Datang lagi dengan update yang baru seminggu! *senyum lebar*

Terima kasih ya, buat yang udah baca, review, nge-fave, atau sekedar mampir. Aku seneng ternyata kalian suka sama cerita ini. Nah, ini jawaban-jawaban dari hal-hal yang ga ada di cerita atau belum ada.

Ini bukan kebahagiaan semu, tapi semua pasti ada naik turunnya. Kenapa? Karena ini drama hahaha. *peace* Ya, yang dicari Naru selama ini mungkin aja ada di Sasuke atau Itachi. Mungkin di dua-duanya. Naru sendiri belum tau atau hanya belum sadar apa itu. Nanti aku sadarkan ya. (^_^)v

Chapter kali ini moment SasuNaru nya lebih banyak (mungkin) tapi masih berhubungan dengan Itachi tentunya. Itachi masih belum tau soal jati diri Naru tapi bakal segera tahu (ups, ini spoiler ga ya?). Meskipun dipeluk/meluk Naru tapi tetep ga tau dia cowo, itu karena kimono yang dipake Naru itu lumayan tebal jadi ada ga ada dada ga ada bedanya. Aku ga pernah bilang, ya? Maaf, maaf. Lagian Naru itu badannya kecil, jadi mereka pikir wajar kalau dadanya juga kecil. (ini normal ga sih?)

Sasuke mulai ngerasain sesuatu sama Naru berkat kedekatan ItaNaru jadi jangan cemburu sama Itachi ya karena ini penting. Karena Sasuke itu sama dobe-nya dengan Naruto kalau udah masalah percintaan jadi butuh sedikit dorongan lah begitu.

Silahkan simak chaper 6 ini!


"Uhuk, uhuk." Naruto tidak sengaja menjatuhkan sesuatu dan menyebabkan debu berhamburan di ruangan yang lumayan sempit itu. Entah kapan terakhir kali ruangan itu dibersihkan, begitu banyak debu dan barang-barang diletakan begitu saja dan menjadikan tempat itu begitu berantakan.

"Hati-hati, Naru. Jangan sampai kau menjatuhkan sesuatu yang berbahaya."

"Iya, Kak."

Baru saja kemarin siang mereka masih menikmati liburan keluarga, tapi lihat siang ini, mereka harus berjuang untuk menyelesaikan tugas mereka karena kalah taruhan. Sejak pagi Fugaku sudah mengingatkan tentang tugas mereka. Gaara baru bisa datang besok karena itu hari ini Naruto, Sasuke dan Itachi harus bersih-bersih dengan kekuatan tiga orang saja. Gudang belakang rumah Uchiha ini tidak begitu besar, namun dilihat dari banyaknya barang yang ditumpuk di sana akan membutuhkan waktu lebih dari dua hari untuk membereskannya walaupun dengan kekuatan empat orang. Sebenarnya sebutan neraka itu hanya mereka saja yang membesar-besarkan, tapi mungkin ini adalah bagian kecil dari neraka itu sendiri?

Karena tidak kuat mengangkat barang, Naruto mendapat bagian untuk menyapu dan membersihkan barang-barang yang masih bisa dipakai. Selain itu dia juga yang memilah-milah barang mana yang bisa dibuang atau mungkin bisa diperbaiki. "Kuharap tidak ada tikus di sini."

Kedua Uchiha bersaudara menatap Naruto mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut manisnya itu. "Kau takut tikus, Naru?"

"Tidak, tapi Gaara sangat membencinya. Jika sampai dia melihat satu ekor tikus saja, pekerjaan kita malah akan semakin bertambah. Kalian tidak akan mau itu terjadi."

Benar-benar tidak bisa diduga. Gaara? Yang berwajah datar, jago beladiri dan selalu terlihat cool itu? Kta memang tidak bisa menebak segala sesuatu hanya dari permukaan. Siapa sangka orang seperti Gaara bisa memperlihatkan sisi lain ketika melihat seekor tikus.

"Kita berharap saja tidak akan ada tikus, setidaknya saat Gaara datang besok." Naruto dan Itachi mengangguk setuju atas pernyataan Sasuke.

Empat jam sudah mereka habiskan di ruangan itu dan belum setengahnya mereka berhasil bereskan. Mereka sempat berpikir ruangan ini bukan ruangan biasa karena ukurannya yang kecil namun dapat menampung begitu banyak benda. Naruto menemukan satu kotak yang berisikan setumpuk surat yang dialamatkan kepada Sasuke dan Itachi. Tentu saja Itachi langsung merebutnya dari tangan sang ipar dan berusaha menjauhkannya dari jangkauan sang gadis.

"Ini pasti kerjaan Ibu. Kupikir Ibu benar-benar menyingkirkannya seperti yang kita minta. Dia pasti sengaja melakukannya."

"Memang apa surat-surat itu, Kak?" Yang ditanya tidak menjawab malah menyibukan diri dengan pekerjaannya.

"Itu surat fans." Itachi menatap tajam ke arah sang adik sedangakan Sasuke tidak peduli ditatap begitu. Menyadari apa maksud dari sang suami, Naruto hanya ber'oh' ria. "Aku mengerti mengapa Kakak begitu membenci para fansnya. Sebagian dari mereka terlalu nekat sampai tidak bisa disebut fans normal lagi."

Tidak bisa dipungkiri dengan penampilan mereka dan juga kelebihan lainnya, Naruto beranggapan sungguh pantas bagi Itachi dan Sasuke memilki banyak fans. Mikoto pasti senang membaca satu persatu surat untuk kedua anaknya itu dan terkikik geli melihat bagaimana masing-masing dari para gadis itu menyatakan perasaannya. Kushina juga sempat melakukannya saat ada seorang gadis yang menulis surat untuk Naruto di masa SMA-nya. Mungkin itu sudah menjadi hobi para ibu.

Naruto menyapu keringat yang ada di keningnya menggunakan kimononya yang tertutup debu. Itachi menepuk pelan kepalanya dan Naruto mendongak ke arah kakaknya. "Kau capek?"

"Sedikit."

"Istirahat saja, kita lanjutkan besok. Lagipula ini sudah sore, sebentar lagi waktu makan malam. Sebaiknya kita membersihkan diri dulu sebelum itu."

"Baiklah, kalau begitu aku duluan ya. Sasuke?"

Pria berambut raven pendek itu menoleh. "Aku masih akan di sini beberapa lama lagi. Kau duluan saja."

"Kalau begitu akan kutemani," ucap Itachi pada adiknya.

Naruto pun meninggalkan kakak adik itu meneruskan pekerjaan mereka dan memasuki rumah. Mikoto yang akan memasuki dapur berpapasan dengan menantunya itu dan menyapanya. Naruto memberi tahu bahwa semua akan menyudahi beres-beres hari ini dan akan segera menyusul. Mikoto mengatakan dia akan menunggu di dapur dan meminta semua sudah siap saat makan malam.

Naruto tidak menunggu lama untuk masuk ke kamarnya dan membersihkan diri. Bukan hanya kimononya, hampir semua bagian tubuhnya dipenuhi debu. Mandi membuatnya merasa segar kembali dan sedikit menghilangkan rasa lelahnya. Setelah selesai dia segera berpakaian dan merapikan diri. Saat hendak memasukkan tangan kirinya ke dalam lengan baju bahunya terasa sedikit sakit. Mungkin akibat terbentur saat memindahkan kotak di gudang tadi. Dia mencari sesuatu di tas obatnya yang bisa digunakan untuk mengurangi memar. Naruto mengolesi pundaknya yang sedikit berwarna biru itu dengan krim yang selalu dia simpan untuk jaga-jaga.

Setelah mengatakan pada Sasuke untuk segera menyudahi pekerjaan hari ini, Itachi memasuk rumah terlebih dahulu. Saat hendak naik ke kamarnya dia teringat sesuatu dan berbalik berjalan ke arah kamar sang adik. Naruto sudah masuk ke rumah sejak kira-kira satu jam yang lalu dan Itachi beranggapan sang gadis pasti sudah selesai mandi. Pintu kamarnya tidak terkunci dan karena merasa tidak masalah Itachi memutar kenop pintu dan membukanya.

"Naru, kau sudah selesai mandi? Ada yang ingin aku sampai-" Kata-katanya terhenti saat melihat kondisi sang ipar. Naruto masih sedang mengobati pundaknya dan dengan kata lain dia memakai kimononya tidak benar sehingga dadanya terekspos.

"Kakak?!" Meskipun dia segera menutupinya tapi Itachi telah melihat semuanya. Sepasang mata onyx terbelalak namun detik berikutnya berubah menatap tajam ke arahnya dan Naruto tidak menemukan kata-kata untuk bisa menjelaskannya dengan mudah.

"Apa maksud semua ini?" Nada suara Itachi begitu dingin mengingatkan Naruto pada saat-saat dimana mereka baru saja mengenal.

"Aku.."

Belum sempat Naruto mengatakan sesuatu yang lebih, Itachi memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Sebelum dia menutup pintu di belakangnya, mata onyxnya sekali lagi menatap tajam dari balik bahunya. "Penghianat." Pintu ditutupnya begitu keras dan mengagetkan Naruto.

Jantungnya berdebar begitu kencang. Bukan karena kaget mendengar suara pintu yang dibanting keras tapi karena dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan setelah ini. Itachi telah mengetahui jati dirinya yang sebenarnya, entah apa yang Itachi pikirkan tentang dirinya sekarang. Dari satu kata terakhir yang dia katakan tadi bisa dipastikan benci adalah salah satu diantaranya. Karena menurutnya tidak ada yang bisa dilakukan, Naruto memutuskan untuk menyiapkan pakaian untuk Sasuke ganti setelah mandi nanti. Setidaknya menggerakan badannya dapat mengurangi rasa gugup yang dia rasakan.

Tidak lama kemudian sang suami pun masuk dengan tubuh penuh debu. Sasuke menyadari sesuatu yang berbeda dengan istrinya dan bertanya ada apa. Naruto hanya menggeleng dan berdalih hanya karena sedikit lelah. "Aku akan membantu Ibu menyiapkan makan malam. Kau mandi saja dulu, sudah aku siapkan semuanya."

"Baiklah, tapi jika memang capek sebaiknya istirahat saja."

Naruto hanya tersenyum atas perhatian Sasuke dan pergi menuju dapur. Sebenarnya Sasuke benar dia sebaiknya istirahat tapi ada yang ingin dia bicarakan dengan Mikoto, sesuatu yang tidak bisa dia katakan pada orang lain. Ibu dari dua pemuda Uchiha itu sedang bersenandung sambil menyiapkan piring terakhir saat Naruto masuk. Mikoto langsung menyadari sesuatu yang salah saat melihat senyum Naruto yang sedikit dipaksakan.

"Kak Itachi sudah tahu. Dia melihat semuanya."

Tidak perlu seorang jenius untuk mengerti apa maksud Naruto itu. Mikoto meraih tangan Naruto dan menuntunnya pergi ke kamar sang Ibu. Untungnya saat itu Fugaku sedang ada di ruang tengah jadi mereka bisa mengobrol dengan bebas. Naruto menceritakan apa yang terjadi dan Mikoto terlihat sedih untuknya.

"Apa perlu Ibu yang bicara dengan Itachi?"

Naruto menggeleng. "Tidak perlu. Jika Kakak memang tidak mau menerima aku mengerti. Lagipula, sejak awal aku sudah memprediksi reaksi yang seperti ini dari kalian semua. Reaksi Ibu memang lain tapi aku mensyukurinya. Lebih baik kita beri Kakak waktu untuk berpikir. Mengetahui adik iparnya yang selama ini dia kira perempuan ternyata laki-laki bukanlah sesuatu yang mudah diterima."

Ucapan Naruto memang masuk akal tapi Mikoto tetap beranggapan akan lebih baik jika dia yang pergi dan menjelaskan semuanya pada Itachi. Dia tidak ingin Itachi yang sudah mulai dekat dan menerima keberadaan Naruto berbalik membencinya dan berpikiran buruk tentangnya. Naruto yang bersikeras untuk percaya pada keputusan Itachi akhirnya mendapat persetujuan dari Mikoto.

"Tapi jangan sampai ini membebanimu, nak Naru. Ibu tidak ingin kau jatuh sakit."

"Iya, aku mengerti."

Makan malam hari itu semua anggota keluarga berkumpul tanpa kurang satu orang pun. Hanya ada satu hal saja yang berubah, tidak ada senda gurau antara Naruto dan Itachi. Untuk mengurangi keheningan di meja makan, Naruto mengalihkan perhatiannya ke Sasuke. Dengan senang hati Sasuke menerimanya bahkan bisa dikatakan perhatian Naruto ini sedikit membuatnya senang.

Dari seberang meja Itachi menatap tajam ke arah Naruto tapi tidak mengatakan apa-apa. Dia terus mengawasi gerak-gerik pemuda yang selama ini dia kira perempuan itu dengan mata dinginnya. Hal ini terus berlanjut hingga berhari-hari.

Gaara yang mendapatkan kabar saat dia datang di hari kedua bersih-bersih menyarankan sahabatnya itu untuk segera menjelaskan duduk perkaranya ke Itachi. Tapi kekeraskepalaan Naruto sangat sulit untuk dilawan. Itachi sendiri pun sepertinya lebih memilih untuk tidak berurusan dengannya dan selalu menjauhi topik tentang Naruto. Karena keadaan ini berlanjut sampai lebih dari seminggu, Sasuke yang menyadari keanehan hubungan antara istri dan kakaknya mulai mempertanyakan hal tersebut.

"Kami baik-baik saja. Kulihat Kak Itachi akhir-akhir ini sibuk jadi tidak kuganggu. Nanti kalau Kakak sedang senggang pasti kami akan main lagi," dengan ringannya Naruto menjawab pertanyaan Sasuke.

Percaya dengan pernyataan sang istri, karena memang Itachi dan juga dirinya sibuk, Sasuke berhenti bertanya. Tapi akhir-akhir ini terkadang Sasuke mendapati Naruto melamun dan sering sekali gelisah saat tidur. Namun setiap kali ditanya Naruto selalu membantah dan berkata bahwa dia baik-baik saja. Karena khawatir, Sasuke memutuskan untuk menghubungi Gaara. Siapa tahu sahabat istrinya itu mengetahui sesuatu dan dapat membantunya.

"Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya," Gaara menjawab dari ujung sana. "Aku akan menghubunginya dan menanyakan ada apa."

"Mungkin sebaiknya kau datang saja kemari. Naru ada seharian di rumah dan hanya akan ada Ibu bersamanya, kalian bisa mengobrol dengan bebas. Sepertinya ada hal yang hanya bisa dia ceritakan padamu. Bagaimana?"

"Ide yang bagus. Tapi aku baru bisa ke sana besok sore. Ada beberapa hal yang harus kuurus di kafe. Apa kau keberatan?"

"Tidak. Sebenarnya lebih cepat lebih baik, tapi aku janji akan mengawasinya sampai kau datang. Terima kasih, Gaara."

"Dia sahabatku. Dan walaupun hubungan kalian hanya sebatas status, aku senang kau peduli padanya. Aku yang harus berterima kasih, Sasuke."

"Aku tidak membencinya dan dia bagian dari keluarga ini. Naru gadis yang baik dan kami semua sayang padanya. Aku ingin semua anggota keluargaku bahagia, termasuk kau Gaara."

"Sekali lagi terima kasih. Kalau begitu aku akan datang ke sana besok. Nanti kuhubungi lagi."

Setelah saling mengucapkan selamat tinggal Sasuke menutup teleponnya. Dia menarik napas panjang dan menghembuskannya lagi. Baru kali ini dia begitu khawatir mengenai keadaan seseorang. Pada Itachi pun dia tidak pernah sampai seperti ini. Tapi ada sesuatu dalam diri Naruto yang membuat Sasuke ingin menjaganya. "Mungkin karena dia perempuan." Itu yang dia katakan kepada dirinya tapi Sasuke sendiri tidak begitu yakin dengan alasan tersebut.

Saat masuk ke dalam kamar, lagi-lagi Sasuke menemukan Naruto sedang melamun. Istrinya itu duduk di kursi sambil menghadap ke luar jendela seakan-akan sedang menatap langit malam, tapi saat melihat ke dalam matanya Sasuke tahu bahwa pikiran Naruto sedang ada di tempat lain. Dia menepuk pundak Naruto menyadarkan sang istri dari lamunannya.

"Sudah malam, sebaiknya kau tidur."

"Ah, Sasuke. Kau sudah pulang?" Sasuke menaikkan kedua alisnya atas pertanyaan yang terlontar dari mulut Naruto. Dia sudah pulang sejak tiga jam yang lalu dan bahkan Naruto sendiri menyambutnya. Menyadari kekeliruannya, Naruto segera bangkit dari duduknya dan meminta maaf atas pertanyaan anehnya. "Maaf Sasuke, maksudku.." Sebelum dia dapat menyelesaikan kata-katanya tangan Sasuke yang besar meraih kepalanya dan mengacak-acak rambutnya.

"Lihat, kau pasti capek sampai berbicara tidak karuan seperti ini. Ayo lekas tidur." Sasuke menarik Naruto dan membawanya ke tempat tidur. Sebelum berbaring dan mematikan lampu, Sasuke mengecup kening Naruto singkat. "Selamat tidur, Naru." Entah apa yang membuatnya melakukan hal tersebut. Sasuke hanya mengikuti instingnya dan memberikan kecupan pertama kepada istrinya semenjak mereka menikah.

Naruto sedikit terkejut dengan perlakuan lembut Sasuke tapi dia segera menenangkan diri dan ikut berbaring bersama suaminya. "Selamat tidur, Sasuke." Malam itu Naruto mendapatkan tidur nyenyaknya.

Sayangnya, hal itu hanya bertahan sampai dini hari. Sesuatu lagi-lagi mengganggu tidurnya tapi dia tidak bisa membuka matanya. Naruto tidak pernah ingat apa yang dia mimpikan tapi mimpi tersebut selalu berhasil membuatnya gelisah. Entah sudah berapa lama dia berjuang akhirnya sepasang mata biru itu pun dapat melihat sesuatu selain kegelapan di dalam mimpinya.

Sasuke telah bangun lebih dulu dan sedang siap-siap untuk pergi ke kantor. Dia menyadari Naruto yang baru saja bangun dan menyapanya. "Selamat pagi."

"Pagi. Ini jam berapa? Maaf, aku tidak sempat membantumu bersiap-siap."

"Tidak apa-apa. Kau terlihat capek semalam jadi sengaja tidak kubangunkan. Jika ingin berbaring lebih lama aku akan mengatakan pada Ibu untuk menyiapkan sarapan agar kau bisa makan di kamar."

Naruto menggelengkan kepalanya. "Tidak, kalau sudah begini aku tidak akan bisa tidur lagi."

Bangkit dari tempat tidurnya, Naruto langsung menuju ke kamar mandi di dalam kamar mereka untuk mencuci muka. Setelah itu mereka beranjak ke dapur untuk sarapan bersama. Naruto makan tidak begitu banyak dan menimbulkan kekhawatiran pada diri Mikoto.

"Aku baik-baik saja, Bu. Hanya sedang tidak ingin makan banyak. Nanti siang aku pasti makan seperti biasanya."

Hanya saja ini bukan yang pertama kali. Beberapa hari belakangan ini Naruto selalu makan lebih sedikit dari porsi biasanya. Mikoto khawatir jika ini terus berlanjut akan mempengaruhi kesehatannya. Dia selalu mengingatkan pemuda berambut pirang itu untuk menjaga kesehatannya dan meminum obatnya secara teratur. Naruto hanya tersenyum dan dengan patuh mengatakan iya, tetapi yang dilakukannya tidak sesuai dengan apa yang dikatakannya.

Sudah waktunya bagi para pria untuk berangkat ke kantor. Sasuke menghadap ke Naruto yang mengantarnya ke depan pintu. Dia mengelus lembut rambut pirang istrinya itu dan tersenyum kepadanya. "Hari ini Gaara akan berkunjung." Naruto menatap mata onyx Sasuke tidak mengerti. "Aku memintanya datang. Aku tahu ada yang kau pikirkan tapi tidak bisa kau katakan padaku dan karena kita sudah berjanji tidak akan ikut campur tentang urusan masing-masing aku tidak akan bertanya. Akan tetapi, aku tidak ingin melihatmu terus gelisah karena itu kupikir kau akan sedikit lega jika bisa bicara dengan sahabatmu."

Naruto tersentuh dengan kebaikan Sasuke. Tidak pernah ada yang begitu perhatian padanya seperti ini selain Gaara dan kedua orang tuanya. Naruto membalas senyuman Sasuke. "Terima kasih, Sasuke."

Dari belakang Itachi memperhatikan interaksi mereka berdua. Dia menatap tajam ke arah iparnya dari punggung sang adik dan mendecak tidak sabar. "Oi Sasuke, ayo cepat nanti kita terlambat."

"Iya Kak, sebentar." Sasuke mendekat ke arah Naruto dan mengecup keningnya lagi seperti tadi malam. "Aku pergi dulu. Pastikan kau membicarakan masalahmu kepada Gaara."

"Iya, selamat jalan." Naruto melambaikan tangannya ke arah para pria yang menaiki mobil. Saat semua sudah hilang dari pandangan, Naruto menyentuh dahinya yang sudah dua kali dikecup Sasuke. Pipinya sedikit merona mengingat kelembutan suaminya itu. Semalam dia tidak begitu memikirkannya tapi ini pertama kalinya seseorang di luar anggota keluarganya menciumnya meskipun itu hanya di dahi. Ada sesuatu yang dia rasakan dan tidak pernah dialaminya sebelumnya.

Naruto menggelengkan kepalanya berusaha untuk melupakannya dan kembali masuk ke rumah. Mikoto yang baru saja selesai membereskan dapur mengajak Naruto untuk mengobrol dengannya. "Nak Naru, apa ini ada hubungannya dengan Itachi? Apa kau yakin Ibu tidak perlu bicara dengan kakakmu?"

"Tidak Bu, aku tidak apa-apa. Kak Itachi pasti sudah punya cukup masalah tanpa harus ditambah dengan masalahku. Setidaknya saat aku pergi nanti Kakak tidak akan sedih jika tetap seperti ini."

"Nak Naru, jangan bicara seakan kau sudah pasti akan pergi. Bukankah kau berjanji pada Ibu untuk mencari sesuatu agar kau bisa tinggal? Semuanya belum diputuskan."

"Memang benar, tapi belum ada jaminan bahwa aku akan menemukannya."

Sudah jelas dari kata-katanya dan juga dari matanya bahwa Naruto sebenarnya peduli pada Itachi. Dia sudah menyayangi kakak iparnya itu dan tidak ingin menyakitinya tapi dia pun tidak ingin membebani sang kakak. Lebih dari siapapun Naruto sebenarnya ingin memohon pada Itachi untuk mengerti dan menceritakan semuanya agar dia bisa melewati waktu bersama sebelum dia kehilangan semua kesempatan. Di sisi lain Naruto tidak ingin dikecewakan jika harus ditolak oleh Itachi dan dia pun tidak ingin mengecewakan Itachi jika pada akhirnya semua mengarahkannya untuk pergi. Biarkan saja semuanya tetap seperti ini.

Setelah kalah berdebat dengan menantunya itu Mikoto akhirnya memaksa sang pemuda untuk beristirahat hari ini karena wajahnya terlihat pucat. Tidak terasa mereka berdua telah berbincang selama berjam-jam. Setelah menyantap makan siang, Naruto yang merasa sedikit bersalah telah berkata seperti tadi menuruti permintaan ibunya. Dia memberitahukan bahwa Gaara akan datang berkunjung hari ini dan meminta sang ibu untuk membangunkannya jika sahabatnya itu datang. "Sasuke tidak bilang kapan Gaara akan datang, mungkin sekitar sore hari setelah dia selesai dengan pekerjaannya di kafe. Tapi bisa saja dia datang lebih awal."

"Baiklah, nanti akan Ibu bangunkan."

Naruto berbaring di tempat tidurnya dan berusaha untuk beristirahat tapi malah berujung melamun lagi. Pikirannya melayang ke Itachi dan memikirkan kakak iparnya itu. Banyak orang yang berbalik membencinya atau mengecewakannya tapi Naruto tidak pernah merasa begitu terganggu seperti ini. Apa yang membuat kasus Itachi begitu berbeda? Bukankah ini lebih baik seperti apa yang dia katakan tadi kepada Mikoto? Dengan begini dia tidak perlu khawatir Itachi akan kehilangan meskipun dia tidak ada. Sejak awal inilah yang dia inginkan, tidak ada ikatan apapun dengan siapapun karena sebuah ikatan bisa rusak dan itu menyakitkan. Tapi entah mengapa dia tidak ingin Itachi membencinya.

Dalam satu titik dia tidak sadar bahwa dia sudah tertidur tapi tidak begitu lama. Kali ini rasa sakit di dadanya yang telah membangunkannya. Naruto bangkit dari tempat tidur dan mengambil tas obatnya. Jantungnya berdebar cukup kencang dan napasnya sedikit tersengal. Sesaat setelah membuka botol obat dan hendak mengambil beberapa pil, jantungnya terasa begitu sakit hingga Naruto menjatuhkan botol di tangannya dan membuat pil-pilnya berserakan di lantai. Tangan kanannya meremas dadanya dan berusaha untuk mengendalikan rasa sakitnya.

Mikoto baru saja membukakan pintu untuk Gaara dan hendak membangunkan Naruto. Saat melihat menantunya itu sedang tersungkal di lantai dengan wajah begitu kesakitan Mikoto segera berteriak dan memanggil Gaara. Dengan cepat Gaara berlari mendengar teriakan Mikoto dan menemukan sahabatnya sedang kesakitan. Tidak perlu menunggu lama, Gaara segera memangku Naruto dan membawanya ke mobil.

Dalam perjalanan ke rumah sakit Naruto masih kesakitan di pangkuan Mikoto sampai dia tidak tahan lagi dan tidak sadarkan diri. Gaara memencet tombol hapenya sambil masih menyetir dan menelepon seseorang. "Halo Sakura, kau sedang di rumah sakit? Aku sedang menuju ke sana, Naru tiba-tiba kambuh dan tidak sadarkan diri. Oke, kami akan tiba lima belas menit lagi. Terima kasih, Sakura." Gaara mengantongi lagi hapenya setelah menutupnya. Dia mencoba berkonsentrasi menyetir ketika dia mencemaskan keadaan sahabatnya.

Naruto segera dilarikan ke ruangannya begitu sampai di rumah sakit. Karena sudah sering datang kemari, Sakura selalu menyediakan ruangan khusus untuknya. Sakura yang selalu bertugas menangani Naruto segera ikut masuk setelah memberitahu Mikoto untuk menyerahkan semua padanya. Tidak kuat menahan ketakutannya tangis pun pecah di bibir Mikoto. Gaara memeluk ibu dari suami sahabatnya itu dan mencoba menenangkannya.

"Bagaimana jika sesuatu terjadi pada nak Naru?"

"Tenang saja, Bibi. Naru pasti baik-baik saja, Sakura akan memastikannya seperti biasanya."

Di saat yang sama hape di sakunya bergetar. Gaara melepaskan Mikoto dari pelukannya dan mengambil benda tersebut. Mata hijaunya menatap nama kontak yang muncul di layar. "Sasuke menelepon. Aku harus memberitahunya."

"Tapi nak Gaara, bagaimana jika Sasuke bertanya?"

"Tenang saja, akan kupikirkan sesuatu." Gaara memencet tombol terima dan mendekatkan benda itu ke telinganya. "Ya Sasuke, ada apa?"

"Gaara, kau sudah di rumah? Bisa minta Ibu meneleponku? Sejak tapi aku menelepon ke rumah tapi tidak ada yang mengangkat. Naru pun tidak mengangkat hapenya, ada yang ingin aku minta."

"Sasuke sebenarnya ada yang ingin aku katakan, tapi berjanjilah untuk tenang."

"Ada apa?" Sasuke tidak begitu suka dengan nada bicara Gaara dan merasakan ada sesuatu yang buruk terjadi.

"Sekarang aku dan Bibi Mikoto sedang ada di rumah sakit. Naru jatuh pingsan."

"Apa?!" Sasuke berteriak begitu keras sampai Gaara harus sedikit menjauhkan hapenya dari telinganya. Terdengar dari ujung sana suara Fugaku yang bertanya ada apa tapi diacuhkan oleh Sasuke. "Di rumah sakit mana?"

"Di rumah sakit pusat Konoha. Dengar dulu Sasuke, Naruto hanya sedikit mengalami.."

"Aku segera ke sana," dan Sasuke langsung memutus hubungan. Gaara hanya bisa menghela napas dan mengantongi hapenya lagi. Mikoto masih sedikit terisak sambil duduk di bangku tunggu. Gaara ikut duduk di sebelahnya dan mengelus-elus punggung Mikoto untuk sedikit menenangkannya.

"Sasuke sedang dalam perjalanan kemari. Aku belum sempat menjelaskan apa-apa, sekarang kita harus memikirkan sesuatu untuk kita katakan padanya."

Mikoto mengangguk dan menghapus air mata dari pipinya. Menunggu memang sesuatu yang sangat tidak enak, terlebih lagi ini menyangkut keselamatan seseorang. Tidak begitu lama Sasuke datang dengan langkah yang cukup cepat didikuti oleh Itachi di belakangnya. Begitu melihat sosok ibu dan sahabat istrinya, Sasuke langsung mendekati mereka.

"Mana Naru?"

"Dokter masih memeriksanya. Kami belum tahu ada apa," Gaara menjawab dengan tenang.

"Apa yang sebenarnya terjadi? Ibu?" Sasuke mengalihkan perhatiannya kepada sang ibu untuk meminta penjelasan. Dia tahu belakangan ini Naruto memang terlihat kurang sehat tapi sampai harus masuk rumah sakit seperti ini dia tidak mengerti.

Mikoto tidak yakin bisa berbohong kepada anaknya apalagi ketika terlihat Sasuke begitu cemas. Itachi yang sejak tadi berdiri di belakang adiknya memilih diam dan hanya memperhatikan percakapan mereka. Baru saja Mikoto membuka mulut untuk menjawab, Sakura keluar dari ruang pemeriksaan. Sasuke langsung menghampiri dokter wanita itu dan menanyakan kabar istrinya.

Sakura menatap Sasuke dan melirik ke arah Gaara. Gaara menggelengkan kepalanya sebagai isyarat dan Sakura mengerti apa maksudnya. "Istri Anda sudah tidak apa-apa. Dia mengalami anemia dan sekarang hanya butuh istirahat. Saya sudah memberinya obat tidur dan setidaknya akan tidak sadarkan diri hingga besok."

Sasuke menghela napas lega. "Bolehkah aku menemuinya?"

"Tentu saja, silahkan." Sasuke segera memasuki ruangan dan di susul oleh Mikoto. "Gaara, ada yang perlu kubicarakan padamu." Gaara mengangguk dan mengikuti Sakura menjauhi ruangan di mana Naruto berada.

"Ada apa, Sakura? Apa ada yang salah?"

"Naruto memang sudah tidak apa-apa tapi keadaannya saat kau membawanya kemari cukup buruk. Sepertinya dia tidak meminum obatnya lagi dan mengalami stress yang cukup berat sehingga membebani jantungnya. Apa kau tahu dia memiliki masalah?"

"Stress? Kau yakin? Naru tidak pernah membiarkan dirinya mengalami stress, dia tahu bagaimana berbahayanya keadaan itu untuknya."

"Aku tahu tapi diagnosa mengatakan seperti itu. Karena itu aku bertanya padamu."

Gaara duduk di salah satu kursi di lorong itu dan menghela napas. Sakura berdiri dihadapannya dan menunggu jawaban dari pemuda berambut merah yang sudah cukup lama dia kenal itu. "Sasuke memintaku untuk menjenguknya karena akhir-akhir ini si bodoh itu sering melamun dan gelisah saat tidur. Sayangnya saat aku datang dia sudah seperti itu. Aku tidak tahu persis apa yang dia pikirkan tapi aku memiliki kecurigaan."

"Jadi benar dia ada masalah?"

"Ya, tapi sebelumnya masalah seperti ini tidak pernah mengganggunya apalagi sampai berakibat seperti ini."

Sakura memukul kepala Gaara pelan dan pemuda berambut merah itu meringis. "Bukankah itu tugasmu untuk memastikan dia selalu ceria? Selain itu ada kemungkinan dia salah makan. Jagalah sahabatmu itu jika kau ingin dia bertahan." Dua pasang mata hijau saling menatap. Gaara tahu yang dikatakan Sakura memang benar dan kali ini dia telah gagal menjaga sahabatnya. "Aku kembali dulu ke ruanganku. Jika ada apa-apa panggil saja."

"Sekali lagi terima kasih, Sakura."

Gaara segera kembali ke ruangan Naruto dan mendapati Sasuke sedang duduk di samping sahabatnya yang sedang tertidur lelap. Sasuke menoleh ke arah Gaara dan Gaara dapat melihat Sasuke sedang menggenggam tangan Naruto.

"Sasuke, maaf ya jadi seperti ini. Kalau saja aku bisa datang lebih awal."

"Tidak, seharusnya aku yang minta maaf. Aku selalu ada bersamanya setiap hari dan aku tahu dia sedang ada masalah. Seharusnya aku memberitahumu lebih awal. Aku tidak tahu Naru memiliki anemia."

Melihat Sasuke yang tulus peduli pada Naruto, Gaara sedikit tidak enak harus berbohong. Tapi dia telah berjanji dan tidak akan mengingkari kepercayaan sahabatnya. "Ah ya, seharusnya kuberitahu padamu sejak dulu. Sebenarnya tidak begitu berbahaya jika dia meminum obatnya secara teratur."

"Hm, jadi obat itu untuk anemianya? Aku sudah berjanji tidak akan bertanya. Jika tahu akan seperti ini mungkin sebaiknya aku tanyakan." Sasuke mengelus lembut tangan yang sekarang ada dalam genggamannya. Naruto terlihat begitu damai saat tertidur. Nafasnya sudah kembali teratur dan rona di wajahnya sudah membaik.

Itachi berdiri di sudut ruangan dan memperhatikan perhatian yang diberikan adiknya kepada Naruto. Ini pertama kalinya dia melihat adiknya bersikap seperti ini. Saat di kantor tadi Sasuke tiba-tiba saja meninggalkan ruangannya dan terlihat begitu cemas. Karena tidak mengatakan ada apa dan khawatir dengan gelagat sang adik, Itachi pun mengikutinya. Dengan tergesa dia menuju ke mobil tapi saat akan menyetir dia tidak bisa mengontrol diri, pada akhirnya Itachi yang harus menyetir kemari.

Dalam satu jam mereka akan ada pertemuan dengan klien penting dan mereka harus segera berangkat jika tidak ingin terlambat. Itachi mendekati dang adik dan menepuk bahunya pelan. "Sasuke, klien kita akan datang dalam satu jam. Di sana hanya ada Ayah, dia pasti sedang bingung mencari kita karena tadi kita terburu-buru pergi."

"Kakak saja yang pergi, aku akan tinggal di sini sampai Naru sadar."

"Tapi Sasuke, kita.."

"Kakak," Sasuke memotong Itachi. "Naru sedang sakit dan sebagai suaminya aku harus menjaganya. Lagipula aku yakin Kakak dan Ayah bisa menghadapi klien kita, aku berjanji akan kembali ke kantor besok."

Mata Sasuke menunjukan bahwa dia tidak ingin berkompromi. Itachi tahu ketika dia sudah kalah dan memutuskan kembali sendiri. "Baiklah, akan kukatakan pada Ayah."

Sasuke mengangguk. "Sampaikan maafku pada Ayah."

Itachi melewati Gaara yang berdiri tidak jauh dari pintu keluar dan hanya melirik padanya penuh arti. Gaara merasakan ada yang ingin dikatakan oleh Uchiha sulung tersebut tapi melepaskannya begitu saja. Dia mengembalikan perhatiannya kepada Sasuke dan memohon diri.

"Kalau begitu aku juga pamit. Naru sudah tidak apa-apa dan ada yang harus kucek di kafe. Aku akan kemari lagi besok siang."

"Ya, terima kasih Gaara."

"Bibi, aku pamit dulu."

"Nak Gaara, boleh Bibi bicara sebentar?" Mereka pun keluar dari ruangan dan berbicara di koridor. "Apa benar nak Naru tidak apa-apa?"

"Sakura mengatakan Naru mengalami stress dan ada kemungkinan salah makan. Dia juga tidak meminum obatnya lagi. Apa Bibi tahu?"

"Sudah Bibi duga masalah dengan Itachi membebaninya. Memang akhir-akhir ini nak Naru sering melamun dan seperti bingung. Bisa saja dia tidak ingat memakan sesuatu yang seharusnya tidak boleh. Mungkin juga saat mengatakan dia sudah meminum obatnya dia hanya merasa sudah meminumnya padahal sebenarnya belum. Bagaimana ini nak Gaara, apa sebaiknya Bibi bicara saja kepada Itachi?"

"Jangan Bi, jika Bibi lakukan malah akan mengecewakan Naru. Kita yang harus memaksanya bercerita atau setidaknya memaksa Itachi untuk membuat Naru bercerita. Hanya itu yang bisa kita lakukan."

Mikoto mengerti apa maksud Gaara dan setuju. Gaara pun pamit untuk pulang setelah berjanji untuk datang lagi besok. Sasuke sedang mengelus wajah Naruto saat Mikoto masuk kembali dan menghadiahkan senyuman di bibirnya. Mungkin saja ini yang dibutuhkan oleh Naruto, seseorang yang menyayanginya sebagai pasangan. Mikoto tidak keberatan jika anaknya mencintai siapapun baik mereka pria maupun wanita. Lagipula Naruto pemuda yang baik dan Mikoto menyayanginya sudah seperti anak sendiri. Hanya soal bagaimana Sasuke saja apakah dia mau menerima Naruto apa adanya.

Jika ini benar yang selama ini dibutuhkan Naruto, dia akan membantu untuk menumbuhkan cinta di hati kedua pemuda tersebut. Sasuke sendiri membutuhkan seseorang untuk dapat mencurahkan perhatiannya selain dari pekerjaan dan nama keluarga Uchiha. Mikoto sudah merelakan Itachi yang mendedikasikannya hidupnya hanya untuk keluarga Uchiha, setidaknya dia ingin Sasuke mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya. Terlebih lagi jika kebahagiaan itu didapatkan dari Naruto, itu artinya mereka berdua saling membutuhkan. Mungkin saja pernikahan yang didasari alasan bodoh ini bukan sesuatu yang percuma.

"Sasuke, kau sebaiknya makan dulu. Biar Ibu yang menjaga nak Naru, jangan sampai kau ikut sakit."

Sasuke mengangguk dan beranjak menuju ke kantin rumah sakit. Saat dia kembali Mikoto sedang mengobrol dengan salah satu suster yang mengabarkan bahwa Naruto harus tinggal di rumah sakit untuk dua hari sebelum dia diperbolehkan untuk pulang. Setelah selesai mengecek keadaan pasien, sang suster meninggalkan ruangan dan mengangguk pelan saat melewati Sasuke.

"Ibu, sebaiknya Ibu pulang dan biarkan aku yang menjaga Naru malam ini. Besok pagi Ibu bisa kembali ke sini dan bawakan pakaian ganti untuk Naru. Ayah dan Kakak juga pasti akan menunggu di rumah."

"Iya, Ibu mengerti. Kalau begitu Ibu pulang dulu. Apa ada yang mau Ibu bawakan besok?"

"Tidak perlu, maaf aku tidak bisa mengantar."

"Tidak apa-apa. Ibu titip nak Naru, ya." Mikoto terseyum lagi sebelum meninggalkan mereka. Sasuke benar-benar terlihat tulus peduli pada Naruto. Mungkin dia sendiri belum menyadarinya tapi sedikit demi sedikit Sasuke mulai menyimpan perasaan pada istrinya.


Untuk chapter selanjutnya akan datang dua minggu lagi, harap sabar ya. ^_^