya mencoba menahan tertawa karena percakapan mereka.
"Nak Naru, jangan terlalu menggoda kakakmu. Ayo duduk yang benar, nanti kau jatuh lagi," Mikoto memperingatkan dan Naruto menurutinya.
"Biarkan saja, Bibi. Naru hanya terlalu bersemangat karena sudah lama tidak main jauh." Gaara mengelus kepala Naruto yang baru saja dipukul Itachi.
"Memang kapan terakhir kalinya?"
Gaara berpikir sejenak. "Kapan, ya? Mungkin saat kami SMU?" Dia melirik ke arah sahabatnya untuk memastikan jawabannya itu. Terlihat Naruto ikut berpikir dan tiba-tiba wajahnya berubah saat teringat dengan apa yang dimaksudkan Gaara.
"Aah, maksudmu yang itu? Ya benar, itu terakhir kalinya aku main keluar."
Setelah itu mereka tidak bicara lagi. Mikoto memperhatikan dari kaca spion kedua orang yang duduk di kursi tengah itu. Dia dapat merasakan ada sesuatu yang mereka sembunyikan tapi tidak bisa mengatakan apa-apa karena yang lainnya ada di sana.
Tanpa mereka sadari, Itachi pun sedari tadi memperhatikan perubahan di Naruto dan Gaara. Dia yakin ada sesuatu di perjalanan terakhir Naruto itu sampai mengingatnya saja membuat dia yang biasanya cerewet itu terdiam. Banyak yang tidak Itachi ketahui, bahkan bisa dikatakan dia hanya tahu sedikit sekali mengenai iparnya itu. Itu karena dulu dia tidak peduli dan tidak menyukainya, tapi entah mengapa sekarang ketidaktahuan itu mengganggu.
Dalam dua puluh menit mereka pun sampai di tempat tujuan. Pemandian air panas ini terletak di perbatasan kota Konoha tapi pemandangannya sangat indah jadi tidak sia-sia meskipun harus menempuh perjalanan yang cukup melelahkan. Saat mobil berhenti, Naruto lah yang pertama kali keluar. Dia begitu bersemangat dan mengajak yang lainnya untuk cepat-cepat.
"Kalau ingin cepat, bantu kami mengeluarkan barang. Jangan hanya berteriak-teriak saja." Itachi menyerahkan salah satu koper ke Naruto dan sang ipar dengan senang hati menerimanya. Akan tetapi, Gaara yang melihatnya segera mengambil koper tersebut dari tangan Naruto.
"Biar aku saja." Ekspresi wajahnya datar seperti biasa tapi Naruto sudah mengenalnya sejak dulu dan mengenali setiap perubahan walaupun hanya sedikit.
"Gaara, kau ini terlalu khawatir. Aku bisa membawanya, ayo serahkan kopernya padaku."
Naruto mencoba mengambilnya kembali tapi Gaara yang memang lebih tinggi dan lebih kuat darinya berhasil menjauhkan koper tersebut dari jangkauan sang sahabat. "Biar aku saja. Kau masuk saja."
Naruto cemberut ke arah pemuda berambut merah itu. "Kau ini seperti kakak yang posesif, apa kau tahu? Tidak beda jauh dengan Kak Itachi yang brother complex kalau sudah mengenai Sasuke."
Itachi yang mendengarnya menurunkan tas-tas yang dibawanya dan spontan mengejar sang adik ipar. Naruto yang melihat gelagat itu segera lari ke dalam penginapan sambil tertawa. "Kemari kau, jangan lari! Sudah kubilang jangan memanggilku brother complex!"
"Hahaha! Sudah kuduga itu adalah panggilan yang cocok untuk Kakak."
Fugaku, Mikoto dan Sasuke yang sudah biasa melihat kejadian ini hanya menggelengkan kepala. Sedangkan Gaara yang baru melihat hanya bisa berdiam diri. Baru kali ini dia melihat sahabatnya itu begitu bersenang-senang dengan orang selain dirinya.
Tidak lama Itachi pun kembali dengan wajah dinginnya dan membantu yang lain untuk membawa barang-barang mereka masuk. Naruto sedang menahan tawanya di sudut ruangan saat mereka masuk. Itachi membuang muka dan langsung menuju ke kamar para pria. Karena ini bukan pemandian campuran jadi para wanita dan pria tinggal di kamar yang berbeda. Sasuke menghampiri istrinya yang masih saja tertawa itu dan menepuk kepalanya pelan.
"Lagi-lagi menggoda Kakak sampai seperti itu."
"Habis, Kak Itachi lucu jika sedang marah." Naruto memanyunkan bibirnya seperti anak kecil yang sedang dimarahi oleh ibunya. Sasuke hanya bisa tersenyum kecil melihat tingkah istrinya yang menggemaskan.
"Sudah, sudah mainnya. Sasuke, pergi susul kakakmu dan beristirahatlah. Kita bertemu lagi saat makan malam, ya." Mikoto mengambil tas miliknya dari Sasuke dan menyimpannya.
"Baik, Bu."
Para pria pun pergi meninggalkan para wanita untuk beristirahat juga. Saat waktunya makan malam mereka semua berkumpul di kamar Mikoto dan Naruto. Makanan yang disajikan cukup banyak dan Naruto terlihat berbinar saat melihatnya, walaupun dia hanya bisa memakan beberapa saja. Mikoto berjanji akan berbicara pada pemilik penginapan besok agar makanannya sedikit dirubah jadi Naruto bisa makan lebih banyak. Naruto berterima kasih dan Itachi seperti biasa mengatainya anak mami.
Itachi tidak suka saat Naruto mengatainya brother complex begitu juga Naruto saat Itachi mengatainya anak mami sebagai balasan. Akan tetapi, kedua panggilan itu menunjukkan kedekatan mereka berdua. Jika salah satu dari mereka ada yang mengungkit nama itu pasti berujung dengan keributan atau kejar-kejaran seperti tadi. Yang akan mengakhiri kebodohan mereka adalah Fugaku. Pernah Mikoto dan Sasuke mencobanya tapi hanya menambah minyak ke dalam kobaran api.
Makan malam pertama mereka di penginapan begitu hidup. Inilah yang disebut sebagai keluarga dan Naruto sangat senang dapat merasakannya lagi. Sasuke memberitahukan berita tentang adanya festival yang diadakan setiap minggu tidak jauh dari penginapan mereka. Karena tempat ini memang banyak dikunjungi turis maka tidak heran mereka mengadakan acara seperti ini.
"Kalau begitu besok kita ke sana, ya? Kak Itachi, aku menantangmu."
"Jangan terlalu sombong. Lihat saja, aku akan mengalahkanmu dengan mudah."
Begitulah, maka hari kedua liburan mereka dihabiskan di festival tersebut. Naruto begitu bersemangat sampai menarik-narik Itachi untuk berjalan lebih cepat. Yang lainnya mengawasi tidah jauh dari belakang. Gaara terlihat begitu khawatir dengan kelakuan sang sahabat yang menurutnya terlalu antusias. Dia berpikir bagaimana jika teman sejak kecilnya itu terlalu membebani jantungnya dengan semua aktifitas yang dia lakukan? Naruto sebaiknya ingat untuk meminun obatnya secara teratur.
"Tenang saja nak Gaara, Bibi selalu memastikan nak Naru meminun obatnya secara teratur. Kau seharusnya menikmati liburan ini untuk nak Naru juga, tidak perlu terlalu khawatir seperti itu." Sejak tadi Mikoto memang memperhatikan gelagat Gaara dan mengerti karena dia pun sempat merasakan hal yang sama. "Lagipula nak Naru itu kuat, dia pasti akan baik-baik saja."
Gaara tahu itu lebih dari siapa pun, mereka telah mengenal satu sama lain sangat lama. Naruto tidaklah lemah. Dalam situasi apapun dia selalu jadi yang terkuat walaupun orang berkata lain. "Bibi benar, Naru pasti menepati janjinya seperti yang selalu dia lakukan. Pasti."
Akhirnya si pemuda bermata hijau itu pun memutuskan untuk lebih menikmati liburannya. Karena kedua orang bodoh sedang sibuk dengan pertarungan bodoh mereka, dia mengajak Sasuke untuk menemaninya pergi ke beberapa stand atau bahkan menantangnya bertanding di beberapa permainan. Cukup menyenangkan karena ternyata dia dan Sasuke memiliki beberapa ketertarikan yang sama.
Naruto merasa sedikit lelah setelah bermain berjam-jam bersama Itachi. Dia tidak hentinya menarik Uchiha sulung itu dari satu stand ke stand lainnya dan mencoba berbagai macam permainan. Mungkin dia memang terlalu bersemangat sampai lupa dengan keterbatasannya. Naruto mengajak Itachi untuk mengantarnya kembali ke penginapan tapi hanya dibalas dengan ejekan dari sang kakak. Karena kesal Naruto pun memutuskan untuk kembali sendiri. Bisa saja dia meminta yang lain untuk mengantar tapi dia sudah tidak kuat untuk mencari karena mereka berpencar, karenanya dia langsung menuju ke penginapan.
Sayangnya di tengah perjalanan ada yang memutuskan untuk mengikutinya. Dua orang pemuda yang sepertinya berasal dari daerah setempat dilihat dari penampilan mereka. Naruto beranggapan tidak akan apa-apa selama mereka tidak menggangunya tapi justru itulah yang terjadi.
"Nona, apa ingin kami temani? Sepertinya Nona terlihat sedikit tidak sehat, lebih baik kami mengantar Nona kembali. Di mana Nona tinggal?"
Hal seperti ini sudah biasa terjadi padanya tapi biasanya Gaara akan selalu ada di sampingnya untuk mengusir para pria yang mencoba mendekatinya seperti sekarang. Di saat-saat seperti inilah Naruto menyesali rupanya yang terlihat seperti perempuan. Banyak pria iseng yang salah paham dan bahkan saat diberitahu pun mereka tidak percaya malah meminta bukti bahwa dia ini laki-laki. Gaara akan langsung menghajar siapapun yang berani berkata seperti itu.
"Maaf, aku baik-baik saja. Terima kasih atas perhatiannya." Naruto mempercepat langkahnya tapi salah satu dari pemuda itu menangkap tangannya dan menahannya.
"Nona ini dingin sekali. Kami hanya mencoba membantu, bukan? Bukankah lebih mudah jika Nona menerima niat baik kami?" Pintar sekali mereka bicara tapi wajah mesum mereka itu tidak dapat menyembunyikan niat mereka yang tidak baik.
"Lepaskan! Aku tidak butuh bantuan kalian."
"Nona ini galak juga rupanya." Pemuda lainnya yang sejak tadi diam ikut bicara. "Tapi dia terlihat semakin manis saat marah." Mereka berdua tertawa sangat keras. Naruto hanya berharap ada seseorang yang menyadari kesulitannya dan menolong. Di tengah kesibukan festival memang harapan itu kecil karena setiap orang terlalu sibuk menikmati kegiatan mereka.
Setelah membiarkan iparnya pergi sendirian, Itachi sedikit merasa bersalah. Naruto memang terlihat sedikit lelah tadi tapi dia dengan egonya malah mengejeknya lemah dan anak mami karena minta ditemani. Penginapan memang cukup dekat karena itu dia berpikir tidak akan apa-apa dan ini pun masih sore hari. Tapi baru saja lima menit berlalu dia merasa tidak tenang dan memutuskan untuk menyusulnya.
Saat melewati jalan menuju ke penginapan dia melihat dua orang pemuda sedang menggoda seorang perempuan. Awalnya dia hanya beranggapan bahwa mereka itu kekanak-kanakan dan memutuskan untuk lewat saja. Tapi setelah menyadari siapa yang mereka ganggu ekspresinya seketika berubah dan dengan marah dia mendekati mereka.
"Hei, lepaskan tangan kotormu dari adikku!"
Kedua pemuda itu langsung berbalik ke arah suara yang baru saja mengganggu kesenangan mereka tapi tidak pernah mereka melepaskan genggamannya. Naruto masih berusaha untuk melepaskan tangannya tapi mereka terlalu kuat, ditambah lagi kondisinya sedang sedikit lemah karena itu dia lega saat Itachi muncul.
"Oh Kakak, kami hanya mencoba untuk membantu adik manis ini. Tidak perlu terlihat begitu menyeramkan, benar kan?" dia bertanya ke temannya.
"Benar, benar. Kami hanya ingin membantu adik Kakak dan bermain dengannya sedikit."
Itachi tidak suka dengan ekspresi wajah mereka saat mengatakannya dan tanpa berpikir panjang memukul salah satu dari mereka tepat di wajah. Melihat temannya dipukul pemuda satu lagi balik menyerang Itachi dan terjadilah pertarungan dua lawan satu.
Naruto sudah sering melihat Gaara bertarung dan bisa membedakan mereka yang ahli dan yang bukan. Karena itu dia sedikit khawatir, kedua orang ini bukan saja bagus tapi mereka sepertinya ahli dalam beladiri. Dia yakin Gaara pasti bisa menang melawan mereka berdua tapi tidak dengan Itachi. Kakaknya ini memang cukup handal juga tapi lawannya ada dua dan mereka terlihat berpengalaman. Mereka tidak perlu waktu lama untuk menjatuhkan Itachi dan menghajarnya habis-habisan.
Naruto yang tidak tega melihat kakaknya terluka mencoba menghentikan mereka. Dia melempar salah satu dari pemuda itu dengan batu dan berhasil mengalihkan perhatian mereka. Si pemuda berbalik ke arah Naruto dan menamparnya sangat keras sampai ujung bibirnya sedikit berdarah. Itachi naik pitam melihatnya, apalagi saat tangan kotor itu mengambil ancang-ancang untuk memukul Naruto lagi. Sang Uchiha dengan sekuat tenaga menyingkirkan orang yang tengah menahannya di tanah dan segera berlari ke arah Naruto.
Di saat yang sama, Gaara dan Sasuke memutuskan untuk kembali ke penginapan karena hari sudah semakin gelap. Dalam perjalanan kembali mereka mendengar seseorang yang sepertinya sedang dalam kesulitan dan Gaara mengenal suara ini. Dia bergegas lari dan mendapati Naruto ada di dalam pelukan Itachi yang melindunginya saat dua orang pemuda tadi masih terus menghajar Itachi.
"Hentikan! Sudah hentikan! Jangan pukuli Kak Itachi lagi!"
"Nona, kami hanya membayar hutang. Yang namanya laki-laki itu tidak bisa membiarkan hutang tidak terbayar. Kakakmu ini sudah memberikan kami beberapa luka dan kami hanya membalasnya beberapa kali lipat."
Naruto terus meminta agar mereka menghentikan perbuatan mereka. Tak lama kedua pemuda itu berhenti memukuli Itachi karena Gaara dan Sasuke segera menyerang mereka dan berhasil mengusir mereka pergi, setelah menghajar mereka tentunya. Sasuke dan Gaara membantu Itachi berjalan kembali ke penginapan dan sesampainya di sana mereka segera mengobati luka-lukanya.
"Kakak, maaf ya gara-gara aku. Kakak baik-baik saja?" Naruto benar-benar khawatir, jika sesuatu terjadi pada Itachi dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
Gaara menyerahkan kotak obat kepada Naruto agar dia bisa mengobati Itachi. "Mereka berdua petarung yang handal, untung saja kami segera datang. Mereka bisa saja membunuhmu jika mereka mau."
Mendengar pernyataan Gaara membuat Naruto semakin murung. "Oi Gaara, tidak perlu membuat sahabatmu semakin cemas. Naru, aku tidak apa-apa. Jangan berwajah seperti itu."
"Tapi, yang dikatakan Gaara memang benar. Jika sesuatu terjadi pada Kakak, aku akan sangat menyesal." Naruto menunduk lesu dan raut wajahnya terlihat semakin sedih. Itachi sudah menjadi seseorang yang sangat berarti baginya dan dia tidak ingin kehilangannya.
Itachi menarik Naruto ke dalam pelukannya dan mengelus rambutnya seperti yang selalu dilakukan Gaara. "Aku baik-baik saja. Aku berjanji akan selalu baik-baik saja. Lagipula jika aku tidak ada, siapa yang akan menemanimu bermain catur dan melayani tantangan bodohmu?"
Naruto memukul Itachi pelan dan pria yang lebih tua darinya itu pun meringis. "Kakak bodoh." Naruto memeluk kakaknya itu dan menikmati kehangatan sang kakak. Ini pertama kalinya dia menerima sikap itachi yang lembut dan Naruto bahagia karenanya.
"Menangislah jika ingin menangis."
"Sudah kubilang aku ini tidak tahu caranya menangis, Kak Itachi bodoh."
Itachi hanya tersenyum dan memeluk adik iparnya itu lagi. Sepertinya luka-luka Itachi tidak ada yang serius dan Gaara sudah memastikan tidak akan terjadi infeksi. Tiba-tiba Sasuke menarik Naruto dari pelukan Itachi dan mendudukannya tidak jauh dari mereka.
"Sasuke?"
"Biarkan Gaara merawat Kakak. Kau sendiri terluka, kan? Biar kuobati." Suara Sasuke terdengar sedikit kesal, entah kenapa. Dan juga entah mengapa Naruto sedikit malu-malu saat mendengar Sasuke akan mengobatinya. Gaara dan Itachi tidak melewatkan kejadian itu dan masing-masing berpendapat Naruto terlihat saat manis saat tersipu.
"Ah, hanya luka kecil. Aku tidak apa-apa."
"Walaupun kecil tapi tetap harus diobati. Bagaimana jika infeksi? Ayo sini, tunjukkan lukamu."
Naruto akhirnya berhenti menyembunyikan wajahnya dan membiarkan Sasuke membersihkan lukanya. Sasuke cukup ahli dalam hal ini sampai Naruto tidak sadar ketika sudah selesai. Sasuke meninggalkan mereka bertiga untuk meminta kepada pemilik penginapan agar makan malam hari ini disiapkan di kamar para pria saja agar lebih mudah bagi Itachi. Naruto berbalik ke arah sang kakak dan sahabatnya dan menerima ekspresi yang tak diduga olehnya.
"Ap-apa?"
"Tidak ada. Sejenak aku berpikir kau ini memang perempuan." Gaara mengatakannnya dalam dua arti dan Naruto mengerti apa maksudnya. Itachi mengangkat kedua alisnya dan Gaara menjelaskan apa maksudnya. "Tidakkah kau berpikir dengan semua ide bodohnya itu dia ini bukan perempuan?"
"Ah, kau benar. Aku mengerti sekarang."
"Kak Itachi! Gaara, jangan menghasut Kakak yang tidak-tidak."
"Aku tidak menghasut. Memang benar, kan?"
"Aku tahu, bagaimana jika kita pastikan saja?" Itachi mulai tersenyum jahil dan Naruto tahu ini tidak akan berakhir menyenangkan. "Ah, tapi jika hanya ingin memastikan kita bisa tanya Sasuke saja. Dia pasti sudah memastikan semuanya." Wajahnya berubah dari jahil ke mesum.
Semburat merah muncul di pipi Naruto tapi dia segera mengendalikan diri. "Sasuke tidak pernah menyentuhku. Itu sudah bagian dari perjanjian kami."
Itachi tidak mengerti dengan yang dikatakan Naruto. Karena sudah menimbulkan rasa penasaran pada kakaknya, Naruto pun menceritakan perjanjian yang dibuat olehnya dan Sasuke. Itachi tahu bahwa Sasuke memang tidak memiliki perasaan apa-apa kepada istrinya ini, tapi sampai membuat perjanjian seperti ini dia tidak percaya. Terlebih lagi Naruto sendiri menyetujui dengan mudah, dia berpikir mereka berdua ini gila.
"Kau baru sadar? Sejak dulu anak ini selalu melakukan hal gila. Saat membuat keputusan untuk menikah pun entah mengapa aku tidak terlalu kaget karena sudah terlalu sering menghadapi kegilaannya. Walau aku pun sempat tidak setuju."
"Gaara."
Itachi menghela napas dan menyamankan posisi duduknya. "Jika begitu keadaanya aku sedikit tenang. Aku sempat berpikir kau ini hanya penggangu dan gadis yang menyebalkan. Kupikir kau hanya akan merusak kebahagiaan Sasuke karena aku tahu dia tidak akan pernah menyukaimu dan pernikahan ini sendiri didasari oleh alasan yang bodoh. Kalian berdua memang gila. Bagaimana bisa memutuskan menikah padahal tidak menyukai satu sama lain bahkan sampai membuat perjanjian seperti itu?"
"Mungkin karena kami berpikir dapat menemukan sesuatu dari pernikahan ini? Apa itu logis?"
Itachi menatap mata biru iparnya dan melihat kelembutan di sana. "Tapi aku tetap berpikir kalian ini gila."
"Terima kasih."
Sasuke kembali dan mengatakan bahwa semua sudah diatur. Fugaku dan Mikoto kembali sesaat sebelum makan malam. Mikoto beralasan dia terlalu bernostalgia karena sudah lama tidak ke festival dan mengajak Fugaku mencoba semua hal seperti saat mereka muda dulu sampai lupa waktu. Mikoto sedikit panik melihat keadaan Itachi dan juga luka di wajah Naruto, setelah Sasuke menjelaskan semuanya dan Naruto meyakinkan bahwa mereka baik-baik saja baru dia tenang.
Malam itu Naruto menyuapi Itachi karena tangan sang kakak sedikit sakit dan sulit digerakkan. Tidak ada yang mengatakan apa-apa karena takut merusak mood yang baik ini. Meskipun makan malam dilewati dengan sunyi tapi ini kesunyian yang baik. Walaupun dengan Sasuke yang beberapa kali melemparkan pandangan mengawasi ke arah mereka berdua, lagi-lagi entah mengapa.
Mikoto mengajak Naruto untuk berendam malam ini karena kemarin mereka langsung istirahat dan belum sempat mencoba pemandiannya. Naruto menyetujui ajakan sang ibu walaupun dia tidak begitu mengerti mengapa Mikoto mengajaknya karena mereka tidak mungkin berendam bersama. Mikoto juga meminta Sasuke untuk mengajak Itachi berendam agar bisa merilekskan otot-ototnya yang pasti lumayan pegal. Sasuke pun dengan senang hati menuruti perintah sang ibu seperti biasa.
"Anak mami," Itachi tiba-tiba menyerang Naruto padahal sampai lima menit sebelumnya mereka masih terlihat begitu mesra.
Naruto tentu saja membalasnya dengan senang hati. "Brother complex."
"Yang masih perawan diam saja." Naruto hampir menyemburkan teh yang sedang diminumnya. Gaara yang juga sedang minum kurang beruntung dan tersedak, Sasuke yang duduk di sampingnya membantunya dengan menepuk-nepuk punggungnya.
"Kakak!" Wajah Naruto kembali memerah dan dia segera bangkit dari tempat duduknya. Dia berjalan ke arah Mikoto dan mengajaknya untuk kembali ke kamar sambil berusaha menyembunyikan wajahnya yang panas.
Itachi masih dengan santai menikmati tehnya sambil menyeringai dalam hati melihat reaksi sang ipar. Dia menatap wajah adiknya yang terlihat sedikit bermasalah dan bertanya ada apa. "Entah mengapa aku merasa ini salahku." Jawaban Sasuke membuat Itachi tidak bisa menahan tawanya. Sayangnya tawanya itu membuat wajahnya sakit tapi dia tidak bisa menahannya. Gaara yang akhirnya sembuh dari tersedaknya menyumpahi Itachi dalam hati karena hampir membuatnya kehilangan napasnya.
Hari ketiga liburan mereka habiskan dengan mengunjungi tempat-tempat di area tersebut (Sasuke, Itachi dan Gaara tidak pernah membiarkan Naruto berada lebih dari satu meter dari mereka selama perjalanan) dan di hari terakhir mereka bermain kartu bersama di penginapan. Mereka membagi kelompok yang beranggotakan dua orang. Awalnya mereka memasangkan sesuai gender tapi Naruto tahu Itachi akan mengejeknya lagi dan dia meminta dipasangkan dengan Gaara. Mikoto ingin berpasangan dengan Fugaku berarti tersisa pasangan Itachi Sasuke dan Itachi menolaknya karena kali ini justru Naruto yang akan mengejeknya.
Saat Gaara mengusulkan para suami istri berpasangan, Naruto tiba-tiba gugup dan menolak lagi. Entah kenapa sejak kejadian kemarin setiap dekat Sasuke dia selalu mengingat kata-kata Itachi dan tidak bisa bersikap tenang. Akhirnya pasangannya menjadi Fugaku Mikoto, Itachi Naruto dan Sasuke Gaara. Awalnya yang lainnya berpikir apa tidak apa-apa kedua orang yang selalu bertanding itu berada di tim yang sama? Tapi ternyata mereka terlalu khawatir. Begitu mereka bersatu entah mengapa seperti melihat dua setan yang sedang merencanakan sesuatu yang licik untuk membantai lawannya. Apalagi ketika Mikoto mengusulkan mereka bertaruh seperti yang selalu Itachi dan Naruto lakukan ketika mereka bertanding, itu hanya menambah keantusiasan mereka saja.
Permainan berlangsung cukup sengit. Merasa berbahaya jika membuat pasangan Itachi Naruto menang, Sasuke dan Gaara berjuang begitu keras agar mereka tidak kalah. Pasangan Fugaku Mikoto lah yang paling santai, mereka berdua hanya tersenyum-senyum melihat para anak muda ini begitu bersemangat hanya karena sebuah permainan kartu. Kedua tim muda itu begitu sengit ingin mengalahkan satu sama lain dan tidak begitu memperhatikan tim ketiga. Saat tim Itachi Naruto berhasil mengalahkan tim Sasuke Gaara mereka berseru dengan riangnya, tapi Mikoto menghancurkan kebahagiaan itu.
"Tunggu dulu Itachi, nak Naru. Kalian harus melihat kartu kami dulu." Fugaku menurunkan kartunya dan keempat anak muda itu dapat melihat bahwa mereka tidak bisa meremehkan kemampuan orang tua.
"Seorang Uchiha selalu memenuhi kata-katanya. Karena itu setelah kita pulang kalian semua harus mulai membersihkan gudang belakang. Tentu saja nak Gaara bisa datang ketika kafenya sudah tutup. Kalian masih memiliki tiga hari sampai kantor kembali beraktifitas, bukan?" Fugaku yang biasanya tenang itu tiba-tiba menyeringai membuat keempat anak muda itu bergidik. Mereka akan mengingat untuk tidak lagi menantang kedua orang tuanya bertaruh.
"Ba-baik, Ayah."
Gaara yang belum mengetahui keburukan gudang belakang hanya menatap bingung sedangkan ketiga Uchiha muda hanya bisa berharap mereka bisa tahan dengan neraka yang akan meraka jalani.
