MY HANDSOME BROTHERS
[CHAPTER 2]

BASED ON 'MY HANDSOME BROTHERS' COMIC BY SHIRAISI YUKI
WITH MODIFICATIONS

CAST : JEON JUNGKOOK, KIM SEOKJIN, KIM TAEHYUNG, KIM NAMJOON AND OTHERS.

FRIENDSHIP, ROMANCE, HURT, BoyXBoy

Maaf typo, bahsa kurang sopan, tidak memenuhi EYD, too short, updatenya lama. Maklum, saya artis papan atas/eh?

HAPPY READING, ALL!


"Baik, kau harus…"

Jimin memberitahu semuanya, tanpa sisa. Jungkook hanya mengangguk – angguk saja. Ia takut bahwa rencana Jimin tidak berhasil, melihat para hyungnya yang sangat protektif terhadapnya. Namun, Jimin berhasil meyakinkan Jungkook bahwa semuanya akan berjalan dengan lancar.

"Kau pasti bisa, Jungkook." Kata Jimin sambil menggenggam tangan Jungkook. Lalu, ia mengambil secarik kertas dari tasnya, lalu menuliskan beberapa akun media sosial yang ia miliki,"Nih, kalau ada apa – apa, hubungi aku lewat ini." Jungkook hanya memandang saja kertas itu. "Ada apa, Kook?" Tanya Jimin.

"Maaf, aku tak punya semua akun ini. Para hyungku melarangku untuk memiliki semua ini. Kau bisa menuliskan nomor HP saja," Kata Jungkook sambil mengembalikan kertas itu ke genggaman Jimin. Jimin hanya diam, mematung, sambil melongo. "Ada apa? Apa aku salah?" Tanya Jungkook. Dengan refleks, Jimin menggelengkan kepalanya.

'Bukan begitu. Aku kasihan padamu, nak. Sebegitunya kakakmu melindungimu.' Batin Jimin heran dalam hati.

.

Jungkook berjalan di koridor lantai 3. Ia ingin segera pulang. Ia tak sabar untuk melaksanakan apa yang telah direncanakan Jimin tadi. Langkahnya dipercepat dan dilebarkan. Untuk sekarang, ia pulang sendirian. Jimin sudah mendahuluinya pulang bersama dengan supir pribadinya. Mungkin, besok Jimin meminta izin untuk pulang bersama Jungkook.

"Awww!" Teriak seorang yeoja di tangga.

"Kenapa kau ini, Krystal?" Kata yeoja yang lain.

"Entah, Joy. Sepertinya ini terkena goresan itu…" Katanya sambil menunjuk beberapa serpihan kaca jendela yang pecah.

"Haah? Bagaimana bisa? Lalu, bagaimana ini?" Tanya yeoja yang bernama Joy itu.

"Aku tidak tahu, Joy! Aku tak suka melihat darah!" Pekik yeoja yang bernama Krystal.

Mendengar hal itu, Jungkook cepat – cepat turun dari lantai 3. Ia mengambil sesuatu di tasnya, lalu Jungkook menghampiri kedua yeoja itu. Ia menyantuh tangan sang yeoja yang terluka tadi. Dan dengan tangkas ia menempelkan plester luka di tangannya itu.

"Ini hanya pertolongan pertama saja, noona. Untuk tindakan selanjutnya, noona bisa ke klinik." Kata Jungkook.

"Eh?" Gumam yeoja itu. Ia hanya melihat tangannya. Yang tadinya mengeluarkan darah, sekarang telah tertutup sempurna karena namja tak dikenal yang sekarang berdiri di hadapannya. 'Siapa dia?' Tanya si yeoja itu dalam hati.

"Aah, maaf, noona. Ini sudah menjadi kebiasaanku. Salah satu kakakku dulu sering terluka." Kata Jungkook sambil merunduk. 'Kakak' yang dimaksud adalah Taehyung. Dulu, ia sering terjatuh dan sakit – sakitan karena keteledorannya. Namun, semenjak menjadi model, ia harus menjaga image di depan fans nya. Jadi, sekarang ia tidak terlalu sering terluka.

"Krystal, kau tahu? Ini adik Kim Taehyung!" Bisik yeoja satunya itu. Ia menampakkan wajah tak suka terhadap Jungkook. 'Adik Taehyung itu?' Pikir Krystal sambil memegang dagunya. 'Apa benar?'

"Ehm, maaf noona. Saya permisi." Kata Jugnkook sambil menunduk. Ia sangat sungkan. Mengapa ia begitu lancang memegang tangan yeoja yang bahkan belum ia kenal. Bahkan, belum tentu juga yeoja itu suka dengan perbuatannya. Bisa – bisa, dia adalah salah satu haters nya. Ia malu, bingung. Dan akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari situ. Namun, ada yang menahannya. Pundaknya dicengkram oleh yeoja itu.

"Tunggu!" Sergah yeoja itu. "Aku Krystal, siapa kau?" Kata yeoja yang bernama Krystal itu. Jungkook tak bisa bergerak. Ia ingin lari, namun cengkraman senior itu tidak bisa membuatnya kabur kemanapun. Dengan pasrahnya, Jungkook mengatakan nama aslinya,"Hhh.. Jeon Jungkook, noona,"Katanya lemas. Berharap Krystal noona bukanlah salah satu fans dari ketiga hyungnya.

Ternyata, reaksi Krystal sangat berbeda jauh dari yang dibayangkan Jungkook. Ia tersenyum dengan malu. Lalu, Krystal sadar bahwa ia masih mencengkram pundak lelaki yang lebih muda darinya. Ia melepaskan tangannya dengan wajah yang malu – malu. "Aah, maaf. Aku telah tidak sopan kepadamu," Katanya sambil merunduk. Mendengar hal itu, Jungkook hanya tertawa saja. Sepertinya, ia mulai suka kepada yeoja ini. Sudah cantik, sopan, dan sepertinya cerdas.

"Ehm… Jungkook… Terimakasih kau telah mengobati lukaku…" Katanya sambil menatap mata Jungkook erat – erat. Lalu ia menggenggam tangan Jungkook. Perasaan Jungkook semakin tak karuan. Jantungnya semakin berdegup kencang. Napas yang ia keluarkan sudah tidak teratur. Pipinya mulai memerah. Sekarang, Jungkook hanya bisa memejamkan matanya saja. Walaupun begitu, bola matanya tak berhenti berputar.

"Aku menyukaimu…"

Semuanya semakin cepat. Peluhnya menetes. Bukan karena cuaca, namun suhu tubuhnya yang memanas.

"Maukah kau mengobati luka yang ada di hatiku?"

"Dan maukah kau bersedia mendampingiku, Krystal Jung?"

"Sekali lagi, apakah kau mau menjadi pacarku, Jeon Jungkook?"

"Baiklah, noona. Aku bersedia." Kata Jungkook akhirnya sambil membungkuk.

Sekarang, Jungkook sudah menjadi kepunyaan Krystal. Baru kali ini ada wanita yang berani menembaknya, ehm lebih tepatnya, menyukainya. Ternyata, rencana Jimin untuk Jungkook tadi lebih dari lancar. Walaupun semua ini melenceng dari rencana itu, namun ini lebih dari cukup. Dengan ini, sebenarnya rencana – rencana Jimin tadi tidak wajib dilakukan. Jungkook sangat senang bukan main. Lalu, Krystal mencium pipinya dengan mesra.

"Baiklah, Jungkook. Karena kau milikku, jadi, jangan panggil aku noona. Panggil saja Krystal," Katanya. Jungkook hanya terdiam sambil tersenyum. Memang benar, wajahnya memerah, keringatnya deras, ia sering menelan ludah. Namun, ini pertanda ia senang. Lalu, Jungkook mengajaknya pulang,"Krystal noon- ehm mau pulang bersamaku?" Tawar Jungkook.

Sekali lagi, Krystal menggenggam tangan Jungkook.

"Maaf. Bukannya aku tak mau. Namun, kami berdua masih ada urusan organisasi di sini. Mungkin kami pulang jam enam. Maaf ya.." Kata Krystal dengan nada penyesalan. "Tapi besok kita bisa pulang berdua, 'kan?" Sambungnya. Jungkook mempererat genggamannya,"Iya, noon- ehm Krystal. Besok kita pulang bersama."

Lalu, Krystal tersenyum lebar, "Baiklah, ini nomor HP ku. Kau bisa SMS aku nanti malam. Bye, Jungkook." Kata Krystal sambil memberi secarik kertas, lalu pergi. Perlahan hilang dari pandangan Jungkook. Jungkook hanya melambaikan tangannya saja.

Di tempat ia berdiri sekarang, Jungkook tertawa sendiri. Sambil memandang kertas yang di beri Krystal, ia menyalin nomor itu ke HP nya. Lalu, dengan segera, ia memberitahu Jimin perkara ini.


To : Jimin

Kau tahu, ini lebih dari semuanya. Tadi Krystal noona 'menembakku'. Sudah cantik, baik hati. Kupikir, ia sepertinya tidak peduli dengan semuanya. Aku sangat senang sekali. Kuharap kau berangkat pagi besok. Kita berangkat bersama, 'kan? Jangan lupa, kutunggu jam 6 di depan gerbang kompleksmu. Aku ingin bercerita banyak. Oke?


Lalu, ia mengirim SMS untuk Krystal.


To : Krystal

Hai, Krystal. Aku Jungkook. Kau boleh menyimpan nomorku ini. Ehm, semoga urusannya lancar, ya. Hwaiting!


Tak lama lagi, ada balasan. Namun, dari Jimin.


From : Jimin

Haaah? Apa kau bilang? Apa aku tak mimpi? Kau ditembak Krystal noona? Baiklah, besok aku akan lebih pagi darimu. Aku tak sabar mendengar semua ceritamu.
Jangan lupa, nanti malam lakukan semuanya.


Tak lama lagi, Krystal yang membalas.


From : Krystal

Terimakasih, Jungkook. Jangan lupa nanti malam kita saling mengirim SMS lagi. Dan kau harus belajar, anak manis. Kau harus ranking satu di kelasmu nanti. Oke? Hwaiting, Jungkook!


Setelah itu, entah kenapa Jungkook malah mematikan HP nya. Setelah itu, ia melangkah dengan langkah yang girang. Tentu, siapa yang tidak senang setelah ditembak, apalagi seorang yeoja terkenal yang menembak? Dia pasti sangat senang.

Namun, ada yang tak senang mendengar hal ini. Bukan karena cemburu, namun karena curiga. Ia tidak mengkhawatirkan Krystal sebagai yeoja, namun Jungkook. Mereka sangat mengkhawatirkannya. Ini pasti ada yang tak beres, pikir mereka.

Dan dia kedua kakak Jungkook, Taehyung dan Namjoon.

.

"Taehyung, tolong beritahu Jungkook bahwa makan malam telah siap!" Perintah Seokjin sambil mempersiapkan piring – piring untuk makan malam keluarga kecil itu. Taehyung yang kala itu sedang bermain PSP hanya menggerutu. Ditengah pertarungannya, ia diperintah untuk memanggil adiknya.

Taehyung menuju lantai atas. Lalu, ia mengetuk pintu,"Jungkook! Ayo makaan! Jangan membuatku kelaparaaan!" Katanya sambil menggedor – gedor pintu. Tapi, tak ada perubahan dari pintu itu, atau tak ada suara dari dalam.

"Jungkook…." Kata Taehyung sambil menempelkan telinganya ke pintu.

…..

"JUNGKOOK! AYO MAKAAAN! BUKA PINTUMU! AYOOO!" Teriak Taehyung emosi. Sedari tadi PSP yang menahan laparnya. Sekarang, demi bocah satu ini, ia harus menahan lapar. Lagi. Tetapi, ternyata bocah (baca : setan) cilik ini tidak bisa diajak kompromi. Akhirnya, ia memakai cara andalannya–berteriak sekeras – kerasnya.

"Taehyung, ada apa?" Tanya Namjoon heran sambil menyusulnya ke atas. Taehyung hanya memoncongkan bibirnya, sambil mengangkat bahunya.

"Hmmm.. Baiklah." Lirik Namjoon tajam. Taehyung hanya tersenyum sinis,"Terserah saja. Kalau kau bisa." Tatapnya tak kalah galak. "Jungkook, ayo makan." Kata Namjoon sambil memegang handle pintu. Tetapi pintu itu belum terbuka. Namjoon mendelik, juga tidak kalah terkejut dengan Taehyung. Lalu, ia menyerah dan turun ke bawah.

"Seokjin, kau saja yang bilang." Bisik Namjoon. Sepertinya ia takut kalah telak. Namun, Taehyung juga anak yang (sedikit) cerdas. Ia tertawa mengejek Namjoon. 'Kau menyerah, 'kan?' Matanya menunjukkan kata – kata itu. Lalu, mata Namjoon menunjukkan isi hatinya,'Baiklah, kali ini kau menang, Tae.'

"Jungkook…" Kata Seokjin dengan perkataan paling lembut. "Kau tak apa?" Katanya. Namun nihil. Sifat Seokjin yang dapat meluluhlantahlan semua orang ini tak berhasil.

Tetapi, dalam kamar, Jungkook hanya tersenyum keji. Sambil memegang ponselnya, ia memberitahu semua yang dilakukannya dan para hyungnya. Ia mengirimkan SMS kepada Jimin.

To : Jimin

Rencana pertama, berhasil. Aku mogok berbicara dan mogok makan. Seenggaknya, mereka tidak mengusik kehiduapnku untuk seharian ini.
Selanjutnya, apa rencanamu untukku?


To be continued...


TBC

Hai, readers!

Sebelumnya, Hana ucapin makasih yang udah mau review chapter yang sebelumnya. Iya ya, kalau dipikir - pikir, kayaknya ini kependekan. Tapi apa daya, seminggu kemarin Hana full banget, sibuk. Banyak tugas sama ulangan. Belum lagi ikut lomba dadakan-_-. Tapi syukur sih, juara. Mungkin untuk chappie 3 nya Hana bakal publish (paling lambat) hari Jum'at.

Sekali lagi, Hana minta maaf buat para readers yang Hana kecewain. Maaf ya, padahal sebelumnya readers minat banget gitu. Tapi Hana rapopo kok :v. Oke, sekian catatan hati author gendeng.

Oyasumi! (ini ceritanya Hana mau bobo')

Hana