MY HANDSOME BROTHERS
[CHAPTER 3]
BASED ON 'MY HANDSOME BROTHERS' COMIC BY SHIRAISI YUKI
WITH MODIFICATIONS
CAST : JEON JUNGKOOK, KIM SEOKJIN, KIM TAEHYUNG, KIM NAMJOON AND OTHERS.
FRIENDSHIP, ROMANCE, HURT, BoyXBoy
Maaf typo, bahsa kurang sopan, tidak memenuhi EYD, too short, updatenya lama. Maklum, saya artis papan atas/eh?
Sebelumnya, saya minta maaf atas keterlambatan publish ff ini. Dan maaf sayta nggak bisa bales review satu - satu. Karena, sudah disebutkan di atas bahwa saya adalah artis papan atas/justkid
HAPPY READING, ALL!
Di seberang sana, Jimin ikut tertawa. Di sampingnya, seseorang juga tertawa. Ya, kakaknya, Sandara. Mengapa Sandara berada di situ? Sandara diminta untuk memberikan saran kepada Jimin untuk temannya itu. Sebagai kakak yang baik, Sandara tentunya bisa memberikan saran untuk Jungkook. Tetapi, ia juga bingung. Karena, ia belum berpengalaman untuk menghadapi para kakak yang over protektif. Namun, sedikitnya Sandara mengerti bagaimana Seokjin itu. Karena, Sandara dan Seokjin adalah teman dekat sejak kecil.
"Aku sering memanggilnya Jin. Dia juga memanggilku Dara," Sandara bercerita. Lalu ia melanjutkan,"Seingatku, dulu adik Jin hanyalah Taehyung dan Namjoon. Namun, aku tak tahu lagi kalau Hyesoo ajumma melahirkan anak lagi. Setahuku, organ Hyesoo ajumma sudah tidak bisa aktif lagi, atau mandul. Tapi aku tak tahu lagi, jika Tuhan berkehendak, pasti akan terjadi."
Dara merubah posisi duduknya, lalu bercerita lagi,"Bagiku, Jin sendiri orangnya lembut. Dan ia tak pernah 'sesayang' itu terhadap para adiknya. Namun, entah kenapa, dengan Jungkook, ia berbeda. Sedangkan, Taehyung sendiri anaknya sedikit 'bodoh'. Kalau bukan karena keberuntungan, mungkin ia tidak bisa masuk SMA ini. Tetapi, dengar – dengar ia memiliki IQ yang cukup tinggi, 157, namun entah, ia tak pernah menggunakan akalnya. Lain lagi dengan kembarannya, Namjoon. Dengan IQ 149, ia mampu menjadi peringkat 1 seluruh kelas 1 pada waktu itu. Tatapannya dingin, namun sangat cerdas. Walaupun dari luar ia cuek, namun ia sangat perhatian. Aku suka dengannya, ehm maksudku, suka dengan sifatnya."
Jimin hanya mengangguk pelan mendengar cerita kakaknya. "Lalu, Sandara noona, ia sudah mogok berbicara, mogok makan, bahkan sudah berpacaran dengan Krystal noona. Terus, apa yang kurang? Ku mohon, noona. Aku juga risih, jangankan mengalaminya, mendengarkan saja aku sudah bergidik ngeri," Katanya sambil memegangi tengkuknya. Sandara terbelalak kaget.
"Apa katamu?! Krystal berpacaran dengan temanmu?!" Teriak Sandara. "Apa temanmu sudah gila?! Apa dia yang menembak Krystal?" Teriak Sandara yang semakin memuncak. Lalu, Jimin mengerutkan dahinya,"Sudahlah, noona. Kau terlalu berlebihan. Bukan Jungkook yang menembak, namun Krystal noona. Aku juga kesal. Dia mendahuluiku memiliki pacar."
Lalu, Sandara menatap Jimin dengan tatapan yang amat serius. Ia berkata hal yang serius juga.
"Krystal sudah keterlaluan. Aku harap, kau menyuruh Jung… entahlah itu untuk memutuskan pacarnya. Pasti akan ada sesuatu yang terjadi padanya. Percayalah hal itu, Jimin."
.
"Kau tahu tidak, hari ini aku sangat semangat!" Kata Jungkook menjinjing sepedanya sambil menghirup udara segar. "Hari ini, akan ada penutupan MOS, dan itu dilakukan di bukit!" Katanya sambil menatap Jimin senang. "Bukit, Jimin! Bukit!" Teriaknya. Jimin hanya menatapnya malas, lalu menggeleng – gelengkan kepala,"Kau tahu dari mana, Kook?"
"Tentu saja dari Seokjin hyung!" Kata Jungkook bersemangat. Jimin menghentikan langkahnya,"Kau berinteraksi dengan mereka, Kook?" Tatapnya sambil memegang pundak Jungkook. Jungkook hanya menggeleng keras,"Ah, tidak! Aku hanya mendengarnya saat aku mengambil air. Percayalah, Minne! Masa' kau tidak percaya kepadaku? Aku bersumpah, Minne!" Kata Jungkook sambil membentuk V di jarinya. Jimin hanya tertawa saja,"Aku bercanda. Aku mempercayaimu, kok. Eh, tadi kau memanggilku apa?"
"Minne. Kenapa? Memang salah?" Tanya Jungkook dengan wajah polosnya yang membuat Jimin tidak tega memarahinya. Tetapi, dari awal Jimin memang tidak berniat untuk marah.
"Ehm, tak apa. Lucu saja." Kata Jimin sambil mengayuh sepedanya pelan. "Kalau begitu, aku boleh memberimu julukan? Ehm, Kookie, misalnya?" Jungkook hanya tersenyum manis.
Tak terasa, jantung Jimin berdegup kencang. Ya, peluhnya mengalir lebih deras jika namja ini berada di sampingnya.
Tunggu,
Jimin jatuh cinta kepadanya?
Ini semua misteri alam yang (mungkin) sebentar lagi akan terungkap.
.
Sekarang, lapangan basket SMA Bangtan dipenuhi oleh siswa – siswi kelas 1 dan beberapa anggota OSIS, termasuk Seokjin, sang ketua umum, Taehyung, ketua seksi kesenian, dan Namjoon, ketua seksi olahraga. Apalagi kalau bukan MOS. Hari ini tentu hari yang sangat ditunggu – tunggu oleh murid kelas 1. Pasalnya, hari ini adalah hari terakhir masa orientasi mereka yang akan ditutup dengan penjelajahan alam yang akan diselenggarakan di hutan dan bukit dekat sekolah.
Jungkook salah satunya. Hari ini, ia sangat senang. Selain ini adalah hari terkahir MOS, ini juga 'ajang' untuk menjauhi para hyungnya yang selalu mengecaukan kehidupannya. Ia sangat beruntung mendapatkan teman yang sangat mempedulikannya seperti Jimin. Seenggaknya, namja itu dapat membantu Jungkook untuk menjauh sedikit demi sedikit.
"Ingat, ya. Ini rencana terakhir kita. Mudah – mudahan, ini berhasil dengan lancar." Jimin sambil menunjukkan telapak tangannya. Lalu Jungkook menempelkan telapak tangannya sambil mencengkramnya,"Terimakasih, Minne. Kau temanku yang paling baik sepanjang hidupku." Lalu, dengan perlahan Jungkook melepaskan genggaman itu.
"Daaah, Kookie. Hwaiting! Selamat berjuang!" Teriak Jimin perlahan menjauhinya.
Sekarang, Jungkook sendiri lagi.
Ia harus berusaha untuk mencari teman selain Jimin di sini. Ya, itu yang harus dilakukan Jungkook sekarang.
Namun, sejauh ini, siapa yang ingin berteman dengannnya?
Tiba – tiba…
"Ehm, kami boleh sekelompok denganmu? Kupikir kami kekurangan orang," Tanya seorang namja berkulit sangat putih, diikuti dengan ketiga namja yang tak jauh berbeda dengan namja yang menyapa Jungkook. Jungkook sangat senang. Ternyata, ada yang ingin sekelompok dengannya.
"Eh, boleh. Kebetulan sekali aku sedang mencari kelompok saat ini." Kata Jungkook ramah.
"Perkenalkan, aku Yoongi. Dan yang ini Hoseok, temanku," Kata namja yang bernama Yoongi sambil membungkukkan badannya. Lalu disusul dengan salah satu namja belakangnya yang bernama Hoseok.
"Salam kenal. Aku Jungkook," Kata Jungkook sambil membungkukkan badan juga.
"Ehm, hai Jungkook. Aku Baekhyun, dan ini pacarku, Chanyeol." Kata salah satu namja ber-eyeliner disusul dengan namja yang satunya.
Pacar? Jungkook bergidik ngeri. Masa' mereka pacaran? Homo, ah. Pikirnya.
Namun, ia takkan menyangka bahwa ia akan seperti pasangan ChanBaek itu.
Ya, Jungkook akan bernasib sama dengan dua namja itu.
Entah dengan Jimin, atau dengan yang lainnya.
Yang bahkan tak tepikirkan oleh Jungkook saat itu.
.
"Jalan di bukit berhutan sejauh dua belas kilometer memang melelahkan, ya," Kata Baekhyun sambil mengipaskan kertas rute perjalanan. Memang, pagi hari ini sangat sejuk. Namun, menjelang siang, hawa berubah menjadi sangat panas. Peluh menetes di dahi para 'petualang' itu.
"Jangan begitu, Baek. Jangan menyerah atau ku cium kau di depan mereka," Goda Chanyeol. Yoongi dan Hoseok hanya tertawa. Jungkook ikut tertawa, lebih tepatnya fake laugh. Mungkin Yoongi dan Hoseok sudah terbiasa dengan pandangan seperti itu. Namun, bagaimana dengan Jungkook? Yang jauh dari lingkungan seperti itu pasti hanya memandang jijik sebenarnya.
"Sudahlah, teman – teman. Tinggal tiga kilometer lagi kita sudah sampai di pos terdekat," Kata Jungkook sambil menyemangati kelompoknya. Yoongi dan Hoseok tertawa licik, sedangkan Chanyeol dan Baekhyun hanya melempar fake smile. Namun, Jungkook berpura – pura tidak menyadari hal yang ganjal itu.
"Teman – teman," Bisik Yoongi. "Aku punya jalan pintas. Bagaimana jika kita melewati jalan itu. Setidaknya, aku sudah sangat lelah sekarang," Lanjutnya. Hoseok, Chanyeol, dan Baekhyun setuju – setuju saja. Namun, tidak dengan Jungkook.
"Maafkan aku. Tetapi, bukannya kita tidak boleh melewati jalur yang bukan seharusnya?" Tanya Jungkook. Namun, tak ada yang mempedulikannya. Malah, mereka menyuruh Jungkook untuk berada di barisan depan. Jungkook sudah sangat curiga dengan hal ini. Pasti mereka merencanakan sesuatu yang bukan – bukan.
"Sebentar lagi, namja berengsek ini akan jatuh ke dalam lumpur!" Bisik Hoseok sangat lirih. Sehingga, Jungkook tak mendengarnya. Ketiga namja lainnya hanya tertawa licik. Rencana mereka berhasil. Sebenarnya, mereka bukan ingin berteman dengan Jungkook. Merekan ingin mempermalukan Jungkook. Mereka sangat sebal dengan Jungkook. Mereka adalah salah seorang haters terberat Jungkook. Mengapa? Apalagi jika bukan karena ketiga kakak Jungkook.
Tadi, mereka melihat sebuah lubangan besar di peta. Mereka beranggapan bahwa itu adalah danau berlumpur yang pastinya sangat menjijikkan. Lalu, mereka menggunakan kesempatan ini untuk mempermalukan Jungkook. Mereka mengajak Jungkook untuk bergabung ke kelompoknya, lalu mereka tinggal berakting layaknya anggota kelompok yang normal. Sungguh keji mereka.
Namun, danau berlumpur itu ternyata…
"Aaaah!" Jerit sekelompok itu. Mereka jatuh ke sebuah lubangan besar yang tergolong dalam. Sekarang, mereka tak bisa keluar, kecuali datang bantuan.
Lalu, dari mana mereka mencari bantuan? Sedangkan di tempat itu tidak ada sinyal ataupun pengawas. Mereka sendiri. Terbelenggu dalam sebuah kubangan besar, yang awalnya mereka anggap danau berlumpur.
Di pos tak jauh dari situ…
Terdapat Taehyung bersama beberapa anggota OSIS lainnya yang menjaga pos itu. Untuk menuju pos berikutnya, setiap kelompok harus mendapat cap dari pos sebelumnya. Dan tentunya, para kelompok itu tidak hanya meminta cap, namun tanda tangan dari namja idola seluruh Korea Selatan itu.
Tiba – tiba, salah seorang anggota OSIS berteriak,"Gawat! Kelompok yang diketuai Min Yoongi belum datang juga! Padahal sudah setengah jam!"
Taehyung mencerna kata – kata itu agak lambat.
10% Loading…
25% Loading…
50% Loading…
75% Loading…
100% Loading complete.
"Astaga!" Teriak Taehyung. Ia baru sadar, bahwa di dalam kelompok itu, terdapat adik tersayangnya, Jungkook. Ia langsung menaruh pulpen yang sedari tadi digunakannya untuk menandatangani blablabla. Lalu berlari keluar pos. Salah satu temannya mencoba untuk memperingatkannya,"Jangan, Taehyung! Sangat berbahaya jika kau masuk sendirian!"
"Aku tak peduli!" Geram Taehyung. Ia melepas genggaman temannya itu, lalu berlari keluar dari wilayah itu.
Setidaknya, mereka mengerti bagaimana besarnya kasih sayang Taehyung kepada adiknya itu.
Seseorang yang banyak dianggap remeh,
ternyata sangat spesial di mata Taehyung.
.
"Ini semua gara – gara kau, Yoongi!" Bisik Hoseok. Yoongi juga tak ingin disalahkan. Ia merasa, bahwa ini bukan salahnya saja. Mengapa Hoseok, Chanyeol, dan Baekhyun menyetujui ide 'gila' ini?
"Enak saja, kau! Jangan asal menuduh, ya! Jika aku mengusulkan ini, mengapa kau dan lainnya menyetujui ideku? Ku tanya kau sekarang," Kata Yoongi sedikit keras. Sehingga Jungkook yang kala itu sedang berjuang untuk naik ke atas–mendengar semua ucapan itu. Baekhyun menyuruh mereka memelankan suaranya,"Ssst.. Jangan terlalu keras! Ia mengetahui ini!"
"Biarkan! Ini semua memang untuknya!" Teriak Hoseok sebal. Rasanya sesak di dada Jungkook mendengar hal itu. Ia memejamkan matanya. Ia berusaha untuk berpikiran jernih, jangan sampai ia menyakiti anggota kelompoknya.
"Teman – teman.. Jangan pikirkan itu. Ku mohon, sekarang kita bekerja sama untuk keluar dari sini," Kata Jungkook. Lalu, ia mengeluarkan sebuah kotak P3K. "Yoongi, di pipimu ada luka, sini aku obati."
Yoongi hanya mendengus. Dengan sombongnya ia berkata,"Jungkook, kau jangan sok baik di depan kami. Aku tahu, kau pasti sangat marah denganku, 'kan? Haha, tampar saja aku. Aku memang berengsek," Tantangnya.
PLAAAK!
Tamparan yang lumayan keras itu mendarat di pipi mulus Yoongi. Ya, Jungkook benar – benar menamparnya,"Jangan pikirkan itu, Yoongi. Sekarang, mari ku obati lukamu," Kata Jungkook sambil mengarahkan sebuah kapas yang sudah dilumuri obat antiseptik ke pipi Yoongi yang satunya.
Orang yang kuanggap brengsek ini ternyata memiliki hati yang putih.
Orang yang kupandang buruk ini ternyata sangat baik.
Pikir Yoongi.
KRSAAAK!
Terdengar bunyi dedaunan yang saling bergeser. Seseorang datang untuk membantu mereka keluar dari lubang jahanam ini. "Kami di sini!" Teriak Chanyeol dan Baekhyun sambil melambaikan tangannya. Namun, yang datang bukanlah bantuan, melainkan bencana lain. Seekor babi hutan mendatangi mereka.
Astaga, nyawa kami semakin dipertaruhkan sekarang. Pikir Jungkook. Ia hanya pasrah, jika tidak ada bantuan, terpaksa mereka menjadi santapan siang babi hutan itu.
To be continued...
TBC
Hai, readers!
Sebelumnya, Hana ucapin terimakasih sebesar - besarnya buat kalian yang nungguin dari ff ini dari Jum'at sampe sekarang. Jujur, benernya ff ini udah rampung pas Kamis. Terus, orang tua harus ke luar kota, jadi terpaksa saya harus ke rumah saudara yang jauh dari alat elektronik. Manalagi HP saya disita sekarang/miris.
Maaf ya kalau akhirnya TBC ini dijadikan tempat curhat buat saya. Maklum, saya stres banget. Nggak hanya dikejar deadline buat publish ff ini, tapi deadline dari sekolah yang bertubi - tubi datang ke saya. Tapi, Hana ucapin makasih buat kalian yang udah baca ff ini dan kasih review.
Untuk adegan taekook nya, sebentar lagi Hana sajikan. Untuk sekarang, Hana kasih sedikit ChanBaek. Kenapa? Soalnya ini tampaknya dibanjiri EXO esp. ChanBaek. Jadi, saya menyelipkan sedikit ChanBaek di sini.
Oke, sekian Catatan Hati Seorang Hana. Sampai jumpa di chapter berikutnya.
Hana.
